Summary : Kehidupan Naruto Namikaze yang terlihat biasa saja meskipun tidak biasa menjadi berubah ketika juniornya di sekolah, Uchiha Sasuke, tengah memergokinya sedang melakukan sesuatu di toilet sekolah! Warn: BxB, SN.
A/N : Halo teman-teman pembaca! Saya aurantii13 telah kembali dari untuk memberikan chapt terbaru pada pembaca semua. Setelah laptop saya yang sembuh kini giliran saudara saya yang terkena sakit. Membuat kami sekeluarga gantian bertugas jaga. Jadi chapt ini saya buat nyicil sedikit demi sedikit sampai akhirnya saya edit lagi secepat mungkin untuk disempurnakan, walau sebenarnya masih banyak kesalahan di sana sini. Saya minta maaf sekali karenanya, #bungkukdalem. Chapt selanjutnya sudah dalam proses pengeditan untuk itu saya minta doa dari semuanya agar dilancarkan pengerjaannya.
Saya berterima kasih karena masih banyak teman-teman yang masih setia mengikuti cerita abal ini begitu juga pada pembaca yang baru bergabung.
Sebagai ungkapan terima kasih saya, pada kesempatan ini saya akan membalas review dari teman-teman pembaca. Jika ingin, bagian ini dapat langsung diskip kok. :3
zukie1157: halo, makasih sudah review. Iya sakura ada di sini kok. Sakura cukup berperan di cerita ini, jadi jangan kaget ya kalau dia sering muncul. Hehe..
SNlop: makasih sudah mau review lagi. Iya mereka bertunangan salah satunya karena itu. Kalau cemburu semua cara pasti dilakukan, kan? Hehe..
intan. pandini85: makasih reviewnya. Iya niatnya sakura memang seperti itu. Ini sudah lanjut, maaf lama. Ayo kita lihat di chapt ini apa semua rencana sakura berhasil? #promosi
hanazawa kay: iya, dong. Kalau soal semangat, Sasuke selalu nomer satu. Naruto selalu baik-baik saja karena banyak yang sayang sama dia . Makasih sudah suka dan kasih review.
uzumakinamikazehaki: makasih reviewnya. Alasan minato gak menyetujui operasinya naruto sebenernya demi kebaikan naruto sendiri. Ia gak ingin putranya makin sengsara. #spoileralert. Maaf kalau jawabannya ngegantung. Hehe..
zadita uchiha: iya Sasuke seagresif banteng yang siap perang, hoho.. naruto masih berpikir polos soalnya dia nganggep cuma sasuke ngejahilin dia. Jadi sebenernya naruto gak hanya diam saja, dia bisa marah sama sasuke. nanti ada itakyuu kok, semoga saya bisa sukses menjodohkan pair ini. ini sudah saya lanjut kok, moga suka. Makasih ya sudah review.
Ryuusuke583: oalah jadi gak bisa reviewnya karena internet ya? Kalau sulit buka ff saya sarankan diutak-atik IP adressnya saja ini sudah saya lanjut chapt barunya, maaf ya kalau lama. Makasih sudah review.
Dewi15: makasih reviewnya. Iya ini sudah saya update, moga gak penasaran lagi .
Kagaari: wah makasih pujian sama reviewnya ya. Iya kasihan sakura, gara-gara ayahnya ia sampe dilakuin seperti itu.
kimjaejoong309: salam kenal juga kim-san! Makasih sudah review, gak apa-apa baru review. Banyak tanya juga gak apa kok. Semoga sejauh ini bisa suka sama fict aneh saya. Sasuke yang saya bikin ooc seru, kan? #hebohsendiri. Jadi ceritanya sasuke itu hobi main cewek di sini, tapi gak pernah serius sampe deg-degan gitu. ciuman pertama sasuke bukan sama sakura kok, #ups. Sikap sakura di sini karena tuntutan peran, semoga ke depannya saya bisa buat dia jadi tokoh yang baik. iya naruto dari keluarga sederhana. Maaf lama updatenya, silakan dibaca chapt baru ini.
Fuuin SasuNaru: wah makasih sudah bilang keren. Saya pengennya bisa SKS lagi, semoga saja bisa terlaksana. Kalau sasuke nafsu, kan naruto juga seneng, #eh. maklum sasuke penuh semangat masa muda, jadinya suka nafsu gitu kalau lihat naruto. nanti ada itakyuu kok. Minato kerjanya di perusahaan iklan, tapi hidupnya sederhana. Ini sudah saya update, moga kamu suka. Makasih reviewnya.
akarasuki: halo! Iya ini update lagi. Sasuke suka nafsu sih, jadinya main paksa gitu. jangan langsung tindih, ya sasuke. Nanti ceritanya cepet selesai, #lhah. Makasih sudah review.
Atikahime fujo: sasuke rajin banget main garap, apalagi kalau itu bibir naruto . naruto masih belum boleh naked, hehe.. makasih reviewnya.
Eve: makasih reviewnya. lemon? Ada kok, nanti saya sediakan . Sasuke sudah sadar kalau dia suka naruto, tapi kalau cinta dia masih ragu sama hatinya, #apabanget. Ini sudah saya lanjut, semoga suka.
saphire always for onyx: konbanwa! #lirikjam. Iya dong ada banyak, kalau sempat nanti saya banyakin lagi konfliknya. #diinjek. Sakura bukan orang jahat kok, ini semua karena ia cemburu. Semoga nanti saya bisa ngebuat dia jadi karakter yang baik . Ini sudah dilanjut, moga suka. Makasih ya reviewnya.
Namikaze Yuki: iya akhirnya update juga, #sayajugaikutsenang. Hayo, maunya naruto dioperasi atau gak ya? Sasuke dibiarkan saja, gak ada susu dia tetep suka naruto, kok. #semoga. Hehe.. sakura berusaha nge-bully naruto gitu. ayo dibaca di chapt ini, berhasilkah ia? #promosi. Sebenarnya saya juga suka alur lambat, soalnya tiap detiknya begitu berharga, #apasih. Ini sudah saya update, semoga suka. Maksih reviewnya.
Aiko Michisge: iya sudah lanjut, moga suka ya! Makasih reviewnya.
ana. karina. 12576: wah ketinggalan chapt 3 ya? Gak apa-apa kok, dinikmati saja ceritanya . Sakura memang saya buat seperti itu, hoho.. teman kyuubi, omoi punya peran lho. Jadi lihat aksinya di chapt ini. #promosi. Iya kasihan naruto, dia yang jadi korban. Makasih ya sudah review.
FujoDeviLZ10: makasih sudah review. iya makin parah nih sasu, kasihan narunya. Minato sayang banget sama naruto jadi dia gak ngebolehin operasi. #warningspoiler. Ini sudah saya update, semoga suka ;)
versetta: makasih ya reviewnya. iya saya juga suka sama sasunarunya, #bahagia. Deskripsi third kissnya saya serahkan pada imajinasi anda dan teman-teman pembaca lainnya. Terserah naru mau diapain, #dilindes
AprilliaArdeta: pertama: ayo kita ngadain syukuran, sasuke sudah sadar, lho. #lhah. Narutonya masih punya pacar, jadi dia gak nganggep sasuke apa-apa gitu. kedua: jangan benci sakura ya, ada masanya dia gak jahat kok. Dia juga jadi korban . Kita lihat saja di chapt ini, rencananya berhasil atau gak, #promosilagi. Iya gara-gara sasuke juga sekarang dia jadi tunangan sama sakura, tapi sayangnya sakura ke dia beneran kok. Ketiga: omoi memang mencurigakan, ayo kita baca sepak terjangnya di chapt ini, #promosilagi. Makasih sudah review.
iche. cassiopeiajaejoong: iya akhirnya sasuke sadar juga kalau dia suka naruto . Sebenernya hal itu juga jadi alasan mereka tunangan. Iya semangat! Ini sudah lanjut. Makasih sudah review.
RevmeMaki: iya baru baca juga gak apa-apa kok. Tapi sudah selesai kan uts-nya? Saya buat mereka punya pasangan karena di sanalah asyiknya mainin drama, hehe.. eh, tapi gak gitu juga kok alasannya. Operasinya naruto masih banyak pertimbangan, bisa iya, bisa enggak, #yangmananih. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik buat mereka . Fict ini ada kemungkinan di bawah 10 chapter. Sekarang sudah saya lanjut, silakan dibaca. Makasih ya reviewnya.
Yuzuru Nao: teme jadi polos kan karena belum ketemu naru, hohoho.. yang ke empat? Tentu saja ada . sepertinya naru bakal lupa mereka sudah ciuman yang ke berapa kalinya. Maaf ya saya buat antagonis yang main stream di sini, habisnya sakura kandidat yang terkuat suka ke sasuke. ini sudah saya lanjut, semoga suka. Makasih ya reviewnya.
Joonie Kim Kyusung: iya sama-sama, makasih juga sudah review. Sakura akan selesai beraksi kalau sudah kena batunya, kok. Jadi mohon kesabarannya dengan sakura ya . Sudah saya update, silakan dibaca. #bungkuk90derajat
ChubbyMinland: wah makasih sudah review tiga chapter sekaligus. Iya sasuke nih biangnya, ngerasa sok polos. Narutonya juga polos-polos giman gitu. semoga suka sama tingkah mereka. Silakan dibaca chapt terbaru ini.
OnyxShapphireLovers: asyik, saya sudah berhasil membuat anda penasaran. Ini sudah saya update walau gak kilat, hehe. Semoga suka ya. Makasih reviewnya.
Gui'sDark: makasih sudah mau muji fict saya. Saya senang bisa berbagi ilmu di sini. Kebetulan saya pernah belajar tentang hal itu, walau gak pahan sepenuhnya saya akan berusaha membuat tulisan yang terbaik. Narutonya polos karena dia gak pernah ngelakuin yang aneh, lain dengan sasuke yang ketahuan mesumnya, hehe.. jangan sebel sama sakura ya, karena dia sering muncul soalnya. Ini sudah saya lanjut, semoga suka. Makasih reviewnya.
gici love sasunaru: halo juga! Iya ini sudah saya lanjut. Selamat membaca, teman . Makasih sudah review.
andikayoga784: lemonnya ada kok, tapi gak tahu nanti bisa asem atau gak. Ditunggu saja ya. Makasih ya sudah review.
uchiha. emo10: iya gak apa-apa kok kalau lewat PM. Makasih ya reviewnya. Saya juga tidak akan tega ngebuat naruto terlukai. Ayo dukung sasunaru .
Disclaimer : Naruto dan semua chara yang terdapat di cerita ini adalah milik Masashi Kishimoto namun plot cerita murni karangan author. Author tidak mengambil keuntungan dari pihak manapun.
Genre : Romance, Sci/Fi
Warn : BxB, jika tidak menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan male relationship diharap tidak membaca fict ini, author tidak menanggung jika ada pembaca yang mual dan muntah karenanya. Bahasa tidak baku dan kadang sulit dimengerti. Banyak typo.
Rated : M (mengandung unsur dewasa, bagi pembaca di bawah umur disarankan tidak menirunya)
Pair : SN
Mohon maaf sebelumnya jika cerita ini kurang berkenan bagi kalangan tertentu. Untuk itu saya sarankan untuk segera menekan tombol "kembali".
Selamat membaca, teman-teman!
Sekilas chapt sebelumnya:
"Tadi adalah ciuman kedua kita," ungkap Sasuke. "Dan ini ciuman ketiga kita," lanjutnya lagi ketika lagi-lagi Sasuke menubruk bibir Naruto kembali.
.
"Halo Bibi Anko. Kau sudah mendapatkan apa yang ku minta? Aku ingin data-data itu sekarang juga. Aku tidak peduli bagaimana pun caranya dalam satu jam data itu sudah harus di tanganku."
Title : Ini Rahasia (by aurantii13)
Chapter 4
Rahang Sasuke masih terasa sakit saat digunakannya mengunyah makan siang hari itu. Menghentikan kegiatan makannya sejenak, Sasuke menggerak-gerakkan rahang bawahnya ke kiri dan kanan. 'Untung saja tulangnya tak geser,' batinnya sambil memposisikan tangannnya di area dagu.
"Penampilanmu kacau sekali, man!" komentar Kiba, menatap Sasuke. Setelah sesiangan ini mengikuti pelajaran, mereka bertiga, Sasuke, Kiba, dan Shikamaru, akhirnya dapat menghabiskan istirahat siangnya di atap sekolah.
Ucapan Kiba hanya dibalas dengan senyum sombong Sasuke. Tapi tindakan tersebut diikuti dengan ringisan sakit Sasuke setelahnya. Hasil pukulan seseorang kali ini memang tak main-main.
