Summary : Kehidupan Naruto Namikaze yang terlihat biasa saja meskipun tidak biasa menjadi berubah ketika juniornya di sekolah, Uchiha Sasuke, tengah memergokinya sedang melakukan sesuatu di toilet sekolah! Warn: BxB, SN.

A/N : Halo pembaca yang budiman, dimana pun anda berada. Disini saya, aurantii13 mencoba peruntungan saya lagi dengan coba mem-publish chapt terbaru. Terkesan maraton memang saya mengupdate ceritanya. Saya harap teman-teman pembaca mau memakluminya. Terima kasih sudah mau mampir dan membaca fict abal saya ini. #bungkukdalem

Banyaknya respon positif dari menguatkan semangat saya untuk segera menyelesaikan chapt selanjutnya. Seperti janji saya sebelumnya saya akan menampilkan alasan di balik penyakit yang diderita Naruto. Oh iya, saya akan mengatakan alasan kenapa saya membuat karakter Sasuke jadi OOC di sini, karena banyak pembaca yang mengatakan demikian di review. Saya berusaha membuat Sasuke emotionless dan emo banget tapi entah mengapa setting keluarga di Uchiha ini jadi sulit untuk membuatnya seperti itu. Sikap Fugaku yang menganakemaskan Itachi tetap ada, Sasuke yang kesal karena sikap ayahnya oun jadi banting setir menjadi bad boy nakal, tukang cari perhatian. Tentu saja cari perhatiannya ini saya usahakan sesuai dengan karakter aslinya yang stoic itu. Di sini tidak ada pembantaian massal ataupun Itachi yang minggat. Justru di sini Itachi berperan jadi kakak yang hobi memanjakan adiknya. Tapi penilaian karakter Sasuke di sini saya serahkan pada pembaca. Inilah karakter Sasuke yang saya ciptakan. Semoga minna-san suka. ^.^

Di sini saya akan mencoba membalas review dari teman-teman pembaca. Kalau ingin langsung diskip juga gak apa-apa, kok.

intan. Pandini85: iya sengaja saya update cepet ceritanya. Mumpung saya masih sempat mengetik. Karakter di sini ada yang saya buat OOC demi mendukung jalannya cerita. Semoga kamu suka chapt baru ini. makasih reviewnya.

hanazawa kay: makasih juga sudah kasih review. Moga kamu suka sama chapt baru ini.

SN lop: iya, hehe.. Sasuke saya buat agak beda dari chara aslinya. Tapi kamu suka kan sama Sasuke yang di sini? #maksa. Makasih sudah review.

uzumakinamikazehaki: makasih sudah review, iya ini sudah dilanjut.

Black2Dstya: iya itu naruto gak sengaja lho menyu-piip- #kenasensor sasuke. Makasih sudah kasih review dan makasih juga sudah suka sama fict ini. Sudah saya update, silakan dibaca.

yassir2374: saya senang ada yang bilang fict abal ini keren. Iya saya coba mengangkat tema science karena kebetulan saya agak paham sama topik ini jadi bisa saya otak atik gitu. Hehe.. Iya tentang cowok berpayudara besar itu saya juga pernah membaca beritanya, kasihan hormon kelaminnya gak seimbang. Kasihan juga kalau ada cewek yang gak punya rahim, gak ada sel telurnya pula. Semoga fict saya di chapt ini dapat memuaskan anda. Saya usahakan masukin beberapa fakta ilmiah yang ada. Makasih sudah review.

Ryuusuke583: iya boleh tanya kok. Sci/fi itu lebih memfokuskan tema yang terjadi di alam seperti hukum-hukum alam, postulat ilmiah contohnya du fict ini saya coba ngebahas beberapa fakta di biologi seperti hormon-hormon. Kadang juga sci/fi ngebahas perkembangan teknologi saat ini semisal penciptaan roket ataupun robot dan sejenis gundam. Pengennya nanti ada IK, sudah saya rencanakan demikian. Biar seru harus ada drama konfliknya gitu, sudah saya atur begitu, hehe.. Gak ada konflik gak seru #diinjek. Hayo mau dibikin mpreg atau gak ni cerita? #soknawar. Di sini Sasuke kelihatan ero gak? Hehe.. makasih sudah review.

Kagaari: iyaa Sasuke saya buat polos karena dia masih kecil belum punya banyak pengalaman #ehh. Ada ItaKyuu kok, moga kamu suka. Makasih sudah review.

Fuuin SasuNaru: iya nih Sasuke saya buat OOC, hehe.. Kasihan kakek madaranya dibawa-bawa terus sama si Sasuke. Semoga kamu suka chapt ini. makasih reviewnya ya.

zadita uchiha: iya dong naruto juga harus minum susu biar cepet gede, harus serajin sasuke juga. Ini sudah saya update. Semoga kamu suka. Makasih sudah review.

yuki: sip satu orang lagi sudah penasaran. Hehe.. #ketawajahat. Makasih sudah review.

witchsong: wah, makasih reviewnya. Iya nih babang tachi suka ngajarin yang iya-iya ke adeknya. Kayaknya nikmat banget si narutonya #nanyanaruto. Iyaa ntar ada itakyuu kok, doain aja saya tidak malas ngetik #dibuang. Ini sudah saya update. Silakan dibaca, moga suka

dianarositadewi4: makasih sudah review. Ehm, saya baeri lemon gak ya, hehe.. sudah update chapt barunya, selamat membaca.

Kizu583: halo kizu-san. Makasih sudah review. Oalah iya, gak apa-apa kok. Santai aja . Alasan naruto ngeluarin air susu saya bahas di chapt ini, hehe.. Wah kalau yang orang kalifornia itu saya belum pernah dengar beritanya. makasih sudah berkenan ngasih infonya. Moga kamu suka chapt ini.

User31: hai, love you too. Author merasa bahagia ternyata fict ini bisa ngebantu ngilangin capek. Makasih udah review.

Dark de. ay: iya Sasuke OOC banget di sini. Moga suka sama ke-OOCannya. #lho. Sudah saya update kok, selamat membaca. Makasih sudah review.

Aiko Michisge : sudah saya lanjut, selamat membaca. Makasih sudah kasih review.

saphire always for onyx: iya saking polosnya dia, Sasuke gak bisa bedain mana yang ngebantuin sama mana yang nggak. Haha :D kamu boleh ikutan kok, silakan. Iya naruto pacaran sama fū, udah lama pula. Maunya kamu apanya hayo yang mau ditampung di dalam gelas? Makasih sudah mau meluk #pelukbalik. Makasih udah review.

aikhazuna117: halo juga , salam kenal aurantii di sini. makasih sudah bilang fict ini bagus. Jadi malu dipanggil senpai, hehe.. saya masih pemula kok. Ini sudah saya lanjut, silakan dibaca. Makasih reviewnya.

marsya: ini sudah saya lanjutkan, Sasukenya kenapa? #sokgaktahu. Iya Sasukenya saya buat OOC kok di sini. Moga suka. Mau ditambahin humornya ya? Iya, nanti saya tambahkan menyesuaikan alur ceritanya. Makasih sudah review.

mira: iya ini sudah dilanjut. Makasih reviewnya.

aokiaoiki95: salam kenal juga, aurantii di sini . Ah, iya sebenernya gak hanya progesteron aja yang mempengaruhi pertumbuhan kelenjar mammae/ kel. susu. Bukan bermaksud menggurui atau gimana saya hanya ingin meluruskan saja. Dari pelajaran reproduksi saya dulu ada tiga hormon yang ngaruh ke sekresi air susu yaitu progesteron, estrogen, dan prolaktin. Progesteron untuk menstimulasi pertumbuhan ukuran saluran dan alveoli (yang ada di kel. mammae), estrogen lebih guna buat menstimuli sistem saluran susu, sedangkan prolaktin mempengaruhi pertumbuhan alveoli (yang di kel. mammae) khususnya selama kehamilan. Yang terjadi di naruto lebih cenderung tingginya prolaktin, jadi dia bisa laktasi gitu, hehe..

