"Destiny Path"

Genre : Yaoi,Hurt,Mpreg

Rated : T

Cast : Cho (Choi) Kyuhyun, Choi (Jung) Minho, Choi Siwon, Shim (Choi Changmin), Lee Donghae, Lee Hyukjae (kemungkinan Cast lain menyusul)

WARNING : Typos (maybe),gaje,abal (maklum,author baru hehe :p)

"Orang bilang penyesalan selalu datang terlambat. Yah, memang benar. Tapi… Apakah itu yang kualami atau hanya takdirku yang tertunda untuk tidak merasakan kebahagiaan itu saat ini juga?"

*Chapter 3*

-Kyuhyun POV-

"D-donghae hyung? H-hyukkie hyung? A-apa yang kalian lakukan disini?" ucapku yang kaget dengan kedatangan tiba-tiba dua orang yang sama sekali tidak kuberitahu tentang keberadaanku di rumah sakit ini. Kenapa mereka bisa ada disini? Tidak mungkin Minho yang memberitahu mereka. Minho tidak pernah mengenal mereka sebelumnya.

"KYUUUUU! Kenapa kau tidak pernah bilang pada kami kalau kau sakit, huh? Kami benar-benar khawatir karena sudah hampir seminggu ini kau tidak masuk kantor. Hiks... hiks... Kami ini juga sahabatmu, Kyu. Bahkan kami sudah menganggapmu seperti adik sendiri." ujar Hyukjae hyung sambil memelukku dengan erat dan menangis.

"H-hyukie hyung, se-sak~" kataku tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan karena nafasku benar-benar sudah sesak akibat pelukannya yang terlalu erat. Yah, dengan kondisiku yang sekarang pelukan seperti ini benar-benar menyiksa.

Kulirik Donghae hyung yang malah diam saja dan berdiri dengan santainya di ujung tempat tidur pasienku. Donghae hyung hanya memberikan tatapan dan senyum jail yang seolah mengatakan inilah akibatnya karena telah menyembunyikan keadaanku pada mereka. Sedangkan Minho sepertinya masih 'takjub' dengan reaksi Hyukjae hyung saat datang barusan.

Donghae hyung dan Hyukjae hyung adalah partner kerjaku di perusahaan game tempatku bekerja sekarang. Mereka itu benar-benar pasangan kekasih yang unik. Mereka sama-sama sensitif dan mudah menangis kalau ada sesuatu yang menggugah hati mereka. Tapi yang membuatku heran terkadang Hyukjae hyung bisa menjadi lebih cengeng dari Donghae hyung, seperti sekarang ini.

"Hyukie, lepaskan pelukanmu. Kasihan Kyunnie, mukanya semakin pucat karena sulit bernapas." kata Donghae hyung sambil membantuku melepaskan diri dari pelukan maut Hyukjae hyung.

"Ah, ne. Mianhae, Kyunnie." kata Hyukjae hyung disertai gummy smile yang selalu membuat Donghae hyung gemas melihatnya.

"Eum, ne hyung, gwaenchana. Sekarang katakan padaku kenapa kalian bedua bisa ada disini? Aku hanya memberitahu pihak kantor bahwa aku akan keluar kota untuk beberapa waktu karena ada urusan keluarga, bukan memberitahu bahwa aku ada di rumah sakit." tanyaku yang masih penasaran dengan kehadiran dua namja unik ini. Minho yang sudah tersadar dari rasa 'takjub'nya sekarang memperbaiki posisi dudukku yang kurang nyaman lalu kembali duduk di sofa.

"Bagaimana keadaanmu sekarang, Kyu? Kemoterapimu berjalan lancar kan? Kapan kau akan keluar dari rumah sakit?" Donghae hyung malah balik bertanya dengan tatapan yang entah apa maksudnya tanpa menjawab pertanyaanku sebelumnya.

"Keadaan Kyuhyun saat ini mulai stabil. Di lihat dari perkembangannya sepertinya tubuh Kyuhyun dapat menerima kemoterapinya dengan baik. Kalau semakin baik setiap harinya, mungkin besok atau lusa dia bisa keluar dari rumah sakit. Tapi meskipun begitu, melihat dari kondisi pekerjaannya dia masih belum boleh kembali bekerja karena bisa membuat kondisinya menurun lagi jika terlalu lelah." jelas Minho sebelum aku sempat memprotes Donghae hyung yang tidak menjawab pertanyaanku.

