Summary : Kehidupan Naruto Namikaze yang terlihat biasa saja meskipun tidak biasa menjadi berubah ketika juniornya di sekolah, Uchiha Sasuke, tengah memergokinya sedang melakukan sesuatu di toilet sekolah! Warn: BxB, SN.
A/N : Halo pembaca yang baik hatinya! Disini saya, aurantii13, masih tetap semangat berkarya untuk memberikan yang terbaik bagi teman-teman yang selalu menantikan cerita abal ini. Microsoft word tempat author membuat cerita sedikit bermasalah. Entah kenapa saat mengetik cerita, kursornya selalu kembali ke bagian kiri atas halaman. Dan hal itu terjadi berkali-kali sehingga ngetik wordnya jadi saya cicil. Oleh karena itu pengerjaan chapter terbaru sedikit terganggu. Saya minta maaf karena kemarin-kemarin tidak bisa mem-publish cerita secepatnya. #bungkukdalem. Semoga ke depannya saya bisa mem-publish fict ini secepatnya, amin.
Saya berterima kasih karena masih banyak teman-teman pembaca yang setia dengan mengikuti fict ini dan mau memberikan reviewnya. Ayo bersama-sama kita menyelesaikan fict aneh ini.
Di sini saya akan mencoba membalas review dari teman-teman pembaca. Kalau ingin langsung diskip juga gak apa-apa, kok. :3
SNlop: iya jadi itu alasannya naru bisa ngeluarin susu. Makasih reviewnya. Ini sudah saya lanjut.
zukie1157: makasih sudah mau review di dua chapter. Iya akan saya usahakan perjelas, saya akan memberi jeda halaman saat setnya berpindah. Iya kemarin bisa update kilat, semoga ke depannya saya bisa update kilat lagi. Ini sudah saya lanjut.
zadita uchiha: makasih reviewnya. Iya memang dasarnya Sasuke sudah mesum jadinya kepikiran dan kebawa mimpi. Galaktorea bukan penyakit yang membahayakan, hanya saja akan membuat penderitanya selalu terganggu. Jadi tenang saja nyawa naru gak terancam. Cerita ini setidaknya akan tamat sebelum tahun depan, kok. #diinjek. Dari draft kasar saya cerita ini gak lebih dari 10 chapter, semoga saja tidak membengkak. Selamat membaca, ini sudah saya update.
akarasuki: makasih sudah review dua chapter. Iya dong, Sasuke nikmatin banget ngebantu Naruto. Mimisan ya? #kasihtissue. Oke saran mpreg sudah saya catat, doakan otak labil saya mampu membuatnya. Chapt berau sudah saya update, silakan dibaca.
intan. pandini85: makasih sudah review. Senang ada yang bilang fict ini makin bagus . Ada pair itakyu kok, ditunggu saja. Silakan dibaca chap terbaru ini, semoga makin suka.
ICB: Saya sebenarnya sudah kepikiran, 'kenapa gak pake breast pump aja?' tapi saya ngebuat Naruto punya alasan tersendiri, kenapa dia gak mau pake benda itu. Bukankah memerahnya sendiri akan lebih seru? #dibuang. Makasih sudah review.
Jasmine Daisyno Yuki: ah tebakan kamu benar! Sakura diam-diam memang menyusul Sasuke. Peran Sakura bisa saya tampilkan di chapter ini. silakan dibaca, semoga kamu suka.
uchiha. emo10: wah pikiran kita sama, fic ini memang ini aneh, hehe.. Tapi makasih sudah review dan suka fic ini. cerita akan saya publish sesegera mungkin kok. Selamat baca, moga kamu suka sama chapt terbarunya.
witchsong: ehh, sasuke jadi anak susunya naruto, ya? Gomen, saya sama sekali gak kepikiran sama hal ini. Tapi kalau sudah suka maka akan terus ketagihan sama su** naruto. Sakura kepo nih, jadinya dia ngikutin sasuke gitu. Lebih lengkapnya bisa dibaca di chapt ini. maaf ya masih ada typo dimana-mana, moga gak keganggu bacanya. Ini sudah saya lanjut, silakan dibaca.
User31: interaksi sasunaru kurang banyak ya? Iya nanti kalau bisa saya banyakin, tapi gak nanggung kalau nanti gak hot sama romantis #jahil. Oke, akan saya usahakan kok. Makasih reviewnya.
Fuuin SasuNaru: tebakan kamu benar. Author kemarin ngerjakannya memang pake sistem SKS, hehe.. semoga ke depannya bisa seperti itu. Ahh, Kyuubi gak sekalem itu kok, #ngelirikchapterini. Iya sasuke memang ngegemesin, apa lagi kalau dia lagi mesum :3. Makasih lho, sudah mau review.
Marsya: iya ternyata begitu ceritanya Naruto #ikutanmanggutmanggut. Ehehe, jadi malu dibilang gitu. Saya cuma nulis sebagian yang saya ngerti kok, ilmu saya masih segede butiran debu. Itakyuu jadi pair kok, tunggu aja. Makasih sudah review.
aokiaoki95: halo lagi aoki! Makasih reviewnya. Iya memang benar methyldopa itu obat jantung yang aman dikonsumsi, tapi masih tidak menutup kemungkinan buat berefek di janin bukan? Walau itu kemungkinannya tidak lebih dari 10%. Untuk masalah hormon sudah saya rancang sedemikian rupa. Ada beberapa tanda yang saya sebar acak di beberapa chapter sebelumnya. Semoga kamu puas sama penjelasan saya. Jangan sungkan buat tanya lagi, ya!
uzumakinamikazehaki: iya naru kasihan nih, #pukpuknaru. Makasih sudah review, moga suka sama chapt ini.
AprilianyArdeta: makasih sudah review di dua chapter. Sebenarnya ada beberapa cara buat nyembuhin naruto, nanti akan saya jelaskan di chapt berikutnya #dibuang. Iya, Sasuke memang adek kelas Naruto yang suka modus :3
Mami Fate Kamikaze: makasih reviewnya di dua chapter. Iya nih, sudah suka sama naruto, tapi.. kasihan dia, gak sadar juga. Makasih sudah mau nunggu. Ini sudah saya update chapt terbarunya, semoga suka. Semangat juga buat kamu! :D
Ryuusuke583: makasih ya sudah review. Ehm, tumor yang ada di naruto termasuk tumor jinak kok, operasi mungkin bisa di sekitar dada. Wah, satu lagi pembaca yang minta mpreg, oke saya catat. Iya kalau kamu gak bisa review gak apa-apa kok. Kamu suka fict abal ini sudah membuat saya bahagia sebagai author . Semangat juga buatmu!
saphire always for onyx: hai hai juga! Boleh, boleh, kalau mau nyumbang cangkir, hehe.. :D Iya nih, sasuke suka ngambil kepustusan sendiri, nih. Sampe dia gak sadar punya penyakit cinta. Mau tahu susu apa yang ditanyain ke kushina? Jawabannya ada di chapter ini, selamat baca.
Aiko Michisge: iya sudah saya lanjut, moga suka. Makasih reviewnya.
Kagaari: wah makasih sudah review dan suka sama fict ini. Sedih ya, naruto cuma nganggep sasuke adiknya. T.T
Hyull: makasih reviewnya. Seneng ada yang bilang fict ini bagus. Iya, akan saya lanjut sampe end kok.
Namikaze Yuki: nah sudah paham kan, sekarang? Hehe.. Iya sasu ikut bantu, modus banget kan dia? Makasih yaa sudah review. Ini sudah saya lanjut, moga gak kecewa.
FujoDeviLZ10: iya, itu alasan sakitnya naru. Author seneng fict ini bisa jadi media belajar juga, hehe. Iya, sasuke memang sableng dan kayaknya makin tambah sableng kalo ada naru, #ngook. Makasih sudah review, semoga kamu suka sama chapt baru ini.
hanazawa kay: makasih sudah penasaran sama fict ini. makasih juga sudah review juga. Sudah saya update chapt terbarunya, selamat membaca .
RevmeMaki: makasih reviewnya. Iya, baru review juga gak apa-apa kok. Sekarang sudah kasih review kan? Ada pair itakyuu kok, ditunggu aja. Sasuke memang gak suka fugaku selalu pentingkan Itachi. Jadinya dulu sasuke pernah benci itachi, tapi sekarang sudah nggak lagi walau agak sedikit benci #lhaterus. Ya gitu deh, sasuke orang yang labil. Maaf pertanyaannya kayak gak kejawab, saya usahakan ada penjelasannya di chapter mendatang.
julihrc: hayo maunya gimana? Hehe.. Keberadaan rahim masih belum diketahui, karena keluarga namikaze belum mengecek naruto sampai ke arah itu. Makasih sudah review.
RisaSano: iya, sudah saya lanjut. Silakan dibaca, moga suka. Makasih reviewnya.
Evi: seiring berjalannya cerita, nanti naruto akan suka sama sasuke #lho. Ini naruto sudah suka sama sasuke, kan? Walau sebagai adik, sih (T-T). Kalau masalah naruto sempat ngebantu sasuke sih ada di chapter ini, #promosi. Makasih sudah review.
iche. cassiopeiajaejoong: makasih reviewnya. Iya, gak apa-apa kok walau baru review. Makasih juga sudah suka sama cerita ini. iya, naru bisa ngeluarin susu, gitu. Ini sudah dilanjut, silakan baca.
Dewi15: iya sudah saya lanjut, selamat membaca. Maafkan saya lama updatenya. Makasih sudah mau review.
Joonie Kim Kyusung: iya gak apa-apa reviewnya rapel, makasih. Makasih juga sudah suka sama fict ini. iya ntar ada itakyuu, kok. Tunggu tanggal mainnya. Kalau momen sasunaru di chapt ini kira-kira kurang gak?
InmaGination: makasih sudah mau suka dan review cerita aneh saya. Iya ini sudah saya lanjut. Selamat membaca.
otomeharu22: makasih sudah mau baca fict aneh ini. iya dari nip*** bisa muncul itunya, hehe. Oke sudah saya catat, jadi kemunginan mpreg masih saya pertimbangkan, hehe. Makasih reviewnya.
Atikahime fujo: makasih sudah bilang keren . Lemonnya ada kok, mungkin tahun depan #dilindes. Saya usahakan secepatnya ya.. makasih reviewnya
Terima kasih juga buat para pembaca yang sudah mau ngefav dan memfollow cerita ini. Serius, saya seneng sekali.
Disclaimer : Naruto dan semua chara yang terdapat di cerita ini adalah milik Masashi Kishimoto namun plot cerita murni karangan author. Author tidak mengambil keuntungan dari pihak manapun.
