Summary : Kehidupan Naruto Namikaze yang terlihat biasa saja meskipun tidak biasa menjadi berubah ketika juniornya di sekolah, Uchiha Sasuke, tengah memergokinya sedang melakukan sesuatu di toilet sekolah! Warn: BxB, SN.

A/N : Halo para pembaca yang budiman! Saya aurantii13 disini. Saya terkesan dengan antusias kalian ^.^

Saya tidak menyangka fict abal ini mendapat respon yang luar biasa. Untuk itu saya akan berusaha memberikan tulisan saya yang terbaik. Walaupun pengalaman menulis cerita saya masihlah nol. Karena saya sendiri terbiasa menulis formal seperti laporan dan kawan-kawannya.

Sebagai wujud terima kasih saya akan membalas review dari teman-teman pembaca. Kalau ingin langsung diskip juga gak apa-apa, kok.

Hikari No Onihime: Fictnya keren? Makasih ya! #peluk. Ini sudah saya update kilat. Semoga suka. Maaf ya penjelasan kenapa Naruto bisa seperti itu masih ada di chapt depan. Mohon menunggu. Untuk Mpregnya masih dalam pemikiran, saya masih gak pede buat nulisnya. Takut jelek. Makasih buat review dan sarannya, sudah saya catat. Semoga nanti bisa saya penuhi.

dianarositadewi4: Makasih sudah review. Lemonnya ada kok. Nanti saya berusaha masukin di ceritanya biar gak terkesan buru-buru :3

Black2Dstya: Makasih ya sudah review. Naruto punya penyakit yang buat dirinya bisa mengeluarkan air susu. Karena cerita ini SN jadi saya buat Naruto uke

Kizu583: Ehh? Fictnya sadis? Tapi saya gak sadis, kan? #gaknanya. Maaf ya sudah buat anda mimisan. Semoga chapt ini bisa ngebuat anda tambah mimisan lagi. #lho. Makasih sudah mau review.

hanazawa kay: Makasih reviewnya. Makasih juga sudah mau mampir dan suka sama fict aneh ini. Saya update untuk mengobati rasa gak sabarnya :3

intan. pandini85: Makasih sudah review. Ini update kilatnya. Selamat membaca.

uzumakinamikazehaki: Makasih sudah review. Sudah saya update, silakan dibaca.

saphire always for onyx: Hai juga! Iya ini sasunaru :3 Naruto ngeluarin air susu, jadi namanya ASN atau air susu naruto #ngayal. Makasih sudah review, selamat dibaca chapt barunya.

LemonTea07: Maafkan temanya memang gak lazim. Tapi makasih sudah suka. Alasan naruto bisa ngeluarin air susu nanti saya jelaskan di chapt depan, gomen ne. Beres nanti saya minta si sasuke buat minum susu naruto tiap hari biar sehat. Wah iya, makasih sudah dikoreksi. Thanks reviewnya! :

Kagaari: makasiiih reviewnya. Iya nih naruto punya penyakit yang buat dia bisa ngeluarkan air susu.

witchsong: makasih sudah review. Maafkan saya ya, alasan di balik penyakit naruto itu masih akan dijelaskan di chapt depan. Ambigu ya? Seneng deh maksud saya bisa ketangkep. Memang saya buat ambigu kalau itu tentang sasuke. Hehe. Ini sudah saya update kilat. Silakan dibaca.

Jasmine DaisynoYuki: makasih buat review dan pujiannya. Ini saya update kilat.

zadita uchiha: iyaa naruto kenapa ya? #ditendang. Penjelasan naruto bisa ditunggu di chapt depan. Iya sudah saya perbanyak wordnya. Doakan ya author semoga masuk surga #ngelunjak. Makasih sudah review.

SNlop: iya naruto jadi ibu-ibu bisa ngeluarin air susu. Makasih sudah review.

L : makasih sudah review. Ini sudah dilanjut. Selamat membaca.

Akarasuki: makasih pujian dan reviewnya. Ini sudah saya lanjut. Dibaca yaa.

User31: makasih reviewnya. Terharu ada yang suka fict ini. Ini saya update kilat. Semoga suka.

Aiko Mischikage: ini sudah saya lanjut. Makasih sudah review.

widiastuti: ini sudah dilanjut kakak. Selamat membaca. Terima kasih sudah review.

zukie1157: makasih sudah review. Saya update cepat dengan word diperbanyak. Semoga kamu suka.

versetta: iya naruto kasian. Dia punya penyakit yang buat dia seperti itu. Nanti ada penjelasannya, kok. Sudah saya lanjut, silakan dibaca. Makasih sudah review.

laila. : iya naruto bisa ngeluarin air susu. Sudah saya lanjut, dibaca ya. Semoga suka. Makasih sudah review.

Disclaimer : Naruto dan semua chara yang terdapat di cerita ini adalah milik Masashi Kishimoto namun plot cerita murni karangan author. Author tidak mengambil keuntungan dari pihak manapun.

Genre : Romance, Sci/Fi

Warn : BxB, jika tidak menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan male relationship diharap tidak membaca fict ini, author tidak menanggung jika ada pembaca yang mual dan muntah karenanya. Bahasa tidak baku dan kadang sulit dimengerti. Banyak typo.

Rated : M (mengandung unsur dewasa, bagi pembaca di bawah umur disarankan tidak menirunya.

Pair : SN

Mohon maaf sebelumnya jika cerita ini kurang berkenan bagi kalangan tertentu. Untu itu saya sarankan untuk segera menekan tombol "kembali".

Selamat membaca, minna-san!

Sekilas chapt sebelumnya:

"Aa.. Apa yang kau lakukan di sini, Uchiha?" tanya Naruto akhirnya setelah tersadar Dari kondisi kagetnya.

