Namun semuanya berubah ketika Siwon kecil meringkuk agak keluar dari dalam gang tikus. Di malam yang semakin menggelap, dengan cahaya lampu temaram dari tiang yang berdiri kokoh di trotoar jalan hingga mengesankan suasana dan aura akan keangkeran, dan dengan butir-butir salju yang datang berkunjung untuk kesekian kalinya di tempat itu, Siwon kecil dikagetkan dengan hadirnya sosok pria bertubuh gempal dan bergaya pakaian agak parlente di hadapannya.

Semakin melotot pula kelereng mata Siwon kecil tatkala pria berkumis lebat berwarna putih itu mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan beludu warna coklat tua dan berujar nada lirih penuh rasa bersahabat dengan suara khas pria tua pada umumnya.

"Hei anak malang,

Apa kau ingin ikut bersama pria tua ini ke rumahnya yang sederhana dan hangat...?"

.

.

.

.

.

.

.

.

The Butler

.

Screenplays!Sibum with!others

.

T until M

.

Akai Momo

.

All about characters is not mine, except this fic and idea

.

Yaoi/ BL/ Be eL/ Boys Love/ alternative universe with much baby typos

.

No like, don't read!

.

Summary!:

Dengan Choi Siwon sebagai butlernya, Kim Kibum merasa aman, nyaman dan terpuaskan dengan pelayanan pria yang tidak diketahui asal – usul mendalamnya. Namun dibalik betapa sempurnanya hasil yang dilakukan oleh sang butler, sedikit demi sedikit masa lalu dan seluk–beluk kehidupannya mulai terkuak.

(My first ff with Sibum couple! :D

Miss them so much~ :*

Thanks a lot for authors who wrote they ff/ story on ffnet~~ *bowing*)

.

.

.

.

.

.

.

.

A/N::

Ada yang ambigu ya, di Chapter kemarin..? :'')

Baiklah, aku akan menjelaskannya pada kalian. :D

Nah, jadi, apa kalian ingat dialog ini?:

...

"Baiklah, maafkan aku, Kibummie."

"Betul, kau jangan sampai menyia-nyiakan kebaikan yang diberikan cuma-cuma olehku, Kim Kibum!"

"Baiklah, maafkan aku, Kibummie."

Nah, khusus dialog yang ditebali itu, terutama kalimatnya, tidak ada yang salah/ tidak tipo sama sekali; sekali lagi tidak ada yang salah/ tidak tipo sama sekali.

Sebenarnya, maksud dari dialog itu adalah, menunjukan bahwa "... jangan menyia-nyiakan kebaikan yang diberikan cuma-cuma olehku, (kebaikan seorang) Kim Kibum!"

Mungkin yang salah adalah tanda bacanya, seharusnya sebelum ada nama Kim Kibum, jika ingin merujuk pada orang yang mengucapkannya, seharusnya jangan memakai tanda koma (,), tapi titik koma (;) atau tanda pisah (-). Tapi aku teledor, jadi yah... Hasilnya buat kalian bingung dan merasa ambigu. Hehe.

Maafkan aku, ya.. (_ _) *bowing*

Dan, halo~~ buat pendatang baru. Sebuah kehormatan jika ada pendatang baru yang menyukai ff ini dan me-review-nya. Hihihi... .

Lalu, jangan panggil aku author, kumohon jangan panggil aku author/ thor/ atau apapun yang kesannya kaku, karena aku tidak suka ada kesenjangan dalam hal panggil nama seseorang, itu tidak menyenangkan, kalian tahu..? :3

Cukup panggil aku Al, atau Akai, atau Momo, atau Azul juga boleh. Hehehe..

Terakhir, mohon kerjasamanya di ff ini, yah... Baik inisiatif dalam me-review, ketatakramaan dalam memberi kritik-saran, dan dalam mengamati apakah ada tulisan atau makna ambigu dalam cerita, karena aku sangat menghargai itu. :*

.

.

.

.

.

.

.

.

.

6th Day "The Butler, hero"

.

.

.

.

.

.

.

.

Rumah minimalis yang nyaman.

Rumah tingkat dua, terbuat dari batu bata merah, terdapat cerobong asap berbentuk kotak yang mengepul-ngepul membelai angkasa malam.

Dengan pagar berwarna putih tulang yang setinggi pinggang orang dewasa, dengan sebuah pohon rindang agak jauh di sebelah kanan rumah -yang terdapat ayunan sederhana kombinasi dari tali tambang yang kuat dan kayu dengan bantal duduk agak tipis sebagai tempat duduknya-, sebuah kolam ikan dengan dikelilingi semak berbunga mawar merah, pagar kayu hitam yang dipeluk tanaman sulur, dan batu-batu berukuran besar berwarna hijau lumut dan putih tulang yang cantik, dan terakhir yang membuat mata Siwon kecil berbinar-binar kagum adalah sebuah jalan setapak yang terbuat dari kulit kerang laut asli, dikombinasikan oleh pasir putih dibalik tumpukan butir-butir salju yang berkilau ditimpa cahaya remang bulan, juga batu-batu akik beragam warna membentuk satu jalur lurus di jalan setapak halaman rumah minimalis tersebut, membuat Siwon kecil tak ingin berpaling dari keindahan yang memanjakan matanya.