Ku tatap Minho dengan death glare terbaik yang bisa ku tunjukkan saat ini. Minho hanya mengedikkan bahu dan menatapku tanpa rasa bersalah sama sekali karena sudah membeberkan tentang kondisiku pada dua hyungku yang unik ini tanpa persetujuanku.

"Ah, arrasseo. Lalu, kau ini siapa? Aku tidak pernah melihatmu atau mengenalmu sebelumnya." tanya Hyukjae hyung pada Minho.

"Ah, perkenalkan. Joneun Jung Minho imnida. Dokter pribadi keluarga Choi, dokter di rumah sakit ini dan sekaligus teman semasa kecil Siwon hyung dan Kyuhyun." jawab Minho memperkenalkan diri sambil menunduk pada Hyukjae dan Donghae hyung. Donghae hyung dan Hyukjae hyung hanya membalas dengan anggukan singkat.

"Kalau begitu aku permisi dulu karena harus kembali bekerja. Sementara ku titipkan Kyuhyun pada hyung berdua. Kyu, aku pamit dulu. Nanti malam aku kembali lagi. Kalau ada apa-apa segera panggil suster atau hubungi ponselku." kata Minho dan hanya ku jawab dengan anggukan. Setelah Minho keluar aku kembali menatap kedua orang yang sekarang duduk di sisi tempat tidurku, meminta penjelasan atas kehadiran mereka disini. Sedangkan yang di tatap hanya memasang wajah bodohnya.

"Hyung. Sekarang jelaskan dari mana kalian bisa tau keberadaanku dan kondisiku?" tanyaku tanpa melepaskan kontak mata dengan pasangan unik ini.

"Tenang dulu, Kyu. Akan ku jelaskan bagaimana kami bisa ada disini. Waktu itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Minho saat aku lewat di depan kamarmu yang kebetulan pintunya sedikit terbuka. Karena aku merasa kalau itu suaramu, maka aku memutuskan untuk mendekat dan bermaksud menyapamu. Awalnya ku kira kau hanya sedang menjenguk temanmu. Tapi ternyata kau adalah salah satu pasien disini. Saat mendengar pembicaraanmu dan Minho aku sedikit kaget. Aku menceritakannya pada Hyukie. Awalnya kami merasa kesal karena kau tidak memberitahukan hal sepenting ini pada kami. Kami jadi merasa kalau kau tidak menganggap kami sebagai sahabat sekaligus hyungmu. Daripada kami terus-terusan kesal, jadi kami putuskan untuk menjengukmu hari ini." Jawab Donghae hyung panjang lebar.

"Sekarang jelaskan alasanmu lebih memilih menyembunyikan hal ini daripada memberitahu kami. Sejak kapan kau menderita leukemia?" Tanya Hyukkie hyung dengan tatapan menuntut padaku.

"Hahhh... Mianhae, hyung. Aku hanya tidak ingin orang-orang jadi kasihan padaku karena penyakit ini. Aku juga tidak ingin membuat orang-orang yang kusayangi selalu khawatir dan ikut menderita karena penyakitku. Maka dari itu, aku minta Minho untuk merahasiakannya dari siapapun." Jawabku sambil memandang keluar jendela yang kebetulan mengarah ke taman belakang rumah sakit yang cukup indah.

"Termasuk pada Siwon?" Tanya Donghae hyung padaku yang hanya ku jawab dengan anggukan.

"Aigo, Kyu. Lalu, apa yang kau katakan pada Siwon selama kau tidak pulang karena harus menjalani perawatan di rumah sakit?" Tanya Hyukkie hyung yang terlihat sedikit kesal dengan tingkahku.

"Entahlah, aku selalu meminta Minho yang menjawab semua telepon atau pesan yang Siwon hyung kirim padaku. Lagi pula Siwon hyung selalu meneleponku di saat aku sedang atau baru saja selesai melakukan kemo. Tidak mungkin aku bicara dengannya dalam keadaan lemas, suara serak dan mual yang menyiksa. Siwon hyung bsa curiga nanti." Ujarku tanpa menatap kedua lawan bicaraku.