Untuk bagian siklus ovulasi sebenarnya estrogen dan progesteron sama-sama berperan, hanya saja tinggi kadar mereka di tubuh tergantung fase apa yang terjadi. Estrogen akan tinggi di fase folikuler, jadi hormon ini akan membantu pendewasaan sel telur hingga akhirnya dilepas ovary saat ovulasi. Progesteron kadarnya tinggi di fase luteal, di fase ini terjadi penggemburan dinding rahim dan menciptakan suasana yang nyaman bagi sel telur untuk menempel. Akhir fase luteal ditandai turun drastisnya progesteron, gara-gara ini dinding rahim gak bisa pertahanin keadaannya, meluruh bersama sel telur jika tidak ada fertilisasi dan terjadi perdarahan. Peristiwa inilah yang disebut menstruasi.

Anda benar, estrogen memang lebih pengaruh ke perkembangan sekunder . Oh iya, karena ada kelainan hormon di pria juga ada hormon lain seperti prolaktin. Di dunia pernah ada beberapa kasus yang seperti. Jadi hal inilah yang menginspirasi saya buat fict ini. maafkan kalau penjelasan saya membingungkan. Soal tensinya sih iya maksud saya 120/80, hehe.. Kenapa saya ngetiknya jadi 120/100 ya? #ngeles.

Naruto jadi polos karena nganggep sasuke cuma niat bantu dia aja, kok. Walau sebenarnya dia nggak polos-polos banget. Di cerita ini saya buat sadis, lho. Ini sudah saya lanjut, semoga yang ini berkenan di hati. Makasih sudah review.

FujoDevilLZ10: iya karena suatu hal naruto punya kelainan bisa ngeluarin air susu. Ini sudah saya lanjut, selamat membaca. Makasih reviewnya.

Wulan384: makasih sudah review, iya ini sudah saya lanjut, selamat membaca. Masih bimbang nanti naruto saya buat hamil atau gak, hehe.. kelainan yang terjadi di naruto sebenarnya juga pernah terjadi di cowok dunia nyata. Adanya rahim di cowok itu pernah ada, di kasus true hermaphroditism, jadi punya organ reproduksi testis sama ovarium tapi organ eksternalnya (penis) terlihat ambigu. Meski demikian masih ada kemungkinan bagi mereka untuk menghasilkan keturunan dan masih jadi bahan perdebatan juga dari kedua kelamin yang ada manakah yang akan berfungsi untuk menghasilkan keturunan. Maaf terkesan muter-muter saya ngejawabnya, semoga puas.

Guest : iya benar. Pen name saya artinya memang jeruk manis dalam bahasa latin. Duh, saya ngefans sekali sama nama ini. makasih reviewnya.

ana. karina. 12576: wah ada lagi yang penasaran sama naruto. Iya di chapt ini akan ada penjelasannya, semoga suka. Makasih sudah review.

Terima kasih juga buat para pembaca yang sudah mau ngefav dan memfollow cerita ini. Serius, saya seneng sekali.

Disclaimer : Naruto dan semua chara yang terdapat di cerita ini adalah milik Masashi Kishimoto namun plot cerita murni karangan author. Author tidak mengambil keuntungan dari pihak manapun.

Genre : Romance, Sci/Fi

Warn : BxB, jika tidak menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan male relationship diharap tidak membaca fict ini, author tidak menanggung jika ada pembaca yang mual dan muntah karenanya. Bahasa tidak baku dan kadang sulit dimengerti. Banyak typo.

Rated : M (mengandung unsur dewasa, bagi pembaca di bawah umur disarankan tidak menirunya)

Pair : SN

Mohon maaf sebelumnya jika cerita ini kurang berkenan bagi kalangan tertentu. Untu itu saya sarankan untuk segera menekan tombol "kembali".

Selamat membaca, minna-san!

Sekilas chapt sebelumnya:

Naruto hanya bisa memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal. "Baiklah besok akan kujelaskan semuanya padamu. Sepertinya kakakku telah datang menjemput," Naruto mendapati mobil kakaknya sedang mendekat ke arahnya, "Sebaiknya kau segera pulang. Aku duluan. Ja ne!" seru Naruto meninggalkan Sasuke sendiri di depan gerbang sekolah mereka.

"Lagi-lagi kau membuatku penasaran, Senpai," ucap Sasuke meletakkan tangannya di atas dada dan merasakan jantungnya yang kini masih berdegup cepat. Sasuke membatin bahwa pertemuan dengan Naruto tidaklah baik karena lagi-lagi dapat membuatnya kambuh hipertensi. Galau sendiri dengan hipertensinya Sasuke memutuskan diri untuk pulang dengan kendaraan umum saja setelah mengetikkan pesan singkat pada kakaknya, Itachi, untuk tidak usah menjemputnya hari ini.

Title : Ini Rahasia (by aurantii13)

Chapter 3

Terdengar nada dering yang ia kenal Itachi melirik sekilas ke arah dashboard mobilnya. Ternyata ada pesan yang masuk ke ponselnya. Berada dalam kemudi membuatnya tidak bisa seenak hati mengoperasikan ponsel. Setelah memastikan jalan yang dilaluinya cukup lengang dengan cepat Itachi membuka dan membaca pesan yang tersebut. Mendapati bahwa yang menghubungi dirinya adalah Sasuke, ia hanya bisa menghela nafas. 'Bukankah Sasuke sudah tahu sore ini aku akan menjemputnya? Harusnya dia cukup diam saja dan menunggu tenang di depan sekolahnya. Bukan buang-buang pulsa seperti ini. sebaiknya dia harus berhema- Apa?' batin inner hemat Itachi terdiam saat membaca kabar bahwa Sasuke sedang ingin naik angkutan umum jadi anikinya* itu tidak perlu repot untuk menjemputnya. 'Bagus, sekarang bahan bakar pun jadi sia-sia,' tambahnya inner hematnya lagi. Entah memang hemat atau pelit tidaklah beda tipis.

"Dasar baka* otouto," gumam Itachi sambil mengambil arah putar balik untuk pulang ke rumah setelah sebelumnya membalas pesan Sasuke dengan mengetik kata OK.

Jarak antara rumah keluarga Uchiha dengan Konoha High School sekitar 30 menit dengan berkendara. Karena jarak Itachi dengan sekolah Sasuke saat ini adalah 15 menit jadi ia hanya perlu menempuh perjalanan selama 15 menit lagi. Itu artinya masih punya banyak waktu untuk melamun ria di jalan.

(flash back dimulai)

Masih berada dalam ruangan seluas 9 meter persegi, Itachi menoleh saat mendengar pintu ruangannya diketuk pelan. Itachi yang masih sibuk memasukkan nilai kuis para mahasiswanya pun menoleh. "Ya? Silakan masuk," serunya.

Di saat pintu terbuka menampakkan Kyuubi yang tampak ragu. 'Ternyata Namikaze,' batin Itachi.

"Apa ada yang perlu kau sampaikan, Namikaze-san?" tanya Itachi kalem begitu Kyuubi mengambil tempat duduk di hadapan mejanya.

"Permisi, Sensei. Saya ingin mengonfirmasi, apakah benari saya ditawari untuk bergabung di proyek Sensei?" tanya Kyuubi, tak yakin.

"Apa kau tak ingin, Namikaze-san? Oh, apa kau telah bergabung di proyek dosen lainnya?" pertanyaan Kyuubi dibalas oleh kalimat tanya Senseinya itu.