Bibir kiri Sasuke sedikit sobek dan kulit di sekitar rahang yang membiru. Kontras dengan penampilannya, Sasuke hari ini terlihat bahagia. Hal ini terbukti karena sejak pagi ia selalu membalas tiap orang yang menyapanya, walau dengan anggukan kepala. Sungguh hal yang jarang dilakukan oleh pemuda dingin macam Sasuke. Sekali lagi di mata Kiba, Uchiha hari ini terlihat sangat bahagia.
Melihat interaksi kedua temannya yang ada di samping kanannya, Shikamaru hanya menggumam kata merepotkan. Ia menyenderkan tubuhnya di tempat yang agak jauh dari Sasuke dan Kiba, Shikamaru menghisap rokoknya dalam-dalam.
Shikamaru sebenarnya tahu apa yang membuat mood Uchiha jadi sebaik ini, walaupun tak seharusnya merasa sebahagia itu. "Rasa itu memang merepotkan," gumamnya lagi agak keras namun tak terdengar oleh Sasuke maupun Kiba.
(flash back dimulai)
Shikamaru menyeret pelan kakinya di koridor yang mengarah ke kelas Temari, berniat apel pagi pada pacar seniornya itu. 'Pacaran di pagi hari tidak apa-apa, kan,?' kilah Shikamaru membela diri.
Sebenarnya hari ini dia merasa kesal karena tak bisa tidur lagi setelah bangun pukul 5 pagi, setelah apapun cara dia lakukan. Dengan mata masih setengah terpejam Shikamaru melanjutkan perjalanannya. Langkahnya terhenti ketika melihat dua sosok yang tampak tidak asing baginya.
Dari sudut pandangnya Shikamaru melihat pemuda dengan rambut hitam melawan gravitasi itu tengah mencium paksa seorang pemuda berambut pirang yang nampak enggan untuk membalasnya. Sasuke teman yang sejak kecil ia kenal sedang berbuat mesum dengan kakak kelas yang ia rasa seangkatan dengan Temari. Seingatnya pemuda itu bernama Naruto Namikaze.
Sesekali Sasuke membuka matanya untuk sekedar menatap Naruto. Lelehan saliva berwarna kemerahan mengalir di dagu. Namun hal itu seakan tidak membuat Sasuke jijik, ia justru menjilat habis saliva yang mengalir di dagu kakak kelas. Terkesan tak puas dengan ciuman dan kecupan bibir itu Sasuke melanjutkannya dengan mulai menciumi leher jenjang yang berada di hadapannya.
Walau malas untuk menonton mereka tetapi Shikamaru tetap tak bisa beranjak dari tempat itu. Bagaimanapun juga Sasuke adalah teman baiknya. Oleh karena itu ia berniat berjaga dan siap memberitahu mereka jika ada orang lain yang akan melintasi koridor itu.
Sekali lihat Shikamaru dapat langsung menebak bahwa sekarang ini Sasuke sedang mabuk asmara pada pemuda pirang itu. Tapi dia tidak bisa menerka apakah gayung asmara itu bersambut, dapat dilihat bahwa ciuman Sasuke tak mendapat balasan yang sama panasnya dari pemuda itu.
Sepertinya Sasuke benar-benar serius dengan sang kakak kelas. Dibuktikan dengan caranya mencium dan menggapit posesif tubuh yang lebih kecil darinya itu. Sasuke benar-benar memanfaatkan tubuh bongsornya. Bukannya ia asal tebak, walau sebenarnya tak ingin Shikamaru sering melihat adegan make out antara Sasuke dengan beberapa teman kencannya.
Sebelum ini Shikamaru tak pernah melihat Sasuke terlihat berakrab ria dengan pemuda itu melebihi hubungan senior-junior. Menggilanya Sasuke saat ini melebihi cumbuannya dengan gadis tercantik yang pernah ia lihat dan saat ini Shikamaru tak yakin bagaimana kabar mantan-mantan teman kencan Sasuke setelahnya. Semoga saja kali ini ketertarikan Sasuke dapat bertahan lama, jika tidak pemuda pirang itu yang akan kecewa.
Tidak ingin mengganggu privasi Sasuke lebih dari ini, Shikamaru memutuskan untuk membalikkan badannya dari adegan dewasa itu dan berharap Sasuke segera menyadari bahwa perbuatannya itu sangat tidak tahu tempat.
Harapan Shikamaru sepertinya terkabul karena tidak lama kemudian terdengar suara benturan keras yang membuat Shikamaru kembali menoleh ke arah mereka. Tidak ingin suasananya semakin rumit jika ia ketahuan mengintip, Shikamaru semakin merapatkan diri dengan bayangannya di tembok.
Pukulan yang diluncurkan sang senior sepertinya mengenai dagu Sasuke, Shikamaru mengiranya demikian karena Uchiha bungsu itu kini sedang memegang rahang bawahnya.
Sambil meneriakkan kata teme berulang kali, Naruto memukul dan menendang random area apa saja yang dijangkaunya. Mungkin karena sedikit merasa bersalah, Sasuke membiarkan diri diserang olehnya. Bukannya melawan, Sasuke malah menutup matanya dan senyuman senang tampak tersungging di bibirnya. Sepertinya tampak sangat menikmati.
Melihat tidak ada perlawanan dari Sasuke membuat pemuda pirang menghentikan aksinya. Secara kasar ia mencengkram kerah seragam Sasuke dan dengan kecepatan yang tidak diduga oleh Shikamaru ia berhasil membalikkan keadaan dan menghempaskan tubuh Sasuke ke dinding.
"Apa yang kau lakukan, Sasukeee?" Naruto berteriak dengan wajah masih memerah, tampak bahwa kesabaran sudah habis di dirinya.
"Menciummu?" Sasuke menjawabnya singkat.
"Sekali lagi kutanya kau. Apa yang kau lakukan, Sasuke?" Naruto bertanya kembali, kali ini dengan mengatur nafasnya.
"Sudah kubilang, bukan? Aku menciummu." Dengan wajah yang sama seperti sebelumnya Sasuke menjawab. Sasuke benar-benar minta dihajar.
"Apa- ah sudahlah," Naruto mencoba mengubah pertanyaannya. "Mengapa kau menciumku?"
"Karena aku menyukaimu," jawab Sasuke enteng, semudah orang yang menjawab jika yang ditanya tentang cuaca.
Mulut Naruto membuka menutup seperti ikan terlempar jauh dari airnya, seperti baru diajak untuk kawin lari saja.
"Maukah kau mencoba berkencan denganku?" tanya Sasuke.
"Kau gay," itulah jawaban yang bisa Naruto katakan, Shikamaru bahkan tak yakin kalimat itu adalah pertanyaan atau pernyataan.
"Aku tidak gay," jawab Sasuke, wajahnya berubah semakin serius.
"Lantas kenapa kau menyukaiku?" Naruto mengetes kebenaran yang dikatakan Sasuke. Remasan di kerah Sasuke semakin erat .
Berusaha untuk tidak tercekat karena sesak, Sasuke kembali bersuara. "Kau lelaki pertama yang aku sukai, Naruto. Tapi bukan berarti aku bisa menyukai pria selain kau." Perkataan Sasuke sarat dengan nada penjelasan.
"Jika kau menyesal, kenapa harus dua kali kau mau menerima bantuan Uchiha itu? Kenapa tidak meminta Gaara saja?" sahut Kyuubi setengah berteriak. "Kau tahu banyak orang di luar sana yang berpotensi untuk mengganggumu," lanjutnya.
Tiba-tiba Naruto terdiam saat teringat perkataan Kyuubi padanya tadi malam. Layaknya orang yang tersengat api Naruto kemudian melepaskan remasannya pada kerah dan menjauhkan dirinya dari tubuh Sasuke.
"Apa aku yang membuatmu seperti ini, Sasuke?" Naruto memandang nanar Sasuke. "Jika itu jadi beban untukmu, mulai sekarang aku tidak akan meminta bantuanmu, Uchiha," kata Naruto, kembali memanggil Sasuke dengan nama marganya.
"Tapi, Naruto-" di saat Sasuke mencoba menyelanya sebuah telunjuk jari menyentuh permukaan bibirnya.
"Aku mohon padamu agar tidak menceritakan apa yang telah kau ketahui. Jagalah jarak denganku," ucap Naruto sebelum ia menyingkir dari atas tubuh Sasuke dan pergi menjauhinya. Walau raut wajah Sasuke tak berubah tapi sorot matanya menunjukkan sedikit kilat kekecewaan ketika mendengar apa yang diucap Naruto.
Dalam perjalanannya Naruto berhenti sebentar dan menoleh ke arah Sasuke. "Aku anggap perlakuanmu hari ini adalah guyonan terburuk yang pernah kudapatkan." Kemudian ia kembali beranjak menuju ke arah toilet lantai itu.
Bola mata Naruto terbelalak saat menemukan Shikamaru berada di koridor yang sama. Mungkin karena merasa malu adegan memalukan tadi memiliki penonton wajah Naruto bersemu kembali dan semakin mempercepat langkahnya kemudian menghilang dari balik koridor.
"Sejak kapan?" Sasuke kembali bersuara tapi tidak menatap apapun. Kepalanya masih tertunduk semenjak Naruto menghilang dari koridor.
Shikamaru paham saat ini Sasuke mengajaknya berbicara. "Sejak kau bosan melumat bibir dan mulai menyerang lehernya." Dengan langkah lambat ia berjalan ke arah Sasuke yang sejak tadi tak berpindah dari posisinya.
"Kau gila, Sasuke. Apa yang ada di pikiranmu? Bagaimana jika ada yang melihat?" Shikamaru mengeluarkan uneg-unegnya.
"Aku pasti akan mendapatkannya. Lihat saja, Shika," ucap Sasuke tak nyambung, wajahnya masih menatap bumi.
"Kau selalu bilang begitu saat menemukan seseorang yang menarik, Sasuke," komentar Shikamaru.
"Tapi tidak untuk kali ini," tegas Sasuke, "Dia murni. Bahkan saking polosnya, aku ingin mengajarkan berbagai macam hal padanya," Sasuke menambahkan, menatap Shikamaru dengan menampilkan senyum miringnya.
Sasuke merogoh sapu tangan di kantungnya untuk mengelap jejak saliva yang masih membekas di bagian tubuhnya.
(flash back selesai)
_ page break _
Tidak seperti biasanya, hari ini mata selalu Kyuubi memandang intens ke arahnya. Hal ini sempat membuat Itachi berpikiran bahwa sepertinya materi ini tak tersampaikan dengan baik pada pemuda Namikaze. Bahkan sampai di ujung perkuliahan Kyuubi masih belum mengutarakan apa yang ingin di katakannya, seperti bertanya misalnya.
"Setelah ini temui saya di ruangan, Kyuubi." Itachi meninggalkan ruang kuliah tanpa menunggu jawaban dari Kyuubi. Ia bisa berucap demikian karena Itachi telah hafal jadwal kuliah kedua mahasiswa yang tengah mengikuti proyeknya.
Perkataan Itachi membuat mahasiswa yang ada di kelas itu sedikit gempar. Baru kali ini sang dosen memanggil mahasiswa dengan nama kecilnya. Membuat mereka bertanya-tanya.
'Ck, andai mereka tahu yang sebenarnya,' batin Kyuubi. Tak menghiraukan banyak tatapan heran tertuju di dirinya, Kyuubi segera meninggalkan ruangan.
Namun seperti biasa, walaupun kelihatannya ramah, mereka tetap tidak berani bertanya langsung pada Kyuubi. Karena Kyuubi selalu mengeluarkan aura yang membuatnya sulit didekati.
_ page break _
Semenjak mereka tiba di ruang sempit itu tidak ada satu orang pun yang sepertinya membuka suara. Itachi masih saja sibuk mengoreksi kuis hari ini dan Kyuubi hanya diam memandang meja yang ada di hadapannya.
Setelah ini ia akan ada jam, tak ingin berlama-lama akhirnya Itachi mencoba mengawali pembicaraan. "Apa yang ingin kau tanyakan, Kyuubi?"
"Apa Itachi-nii memiliki seorang adik?" Kyuubi bertanya dengan menatap wajah Itachi.
"Kenapa kau tahu aku memiliki seorang adik? Ya, saat ini dia masih kelas X." Itachi menjawab tanpa menunggu Kyuubi.
"Namanya Sasuke, bukan?"
Pertanyaan Kyuubi membuat Itachi sedikit terheran. "Kemana arah pembicaraan ini, Kyuu? Aku yakin ini pasti bukan sekedar tanya jawab biasa."
"Baik, Sensei. Aku minta tolong padamu untuk menyampaikan ini adikmu. Sebaiknya jangan dekati Naruto lagi," pinta Kyuubi langsung ke tujuan. Tanpa menunggu respon lama dari Itachi, Kyuubi segera undur diri dari hadapan Itachi.