"Senpai sendiri sedang melakukan apa?" tanya balik pemuda yang ternyata adalah Uchiha Sasuke ini.

Masih diliputi rasa kaget Naruto hanya mampu berbicara terpatah-patah, "A.. Aku.."

Title : Ini Rahasia (by aurantii13)

Chapter 2

Naruto hanya bisa terdiam saat manik obsidian itu menatapnya tajam. Perlahan Sasuke mendekatinya. Saat Sasuke tiba di hadapan Naruto tatapannya teralih pada tangan Naruto yang masih memegang putingnya. Penasaran dengan apa yang dilihatnya tanpa berpikir panjang, tangan Sasuke bergerak menggapai puting Naruto. Merasa dalam bahaya spontan Naruto menjauhkan putingnya dari jangkauan Sasuke. Dari usahanya tersebut tidak sengaja Naruto memencet putingnya sehingga keluar cairan putih yang terciprat ke tangan Sasuke.

Keduanya kaget dengan apa yang baru terjadi. Dengan ekspresi berbeda, Naruto menatap horor sedangkan Sasuke yang menatap penasaran pada tangannya itu. Perlahan tanpa rasa ragu Sasuke menjilat cairan yang berada di tangannya, tidak peduli entah apa itu.

"Manis," gumam Sasuke.

"Ehh?" tanya Naruto dengan alis sedikit terangkat, bingung.

"Aku bilang rasanya manis, senpai. Karena aku melihat cairan ini keluar dari putingmu, apakah aku bisa mengatakan bahwa ini adalah air susumu?" tanya Sasuke.

"Ehh, yah.. Sejenis itu," sambil memalingkan wajah malu-malu Naruto tak yakin menjawabnya.

"Bisakah kau menjelaskannya, senpai?" tanya Sasuke lagi.

"Ceritanya panjang, Uchiha. Tolong rahasiakan ini dari semua orang," pinta Naruto.

"Bagaimana aku bisa merahasiakannya jika aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi?" tuntut Sasuke.

"Sudahlah Uchiha. Aku memintamu untuk merahas- ukh..," Naruto tidak berniat menjelaskan apa yang terjadi namun desakan sesuatu yang kuat dari dalam dadanya mencoba keluar lagi. Ya, cairan putih itu menetes dari puting Naruto. Terlihat Naruto kepayahan untuk menghentikan cairan yang sepertinya tidak kunjung habis dengan memerahnya kembali.

Di mata Sasuke penampilan Naruto berantakan dengan seragam amburadul, wajah kemerahan, keringat yang deras menetes dari dahi turun mengalir ke pipi dan leher. Tidak tertutupi pula puting Naruto yang terus menerus mengeluarkan air susu itu.

"Bolehkah aku membantumu, Senpai?" lagi-lagi tanpa sadar Sasuke melakukan hal yang tidak diproses dahulu oleh otaknya. Karena tubuh Naruto berada di dekat jangkauannya dengan mudah kedua tangannya meraih tubuh Senpai-nya itu yang terasa agak hangat itu. Ditundukkan wajahnya setara dengan dada Naruto.

Agak lama Ssuke memandang dada yang ada di hadapannya saat ini. Perlahan namun pasti bibir Sasuke menyentuh area di sekitar puting Naruto. Ragu, dijilatnya perlahan puting kecoklatan itu. Rasa manis yang sama seperti rasa cairan yang baru dia rasakan tidak lama tadi, namun jika dirasakan langsung dari sumbernya susu itu lebih terasa segar? Diiringi kecupan ringan mulut Sasuke terlepas sebentar untuk menatap kembali benda yang baru saja dijilatnya. Tak lama kemudian Sasuke kembali mengecup dan menjilat puting Naruto, kali ini pandangan Sasuke terarah menuju wajah Naruto. Jilatan dari Sasuke membuat Naruto semakin gelisah untuk bergerak untuk melepaskan diri dari Sasuke. Entah karena Sasuke yang memegang kendali keadaan atau kondisi tubuh Naruto yang lemah saat ini membuatnya sulit untuk bebas dari cengkraman erat tangan Sasuke pada kedua lengannya. Naruto hanya bisa pasrah menutup mata dengan mulut membuka menutup dan menolehkan wajahnya ke berbagai arah selain wajah kouhainya* itu. 'Kawai ne~ Eh? Kenapa wajah Senpai terlihat manis? Fokus, Sasuke! Fokus!' batin Sasuke.

'Segar, huh?' begitu pikir Sasuke lagi. Dirinya yang pada awalnya hanya berinisiatif untuk membantu Naruto mengeluarkan semua susunya menjadi penasaran untuk merasakan susu Naruto dalam jumlah banyak.

'Gila! Apa yang aku harapkan dari semua tindakanku ini?' Sasuke mulai merasa apa yang dipikirkan oleh otaknya berbanding terbalik dengan apa yang sedang ia lakukan pada tubuh senpai-nya. Sepertinya Sasuke merasa tidak bisa untuk tidak membantu senpai yang dihormatinya itu. 'Sudahlah, aku hanyalah ingin membantunya karena selama ini Senpai pernah beberapa kali membantuku' lanjutnya lagi, acuh, tetap membiarkan lidahnya terus menjilat dan meneguk susu yang keluar dari puting Naruto. Dirasakannya cairan yang keluar itu sedikit demi sedikit keluar bertambah banyak. 'Apakah aku harus mengisapnya lebih kuat agar semua susunya cepat keluar? Cepat keluar akan cepat selesai, bukan?' putus Sasuke sepihak tanpa ia sadari keputusannya semakin membuat Naruto tidak nyaman dengan apa yang Sasuke lakukan pada tubuhnya.