Genre : Romance, Sci/Fi
Warn : BxB, jika tidak menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan male relationship diharap tidak membaca fict ini, author tidak menanggung jika ada pembaca yang mual dan muntah karenanya. Bahasa tidak baku dan kadang sulit dimengerti. Banyak typo.
Rated : M (mengandung unsur dewasa, bagi pembaca di bawah umur disarankan tidak menirunya)
Pair : SN
Mohon maaf sebelumnya jika cerita ini kurang berkenan bagi kalangan tertentu. Untuk itu saya sarankan untuk segera menekan tombol "kembali".
Selamat membaca, teman-teman!
Sekilas chapt sebelumnya:
Naruto tidak pernah melakukan kontak fisik sejauh ini selain dengan keluarganya. Bahkan dengan kekasihnya atau gadis-gadisnya dahulu ia selalu menjaga jarak. Takut mereka tahu akan rahasia ini dan menjadi jijik kepadanya. Naruto sendiri heran mengapa ia bisa cepat merasa akrab dengan Sasuke dan kini merasa tenang jika rahasia ini dijaga oleh orang yang tepat. Mulai saat ini sepertinya dia mengandalkan Sasuke seperti dia mengandalkan Kyuubi. 'Ya, mulai saat ini aku akan menganggap Sasuke sebagai adikku,' ucap Naruto dalam batin. Naruto tersenyum.
Title : Ini Rahasia (by aurantii13)
Chapter 4
Ruang Kesehatan, Konoha High School
Waktu telah memasuki jam pelajaran ketiga, dengan tenang Sasuke masih belum beranjak dari kursi yang telah ia duduki selama kurang lebih sejak 15 menit yang lalu. Ia masih asyik memandangi Naruto yang kini sedang tertidur pulas setelah Sasuke sebelumnya (lagi-lagi) berusaha meredam hasrat terdalamnya akibat ulah tidak sengaja Naruto, yang tentu saja dengan memutar ulang image Rock Lee dan Chouji Akimichi yang berbikini dan menari perut sukses, seperti kemarin, sukses untuk menidurkan benda yang ia banggakan sebagai seorang pria.
Menghela nafasnya perlahan, lagi-lagi Sasuke merasa kecolongan bahwa ternyata tubuh Naruto bisa membuatnya berekasi demikian. 'Sebagai lelaki normal dan sehat tentu saja sesekali akan mengalami boner, kan? Apa lagi jika dipelukanmu terdapat tubuh hangat yang minta disentuh' kilah Sasuke, walau di akhir kalimatnya terdengar sedikit ambigu.
Mencoba mengalihkan perhatiannya, Sasuke menatap Naruto kembali. 'Mungkin Senpai masih kelelahan,' batinnya menatap kelopak mata Naruto yang terpejam erat, teringat kegiatan yang mereka lakukan satu jam terakhir.
Di meja samping ranjang yang sedang ditiduri oleh Naruto terletak sebuah sebuah botol alumunium dan gelas bening dengan hampir terisi penuh. Kedua benda tersebut seakan menjadi saksi bisu mereka, sebagai wadah penampung air susu yang dihasilkan Naruto.
Sebelumnya Naruto berpesan pada Sasuke jika ia ingin membuang susu-susu itu setidaknya Sasuke menyisakan susu yang berada dalam botol alumuniumnya.
"Ingin merasakan susumu sendiri eh, Senpai?" gumam Sasuke yang berpikiran bahwa Naruto orang yang rakus karena bisa-bisanya ingin minum air susunya sendiri, tidak sadar bahwa sendirinya juga demikian karena kemarin telah menghisap habis air susu Naruto kala itu.
Tidak bosan memandang Naruto yang sedang tertidur, Sasuke kembali mengamati senpainya itu lekat-lekat. Walaupun lebih tua darinya, Naruto tidaklah lebih tinggi darinya. Naruto memiliki rambut berwarna pirang yang akan berubah warna keemasan jika terkena pendar cahaya. Dengan bibir berwarna roset dan hidung yang mungil melengkapi wajah manis Naruto. 'Manis? Apakah wajar seorang pria menilai pria lain itu manis?' batin Sasuke, mengelak untuk mengakui hasil pemikirannya sendiri.
Saking lelapnya dia tertidur, bibir Naruto sedikit terbuka mengambil nafas. Desah nafas ringan terdengar dari bibir Naruto.
"Apa bentuk tidurnya selalu seperti ini?" gumam Sasuke melihat bibir Naruto yang sedikit terbuka itu. Merasa tahu jika seseorang yang tidur dengan bibir terbuka akan membuat orang itu akan mengiler maka Sasuke mengulurkan tangan kanannya ke arah Naruto, bermaksud sedikit menutup bibir Naruto. "Berterima kasihlah padaku, Senpai. Lagi-lagi aku menyelematkanmu dari bahaya rasa malu karena mengiler," gumam Sasuke lagi.
Di saat telah berhasil menutup bibir Naruto, Sasuke tidak lantas menjauhkan tangannya dari atas organ berwarna kemerahan itu. Penasaran dengan tekstur bibir pemuda itu, apakah rasanya sama dengan bibir para gadis yang pernah dirasakannya. Dieluskannya perlahan ibu jari Sasuke pada belahan bibir Naruto yang ternyata sehalus kelopak mawar itu.
Tidak puas meraba bibir kenyal itu dengan tangannya, Sasuke pun berniat mencoba merasakan dengan bibirnya sendiri. Benar-benar ingin memastikan kehalusan dari bibir Naruto, perlahan Sasuke mencondongkan tubuhnya ke depan. Kini jarak antara keduanya tidak lebih dari dua inchi. Sedikit demi sedikit aroma citrus yang Sasuke kenal semakin menyerbu indra penciumannya tatkala hembusan nafas pelan Naruto mengenai hidung Sasuke. Belahan rambut depan Sasuke yang sedikit panjang menampar pipi Naruto, membuat dua alis pirangnya mengernyit lemah.
Semakin menundukkan kepalanya, hidung bangir Sasuke kini telah menyentuh hidung Naruto dan terdiam sejenak seakan mengijinkan nafas mereka bersatu. Mata Sasuke mengamati kelopak mata Naruto yang terpejam, dalam posisi sedekat ini membuatnya bisa menghitung satu-satu bulu mata lentik itu.
Sasuke ingin segera mengakhiri rasa penasaran ini. Tak menghiraukan dadanya yang semakin bergemuruh, sembari menutup kedua matanya Sasuke kembali mengeliminasi jarak yang menjembatani mereka. Rasa penasarannya terpuaskan ketika Sasuke menyatukan bibir mereka, mengecup pelan bibir merah ranum itu. Kecupan yang berlangsung selama beberapa detik itu terasa lama bagi Sasuke. Ingin mengecap lebih lama rasa itu Sasuke sedikit menjilat bibir bawah Naruto dengan lidahnya sebelum melepas kecupannya dan kembali menegakkan tubuhnya.
Menjilat bibirnya sendiri, Sasuke ingin meresapi rasa itu sekali. Kecupan yang diambil dari bibir Naruto terasa manis, semanis jeruk. 'Apakah semua bagian dari tubuhnya beraroma jeruk?' batin Sasuke heran. Teringat sesuatu ia menambahkan, 'Tapi kurasa tidak dengan rasa dari susunya. Susu senpai adalah susu terenak yang pernah kurasakan,' batin Sasuke, menempatkan air susu Naruto di urutan kedua sebagai minuman favoritnya setelah minuman yang mengandung tomat.
Sasuke mengecek waktu dengan jam tangan Rolex-nya. Ternyata sebentar lagi akan memasuki jam pelajaran keempat. Tidak ingin tertinggal pelajaran lagi, Sasuke berpikir sebaiknya ia segera bergegas. Mengamati sekilas seragam yang kini dikenakannya, Sasuke merasa sudah cukup rapi dengan seragam yang kancing teratasnya tidak terpasang dan tidak dimasukkan ke dalam celana serta dasi yang melingkar santai di lehernya. 'Toh, anak-anak yang lainnya banyak yang berpenampilan sepertiku,' batin Sasuke cuek, mengedikkan bahu.
Menyambar segelas susu yang ia kenal di atas meja, Sasuke beranjak menuju pintu. Dia tidak bermaksud untuk meminum susu itu sekarang juga. Berpikir bahwa terlalu berharga jika susu itu dihabiskannya secara begitu saja dan ia bisa menikmatinya nanti.
Ekor mata Sasuke menangkap sekelibat Naruto yang masih tertidur. Memasrahkan keadaan bahwa di ruang kesehatan pasti aman Sasuke melanjutkan niatnya untuk kembali ke kelas. Membuka pintu yang telah dikuncinya secara egois, mengingat aktivitas Naruto tidak boleh untuk diketahui semua orang, kemudian Sasuke membuka dan menutup pintu itu secara perlahan.
Ketika berbalik arah Sasuke terkejut menemukan Sakura sedang menyandar pada dinding di seberang ruang kesehatan. Bagian sekolah yang ini cukup sepi ditambah sekarang adalah jam pelajaran membuat tidak ada satu pun orang yang melewati koridor ini.
"Suka dengan apa yang kau lakukan, Sasuke-kun?" sapa Sakura dengan nada yang dibuat semanis mungkin.
"Apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu, Sakura."
"Hmm, tentu saja ada Sasuke-kun. Lagi pula statusmu itu sekarang adalah tunanganku."
"Status tunangan bukanlah segalanya. Kita bahkan belum menikah."
"Oh, jadi kau ingin kita segera diresmikan?"
"Aku menyesal sampai langit ke tujuh, bisa-bisanya aku tunangan denganmu," ungkap Sasuke sambil melihat cincin perak yang melingkar di jari manisnya.
"Uh'uh, jangan lupa bahwa kau sendiri yang meminta pertunangan ini, Sasuke-kun. Harusnya kau beruntung memiliki tunangan yang sabar sepertiku."
Dikatakan demikian Sasuke tidak membalasnya.
"Di saat gadis-gadis lain bersorak memanggil namamu, aku diam. Di saat kau membagi waktumu dengan mereka, aku diam. Di saat aku tak mendapat kencan denganmu, aku diam. Dari semua diamku itu aku tak merasa kecewa. Apa kau tahu itu?" melanjutkannya Sakura kembali mengatakan, "Aku yakin bahwa suatu hari nanti kau pasti akan jadi milikku, Sasuke-kun."