"Kau berbuat apa lagi, Otouto?" Itachi bergumam sambil menyibak rambut liarnya ke belakang telinga.
Itachi tidak menyangka bahwa Namikaze yang dimaksud Sasuke adalah adik Kyuubi.
Niatan Itachi untuk mencari solusi yang terbaik bagi adiknya terpaksa harus ditunda saat mendengar suara ketukan di pintunya.
"Ya, silakan," ucap Itachi.
_ page break _
"Kenapa kau membeli strain germ free*, Omoi?" Itachi bertanya dengan suara meninggi. Ia sungguh tidak menyangga mahasiswanya ini akan membeli mencit dari jenis itu.
"Maaf Itachi-nii, mencit Balb/C* yang biasanya sedang kosong. Kita membutuhkannya segera jadi aku mengambil jenis yang ini," ucap Omoi sambil menatap puluhan mencit yang berada dalam dua bak plastik besar. Kini mereka berdua sedang berada di rumah hewan, tempat dosen atau mahasiswa yang sedang melakukan penelitian untuk merawat hewan cobanya.
"Tapi tujuan penelitian kita tidak harus se-steril itu. Kenapa tidak beli di tempat lain saja?" Itachi menyesalkan pilihan Omoi. Bagaimanapun juga harga strain germ free beberapa kali lipat lebih tinggi dari pada strain mencit yang biasa dia pakai untuk penelitian.
"Oke, kita pakai strain yang ini saja," putus Itachi akhirnya. "Tidak baik membuat hewan berpindah tempat dalam waktu dekat, mereka bisa stress. Ajak Kyuubi untuk membantu mengaklimasi mereka," Itachi menambahkan.
"Kyuubi tidak bisa membantuku hari ini. Dia memintaku menyampaikan izinnya padamu. Bahkan dia menitipkan surat izinnya padaku," Omoi menyerahkan sebuah kertas yang telah dilipat ke tangan Itachi.
"Apa isi suratnya?" Itachi membolak-balik, memperhatikan kertas yang berwarna lembayung itu.
"Kyuubi sudah berpesan tidak ada orang lain yang boleh membacanya selainmu," kata Omoi.
'Kenapa harus lewat surat? Jika tadi dia bisa langsung mengatakannya padaku' Menaikkan salah satu alis rapinya, Itachi membatin.
"Sebaiknya surat itu kau baca saat sendirian saja, Itachi-nii. Karena sepertinya wajah Kyuubi sedikit bersemu saat menyerahkannya padaku," saran Omoi ketika Itachi hendak membuka suratnya.
_ page break _
Sama seperti apa yang dikatakanya, semenjak kejadian tadi pagi Naruto berusaha menghindar di saat Sasuke mencoba mendekat. Seberapa pun niatnya Sasuke ia tetap tak bisa membuat pemuda blonde itu menanggapinya.
P.E* adalah satu-satunya pelajaran di mana kelas Sasuke berbagi lapangan yang sama dengan kelas Naruto. Jarak mereka hanya dibatasi oleh besi penghalang.
Sasuke yang tidak berniat untuk fokus pada pelajarannya sendiri masih saja sibuk memperhatikan Naruto.
Dari balik pagar pembatas Sasuke dapat melihat pemuda pirang itu tengah kepayahan dan merasa gerah. Meskipun sudah berulang kali berolah raga di lapangan yang sama namun baru kali ini Sasuke menyadari bahwa Naruto berulang kali memperhatikan baju yang dipakainya. Sepertinya ia berusaha tidak membasahi baju dengan keringatnya sehingga Naruto tidak terlalu aktif dalam melakukan pergerakan ini dan itu.
Sejak awal jam P.E Sasuke sudah berusaha mengajak Naruto berkomunikasi lewat tatapan matanya. Namun sepertinya masih belum ada tanggapan dari Naruto sampai di akhir pelajaran itu.
Sasuke menebak di akhir jam P.E pasti ada siswa yang menghampiri keran air di dekat lapangan mereka untuk melepaskan dahaganya, tak terkecuali Naruto.
Ternyata dugaan Sasuke benar, ternyata Naruto menghampiri keran minum itu. Merasa ini adalah kesempatan baginya untuk berbincang denganya maka Sasuke memberanikan diri menghampiri Naruto.
Entah mengapa keran air yang didekati oleh Naruto tidak dipakai oleh siswa yang lain. Sepertinya Naruto tidak tahu bahwa sebenarnya keran yang akan dipakainya itu sedang rusak. Karena tidak ada tanda peringatan yang menempel di tempat itu, langsung saja Naruto membuka saluran airnya. Tindakannya membuat air menyiprat liar ke arahnya dalam jumlah yang tak terduga.
Air yang mengenai Naruto telah membuat kaos yang dikenakannya basah dan menempel ke tubuh layaknya kulit kedua. Naruto sedikit panik karena ternyata kaos basahnya itu seperti mencetak bentuk dadanya. Gundukan pada kedua dada Naruto nyaris terlihat jelas.
Pluk.
Sebuah handuk putih melayang ke arahnya, reflek Naruto menangkapnya. Ia tersenyum ternyata ada seseorang yang membantunya. Namun senyumannya pudar ketika mendapati siapakah pemilik handuk itu.
Naruto meletakkan handuk itu di sekitar keran minum. Berniat tidak jadi memakainya.
"Pakailah itu Naruto," perintah Sasuke. Naruto tak bergeming.
Naruto melangkah mundur saat Sasuke berjalan mendekatinya. "Kenapa kau tak mau mendengarku?" tanya Sasuke.
Sebal dengan tingkah Sasuke, Naruto mendesis tajam, "Apa yang harus kulakukan agar kau berhenti mengikutiku?"
"Aku tahu kau membenciku. Tapi setidaknya terimalah bantuanku saat ini. Dadamu terlihat jelas." Ia menatap tajam tubuh Naruto. Setelah berucap demikian Sasuke beranjak pergi. Perkataan itu membuat Naruto secara tak sadar menangkupkan kedua lengan ke depan dadanya.
Kepergian Sasuke dari tempat itu membuat dua pasang mata berbeda warna menampilkan sorot emosi yang berbeda.
Bola mata safir Naruto memandang sendu ke arah tempat perginya Sasuke. Mengerti bahwa alasan itu ternyata ada benarnya juga membuat Naruto mengambil kembali handuk itu dan memakainya sebagai penutup dada.
Naruto berpikir jika Sasuke tidak berbuat macam-macam padanya mungkin mereka dapat menjadi teman baik.
Teringat bahwa ia masih memiliki kelas Naruto segera bergegas meninggalkan tempat itu.
Di saat yang bersamaan tanpa disadari, manik zamrud Sakura mengamati interaksi mereka dengan sorot penuh kecemburuan.
_ page break _
Pada hari itu kelas XII menyelesaikan pelajarannya lebih cepat dari biasa. Tentu saja sebagai pasangan kekasih, Naruto dan Fū tidak bisa melawatkan momen itu begitu saja.
Pasangan yang sudah lama pacaran ini menghabiskan waktu berduaan di pinggiran kolam ikan yang berada di dekat halaman parkir sekolah mereka.
Tempat pun bisa bervariasi seperti di rumah Fū atau Naruto, di taman kota, di perpustakaan, atau bahkan kencan dadakan di tepi kolam ikan seperti sekarang ini. Mereka tidak peduli dimana tempat berkencan asalkan mereka dapat selalu bersama.
Sesekali mereka pergi ke mall, sehingga tak jarang waktu akan dihabiskan untuk sekedar melihat-lihat baju keluaran terbaru kemudian makan di food court.
Fū mengerti berpacaran dengan Naruto akan jauh dari kesan biasa. Karena Fū adalah gadis yang menyukai tantangan maka dengan senang hati ia menyanggupi ajakan kencan dari Naruto. Di balik kesederhanaan Naruto, Fū selalu menemukan kebahagiaan saat bersama dengannya. Namun ia akan semakin bahagia jika berpacaran dengan Naruto tidak dipenuhi oleh banyak aturan yang mengekang.
Kencan ala Naruto memang hanya sekedar menghabiskan waktunya dengannya. Hubungan mereka sejauh ini hanya sekedar gandengan tangan dan ciuman pipi. Naruto tak pernah mau dipeluk olehnya. Ia beralasan tak ingin mengambil kesempatan darinya.
Selain itu jika ingin berkencan dengan Naruto di luar rumah atau sekolah, mereka harus ditemani oleh orang lain, seperti Kyuubi atau Gaara. Aturan aneh yang tak ia ketahui pasti alasannya. Fū heran dengan hal ini, dengan keahlian karate Naruto mustahil ia tak mampu untuk menjaga diri.
Sudah berulang kali Fū meminta kelonggaran untuk aturan-aturan semacam ini namun ia hanya mendapat senyum maklum dari Naruto sebagai jawabannya.
"Jadi, Fū bagaimana jika besok kita ke mall?" ajak Naruto.
Fū yang sejak tadi terdiam dengan pikirannya kemudian memasang wajah bersalah. "Maaf Naru-kun, aku tidak bisa."
"Lusa?" Naruto bertanya lagi berharap kali ini ajakannya akan diterima.
Alis pirang Naruto berkerut kecewa saat mendapati gelengan pelan dari sang gadis.
"Begitu ya. Menjadi model memang menyita waktumu. Aku iri pada manajermu yang bisa menemanimu seharian. Hehehe." Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mencoba menutupi kecewanya.
Naruto beranggapan akhir-akhir ini kekasihnya itu sangat sulit diajak pergi.
"Aw, tidak perlu kecewa seperti itu, Naru-kun," ucap Fū sambil mencubit gemas kedua pipi Naruto. Sesaat kemudian ia merentangkan tangan ingin memeluk Naruto, namun menghindar.
"Kenapa kau selalu menghindar saat kupeluk, Naru-kun?" Ucap Fū sedikit sebal.
"Aku hanya tak ingin mengambil kesempatan untuk memelukmu, Fū-chan." Naruto beralasan.
"Tapi gadis ini ingin sekali memeluk pacarnya," ia sedikit merengek. "Hmph, oke!" Tangan yang tadinya ingin memeluk Naruto Fū lipat di depan dadanya.
"Hahaha, itu baru gadisku," ucap Naruto sembari mengelus rambut Fū.
Cup.
Tiba-tiba Fū mendaratkan ciumannya di pipi Naruto. "Tapi yang ini boleh, kan?" Ucap Fū sambil mengerling mata membuat wajah Naruto sedikit memerah.
Ponsel Naruto berbunyi, pada layarnya tertera tulisan Kyuubi calling.
"Ayo kita pergi sekarang. Sepertinya kakakmu telah menjemput," ujar Fū setelah melirik lagi ponsel Naruto, mengecek waktu.
"Oke, dan kali ini kau harus mau kuantar." Naruto berdiri dan mengulurkan tangannya pada Fū yang dengan senang hati diraih oleh sang gadis.
"Tentu saja," jawab Fū riang.
Di balik pepohonan yang luput dari perhatian Fū dan Naruto, mata hitam Sasuke memandang tajam.
Begitu mendengar bel tanda pelajaran terakhir, Sasuke langsung meluncur menuju kelas Naruto. Dia berniat menemuinya kembali walau secara tidak langsung. Sasuke akhirnya sedikitnya mengerti bahwa saat ini Naruto sedang tak ingin bertemu dengannya.
Ia merasa kecewa karena ternyata hari ini kelas XII pulang lebih awal dan niat bertemu Naruto tiba-tiba terasa tak semenarik sebelumnya.
Wajah Sasuke cerah kembali saat ia menemukan Naruto dalam perjalanan menuju gerbang. Hatinya menjadi nyeri karena Naruto saat ini sedang berduaan dengan gadis di tepi kolam itu.
Sasuke benar-benar merasa tak nyaman dengan rasa panas yang bercokol di dadanya saat ini. hatinya semakin bertambah panas ketika gadis bersurai hijau itu mencoba memeluk Naruto dan berhasil mencium pipinya.
Ingin sekali rasanya Sasuke mencium Naruto berulang kali di tempat telah disentuh oleh gadis itu dan sebisa mungkin menghilangkan bekasnya.
Niat Sasuke menyusul Naruto terhentikan ketika merasakan sebuah tangan menarik pundaknya. Ia semakin kesal ketika mengetahui sang pemilik tangan.
"Lepaskan tanganku, Sakura," pintanya yang mendapati respon gelengan dari gadis merah muda itu.