"Bukan begitu maksud saya, Sensei. Saya masih mahasiswa tingkat lima. Benarkah saya sudah diperbolehkan untuk bergabung di sebuah proyek?"

Mendengar alasan tersebut Itachi yang biasanya berwajah datar pun tersenyum kecil hingga menampakkan lesung pipi kecil di pipi kirinya. "Tentu saja boleh. Alasan saya menawarimu karena saya tahu dengan sikap optimis dan ambisiusmu proyek ini dapat berjalan lancar dan tepat waktu. Kau juga bisa menjadikan penelitian ini sebagai bahan skripsi," Terdiam sejenak Itachi menambahkan, "Lagi pula asisten lab yang biasanya membantuku sedang hamil tua."

Terdiam sejenak Kyuubi mencoba mencerna apa yang didengarnya. "Maksud Anda, Konan-san? Jadi saya boleh bergabung, Sensei? Jadi mulai kapan saya bisa membantu? Bolehkah saya tahu lebih detail mengenai proyek ini? Saya akan berusaha belajar dan membantu penelitian ini," tanya Kyuubi tampak antusias. 'Sensei akan lebih baik jika sering tersenyum. Aku heran apa yang telah menimpanya. Beliau jarang sekali menampilkan raut itu di depan mahasiswanya. Eh, aku dengar tunangan Sensei meninggal setahun yang lalu,' batin Kyuubi.

Itachi mengangguk untuk pertanyaan pertama dan kedua Kyuubi, "Proyek akan dimulai minggu depan. Tolong bekali dirimu mekanisme hormon yang terjadi mamalia. Saya ingin kau mencari jurnal referensi yang membahas prolaktin* dan pengaruhnya pada produksi kelenjar susu. Detail proyek akan saya kirim via email, jadi tuliskan alamat emailmu di sini," jelas Itachi sembari membuka buku agendanya dengan gerakan efisien.

Patuh, Kyuubi menuliskan alamat emailnya di atas kertas yang terlihat kusam itu. Merasa seperti ada yang memperhatikannya, Kyuubi mengangkat wajahnya. "Ada apa, Sensei?" tanyanya.

"Sebaiknya kau perlu mengajak seorang teman. Proyek ini sepertinya akan melelahkan jika hanya dikerjakan olehmu saja. Siapa yang akan kau rekomendasikan, Namikaze-san?" tanya Itachi.

Mendengar kalimat itu Kyuubi hanya bisa tersenyum lebar.

(flash back selesai)

"Semoga teman yang dipilih bocah itu adalah orang yang tepat," gumam Itachi.

Tak terasa New Mercy CLS milik Itachi sudah mencapai kediamannya. Mobil berwarna perak metalik itu perlahan memperlambat lajunya ketika memasuki garasi rumahnya yang dibuka segera oleh sekuriti rumahnya, Genma.

"Terima kasih, Genma," ucap Itachi yang dibalas oleh senyuman Genma. Dirinya semakin melangkah memasuki rumah dan mendapati suasana rumah yang sepi. Kediaman Uchiha adalah rumah bertipe tradisional dan masih banyak terdapat hiasan-hiasan benda antik dan kuno peninggalan keluarganya turun temurun. "Tadaima*" serunya.

Terdengar teriakan 'okaeri'* dari arah dapur.

'Pasti ibu sedang di dapur.' batin Itachi segera bergegas melangkah ke dapur.

"Nii-san*, sebaiknya kau segera mandi, Itachi. Makan malam dimulai sepuluh menit lagi," insting seorang ibu, meskipun Mikoto Uchiha dalam keadaan sibuk dan belum sempat menoleh ia tahu bahwa anak sulungnya itu telah memasuki area sakralnya, dapur. Nii-san adalah panggilan yang Mikoto berikan pada putra sulungnya berharap agar Sasuke dapat menirunya. Entah sejak kapan putra bungsunya itu memanggil Itachi dengan sebutan aniki.

Itachi mendekat ke arah sang ibu. "Baik, Bu," jawabnya patuh kemudian terdiam sebentar, "Apakah Sasuke sudah pulang?" tanya Itachi.

Mikoto pun berbalik. Wanita berkepala empat namun masih terlihat cantik itu kini menghadap Itachi. "Sasuke sudah kembali sejak lima menit yang lalu. Apa ada hal yang mengecewakanmu, hm? Jangan bilang kalau kau kesal tentang hal-hal yang berbau boros," kata Mikoto, sadar akan tabiat anaknya ini.

Tahu bahwa tebakan ibunya tepat sasaran Itachi mengelak, "Tidak ada, Bu." Saat melihat bola mata sang ibu yang mengerti segalanya Itachi pun mengaku, "Oke, Bu. Aku mengaku. Sasuke membatalkan janji begitu saja dan membuat aku membuat bahan bakar terbuang sia-sia karena dia baru mengabariku di saat aku sedang dalam setengah perjalanan menjemputnya."

"Apa lagi-lagi Itachi mengadu tentang pemborosan, Sayang?" suara maskulin menyela pembicaraan kedua ibu dan anak itu. Fugaku Uchiha, sang kepala keluarga baru saja tiba setelah seharian bekerja di kantor. "Tadaima," sapanya.

"Okaeri," jawab Mikoto dan Itachi hampir berbarengan. Senyuman hangat Mikoto dibalas dengan senyuman singkat Fugaku, walau begitu Mikoto tahu bahwa Fugaku adalah suami yang baik.

"Nah, Bu. Sepertinya aku harus mandi sekarang," kata Itachi meninggalkan kedua orang tuanya. Merasa tidak enak dengan atmosfir bunga-bunga di sekitarnya.

_ page break _

Acara makan malam keluarga Uchiha malam itu berlangsung seperti biasanya. Fugaku dan Itachi mengobrolkan berbagai hal yang membosankan, menurut Sasuke. Namun di saat ayahnya menanyakan proyek terbaru yang akan dijalankan Itachi membuat Sasuke menjadi tertarik. Dalam diam ia khidmat mendengarkan percakapan mereka. Sambil sesekali menikmati jus tomatnya.

"Aku senang saat mendapatkan beberapa mahasiswa yang tertarik pada proyekku kali ini. Aku yakin mereka pasti serius menjalaninya," ucap Itachi.

"Apa tema penelitianmu kali, ini?" tanya Fugaku.

"Tentang prolaktin, Yah. Aku ingin mengetahui dalam konsentrasi berapakah hormon itu harus ditambahkan untuk menghasilkan ASI yang terbaik untuk bayinya."

"Uhuk! Uhuk!" Sasuke tersedak minuman begitu mendengar kata ASI. Sesorean ini ia begitu sensitif dengan topik yang menyangkut susu-susuan.

Dengan sigap Mikoto menepuk bahu Sasuke, bermaksud menormalkan jalan udara anak bungsunya itu. Di saat Sasuke tenang. Itachi kembali bersuara, "Tidak perlu tergesa-gesa, Otouto."

"Aniki, menurutmu apa seorang pria dapat menghasilkan air susu?" tanya Sasuke tiba-tiba.

Pertanyaan spontan Sasuke membuat suasana meja makan menjadi hening sejenak.

"Ha, ha, haha! Pertanyaanmu lucu sekali Sasuke," kata Fugaku sambil tertawa.

"Itu bukan pertanyaan konyol, Ayah. Karena aku pernah melihatnya langsung," satu pernyataan dari Sasuke membuat penghuni meja yang lainnya menjadi terdiam. Tampak ayah dan kakaknya memandang heran, bahkan ibunya pun sampai menghentikan aktivitas makannya sesaat. Sadar bahwa situasi saat ini sedang tidak kondusif, Sasuke berpikir keras untuk mencairkan suasana.