"Oh, apa aku sekarang harus menelepon ayah saja untuk segera merancang pesta pernikahan? Kau ingin tema seperti apa, Sasuke-kun? Pesta kebun? Di tempat sakral? Atau ingin gathering di pantai?" Lagi-lagi Sasuke terdiam, membuat Sakura semakin berani untuk mengatakan berbagai hal dengan suara yang kian meninggi.
"Demi Tuhan, kau ini baru berusia 14 tahun! Dan pelankan suaramu, Sakura. Atau kau akan.." Sasuke menolehkannya ke arah pintu ruang kesehatan. Semenjak percakapan dimulai mereka masih berada di depan ruang tersebut.
"Atau apa, Sasuke-kun?" seru Sakura sengaja menaikkan nada suaranya kembali. "Kau sendiri baru 15 tahun. Aku tahu kau sering berkencan dengan banyak gadis lainnya di luar sana. Tapi aku masih bisa bersabar karena kau selama ini tidak sampai berbuat jauh dengan mereka. Kau pikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di dalam sana?" Sakura melirik pintu ruang kesehatan.
Mendengar hal itu bola mata Sasuke terbelalak lebar. Tidak ingin Sakura merasa menang dia pun kembali menata wajahnya menjadi tenang, "Katakan apa yang telah kau ketahui, Sakura?"
"Kau pasti pernah mendengar bahwa dinding pun punya telinga kan, Sasuke-kun? Ohh, sepertinya aku juga harus memberitahu ayah supaya meninggikan uang sumbangan agar sekolah ini dibangun lebih baik lagi. Kasihan sekali dengan dinding seperti ini, aku penasaran sampai berapa lama bangunan bobrok ini bisa bertahan," ucap gadis itu sombong.
"Sekali lagi apa kutanyakan kepadamu. Apa. Yang. Telah. Kau . ketahui. Sakura?" tanya Sasuke lagi, sengaja ia potong tiap katanya, berharap gadis posesif itu menjawabnya.
Mengetahui pandangan Sakura sedang tertuju pada gelas dipegangnya, secara tak sadar Sasuke menjauhkannya jauh dari jarak pandang gadis itu. Sasuke membawa tangan yang memegang gelas itu ke balik punggungnya.
"Wow! That's for real, Sasuke-kun? Ternyata cerita yang dibawa oleh lelaki itu benar terjadi! Dunia pasti terkejut mendengar bahwa Nar- hmmph" teriakan girang Sakura terhenti ketika sebuah tangan besar berhasil membungkam mulutnya. Sasuke kini memepet Sakura ke dinding.
"Kontrol emosimu, Sakura," paksa Sasuke. Matanya berkilat nyalang memandang gadis merah muda itu.
Gagal fokus, Sakura malah kegirangan saat menyadari kini ia sedang dihimpit oleh Sasuke. Melupakan fakta bahwa tangan Sasuke sedang membekap mulutnya. Alih-alih untuk berontak, Sakura sibuk dengan imajinya sendiri. 'Tangan Sasuke. Tubuh Sasuke. Wangi tubuhnyanya pun lebih harum dari pada parfum-parfum mahal yang dimiliki ayah" batin Sakura sembari sibuk mengendus aroma Sasuke dan menutup matanya.
Sadar bahwa tindakannya tidak sesuai hasil yang diharapkan. Malah membuat Sakura menutup mata dan semakin menikmatinya tindakannya, membuat Sasuke melepas tangan yang membekap Sakura. 'Dasar gadis gila!' rutuknya dalam hati.
Tidak ingin tertular dengan keanehan Sakura, Sasuke berusaha menghindar dan segera pergi menjauh darinya.
Mendapati bahwa keberadaan Sasuke sudah tidak ada lagi di dekatnya membuat Sakura tersadar. "Tunggu, Sasuke-kun!" teriak Sakura, melihat Sasuke berhenti berbelok koridor seperti sedikit menantikan apa yang ingin di ucapkannya. "Kau harus menjauh dari pemuda itu, Sasuke-kun. Dia tak baik untukmu. Dia bisa menjatuhkan reputasimu jika kau terus berteman dengannya," saran Sakura.
"Aku tidak peduli, Sakura," jawab Sasuke dingin. 'Ck! Seperti reputasiku cukup baik saja' batin Sasuke.
"Jika kau masih terus menempel dengannya, aku tidak akan sungkan-sungkan mencelakakannya," ancam Sakura.
Sasuke terdiam sejenak mendengar ucapan itu, berpikir bahwa apa yang dikatakan Sakura hanyalah omong kosong dan tidak akan berbuat sejauh itu. "Buktikan apa yang kau ucapkan, Sakura," sahut Sasuke di saat suaranya kian menghilang dari balik koridor.
"Aku pasti-" Sakura memotong kalimatnya begitu mengetahui hal itu akan percuma saja, Sasuke tidak akan mendengar apa yang dikatakannya. 'Aku pasti akan membuktikan ucapanku,' ucapnya dalam hati.
Mengambil ponsel keluaran terbarunya, Sakura menekan speed dial di layar tersebut.
"Halo, ayah? Eh, bibi. Apa? Ayah sedang meeting? Sampai berapa lama?" wajah Sakura kemudian menunjukkan raut kecewa. "Ah iya bibi, bolehkah aku meminta tolong sesuatu padamu? Bisakah aku mendapatkan riwayat kesehatan dari Naruto Namikaze? Untuk apa? Aku tidak bisa mengatakannya, Bi. Kalau bisa aku minta catatan hidupnya dari lahir hingga sekarang. Eh iya, keluarganya juga ya! Pokoknya aku ingin data lengkapnya sampai di tanganku besok pagi. Sampai jumpa, Bi," ucap Sakura mengakhiri percakapan teleponnya.
"Kita lihat saja apa yang bisa kau lakukan, Namikaze? Hmm?" ucap Sakura menatap pintu ruang kesehatan, sinis.
_ page break _
Setelah mengirim pesan pada Itachi bahwa hari ini ia ingin dijemput, Sasuke sibuk mengamati botol minum di tangannya. Botol yang berisi substansi putih itu digoyang-goyangnya perlahan. Sasuke merasa bosan dengan ingatan yang terus berputar dengan kejadian kemarin dan hari ini. Di saat ia ingin curhat dengan salah satu teman baiknya, Shikamaru malah dengan asyiknya tidur siang. Jam kosong membuat suasana kelas menjadi tidak kondusif dan para siswa bebas melakukan apa saja, termasuk tidur.
Setengah jam yang lalu Iruka, guru matematika mereka, berpamitan untuk mengakhiri kelas lebih awal. Pelajaran terakhir mereka akan selesai setengah jam lagi yang membuat Sasuke berpikir keras untuk menghilangkan kebosanan yang kini melandanya.
"Sasuke boleh aku minta minummu?" kata Kiba yang tiba-tiba sambil melirik botol yang digenggam oleh Sasuke. Kini pemuda Inuzuka itu sedang berada di hadapan Sasuke.
"Tidak," jawab Sasuke singkat.
"Ayolah, Sasuke. Sedikiiit saja," pinta Kiba memelas. Dari wajahnya Sasuke melihat bahwa Kiba sepertinya benar-benar dehidrasi. Tapi dia sendiri tak rela untuk menyerahkan susu dari Naruto kepadanya.
"Sekali kukatakan tidak, tetap tidak," tolak Sasuke lebih tegas.
"Sudahlah Kiba. Sepertinya para gadis itu memiliki minuman yang bisa kau minta," saran Rock Lee tiba-tiba, dari balik punggung Sasuke. Tanpa banyak kata, Kiba yang sedang kehausan segera menuruti saran dari Lee dan beranjak dari bangku Sasuke. Sepeninggal Kiba, pandangan Sasuke kembali tertuju pada botol yang ada di tangannya itu.
"Sasuke-kun. Apakah kau besok malam ada waktu?" tanya gadis berambut coklat malu-malu, yang entah sejak kapan kini berdiri di hadapan Sasuke.
Menolehkan wajahnya, Sasuke menatap Matsuri. Ia sudah lama tahu bahwa diam-diam gadis pemalu itu sering memperhatikannya. Dia benar-benar membutuhkan hal lain yang bisa menjauhkan bayangannya tentang Naruto. "Tentu. Jadi apa bisa yang bisa kulakukan untukmu?" Sasuke memberikan senyuman seringai mautnya dan menghiraukan tatapan cemburu yang diberikan oleh Sakura.
Di waktu yang sama, Rock Lee terlihat sedang sibuk menulis, entah apa itu yang sedang ditulisnya. Tapi dia bukanlah orang yang autis yang tidak peduli pada sekitarnya. Berada duduk di tepat di belakang bangku Sasuke membuatnya hafal gerak-gerik pemuda Uchiha. Ia tahu bahwa Sasuke benar-benar tidak ingin membagi minumannya. Sekembalinya Sasuke dari ruang kesehatan dengan membawa segelas susu membuatnya sedikit terheran. Yang membuat Lee heran lagi, dari pada segera meminumnya Sasuke malah memasukkan cairan putih itu ke dalam botol minumnya dengan hati-hati kemudian memandang botol itu sesekali jika ada kesempatan. Jadi Lee bisa berkesimpulan pastilah susu itu sangat berharga bagi Sasuke.
_ page break _
Mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, Naruto terbangun dari tidurnya. Bukannya semakin segar, tubuh Naruto justru semakin lemas. Naruto mengamati keadaan di sekelilingnya, mencari Sasuke. Tidak menemukan Sasuke, Naruto melirik jam yang melingkar di tangannya. "Pantas saja Sasuke tidak ada di sini," gumam Naruto.
Waktu telah menunjukkan pukul dua lewat empat puluh menit, yang artinya seharian Naruto tidak mengikuti pelajaran hari ini. Sepertinya bel tanda berakhirnya pelajaran telah berbunyi sepuluh menit yang lalu.
"Kau sudah bangun, Naruto?" sapa Shizune, perawat sekolah berambut hitam itu mendekatinya. "Kalau kau ingin pulang sekarang, aku akan menghubungi Kyuubi," tambahnya lagi. Shizune mengenal Kyuubi karena dulu sewaktu ia menimba ilmu di Konoha University Shizune bergabung di Palang Merah, kegiatan mahasiswa yang juga diikuti Kyuubi.
"Tidak usah, Nee-chan. Aku bisa mengabarinya sendiri," ucap Naruto, menolak halus tawaran Shizune.
Naruto kemudian mengambil ponselnya untuk mengabari Kyuubi serta membalas beberapa pesan dari Gaara dan Fū.