Walaupun saat itu malam larut, namun semua wujud yang berdiri menyambut ramah Siwon kecil dan sang pemilik rumah tetap tampak jelas di dua pasang keping manusia tersebut.

Sementara itu, pria yang umurnya lebih dari setengah abad di samping kanan Siwon kecil, melihat ekspresi kagum di wajahnya yang cukup rupawan untuk anak seusianya, cukup menimbulkan rasa lega akan kondisi awal rumah tercinta. Pria bertubuh agak gempal itu bersecak dan menggelengkan kepala, lalu bola matanya yang salah satunya memakai kacamata bulat dengan frame dan rantai perak murni, bergulir kearah bawahnya; ke tangannya yang dilindungi sarung tangan hangat dan yang menggenggam hangat-hangat tangan mungil kurus milik sang anak jalanan.

Tangan yang sama, yang beberapa menit lalu menampar uluran tangannya disertai tatapan tajam pencabut nyawa. Tangan yang sama, yang bergetar-getar kedinginan setelah keluar dari kehangatan kecil yang diberikan oleh selimut penuh tambal usang yang kini tetap bersama anak lelaki muda tersebut. Tangan yang sama, yang cukup dihiasi luka sayat dan memar membekas; dan tangan yang sama yang kemudian menerima kembali uluran tangannya meski harus membutuhkan waktu lima belas menit lamanya untuk meyakinkan diri pada ia yang seorang asing.

"Kau suka rumahku..? aku tahu, mungkin ini tidak seperti apa yang kau pikirkan." celoteh pria itu sambil mengajak Siwon kecil melangkah melintasi jalan setapak kebanggaannya, setelah ia menutup kembali pagar putih cantik itu. Siwon kecil melirik, mengerjap-ngerjap, lantas melempar pandangan ke depan, kearah rumah yang semakin lama semakin dekat jarak antara mereka. "Kau lihat aku..? Pakaianku seperti bangsawan kelas tiga, tapi aku bukanlah bagian dari mereka." salah satu tangan pria tersebut yang membawa koper hitam kecoklatan membentang bebas. "Aku hanyalah seorang pedagang kecil, yang memiliki toko kecil pula, namun aku cukup beruntung dan berterimakasih dengan keuntungan yang rajin mengalir di dompetku, walau nominalnya tidak besar. Hei, tenang saja, aku tidak sungkan untuk membiayaimu, karena sekarang aku hidup sendiri setelah istriku meninggal dua tahun lalu tanpa memberikan seorang anakpun." pria itu menerawang, membalas tatap sendu angkasa malam yang kelabu bermuram durja. Ia tersenyum kecil dan pipi gembilnya bersemu, entah karena dibombardir hawa khas musim dingin atau mengingat betapa indahnya sang almarhum istri tercinta. Tak lama, wajah itu menoleh kearah Siwon kecil yang masih menatapnya dengan tatapan waspada, walau dibalik kelereng bening khas anak-anak tersebut terdapat sirat rasa kaget, sedih dan simpati.

"Dan aku senang, sangat-sangat-sangat senang ketika kau bersedia ikut denganku dan tinggal bersamaku. Dan hei," kini mereka sampai di beranda rumah sang pria gempal, tepat di depan pintu berwarna coklat madu yang terdapat ukiran klasik bunga dandelion dan burung merak. Namun mereka tidak segera masuk dan menghangatkan diri di dalam, melainkan berhenti sejenak dengan pria gempal itu berlutut di hadapan Siwon kecil yang kembali melotot kaget atas kelakuannya saat ini. Lebih kaget lagi ketika kedua tangannya ditangkup kedua tangan pria itu dan mengirimkan auhu tubuh hangat dibalik sarung tangan beludunya. "Kalau... Kalau aku mengangkatmu menjadi anakku, apa kau bersedia...?"

Siwon kecil terpekik tertahan. Lalu mengerjap gelisah, melemparkan pandangan ke segala arah kecuali tatapan teduh khas orang tua kesepian yang dilayangkan pria asing tersebut. Dalam hatinya, ia mengumpat kata-kata kasar, mencaci maki dirinya sendiri bahwa dengan bodohnya ia bersedia ikut dengan orang asing jika pada akhirnya ia akan mendapatkan situasi macam ini. Sebenarnya, di lubuk hati yanh terkubur dalam, Siwon kecil ingin sekali mengiyakan, jika seandainya hanya dengan cara itulah ia bisa keluar dari lingkaran kemiskinan yang seolah mencekiknya untuk mati perlahan. Namun ketika ia mengingat perlakuan kejam yang dilakukan oleh sang pemilik mantan panti asuhannya dulu, ia jadi takut dan cukup-sangat-sangat paranoid. Ia tidak ingin jatuh ke lubang yang sama, tidak ingin menjilat rasa pahit yang sama.