"Hhhh... Lalu mau sampai kapan kau menyembunyikan semuanya, Kyu? Tidak mungkin selamanya kan?" Tanya Donghae hyung.

"Aku tidak tahu, hyung. Mungkin setelah waktuku habis." Ucapku sambil tersenyum miris.

"Yak! Jangan sembarangan kalau bicara, Evil Kyu! Kau tidak boleh menyerah, kami semua akan selalu mendukungmu, arrasseo?" Kata Hyukkie hyung sedikit membentakku.

Aku tidak memberikan respon apa pun karena aku tidak mau memberikan janji kalau aku akan tetap bertahan sampai penyakitku sembuh.

"Hyung, bisa bawa aku ke taman? Aku ingin menghirup udara segar." Ujarku sambil terus menatap ke luar.

"Arra, ayo kita jalan-jalan di luar. Hyukkie, tolong ambilkan kursi roda untuk Kyu. Kita jalan-jalan di luar saja." Ujar Donghae hyung sambil membantuku bangun dan meminta Hyukjae hyung untuk mengambilkan kursi roda.

Hyukjae hyung kembali membawa kursi roda dan membantu Donghae hyung mendudukkan ku di kursi roda.

Kami berjalan-jalan di taman rumah sakit sambil mengobrol ringan. Tidak ada lagi pembahasan mengenai penyakitku. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tertawa bersama mereka.

Sejak aku mendengar kabar tentang rencana pernikahan Siwon hyung dan Changmin, aku memang sangat jarang tertawa seperti sekarang. Bahkan senyum pun hanya sekedarnya saja.

Saat ini kami sedang duduk di bangku taman rumah sakit yang dinaungi pohon besar sehingga membuat udara semakin terasa sejuk.

"Hae hyung, kapan kau akan melamar Hyukkie hyung,eoh? Apa kau mau ku langkahi?" Tanyaku sedikit memanas-manasi hyungku yang sangat menyukai ikan nemo ini. Hhahaha wajah Donghae hyung terlihat lucu saat ku tanya seperti itu. Sedangkan Hyukjae hyung? Wajahnya sudah memerah karena pertanyaanku. Hahhhh... Mereka berdua ini sudah terlalu lama menjadi kekasih. Wajar bukan kalau aku bertanya seperti itu?

"Eum... I-itu... A-aku sedang menyiapkannya kok hehehehe..." Jawab Donghae hyung salah tingkah. Mendengar itu wajah Hyukjae hyung jadi semakin merah. Kkkk~ benar-benar pasangan yang menarik,eoh.

"Ah, baguslah hyung. Cepatlah meresmikan hubungan kalian sebelum salah satu dari kalian terpikat oleh yang lain." Kataku sembari tersenyum. Entah senyum seperti apa yang kedua hyungku ini lihat. Yang jelas setelah itu mereka langsung mengalihkan pembicaraan.

"Kyunnie...!"

Ku dengar seseorang memanggilku. Tak lama muncul Minho yang sedikit terengah-engah. Ah, iya. Aku lupa meninggalkan pesan kalau aku berjalan-jalan di taman rumah sakit. Sepertinya dia habis berlari untuk mencariku.

"Eoh, Minho-ah. Kau mencariku? Mianhae, aku lupa meninggalkan pesan untukmu." Ucapku sambil meminta maaf.

"Aish, kau ini. Aku benar-benar panik melihatmu tidak ada di kamar. Ku kira kau nekat pulang." Kata Minho dengan nada kesal. Hahhhh... Dia sekarang jadi lebih protektif padaku sejak dia mengetahui tentang penyakitku.

"Kyu, hari sudah semakin sore. Kami pamit dulu. Besok kami akan menjengukmu lagi kalau semua pekerjaan kami di kantor sudah selesai." Pamit Donghae hyung padaku.