"KAU!" seru Naruto tercekat. Naruto tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan saat ini. Semenjak dipergoki oleh kouhainya berbagai alasan yang harus ia katakan seakan menghilang. Dia panik saat tangan Uchiha akan menyentuh dirinya. Kepanikannya berbuah petaka ketika secara sengaja dia menekan putingnya sendiri dan menyebabkan air susunya mengenai tangan Uchiha. Dia semakin takut dengan Uchiha saat dirinya ditatap olehnya dan setelah itu segala hal yang ada di rasionya semakin hilang saat kouhainya itu malah menjilati dan kini semakin menyesapi putingnya layaknya bayi yang kelaparan. Demi pencipta alam semesta, dia bukanlah seorang wanita untuk diperlakukan demikian. Bagi Naruto tugas menyusui adalah tugas seorang wanita. Bukan dia! Bukan! Ini pelecehan namanya!

-slurp, slurp.. suara kecapan pemuda Uchiha yang semakin asyik dalam dunianya sendiri dan semakin tertantang untuk membuat senpainya semakin mendesah karena hisapannya.

"Hei, hen.. hentikan," seru Naruto lemah sambil mendorong Sasuke. Mendengar suara itu Sasuke hanya melirik sekilas saja dan tetap melanjutkan aksinya.

"Ss, stop, stop it. Teme!" seru Naruto semakin keras sembari memaki namun sama seperti sebelumnya ucapannya tak dihiraukan oleh Sasuke.

Dalam posisi kepala yang menunduk dan tubuh yang menungging tidak jelas membuat Sasuke lelah. Di saat ia akan memperbaiki posisi nyamannya terdengar langkah kaki menuju arah mereka.

Sasuke yang merasa bahwa masalah senpainya masih belum sepenuhnya ia atasi membawa Naruto ke dalam salah satu bilik until melanjutkan "bantuannya" itu. Sejenak ia melepaskan bibirnya yang mengulum puting coklat itu.

Naruto yang merasa akhirnya Uchiha mau melepaskan dirinya terasa senang. Namun kesenangannya tidak berlangsung lama ketika Uchiha itu justru membawanya ke salah satu bilik dan menguncinya. Dalam sekejap pandangan di depannya dipenuhi oleh sepasang manik hitam.

"APA YA-hmph," suara teriakan Naruto hilang tertelan karena bibirnya tertutupi oleh tangan Uchiha. Ketika derap langkah itu mendekat dan akan memasuki toilet. Posisinya saat ni berhadapan dengan Sasuke dan berada dalam pangkuannya. Sasuke tidak keberatan dengan hal itu karena dirasakannya tubuh Naruto tidak seberat dugaannya dan dilihat dari tinggi badan keduanya memiliki tinggi yang hampir sama dengan beda sekitar satu, dua cm.

'Sepertinya ada dua orang,' tebak Sasuke.

"Sst.. Tolong diam saja, Senpai. Akan ada orang yang memasuki toilet. Apa Senpai mau terlihat dalam keadaan seperti ini?" tanya Sasuke dalam suara rendah yang dijawab oleh gelengan kuat Naruto karena saat ini mulutnya sedang dibungkam oleh Sasuke. "Apa kau ingin rahasiamu aman, senpai?" tanya Sasuke lagi yang dijawab anggukan cepat oleh senpainya itu.

-Brak- suara pintu toilet yang terbuka membuat Sasuke dan Naruto tak sadar menoleh ke sumber suara. Mereka berdua kemudian saling bertatapan. Dari posisinya saat ini Naruto bahkan dapat menghitung berapa jumlah bulu mata Sasuke. Sasuke memanggil senpainya itu beberapa kali namun tak ada tanggapan. Sadar akan arah tatapan Naruto membuat Sasuke kecil dengan mata berkilat jahil.

"Suka dengan apa yang kau lihat, Senpai?" bisik Sasuke tepat di telinga Naruto. Merasakan hembusan nafas hangat di telinganya membuat Naruto terlonjak dan melotot ke arah Sasuke. 'Apa lagi yang sedang kau lakukan?' seolah sorot mata itu berkata demikian mewakili mulutnya yang terbungkam rapat. Tatapan marah Naruto hanya semakin membuat Sasuke gemas pada senpainya yang satu itu.

"Maaf, sebaiknya segera kita lanjutkan saja, Senpai," ucap Sasuke. Naruto yang mendengar hal itu hanya bisa menautkan kedua alisnya, bingung. Kemudian memekik tertahan ketika lagi-lagi Sasuke menyerang putingnya yang malang. Di saat mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing, dua orang yang berada di luar bilik tetap tak sadar dengan apa yang sedang terjadi di dalam bilik itu.

"Kau tahu kabarnya salah satu siswi di sekolah kita ada yang berkencan dengan oom-oom tua lho," kata salah satu pemuda berambut gelap.

"Benarkah? Siapa namanya? Apakah kita mengenalnya?" tanya seseorang lagi yang berambut terang.

"Apa kau mengenal Fū? Gadis kelas 3-2?" jawab orang pertama.

Pecakapan keduanya hanyalah angin lalu bagi Naruto. Naruto mencoba tenang dan bungkaman tangan Ssuke terlepas dari atas mulutnya. Namun begitu mendengar mereka menyebut Fū membuatnya menjadi tidak tenang, "Apa yang dia katakan? Aku harus keluar sekarang," Naruto yang berusaha melepaskan diri dan meraih gagang pintu bilik yang dia tempati namun segera dicegah oleh Sasuke.

"Apa kau mau mereka mengetahui keadaanmu saat ini," ujar Sasuke yang dijawab gelengan oleh Naruto."Sebaiknya kita diam saja dan selesaikan semua ini," sambungnya lagi di saat Naruto mencoba menutup mulutnya sendiri.

"Jadi Fū? Astaga! Bukankah dia pacar Naruto-san? Terakhir aku melihatnya Naruto-san masih mesra dengannya," seru orang kedua.