Siwon kecil...

... Masih merasakan rasa trauma.

Dan pria tua itu sadar, dari raut wajah pucat Siwon kecil, gemetar di tubuh ringkihnya, dan pandangan yang seolah ia sedang melihat sesuatu yang teramat-sangat-mengerikan, membuat pria itu berdecak merasa bersalah. Ia tidak bodoh untuk menyadari, bahwa rasa trauma Siwon kecil mencuat muncul akibat ucapannya yang mendadak. Ia pun tidak bodoh jika Siwon kecil hidup sendiri tanpa sanak saudara, terutama ayah dan ibu. Dan ucapannya pria tua tadi itu sama saja memancing masa lalu kelam sang anak jalanan yang malang.

Maka dari itu, sebelum semuanya fatal, pria tua gempal tersebut segera menepuk-nepuk pipi tirus Siwon kecil, meminta perhatiannya dan itu cukup berhasil.

Pria tersebut tersenyum kecil dan mengiba, "Tenanglah, anakku.."

"A-a-a-ak-ak-aku.. Tu-tuan.. Ak-ak-aku.." Siwon menggeleng kaku, bulir-bulir mata mulai berbondong-bondong keluar dari pelupuknya, jatuh membelai pipi dingin sang anak jalanan yang malang, untuk kemudian menghantam lantai kayu beranda.

"Tenanglah, tidak apa-apa, tidak ada yang perlu kau takutkan, anakku. Sudah-sudah-sudah..." tangan bersarung tangan beludu itu mengusap seringan kapas air mata yang masih jatuh membasahi pipi tirus Siwon kecil. "Lupakan saja permintaanku tadi, lupakan saja, kau mengerti..? Nah, sebelum kita melangkah lebih jauh bersama-sama, mari.. Mari kita berkenalan selayaknya menemukan sahabat hidup baru, bagaimana..?"

Siwon kecil mengangguk pelan, dan kepalanya terngadah untuk melihat wajah pria yang kini menjadi berdiri tegap seperti dinding beton yang kokoh. Tak lama, sebuah tangan dari pria itu lagi-lagi terjulur kearah Siwon kecil. Namun sekarang, Siwon kecil sekejap menerima uluran tangan besar itu dan mengayunkannya pelan.

Dan dibalik suara desauan angin musim dingin, indera pendengaran Siwon kecil menangkap suara pria setengah abad lebih dihadapannya yang mengucapkan kalimat perkenalan dengan nada penuh rasa ketenangan dan rasa bersahabat.

"Halo! Namaku Alison, Alison Grayfur, dan umurku 55 tahun. Salam kenal. Apa kabar, dan siapa namamu, anakku..?"

Diam sesaat, dan malu-malu disertai lirikan kaku, Siwon kecil mulai membuka mulut perlahan dan mendorong suaranya yang telah siap sedia tertampung di kerongkongan.

"A-a-ak-ak-aku... Siwon. Sa-sa-salam kenal.., Tuan Alison."

.

.

.

.

.

.

.

.

Pakaian bagus dan cantik.

Sepatu kulit yang gagah dan cukup berkelas.

Makanan yang lezat tiada tara dan minuman yang luar biasa menyegarkan.

Buku-buku cerita penuh gambar dan berwarna-warni.

Krayon-krayon, pensil-pensil, mainan-mainan, coklat-coklat dan biskuit-biskuit pengganjal lapar yang mengelilinginya.

Kamar tidur dengan ranjang yang empuk dan selimut yang nyaman.

Kehangatan, kelembutan dan kepedulian akan sebuah keluarga, Siwon kecil mendapatkannya ketika ia mulai menginjakkan kaki di rumah Alison tua.

Canda tawa, tangis, jerit takut, suara nyanyian yang dipadukan dengan denting-denting piano tua, suara musik dari gramofon klasik di sudut ruang keluarga, celoteh-celoteh ala orang dewasa yang menggaung di dalam rumah berarsitektur sederhana namun cukup berkelas milik si tua Alison, cukup membuat Siwon kecil pelan tapi pasti bangkit dari rasa trauma. Alison yang semampu mungkin menarik jauh Siwon kecil dari rasa trauma berkepanjangan semasa hidupnya dulu, dan Siwon kecil yang tubuhnya tidak lagi canggung dan ragu dengan sentuhan khas seorang ayah yang diidamkannya.

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, waktu demi waktu hingga mereka telah berkali-kali melewati empat musim bersama-sama, hubungan merekapun perlahan semakin akrab selayaknya anak-ayah. Dan bersama-sama, rumah sederhana yang dahulu sepi tanpa tawa anak-anak, kini di setiap sudut Siwon kecil selalu menyempatkan diri untuk bersuara, membiarkan perabotan dan segala lainnya merekam nadanya.