"Ah, ne hyung. Tolong rahasiakan ini. Kalau Siwon hyung menghubungi kalian, katakan saja aku ijin untuk berlibur sambil mencari inspirasi game terbaru yang ingin ku buat." Pesanku pada Donghae hyung.

"Ne, Kyu. Cepatlah keluar dari rumah sakit. Kami pulang dulu. Minho, Jaga adik kami ini baik-baik ne. Annyeong." Kata Donghae hyung sambil menggandeng Hyukjae hyung dan mengajaknya pulang.

"Kyu, sekarang kita masuk ne? Angin semakin dingin, tidak baik untukmu." Ajak Minho padaku.

"Eum..." Jawabku dengan anggukan singkat dan dehaman.

Saat menuju ke kamarku bersama Minho, ku rasakan kepalaku yang mulai pusing. Sekujur tubuhku sangat sakit. Tak lama sesuatu berbau besi dan kental mengalir dari hidungku dan menetes di pakaian rumah sakitku.

"M-Minho..." Ucapku terbata sambil meremas pegangan tangan kursi rodaku. Sakit.. Rasanya benar-benar sakit. Aku tidak tahan lagi.

"Wae Kyu?" Tanya Minho padaku. Kemudian dia berjongkok di hadapanku. Aku tak bisa melihat dengan jelas. Pandanganku mulai mengabur karena rasa sakit yang benar-benar menyiksaku.

"Astaga! Kyu... Kyuhyun, kau tak apa? Kau bisa mendengarku? Kyu!" Ku dengar suara Minho yang panik memanggil namaku.

Aku tidak bisa menjawab. Aku benar-benar tidak kuat lagi. Perlahan pandanganku menggelap dan setelah itu aku tidak bisa mendengar atau merasakan apa-apa lagi.

-Minho POV-

"M-Minho..."

"Wae Kyu?" Tanyaku saat ku dengar panggilannya. Suaranya sedikit bergetar. Ada apa? Apa dia merasa sakit lagi? Aku berjongkok di depannya. Ku lihat darah mengalir cukup banyak dari hidungnya.

"Astaga! Kyu... Kyuhyun, kau tak apa? Kau bisa mendengarku? Kyu!" Ku coba memanggil namanya, membuatnya tetap sadar. Darah semakin banyak keluar dari hidungnya. Tak lama Kyuhyun tidak sadarkan diri.

Dengan cepat ku gendong dia kembali ke kamar. Segera ku panggil suster dan mulai memeriksa keadaan Kyuhyun. Setelah selesai memeriksa dan mengambil sampel darah Kyuhyun ku minta suster membawa sampel darahnya untuk diperiksa dan segera memberikan hasilnya padaku jika sudah selesai.

Sementara itu aku duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Kyuhyun. Ku pandangi wajahnya yang terlihat semakin pucat, pipinya yang semakin tirus. Sama seperti tubuhnya yang semakin terlihat kurus. Pemandangan di depanku ini benar-benar terlihat miris bagiku. Dia, orang yang sangat ku cintai, terbaring lemah di ranjang pesakitan dan terkadang harus menerima bantuan alat-alat medis saat penyakit yang menyerangnya mulai kambuh.

Setelah menunggu sekitar tiga jam suster datang membawakan hasil pemeriksaan lab Kyuhyun. Aku mulai meneliti hasil pemeriksaan itu. Berulang kali ku baca, tapi kata-kata di kertas itu sama sekali tidak berubah. Tidak mungkin… kenapa penderitaan orang yang kucintai harus sampai seperti ini?

Hanya dalam dua bulan saja sudah berubah menjadi stadium akhir? Kenapa bisa berkembang secepat ini? Bagaimana sekarang? Apa aku harus memberitahunya soal ini? Hahhh… sebaiknya aku beritahu nanti. Karena hari ini aku sudah tidak mempunyai jadwal praktek lagi, aku bisa menemani Kyuhyun disini. Sesekali ku periksa kondisinya, sejauh ini sudah mulai stabil.

Sudah sembilan jam sejak Kyuhyun pingsan dan dia belum sadar juga. Ku genggam tangannya yang terasa dingin. Tidak lama ku rasakan jari-jarinya bergerak dan matanya mulai terbuka.