"Untuk apa kau mengejar pemuda yang sudah memiliki kekasih itu, Sasuke-kun? Dia masih normal, tak sepertimu yang menyukainya." Sakura memohon pada Sasuke dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi, maksudmu sekarang aku tidak normal? Kabar baik untukmu bukan, Sakura? Sebaiknya kau memutuskan pertunanganmu dengan pemuda tidak normal ini," ucap Sasuke penuh dengan nada sarkastik.
"Tidak, tidak akan. Aku akan menghubungi ayah," ancam Sakura.
"Lakukan sesukamu, aku tidak peduli," ucap Sasuke dengan sedikit menyentakkan tangannya dan pergi.
Sepertinya hari ini Sasuke memutuskan naik angkutan umum saja, mengacuhkan jemputan Itachi (lagi) yang sedang dalam perjalanan.
Sakura sedih ketika melihat orang yang dicintai ternyata tak ingin mendengarkan dirinya.
Sore itu Sakura memang sengaja mengikuti Sasuke diam-diam ternyata tidak terkejut ketika mendapati pemuda itu sedang menguntit Naruto. Ia sendiri merasa lucu karena menjadi penguntit seorang penguntit.
Sakura sudah tahu akan informasi bahwa pemuda Namikaze sudah mempunyai kekasih, jadi ia tidak terlalu terkejut mendapati Naruto yang berduaan dengan seorang gadis. Dan Sakura juga tahu dari tanda-tanda yang ditunjukkan pemuda sepertinya itu tidak menyambut perasaan Sasuke.
Walau demikian tetapi tetap saja Sakura masih diliputi perasaan cemas jika sewaktu-waktu Naruto akan berbalik menyukai Sasuke. Karena bagi Sakura pesona yang dimiliki Sasuke mampu membuat semua orang menginginkannya, sama seperti dirinya
Lain itu Sakura juga merasa kesal karena niatannya untuk mengetahui jati diri Naruto tidak tersampaikan. Pada rekam medis yang berhasil ia dapatkan tidak terdapat catatan mengenai penyakit aneh itu. Bahkan dari rekam medis, Naruto dinyatakan sebagai pemuda yang sehat tanpa pernah mengidap kelainan apapun.
Biodata Naruto yang merupakan pemuda yang lahir dari keluarga biasa tidak terlalu menarik perhatian Sakura. Ia memiliki ayah bernama Minato Namikaze yang merupakan pekerja kantoran biasa yang bergerak di bidang periklanan serta memiliki riwayat kesehatan yang bersih. Kushina Uzumaki atau sekarang bernama Kushina Namikaze, ibu Naruto, merupakan ibu rumah tangga biasa ternyata memiliki penyakit darah tinggi sejak kecil. Saudara satu-satunya, Kyuubi Namikaze, memiliki usia tiga tahun di atas Naruto saat ini sedang menempuh pendidikan sarjana di Konoha University dan tidak memiliki riwayat kesehatan yang perlu dipertanyakan.
Tak mau menyerah, Sakura mencoba mencoba mencari data lain tentang Naruto seperti hal-hal yang sering ia dilakukan, jadwal sekolah, bahkan tentang masa lalunya. Siapa tahu ia bisa mengambil keuntungan dari hal ini.
Setelah mengetahuinya Sakura merasa ada yang aneh dari masa lalu Naruto. Keluarga Namikaze tinggal di Suna semenjak kelahiran Kyuubi. Namun karena suatu alasan yang tak dapat dijelaskan tiba-tiba keluarga Namikaze pindah ke Konoha, kota kelahiran Kushina.
'Apapun yang terjadi aku harus berhasil menjauhkan Sasuke dari pemuda itu,' batin Sakura.
_ page break _
"Sasuke, hari ini Kizashi menghubungiku," ucap Fugaku saat keluarga intinya berkumpul untuk makan malam.
"Kali ini apa yang kau lakukan pada putri Haruno itu, Sasuke?" Fugaku bertanya lagi. "Kudengar dari Kizashi baru-baru saja mencari tahu latar belakang pemuda dari Namikaze. Apa hal ini ada hubungannya denganmu, Sasuke?"
Pertanyaan Fugaku barusan membuat kegiatan makan Itachi dan Sasuke terhenti sebentar.
"Apa maksud, Ayah?" Sasuke bertanya sedangkan Itachi melanjutkan makannya kembali.
"Tidak ada. Hanya tidak menyangka Namikaze kembali setelah sekian tahun lamanya." Fugaku sedikit mengernyitkan dahinya.
"Ayah mengenal Namikaze?" Kali ini Itachi dan Sasuke kompak bertanya.
"Ayah pikir kau sama sekali tidak kenal dengannya," sindir Fugaku pada Sasuke, sama sekali menghiraukan bahwa Itachi pun menanyakan hal yang sama.
"Bukannya aku tak mengenalnya, Yah. Bagaimanapun juga Namikaze adalah seniorku di sekolah," kilah Sasuke, tidak menyadari Itachi yang terus memperhatikannya.
_ page break _
"Apa yang kau rencanakan, Sasuke?" tanya Itachi begitu mereka sampai di depan kamar Sasuke.
"Aku tidak menyangka kau akan menyusulku kemari agar dapat mengobrol denganku," ucap Sasuke.
"Lupakan Namikaze itu. Pemuda itu tak baik untukmu," Sasuke hanya bisa memutar kedua bola matanya ketika mendengar kalimat ini.
'Seperti aku tak pernah mendengar saran itu saja,' batin Sasuke.
"Bukankah kemarin kau sendiri yang mengatakan aku harus lebih jujur pada diriku, Aniki? Di saat semuanya sudah jelas kau ingin aku melupakannya begitu saja?" Emosi Sasuke sedikit naik.
"Aku tahu Sakura adalah anak yang manja. Tapi coba lihatlah usahanya selama ini untuk mendapatkan perhatian darimu. Saat ini nasib Uchiha ada padamu, Sasuke"
"Kalau kau tidak mengejar mimpi egoismu itu, perusahaan Uchiha sudah bangkit sejak beberapa tahun yang lalu. Selamat malam, Aniki," Sasuke membanting pintunya ketika Itachi akan membalas ucapannya.
Duduk di atas kasur Sasuke menjambak kesal rambut hitamnya.
Penyesalan akan janji yang tak bisa ditepatinya membuat pikiran Sasuke sedikit kacau.
Semua ini berawal sejak menghilangnya Sakura beberapa tahun yang silam dan sempat membuat Mikoto terguncang. Karena tak ingin mengecewakan ibunya lebih jau lagi Sasuke membuat janji untuk selalu menjaga Sakura.
Sayangnya janji itu terus diingat oleh Kizashi dan akhirnya memutuskan untuk mengikat putrinya dengan Sasuke.
Ikatannya dengan Sakura sekaligus menjadi wujud simbolis akan bersatunya perusahaan Uchiha dan Haruno.
Goyangya industri farmasi Uchiha semenjak kematian Madara yang mendadak membuat perusahaan itu perlu mendapat sokongan Haruno Inc, perusahaan yang bergerak dalam produksi alat-alat medis, untuk dapat beroperasi. Hal itu pula lah yang membuat Fugaku tidak mampu menolak keinginan Kizashi untuk menjodohkan anak mereka.
"Jika semua mengatakan pemuda itu tak baik untukku. Kenapa aku tak bisa melupakannya?" Sasuke menepuk-nepuk dadanya yang terasa nyeri.
_ page break _
Sudah seminggu semenjak ciuman paksanya itu Naruto tak mau lagi menemuinya. Bahkan saat di kegiatan klub yang diikutinya pemuda pirang itu menganggapnya seolah tak ada.
Akumulasi frustasi yang dirasakan Sasuke membuatnya kembali mengajak kencan gadis yang dianggapnya menarik. Tapi tetap saja semuanya tak ada yang mengesankan bagi Sasuke.
"Jam terbangmu akhir-akhir ini semakin tinggi saja, Sasuke," sindir Shikamaru. Kini mereka berada bangku penonton di tepi lapangan sepak bola Konoha High School.
Kiba sendiri tampak asyik-asyiknya memandangi sekumpulan grup pemandu sorak yang sedang berlatih. Diam-diam ia menjadi pengagum rahasia Hinata Hyuuga, kakak kelas mereka.
"Tutup mulutmu, Shika." Ekor mata Sasuke melirik tajam pada pemuda Nara. Tak ingin ada yang mengganggu salah satu ritual wajibnya, memandang Naruto dari kejauhan.
Sedikitnya Sasuke sadar sikap persistennya mendekati Naruto akan membuatnya semakin dibenci. Oleh karena itu ia akan mendekatinya dengan perlahan.
"Tapi kenapa teman kencanmu sekarang selalu gadis berambut pirang dan bermata biru? Gagal mendapatkan pemuda yang kau inginkah, eh?" tanya Shikamaru. Ia memang berniat mengganggu kegiatan Sasuke di sore ini.
Walau tak berniat menanggapi, setidaknya ucapan Shikamaru seperti menuangkan air garam pada lukanya yang menganga akibat penolakan Naruto.
Perkataan itu semakin membuat Sasuke memperhatikan lekat-lekat pemuda yang sudah dipandanginya sejak setengah jam yang lalu.
Setiap hari rabu Naruto selalu menyemangati Gaara yang masih aktif di klub bola. Untuk itulah Sasuke sengaja datang kemari, walau tak secara terang-terangan ia mengatakan alasannya itu pada sahabatnya.
Dari pengamatan Sasuke hari ini sepertinya baju yang dikenakan Naruto tidak seperti biasanya, terlihat kebesaran. Walau ia ingin sekali menanyakan hal ganjil itu tapi Sasuke memutuskan untuk membiarkan rasa penasarannya.
_ page break _
Akhir-akhir ini Naruto merasa kesialan selalu terjadi semenjak Sasuke menemukan rahasianya. Dua hari yang lalu misalnya, saat ada adik kelas yang tidak sengaja menumpahkan jus yang berwarna pekat, entah apa itu, pada seragamnya. Naruto tidak mempermasalahkan hal itu karena ia selalu menyediakan seragam ganti jika ada hal-hal yang tidak terduga seperti ini.
Namun kesialan Naruto tidak berhenti di situ. Seragam yang akan digunakannya tiba-tiba saja terasa sempit saat digunakan. Padahal seingat Naruto ia selalu menyimpan baju yang sesuai ukurannya. Hal itu terpaksa membuat Naruto meminjam milik Gaara walau pakaiannya yang digunakannya cukup longgar.
Dari semua kejadian yang dialami rasanya kejadian kemarin pagi adalah puncak kesialan bagi Naruto yang membuat dirinya basah dan malu.
(Flash back dimulai)
Dari semua siswa yang lewat kolam ikan di pagi ini Naruto tidak menyangka bahwa hanya dirinyalah yang harus terpeleset dan tercebur ke dalamnya. Kolam setinggi dada orang dewasa itu membuat seragamnya dan tasnya kontan terendam air..
Bukannya menyelamatkan diri dahulu, Naruto lebih mengutamakan benda-benda yang berada di dalam tasnya. Untung saja tas yang digunakannya kedap air sehingga Naruto tidak khawatir tugas sekolahnya terkena basah.
Naruto segera mengirimkan pesan singkat pada Gaara untuk segera membawakannya jaket atau apapun itu yang dapat menutupinya dan memberitahukan lokasinya saat ini. Setelahnya ia tetap berdiam diri menunggu di dalam air karena jika kondisi tubuh basahnya ini terlihat oleh semua orang maka mereka semua akan mengetahui apa yang sedang disembunyikannya. Meskipun saat ini kondisi kolam masih sepi tapi tetap saja tak aman baginya.
Suhu air kolam saat ini terasa sangat dingin, membuat Naruto melingkarkan tangannya untuk memeluk tubuhnya dan sedikit berharap merasakan kehangatan.
"Apa kau belum mandi, Senpai? Sebegitu inginnya mandi sampai kau langsung meloncat ke tempat berair seperti ini?" suara berat nan ia kenal membuatnya sejenak melupakan dinginnya air kolam itu. Namun Naruto tahu siapa yang sedang mengajaknya berbicara sehingga ia tak segera menolehkan kepalanya.
Tangan putih terulur tetapt di depan hidung Naruto membuatnya dengan terpaksa menatap pemilik tangan itu. "Aku tak tahu dari semua orang yang lewat jalan ini hanya kau yang akan menghampiriku." Naruto melihat Sasuke kini sedang berjongkok ke arahnya dengan mata yang menampakkan kekhawatiran? Entah apa, ia tidak bisa menebak pasti arti tatapan itu. Perasaan itu memubuat dada Naruto sedikit menghangat.
"Aku juga tak tahu dari semua orang yang lewat kolam ini hanya dirimu yang tercebur ke dalamnya. Atau semua ini memang kau sengaja?" ucap Sasuke masih dengan nada menyindir seperti sengaja membuat Naruto kesal.