"Tapi bohong..." tambah Sasuke meringis. "Ha ha ha!" mencoba tertawa tapi garing.

Mereka semua masih memandang Sasuke layaknya alien nyasar. Tidak biasanya bungsu Uchiha ini bertindak OOC di depan mereka.

"Kukira ucapanmu betul terjadi, nak," aku Fugaku setelah bangkit dari kagetnya.

"Kalau dipikir-pikir tidak mungkin seorang pria mampu menghasilkan ASI. Benar kan, Yah?" kata Mikoto pada suaminya yang dijawab oleh anggukan.

Itachi masih terdiam.

Sasuke merasa nista telah melemparkan guyonan segaring itu. Merasa malu sendiri ia undur diri dari makan malam itu. "Terima kasih, makan malamnya. Aku akan mengerjakan PRku," pamit Sasuke menuju kamarnya.

Gerak gerik aneh Sasuke tidak disadari oleh semua orang, kecuali Itachi. Itachi mengamati adiknya setelah ia melontarkan pertanyaan yang tidak terduga itu. Jujur dia mengakui bahwa pertanyaan tiba-tiba itu membuatnya berpikir panjang. Namun sebelum ia sempat menjawabnya, Sasuke mengaku itu hanyalah lawakannya saja. Tapi tidak demikian dengan Itachi yang menilai lawakan itu adalah bukanlah isapan jempol belaka. 'Pasti ada yang sedang disembunyikan olehnya,' pikir Itachi.

_ page break _

Menatap lama ponselnya, Sasuke terdiam. Bukannya mengerjakan PR seperti apa yang dikatakannya di meja makan, setelah memasuki kamar Sasuke langsung meraih ponselnya. Sasuke termasuk anak yang rajin jadi dia selalu mengerjakan Prnya di sela-sela jam pergantian pelajaran. Sasuke melihat banyaknya pesan masuk di ponselnya yang sebagian besar berasal dari teman-teman gadisnya, Sasuke nampak terlihat tidak senang. 'Kenapa tidak ada pesan dari, Dobe Senpai?' pikirnya melupakan fakta bahwa Naruto tidak memiliki nomer kontaknya karena pagi tadi hanya terjadi penyimpanan nomor kontak Naruto di ponselnya tidak sebaliknya.

Memutuskan tidak membalas semua pesan di ponselnya Sasuke berbaring di atas kasurnya. Memandang ke dinding-dindingnya yang terdapat beberapa poster wanita cantik dengan posisi "menarik", hadiah dari Itachi beberapa tahun yang lalu. Begitu Itachi tahu bahwa Sasuke mimpi basah untuk pertama kalinya, Itachi langsung memberikan poster-poster itu kepadanya. Katanya untuk membantu agar Sasuke cepat dewasa, kakak yang sableng.

Selama beberapa menit Sasuke mengamati pose Miki, Yukino, dan Mae di dindingnya. Bukan tanpa alasan dirinya menyebut poster itu dengan nama-nama. 'Terima kasihku untuk aniki tersayang yang sempat-sempatnya memberikan nama tiap poster itu' batinnya sarkastik.

Pasca kejadian di toilet Sasuke mati-matian mendinginkan hasratnya. Tak dapat dipungkiri apa yang baru saja dilakukannya dengan Naruto membuatnya "keras". Sendirinya juga heran mengapa dia tidak merasa jijik jika benda itu bisa tegang karena Naruto. Karena dia adalah remaja lelaki yang sehat pasti wajar jika harus ereksi dengan aktivitas yang "menjanjikan" itu, begitu pikirnya.

Untuk mengatasinya otak kreatifnya pun mencoba mengahayalkan Rock Lee dan Chouji Akimichi menari perut dengan berbikini seksi yang ternyata ampuh untuk meloyokan juniornya.

Semenjak kejadian itu otak Sasuke dipenuhi oleh berbagai pertanyaan tentang apa yang terjadi pada senpainya. Hanya saja Sasuke menyayangkan bahwa dirinya selalu terkena gejala hipertensi jika dia teringat atau berdekatan dengan Naruto. 'Apa aku sebaiknya menjauhi senpai? Tidak bisa, aku tetap merasa khawatir padanya, karena sepertinya hanya aku yang mengetahui rahasianya itu,' batin Sasuke.

Capek sendiri Sasuke memutuskan untuk bermimpi yang indah-indah bersama Miki, Yukino, dan Mae. Sambil tersenyum Sasuke pulas dalam tidurnya.

_ page break _

Sasuke tidak menyangka bahwa sekarang ini ia memiliki kesempatan kembali untuk memangku Naruto, senpai yang tiga tahun lebih tua darinya. Suasana ruang kelas di sore hari semakin menambah suasana romantis. Saat itu mereka, tepatnya Sasuke sedang menduduki bangku paling belakang di dekat jendela dengan Naruto yang berada di pangkuannya.

Begitu sadar mereka berdua sudah berada dalam busana seperti mereka lahir atau dengan kata lain mereka saat ini sedang telanjang dan benda kebanggaan Sasuke tertanam sempurna di dalam tubuh senpainya itu. Merasakan kenikmatan yang luar biasa dari ketatnya lubang hangat itu. Sasuke mengendus perlahan tengkuk Naruto, dapat dirasakannya aroma memikat yang menguar dari tubuh Naruto.

Hidung Sasuke menelusuri lekuk wajah Naruto dari dahi, pelipis, mata, hidung, hingga rahang Naruto. Kemudian mulut Sasuke sibuk mencari benda yang dapat memuaskan dahaganya. Dengan mata tertutup dan dibekali insting layaknya bayi baru lahir* mampu membuat mulutnya mengetahui posisi puting Naruto. Dikecup dan dijilatnya sebentar puting kecoklatan itu sebelum meraup dan menghisapnya kuat-kuat. Tindakan Sasuke menyebabkan Naruto mendesah hebat.

Desahan demi desahan Naruto terus bergema di saat Sasuke memanjakan titik sensitifnya, disaat mulut Sasuke mencumbu dada kirinya, tangan kiri Sasuke sibuk memainkan dada kanannya. Tak lupa genjotan pinggul Sasuke membantu keluar-masuk kejantanananya seirama dengan kocokan tangan kanan Sasuke pada junior Naruto.

"Ha- hhah- Uch- Uchiha, aku sudah tak tahan lagi," ucap Naruto kepayahan.

"Panggil nama kecilku, Naruto," bisik Sasuke menyuruh senpainya di saat dia sendiri akan mencapai puncaknya.

"Sa- Sasuke! Sasuke, Sasuke, Sasuke," sebut Naruto berulang kali layaknya mantra ajaib.

Tok, tok, tok, tok. Ketukan pintu terdengar.

Mendengar ketukan itu Naruto pun menoleh ke arah pintu kelas, "Sas, ada yang mengetuk pintunya," ucap Naruto dengan nada kelelahan.

"Abaikan saja," perintah Sasuke, acuh.

"Tapi Sas; Hhaa!" ucapan Naruto terputus saat Sasuke mengenai titik nikmatnya sekuat tenaga.

Tok, tok, tok, tok.

"Sas, pintunya!" seru Naruto yang lagi-lagi tidak dihiraukan oleh Sasuke. Tidak ambil pusing, Naruto kini hanya fokus akan kenikmatan yang kini dirasakannya, "Ssh, aku. Aku tak kuat lagi. Aku ingin keluar sekarang," ucap Naruto sambil mencengkram kuat bahu Sasuke.

"Tahan. Ayo kita lakukan bersama, Senpai" kata Sasuke meyakinkan diri yang sebenarnya kasihan menatap Naruto yang terlihat kewalahan.