"Jangan berteriak, Temujin. Aku tidak mau ketahuan menggosip disini," seru orang pertama.

"Kenapa kita harus berbicara pelan, Idate? Tidak ada orang di sini," ujar orang kedua, Temujin.

"Apa kau tidak melihat pertanda ada orang di toilet ini? Kau mendengar suara-suara?" Tanya Idate yang dijawab tatapan blank dari Temujin.

"Pertama kran air ini masih menyala, kedua terdapat perban ini di sebelahnya. Dan terakhir pintu bilik di belakangmu sedang tertutup. Dari semua tanda hanya ada satu kesimpulan, Temujin, " jelas Idate panjang lebar.

"Apa itu Idate?" tanya Temujin lagi, lemot.

"Orang itu pasti sedang terburu buru dan sedang melakukan hal yang tidak-tidak," ungkap Idate menyeringai mesum yang membuat punggung Naruto menegang. Naruto panik.

"Ayo kita intip, Temu-"

-Brak!

Ajakan Idate tertahan dengan suara gebrakan pintu dari dalam bilik.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" seru suara yang terdengar marah dari dalam bilik.

"Kami- kami.." Temujin yang ketakutan tidak beruntung dalam menjawab pertanyaan.

"Apa kau Uchiha Sasuke? Kau sendiri sedang bersama siapa di dalam? Aku tidak takut dengan ancamanmu. Aku bahkan akan melaporkanmu karena berbuat yang tidak-tidak di dalam sana!" ancam Idate.

Suasana hening sejenak sebelum Sasuke kembali bersuara, "Apa yang aku lakukan saat ini bukanlah urusan kalian. Seperti kalian tidak pernah melakukannya saja. Kalian pasti tahu apa yang terjadi jika kau sedang sendiri, melihat video panas, dan tubuh yang membara. Asal kalian tahu semua ini aku lakukan SENDIRIAN!".

Zing~

Suasana menjadi hening. Hawa di toilet menjadi aneh. Ada satu pun dari mereka yang berani bersuara.

Dengan wajah memerah Temujin menyeletuk, "Jadi kau sedang bermasturbasi?"

Sebelum ada jawaban dari Sasuke, Idate menarik lengan Temujin menjauh. "Ayo sebelum otak polosmu semakin kotor sebaiknya kita pergi dari sini."

-Brak!

Diikuti debaman keras pintu menandakan kedua orang tersebut keluar meninggalkan toilet. Mendengar hal itu Sasuke hanya bisa bernafas lega walaupun rasa leganya tidak terlihat secara eksplisit di wajahnya.

"Jadi.. Kau.. Kau ini hobi lihat video yang begituan ya, Sasuke? Sambil bermasturbasi?" tanya Naruto nyengir.

"Senpai, apakah kau ini bodoh? Tentu saja tidak. Itu tadi hanya akalku saja agar mereka tidak bertanya lebih juh," jawab Sasuke cepat dengan perempatan marah imajiner tercetak di pelipisnya. "Mana mungkin aku melakukan hal yang merendahkan derajat Uchiha. Bisa-bisa Madara-jiisan akan bangun dari kuburnya untuk menerorku," gumam Sasuke sendiri namun masih terdengar oleh Naruto.

"Ohh, kukira itu memang hobimu," seru Naruto menyesal begitu tahu itu adalah hal yang tidak dilakukan oleh Uchiha. Setengah menyesal karena bahan untuk blackmailnya gagal. Naruto berniat untuk "sedikit" menjahilinya karena telah melecehkannya seperti ini.

"Sudah kubilang bukan, Senpai. Apa harus kupanggil Dobe Senpai, huh?" tawar Sasuke dengan wajah dibuat serius sambil menaikkan salah satu alisnya.

"Apa kau bilang? Dobe? Aku ini jauh lebih tua darimu. Jadi kau harus lebih hormat padaku," seru Naruto.

"Ya ya, senpai. Seperti kau nanti akan ingat saja," gumam Sasuke.

Melihat wajah datar Sasuke yang mendumel membuat senyum tercetak di bibirnya. "Terima kasih, Uchiha. Setidaknya kau berusaha tidak memalukanku."

Mendengar ucapan tak terduga dari Naruto membuat Sasuke tersenyum tidak kentara. Usahanya membantu tidak sia-sia ternyata. "Baiklah, senpai. Bagiamana jika kita melanjutkan ini," sambil menepuk dada kanan Naruto, "karena yang sebelah kiri sepertinya sudah teratasi." Mendengar hal itu Naruto mengangguk dengan semangat sepertinya lupa dengan apa yang harus ia alami setelah ini.

_ page break _

Sementara itu di salah satu ruang kelas Konoha University

"Jadi seperti yang sudah saya jelaskan kemarin proses terbentuknya hormon – hormon steroid atau hormon kelamin berasal dari bahan dasar Kholesterol Asetat. Hal ini merupakan tugas yang dilakukan oleh sel – sel theca interna yang terdapat pada folikel de Graaf. Proses perubahan kholesterol asetat menjadi estrogen dapat kalian lihat pada slide* di depan kalian," jelas Itachi panjang lebar tentang hormon pada individu betina. Itachi memandang wajah muridnya satu persatu, mencari tanda-tanda kebingungan dari mereka. Jika masih ada yang masih kebingungan dengan materi yang disampaikannya dengan senang hati Itachi akan menjelaskannya ulang.

Menjadi dosen adalah impiannya sejak kecil maka dengan sepenuh hati Itachi akan mendidik jiwa-jiwa haus ilmu ini dengan semua ilmu yang ia miliki. Di usia 24 tahun dia telah resmi menjadi salah satu dosen tetap di Konoha University. Walaupun di awal karir mendapat tentangan dari orang tuanya, khususnya ayahnya, Fugaku ia tetap tak gentar mempertahankan cita-citanya itu hingga akhirnya Fugaku mengalah. Walau ujung-ujungnya Itachi masih tetap direcoki oleh ayahnya tentang pekerjaan kantor yang terkadang menyebabkan Itachi menjadi pemimpin rapat dadakan tentang ini dan itu. Menjadi lulusan double degree membuat Itachi menguasi ilmu di bidang biologi dan ekonomi manajemen.