"Diam kau, Uchiha! Dari pada kau tolong lebih baik aku menunggu Gaara di sini," desis Naruto dengan tubuh menggigil dan bibir sedikit bergetar. Meski ia merasa terkesan oleh niatan kouhainya itu tapi tetap saja perbuatan buruknya seminggu yang lalu sangat sulit dilupakannya. 'Oh, lupakan kemungkinan bahwa dia sedikit mengkhawatirkanmu Naruto!' batinnya.
Dengan menghela nafas yang panjang, Sasuke sudah mengira untuk membuat Naruto percaya padanya kini memanglah sulit. Untuk itu ia harus sekreatif mungkin agar dapat membuatnya menurut untuk keluar dari kolam. Ia tak mau pemuda pirang itu terkena sakit.
"Aku dengar hantu kolam ini sering menampakkan diri di pagi hari," ucap Sasuke acuh. "Ya sudah, Senpai. Jika kau tak ingin kubantu jangan salahkan jika hantu itu yang akan membantumu nantinya," tambahnya lagi sambil menarik kembali tangan yang sempat terulur dan berdiri dari posisi jongkoknya.
Tak memakan waktu lama ucapan Sasuke berhasil mempengaruhi Naruto.
"Hantu? Ce- cepat bantu aku naik sekarang, Uchiha!" pinta Naruto dengan nada sedikit panik. Ia kini sibuk menoleh kesana kemari seperti berjaga-jaga jika saja hantu kolam itu benar-benar muncul.
Sasuke menyimpan senyum kemenangannya dalam hati namun tetap menjaga kestabilan wajahnya dalam kondisi biasa. Berada dalam klub yang sama dengan Naruto sedikitnya membuatnya mengenal pribadi Namikaze bungsu itu. Semua orang di klub tahu Naruto takut dengan hal-hal berbau spiritual dan hal inilah yang dimanfaatkan Sasuke agar ia mau menuruti keinginannya.
Uluran tangan Sasuke kali ini disambut oleh Naruto namun pemuda itu tidak serta merta mau mengangkatkan dirinya untuk naik ke tepian kolam.
"Apa lagi, Dobe Senpai?" tanya Sasuke sengaja memasukkan nada kesal dalam ucapannya. Sasuke memang kagum pada keahlian Naruto yang membuatnya mampu merasakan berbagai macam emosi dalam waktu singkat. Kadang senang, penasaran, kecewa, bahkan sekarang ini Naruto berhasil membuatnya kesal.
"Tapi jika aku keluar sekarang bagaimana jika mereka nanti mereka menyadari kondisiku?" tanya Naruto sambil menatap baju basahnya.
Paham dengan maksudnya, Sasuke sadar baju yang digunakan Naruto tidak mampu menutupi apa yang tengah disembunyikannya. Ditambah saat ini ia tidak dalam kondisi berdua saja dengan Naruto. Terdapat beberapa siswa lain yang kini mengerumuninya.
Setelah memutuskan sesuatu Sasuke kemudian mencondongnya tubuhnya yang setengah berjongkok itu ke arah Naruto dan berbisik di dekat telinganya, "Nanti akan kupinjamkan jaketku padamu. Jadi setelah kau keluar dari kolam, Senpai harus berdiri sedekat mungkin padaku agar mereka tidak melihat dadamu yang besar itu. Kau paham?"
Mendapat anggukan setuju dari Naruto, Sasuke segera membantunya keluar dari kolam. Menepati janji, ia segera memakaikan jaket biru dongker miliknya pada Naruto begitu pemuda itu merapat pada dirinya kemudian Sasuke menggandengnya masuk ke dalam sekolah.
Sasuke tidak peduli dengan puluhan pasang mata yang menatapnya termasuk mata hijau zamrud Sakura yang menatap mereka kesal.
Dalam kondisi demikian membuat Naruto hanya memiliki satu pilihan yaitu dengan pasrah mengikuti Sasuke. Langkah mereka terhenti di depan sebuah loker yang tak dikenalnya. Naruto tidak sadar bahwa tangannya masih tergenggam Sasuke sampai pemuda Uchiha sendiri yang melepaskan tangannya untuk membuka loker itu.
"Kau bisa memakai ini jika mau," tawar Sasuke dengan menyodorkan setelan seragamnya di depan tangan Naruto.
Naruto ingat bahwa di lokernya sudah tak ada baju ganti dan menunggu Gaara lebih lama dapat membuatnya masuk angin membuat Naruto dengan senang hati menerima seragam yang ditawarkan padanya. Meski itu adalah pakaian seseorang yang menyebalkan baginya tapi benda itu sangatlah ia butuhkan saat ini. "Terima kasih," ucapnya. Naruto tersenyum pada Sasuke, mencoba bersikap ramah. Kebaikan Sasuke membuat dadanya lagi-lagi membuat dadanya menghangat, Naruto tak bisa untuk tak tersenyum.
Sasuke telah mempersiapkan hati untuk kecewa jika Naruto menolak bantuannya lagi. Namun seperti mendapat hadiah undian, dalam hati Sasuke tersenyum gembira saat melihat Naruto menerima seragam itu dengan wajah penuh senyuman.
"Tapi jangan berpikir jika aku menerima pemberianmu ini, perbuatan gilamu dapat kumaafkan begitu saja, Uchiha!" seru Naruto ketika masih teringat akan perbuatan Sasuke yang lalu kembali menampakkan wajah kesalnya.
Senyuman Naruto yang baru saja dilihatnya kini hanya seperti delusinya belaka, hal ini membuat mood Sasuke kembali suram.
"Apa kau merasa ada yang aneh akhir-akhir ini? Seperti ada seseorang yang berusaha mengganggumu, mungkin?" ucap Sasuke tiba-tiba, tak menghiraukan kicauan kesal Naruto.
"Hmm, yah.. Sepertinya begitu," Naruto menjawabnya dengan mata menerawang seperti sedang mengingat sesuatu.
(Flash back selesai)
Saat ini Naruto dalam perjalanannya kembali ke kelas setelah mendapat hukuman dari Asuma, guru Sejarah, karena tengah melamun di tengah pelajaran. Bukannya ia melamun, hanya saja tubuh demamnya ini membuatnya sangat sulit berkonsentrasi sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru itu. Jadi karena itulah dia ditugaskan untuk membawakan setumpuk buku tugas ke dalam ruang guru sebagai hukumannya.
Waktu telah menunjukkan jam pulang sekolah namun tetap saja koridor terbuka yang dilewatinya masih saja ramai. Di kanan dan kirinya baik lantai satu dan dua Naruto dapat melihat para siswa yang sedang melakukan pembersihan sebelum pulang ke rumah.
Dengan keadaan Naruto sedang sedikit pusing membuat perhatiannya tak fokus ketika teriakan peringatan terdengar dari sekitarnya, sehingga tumpahan air sukses mengenainya dari arah atas.
"Awas!"
Byur.
Naruto segera menolehkan kepalanya liar mencari tahu dari mana datangnya air setelah mendapati bajunya basah.
"Maafkan aku, Senpai. Maaf, aku tak sengaja menjatuhkan air yang kubawa," teriak seorang siswi saat Naruto menatap ke atas.
Belum sadar dari kagetnya Naruto merasakan ada seseorang yang memeluknya dari arah depan. Saat mencoba melepaskan pelukan itu Naruto mendengar orang tersebut membisik pelan di telinganya, "Diam Naruto, atau mereka akan tahu. Kau demam. Kau ini benar-benar tak bisa ditinggal sendiri, ya?"
"Sasuke?" Tanpa perlu pada wajah sang pemeluk diam-diam Naruto semakin melesakkan tubuhnya pada pelukan itu, demam itu agak mengacaukan otaknya. Ia menutup kelopak mata karamelnya saat pusing kembali melanda.
Kehangatan tubuh Sasuke perlahan berpindah dirinya yang kini mulai merasa kedinginan. Dalam pelukan itu sayup-sayup ia mendengar debaran jantung Sasuke yang tak ada bedanya dengan kepakan sayap seekor merpati, nada yang menenangkan layaknya lullaby yang membuatnya mengantuk. Naruto tertidur.
_ page break _
Hanya berdiam diri di ruangan dan menatap langit-langit membuat Itachi bosan. Ia sedang tidak ada tugas yang dikerjakan karena semuanya telah selesai sebelum batas akhir waktunya. Tidak memiliki kesibukan seperti saat ini membuat Itachi kepikiran berbagai macam hal.
Hubungan Itachi dan Kyuubi semakin merenggang setelah pemuda Namikaze itu secara terang-terangan meminta Sasuke untuk menjauhi adiknya. Interaksi yang mereka lakukan hanyalah saat-saat di ruang kuliah ataupun diskusi proyek tidak lebih dari itu.
Selain itu ada hal lain yang menguasai pemikiran Itachi. Akhir-akhir ini ia disibukkan oleh surat-surat aneh yang diberikan Kyuubi padanya. Terasa janggal baginya karena tak pernah sekalipun Kyuubi menyerahkan surat itu secara pribadi.
Semua surat yang diberikan Kyuubi itu berisi ungkapan-ungkapan kekaguman pemuda itu pada dirinya. Membuat Itachi berkesimpulan bahwa surat itu merupakan suatu bentuk 'penembakan' secara tak langsung darinya. Mungkin saja Kyuubi masih malu-malu, untuk itu selama ini ia hanya menitipkan suratnya lewat Omoi saja.
Sebenarnya Itachi merasa heran kenapa tiba-tiba beberapa orang yang dikenalnya berubah menjadi penyuka sesama, seperti Sasuke dan Kyuubi. Bahkan ia sendiri bingung bagaimana nantinya menanggapi pernyataan suka dari Kyuubi. Karena ia tak pernah mendapatkan pernyataan sejenis itu. Sudah tentu Itachi akan menolaknya, tetapi penolakannya pada Kyuubi akan mempengaruhi hubungan mereka ke depannya.
Tok, tok,tok.
"Ya, silakan" Itachi menoleh ke arah pintunya.
Orang yang berada dalam pikiran Itachi beberapa menit yang lalu memasuki ruangannya bersama rekan proyeknya.
Dengan isyarat kepala Itachi memerintahkan mereka untuk segera mengambil duduk di hadapannya.
Jantung Itachi sedikit mencelos ketika Kyuubi mengeluarkan kertas berwarna lembayung, mirip kertas surat yang sering diterimanya beberapa hari ini. 'Apa akhirnya dia akan menyerahkan langsung suratnya padaku?' terka Itachi dalam hati.
Keringat dingin Itachi mulai menetes saat Kyuubi meletakkan kertas itu di tangannya dan berbicara dengan tepat menubrukkan mata rubinya pada mata obsidian Itachi. 'Atau dia akan langsung menyatakannya sekarang? Dan tentu saja aku akan menolaknya. Tapi apa dia tidak malu ada orang lain di sini,' pikir Itachi dengan tatapan yang tak bisa lepas dari mata Kyuubi.
"...intra-arterial. Sensei?" tanya Kyuubi, menghentikan penjelasannya saat tidak ada reaksi dari Itachi. Meski sudah diijinkan memanggil dengan nama kecilnya, Kyuubi terkadang measih memanggil Itachi dengan sebutan sensei saat keadaan tertentu.
"Itachi-nii?" panggil Kyuubi lagi.
Melihat Kyuubi kebingungan membuat Omoi tertawa kecil.
"Kau tahu tidak, Kyuu? Sepertinya Itachi-nii sedang jatuh cinta. Dia asyik dengan lamunannya," kata Omoi yang memunculkan raut keheranan dari wajah Kyuubi.
Mendengar gelak tawa Omoi membuat Itachi tersadar dari lamunan, namun sepertinya tidak mendengar kalimat terakhir yang dikatakan Omoi barusan.
"Kenapa kau tertawa, Omoi?" tanya Itachi begitu melepaskan pandangannya dari wajah keheranan Kyuubi.
"Wajahmu lucu sekali, kasihan Kyuu yang kau diamkan begitu saja. Jadi aku bilang padanya bahwa kau sedang jatuh cinta," jelas Omoi.
Jika tidak karena darah Uchihanya mulut Itachi akan terbuka menganga mendengar pernyataan konyol itu. 'Jatuh cinta? Yang benar saja,' inner Itachi menggeleng pelan.
"Jadi benar Itachi-nii sedang jatuh cinta?" dalam pemikiran Kyuubi jika Itachi tidak menolak pernyataan Omoi maka itu artinya Itachi-nii memang benar sedang jatuh cinta. Jika memang demikian Kyuubi penasaran siapakah wanita yang sedang disukai oleh senseinya ini.