_ page break _
Konoha University
Kyuubi melangkah pasti menuju ruang dosen termuda kampusnya, Itachi Uchiha. Ia yakin bahwa kini Itachi masih berada di ruangannya karena sebelumnya mereka telah mencocokkan jadwal masing-masing. Menjadi dosen termuda sering membuatnya mendapat pekerjaan lain ini dan itu dari Kepala Jurusan, seperti menjadikannya seorang penanggung jawab di beberapa kegiatan. Oleh karena itu jika ingin menemuinya seseorang itu harus tahu jadwal kosong Itachi atau setidaknya telah membuat janji untuk bertemu dengannya.
Kali ini Kyuubi tidak datang sendirian. Dengan diikuti oleh pemuda yang memiliki warna rambut yang kontras dengan kulitnya, Omoi. Omoi dengan setia mengintilinya sejak kuliah terkahir mereka hingga menuju ruang Itachi seperti saat ini. Sesampainya di sana, Kyuubi tidak lantas mengetuk ruangan yang tertutup pintu itu melainkan memastikan bahwa ruang itu masih menyala terang, tanda bahwa sang dosen belumlah pulang atau sedang tidak ada di tempat.
Menatap Omoi sebentar dan dibalas oleh anggukan pemuda berambut putih itu, Kyuubi mengetuk pelan pintu berbahan kayu tersebut.
Tok, tok, tok.
"Ya, masuk," tak lama kemudian terdengar jawaban dari balik pintu. Mendapat lampu hijau dari Itachi membuat Kyuubi dan Omoi langsung membuka pintu dan memasuki ruangan Itachi.
Itachi sudah bisa menebak siapakah orang yang sedang mencarinya saat ini. Setelah mempersilakan masuk Kyuubi, anggota proyeknya terbarunya itu. Walau tak kentara, Itachi memandang kaget pemuda lain yang kini dibawa Kyuubi ke ruangannya.
"Selamat sore, Sensei. Ini Omoi Kumo, orang yang saya rekomendasikan untuk mengikuti proyek," Kyuubi memperkenalkan pemuda yang dibawanya.
"Selamat sore, Itachi-nii. Mohon bantuannya," sambil sedikit menganggukkan lehernya, Omoi menyapa Itachi.
"Omoi. Aku tidak tahu bahwa kau kuliah di sini. Bagaimana kabarmu?" jawab Itachi, meninggalkan kaidah percakapan formal antara dosen dan murid.
Kyuubi menoleh menatap heran pada Omoi, berusaha mengajaknya berkomunikasi dengan tatapannya. 'Kalian saling kenal? Kenapa tak pernah cerita?'
Mampu mengartikan tatapan Kyuubi, Omoi hanya mampu melepaskan senyum terpaksanya.
_ page break _
Laboratorium Zoologi, Konoha University.
Agar menjadikan suasana lebih santai Itachi mengajak kedua mahasiswanya untuk pindah ke Laboratorium Zoologi. Mereka mengambil duduk di salah satu sudut ruangan itu.
"Kalau kau mau, kau juga boleh memanggilku Itachi, Namikaze-san. Atau boleh kupanggil Kyuubi, hmm?" tawar Itachi pada Kyuubi.
Melihat Kyuubi hanya bisa menatap heran Itachi membuat Omoi sedikit tergelak. "Hei, Kyuu. Kalau kau merasa sungkan kau boleh memanggilnya Itachi-nii kok. Lagi pula jarak usia kita hanya beberapa tahun saja. Ya kan, Itachi-nii?" tanya Omoi, meminta persetujuan dosen muda itu.
'Bukannya aku sungkan, Omoi. Sebagai kawan akrabmu di kampus ini, aku hanya heran kenapa kau tak pernah cerita padaku? Dasar Omoi, bodoh!' rutuk Kyuubi dalam hati, kesal.
"Itachi-nii.." Kyuubi mencoba mengucapkan nama itu pelan namun masih dapat didengar oleh dua orang lain di sebelahnya. Setelah dirasanya cukup terbiasa, Kyuubi menambahkan "Tentu saja anda boleh memanggilku Kyuubi, Itachi-nii."
Itachi memandang Kyuubi, walau mendengar nada bicara Kyuubi terkesan datar namun dari ekspresinya Itachi tahu bahwa ucapan Kyubi jujur adanya. Berakrab-akrab ria dengan mahasiswa bukanlah gaya mengajar Itachi, namun ketika tadi dia merasakan atmosfer tidak menyenangkan membuat dia secara tak sadar menawarkan Kyuubi untuk memanggil dengan nama kecilnya. Mungkin maksudnya agar pemuda merah itu nyaman, dengan membuat posisinya setara dengan Omoi yang telah lama ia kenal.
Merasa tidak ada atmosfer aneh lagi di sekitarnya, Itachi mengembalikan topik pembicaraan mereka. Mengingat sebentar lagi ia harus menjemput Sasuke, membuat Itachi sedikit heran karena tidak biasanya Sasuke meminta untuk dijemput.
"Kyuubi, apa kau telah memberitahu Omoi detail proyek yang akan kita kerjakan?"
"Sudah Sensei. Selama perjalanan menuju kemari, saya telah menceritakannya. Walau belum semuanya," jawab Kyuubi tanpa sadar masih memanggil Itachi dengan sebutan Sensei.
Setelah mengangguk, Itachi melanjutkan, "Hewan coba yang akan kita gunakan nanti adalah mencit. Aku meminta bantuan kalian untuk menyediakan sesegera mungkin."
"Kenapa harus mencit? Apa sebaiknya kita menggunakan model manusia saja?" tanya Omoi.
"Karena kita ini bekerja di bidang biologi, jadi kita cukup menggunakan model dari hewan*. Penelitian dengan manusia lebih etis digunakan dalam ranah kedokteran. Alasan lainnya adalah hewan ini mudah didapat, harganya murah, siklus reproduksinya singkat, dan masa reproduksinya cukup panjang sekitar dua sampai empat belas bulan," jawab Itachi.
Merasa tidak ada yang yang menginterupsinya, Itachi menambahkan, " Perlakuan yang akan kita lakukan adalah empat kelompok. Aku telah menghitung jumlah pengulangannya dengan menggunakan rumus Federer*. Jadi untuk tiap kelompok setidaknya harus disediakan enam ekor mencit. Agar galat* data yang kita dapat tidak terlalu besar, aku ingin tiap kelompoknya ada 10 ekor. Dari sini apa yang kalian tanyakan?"
"Maaf Sensei, aku masih belum menemukan LD50* untuk dosis* prolaktin sintesis," Tanya Kyuubi, mengingat penelitian ini lebih cenderung menggunakan dosis. Sebagai peneliti, tentu saja Kyuubi tidak ingin hewan cobanya mati begitu saja jika diberi perlakuan dosis yang tinggi.
"Lethal dose 50 dari prolaktin sintesis adalah 50 µl* per Kg berat badan mencit. Penelitian ini mencoba menggunakan dosis akut* dalam jangka pendek*, jadi kurasa menggunakan dosis tinggi seperti 30 µl dan 40 µl tidaklah bermasalah. Lalu aku bermaksud menambahkan bromokriptin, senyawa yang mampu mengganggu proses laktasi.
Kebetulan LD50 dari bromocriptine sama seperti prolaktin sintesis. Jadi aku akan menggunakan dosis yang sama dan beralasan yang sama. Kyuubi, aku memintamu membacakan aturan pemberian dosis di tiap kelompok perlakuan," ucap Itachi mengakhiri penjelasannya.
Mendapat perintah Itachi, Kyuubi membaca kertas detail penelitiannya yang baru diprintnya tadi pagi itu. "Kelompok kontrol tidak diberi perlakuan sama sekali. P30 adalah kode yang diberikan jika dosis yang digunakan 30 µl, sedangkan P40 adalah kode yang diberikan jika dosis yang digunakan 40 µl. Kode 1 jika diberikan selama selama bunting*, dan menyusui. Kode 2 diberikan selama bunting saja. Kode 3 diberikan selama menyusui."
"Baiklah, aku rasa kalian sudah mengerti apa yang harus kalian lakukan. Omoi, kau kuberi tugas memberikan perlakuan yang berhubungan dengan prolaktin sintesis. Sedangkan kau, Kyuubi, kuberi tugas memberikan perlakuan dengan bromocriptine," kata Itachi, kemudian ia memandang ponselnya sejenak, "Sepertinya aku harus pulang sekarang."
"Tunggu Itachi-nii. Dengan uang siapa kami membeli mencit-mencit itu?" panggil Omoi.
Mengerti maksud pertanyaan Omoi, sebelum meninggalkan mereka Itachi mengambil salah satu ATM yang ada di dompetnya. ATM berwarna kuning itu memang khusus berisi dana penelitian. "Kupercayakan ATM ini padamu, PINnya akan ku kirim lewat pesan. Aku pulang dulu," Itachi menyerahkan ATM itu pada Omoi sebelum melangkah pergi.
_ page break _
"Aku tidak menyangka bahwa kau kenal dengan Sensei, Omoi," ucap Kyuubi.
"Itachi-nii adalah kekasih mendiang kakakku, Karui. Aku memang sengaja tidak memberitahukannya padamu. Aku punya alasanku sendiri, Kyuu," aku Omoi.
Menyadari bahwa hal itu adalah topik yang sensitif bagi Omoi, Kyuubi mencoba menghentikan perdebatan ini. "Baiklah, kita sudahi saja masalah ini. Aku tidak mau membuat hal sesepele ini mengganggu pertemanan kita."
Mendengar pernyataan Kyuubi membuat Omoi sedikit senang. Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama ketika seorang gadis berambut coklat menghampiri mereka.
"Kau lama sekali, Kyuu. Aku bosan menunggumu. Kau lagi free? Ayo kita jalan-jalan. Aku dengar ada kafe keren yang baru buka di sekitar kampus," kata gadis itu sambil sedikit merengut begitu telah sampai di hadapan mereka. Gadis itu bernama Hana Inuzuka. Gadis yang berada dalam angkatan yang sama dengan Kyuubi sekaligus berstatus sebagai kekasihnya.
"Kukira kau sudah pulang, Hana. Maaf aku tidak tahu kau masih menungguku," ungkap Kyuubi jujur.
"Aku sudah mengirim pesan padamu, kok. Kau tidak mengeceknya ya?"
"Ehh, aku lupa. Tunggu sebentar," ucapan Kyuubi terputus ketika merasakan getaran dari dalam sakunya. Kyuubi melihat ada beberapa pesan yang masuk. Dia menemukan pesan dari Hana sekitar setengah jam yang lalu. Kemudian kyuubi membaca pesan terbaru yang masuk.