Seperti saat ini, Siwon yang duduk kursi di sudut dapur, menghadap halaman belakang yang terdapat padang ilalang dan beberapa pohon jeruk yang mulai tumbuh buahnya, bernyanyi merdu diiringi gitar yang ia peluk di depan tubuh. Salah satu kakinya yang menopang kaki lain di pahanya, mengetuk-ngetuk lantai kayu mengikuti irama melodi lagu. Dengan angin musim semi yang beraroma buah-buahan dan bunga-bunga, helai rambutnya yang sepanjang ceruk leher dengan diikat pita coklat untuk membuatnya rapi tampak menari di udara, mulutnya yang selalu menampilkan senyum ramah khas kepada orang-orang semakin lihai menyanyikan lagu.

Siwon kecil yang kini tumbuh remaja tanggung, untuk perlahan menaiki tangga menuju kedewasaan yang sempurna. Tubuhnya yang dulu kecil-kurus dan ringkih tak cukup berisi, kini menjadi besar-gagah dan cukup berisi hingga menampilkan otot hasil kerja keras bentuk tubuhnya ketika ia memakai pakaian yang sedikit ketat dari ukuran normal. Dulu yang teramat asing dengan beberapa hal -baik itu hal umum maupun hal khusus hingga membutuhkan pelajaran tersendiri-, kini kepalanya terisi hal-hal menakjubkan yang membuat semua orang terpukau dengan hal-hal yang dibicarakannya.

Membuat semua wanita muda berharap banyak akan Siwon yang ingin menjalin hubungan dengan salah satu diantara mereka, membuat para orang tua yang memang kenal baik dengan si tua Alison ingin menjodohkan salah satu anak gadisnya yang ikut terkagum-kagum akan sosok dari Siwon Greyfur; ya, Siwon Greyfur, anak angkat sah dari Alison Greyfur.

Alison, yang telah pulang dari kota untuk urusannya dengan salah satu sahabat lama, menatap bangga dengan sang anak asuh. Ia akan selalu tersenyum bangga ketika teman lamanya bertanya kondisi Siwon dan selalu gencar berusaha menjodohkan anaknya dengan anak angkatnya. Tapi Alison tak ingin ambil pusing akan hal itu, untuk masalah percintaan yang bila kemungkinan berlanjut ke jenjang pernikahan agung, ia lebih memilih mempercayakan Siwon. Selain itu, Siwon masihlah berusia 19 tahun awal, yang ia rasa, masih ingin bermain dan bercengkrama dengan hal-hal baru tanpa terikat sebuah status yang membebaninya.

"Siwon.., kau selalu menyanyikan lagu itu, sedari kita bertemu dan tinggal bersama di sini sampai sekarang." Alison melangkah maju, kekeh kecil muncul dari balik bibirnya yang mulai mengkerut dan pecah-pecah khas orang tua, ketika ia menyadari jika Siwon berjengit kaget karenanya. "Aku tahu kalau itu lagu anak-anak, lagu pengantar tidur tua yang biasa dinyanyikan untuk cucu salah seorang temanku. Tapi aku cukup penasaran, atau memang kau punya kenangan tersendiri dengan lagu itu...?"

Siwon meringis, salah satu tangannya menggarui canggung tengkuk. "Yah, bisa dibilang begitu. Kau tahu, Ayah? Lagu itu membuatku teringat dengan anak-anak panti asuhanku dulu, karena aku yang selalu mendapat tugas untuk menyanyikan lagu untuk mereka." Alison duduk tak jauh jaraknya dengan Siwon, berbeda dengan Siwon yang menghadap jendela menikmati pemandangan sore musim semi di halaman belakang rumah, Alison justru memilih menghadap Siwon yang kini sedang mengutak-atik gitarnya. Mendengar jawaban yang cukup luwes diutarakan oleh sang anak angkat, Alison mau tak mau tersenyum bangga lagi di raut wajahnya yang lelah dan berkeriput. "Kau sudah berubah, anakku. Sudah dewasa. Bahkan kau luwes sekali membicarakan salah satu kenanganmu di panti asuhan dulu."

Sekejap Siwon menghentikan kegiatannya karena kaget, lalu ia berdecak kecil. "Tentu saja, ayah. Siapa yang tidak ingin bangkit dari masa lalu yang kelam..? Saat-saat di panti asuhanku dulu memang saat-saat mengerikan yang pernah kulalui, tapi bukan berarti di sana tidak ada saat-saat menyengangkan yang membuatku selalu mengingatnya."

"Begitu..?" bola mata si Tua Alison melirik kecil ke samping kirinya, untuk kemudian melihat Siwon menganggukkan kepala dengan mata terpejam menikmati tamparan angin sore. "Sepertinya kau cukup berhasil untuk berintropeksi dan mengenal lebih jauh diri sendiri, Siwon. Ayah bangga padamu."