Dari ujung mata Itachi melihat pemuda bersurai merah kejinggaan terlihat mengikuti kuliahnya dengan antusias. Sejak mengikuti kelasnya di semester awal, Namikaze, begitu nama yang diingat oleh Itachi terkadang mengajukan satu, dua pertanyaan untuknya. "Sampai di sini apakah ada yang perlu ditanyakan?" pancingnya pada para mahasiswa itu.

Selang sejenak dapat diduga oleh Itachi, pemuda merah itu mengangkat tangannya beserta dua orang mahasiswa yang lain. "Ya, Namikaze-san?" tanya Itachi.

"Sensei, apakah mungkin seseorang yang bahkan tidak memiliki organ reproduksi wanita dapat menghasilkan hormon estrogen dan progesteron*?" tanya Kyuubi Namikaze.

Berpikir sebentar Itachi menjawab, "Hal tersebut mungkin saja tejadi hanya saja pada individu jantan. Karena keberadaan hormon tersebut bahwasannya ada untuk menciptakan kestabilan dalam tubuh. Misalnya jika pada individu jantan terdapat testosteron* yang melimpah dapat meningkatkan resiko terjadinya hipertensi. Keberadaan estrogen dapat sedikit mengontrol keadaan tersebut sehingga hipertensi tidak dapat terjadi. Tapi tentu saja estrogen dan progesteron yang ada di tubuh individu jantan terdapat dalam jumlah sedikit. Jika kau tertarik pada hal ini aku menyarankan kau untuk bergabung pada penelitianku. Kebetulan temanya tidak jauh tentang hormon," tawar Itachi pada Kyuubi setelah menjelaskannya.

Dari arah seberang Kyuubi hanya bisa menampakkan wajah berseri. Karena pada akhirnya dia dapat sedikit membantu masalah yang dialami adiknya. "Terima kasih, Sensei!" seru Kyuubi.

"Baik, pertanyaan selanjutnya kau, Inuzuka-san," lanjut Itachi melanjutkan kuliahnya dengan menanggapi pertanyaan dari para mahasiswanya.

_ page break _

Sejak kembalinya Naruto di kelasnya membuat teman terdekatnya, Gaara, terheran-heran. Dari tadi seperti tak ada hentinya kawan kuningnya itu menghela nafas panjang.

"Orang bilang jika kau menghela nafas seperti itu maka satu kebahagiaanmu akan hilang," ucapnya acuh tak acuh, namun sudah memastikan suaranya terdengar oleh Naruto.

Mendengar seseorang yang mengajaknya berbicara membuat Naruto menolehkan wajahnya pada Gaara Sabaku, teman masa kecilnya.

"Oh man! Jika dari awal kau tahu menghela nafas panjang akan membuatmu khawatir padaku hal ini akan kulakukan sejak dulu, dulu, dulu." Naruto nyengir yang mendapat tatapan sangar gratis dari Gaara.

"Ceritakan padaku, Naruto," Gaara to the point menatap lurus Naruto. Hal yang tidak sulit dilakukan karena Gaara duduk di bangku sebelah Naruto. Merasa khawatir pada temannya itu karena tadi siang sekembalinya Naruto dari toilet dalam keadaan yang tidak biasanya dengan wajah bersemu. 'Apa dia baru mengalami hal yang dapat mengganggu sisi jantannya?' pikir Gaara asal yang tanpa ia sadari bahwa tebakannya sendiri nyaris benar terjadi pada Naruto.

"Sudah kubilang tidak ada yang terjadi, Gaara," elak Naruto dengan mata mengerling ke arah kiri.

Melihat tingkah Naruto membuat Gaara menaikkan alis tipisnya. Dia pun kemudian menghela nafas panjang mirip yang dilakukan Naruto sebelumnya.

"Hei, hei Gaa-chan. Jangan memandangku seperti itu. Aku tidak apa-apa kok, he he he.." goda Naruto dengan kekehan ringannya.

Melihat tidak ada tanggapan, Naruto meraih lengan Gaara untuk berdiri.

"Sebaiknya kita segera ke luar kelas," Naruto memandang sekitar sejenak. Kelas memang telah selesai sesaat yang lalu. Teman-temannya sepertinya telah bubar entah langsung pulang atau mengikuti kegiatan klub masing-masing. Menjadi siswa kelas XII membuat mereka dalam beberapa bulan ini harus berpisah dengan klubnya. Tentu saja untuk menghadapi ujian akhir sekolah dan persiapan untuk tes masuk perguruan tinggi.

_ page break _

Gaara mengikuti klub yang berbeda dengan Naruto. Naruto mengikuti klub karate yang ditekuninya sejak kelas X sehingga dipercaya oleh teman-teman dan pembimbingnya untuk menjadi ketua klub. Sedangkan Gaara sendiri mengikuti klub sepak bola dimana dia adalah pemain tetap di setiap liga yang diikuti oleh sekolah mereka. Lokasi latihan klub mereka cukup berbeda, Naruto berada di indoor sedangkan Gaara berada di Outdoor, membuat perjalanan mereka terpisah. Kini Naruto berjalan seorang diri menuju klubnya.

Ruang latihan yang Naruto masuki masih kosong melompong. Di ruangan itu hanya ada matras hitam yang terletak di pojok ruangan. Memukul pelan kepalanya dia membatin dia ini dia adalah seorang pelupa. Bukankah latihan hari ini akan mundur sampai satu jam kemudian? Bukankah dia sendiri yang mengabari anggota klubnya untuk datang jam empat sore nanti?