"Eunghh~"

"Kyu, kau sudah sadar?" tanyaku sambil mengusap tangannya dengan lembut.

"Minho? Kau disini? Tidak ada praktek?" tanyanya dengan suara serak dan lemah.

"Ne, Kyu. Aku disini. Ini sudah jam sebelas malam, Kyu. Jadwal praktekku hari ini sudah selesai sejak jam lima tadi. Bagaimana perasaanmu? Ada yang kau inginkan?" tanyaku.

"Jam sebelas malam? Berapa lama aku pingsan kali ini? Ah... Badanku rasanya lemas sekali. Aku ingin susu strawberry dan bubur buatan Jae eomma. Aku tidak suka dengan makanan di rumah sakit. Bisakah kau minta pada Jae eomma untuk membuatnya?" kata Kyuhyun dengan tatapan yang… oh, andaikan dia sedang tidak sakit dan hubungan kami lebih dari sekedar sahabat, sudah pasti aku akan langsung menyerangnya! -,-

"Hahhh… baiklah. Aku hubungi eomma dulu. Sekarang kau minum dulu air putih ini supaya tenggorokanmu terasa lebih baik." Ujarku sambil menyodorkan segelas air putih dan sedotan agar Kyuhyun bisa minum dengan mudah.

"Cepat hubungi Jae eomma, Minho. Ayolah~" ucapnya sedikit merengek.

"Ne, ne aku hubungi sekarang" kataku lalu langsung menghubungi eomma ku untuk membuatkan bubur dan mengantarnya ke rumah sakit, aku tidak berani ambil resiko meninggalkan Kyuhyun sendirian setelah kejadian tadi siang.

Beruntung eomma mau memasak dan mengantarkan buburnya. Kalau tidak Kyuhyun bisa ngambek nanti -_-"

Tapi nanti aku harus minta maaf pada appa karena sudah merepotkannya untuk mengantar eomma ke rumah sakit.

-skip time-

-Siwon POV-

"…"

"Yak! Kemana saja kau evil?! Setiap dihubungi selalu saja Minho yang menjawab! Memang kau tidak punya tangan dan mulut untuk menjawab, huh?" bentakku saat dongsaeng evilku –Kyuhyun- menghubungiku. Maklum saja kalau aku membentaknya. Siapa yang tidak akan khawatir kalau satu-satunya keluarga yang kau punya sulit sekali dihubungi langsung?

"…"

"Hahh.. mianhae, hyung hanya khawatir padamu. Bahkan sangat khawatir, kau tahu? Apa kau masih tinggal di apartement Minho? Kapan kau akan pulang ke rumah?" tanyaku seraya menurunkan intonasi suaraku. Aku juga tidak mau adikku itu tidak jadi pulang karena takut aku marahi.

"…"

"Arrasseo. Mau hyung jemput?"

"…"

"Hyung sudah pulang sejak kemarin karena ada masalah yang harus diurus."

"..."

"Geurae. Hyung tunggu di rumah ne?"

"…"

"Hem, arrasseo. Makan siang nanti datanglah ke kantor. Kita makan siang bersama"

"…"

"Eum, sampai ketemu makan siang nanti"

Setelah menutup telepon ku sandarkan kepalaku ke kursi kerja. Ah, kepalaku benar-benar pusing. Adikku yang sempat tidak bisa berbicara langsung denganku, pekerjaan yang ternyata cukup menumpuk, meeting dengan klien dan juga tingkah Changmin yang menjadi lebih manja dari biasanya sejak minggu lalu.

Oh, kalian bertanya kenapa pekerjaanku bisa sangat menumpuk? Well, sepertinya aku dan Changmin terlalu lama berbulan madu. Hampir sebulan kami pergi berbulan madu ketempat-tempat yang tentunya sangat indah dan romantis. Dan selama itu pula aku kesulitan berhubungan dengan Kyuhyun. Hanya beberapa dari teleponku yang diterima langsung olehnya, selebihnya Minho yang menerima teleponku.