"Apa maksudmu, Kyuu?" tanya Itachi, pandangannya kini teralih kembali pada pemuda merah itu. Dalam pandangannya ia melihat mata Kyuubi berbinar menanti jawaban Itachi.
'Kyuubi pasti sedang mengonfirmasi apakah dia punya kesempatan untuk menjadi kekasihku. Ya, pasti begitu. Sebaiknya aku iyakan saja, agar dia tak tertarik lagi padaku,' batin Itachi menimbang-nimbang keputusannya.
"Jadi, benarkah kau sedang menyukai seseorang?" tanya Kyuubi sekali lagi.
"Benar, Kyuu," jawab Itachi pada akhirnya.
"Jadi seperti apa orang yang kau suka?" tanya Kyuubi lagi, semakin penasaran.
'Gawat! Saking inginnya menjadi kekasihku dia sampai berusaha ingin tahu tipe gadis yang kusukai!' batin Itachi asal tebak. 'Jika begitu aku akan memberikan kriteria yang sangat jauh dari kepribadiannya saja,' putus Itachi kemudian.
"Aku ingin seseorang yang nampak anggun," Itachi melirik Kyuubi. 'Sudah pasti seorang pria tidak bisa menjadi anggun, bukan?' batinnya.
"Dan menguasai medis," tambah Itachi, 'Kebanyakan pria mengacuhkan segala tetek bengek yang berbau pengobatan, tentu saja Kyuubi juga demikian,' begitu pikir Itachi.
"Pasti gad-" "Uhuk!"
Ucapan Kyuubi terhenti dengan batuk tidak alami yang dilepaskan oleh Omoi.
"Meskipun aku juga ingin mendengar kisah asmara Itachi-nii sepertinya kita harus bergegas, Kyuu. Kau bilang akan ada urusan setelah ini," kata Omoi menghiraukan tatapan tajam dari Itachi yang kala mendengar kata 'kisah asmara'.
"Kau benar, Omoi. Thanks, sudah mengingatkan," ucap Kyuubi sambil tersenyum ke arahnya.
"Begini, Sensei. Aku sudah merangkum Log book penelitian di kertas itu," ucap Kyuubi kembali fokus pada maksud kedatangannya kemari, sambil menunjuk kertas yang telah dipegang Itachi.
"Semua mencit yang telah diaklimasi sudah dikelompokkan sesuai dengan perlakuannya. Untuk mencit yang dibuat bunting sudah dipasangkan dengan pejantannya. Jadi kita tinggal menunggu adanya vaginal plug* besok pagi."
"Bagus. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Itachi membaca rangkuman yang ada di tangannya.
Kyuubi menggelengkan kepalanya, "Tidak. Ehh, Itachi-nii bisakah kau mengajari cara injeksi intra-arterial*?"
"Oke, akan kuajarkan caranya. Besok selepas istirahat siang kita kumpul di rumah hewan untuk simulasinya," jawab Itachi. Injeksi intra-arterial adalah cara pemberian pemberian prolaktin sintesis di penelitian mereka. Sedangkan bromokriptin diberikan secara intra-muscular*.
"Terima kasih, Sensei. Saya permisi dulu," pamit Kyuubi.
"Kau masih ingin di sini?" tanya Kyuubi begitu melihat Omoi masih anteng di kursinya.
"Kau duluan saja, Kyuu. Ada yang ingin kubicarakan dengan Itachi-nii," jawab Omoi sambil menempelkan ibu jari dan telunjuknya, membentuk isyarat 'OK'.
Melihat hal itu Kyuubi hanya bisa mengedikkan bahunya tak peduli dan pergi dari ruangan itu. Dia sudah terbiasa dengan perilaku aneh pemuda yang hobi mengulum lolipop itu.
Interaksi antara Omoi dan Kyuubi membuat Itachi yakin bahwa ada hal yang sedang direncanakan oleh mahasiswa ini. "Apa maksudmu aku sedang jatuh cinta?"
"Ups, maaf reaksi spontan," jawab Omoi dengan wajah tanpa dosanya.
"Jangan bercanda, Omoi." Itachi memperingatkan Omoi.
"Aku memang bercanda. Tapi perasaan Kyuubi padamu tidak bercanda Itachi-nii." Omoi menatap langsung mata Itachi, menginginkan dosen muda itu percaya padanya.
Merasakan pusingnya kembali lagi, Itachi memijat pangkal hidungnya pelan. "Kalau memang begitu apa yang harus kulakukan? Kau tahu aku masih memiliki orang yang kusayangi? Karui dan Yugito adalah orang terakhir yang mengisi hatiku. Lagi pula Kyuubi adalah seorang pria yang tak mungkin kubalas rasa cintanya," Itachi memandang Omoi dengan tatapan tak fokus. Dia seolah sedang membayangkan masa-masa yang telah dilaluinya.
Omoi merasa kesal saat nama kakaknya disandingkan dengan nama wanita lain. Diam-diam kedua tangannya mengepal kuat hingga kulit daerah itu memucat. Namun hal itu luput dari pandangan Itachi karena posisi kepalan tangannya itu berada di balik meja kayu.
Lain di mulut lain di hati, Omoi pun memasang senyum terbaiknya. "Kurasa itu tidak masalah," ucapannya terhenti saat melihat mata Itachi menunjukkan kemarahan. "Maaf Itachi-nii bukannya aku menyarankanmu untuk menjadi kaum penyimpang atau apa. Tapi cobalah mengerti apa yang dirasakan Kyuubi. Tidak adil jika hanya Kyuubi yang merasakan hal seperti ini," kali ini dengan mengangkatkan kedua tangannya di atas kepala, posisi defensif.
"Kurasa kau tahu, Omoi. Aku merasa aku ini lelaki yang terkutuk. Dua orang yang pernah singgah di hatiku pasti menyesal bahwa aku memilih mereka bersanding denganku."
"Itachi-nii aku yakin Karui-nee yang sekarang ada di surga pasti ingin kau melanjutkan hidupmu dengan bahagia. Semua orang berhak bahagia,"
"Dua orang meninggal karenaku. Tidakkah itu bukti yang cukup. Aku sudah tak mau mencintai seseorang lagi. Tepatnya sudah tak bisa," tegas Itachi. Ia benar-benar tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
"Tidakkah kau melihat niat tulus Kyuubi? Kurasa Kyuubi juga berpendapat sama denganku, kau berhak untuk bahagia, Itachi-nii," yakin Omoi.
"Benarkah?" tanya Itachi lelah. Ia masih tidak yakin pada dirinya.
_ page break _
Sasuke dapat merasakan hembusan nafas halus yang hangat dan teratur membelai anak-anak rambut di tengkuknya. Saat ini dia sedang berada dalam bus kota setelah meyakinkan Naruto untuk pulang menaiki angkutan umum itu. Sasuke menyentuhkan punggung tangannya pada kening Naruto. "Hangat," gumamnya kemudian.
Setelah insiden pelukan di koridor itu terjadi gencatan senjata antara mereka, meskipun sepertinya hanya pihak Naruto yang menganggapnya demikian. Mengingat lagi hal itu membuat sudut bibir kiri Sasuke sedikit terangkat, ia merasa senang.
(Flash back dimulai)
"Apa hobimu saat ini adalah menjadi penguntitku, Sasuke?" tanya Naruto setelah mengganti seragamnya yang basah dengan kaos polo, seragam PE-nya, karena ia tahu seragam gantinya sudah kekecilan sedangkan seragam Sasuke sudah dipakainya sehari yang lalu. Wajah Naruto masih bersemu karena bisa-bisanya ia tertidur dalam dekapan Sasuke di tengah koridor yang ramai. Setelah mendapat obat penurun demam dari Shizune kini panas tubuhnya mulai kembali mendekati normal, meski hangat masih dapat dirasakannya pada tengkuk dan keningnya.
Mendengar Naruto mulai memanggil nama kecilnya kembali membuat wajah Sasuke mencerah walau hanya sebentar.
"Kau sudah tak marah lagi, Naruto?" tanya Sasuke sambil mengamati Naruto yang sedang mengganti uwabakinya. Kemudian ia kembali memasang wajah kakunya saat mata safir Naruto kembali fokus padanya.
"Tentu saja aku masih marah, Sasuke. Gurauanmu saat itu benar-benar tak lucu," seru Naruto sambil menunjuk-nunjuk hidung mancung Sasuke.
'Gurauan, eh? Itu bukan gurauan, Naruto. Perasaanku ini nyata,' ingin rasanya Sasuke menjawab demikian tetapi diurungkannya. Tak ingin Naruto kembali menjauhinya.
Sasuke lebih baik memilih berada dalam friend zone Naruto, walau itu terasa menyedihkan. Perasaan yang tak disambut itu sudah cukup menyakitkan hatinya namun rasanya akan semakin pedih jika Naruto tak mau dekat karena membencinya.
"Oke, itu memang gurauanku, Naruto. Aku minta maaf," dusta Sasuke, wajahnya terasa kebas karena menampilkan senyum terpaksa dalam waktu yang cukup lama.
"Baiklah akan kupertimbangkan. Asal kau berjanji tak akan mengulanginya lagi," ucap Naruto kali ini sambil tersenyum pada Sasuke. Duo itu pun berjalan menuju gerbang sekolah.
"Kupastikan itu tidak terjadi lagi," balas Sasuke sambil menambahkan kata 'mungkin' dalam hatinya.
"Jadi, apa Kyuu-niimu itu sudah menghubungi, Naruto?" tanya Sasuke kali ini dengan mendekatkan tubuhnya memasuki zona privasi Naruto, cari-cari kesempatan saat pemuda pirang itu konsen mengecek ponselnya. Hanya ada satu pesan dari Kyuubi.
"Aku tidak tuli, Teme! Tidak usah berbicara sedekat itu denganku,"telapak tangan Naruto hinggap di wajah Sasuke, ia risih. "Mobil Kyuu-nii mogok tapi aku sudah bilang pada Fū, hari ini aku tidak bisa mengantarnya ke lokasi pemotretan. Jadi aku meminta tolong pada Shibuki-san saja," jelasnya panjang lebar. Ia memandang kembali ponselnya, mengetik pesan pada sang gadis yang sepertinya masih menunggu dirinya.
"Fū? Shibuki?" tanya Sasuke.
"Fū adalah nama pacarku. Kau pasti ingat percakapan di toilet itu, kan? Saat kau.. ehm," wajah Naruto sedikit memerah saat mengingat kejadian yang membuatnya lebih dekat dengan Sasuke. Naruto menggeleng keras mencoba melupakan hal memalukan itu, "dan Shibuki-san adalah manajer yang mengatur jadwal Fū sebagai model."
'Apa kau bisa peduli jika di hadapanmu ada sosok lain yang tak boleh dilewatkan?' Sasuke mereka ulang adegan itu di kepalanya. Namun ia masih saja tak bisa mengingatnya.
"Jadi hari ini kau ingin pulang sendiri?" tanya Sasuke, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bukan begitu, Kyuu-nii menyuruhku pulang bersama Gaara. Tapi sepertinya dia sudah pulang mendahuluiku," aku Naruto.
"Jika begitu kenapa tidak pulang denganku saja?" tawar Sasuke.
"Dimana alamat rumahmu Sasuke?" Naruto mulai berdiri di tepi jalan mencari taksi yang kosong.
"Distrik Uchiha," jawab Sasuke dengan cepat.
"Wah, ternyata tempat itu masih ada ya! Berarti jalan kita searah, rumahku di Distrik Konoha Timur" seru Naruto menolehkan wajahnya pada Sasuke yang masih setia di sampingnya.
"Semua Uchiha yang ada di Konoha tinggal di distrik itu. Dan semua orang di Konoha pasti tahu." Jelas Sasuke seperti sedang menerangkan berapa jumlah satu ditambah satu.
"Maaf saja ya, Sasuke. Aku ini lahir dan besar di Suna. Tentu saja aku tak mengetahuinya." Naruto tersenyum kecut sperti sedang mengingat memori yang tak menyenangkan.
"Memangnya sejak kapan kau pindah ke sini?" Sasuke mengerutkan dahinya.
"Sejak kelas VII!" jawab Naruto dengan bangga.
"Itu artinya sudah lima tahun, kan? Sudah selama itu kau masih belum hafal juga. Aku benar-benar tidak salah memanggilmu dobe," sindir Sasuke.
"Hei!" geram Naruto marah karena disebut dobe, ingin rasanya Naruto menjitak kepala pantat ayam itu.
Sebelum niat sucinya itu tersampaikan, Naruto merasakan Sasuke menyerat lengannya.