Pikirnya daripada menunggu dalam keheningan dan kebosanan sebaiknya dia berkeliling sekolah sambil melihat kegiatan klub lain. Pemandangan Naruto yang berjalan sendirian sudah terkesan familiar baginya. Meskipun Naruto adalah orang yang terkenal baik dan ramah namun teman yang sering berjalan bersebelahan dengannya hanyalah Gaara. Karena suatu trauma dia hanya bisa berakrab ria dengan orang yang benar-benar dipercaya olehnya.

Saat dirinya melintasi ruang klub tari, tidak sengaja meilhat Fū. Gadis yang telah mejadi kekasihnya sejak pertengahan kelas X itu sedang menari dengan anggun. Gayanya yang anggun membuat Naruto terpikat dengannya dan mengajaknya untuk berkencan. Gosip yang ia dengar tentang Fū pasti hanyalah hoax. Dia percaya bahwa gadisnya adalah orang yang setia. Tudingan tentang Fū yang baru diketahuinya di toilet tadi siang benar-benar mengganggu pikirannya.

'Tunggu, apa yang aku lupakan tentang toilet? Ayo ingat-ingat lagi.. ingat lag-" ucapan innernya terputus oleh pikirannya sendiri begitu dia ingat dengan apa yang terjadi di toilet tadi siang. Wajahnya sedikit bersemu ketika mengingat kejadian pasca nyaris diintip oleh para kouhainya!

(flash back)

Tidak ada seorang pun akan sadar bahwa di balik balik terpojok toilet lantai tiga terdapat sepasang pemuda yang terlihat sedang asyik melakukan sesuatu.

Pemuda bersurai pirang tengah manis di atas pangkuan pemuda yang memiliki surai lebih gelap. Pemuda yang tengah dipangku itu terlihat kegelian dan menjambaki rambut pemuda di bawahnya. Jambakan di rambut itu semakin memacu Sasuke, pemuda bersurai gelap untuk melanjutkan aksinya lebih ganas. Jilatan, emutan, dan hisapan dia lakukan berulang kali pada puting pemuda yang telah disentuhnya sejak setengah jam yang lalu. Di saat bibirnya sibuk memanja dada kanan pasangannya, tangannya yang bebas ternyata sibuk memilin puting dada kiri.

Tak jarang hisapan sadis dari Sasuke mampu membuat Naruto, pemuda bersurai pirang itu, untuk mendesah tertahan seakan logika yang mereka miliki hilang. Entah berapa lama lagi kegiatan ini akan terus berlangsung di saat keduanya seakna tidak ingin menghentikan aktivitas ini.

Tidak akan disangka pula oleh kedua insan tersebut jika memerah susu bisa senikmat ini. baik pemerah maupun yang diperah. Di saat plester di dada kiri Naruto dibuka paksa oleh Sasuke, Naruto pun merinding melihat kilat aneh di mata kouhainya itu. Sasuke menjanjikannya bahwa "bantuannya" kali ini akan terasa nyaman bagi keduanya. Hal itupun benar-benar dibuktikan oleh Sasuke tatkala kedua titik di dada Naruto di remas gemas oleh Sasuke. Bahkan secara tak sadar Naruto mengeluarkan suara aneh karenanya. Air susunya seperti dihisap habis oleh Sasuke. 'Dasar manusia vacuum cleaner!' batin Naruto.

Ting tong ting tong!

Suara bel tanda akhir pelajaran berbunyi berhasil mengembalikan kesadaran mereka. Layaknya gadis perawan mereka tersipu satu sama lain. Sampai akhirnya Sasuke memulai percakapan, "Senpai, sebaiknya kau bangun dari pangkuanku sekarang," perintah Sasuke dengan suara bergetar tak yakin.

"Ah, ok. Maaf jika tubuhku berat," di saat Naruto mencoba berdiri tidak sengaja dirasakannya terdapat bagian tubuh dari Sasuke yang tengah mengeras.

"Kau-" ucapan Naruto terpotong.

"Kumohon Senpai jangan berkomentar untuk sekarang ini," pinta Sasuke. Naruto menurut.

Di saat Naruto mencoba merapikan dirinya. Dirabanya dada yang sudah tidak membengkak lagi. Meskipun masih terlihat menonjol namun dada itu kini tidak kencang dan sakit. Dibersihkannya area aliran susu dengan tissue basah yang selalu dibawanya pergi tidak lupa ia segera memasang perban khusus.

Perban yang dimiliki oleh Naruto mirip seperti pembalut wanita saat menstruasi dimana terdapat sejenis kapas penghisap di bagian tengahnya sehingga saat terjadi luapan air susu dari Naruto tidak menimbulkan iritasi dan tidak meluber keluar.

Naruto yang penampilannya sudah setengah rapi menoleh ke arah Sasuke dan mendapati kouhainya itu masih terduduk di atas kloset tidak ada tanda-tanda pergerakan semenjak Naruto bangun dari pangkuannya.

"Hei, kenapa kau tidak merapikan bajumu?" tanya Naruto. Tidak ada tanggapan dari Sasuke. Tidak habis akal Naruto pun menepuk keras bahu Sasuke bahkan sampai terdengar keras suaranya. 'Lumayan, rasa sebalku karena kemesumannya tadi tersampaikan. Dari siapa sih dia belajar hal semacam itu?' Naruto membatin setelah rasa sebalnya terpuaskan. Iya, dibalik wajahnya yang polos Naruto memang berjiwa sadis.

(nun jauh di sana, Uchiha lain berambut panjang berkuncir terbatuk hebat tak sengaja menghirup kloroform yang dipegangnya)

Sasuke tersadar dan mendapati wajah Naruto hanya sebatas ujung jari. Dari visi Sasuke terlihat kelopak warna madu Naruto berkedip-kedip aneh. Otaknya masih merespon sesuatu.