Anak itu sepertinya mengikuti Minho bekerja juga agar tidak merasa sendirian karena Kyuhyun benci sendirian. Sejak orangtua kami meninggal, aku tidak pernah meninggalkan Kyuhyun sendirian. Sebisa mungkin aku akan menemaninya terus. Atau para Maid kalau aku sedang tidak bisa meninggalkan sekolahku. Ah, Minho dan Jaejoong Emma juga sering datang ke rumah untuk menemani Kyuhyun saat aku tak ada.

Pernah satu hari aku meninggalkan rumah tanpa berpesan pada para Maid atau meminta Jaejoong Emma untuk menemani Kyuhyun. Saat itu aku harus mengerjakan tugas sekolah di rumah temanku yang sama sekali tidak bisa di tunda. Sedangkan para Maid meminta izin untuk pulang barang sehari ke rumah asing-masing dikarenakan esok harinya adalah perayaan chusseok. Akibatnya saat aku pulang, aku mendapati Kyuhyun menangis sesenggukan dalam tidurnya, kelihatan sekali ketakutan di wajahnya yang tertidur. Di tambah lagi dengan demam tinggi karena menangis seharian dan tidak berani keluar untuk makan.

Selama tiga hari demam Kyuhyun tidak turun dan bahkan dia tak mengijinkanku untuk beranjak dari sisinya. Sejak itu aku takut kalau Kyuhyun kembali merasa sendirian. Apalagi sepertinya belakangan dia sedang ada masalah, terlihat dari wajahnya yang terlihat murung beberapa bulan belakangan.

Ah, sudahlah. Lebih baik sekarang ku selesaikan semua berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjaku sebelum makan siang tiba jadi aku bisa makan siang dengan Kyunie.

-Kyuhyun POV-

"Yeoboseo hyung"

"…."

"Yak! Jangan berteriak begitu hyung! Kau mau membuatku tuli, eoh?! Aish, jinjja! Kau ini kelewatan hyung!"

"…"

"Aku pulang siang ini hyung"

"…"

"Memangnya huyung sudah kembali ke Korea?"

"..."

"Tidak usah menjemputku, hyung. Minho yang akan mengantarku"

"…"

"Ani. Aku mau makan siang dengan hyung. Sudah lama kita tidak makan siang bersama 'kan?"

"…"

"Sampai ketemu makan siang nanti hyung"

"…"

Haish! Benar-benar Siwon hyung itu. Bukannya menanyakan kabarku, dia malah berteriak seperti itu! Menyebalkan! Kalau saja dia bukan hyungku satu-satunya dan hyung yang paling kusayangi, sudah kupastikan saat makan siang nanti dia akan menerima balasan dariku.

Hari ini akhirnya aku boleh pulang. Yah… meskipun aku harus berdebat dan memohon habis-habisan pada Minho. Dia benar-benar tidak mengijinkanku pulang sama sekali. Padahal dia tahu kalau aku tidak suka berada di rumah sakit terlalu lama. Dan akhirnya disinilah aku, ruang rekreasi, semacam taman buatan di dalam rumah sakit sambil menungu Minho menyelesaikan jam prakteknya.

Karena bosan, aku mulai membuat desain untuk game terbaru yang akan ku buat bersama Donghae hyung dan Eunhyuk hyung. Sejauh ini sudah berjalan setengah. Yah beginilah pekerjaanku selama di rumah sakit kalau sedang bosan. Ini juga sering membuat Minho kesal karena aku tidak akan mau istirahat jika sudah bersentuhan dengan 'teman'ku.

Entah berapa lama kau menunggu sampai akhirnya kurasakan seseorang menepuk pundakku dan membuatku menoleh. Ternyata Minho sudah selesai dengan jadwal prakteknya.

"Mianhae membuatmu lama menunggu." Katanya sambil mengangkat barang-barangku.

"Gwaenchana. Bisa kita pergi sekarang? Aku tidak mau membuat Siwon hyung menunggu. Aku juga sudah rindu padanya." Ujarku

Flashback

"POKOKNYA AKU TIDAK MAU MAKAN!"

Oke, maaf atas ketidaknyamanan ini. Aku sedang berdebat dengan Minho saat ini. Aku benar-benar merasa mual dan sama sekali tidak nafsu makan. Tetapi bukan Jung Minho namanya kalau akan menyerah semudah itu padaku.