"Terima kasih, ayah. Itu juga berkat ayah, yang selama ini berusaha membuatku bangkit dari rasa trauma." Siwon melirih. "Kalau bukan karenamu yang sebisa mungkin melakukan hal-hal menyenangkan yang membuatku selalu mengingatnya, aku yakin aku masih dihantui rasa takut masa laluku."

Siwon tidak memungkiri, sejak ia datang ke rumah milik Alison yang telah ia anggap dan ia panggil 'ayah', Siwon dilimpahkan kenyamanan dan kehangatan sebuah keluarga, membentuk kenangan indah bersama pria tua yang telah ia nobatkan sebagai pahlawan dalam hidupnya, pria yang telah ia tempatkan secara istimewa pada sisi hidupnya, pria yang membuatnya berfikir bahwa masa-masa kesuraman telah berakhir dan kini ia sedang mengalami masa-masa makmurnya dalam hidup. Siwon tersenyum lebar di hatinya, senang bukan kepalang bahwa ia akhirnya bisa dan berhasil terbebas dari lingkup kesengsaraan, dan itu semua karena Alison Greyfur.

Sementara itu, lolos dari penglihatan Siwon, Alison menundukkan kepalanya, dan tak lama tubuhnya yang masih gagah meski dimakan usia itu mulai membungkuk, dengan kedua siku tangannya mendarat di paha kedua kaki yang dilapisi celana bahan berwarna coklat madu. Sorot matanya yang semula ramah dan kebapakkan menjadi berubah, pelan tapi pasti tatapannya menjadi sedikit keji, dengan lirikan tajam dan kilat-kilat penuh arti yang dilayangkan pada Siwon tanpa sepengetahuan objek pandangannya. Tangannya mulai terkepal dan sorot matanya semakin jauh dari keramahan ketika ia mengingat permasalahan pelik yang akhir-akhir ini melandanya.

Tak pernah terbesit di benak Alison, jika tokonya akan mulai mengalami kebangkrutan dan dirinya mulai dililit hutang bank. Selain itu, semakin parah dengan adanya kasus kenaikan harga diseluruh aspek penunjang hidup yang melanda kota tempatnya tinggal, membuat daya beli dan daya jual masyarakat menurun yang mengakibatkan turunnya pendapatan Alison pula. Dan tadi, ketika ia pergi ke kota untuk menemui sahabat lama, ia menceritakan permasalahan yang dihadapinya, dan tak lama dari bibir tebal sang sahabat lama sehabis mengepulkan asap tembakau dari shisha, sahabatnya itu memberikan sebuah saran yang berkaitan langsung dengan sang anak angkat, Siwon.

Saran yang cukup menggiurkan, menguntungkan, dan menyelamatkan keberlangsungan hidupnya. Namun itu adalah saran kejam dan tak manusiawi dari sudut pandang lain.

Dan lamunan Alison buyar tatkala sebuah tepukan ringan sarat kekhawatiran terasa di pundaknya yang loyo. Dan itu ulah Siwon. "Ayah..? Kau baik-baik saja..?"

"Ah.., ya." untuk pertama kalinya, Alison mempersembahkan senyum palsu pada Siwon. "Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah, Siwon. Dan sebaiknya aku harus tidur sebelum tubuh rentaku jadi bermasalah karena tidak istirahat akibat terlalu lelah."

Alison mulai beranjak pergi dari dapur, setelah mengusap-usap pelan helai hitam eksotis milik sang anak angkat. Sementara itu, Siwon hanya terdiam membiarkan tubuh yang mulai menyusut dari kegemukan seiring usia mendera sang ayah angkat menghilang dari pandangan; walaupun dalam benaknya merasa penasaran akan perubahan kecil yang diperlihatkan oleh Alison.

.

.

.

.

.

.

Seperti yang telah diduga Siwon sejak awal Alison tampak berbeda, semakin hari sang ayah angkatnya mulai berbeda. Kondisi fisik-psikis sang ayah yang dulu dengan yang sekarang tampak berbeda teramat jelas sejelas-jelasnya.

Alison, di sudut pandang Siwon, tidak pernah lagi menyapanya, tidak pernah lagi mengajak untuk berburu di hutan bersama-sama, tidak lagi menghabiskan waktu sesering mungkin di rumah, tidak pernah lagi makan bersama di dapur, dan yang membuat Siwon mulai merasa aneh dan gelisah ialah ketika Alison tidak pernah lagi melakukan kontak fisik terlevih mulai jarang bertatap muka.