Naruto mengangguk, "Bersama. Bersama. Ngghh!" Naruto memekik keras. Di saat ke sekian kalinya kejantanan Sasuke mengenai titik termanisnya pertahanan Naruto terlepas. Pandangannya terlihat putih mengabur setelah akhirnya dapat merasakan kenikmatan pada puncak langit ke- tujuh.

Erangan yang dibarengi dengan keluarnya cairan yang mengandung benih Naruto di tangan Sasuke pun secara otomatis memperketat lubang yang kini dihuni oleh junior dari Sasuke. Merasakan pijatan lembut namun panas pada kejantanan Sasuke mampu mengantarkannya dalam puncak kenikmatan. Memberikan sodokan terakhir, akhirnya Sasuke menanamkan benihnya jauh di dalam tubuh Naruto.

Tok, tok, tok, tok. Tok, tok, tok, tok.

Di saat belum sempat menikmati sisa-sisa kenikmatannya, Sasuke merasa terganggu dengan mendengar ketukan-ketukan pintu yang kian intensif. Dengan kesal ia menoleh ke arah pintu dan mendapati pintu kelas yang menyerupai pintu kamarnya. 'Huh, pintu kamar?' batinnya.

Tok, tok, tok, tok.

"Sasuke, apa kau sudah bangun? Kami semua menunggumu sarapan!" panggil suara yang menyerupai Itachi. 'Atau memang itu suara aniki?' batin Sasuke lagi. Memperhatikan sekelilingnya Sasuke mendapati bahwa dia sekarang sedang berada di kamarnya. Bahkan tiga poster favoritnya terlihat tertempel di dinding itu.

"Tadi mimpi?" Sasuke heran. Melihat sekilas ke arah boxernya yang basah dan terasa lengket.

Tok, tok, tok, tok.

"Otouto, apa kau mendengar suaraku?" seru Itachi.

Merasa harus menjawabnya Sasuke menyahut, "Ya! Aku sudah bangun, Aniki,"

"Segera bersiap. Kami semua menunggumu untuk sarapan," kata Itachi, masih di balik pintu.

Menyadari bahwa saat ini ia tidak bisa bersiap dalam sepuluh menit, Sasuke berkata, "Aku.. aku sedang sedikit pusing, Aniki. Bisakah kalian tidak usah menungguku? Nanti, aku akan menyusul."

Terdiam sejenak, "Oke, sebaiknya kau menenangkan dirimu dulu. Jika masih merasa pusing sebaiknya kau tidak usah sekolah hari ini," perintah Itachi.

"Hn," jawab Sasuke singkat.

Setelah mendapati kakaknya sudah tidak ada di depan pintu kamarnya, Sasuke mencoba membereskan kekacauan yang ditimbulkan olehnya.

_ page break _

Mood Sasuke hari ini sedang tidak bagus. 'Bagaimana bisa bagus jika hari ini aku bermimpi mesum dengan seniorku? Cowok pula! Dan yang lebih mengesalkan lagi pagi ini nampaknya Senpai berusaha menjauhiku,' rutuk Sasuke dalam hati.'Tapi sepertinya dia sedang sakit. Bukannya tidak wajar jika memakai pakaian setebal itu di cuaca cerah begini?' imbuhnya.

Beruntung, Sasuke menempati bangku di dekat jendela. Menempelkan sebelah pipinya pada bangku belajarnya itu Sasuke mencoba menikmati pemandangan yang ada di balik jendela. Sasuke yang tidak ada minat mengikuti kelas Bahasa di pagi ini.

"Apa kau sedang tidak enak badan, Uchiha?" melihat ketidakantusiasan Sasuke, Kurenai mencoba memanggil salah satu murid tertampan di Konoha High School tersebut. Karenanya semua mata kini tertuju pada Uchiha muda tersebut.

Sasuke mengangkat wajahnya dari bangku dan mencoba memandang lurus wajah senseinya itu.

"Wajahmu terlihat pucat, Uchiha. Sebaiknya kau ke ruang kesehatan sekarang juga," kata Kurenai.

Merasa itu adalah opsional yang tepat Sasuke berdiri, membungkukkan tubuhnya bermaksud berterima kasih sekaligus izin meninggalkan kelas pada senseinya. Mengacuhkan tatapan heran teman sekelasnya, Sasuke berjalan cepat menuju pintu kelasnya.

"Sensei, sepertinya Sasuke perlu diantar ke ruang kesehatan. Saya bersedia membantunya," tawar Sakura, teman sekelas Sasuke.

Mendengar tawaran tersebut dengan sekejab kelas menjadi ramai dengan teriakan para gadis yang bersedia membantu Uchiha. Melihat hal itu Kurenai hanya bisa menghela nafas lelah. "Dasar. Uchiha dan pesonanya," batin Kurenai.

_ page break _

Keberadaan Naruto di ruang kesehatan ini merupakan hasil perbuatan Kyuubi yang memaksanya untuk beristirahat. Kyuubi yang khawatir dengan keadaan Naruto setelah melihatnya menggunakan tumpukan pakaian tebal. Tidak berhasil membuat Naruto untuk periksa ke dokter atau beristirahat di rumah akhirnya membuat kakaknya itu menghubungi perawat sekolah untuk merawatnya setibanya mereka di Konoha High School.

'Andai saja Kyuu-nii tahu yang sebenarnya pasti dia akan histeris' batinnya miris sambil memandang pakaian tebal yang dikenakannya.

Suasana ruang kesehatan saat ini sedang sepi. Wajar saja karena sekarang adalah jam pertama yang artinya akan jarang ada siswa sakit atau siswa yang sedang membolos dengan alasan sakit. Naruto hafal dengan hal ini karena dulu dia pernah melakukannya sekali, dua kali.

Shizune, sang perawat sekolah, sedang tidak ada di tempat. Naruto sendiri yang bersikeras meyakinkan Shizune untuk meninggalkannya sendiri karena perawat itu sendiri memang sedang ada perlu untuk membelikan obat-obatan dan sebagainya yang habis stoknya saat itu.

Tidak ada kegiatan, Naruto hanya bisa berbaring malas di ranjang sempit itu. Di saat baru saja ia menutup mata, mencoba tidur, masuklah seseorang yang paling sedang tidak ingin ditemui hari ini.

Dengan raut wajah datar Sasuke tidak menunjukkan wajah terkejutnya saat mendapati seseorang yang hinggap di pikirannya seharian ini ternyata ada di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan di sini, Uchiha? Apa kau sedang mengikutiku lagi?" tanya Naruto dengan muka ketus setelah bangun dari posisi berbaringnya.

"Apa kau sedang sakit, Senpai?" sekali lagi Sasuke memastikan dari penampilannya Naruto. Di samping pakaian tebal tak lazim yang digunakannya saat ini dari air mukanya Naruto terlihat sehat-sehat saja.

"Apa kau terbiasa untuk menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?" geram Naruto memasang posisi siaga saat Sasuke berjalan mendekat ke arahnya.

Kaget karena tiba-tiba mendapat amukan tidak jelas dari Naruto, Sasuke terdiam sebentar. Setelah mengambil duduk di dekat ranjang yang ditempati Naruto. "Tidak, Senpai. Aku tidak berusaha mengikutimu. Kenapa kau bisa percaya diri berpikir seperti eh, Senpai?" godanya, ingin menjahili Naruto.

Melihat Naruto yang terdiam ia pun menjawab pertanyaan yang lain, "Aku disarankah oleh Kurenai-sensei untuk beristrahat di sini."

"Kurenai-sensei yang mengajar Bahasa itu?" tanya Naruto tak yakin.