"Kau harus makan atau tidak boleh keluar dari rumah sakit ini sampai bulan depan!"

"MWO?! Yak! Kau tega sekali padaku!" protesku dengan bibir mengerucut.

"Makanya sekarang kau makan yang banyak!" katanya sambil kembali menyodorkan sesendok penuh makanan ke depan mulutku.

"Shireo!"

"Baik, ini cara terakhir kalau begitu." Katanya sambil menyuapkan sesendok penuh makanan tadi ke dalam mulutnya sendiri lalu mulai mendekatiku.

"Y-yak! Kau mau apa? Jgn macam-ma- hmphhh!" astaga… apa-apaan dia?! Seenaknya saja menciumku.

Kurasakan lidahnya mendorong masuk sesuatu ke dalam mulutku. Sepertinya itu makananku. Tapi… Hei tunggu dulu. Ada apa ini? Kenapa jantungku mendadak berdebar cepat seperti ini? Apa aku mendadak menderita penyakit jantung juga? Eh? Kenapa pipiku juga terasa panas? OMO! Dia melumat bibirku! Huwaaaaa Minho kurang ajar!

Lalu kurasakan bibir Minho menjauh. Kutatap Minho yang sedang ber-smirk ria dengan pandangan shock dan sedikit perasaan... kecewa? Ya Tuhan… kenapa jantungku semakin berdebar saat melihatnya? Apa ada yang salah dengan jantungku? Sepertinya iya.

"Bagaimana? Mau lagi? Atau mau makan sendiri eum?" Tanya Minho masih dengan smirk-nya.

"A-aku makan sendiri!" balasku langsung menambil piring dari tangan Minho dan mulai makan dengan wajah merah karena malu?

"Kyu, aku tahu kau mencintai Changmin. Tapi tidak bisakah kau membuka hatimu untukku? Mungkin aku tidak bisa menjanjikanmu apapun. Tapi aku akan berusaha jadi yang terbaik untukmu. Jadi… Maukah kau menjadi namjachinguku?" kata Minho tiba-tiba sambil menggenggam tanganku dengan lembut.

Aku terdiam, mencoba memahami kata-katanya yang kalau bisa ingin sekali kukatakan pada Changmin kalau saja dia belum menjadi istri dari Siwon hyung. Saat mendengar kata-katanya itu entah mengapa hatiku menjadi hangat, seperti ada sesuatu yang mengisi kekosongan dalam hatiku.

Apakah kali ini aku boleh berharap kalau aku akan mendapatkan kisah cinta yang kuinginkan? Bolehkah aku menggantungkan harapanku pada Minho yang selama ini selalu bersedia menungguku membuka hati untuknya? Bolehkah jika kali ini aku membuka hatiku dan menerima Minho?

"Eum, aku bersedia." Jawabku di sertai senyum tulus yang jarang ku berikan pada siapapun, bahkan pada Siwon hyung pun jarang. Kutatap matanya yang berbinar saat menerima jawaban dariku. Matanya sangat indah, membuatku merasakan ketenangan dan kehangatan yang nyaman.

"Gomawo, Kyu. Jeongmal saranghae" katanya sambil memelukku erat namun lembut.

"Nado saranghae, Minho." Balasku sambil memeluknya.

End of flashback

"Kyu? Hei, kau melamun?" tanya Minho sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mataku. Sepertinya aku terlalu lama mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.

"Ah, ne. Mianhae, aku melamun. Ayo kita pergi sekarang." Kataku sambil menarik Minho keluar.

-End of Kyuhyun POV-

-Author POV-

Selama perjalanan mereka tidak ada hentinya bercanda, sesekali Minho melontarkan gombalannya yang membuat wajah Kyuhyun dihiasi semburat merah tipis yang membuatnya terlihat semakin manis. Atau cantik?

Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam dikarenakan situasi jalanan yang macet, akhirnya mereka tiba di pelataran parkin Choi's Corp.

"Sudah sampai, ayo turun. Aku juga sekalian ingin berbicara sesuatu pada Siwon hyung." Ajak Minho sambil keluar dari mobil.