"Maaf Hana, sepertinya aku tidak bisa menemanimu jalan hari ini, Naruto sudah menungguku," kata Kyuubi sambil tersenyum, meminta maklum dari kekasihnya.
Sebenarnya Hana merasa kecewa karena selalu dinomorduakan dengan Naruto, adik Kyuubi. Tapi setelah mendengar cerita dari Kyuubi bahwa adiknya itu tidak bisa dibiarkan pulang sendiri karena suatu hal, membuat ia sedikit iba pada Naruto.
"Baiklah, besok juga tak apa. Tapi kali ini kau harus janji, Kyuu," kata Hana.
"Tentu, Honey. Besok selepas kuliah siang, kita ke sana," kata Kyuubi sambil tersenyum dan mengacak lembut rambut Hana. Hana yang diperlakukan hanya bisa tersenyum malu.
"Oke, Kyuu. Sebaiknya aku harus pulang sekarang. Aku ini manusia super sibuk, kau tahu?" canda Omoi, yang sesaat kehadirannya sedikit dilupakan oleh kedua sejoli ini.
"Oh oke. Hati-hati di jalan," balas Kyuubi.
Tidak disadari oleh mereka berdua, di balik pundak tegapnya Omoi tersenyum misterius.
_ page break _
Menunggu di depan gerbang sekolah hampir setengah jam membuatnya hampir berakar. Lagi-lagi Sasuke diliputi rasa bosan karena tidak ada hal yang mampu menarik perhatiannya. Suasana sekolah sudah hampir sepi. Di hadapannya sekarang ini hanya ada beberapa bus dan taksi yang sesekali melintas. Memang lingkungan Konoha High School terkenal sepi dari aktivitas lalu lintas.
Namun Sasuke tak menyangka keterlambatan Itachi menjemputnya akan berbuah menyenangkan. Pasalnya ia kini mendapati Naruto yang berjalan pelan ke arahnya.
'Mungkin ia sedang mencariku?' batin Sasuke. Sasuke seharusnya tahu, dia tidak boleh berpikiran percaya diri seperti itu karena setiap pulang sekolah Naruto selalu menunggu jemputan kakaknya di depan gerbang ini. Walaupun demikian Sasuke tidak bisa menghindari rasa senangnya saat ini.
Naruto yang melihat Sasuke langsung saja semakin mempercepat langkahnya dan menghampiri pemuda yang sedang duduk di depan gerbang sekolah itu. Naruto tidak tahu sepertinya rasa lelahnya menghilang ketika pandangan mereka bertemu untuk ke sekian kalinya hari ini. Ia senang bisa memiliki teman untuk membagi rahasianya selain dengan keluarga dan sahabatnya, Gaara.
"Wajahmu saat ini tidak lagi secerah rambutmu, Senpai," komentar Sasuke ketika jarak mereka hanya sekitar beberapa meter.
"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Uchiha," jawab Naruto walau dalam hati ia merasa senang karena Sasuke telah memperhatikannya. "Walau telah tidur seharian, aku masih merasa lelah," imbuh Naruto sambil menguap lebar.
"Tubumu itu benar-benar ringkih," komentar Sasuke sambil memandang Naruto dari samping. Dada Sasuke berdebar lagi ketika melihat bibir sedang menguap. Tak sengaja membuat ingatannya kembali pada beberapa jam yang lalu. Ingatan tentang ciumannya sepihaknya dengan Naruto.
"Itu bukan ciuman, Sasuke," gumam Sasuke. 'Itu hanya kecupan penasaran, tidak lebih. Dasar jantung bodoh, bisa-bisanya kau kambuh sekarang ini,' batin Sasuke merutuki dirinya sendiri.
"Ciuman, eh? Wah, ternyata kau ini bocah mesum yang hobi ciuman ya! Hebat!" seru Naruto, sedikit mendengar gumaman Sasuke. "Ne.. ne.. Kalau begitu maukah kau mengajariku?" tambahnya lagi, sambil merangkul Sasuke dan menepuk keras pundaknya dengan tangan kirinya. Hal itu membuat dada kiri Naruto yang gembul sedikit menyentuh lengan atas Sasuke.
"Ck, seperti kau tidak pernah ciuman saja," decih Sasuke dengan diam-diam sambil menetralisir debaran jantungnya. 'Ini tidak sehat, ini tidak sehat. Kenapa aniki lama sekali datangnya?' Sasuke membatin frustasi, tidak tahan berlama-lama bersama Naruto.
"Tentu saja pernah," jawab Naruto singkat. "Tapi hanya di pipi, sih" imbuh Naruto.
Ketika mendengar bahwa Naruto pernah berciuman sebelumnya membuat dada Sasuke sedikit nyeri. Namun nyerinya itu tak bertahan lama karena Naruto segera menambahkan bahwa ciumannya itu hanya di pipi. Entah kenapa hal ini membuat Sasuke merasa lega karena orang yang pertama kali merasakan bibir Naruto adalah dirinya, begitu pikirnya.
"Sa.. Sasuke?" ucap Naruto. Membuat sang empu pemilik nama itu menoleh.
"Sasuke. Boleh aku memanggilmu seperti itu, Uchiha?" tanya Naruto.
Sasuke terdiam begitu mendengar pernyataan Naruto. Bingung sekaligus senang tapi bingung harus berkata apa. Dari pada harus berkata di luar tindakan Uchiha, Sasuke hanya bisa mengangguk.
"Baguslah kalau begitu. Kau pun juga boleh memanggilku, Naruto-san!" seru Naruto girang sambil mengeratkan lengan kirinya yang masih melingkar di pundak Sasuke.
Merasakan gundukan dada kiri Naruto yang terus menggesek-gesek lengannya membuat wajah Sasuke mengeras walau hanya sepersekian detik.
Diamnya Sasuke tak luput dari perhatian Naruto. 'Percaya diri sekali kau, Naruto. Seperti Sasuke mau saja memanggilmu seperti itu,' batin Naruto pesimis. Ia baru teringat bahwa kata orang-orang, Sasuke ini pemuda yang sulit diatur.
"Aku akan memanggilmu Naruto. Hei, apa Senpai sedang melamun?" lamunan Naruto sedikit buyar ketika mendengar suara Sasuke yang kian membesar. Begitu ditolehnya, Naruto mendapati wajah Sasuke yang kini sedang berada sangat dekat di dadanya, tak sadar dilepasnya rangkulan tangan kirinya pada pundak pemuda Uchiha.
"Ap- Apa yang kau lakukan bocah mesum?" seru Naruto sambil menggaplokkan telapak tangannya ke wajah Sasuke, berniat menjauhkan wajahnya.
Masih merasakan alarm bahaya, Naruto spontan berdiri menjauhi Sasuke namun berhasil di tahan tarikan lengan oleh pemuda yang lebih muda darinya. "Kenapa harus malu Naruto? Kau terlihat tidak malu saat kita melakukannya tadi siang," kata Sasuke dengan nada datar, wajahnya kini ada di dekat wajah Naruto. Ucapannya sarat dengan makna yang ambigu.
"Aku tidak malu! Tapi.. Tapi, tidak di sini, Sasuke!" teriak Naruto panik, wajahnya memanas. Ekor matanya bergerak liar menatap sekitar, berharap suasana saat ini sedang sepi. Selain sedan abu-abu yang tidak jauh darinya ia tidak melihat seorang pun yang melewati jalan ini.
TIN, TIN!
Suara klakson itu menyadarkan pergumulan mereka berdua. Membuat Naruto sedikit terlompat kaget sekaligus senang. Setelah akhirnya Sasuke melepaskan cengkraman di lengannya.
'Cih, aniki mengganggu saja!' batin Sasuke kesal, begitu menyadari Itachi telah datang menjemputnya. Sasuke melupakan fakta bahwa tidak lama sebelum ini ia sendiri yang berharap Itachi untuk segera datang.
"Aku pergi dulu, Naruto! Sebaiknya kau jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada," pamit Sasuke sambil mengacak liar rambut Naruto, berani.
"Hei! Untuk apa mengacak rambutku? Panggil aku Naruto-san!" ucap Naruto penuh dengan penekanan.
Sasuke sedikit berlari menjauh, tidak mau menjadi korban kekerasan Naruto untuk ke sekian kalinya. Begitu berada di depan mobil Itachi ia langsung melompat masuk ke dalamnya. "Sampai jumpa, Na-ru-to!" seru Sasuke usil setelah melongokkan kepala dari kaca samping mobil.
"Kau! Teme!" teriak Naruto kesal saat mobil Itachi melaju menjauh.
'Tapi tidak apa, sih ia memanggilku Naruto. Toh Gaara juga memanggilku begitu,' batin Naruto mencoba tenang. Mulai membandingkan keakraban Gaara dan Sasuke padanya.
Tak lama kemudian datanglah Jeep merah berlawanan arah yang dengan mobil yang menjemput Sasuke.
"Yo, Naruto! Untuk apa kau berteriak tidak jelas di jalan? Cepat masuk!" seru pengemudi mobil merah itu.
"Baik, Kyuu-nii," Naruto menurut dan masuk ke dalam mobil.
_ page break _
Dalam perjalanan menuju ke kediamannnya, kedua kakak beradik Uchiha sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Apa hipertensi rasanya semenyenangkan ini, Aniki?" tanya Sasuke tiba-tiba.
Itachi menghiraukan pertanyaan Sasuke yang dianggapnya konyol. "Siapa pemuda tadi Sasuke? Kekasihmu? Aku baru tahu kini seleramu ganti," tanya Itachi balik,. karena tak biasanya Sasuke berani berbuat PDA*, apa lagi di depan sekolahnya. Walau heran tatapannya masih fokus ke arah jalan
"Apa maksudmu Aniki? Dia bukan kekasihku. Dia itu seniorku," jawab Sasuke.
"Jadi kau selain penyuka pria dan kau ini sekarang juga menyukai seseorang yang lebih tua darimu, Otouto? Asal kau tahu, aku tidak suka dengan incest," Itachi menegaskan walau dirinya kini agak merinding. Sedikitnya Itachi sedikit takut kini sedang berduaan dengan Sasuke. Sesekali ia melirik adik kandung yang umurnya terpaut 9 tahun itu.
"Lalu apa yang sedang kau lakukan, Sasuke?" tanya ulang Itachi, kali ini bertanya sungguh-sungguh.
"Aku hanya ingin membantunya. Dia membutuhkan bantuanku. Itu saja," jawab Sasuke sambil melipat tangannya di dada, pose defensif.