Tidak hanya sekali dua kali Siwon bertanya kepada sang ayah perihal perubahannya, namun tak ada jawaban yang didapat kecuali lirikan penuh arti. Lirikan yang sejujurnya membuat Siwon takut, merasa ada yang tidak beres dibelakangnya dan selalu berfikir macam-macam tentang sang ayah, namun sebagai anak baik yang berbakti kepada orang tuanya, ia hempaskan pikiran negatif yang mencekik benaknya. Berkali-kali ketika pikiran negatif tersebut terus menggodanya, berkali-kali pula ia berfikir positif jika ayahnya memang sedang ada masalah yang tak ingin diganggu gugat.

Terus-terus-terus dan terus hati juga pikiran Siwon berusaha menahan diri, berusaha menguatkan psikisnya yang mulai terguncang akan hubungannya dengan Alison yang merenggang tanpa sebab tak pasti.

Hingga saat itu, di musim dingin saat Siwon telah menginjak usia 20 tahun awal, Alison mengetuk pintu kamarnya dan dengan senyum ramah yang sang anak angkat rindukan, bibir keriput dan pecah-pecah pria tua beruban itu berkata bahwa ia mengajak Siwon jalan-jalan keluar.

"Karena kupikir, sudah sangat lama kita tidak melakukan hal itu," jawab Alison ketika Siwon bertanya akan alasan kenapa mereka memutuskan untuk berjalan-jalan keluar di malam dan cuaca dingin seperti ini. "Dan aku sadar kalau akhir-akhir ini hubungan kita sedikit merenggang. Jadi, maukah kau menemaniku jalan-jalan malam ini, anakku...?"

"Oh ya, tentu saja, ayah!" Siwon mengangguk semangat seperti anak kecil, mau tak mau membuat Alison terkekeh lucu. "Tunggu aku dibawah ayah, aku akan bersiap-siap dulu!"

Siwon tidak habis pikir jika akhirnya akan tiba juga waktu dimana ia bisa akrab kembali dengan sang ayah. Bahkan sebuah ajakan jalan-jalan diluar dengan alasan ingin kembali memperbaiki hubungan yang akhir-akhir ini merenggang, tidak terbesit sedikitpun, tidak sekalipun. Jadi tidak heran jika ia akan tersenyum dan terkekeh lebar hingga lesung pipit kebanggannya terpahat di wajah rupawannya, ketika ia mendapat kesempatan tersebut.

Awal mula, Siwon berceletoh banyak hal, yang terkadang dibalas oleh pria tua yang ia panggil dengan sebutan 'ayah', lalu mereka saling melempar kelakar dan tertawa bersama diantara beberapa orang yang masih bercengkrama dengan musim dingin malam hari.

Namun semua berubah ketika Alison mengajak Siwon masuk ke dalam salah satu gang tikus di kota tempat mereka tinggal. Siwon mulai merasakan perasaan was-was, dan rasa takut juga bingungpun datanh menghampiri diri tatkala ia memanggil nama sang ayah untuk menjelaskan kemana tujuan jalan-jalan mereka, namun tak ada anggapan satupun. Alison tua tetap diam dan menganggap dirinya tuli. Bisa saja Siwon, yang kepalang jengkel dan kesal pertanyaannya lagi-lagi tidak digubris satupun, menarik pergelangan tangan ringkih yang terbalutkan sarung tangan coklat tua kusam sang ayah dan menariknya pulang ke rumah. Namun karena ia merasa tidakan itu tidak pantas dilakukan kepada orang tua, lagi, Siwon hanya diam bertanya-tanya dengan raut wajah curiga.

Dan tak lama setelahnya, Siwon mulai sadar akan apa yang sedang terjadi,

... Apa yang akan, sedang dan telah terjadi ketika saat itu Alison membuka pintu platinum berkarat dan berlumut di salah satu sisi dinding gang tikus, ketika Alison mendorong kasar tubuhnya untuk masuk ke dalam ruang temaram, ketika Alison menyuruhnya duduk di kursi salah satu sudut ruangan dengan tarikan kasar dan penjagaan ketat tiga orang pria berbadan lebih kekar dan beringas darinya, ketika Alison memberikan beberapa lembar kertas yang ia bawa di koper tua kesayangannya untuk kemudian ditukarkan dengan berpuluh-puluh gepok uang kertas, ketika Alison mengusap pelan wajahnya yang merautkan ekspresi bingung-takut-kesal-ingin menangis hanya untuk mengucapkan kata maaf dengan lirih sebelum pada akhirnya pergi meninggalkannya sendiri di tempat asing.

Ketika itulah Siwon menyadari, jika ia kembali mengunjungi sisi neraka kehidupan untuk yang kedua kalinya.

Siwon kembali mengunjungi neraka kehidupan yang lainnya itu akibat seseorang yang telah ia kasihi, yang ia sayangi sepenuh hati, yang ia letakkan keberadaannya di sisi istimewa dalam hidupnya, yang tak ia sangka bahwa orang yang ia anggap pahlawan dalam hidupnya itu dengan tega melakukan hal ini padanya.