"Hua! Kau mengagetkanku, Senpai!" Sasuke terjungkal ke belakang dalam posisi masih duduk di atas kloset. 'Maafkan aku leluhurku, sepertinya keturunanmu ini tidak layak menjadi Uchiha sejati,' batin Sasuke sarap.

Dirasakannya dada berdebar-debar kencang, aliran darah naik drastis menuju ke otak, wajah dan seluruh tubuhnya memanas. Tak sadar Sasuke menyentuh lokasi jantungnya terdapat, getarannya masih terasa. 'Jantungku seakan putus. Darahku seakan memompa deras. Apakah namanya ini? Gila! Jika ini terus terjadi aku akan cepat mati, kan? Kata Madara-jiisan sebelum meninggal dulu jika jantungmu memompa aliran darah lebih dari normal maka dirimu menderita hipertensi*. Sekali sudah terkena hipertensi maka akan cepat mati. Cepat mati. Jadi aku akan cepat mati?' simpul batin Sasuke sarap. Entah yang ke sekian kalinya hari ini ia tak bisa berpikir sehat.

Naruto yang merasa diacuhkan hanya bisa mengangkat bahu, acuh.

"Tindakanmu barusan dapat dikategorikan tindakan pelcehan. Kau tahu itu? Kau bisa dilaporkan karenanya," ucap Naruto mencoba menjadi pihak yang berpikiran jernih di sini.

"Sebaiknya kau kembali ke kelasmu. Tidak baik jika sering membolos. Terima kasih hari ini," imbuh Naruto sambil membuka kunci bilik di saat masih tidak ada tanggapan dari Sasuke, "oh iya, dan juga sekarang ini jadi terasa enteng," tambahnya seraya menepuk dadanya sendiri.

"Senpai tunggu! Apa kau tidak merasakan aneh di selangkanganmu?" tanya Sasuke.

Berpikir sejenak, "Kurasa tidak," jawab Naruto enteng.

"Apa tidak terasa sakit dan mengeras, Senpai?" tanya Sasuke lagi.

"Nope," jawabnya sekilas, " Sudah ya aku kembali dulu. Jangan bertindak aneh-aneh lagi pada orang di sekitarmu. Sampai jumpa di klub," setelah itu Naruto menghilang di balik pintu dan berlari menjauhi toilet.

"Nah, Sasuke apa yang sekarang ini akan kau lakukan?" bermonolog ria Sasuke berusaha untuk mengatasi gejala-gejala keanehan hipertensi. Itu menurut diagnosanya.

(flash back selesai)

"Aneh juga, kenapa kejantanan Sasuke bisa keras dan berdiri seperti itu?" Naruto menggumam sambil berjalan, entah kini ia menuju ke koridor mana.

Sesaat dirinya malu sendiri karena bisa-bisanya dia main pangku-pangkuan di atas Sasuke. Meskipun sebelumnya dirinya merasa nikmat karena telah dibantu oleh Sasuke, "Tapi, tetap saja duduk di atas itu yang berdiri rasanya, omph!" kecerobohan Naruto yang fokus sendiri tidak sadar telah menubruk pelan seseorang.

"Maafkan aku, maaf," Naruto menunduk tanpa melihat seseorang yang baru saja ditabraknya.

"Ah! Namikaze-san! Selamat sore. Kenapa Senpai belum pulang?" sapa suara feminin dari arah seberangnya.

"Selamat sore, Sakura-chan. Aku masih ada kegiatan di klub. Kenapa kau ada di sini? Oh iya, ini kan dekat ruang komite sekolah. Kau pasti sedang sibuk!" jawab Naruto setelah menengok sebentar ruangan di balik tubuh Sakura Haruno, siswi kelas X. Mengetahui bahwa kouhainya itu merupakan kader komite sekolah.

"Bagaimana rasanya duduk di atas benda yang berdiri, Senpai? Pasti repot," sela seseorang, suara yang tak asing bagi Naruto.

"Uchiha! Kau pasti orang yang kutubruk tadi. Gomen. Maaf juga sepertinya aku mengganggu pembicaraan penting kalian," Naruto menampilkan senyum lima jari andalannya, "Hal yang kau katakan tadi soal berdiri lebih baik dilupakan saja. Itu memalukan. Bukannya kita ada kegiatan klub? Wah, sebentar lagi jam empat. Ayo Uchiha kita langsung ke klub," seru Naruto sambil menggamit lengan Sasuke berusaha mengalihkan topik berdiri itu. 'Tidak baik membahasnya di depan gadis!' batin Naruto.

Di saat mereka jauh dari ruang dengar Sakura, Naruto berbisik, "Kau yang sudah tahu pasti apa yang berdiri itu sengaja mengatakannya di depan Sakura, kan?"

"Apa yang berdiri, Senpai? Aku tidak tahu," aku Sasuke dengan wajah datar seperti tanpa dosa. Dalam hati Sasuke tersenyum kecil, ternyata senpai yang satu ini cukup lucu juga. Bahkan Sasuke rela diseret begitu saja di depan orang lain. 'Uchiha anti diseret-seret di depan umum' lagi-lagi inner Uchiha bersuara.

"Thanks," seru Sasuke tiba-tiba.

Naruto yang mendengarnya hanya mengerutkan dahinya, seolah bertanya ada apa.

Ditatap balik seperti itu oleh Naruto, Sasuke hanya bisa memalingkan wajahnya yang memerah kembali melihat ekspresi aneh senpainya. 'Aku ini aneh melihat wajah bodohnya saja bisa membuatku memanas' batin Sasuke.