"Ayo busnya sudah datang," Sasuke berseru senang tidak biasanya ia mendapat bus secepat itu. Karena biasanya diperlukan waktu menunggu yang lama untuk sebuah bus. Sepertinya membawa Naruto membawa keberkahan baginya, begitu pikir Sasuke.
"Tunggu! Kita naik bus?" tanya Naruto sebelum mereka memasuki bus berwarna merah itu. Naruto terlihat menutupi kedua telinganya.
Sasuke menatap Naruto, "Memangnya naik apa lagi?"
"Taksi?" Naruto menjawabnya dengan ragu. Walau tak mendengarnya Naruto dapat membaca gerak bibir Sasuke.
Melepaskan tangannya di lengan Naruto yang menggantung di kepala, Sasuke mensejajarkan tubuhnya dengan Naruto. "Uang jajan kita pasti tidak cukup jika naik taksi."
"Oh iya. Jadi kita naik bus?" Naruto mengulangi pertanyaannya lagi, ia tetap kukuh.
Tanpa menjawab pertanyaannya Sasuke menggandeng lengan Naruto kembali dan segera mengajaknya memasuki bus yang sebentar lagi akan berangkat. Menemukan double set yang masih kosong Sasuke mengajak Naruto untuk duduk di sana.
"Psst, Sasuke. Aku sudah lama tidak naik bus umum," Naruto membisikinya. Pernyataannya membuat Sasuke menaikkan satu alisnya saat melihat Naruto masih menutupi telinganya. Dengan telinga yang ditutup seperti itu ia penasaran apakah yang Naruto katakan dapat didengar oleh pemuda itu sendiri.
"Jadi bisakah kita naik taksi saja? Aku yang bayar, deh. Ya? Ya?" tawarnya lagi.
"Tidak bisa, Naruto," tegas Sasuke. Ia kini menatap sekeliling bus yang ternyata sedang sepi penumpang.
"Kau merasakannya? Busnya jalan, Teme. Busnya jalan! Bagaimana ini?" suara Naruto mendadak menjadi panik membuat beberapa penumpang menoleh padanya.
Menjadi pusat perhatian adalah salah satu hal yang membuat Sasuke sedikit risih, karenanya ia menolehkan wajah pada pemuda pirang di sebelahnya namun ia tak menyangka mendapat pemandangan yang tak pernah dibayangkannya.
Dengan tubuh gemetaran, mata biru yang terpejam rapat, dan tangan yang masih menutup telinganya erat membuat keadaan Naruto menyedihkan di matanya. 'Apa lagi ini?' Sasuke membatin.
"Naruto? Naruto?" Sasuke memanggil pemuda itu berulang kali. Nihil, tak ada jawaban.
Sasuke perlahan mencoba melepaskan tangan Naruto yang merapat di telinga itu tapi tak berhasil. Naruto mempertahankan posisi tangannya layaknya mempertaruhkan hidup dan mati. Sepertinya Naruto sangat tidak menyukai deru suara bus.
Sasuke segera mengambil mp3 player yang selalu disimpannya di saku. Menyetel dengan volume agak keras kemudian dengan gerakan 'sedikit' memaksa ia akhirnyadapat memasangkan earphone itu pada kedua telinga Naruto. Selang beberapa menit kemudian getaran di tubuh Naruto pun mulai berkurang.
(Flash back selesai)
Di saat Naruto telah tertidur pulas tanpa sepengetahuan Naruto ia menggamit jemari tangannya. ia menatap tangan kirinya yang kini bertaut dengan Naruto. Menatapnya lama kemudian mengangkat dan mengecup punggung tangan mereka.
Sasuke tahu dia seorang pengecut yang hanya berani bertindak di saat Naruto sedang tertidur. Namun ia tidak ingin melewatkan kesempatan langka seperti sekarang ini.
Wajah Naruto di kala tidur seperti magnet baginya. Sekali melihatnya membuat Sasuke tidak kuasa untuk tidak menatapnya lama-lama.
Wajah damai tersebut mengingatkannya pada sebuah memori yang ia kenang sendiri. Ia ingin mengecap lagi madu di bibir manis Naruto. Sasuke ingin merasakannya kecupan manis itu lagi dan lagi.
Memantapkan niat, Sasuke pun mendekatkan wajahnya perlahan menuju Naruto. Di saat jarak mereka tak jauh dari sepucuk hidung terdengar suara deheman keras yang menginterupsinya.
Sasuke menolehkan kepalanya ke arah kanan, dimana seorang nenek lanjut usia tengah melanjutkan dehemannya dan memandang bengis padanya. "Jangan bertindak asusila di tempat umum, nak!" saran nenek yang sudah beruban itu.
"Dasar moral anak muda jaman ini," gumam nenek itu menggerundel sendiri.
Tertangkap basah melakukan tindakan tak terpuji oleh nenek-nenek membuat Sasuke menggumam maaf dan menundukkan kepalanya. Senakal apapun Sasuke ia masih menghormati orang yang lebih tua darinya.
Di saat Sasuke merasakan suasana bus yang mendadak sepi, kecuali dari sura bus yang menderu, dia mendapati bahwa beberapa penumpang di sekelilingnya memandang dengan sorot ingin tahu ke arah bangku Sasuke dan Naruto.
Bahkan penumpang yang tempat jauh dari Sasuke sampai berdiri dari kursinya demi menonton mereka berdua.
Karena kesal Sasuke menguasainya ia pun memelototi mereka satu per satu, mendadak lupa bahwa seharusnya ia menghormati seseorang yang lebih tua darinya.
Sasuke semakin kesal saja saat mata hitamnya menangkap beberapa sosok gadis masih sibuk mengambil beberapa gambarnya dengan Naruto.
Fokus Sasuke teralihkan saat merasakan ponselnya bergetar. Mata Sasuke menyipit saat mendapati siapa yang sedang mencoba menghubunginya. Tidak biasanya Itachi meneleponnya, sepertinya sang kakak yang super hemat itu benar-benar tengah mencarinya. Tak ada pilihan lain baginya selain menjawab telepon itu.
-klik, "Hn. Aku sudah pulang. Tidak usah. Di bus. Tidak. Hn. Hn." –klik.
Pembicaraan telepon itu ia putuskan secara sepihak karena Sasuke saat ini ingin menikmati momennya dengan Naruto. Mendapat pemikiran seperti itu membuat Sasuke semakin mempererat tautan jemari mereka.
_ page break _
Nada sambung masih saja terdengar di telinga Itachi.
-Tuut, tuut, tuut, klik.
"Sasuke? Kau sudah pulang? Aku akan menjemputmu. Dimana kau sekarang? Kau tidak kabur lagi kan? Jangan mampir kemana-mana. Jaga dirimu baik-baik. Hei Sasu-" –tutut, tuut, tuut, klik-
"Dasar bocah nakal," gumam Itachi. Niatnya untuk berbicara lama-lama di telepon ternyata tidak direstui oleh Sang Pencipta. Berada di suasana aneh seperti ini benar-benar membuatnya kehilangan ide tentang hal yang seharusnya dilakukannya.
"Kau menelepon adikmu, Itachi-nii?" tanya Kyuubi, pemuda yang dicap Itachi sebagai penyebab terjadinya keanehan ini.
"Hn" Itachi menjawab seadanya, ingin segera mengakhiri percakapan.
Sebenarnya semua hal tidak akan menjadi sesulit ini. Jika saja ia mengambil rute yang sama seperti lapangan parkir-kampus-lapangan parkir-sekolah Sasuke- rumah, maka ia tidak terjebak kesulitan seperti ini.
Sifat penasarannya membuat Itachi menggali lubang kuburnya sendiri. Andai saja hari ini ia langsung meluncur pelang ke rumah.
(Flash back dimulai)
Seusai kuliah sorenya Itachi bergegas membereskan berkas-berkas yang diperlukan untuk ia bawa pulang ke rumahnya. Dengan langkah cepat ia segera menuju lapangan parkir. Hari ini ia tak ingin Sasuke kabur untuk ke sekian kalinya, kebandelan Sasuke yang mulai dilakukannya sejak menginjak usia remaja.
Itachi tidak tahu apa yang membuat Sasuke memiliki hobi seperti itu. Jika adiknya itu kabur akan memakan beberapa hari baginya untuk pulang ke rumah. Satu hal lagi yang tidak disenanginya dari kebiasaan itu adalah Sasuke selalu pulang dalam keadaan babak belur.
Karenanya ia berpikiran saat ini pastilah Sasuke sedang mengalami masa berontaknya seperti dirinya dulu. 'Bukan hanya hobi kabur, bahkan ia kini juga berani menyukai seorang pria,' batinnya sedikit menggigil sesaat setelah mencapai area parkir.
Di lapangan parkir Itachi melihat beberapa mahasiswa yang dikenalnya sedang berkumpul di suatu titik. Rasa penasaran membawanya melangkah menuju ke arah mereka. Omoi, Kyuubi, dan gadis Inuzuka tampak berada dalam perdebatan yang serius.
"Sedang apa kalian di sini?" Itachi berharap salah satu dari mereka akan menjawabnya.
"Kami sedang merundingkan siapa yang akan pulang denganku, Itachi-nii." Omoi menjawab pertanyaan Itachi tapi buru-buru menambahkan saat mata rubi mendelik padanya. "Bukan begitu, masalahnya mobilku ini hanya bisa dinaiki dua orang saja," ucapnya kali ini menatap Kyuubi.
"Jadi, membuatmu repot, Omoi. Kalau saja mobilku tak mogok," sesal Kyuubi sambil menendang-nendang kecil velg jeep merah. 'Sial, otomotif bukanlah keahlianku!' tambahnya membatin.
Sejak tadi Kyuubi sudah berusaha menyalakan mobil merah sebisa mungkin tetapi setelah bermenit-menit lamanya mobil itu tak kunjung mengerang menyala.
"Sudahlah Kyuu, biar kau saja yang bersama Omoi. Aku bisa meminta ibu menjemputku sekarang." Kata gadis satu-satunya dengan nada menyarankan.
"Dan membuatmu menunggu sendiri di sini? Tak akan Hana! Omoi, kau antar Hana sekarang juga," tegas Kyuubi. Ia pun menatap kembali Hana, sorot matanya memancar kekhawatiran.
"Tapi Kyuu halte bus agak jauh dari sini dan sebentar lagi akan hujan." Hana benar-benar tak mau meninggalkan pemuda itu sendirian.
"Nah, sebentar lagi juga akan hujan Hana. Satu lagi alasan dariku yang melarangmu menunggu sendiri di sini," Kyuubi memberi alasan yang masuk akal, membuat Hana hening sejenak.
"Aku bersedia mengantarkan jika kalian searah pulang denganku," tawar Itachi tanpa diminta.
Pertanyaan Itachi dijawab oleh Hana ketika dua pemuda yang lain hanya terdiam. "Terima kasih, Sensei. Kami sungguh tidak ingin merepotkan."
"Rumah Kyuu ada di distrik Konoha Timur sedangkan Hana di distrik Konoha Barat. Kalau tidak salah rumahmu masih di distrik Uchiha. Jadi kau akan searah dengan Kyuubi, bukan?" jelas Omoi pada Itachi, seakan menyuruhnya membuat pilihan mahasiswa mana yang akan dibarenginya.
"Benarkah tidak masalah, Sensei?" Kyuubi mengonfirmasi.
'Sebenarnya masalah, Kyuu jika itu kamu,' batin Itachi dalam hati. Padahal ia tidak berharap Kyuubi akan pulang dengannya. Menurutnya dengan pertemanan Kyuubi-Omoi, pemuda merah itu akan pulang dengan pemuda berambut putih itu.
"Tentu saja tidak apa-apa," dusta Itachi. Jawaban Itachi membuat tiga mahasiswa yang berada di sana berwajah lega, senang permasalahan mereka kini teratasi.
Tanpa membuang waktu Itachi melangkah ke mobilnya dengan diiringi oleh Kyuubi.
(Flash back selesai)
"Apa kau tidak ingin semobil denganku, Itachi-nii?' tanya Kyuubi tepat sasaran.
Itachi membisu, dalam hati ia membenarkan perkataan Kyuubi. Tapi ia tak bisa menyetujuinya begitu saja.
"Seharusnya aku tahu kalau yang aku lakukan kemarin adalah hal yang salah, Sensei" aku Kyuubi, menghela nafas. Kyuubi menyesal telah bertindak seenaknya dengan menyuruh Itachi melarang adiknya dekat dengan Naruto. Tentu saja perbuatan seperti itu sungguh keterlaluan jika dilakukannya pada seorang dosen, begitu pikir Kyuubi.
"Kyuu menurutmu bagaimana hubungan sesama jenis itu?" tanya Itachi kali ini dengan melirik Kyuubi yang ada di sebelahnya.