Siwon tidak teramat bodoh-tolol-idiot dengan situasi-kondisi yang kini sedang ia jalani tiba-tiba, tatkala ia kembali mengingat sebuah transaksi ilegal yang dilakukan antara sang ayah dan wanita yang tampak seperti germo di hadapannya itu. Siwon tidak seperti orang polos sepolos-polosnya ketika ia dibawa kasar oleh tiga orang berbadan kekar yang merupakan bodyguard si wanita germo, untuk menuju sebuah sel tahanan pribadi yang hampir semua di sel-sel lain dihuni manusia sama seperti dirinya, setelah ia diperlihatkan kertas yang beberapa menit lalu diberika oleh sang ayah angkat pada wanita germo tersebut, kertas yang menyatakan bahwa mulai saat itu ia bukanlah bagian dari keluarga Greyfur.

"Tidak mungkin-tidak mungkin-tidak mungkin..." Siwon menggelengkan kepalanya, berteriak-teriak histeris sambip berusaha untuk kabur dari tempat asing tersebut jika ketika pria kekar di sekelilingnya tidak meninju tubuh dan mendempetkan tubuh ke dinding secepat kilat. "Tidak! Tidak mungkin! Ayah-ayah-ayah, itu pasti bohong, kau wanita germo! Ayaaaaahhh...!"

Dan ditengah suara histeris Siwon yang memangil-manggil nama Alison, wanita germo itu tertawa nyaring sambil bertepuk tangan dengan riangnya. Juga berputa-putar layaknya balerina handal dan memandang Siwon dengan pandangan mencemooh. "Akui saja, Siwon, terimalah dengan lapang dada bahwa seperti inilah jalan hidupmu! Kau masih terlalu naif dengan menganggap bahwa hidup susah-susahmu berhenti seutuhnya hanya sampai Alison tua itu mengajakmu hidup bersama dan mengangkatmu sebagai anak..! Ha ha ha ha ha! Dan lihatlah sekarang, bahkan Alison tua itu langsung menjualmu padaku di depan mata kepala anak angkat tercintanya sendiri! Ironis, oh ya, ironis!"

Bersama keempat orang asing di sekeliling tubuhnya, Siwon melangkahkan kaki dengan tak bergairah menuju sel perkumpulan. Sel yang terdapat sebuah panggung pertunjukan lelang manusia ilegal yang kini sedang berlangsung dengan heboh, saking hebohnya bahkan mereka -para peserta(penonton) lelang manusia- berteriak seperti orang sinting dan kesetanan hanya untuk menawar harga tinggi orang-orang yang akan dijadikan budak mental-fisik.

Siwon, dengan mata berkaca-kaca dan air mata mengalir tanpa isak tangis, hanya menunduk dalam sambil bibirnya melafalkan kata-kata yang terus ia dengungkan dengan nada lirih penuh ketidakpercayaan: pembohong-pengkhianat.

Dan karena itu, Siwon akhirnya menyadari jika dunia dan hidup masih ingin menaburkan cerita pahit penuh ketidakadilan untuk kedua kalinya, padanya.

.

.

.

.

.

.

.

(New York-Amerika Serikat, musim semi, saat ini)

.

.

.

Pria cantik dengan usia kepala tiga lebih dua tahun itu menatap ponselnya yang baru saja terhubung dengan seseorang nun jauh di benua sana. Keping mata kembarnya sedikit menyipit tajam ketika ia mengingat kembali percakapan singkat dengan lawan bicaranya beberapa menit lalu.

Tak lama, ia mendecih dan menghela nafas berat. Dilempar ke sembarang arah ponsel mahalnya, membiarkannya terdampar di permadani hitam-putih berbulu yang diimpornya langsung dari turki, sementara ia sendiri mengistirahatkan kepalanya yang berdenyut nyeri di permukaan punggung sofa. Sesaat, ia lebih tertarik menutup matanya yang selalu berkilat-kilat indah ketika sedang berambisi daripada menagap pemandangan senja kota New York dari balkon penthouse-nya.

Membiarkan tubuh ramping khas model yang hanya terbalutkan v-neck longgar panjang berwarna nila pucat dan hotpants coklat kemerahan dihantam angin sore khas musim semi dan membiarkan bising-bising khas kota megapolitan mendera tubuh terutama indera pendengarnya yang mulai berdenging kecil. "Yah, meskipun ini memang salah satu dugaanku, tapi jika soal dia yang mengajukan diri untuk bergabung ke dalam rencana, sejujurnya aku masih kaget."

"Saya tebak kalau telepon yang barusan itu tersambung dari rumah itu." suara pria menyahut dibelakangnya, dan tanpa pria cantik itu menoleh ke belakang, pria cantik itu tahu jika pria yang menyahutnya sedang meracik teh untuk Afternoon tea-nya. "Kau benar. Dan coba tebak, berita apa yang kudapatkan di senja tenang ini, hem...?" nada menggoda yang nakal itu mengalun membelai manja indera pendengaran sang lawan bicara, membuat pria tampan itu tergelitik hingga terkekeh rendah. "Saya punya tebakan yang pasti bukan itulah jawabannya. Jadi, apakah anda ingin berbaik hati memberitahukan jawaban yang benar..?"