_ page break _

Latihan hari itu diakhiri tepat jam enam sore. Semua anggota klub karate bersiap-siap meninggalkan ruang latihan. Ada yang langsung pulang ataupun membersihkan diri di kamar mandi sekolah. Seperti hari-hari sebelumnya hari itu Naruto berencana langsung pulang tanpa membersihkan diri.

Selama latihan hari ini Naruto merasa ada yang aneh pada sekitarnya. Saat mencoba mencarinya namun tidak ketahuan apa itu. Dan saat ini kejanggalan itu kembali terjadi, insting Naruto menoleh ke arah kirinya. Tidak ada sesuatu hanya Uchiha. Karena tidak ada sesuatu yang dicarinya Naruto hanya mengangkat bahu dan kembali bergegas pulang.

Sasuke yang dongkol sendiri karena kodenya tidak tersampaikan dengan baik pada Naruto berusaha mengikutinya sampai mereka mencapai gerbang sekolah. Langsung saja Sasuke menarik tangan Naruto yang ternyata menimbulkan reaksi yang sama sekali tidak diduganya.

Reflek karena ada yang memegang lengannya tiba-tiba, belajar dari pengalaman Naruto memutar tubuhnya dan berencana mengunci lengan siapa pun yang sepertinya sedang mengganggunya.

Postur tubuh tubuh Naruto yang lebih pendek itu tidak mengganggu teknik pitingan yang dilakukan oleh Naruto. Dengan posisi sama-sama berdiri, Naruto merendahkan posisi lawan dengan cara menekan bahu. Dengan tekanan yang tepat dilakukannya pelintiran melingkar pada persendian lawan.

Naruto akhirnya tahu orang yang sedang dilawannya hanyalah Uchiha, adik kelasnya. Posisinya saat ini seperti memeluk Sasuke dari arah belakang. Tangan kanan Naruto mengunci kedua tangan Sasuke tepat di punggung kouhainya itu sedangkan tangan kirinya tengah memiting lehernya dari belakang.

"Tidak menyangka aku harus mendapatkan pitinganmu untuk dapat berbicara denganmu, Senpai," kata Sasuke sarkas.

Sadar ternyata orang yang dipitingnya adalah orang yang tidak bersalah, Naruto melepaskan tangannya dan mencoba bersikap santai. "Apa yang ingin kau bicarakan, Uchiha? Aku tahu kalau sesorean ini kau terus memperhatikanku."

"Bukankah tidak adil membiarkan seseorang yang telah membantumu dalam keadaan genting tertinggal oleh informasi yang tidak boleh dilewatkan, Eh Senpai?" jawab Sasuke.

Mendengar pernyataan itu membuat Naruto menoleh ke kanan dan kirinya seperti memperhatikan keadaan sekitar. Menyadari bahwa keadaan sedang sepi Naruto kembali bersuara, "Sudah ku bilang padamu untuk merahasiakannya bukan, Uchiha?"

"Aku sudah bilang padamu Senpai, aku hanya ingin menanyakan bagaimana kau bisa mengeluarkan a-" ucapan Sasuke terputus ketika melihat pandangan tidak suka dari Naruto.

Naruto hanya bisa memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal. "Baiklah besok akan kujelaskan semuanya padamu. Sepertinya kakakku telah datang menjemput," Naruto mendapati mobil kakaknya sedang mendekat ke arahnya, "Sebaiknya kau segera pulang. Aku duluan. Ja ne!" seru Naruto meninggalkan Sasuke sendiri di depan gerbang sekolah mereka.

"Lagi-lagi kau membuatku penasaran, Senpai," ucap Sasuke meletakkan tangannya di atas dada dan merasakan jantungnya yang kini masih berdegup cepat. Sasuke membatin bahwa pertemuan dengan Naruto tidaklah baik karena lagi-lagi dapat membuatnya kambuh hipertensi. Galau sendiri dengan hipertensinya Sasuke memutuskan diri untuk pulang dengan kendaraan umum saja setelah mengetikkan pesan singkat pada kakaknya, Itachi, untuk tidak usah menjemputnya hari ini.

_ page break _

Glossary :

Hipertensi : disebut juga penyakit darah tinggi dimana tekanan darah yang dipompa jantung melebihi normal yaitu di atas 120/100.

Kouhai : adik kelas

Estrogen dan progesteron : hormon yang mengatur siklus menstruasi, berada dalam konsentrasi yang tinggi pada individu betina

Testosteron : hormon yang mengatur keperkasaan pada individu jantan namun jika terdapat dalam konsentrasi berlebih hormon ini dapat menyebabkan hipertensi.

A/N : mohon maaf sebelumnya karena sepertinya penyakit Naruto memerlukan penjelasan yang cukup panjanng. Jadinya cerita saya potong di chapt ini. #nundukdalem

Di cerita ini Kyuubi dan Itachi sebagai saudara Sasuke dan Naruto cukup berperan. Jadi saya minta maaf jika nantinya mereka akan muncul di sana sini. Karena genre fict ini adalah Sci/Fi, sebisa mungkin saya menjelaskan beberapa fakta ilmiah yang ada untuk mendukung jalannya cerita.

Cerita makin aneh? Karakter makin OOC? Banyak istilah gak jelas? Mau tanya-tanya tentang cerita? Demi perbaikan dan kelanjutan cerita bolehkah saya meminta kritik, saran, atau apapun itu? Dukungan dari teman-teman pembaca jadi mood booster saya dalam berkreasi. Satu review dapat membuat chapt selanjutnya update lebih awal, lho. hehe

Salam

aurantii13

Sekilas chapt berikutnya:

Tercenung sejenak, "Bagaimana lelaki mampu mengalaminya?" tanya Sasuke. 'Senpai kau membuatku makin penasaran padamu' batin Sasuke.

Dalam keadaan panik ia mencari benda di sekelilingnya yang dapat dia pakai. "Senpai, aku pikir kau bisa menampungnya di gelas ini," saran Sasuke.