"Kau mau bicara apa? Kau tidak akan memberitahu Siwon hyung tentang penyakitku sekarang kan?" tanya Kyuhyun sedikit curiga sambil keluar dari mobil.

"Aniya. Aku tidak akan memberitahunya tanpa meminta ijin dulu padamu. Kajja…" ujar Minho seraya menggandeng Kyuhyun masuk untuk menemui Siwon.

"Eum, arra. Hei, nanti kau ikut makan siang juga kan?" tanya Kyuhyun.

"Tentu, kebetulan aku belum makan siang. Memang kalian mau makan siang dimana?" tanya Minho lagi.

"Tidak tahu. Siwon hyung belum bilang. Tapi aku malas kalau harus keluar lagi. Di luar panas. Bagaimana kalau nanti kita pesan makanan saja?" kata Kyuhyun sambil mengikuti Minho masuk ke dalam lift yang membawa mereka menuju lantai tempat ruangan Siwon berada.

Saat keluar dari lift mereka bertemu dengan Yesung yang baru saja keluar dari ruangan Siwon.

"Eh? Yesung hyung. Sedang apa di sini?" tanya Kyuhyun penasaran.

"Eh? Oh, kalian. Kau sudah keluar dari rumah sakit, Kyu?

"Ne, meskipun harus sedikit memaksa dokter Jung ini agar menijinkanku pulang. Kau belum menjawab pertanyaanku, Hyung. Kau sedang apa di sini? Siapa yang sakit? Tapi kau ini kan dokter kandungan. Kalau begitu ada yang hamil ya? Siapa Hyung?" tanya Kyuhyun semakin penasaran.

"Eum…. Itu, Siwon menghubungiku. Katanya Changmin tiba-tibanya pingsan sesaat setelah masuk ke ruangannya. Lalu karena Minho tidak bisa dihubungi dan Jung sajangnim juga sedang ada di Jepang jadi dia memanggilku." Ucap Yesung sedikit salah tingkah.

"MWO?! Changmin pingsan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang, hyung? Changmin sakit apa?" tanya Kyuhyun sedikit panik karena mendengar Changmin pingsan.

"Eum…. Anu…. Itu…. Changmin…. Changmin sedang mengandung, usia kandungannya baru dua minggu. Itulah yang membuat dia pingsan dan selama beberapa hari belakangan mengalami mual-mual juga tingkahnya yang aneh. A-aku pergi dulu, Kyu, Minho. Sampai bertemu lagi." Ujar Yesung sambil bergegas pamit karena tidak sanggup melihat reaksi Kyuhyun lebih lama lagi setelah mendengar kabar itu.

"Kyuhyun-ah. Hei, BabyKyu. Kau baik-baik saja? Sebaiknya kita pulang saja. Kalau kau muncul sekarang aku takut kau terlalu banyak melamun nanti. Siwon hyung dan Changmin bisa bingung." Ajak Minho sambil sedikit mengguncang tubuh Kyuhyun yang sedang melamun.

"A-aku baik-baik saja. Kita temui saja mereka sekalian memberi selamat. Lagipula aku sudah janji akan menemuinya dulu dan makan siang bersama tadi. Kau tahu kan aku paling tidak bisa mengingkari janji yang kubuat kecuali terpaksa." Ucap Kyuhyun dengan senyum sedikit dipaksakan.

"Hahhh…. Baiklah, kita masuk. Tapi kalau kau tidak tahan dengan apaun yang kau lihat didalam, kita pulang ya? Aku tidak mau kau drop lagi karena terlalu banyak pikiran." Kata Minho dengan cemas.

"Ne, aku janji. Lagipula sekarang aku punya kau yang akan merubah seluruh hidupku jadi lebih baik. Jadi aku tidak akan terpengaruh lagi dengan keadaan apapun itu yang terlihat didalam. Mungkin aku hanya butuh sedikit waktu untuk menyesuaikan diri" ujar Kyuhyun sambil menunjukkan senyum manisnya.

"Baiklah. Ayo kita masuk sekarang." Kata Minho sambil tersenyum menggenggam tangan Kyuhyun untuk memberinya ketenangan.

TBC