Di imajinernya ingin sekali Sasuke memutar bola matanya. Untuk hari ini ia akan berusaha tidak kehilangan sikap tenangnya agar tidak OOC seperti kemarin. Tidak menyangka senpai bisa se-dobe ini, "Benar, Kurenai-sensei yang itu. Apa kau masih menganggap aku menguntitmu Dobe Senpai?" jelas Sasuke meninggikan suaranya di akhir ucapannya, sedikit kesal.

"Oh. Maaf," Naruto tertunduk menyadari kesalahannya melupakan fakta bahwa baru saja ia dipanggil dobe oleh kouhainya.

'Eh kenapa aku harus meminta maaf? Bukankah ini semua salah dia?' Naruto membatin kesal saat matanya memandang pakaian tebalnya itu.

Di saat Naruto akan membuka mulutnya, suara Sasuke menginterupsi. "Kau telah berjanji akan menceritakannya padaku."

"Apa?" tanya Naruto masih belum mengerti arah pembicaraan ini.

Sasuke menjawabnya dengan mengedikkan dagunya ke arah dada Naruto. Dikode seperti itu membuat Naruto akhirnya paham dan ingat.

Tercenung sejenak, "Bagaimana lelaki mampu mengalaminya?" tanya Sasuke. 'Senpai, kau membuatku makin penasaran padamu' batin Sasuke.

Mencoba tenang Naruto masih menimbang-nimbang sendiri apakah penyakit yang selama ini dirahasiakannya pada bocah mesum di hadapannya. 'Walau mesum sepertinya kemarin dia benar-benar ikhlas membantuku,' batin Naruto memutuskan untuk menceritakannya pada Sasuke.

"Oke, kalau kau ingin sekali mengetahuinya," putus Naruto. Inner Sasuke melompat girang dibuatnya.

"Tapi, sebaiknya kau diam saja dan dengarkanlah baik-baik. Aku hanya akan mengatakannya sekali saja," lanjut Naruto di saat Sasuke mencoba mengambil duduk senyaman mungin karena sepertinya cerita yang akan disampaikan Naruto akan cukup panjang dan memerlukan konsentrasi yang tinggi.

Sesaat sebelum bercerita mata Naruto sedikit menerawang menatap ke depan namun bukan Sasuke, seakan ingin mengingat apa saja hal yang diketahui olehnya, "Aku terlahir dari ibu yang menderita hipertensi. Mengingat buruknya kondisi ibu saat kematian kakek membuat kesehatanya menjadi tidak stabil. Sehingga ibu perlu untuk mengonsumsi obat-obatan untuk menekan tekanan darah tinggi. Ibu mengonsumsi methyldopa*.

Kau pasti heran apa hubungannya penyakit ibu dengan penyakitku, kan? Meninggalnya kakek bertepatan dengan ibu mengandungku. Zat yang terdapat dari obat itu mampu menembus plasenta dimana aku tinggal d rahim ibuku. Kejadian itu berlangsung terus menerus sehingga terjadi akumulasi dalam konsentrasi tinggi di dalam darahku. Namun sepertinya dampak obat itu tidak disadari oleh kedua orang tuaku sampai tiba akhirnya aku dilahirkan ke dunia ini," Naruto menjeda penjelasannya. Naruto menatap Sasuke sekilas, menantikan tanya interupsi darinya. Melihat tanda-tanda bahwa kouhainya masih anteng mendengarkan, dia pun melanjutkan penjelasannya.

"Meski dalam kondisi fisik yang nampak sehat ada hal yang berbeda di diriku. Dari putingku ini mengeluarkan cairan keputihan dan rasanya pun manis. Keluargaku cemas akan hal ini tapi dokter menenangkan mereka bahwa ini adalah hal yang wajar terjadi pada bayi yang baru lahir. Kata dokter hal ini terjadi akibat gangguan keseimbangan hormon kelamin. Biasanya akan hilang dengan sendirinya ketika bayi itu semakin tumbuh besar. Namun tidak seperti dugaan dokter, sampai beberapa tahun berikutnya keadaanku tak kunjung sembuh. Saking kuatnya pengaruh obat, dokter yang merawatku mengatakan bahwa kondisiku akan terus permanen seperti ini.

Mereka bilang penyakit ini namanya adalah Galactorrhea. Penyakit aneh ini dapat menyebabkanku memproduksi air susu di luar kendaliku. Sepertinya karena ada tumor di daerah dadaku, tepatnya di glandula pituitary, letaknya di sini," penjelasan Naruto terhenti untuk sekedar menunjukkan letak tumor yang dimaksud. Sasuke menatap dada yang ditunjuk Naruto dengan tatapan penuh arti.

"Tumor prolactinoma* ini yang membuat dadaku kadang membesar atau mengecil tergantung dari jumlah air susu yang ada di sana. Pada saat tertentu aku pasti merasakan desakan air susu yang ingin keluar dalam jumlah banyak, seperti yang terjadi kemarin. Karena terburu aku sampai terlupa untuk mengunci toilet dan terpergoki olehmu. Bagaimana Sasuke, apakah masih ada hal yang perlu kejelaskan lagi?" mengakhiri penjelasannya, naruto bertanya pada Sasuke yamg dijawab oleh keheningan.

"Apakah.. apakah penyakitmu itu tidak ada obatnya, Senpai?" tanya Sasuke kemudian.

"Tentu saja ada obatnya, Uchiha," Naruto merogoh saku celananya kemudian diangkatnya sebuah botol kaca yang berisi tablet-tablet kecil berwarna kuning, bromocriptine*. "Obat ini hanya mampu menyembuhkan sementara saja. Jika aku lupa meminumnya maka air susuku ini akan semakin deras keluarnya."

Mendengar kalimat 'akan semakin deras keluarnya' entah mengapa membuat pipi Sasuke memanas. "Akan keluar sebanyak yang kemarin?" tanya Sasuke memastikan sesuatu.

"Iya, akan sebanyak yang kemarin," Naruto menjawabnya sambil melihat ruangan di sekitarnya santai. Ketika pandangannya beralih ke Sasuke lagi. "Hei, hei apa yang sedang kau pikirkan bocah mesum? Apa kau memikirkan tindakan pelecehan yang kau lakukan kemarin? Segitu berkesannyakah kau? Sampai wajahmu kini memerah," ujar Naruto, percaya diri sekali dengan asumsinya.

Mendengar ucapan Naruto membuat Sasuke berusaha mengembalikan komposisi wajahnya kembali datar. Agak malu, sedikitnya ia mengakui bahwa sekilas ia mengiyakan apa yang dikatakan oleh Naruto. "Kenapa Senpai percaya diri sekali aku memikirkan hal itu? Jangan-jangan itu kau sendiri," balas Sasuke minta dihajar, lain di mulut lain di hati.

Pernyataan Sasuke membuat Naruto kesal dan tanpa sadar tangannya kini memukul puncak kepala.

Plak! Suara benturan tangan Naruto dengan puncak kepala Sasuke terdengar nyaring.

"Apa setiap berinteraksi denganmu harus penuh dengan kekerasan, Senpai?" aku Sasuke memegang puncak kepalanya, nyeri.

Merasa itu adalah pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab olehnya. Naruto akui sikap sadisnya ini memang bawaan sejak lahir. Jika seseorang itu menyebalkan dan pantas dipukul maka tak segan-segan ia akan melakukannya. 'Salah sendiri membuatku kesal,' batin Naruto membela diri.

"Apa hal ini yang membuat kekasihmu berkencan dengan pria lain?" kesal tak mendapatkan tanggapan spontan Sasuke mengeluarkan kalimat ini.