"Sambungan itu dari nomor telepon Baekhyun," nada serius itu membuat sang pria yang sedang menata kue-kue pastry di three-tier terhenti sejenak. Dan pria cantik yang salah seorang supermodel androgini dunia itu menyadari perubahan gerakan minim tersebut. "Ya, itu dari Baekhyun, namun yang menjadi lawan bicaraku adalah Changmin."

"Jangan katakan bahwa.."

"Kau benar, Baekhyun sepertinya tertangkap basah oleh Changmin, entah kenapa bisa dan bagaimana caranya, aku tidak tahu."

"Lalu... Bagaimana selanjutnya..?" pria tampan itu melangkah menuju sang lawan bicara dengan nampan platina di kedua tangannya. "Apa anda akan berhenti...?"

"Berhenti..?! Kau bercanda, sayangku..?! Ha ha ha ha!" pria itu terpingkal-pingkal hingga tubuhnya hampir saja oleng ke belakang jika tidak ditahan oleh pelukan sang pria tampan lawan bicaranya. "Bagaimana aku bisa berhenti, jika Changmin menggodaku dan merayuku untuk memasukan dirinya ke dalan rencana kita, hem...?"

Mata sipit khas orang-orang oriental berkulit kuning itu sedikit melotot. "Ja-ja-jadi Changmin melakukan itu pada anda..?!" pria cantik berambut ikal warna brunette sebahu itu mengangguk kecil sambil menyeringai lebar. "Ya! Dan aku menerima lamarannya, sayang! Oh ya, dengan begini beban mereka berdua berkurang, deh! Aku baik 'kan, aku baik...? Ayo bilang: Ya!"

"Ya, anda sangat baik." mendengar itu, pria cantik tersebut terkekeh malu dan mengecup ringan bibir plum sang lawan bicara. "Tapi, mengapa Changmin mengajukan diri dengan tiba-tiba..?"

Keping mata yang semula berkilau cantik akan kesenangan mendadak yang ia rasakan, berubah menjadi agak redup dengan pandangan kosong entah ke mana. "Mungkin karena anak itu ingin mendapat peran sebagai pahlawan..? Sebagai pahlawan pembela kebenaran yang menumpas kejahatan dan menolong korban-korban." senyum yang semua lebar penuh semangat berubah menjadi senyum tipis penuh rasa melankolis. "Seperti kita dulu, yang menyelamatkannya dari tempat sampah menjijikkan yang penuh dengan lalat-lalat dan belatung-belatung haus akan status, prestise dan kekuasaan. Heh, memang status, prestise dan kekuasaan macam apa yang para lalat dan belatung itu dapatkan jika mereka berhasil membawa pulang manusia yang dilelangkan, hem..? Dasar rendah."

"Tapi kita juga seperti itu, Tuan muda, tidak berbeda jauh."

Berdecak, lalu kepala pria cantik itu ditelusupkan ke salah satu ceruk leher sang lawan pandang sekaligus lawan bicara. Mengendus-endus wangi maskulin yang menjadi candunya sejak lama. Tak lupa, tangannya yang berjari lentik dan terawat layaknya wanita diluar sana mulai merayapi tubuh sang pria tampan yang dililitkan pakaian ala butler.

"Oh sayang, tentu saja kita berbeda! Mereka membeli hanya untuk rasa gengsi dan kita membeli untuk menyelamatkannya! Ingat itu-ingat itu-ingat itu..! Jangan bilang kalau kau lupa..?!"

"Tidak, tentu saja tidak, tuan muda." pria tampan berparas oriental itu mengusap-usap punggung sang pria cantik dalam pelukan proteknya. Namun tak lama tubuhnya berjengit antara kaget dan kesakitan ketika sebuah tangan menjambak rambut hitam spike-nya. Membuatnya meringis kecil lalu terkekeh ketika menyadari kesalahannya hingga pria dalam pelukannya melakukan hal demikian.

"Sudah kubilang, 'kan," sebuah benda lunak dan lembab menyusuri leher pria tampan berpakaian ala butler tersebut. Dan tak lama, sebuah hasil gigitan agak kasar tercipta tepat ditengah jakun menonjol pria tersebut. "Aku tidak suka dipanggil dengan nama monoton seperti itu! Panggil aku dengan sebutan yang kuperintahkan, tuan butler!"

Kekehan rendah tersirat gairah yang mulai membumbung tinggi terdengar di sepasang telinga lawan bicara yang salah satunya terdapat tindik manis. Lalu dengan membiarkan pria cantik itu menggerayangi tubuh, terutama lehernya yang mulai basah karena saliva, butler tampan itu menuruti perintah mutlak sang majikan diiringi geraman tertahan:

"Baiklah,

... Milady."

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.