Mendapati Sasuke sedang dalam kondisi merajuk, Itachi tergelak pelan. "Apa tidak ada orang lain yang membantunya, Sasuke? Bocah egois sepertimu membantu orang lain?" tanya Itachi lagi, menggelengkan sedikit kepalanya masih merasa tak yakin.
"Aku melakukannya karena kurasa akan menarik jika aku membantunya. Dan mulai saat itu sepertinya ia akan selalu membutuhkanku ke depannya," Sasuke meyakinkan dirinya.
"Dia membutuhkanmu? Apa aku tidak salah dengar," aku Itachi masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tidak," jawab Sasuke. "Aniki, aku.. Bukan. Sepertinya bukan hanya dia yang membutuhkanku."
"Sepertinya aku juga membutuhkannya, Aniki. Kita seperti saling membutuhkan," lanjut Sasuke kali ini dengan menggumam. Sedikit berharap Itachi tidak mendengar gumaman itu.
Dia tak bisa memungkirinya lagi, genap dua hari ini pikiran Sasuke memang penuh dengan Naruto, Naruto, dan Naruto.
Sejak kejadian di toilet itu Sasuke tidak bisa melupakan Naruto, 'Ya, walau hanya dua hari, ia berhasil merenggut perhatianku' batin Sasuke yang makin kacau dengan pikirannya sendiri.
_ page break _
"Apa ibu melihat segelas susu yang aku letakkan di kulkas dapur?" tanya Naruto pada Khusina.
Naruto sibuk membongkar kulkas dua pintu itu. Seingatnya sepulang sekolah tadi ia langsung memasukkannya pada kulkas dapur.
Kushina berpikir sebentar, "Ibu lihat tadi si Kyuubi membawanya ke ruang baca," jawabnya.
Naruto mata safir itu membola, "Apa, Bu? Kenapa ibu memberikannya? Tidak bilang padaku pula," seru Naruto, agak sedikit marah.
"Kyuubi sedang ingin minum susu, kebetulan susu persedian kita habis. Kutawarkan saja susu itu padanya. Nanti akan ibu ganti," jawab Kushina kalem. Perhatiannya masih terfokus pada masakan untuk makan malam nanti.
-Nanti akan ibu ganti-
-Nanti akan ibu ganti-
-Nanti akan ibu ganti-
"Tidak!" Kata-kata terakhir Kushina agaknya sedikit mengguncang mental Naruto.
Naruto langsung berlari menuju ruang baca. 'Setengah hidup aku mendapatkan susu itu, kenapa dengan mudahnya ibu bilang akan menggantinya?' batin Naruto.
Kyuubi terlihat sedang asyik membaca. Tangan kirinya sedang asyik membolak-balik halaman. Benda yang dicari-cari Naruto terpegang di tangan kiri Kyuubi. Merasa haus, Kyuubi mengangkat gelas berisi susu yang masih penuh ke arah mulutnya.
"Tunggu! Jangan meminum susu itu, Kyuu-ni!" cegah Naruto pada Kyuubi. 'Untung susu itu masih utuh,,' batin Naruto.
"Kau kenapa Naruto? Mengganggu saat santaiku saja," ucap Kyuubi santai sambil menyesap susu itu. Naruto hanya bisa terdiam karena kagetnya.
Mengerutkan dahinya, Kyuubi merasa ada yang aneh dengan rasa susu itu. 'Mungkin susu ini agak sedikit basi,' batin Kyuubi meyakinkan diri.
Terbangun dari rasa shocknya, Naruto bersuara. "Kyuu-ni? Itu susuku?" ucap Naruto takut-takut. Ucapannya malah terdengar seperti kalimat tanya bagi Kyuubi.
"Iya aku sudah tahu kalau ini susumu, ibu yang memberitahuku," jelas Kyuubi acuh.
Di saat Kyuubi menyeruput untuk yang kedua kalinya.
"Bukan itu maksudku. Itu susuku. Air susu yang dihasilkan oleh tubuhku," aku Naruto, merasa harus menyampaikan kebenaran.
Brushh!
Kyuubi menyemburkan susu itu kembali di dalam gelas ketika paham apa yang dimaksud oleh Naruto. Sebagian susu yang disemburkan Kyuubi tumpah membasahi karpet.
"Hiy, Kyuu-ni jorok!" teriak Naruto mengamati kekacauan yang dibuat oleh Kyuubi. Muntahan Kyuubi tercecer di mana-mana.
"APA?" teriakan Kyuubi membuat Naruto menutup telinganya.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi!" teriak Kyuubi marah, merasa pemuda terganteng paling nista di abad ini. Bagaimana tidak, jika yang kau minum adalah air susu saudaramu sendiri.
"Aku bukan golongan incest!" seru Kyuubi tiba-tiba.
'Ehh?' batin Naruto mendengar pernyataan Kyuubi, merasa bingung dengan pernyataannya barusan.
Pusing bercampur mual membuat Kyuubi sedikit memijit pangkal hidungnya. "Duduk, Naruto," perintah Kyuubi mencoba menenangkan dirinya.
Melihat Kyuubi duduk di sofa ruang itu membuatnya mau tak mau ikut terduduk. Naruto memilih duduk di sofa terjauh dari tempat Kyuubi, takut terkena kekerasan fisik jika duduk terlalu dekat dengannya.
Tidak berani menatap Kyuubi, pandangan Naruto hanya tertuju pada segelas susu yang diletakkan Kyuubi di atas meja.
"Bagaimana ini bisa terjadi Naruto? Tidak biasanya kau berbuat demikian," kata Kyuubi, tajam.
Diamnya Naruto membuat Kyuubi geram kembali. "Tatap mataku, Otouto!" seru Kyuubi.
Naruto mengangkat kepalanya menatap Kyuubi, mencoba memberanikan diri..
"Ceritakan Naruto, semuanya!" titah Kyuubi, mutlak. Di saat Naruto mulai membuka mulutnya, Kyuubi terdiam mendengarkan.
.
.
Sesaat kemudian di ruang baca, kediaman Namikaze
Suasana ruang baca menjadi sepi setalah lima menit berlalu Naruto selesai menjelaskan semuanya pada Kyuubi
"Jadi Uchiha mana yang membantumu?" tanya Kyuubi.
"Um,, Sasuke Uchiha? Memang Kyuu-ni mengenal berapa orang Uchiha?" tanya Naruto balik.
'Sasuke Uchiha? Adik Uchiha-sensei? Dunia memang sempit sekali. Dari semua orang kenapa mereka harus saling berurusan?' tanya Kyuubi berulang kali dalam batin. Dia merasa harus segera menghubungi Itachi besok, secepatnya.
Melihat Kyuubi terdiam membuat Naruto merasa bersalah. Karena lagi-lagi dia telah merepotkan keluarganya.
"Maafkan aku, Kyuu-nii," Naruto menyesal.
"Jika kau menyesal, kenapa harus dua kali kau mau menerima bantuan Uchiha itu? Kenapa tidak meminta Gaara saja?" sahut Kyuubi setengah berteriak. "Kau tahu banyak orang di luar sana yang berpotensi untuk mengganggumu," lanjutnya.
"Tapi Kyuu-ni, Sasuke tidak begitu!" bantah Naruto.
"Bagus, bahkan kau sekarang memanggil nama kecilnya! Kau menyukainya? Kenapa tidak sekalian berpacaran dengannya dan putuskan gadismu itu, Naruto? Siapa nama pacarmu? Namanya Fū, kan?"
Mendengar perkataan terakhir Kyuubi membuat hati lelaki Naruto tersakiti. 'Jika kau seperti diriku, maukah kau putus dan Hana-san, eh Kyuu-ni?' batin Naruto sedikit perih.
"Aku tidak ada perasaan khusus padanya. Lagi pula aku sangat menyayangi Fū. Aku tidak mau putus," tanpa berpamitan Naruto beranjak pergi dari hadapan Kyuubi.
_ page break _
Naruto masih terdiam saat ia memasuki ruang makan.
"Naruto, dimana kakakmu? Cepat panggil dia!" perintah Kushina yang diacuhkan begitu saja oleh Naruto.
'Apa mereka bertengkar gara-gara susu tadi?' batin Kushina bertanya-tanya. Tak lama kemudian Kushina melihat putra sulungnya memasuki ruang makan dengan wajah tak kalah mendungnya dengan Naruto.
Suasana makan malam di kediaman Namikaze hari ini terasa aneh.
"Yah, Bu. Aku sudah selesai makan. Terima kasih makan malamnya, aku permisi dulu," pamit Naruto. Untuk sementara ia tidak ingin melihat Kyuubi yang baru saja bergabung di meja makan. Sedikit tergesa Naruto kembali ke kamarnya.
"Naruto? Kau belum habiskan makananmu, Nak!" panggil Kushina.
"Biarkan saja dia, Bu. Dia memang kekanakan," gumam Kyuubi.
"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Minato.
"Tidak, Yah," jawab Kyuubi.
"Jangan berbohong Kyuu. Ibu tahu, pasti kalian bertengkar gara-gara susu itu," tebak Kushina.
Mendengar kata susu membuat Kyuubi menghentikan kegiatan mengunyahnya dan meminum air sebanyak-banyaknya. Tidak ingin mengingat rasa susu ajaib itu lagi.
"Yah, kapan kira-kira Naruto akan dioperasi?" tanya Kyuubi.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu, Kyuu?" tanya Minato.
"Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan bila melihatnya terus menderita," aku Kyuubi.
"Naruto tidak akan dioperasi. Dia terlihat normal. Aku yakin Naruto anak yang kuat menjalaninya," ucap Minato.
"Kenapa Ayah bisa mengatakan itu? Bukankah membuat Naruto sembuh jauh lebih penting? Apa uang yang kita kumpulkan selama ini masih belum cukup untuk biaya operasi?" tanya Kyuubi bertubi-tubi.
"Tenanglah Kyuubi," kata Minato setelah melihat air mata Kushina mulai tergenang.
"Bagaimana aku bisa tenang, Yah? Jika terus seperti ini jiwa Naruto yang akan terganggu nantinya bukan hanya fisik saja!" seru Kyuubi dengan tangan yang mulai gatal untuk menggebrak meja. Kyuubi takut Naruto berubah menjadi menyimpang setelah mendengar cerita Naruto di ruang baca tadi.
"Kyuubi..," panggil Kushina, matanya sudah sedikit berkaca-kaca.
"Kita harus secepatnya mengoperasi Naruto, Bu!" sahut Kyuubi ngeyel, tetap mempertahankan pendapatnya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan Naruto untuk dioperasi, Kyuu!" seru Minato geram.