Sesaat emosi Naruto kembali memuncak. Atas dasar apa Sasuke berani mengatai Fū? Naruto bisa terima jika Sasuke menyinggung dirinya namun lain halnya jikat tentang Fū. Gadis itu tidak perlu dikaitkan pada pembicaraan ini.

Melihat Naruto bangkit dari duduknya Sasuke telah bersiap dengan apa yang terjadi. Dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Maka kali ini saat tangan kanan Naruto bergerak ke arahnya dengan sigap ia memegang pergelangan tangannya, menghentikan pergerakan Naruto.

"Maaf, Senpai," sesal Sasuke begitu melihat wajah kemerahan Naruto, terlihat kesal bercampur sedih. Sasuke tak tega melihat Naruto seperti ini. Masih dalam kondisi memegang tangan Naruto, Sasuke mencoba mengganti topik lain. "Bagaimana keadaanmu sekarang, Senpai? Sepertinya kau tidak sedang demam," putusnya begitu merasakan suhu tubuh melalui telapak tangannya yang melingkari pergelangan tangan Naruto.

Naruto yang masih kesal karena Sasuke terus menguji kesabarannya hanya terdiam. Diamnya Naruto membuat Sasuke tak sadar meletakkan tangannya yang bebas ke arah dada Naruto.

Merasa aneh, Naruto berontak dengan keras. Gerakan menarik berusaha melepas tangan malangnya membuat dirinya terjungkal ke belakang, ke arah ranjang sempit itu. Gerakan tersebut secara otomatis membuat Sasuke yang tangannya masih erat memegang pergelangan Naruto terjungkal pula dan tertarik ke depan menimpa tubuh Naruto.

Naruto yang menyadari posisi mereka kini semakin aneh karena tubuhnya kini dalam posisi setengah telentang di badan ranjang diantara matras dan dada Sasuke. Tangan kiri Sasuke masih menggenggam pergelangan tangannya sedangkan tangan kananya masih menempel di dada gembul Naruto. Kepala Sasuke tertanam di sisi leher Naruto dengan ujung hidung menyentuh tengkuknya.

Pipinya bersemu Naruto, malu dengan apa yang sedang terjadi. "Menyingkirlah dari atasku, Uchiha," pintanya.

Merasa dejavu dengan keadaan ini Sasuke mencoba menerka kejadian yang sedang terjadi. Di hadapaannya kini terdapat kepala bersurai pirang dengan leher yang jenjang. Dapat dia rasakan aroma yang menguar dari arah tengkuk. Masih segar diingatannya tentang mimpi semalam di saat ia mengendus aroma memikat yang keluar dari tengkuk itu. Semakin berani ia mencoba mendekatkan hidungnya ke pusat aroma. Indra penciumannya menangkap harum jeruk yang manis. Tidak disadari olehnya rasa itu membuat tubuhnya menghangat.

"Menyingkirlah dari atasku, Uchiha," suara serak Naruto mengangkat alam bawah sadarnya ke arah permukaan. Mendengarnya ia mencoba bangun dan mendapati manik safir yang menatap ke arahnya. Entah kenapa suara serak Naruto membuat sesuatu yang lain dari diri Sasuke bangkit. Perlahan debaran jantung itu terasa kembali. 'Gawat! Hipertensiku kumat,' seru Sasuke sableng.

Di saat Sasuke bangkit ia mencoba melepaskan tangannya dari tubuh Naruto baik yang berada di pergelangan tangan dan dadanya. Samar-samar tangan kanan Sasuke merasakan sesuatu yang basah dari dada Naruto. Dengan cepat manik obsidiannya melihat ke arah dada Naruto sekarang ini mendapatinya sedang basah. Seperti ada sesuatu merembes ke luar dari pakaian Naruto.

Bingung dengan Sasuke yang tidak segera menghindar, Naruto mencoba mencari apa yang sedang menyebabkan terdiamnya Sasuke. Dahi Naruto berkerut dalam-dalam.

"Basah," gumam Sasuke yang mendapat dengusan, "Huh?" dari Naruto.

Meraba bukit di dada Naruto, tangan Sasuke semakin mendapati bahwa pakaian di daerah sekitar dada semakin basah. Tanpa mendapat persetujuan dari Naruto, Sasuke mencoba mengangkat pakaian Naruto lapis demi lapis hingga permukaan kulit di dadanya terekspos jelas di matanya.

Pandangan Sasuke tertuju pada perban putih yang familiar olehnya sejak kemarin. Merasa ingin, Sasuke memegang perban yang ternyata kini basah dan lengket itu.

"Tunggu! Apa yang sedang kau lakukan Sasuke?" sela Naruto di saat Sasuke sedang mencoba melepas perban itu. Namun usahanya sia-sia karena perban di dada kiri Naruto kini telah terbuka, menampilkan gundukan di dada yang Sasuke rasa ukurannya tidak sebesar kemarin.

'Apa hanya perasaanku saja dada Senpai kini semakin montok?' inner Sasuke menanyai dirinya sendiri.

Melihat diamnya Sasuke membuka celah bagi Naruto untuk mendorongnya untuk menyingkir. "Puas dengan apa yang kau lihat? Ini semua terjadi akibat perbuatanmu, Uchiha!" tuding Naruto.

Salah satu alis Sasuke meninggi, "Salahku? Kenapa bisa salahku?"

"Stimulasi gila-gilaanmu kemarin semakin menstimulasi keluarnya air susuku! Sepertinya bantuanmu kemarin akan semakin menyusahkanku.

"Jadi yang aku perbuat kemarin semakin membuat air susumu meningkat," simpul Sasuke.

Memalingkan wajahnya, Naruto bercerita, "Pagi ini setelah aku bangun tidur aku mendapati dadaku kini semakin sesak. Begitu kudapati dadaku membengkak dan air susu ini terus mendesak keluar. Agar keluargaku tidak curiga aku mengenakan pakaian ini untuk menyembunyikannya. Aku tidak ingin merepotkan mereka terus-menerus."

Berpikir lama muncul ide dari Sasuke. "Apakah usahamu mengeluarkan susu dengan tanganmu pernah membuat dadamu bengkak sampai seperti ini?" tanya Sasuke.

Naruto mencoba mengingatnya sebentar. "Kurasa tidak," jawabnya.

"Menurutku yang harus kita lakukan sekarang adalah mengeluarkannya susu itu segera. Sebaiknya dengan pencetan tangan saja. Jika aku menyedot dengan mulut pasti susumu akan lebih terangsang," jelas Sasuke gamblang.

Mendengar pendapat itu membuat Naruto sedikit setuju, namun setelah diamati sekitarnya ternyata di dalam ruang ini tidak ada wastafel ataupun toilet. "Itu mustahil dilakukan jika di ruang ini. Tidak ada wastafel atau toilet, Uchiha," kata Naruto.

Sasuke terdiam lagi, mengamati benda di sekitarnya Sasuke mendapati sebuah tas ransel berwarna orange. "Aku yakin pasti tas itu milikmu, Senpai," tunjuk Sasuke. Begitu mendapat anggukan dari Naruto, ia bertanya lagi, "Apa kau membawa botol minum?" yang dijawab oleh anggukan lagi.

Tanpa seijin Naruto, Sasuke menggapai tas itu dan mengambil botol minumnya. Sasuke mengamati isi dalam botol yang ternyata masih setengah terisi air. Tak ingin membuang waktu lagi Sasuke menengguk habis air yang berada dalam botol alumunium itu.

Naruto diam. Terbiasa dengan tingkah tidak sopan Sasuke yang selalu tiba-tiba berbuat tanpa seizinnya terlebih dahulu.

Setelah menghabiskan air dari dalam botol itu Sasuke kembali mendekati Naruto dan menyerahkan botol kosong itu pada Naruto. "Bagaimana botol ini bisa membantuku?" tanyanya setelah botol itu sudah di genggamannya.