"Ehm, dilarang?" jawab Kyuubi. Dapat .Itachi dengar ia menjawabnya dengan ragu.
'Kau sendiri bahkan sudah tahu hal itu, Kyuu,' batin Itachi sambil mengacak pelan rambut berkuncirnya dengan sebelah tangan. Frustasi itu datang lagi.
"Kau sudah tahu Kyuu, kalau hal itu memang tak boleh dilakukan," tegas Itachi kali ini dengan menoleh ke Kyuubi seolah meliriknya saja tak cukup bagi Itachi.
"Kau tahu hal yang kukatakan kemarin tentu saja tidak ada masalah denganmu. Justru kurasa sebentar lagi kau akan berterima kasih padaku," Kyuubi bersikeras bahwa ia telah melakukan kebaikan. "Aku akan membahas masalah ini segera dengan Naruto," lanjut Kyuubi.
Itachi sedikit marah setelah mendengar ucapan itu dan tak mendengarkan perkataan Kyuubi selanjutnya. 'Kau bilang tidak masalah? Tentu saja ini masalah!' batinnya, level kemarahan Itachi meningkat secara bertahap. Pemikirannya akan hal ini membuatnya tak sadar menggenggam erat roda setir hingga buku jarinya memutih.
Apa yang Kyuubi pikirkan sangat berbeda dengan Itachi. Kyuubi membahas masalah antara Naruto dan Sasuke sedangkan Itachi sibuk berasumsi dengan perasaan Kyuubi padanya.
"Tidak masalah katamu?" Itachi menyuarakan pemikirannya. Pandangannya kini difokuskan sepenuhnya pada Kyuubi, melupakan kemudinya.
"Sensei, sebaiknya perhatikan jalanmu." Kyuubi menyarankan.
Itachi tak mau mendengar apa yang dikatakan Kyuubi. "Dengarkan aku, Namikaze-san. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini."
"Apa maksudmu? Hei lampu merah!" Kyuubi meninggikan suaranya ketika tiba-tiba lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
Teriakan Kyuubi berhasil membuat Itachi fokus kembali pada jalan. Tapi ketidaksiapan Itachi mengerem mobilnya hampir menyenggol seorang pejalan kaki yang akan menyebrang. Membuatnya mengerem mendadak mobilnya.
Ckiit!
"Kau tak apa, Sensei?" tanya Kyuubi saat tatapan mata Itachi menerawang kosong.
_ page break _
"Tuan, sepertinya pemuda yang anda cari sedang dekat dengan, Uchiha," lapor seorang wanita yang berpakaian formal.
"Uchiha yang mana?" tanya seorang pria tua.
"Sementara ini hanya dengan anak kedua dari Fugaku," jawabnya takut.
"Apa yang kau maksud dengan sementara, hah! Tidak boleh ada satu pun Uchiha yang boleh mendekatinya. Ingat itu baik-baik," perintahnya pria tua itu mutlak.
"Baik, Tuan. Saya permisi." Wanita itu undur diri.
"Tunggu, segera atur pertemuanku dengannya," ucapnya ketika sang sekretaris sudah di ambang pintu.
"Maaf, dengan siapa, Tuan." Wanita itu mencoba memastikan.
"Tentu saja dengan seseorang yang kutugaskan untuk mengawasinya." Pria yang berumur di atas lima puluh tahunan itu melanjutkan.
Sekretaris muda segera kembali ke mejanya setelah menganggukkan kepalanya pada sang Boss.
Pemilik rumah sakit terbesar di Konoha itu kembali menatap foto-foto terbaru yang berada di atas pangkuannya, "Menyerahlah, Minato. Kau sudah tak bisa apa-apa, lagi."
_ page break _
Hari ini Sasuke bangun sedikit terlambat dari biasanya. Berbaikannya dengan Naruto sangat cukup memunculkan mimpi indah itu kembali. Mimpi yang membuat Sasuke rela tak bangun untuk selamanya jika perlu. Ya, telah bermimpi yang iya-iya dengan Naruto.
Namun cukup berbeda dengan mimpi basah pertamanya dengan Naruto, dimana mimpi yang niat awalnya itu untuk bersenang-senang dengan gadis posternya tapi berujung pada adegan panasnya dengan pemuda pirang. Mimpi kali ini sangat berbeda karena dilakukannya secara full course, dimana ia bisa mengingat setiap detail bagian dari awal hingga saat-saat puncaknya tercapai.
Ada kemungkinan ia masih akan terus menikmati masa kepayangnya itu jika sang kakak pengganggu tidak menggedor kamarnya, lagi.
Di gerbang sekolah itu ternyata bukan hanya dirinya yang hampir terlambat. Ia juga melihat seseorang yang pernah duduk bersama Naruto di tepi kolam beberapa hari yang lalu.
Sasuke melihat gadis itu tengah bersama seseorang selain Naruto dan mendapat ciuman sayang di pipi darinya.
"Kita jadi ke Konoha Mall, kan? Hari ini ada butik baru yang ingin ku coba." Walau pelan Sasuke dapat mendengar apa yang diucapkan sang gadis itu.
Sasuke tidak peduli apa yang mereka lakukan setelahnya karena jika tidak melangkah cepat ia akan benar-benar terlambat.
_ page break _
Mengandalkan orang lain untuk selalu menemaninya kemanapun sebenarnya cukup melukai harga diri Naruto sebagai seorang lelaki. Karena sebuah masa lalu, keluarganya selalu memperlakukan dirinya bak seorang gadis yang harus selalu dikawal.
Walau demikian setidaknya Naruto dapat berterima kasih karena kemarin Sasuke telah menemaninya pulang, meski harus sedikit kesal karena telah dipaksa menaiki bus. Satu-satunya kendaraan yang dihindarinya selama beberapa tahun belakangan.
"Naruto, kau melamun lagi?" tanya Sasuke. Saat ini Uchiha bungsu itu sedang mampir ke kelas Naruto. Alasannya kemari cukup mencurigakan bagi Naruto.
'Dia pikir aku bayi yang tak bisa menjaga diri, apa?' rutuk Naruto kesal. "Aku tidak apa-apa, Sasuke. Kembalilah ke kelasmu." Naruto mengibas-ngibaskan tangan kanannya ke arah Sasuke.
"Benar Sasuke, kembalilah ke kelasmu," timpal pemuda yang memiliki rambut berwarna merah bata. Ia sedikit terganggu dengan kedatangan Sasuke saat jam istirahat ini.
"Kau jangan ikut-ikutan mengusirku, Gaara. Terserahku jika aku ingin di sini," jawab Sasuke.
"Aku tidak tahu ternyata kalian saling kenal, " ucap Naruto.
"Ceritanya panjang, Naruto." Gaara menjawabnya.
"Lagi pula ini bukan cerita yang menyenangkan untuk didengar," tambah Sasuke. "Awas kau jika berani cerita," ancamannya ini ditujukan pada Gaara.
"Aku ragu kau bisa mengalahkanku." Gaara mendekap kedua lengannya di depan dada.
Sasuke tidak terima jika diremehkan. "Kalau begitu akan kuceritakan kekalahan Sabaku yang paling memalukan."
"Seperti kau bisa menang seorang diri saja," tukas balik Gaara memandang tajam Sasuke. Kini kedua pemuda itu saling beradu tatap seolah mereka mampu mengeluarkan kilat imajiner untuk mengalahkan lawan.
"Kenapa aku merasa seperti sedang diselingkuhi kalian, ya?" mata Naruto menyipit. Merasa kesal karena mendadak menjadi orang yang terabaikan.
Mendengar kata selingkuh keluar dari mulut Naruto membuat Sasuke cepat-cepat mengelaknya, "Mana mungkin aku mau sama panda jelek ini."
"Akui saja hubungan kita pada Naruto, pantat bebek," pancing Gaara.
"Jangan percaya padanya, Naruto," elak Sasuke.
Keakraban yang tiba-tiba terjalin antara Naruto dan Sasuke sebenarnya membuat Gaara sedikit curiga karena biasanya sahabat kuningnya adalah tipe orang yang akan menjauhi orang lain selain dia, sang pacar, dan keluarganya. Tapi jika Naruto mau menerima kehadiran Sasuke maka mau tidak mau Gaara juga harus menerimanya.
"Menunggu pesan dari Fū lagi?" tanya Gaara, mencoba mengganti arah pembicaraan. Ia mengamati Naruto yang sedari tadi sesekali menatap ponselnya.
Keadaan kembali tenang. Naruto masih duduk di bangkunya, Gaara yang duduk didepannya kini memutar tubuh untuk menghadap ke arah Naruto serta Sasuke yang entah mendapat kursi dari mana kini berada di sebelah kanan Naruto.
"Dia belum membalas pesanku. Kuhubungi juga tidak bisa. Padahal dia sudah janji akan kencan denganku." Berada di sekitar orang yang dipercayainya membuat ucapan Naruto terdengar merajuk.
"Sudah lama kubilang dia ada main dengan Shibuki, Naruto," ujar Gaara memperingati Naruto.
Naruto yang sudah lama mengenal Fū bersikeras membela gadis itu. "Fū bukanlah gadis yang seperti itu. Pasti dia sedang sibuk dengan kerjaannya!"
Sasuke sejak tadi mendengarkan perdebatan Naruto-Gaara mulai menengahi. "Apa orang yang bernama Shibuki itu seorang pria dewasa yang memilki rambut sepunggung dan berwarna coklat?" tanya Sasuke.
"Bagaimana kau tahu, Sasuke? Kau pasti pernah melihat mereka di suatu peragaan busana, ya? Gadisku benar-benar hebat! Sampai kau bisa mengenalnya," puji Naruto pada sang pacar.
"Mungkin kau bisa melihatnya sendiri," Sasuke menatap serius Naruto kemudian melirik ke sekilas ke arah pemuda Sabaku. Tatapan penuh isyarat dari Sasuke membuat Gaara sedikit mengerutkan kedua alis non-eksistennya.
Ramainya suasana kelas membuat mereka tak tanpa menyadari bahwa terdapat pihak yang sengaja menguping pembicaraan mereka.
"Game on. Rencana kita dimulai, Nii-san," gumam sosok misterius itu.
_ to be continued _
Catatan:
strain germ free* : hewan coba yang dibesarkan dan dipelihara dalam kondisi bebas dari kontaminasi mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan virus. Biasanya digunakan untuk tertentu contohnya penelitian yang berkaitan dengan peran lingkungan terhadap kekebalan tubuh. karena dipelihara dalam kondisi yang steril harga strain ini lebih mahal dari pada strain yang biasanya.
mencit Balb/C* : mencit albino atau berwarna putih yang biasa digunakan untuk keperluan penelitian. Strain ini sering digunakan untuk penelitian yang bersifat umum.
P.E (Physical edication) : pelajaran olah raga
Vaginal plug atau sumbat vagina : indikator atau tanda mencit yang telah kawin. Bentuk sumbat ini mirip sebutir nasi, berwarna putih. Berfungsi untuk mencegah keluarnya sperma pejantan yang telah masuk ke dalam tubuh. sumbat ini dapat diartikan sebagai kehamilan hari ke-0 atau pun kehamilan hari ke-1.
Injeksi intra-arterial: pemberian zat melalui suntikan ke dalam arteri. Pemberian melalui cara ini jarang dilakukan dan biasanya dilakukan oleh seorang ahli karena kemungkinan terjadinya kerusakan jaringannya tinggi.
Injeksi intra-muscular: pemberian melalui suntikan ke dalam otot yang bermassa padat. Zat yang dilepaskan tidak masuk secara langsung ke pembuluh darah.
A/N : Makin banyak karakter ya yang saya tampilkan di chapt ini. Tapi semuanya memiliki peran, kok. Ada beberapa hint yang saya letakkan di sana sini chapter ini, hehe.. Semoga teman-teman bisa main tebak-tebakan sendiri.
Masih ada gap di cerita? Typo masih bersliweran? Atau ada hal-hal lain yang perlu ditanyakan? Silakan berbagi pendapat dengan saya dengan menulisnya di kolom review. Entah itu kritik atau saran akan saya terima dengan senang hati. Saya sadar seberapapun usahanya masih ada bagian dari cerita yang kurang sesuai ataupun ucapan saya yang tidak ada di tempatnya. Untuk itu author labil ini meminta maaf sebesar-besarnya.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih bagi kalian yang sudah mau mampir dan sampai jumpa lagi di chapt berikutnya.
Salam
aurantii13
Sekilas chapter berikutnya:
"Kupikir kita semua akan menyamar. Kenapa hanya aku?" Naruto berteriak histeris di depan salah satu pintu masuk Konoha Mall.
.
"Misi selesai, Nona. Sampaikan salamku pada kakakmu," ucap pria saparuh baya itu.