"Terima kasih atas makan malamnya," merasa tidak akan mendapat titik terang masalah ini sebaiknya Kyuubi mengakhirinya dan segera mendinginkan kepala di kamarnya.
_ page break _
Pertanyaan Itachi membuat Sasuke kepikiran dengan apa yang tengah dirasakannya.
Setelah Sasuke menceritakan segala hal yang dialaminya akhir-akhir ini pada Itachi namun minus rahasia Naruto, Sasuke semakin bimbang.
'Benarkah apa yang dikatakan Itachi? Benarkah ini bukan penyakit biasa?' batin Sasuke masih bertanya-tanya.
Merasa sumpek dengan pikirannya sendiri, Sasuke membuka laptop dan earphonenya. Berniat untuk bermain game online untuk melupakan masalahnya sementara.
Saat koneksi internetnya tersambung, bukannya segera membuka akun pribadi gamenya tangan Sasuke terasa gatal untuk mengetikkan sesuatu yang lain di salah satu mesin pencarian.
GEJALA HIPERTENSI
Tak lama kemudian laman yang sarat akan info medis itu terbuka menampilkan sederet informasi yang Sasuke cari. Satu persatu dibacanya gejala-gejala penyakit itu.
"Sakit kepala? Tidak. Pusing? Tidak juga. Mudah kelelahan? Tidak. Perdarahan dari hidung? Ya.. kalau ini hampir, sih. Wajah kemerahan? Sepertinya iya kurasa," gumam Sasuke mencoba tanya jawab itu sendirian.
Sasuke membaca lagi tulisan yang masih terdapat di laman itu, "Hipertensi biasanya diderita orang-orang yang berusia di atas 18 tahun dengan tekanan darah di atas 120/80."
Merasa masih berusia di bawah 18 tahun dan malas sendiri mengukur tekanan darahnya. "Yang benar yang mana, nih?" gumam Sasuke lagi.
Belum mendapatkan jawabannya, Sasuke mengetikkan key word lainnya di mesin pencarian yang sama.
BERDEBAR DI DEPAN SESEORANG
Dari berbagai pilihan laman yang tersedia entah kenapa Sasuke tertarik pada halaman yang berbau tentang percintaan. 'Aku pasti gila, mau-maunya terpengaruh aniki,' batin Sasuke kesal.
Saat laman yang dipilihnya telah terbuka, Sasuke segera membaca satu demi satu kata-kata yang terdapat di dalamnya.
"Berdebar saat orang tersebut ada di depan kita? Check! Sering tersenyum dan bersemangat tanpa disadari ketika kita sedang membayangkan seseorang? Check! Tidak sabar ingin selalu bertemu dengan orang tersebut? Check! Hatinya berubah lembut dan mau melakukan apa pun untuk membantu orang tersebut? Walau malas kuakui, sepertinya ini juga benar. Mendadak jadi orang yang perhatian? Ini juga iya," setelah membaca tulisan tersebut Sasuke terdiam.
"Jika anda selalu menjawab iya pada hampir semua pertanyaan di atas maka menandakan bahwa saat ini anda sedang jatuh cinta kepadanya."
Sejenak Sasuke meresapi kesimpulan tesebut, merasa tak tahan lagi ia pun beranjak meninggalkan kamarnya.
_ page break _
Malam itu waktu dihabiskan oleh Itachi untuk melamun. Menatap dua figura yang ia pajang di samping kasurnya. Masing-masing berisi seseorang yang pernah menempati hatinya, walau hanya sekejap.
Tok,tok, tok.
"Hn?" tanya Itachi sekenanya, ia sedang malas untuk bertemu dengan orang lain.
"Aniki?" sapa seseorang dari luar pintu kamarnya.
"Masuklah, Sasuke. Pintunya tak dikunci," jawab Itachi.
Tok,tok, tok.
Mendengar ketukan itu lagi, Itachi segera beranjak menuju pintu.
"Tidak biasanya kau menemuiku malam-malam, Sasuke," sapa Itachi begitu membuka pintu kamarnya dan mendapati wajah masam Sasuke.
"Bagaimana rasanya jatuh cinta?"
Mendengar pertanyaan tiba-tiba Sasuke membuat Itachi tanpa sadar menoleh ke arah meja di mana terdapat sosok di dalam figura yang di pandanginya beberapa saat yang lalu.
"Masuklah," perintah Itachi sambil menggeserkan tubuhnya untuk membiarkan Sasuke lewat.
"Gadis mana yang berhasil membuatmu jatuh cinta?" tanya Itachi.
"Bukan gadis, Aniki. Tapi pemuda yang tadi sore sedang bersamaku, kau tahu. Namanya Naruto Namikaze," jawab Sasuke jujur.
"Namikaze?" tanya Itachi, merasa familiar dengan nama tersebut.
_ page break _
"Sasuke-kun! Kali ini kau yang jaga ya! Harus!" teriak Sakura.
Mendengar suara Sasuke sudah menghitung mundur membuat gadis tujuh tahun itu semangat untuk bersembunyi.
Seperti anak sekolah dasar lainnya, Sasuke dan Sakura menghabiskan waktu liburannya dengan melakukan permainan ini. Namun kali ini tampak berbeda karena keluarga mereka tengah menyewa villa yang berada di tengah hutan. Mereka mengharapkan suasana tenang jauh dari kota besar mampu melupakan segala kepenatan yang dialaminya.
Saking semangatnya mencari tempk.t persembunyian membuat Sakura tidak sadar bahwa ia kini telah berjalan jauh memasuki hutan. Dia berharap Sasuke tidak bisa menemukannya.
Setelah menunggu beberapa saat yang diyakini Sakura bahwa Sasuke telah menyerah maka ia memutuskan kembali menuju villa yang kini masih akan ditinggalinya beberapa hari lagi.
Jalan kembali menuju villa itu tidak semudah yang dibayangkan oleh Sakura. Telah beberapa lama gadis kecil itu terus berjalan namun tak kunjung sampai ke tempat tujuannya.
Sejak menjauhi lokasi permainan petak umpet, Sakura tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang tengah mengikutinya. Sepertinya mereka menunggu kesempatan pewaris Haruno itu untuk menjauhi villa.
"Apa kau ingin pulang ke villamu, Haruno?" Sakura melihat salah satu dari ketiga orang yang berjalan ke arahnya.
"Siapa kau?" tidak menjawab pertanyaan pria gendut yang baru saja bertanya padanya.
"Ikutlah bersamaku, kau akan kuantar," tawar seseorang lagi yang tidak berambut.
"Siapa kau. Aku tak percaya kalian," menjadi salah satu anak pebisnis sukses membuat Sakura terlatih untuk tidak percaya pada orang asing.
"Aku bisa menemukannya sendiri," Sakura berlari menjauh, berharap mereka tidak mengejarnya.
"Sepertinya gadis ini cukup sulit untuk didapatkan," si gendut meminta pendapat rekannya.
"Kita paksa saja dia" jawab si botak memberi seolusi.
Sedikit mendengar percakapan mereka membuat Sakura berlari semakin jauh.
"Kau harus ikut dengan kami. Si tua Haruno itu pasti sangat sedih jika putri kecilnya ini dirusak," si gendut memaksa sambil menarik lengan Sakura.
"Dia harus merasakan kehilangan seperti yang kita rasakan," sahut seseorang lagi yang berjambang, mencoba merobek pakaian yang dikenakannya.
Tidak ada yang dapat Sakura lakukan selain memberontak dan berteriak ketika mereka mulai melucuti pakainnya.
"AAAA!" teriakan Sakura melengking, membuatnya terbangun sendiri dari tidur.
Sakura sedikit lega saat mendapati dirinya berada di dalam kamar yang bernuansa pink, kamarnya sendiri. Dia sedikit menggigil ketika teringat masa lalu yang kini hadir menjadi mimpi buruknya. Tubuhnya sampai dibanjiri oleh peluh. Untuk menenangkan dirinya ia mengambil air putih yang terletak di meja samping ranjangnya.
Meraih ponsel di samping bantalnya Sakura mengecek waktu saat ini. Mengetahui bahwa sebaiknya ia harus segera bergegas bersiap ke sekolah. Sakura beranjak dari kasurnya untuk segera mandi.
Merasa teringat sesuatu, Sakura meraih telepon pribadi yang ada di kamarnya. "Bi, hari ini aku ingin sarapan pancake," kata Sakura tanpa basa-basi dalam satu hembusan nafas ketika nada tunggu tak lagi terdengar.
_ page break _
Pagi hari itu tidak ada percakapan yang terjadi antara Kyuubi dan Naruto dalam perjalanan ke Konoha High School. Semenjak kejadian di ruang baca kemarin malam keduanya tidak saling bertegur sapa.
Sebenarnya mereka berdua sering bertengkar mulut namun tudingan Kyuubi kemarin benar-benar membuat Naruto kesal padanya. Ketika mereka telah sampai di tujuan, sambil menggumam terima kasih Naruto langsung beranjak dari mobil yang dikendarai Kyuubi.
"Nanti sore ku jemput lagi," kata Kyuubi sebelum Naruto beranjak menjauh. "Maaf, untuk yang kemarin," sambung Kyuubi. Sebelum Naruto sempat membalasnya Kyuubi langsung tancap gas meninggalkan Naruto.
Ucapan Kyuubi membuat Naruto sedikit menarik kedua bibirnya untuk tersenyum. Seperti biasanya, lagi-lagi Naruto tidak bisa berlama-lama marah pada kakak tsunderenya itu. Dengan senyum yang masih melekat di wajahnya Naruto memulai perjalanannya kembali memasuki sekolah.
_ page break _
Sasuke sengaja datang ke sekolah lebih pagi dari pada biasanya hari ini. Tujuannya tak lain bukan adalah untuk segera menemui Naruto.
Setelah mendapat sedikit pencerahan dari Itachi membuatnya tak sabar untuk sedikit mencoba saran dari kakaknya itu. Detak jantungnya memacu dua tingkat lebih cepat saat melihat obyek yang dinantikannya berjalan menuju tempat uwabaki sekaligus loker para siswa itu.
'Cinta atau nafsu, huh?' batinnya skeptis pada dirinya sendiri kemudian melangkah menuju Naruto ketika senpainya itu sudah berganti sepatu.
"Hei, Sasuke!" sapa Naruto ketika mengetahui Sasuke berjalan ke arahnya.
Bukannya membalas sapaan dari Naruto, Sasuke terus berjalan mendekati pemuda rambut kuning itu. Saat jarak mereka berada dalam jangkauan dia menarik paksa lengan Naruto.