Miris, Sasuke merasa kasihan pada dirinya sendiri yang bisa-bisanya tertarik pada Senpai Dobe itu. Mencoba sabar ia menjawab, " Tentu saja untuk menampung air susumu, Senpai. Apa kau mau mereka berceceran di ruangan ini?"

Tersenyum cerah Naruto mengangguk paham. "Baiklah akan ku keluarkan di sini saja," seru Naruto.

"Apa kali ini perlu kubantu?" tawar Sasuke.

Mendengar tawaran itu Naruto menggeleng keras, "Bantuanmu kemarin membawa petaka bagiku. Aku mohon sebaiknya kau diam saja atau kalau kau mau kau boleh meninggal ruang ini."

"Saat genting seperti ini kau perlu dijaga kan, Senpai? Pasti kau tidak mau ada orang lain yang memergokimu lagi," ucap Sasuke. Naruto membenarkan ucapannya. Tidak berpendapat lagi, Naruto membiarkan Sasuke untuk duduk di dekat ranjang di saat ia sibuk memencet putingnya dengan tangan.

Agar tidak berpikiran macam-macam Sasuke hanya bisa memandang arah lain selain seniornya itu. Namun tak lama kemudian ia menoleh saat dipanggil oleh Naruto. "Umm, Sasuke bolehkah aku meminta bantuanmu lagi?"

"Bisa kau carikan aku wadah yang lainnya? Air susu di dada kananku juga mendesak ingin keluar. Kalau bisa aku ingin menampungnya juga.," sambung Naruto.

Dengan segera Sasuke mencarikan benda yang diinginkan Naruto. Ditolehkan waajhnya mendapati Naruto sedang kepayahan dalam memerah susunya seperti kemarin, membuat ia jadi panik.

Dalam keadaan panik ia mencari benda di sekelilingnya yang dapat dia pakai. "Senpai, aku pikir kau bisa menampungnya di gelas ini," saran Sasuke. Gelas yang didapatkannya dari kabinet obat-obatan itu langsung saja diserahkan pada Naruto. Setelah memastikan pintu ruangan itu terkunci.

Dilihatnya kedua tangan Naruto sedang sibuk, tangan kirinya bertugas memencet puting. Sedangkan tangan kirinya memposisikan botol di bawah dadanya, bermaksud menampung cairan itu di sana.

"Bagaimana kau bisa menampung susu dari dada kananmu jika kedua tanganmu sedang sibuk, Senpai?" tanya Sasuke.

Naruto menjawabnya dengan cengiran, "Eh, sepertinya aku memerlukan bantuanmu di dada kananku ini, Uchiha."

Menghela nafas, Sasuke menuruti permintaan Naruto. Dengan membawa gelas Sasuke berjalan mendekati Naruto. Ikut terduduk di ranjang sempit itu Sasuke memposisikan dirinya tepat di belakang Naruto. Kemudian ia melingkarkan tangannya ke bagian dada Naruto, seperti posisi memeluk dari arah belakang.

"Ehh, apa kau harus melakukannya dalam posisi intim seperti ini?" tanya Naruto.

Membuka plester di dada kanan Naruto, Sasuke menjawab singkat, "Diam dan turuti saja."

Naruto menurut di saat tangan alabaster Sasuke mulai memenceti putingnya kanan. Setetes demi setetes air susu tertampung gelas yang diletakkan di bawahnya. Sasuke meletakkan dagu lancipnya di pundak kanan Naruto.

"Kita lakukan ini bersama, Senpai," merasa dejavu lagi entah kenapa Sasuke menjadi teringat dialog dari mimpinya basahnya semalam. Tersenyum dalam hati saat mendapati anggukan dari Naruto.

Debaran jantung Sasuke semakin meningkat sejak Naruto kembali meminta bantuannya. Ia yakin cepat atau lambat gejala hipertensinya itu akan berhenti tidak lama lagi. Namun kenyataannya kini debaran jantung itu semakin meningkat tak terkendali. Meski demikian Sasuke tidak marah, entah kenapa justru sekarang dia merasa senang memeluk Naruto. 'Lupakan hipertensi itu. Aku rasa tidak keberatan untuk mati sekarang, setidaknya aku selama debaranku ini pada Dobe Senpai,' batin Sasuke pasrah. Sasuke tidak peduli apakah Naruto merasakan debaran jantungnya ini atau tidak. Kini ia hanya bisa pasrah dengan keadaan.

Deg, deg, deg, deg-

Naruto merasakan degupan jantung yang bukan berasal dari dirinya. Jantung berdegup cepat itu sepertinya milik Sasuke. Wajah Naruto memerah malu karena baru kali ini dia dengan sadar melakukan kontak tubuh intim dengan orang lain sampai seperti ini. 'Lupakan kejadian yang kemarin! Yang kemarin itu di luar batasanku,' Naruto mendumel dalam batin.

Naruto tidak pernah melakukan kontak fisik sejauh ini selain dengan keluarganya. Bahkan dengan kekasihnya atau gadis-gadisnya dahulu ia selalu menjaga jarak. Takut mereka tahu akan rahasia ini dan menjadi jijik kepadanya. Naruto sendiri heran mengapa ia bisa cepat merasa akrab dengan Sasuke dan kini merasa tenang jika rahasia ini dijaga oleh orang yang tepat. Mulai saat ini sepertinya dia mengandalkan Sasuke seperti dia mengandalkan Kyuubi. 'Ya, mulai saat ini aku akan menganggap Sasuke sebagai adikku,' ucap Naruto dalam batin. Naruto tersenyum.

_ to be continued _

Glossary:

Aniki : panggilan kepada kakak laki-laki

Nii-san: panggilan lain yang dapat ditujukan kepada kakak laki-laki

Baka : bodoh

Tadaima : aku pulang

Okaeri : selamat datang

Prolactinoma : nama tumor yang mensekresikan prolaktin

Prolaktin : hormon yang dihasilkan oleh glandula pituitari dan berguna untuk memelihara sekresi/produksi air susu

Methyldopa : obat digunakan untuk hipertensi ringan dan berat.

Bromocriptine : obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit hiperprolaktinoma (sekresi prolaktin yang berlebihan), galaktorea, sindrom premenstruasi (PMS), Akromegali (kelebihan hormon pertumbuhan, jadi pertumbuhannya tidak terkontrol mirip raksasa), parkinson (penurunan kemampuan syaraf)

A/N : Ehm.. Jadi, gimana kesan teman-teman pembaca setelah membaca chapt kali ini. Jujur saya sendiri gak pede nulis adegan dewasa di chapt ini. #mewek

Saya masih perlu banyak bimbingannya. Minta tolong bantuannya ya, teman ^.^

Akhirnya rahasia Naruto terungkap sudah, adakah kawan pembaca di sini yang masih kurang jelas tentang penyakit yang diderita Naruto? Maafkan author abal ini yang kurang joss nulis ceritanya. Untuk itu saya akan meluangkan banyak waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saudara. Masih banyak typo? Masih tetep aneh cerita ini? Kritik, kesan, dan saran juga dibuka untuk perbaikan fict ini ke depannya.

Dukungan dari teman-teman pembaca membantu author untuk cepat update cerita lho. Terima kasih dan sampai ketemu lagi di chap depan.

Salam

aurantii13

Sekilas chapt berikutnya:

"Apa ibu melihat segelas susu yang aku letakkan di kulkas dapur?" tanya Naruto pada Khusina.

Kushina berpikir sebentar, "Ibu lihat tadi si Kyuubi membawanya ke ruang baca," jawabnya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan Naruto untuk dioperasi, Kyuubi!" seru Minato geram.