"Apa yang kau inginkan?" bentak Naruto ketika mendapati Sasuke menyeret paksa dirinya. Suara kerasnya mengundang perhatian beberapa saksi mata atas tindakan aneh Sasuke.
Kekuatan Naruto tak perlu diragukan lagi mengingat dia ini adalah ketua klub di salah satu kegiatan bela diri di sekolahnya. Namun tingginya jam terbang Sasuke dalam hal adu jotos membuat kekuatan yang dimiliki Naruto tidak ada apa-apanya.
Walaupun enggan tapi dengan terpaksa Sasuke menyeret siswa kelas tiga itu ke koridor yang terkenal sepi di pagi hari. Merasa senang bahwa tidak ada seorang pun yang menghentikan sikap kasarnya pada Naruto. Sasuke menatap sekilas Naruto yang masih bergerak hebat mencoba bebas. Tanpa ragu Sasuke memepet Naruto di depan loker dan langsung mencium bibirnya.
Dengan mata terpejam Sasuke memulai mencium Naruto dengan kecupan ragu-ragu. Memanfaatkan diamnya Naruto yang masih terkejut membuat Sasuke semakin berani melumat ganas bibir yang pernah dirasakan sehari sebelumnya itu. Tidak mendapat respon dari Naruto, bibir Sasuke mengapit bibir Naruto dan mengemutnya beberapa kali. Bibir bagian atas Naruto mendapat perlakuan serupa setelah Sasuke melepas bibir bagian bawahnya. Sasuke sengaja melakukan lumatan yang lama karena yakin tak lama lagi pertahanan Naruto akan melemah.
Sesuai dugaan Sasuke, mulut Naruto kemudian terbuka untuk mengambil nafas. Hal ini tidak disiakan oleh Sasuke dengan segera melesakkan lidahnya ke dalam rongga hangat itu. Benda lunak itu mengabsen gigi rapi Naruto di setiap sudut mulutnya. Bosan dengan apa yang dilakukannya, lidah itu menyentuh lidah hangat Naruto dan mencoba mengajaknya berdansa.
Sasuke selalu menikmati momen-momen seperti ini. Dimana semua gadis selalu kepayahan saat dicium olehnya. Hal-hal itu selalu berhasil membuat ego Sasuke semakin meningkat sebagai seorang alpha yang mampu membuat siapa pun menjadi submisif dan bertekuk lutut oleh tindakannya. Namun mencium mereka tidak sampai membuat dada Sasuke berdebar seperti ini. Mencium Naruto terasa luar biasanya olehnya, alih-alih merasakan tubuh halus dan ringkih seorang gadis ia merasakan tubuh Naruto yang jauh sekali dari deskripsi tersebut. Keras tapi tetap terasa lembut semakin membuat Sasuke semakin liar menciumnya.
Dada Sasuke yang menempel dengan dada Naruto terasa bergemuruh hebat. Entah debaran jantung siapa, ia tak peduli lagi. Setelah mendapat petunjuk dari Itachi, dia baru sadar bahwa debaran di jantungnya bukanlah hipertensi. Ini terjadi karena adrenalin mengalir dengan kuat di dalam pembuluh darahnya sehingga membuat jantungnya menggedor-gedor seakan ingin keluar dari rongganya. Hal ini membuat Sasuke yakin bahwa yang sedang ia rasa selama ini adalah nafsu. 'Ya, nafsu akan Naruto yang sebentar lagi akan berubah menjadi cinta,' batin Sasuke yang semakin bergairah.
Bola mata safir Naruto terbelalak ketika mendapatkan aksi yang tak pernah diduganya. Tidak terbiasa mendapat ciuman di bibir membuat Naruto kesulitan untuk bernafas lewat hidung. Dugaan Naruto tidak salah mengira Sasuke sebagai tukang cium. Tindakan Naruto membuka bibirnya untuk bernafas membuatnya menyesal karena hal ini justru membuat Sasuke semakin berani memasukkan lidah ke dalam mulutnya. Naruto merasakan lidah Sasuke persisten mengajaknya bermain. Jengkel karena terus menerus dipermalukan olehnya, Naruto pun menggingit benda kenyal itu sehingga rasa besi langsung terasa di indra pengecapnya.
Gigitan Naruto mampu membuatnya berhasil mendorong Sasuke menjauh. Dapat dilihatnya benang saliva kemrahan terjalin di antara bibir mereka saat ciuman itu terlepas. Dengan wajah memerah dan nafas putus-putus, Naruto siap memaki pemuda mesum itu.
Tidak ingin membiarkan Naruto kabur, Sasuke mengunci tubuh Naruto termasuk tangan dan kaki dengan tenaga lebih ekstra. Menyondongkan tubuhnya ke depan, Sasuke berniat mencium kembali Namikaze bungsu. Namun ciuman Sasuke kini mendarat di pipi bukan di bibir. Naruto segera menolehkan kepalanya ke samping sebelum Sasuke mencium bibirnya lagi.
"Aku memang ingin kau mengajariku berciuman. Tapi apa kau harus menciumku di bibir?" desis Naruto pelan, takut keadaan mereka saat ini diketahui orang lain. Bagaimana pun juga ini adalah hal yang memalukan baginya. "Lagi pula ini ciuman pertamaku di bibir, Sasuke," tambah Naruto, menghela nafas lelah.
"Kau salah, Naruto" kata Sasuke.
"Huh?" respon Naruto, wajahnya kini menatap wajah Sasuke yang ternyata juga merah sepertinya.
"Tadi adalah ciuman kedua kita," ungkap Sasuke. "Dan ini ciuman ketiga kita," lanjutnya lagi ketika lagi-lagi Sasuke menubruk bibir Naruto kembali.
_ page break _
Menjadi stalker Sasuke sudah menjadi hobi terbaru Sakura. Berada di sekolah lebih awal dan sedang tak ada pekerjaan membuat Sakura berniat mengekori Sasuke sampai bel masuk sekolah berdentang. Sakura tahu jika ia terlihat secara terang-terangan dapat membuat Sasuke makin marah padanya. Oleh karena itu, Sakura berhati-hati menyembunyikan diri dari pemuda Uchiha itu.
Dia terheran karena sudah setengah jam lamanya Sakura mengamati Sasuke yang berdiri di depan pintu lokernya sendiri. Semenjak datang ke sekolah Sakura sudah mendapati Sasuke dalam keadaan seperti itu, posisi menunggu seseorang. Wajah Sasuke terlihat putus asa dan sesekali Sasuke memegang dadanya, seperti merasakan sesuatu. Hal tersebut membuat Sakura semakin penasaran, siapakah gerangan yang sedang ditunggu Uchiha bungsu.
Penasaran Sakura terjawab ketika Sasuke melangkah meninggalkan spotnya menuju seseorang yang tak asing baginya, Naruto Uzumaki. Alis Sakura sedikit berkerut ketika Sasuke menarik kasar lengan Naruto dan sedikit menyeretnya menuju koridor yang masih sepi. Tidak tinggal diam, Sakura mengendap-ngendap mengikuti mereka dan berharap kehadirannya tidak disadari.
Mata Sakura terbelalak saat menyaksikan Sasuke menghimpit Naruto dan melumat ganas bibirnya. Ciuman beberapa saat itu membuat hati Sakura memanas. Tak kuat melihat mereka bercumbu, Sakura berbalik arah dengan mata berkaca-kaca. Dengan langkah menghentak-hentak Sakura meninggalkan tempat persembunyiannnya, dia tak peduli bahwa mereka akan menyadari kehadirannya. Yang Sakura pikirkan saat ini adalah segera menghubungi asisten ayahnya sekarang juga.
"Halo Bibi Anko. Kau sudah mendapatkan apa yang ku minta? Aku ingin data-data itu sekarang juga. Aku tidak peduli bagaimana pun caranya dalam satu jam data itu sudah harus di tanganku."
_ to be continued _
Catatan:
Rumus federer:
(t-1)(n-1) ≥ 15
(4-1)( n-1) ≥ 15
3(n-1) ≥ 15
n-1 ≥ 15/3
n ≥ 5 + 1
n ≥ 6
Keterangan:
t = jumlah perlakuan (4 perlakuan)
n = jumlah replikasi atau ulangan
penggunaan hewan coba dalam penelitian biologi : pernyataan ini saya dapat dosen zoologi. Beliau berpendapat jika topic of interestnya adalah zoologi jadi sebaiknya orang biologi menjadikan hewan sebagai obyek penelitiannya.
Dosis: jumlah atau takaran zat yang sengaja diberikan kepada pasien dalam satuan berat, isi (volume) atau unit.
Akut: pemberian zat kimia sebanyak beberapa kali dalam jangka waktu 24 jam.
Jangka pendek : pemberian zat kimia berulang-ulang (setiap hari) selama jangka waktu kurang dari 10% masa hidup hewan coba.
Bunting: istilah umum untuk menyatakan hewan coba yang hamil.
Galat : sumber variasi data yang tidak dapat dimasukkan ke dalam model. Semakin besar nilai galat dapat membuat nilai data yang dihasilkan menjadi diragukan. Semakin banyak dilakukan pengulangan diharapkan simpangan data dan nilai galat akan semakin kecil
LD50 (Lethal dose 50) : dosis tunggal suatu zat yang secara statistik diharapkan dapat membunuh 50% hewan coba.
µl (dibaca: mikroliter): satuan yang setara dengan 10-6 liter.
PDA (Public Display of Affection): menunjukkan emosi pada orang yang dikasihi di tempat umum. Biasanya dilakukan oleh sepasang kekasih, namun tak jarang dilakukan oleh anggota keluarga, misalnya menggandeng tangan, memeluk, atau berciuman.
A/N : Maafkan ya sejauh ini kok rasanya alur cerita jadi lambat banget. Saya usahakan chapt ke depan tidak seperti ini lagi.
Masih saja ada typo? Bingung ada banyak karakter lewat? Berbagai pertanyaan, kritik, kesan, dan saran juga dibuka untuk perbaikan fict ini ke depannya.
Apalah arti author abal ini tanpa dukungan kalian, para pembaca yang budiman #apabanget. Terima kasih sudah mau mampir dan membaca fict aneh ini. Oh iya, saya akan tambah senang jika teman-teman mau meluangkan waktu mengisi kolom review di bawah ini.
Sampai jumpa di chap depan.
Salam
aurantii13
Sekilas chapter berikutnya:
Sebal dengan tingkah Sasuke, Naruto mendesis tajam, "Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti mengikutiku?"
.
'Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan bocah itu,' batin Itachi.
.
"Game on. Rencana kita dimulai, Nii-san," gumam sosok misterius itu.
