Summary : Kehidupan Naruto Namikaze yang terlihat biasa saja meskipun tidak biasa menjadi berubah ketika juniornya di sekolah, Uchiha Sasuke, tengah memergokinya sedang melakukan sesuatu di toilet sekolah! Warn: BxB, SN.
A/N : Halo pembaca semua! Di sini saya aurantii13 kembali memberikan chapter terbaru untuk kembali dari untuk teman-teman sekalian. Sebenarnya sebagian isi dari chapter ini sudah saya tulis sejak update chapter 6 kemarin, tapi karena banyak pertimbangan akhirnya saya ubah lagi di sana sini agar semakin pas untuk dibaca. Saya minta maaf jika ada yang kurang berkenan dengan karakter saya yang kadang keluar jalur. Saya hanya berandai-andai sedingin apapun karakter itu jika dia sedang jatuh cinta dunia pun serasa jungkir balik jadinya, seperti yang terjadi pada Sasuke contohnya. Untuk itu saya teman-teman bisa memakluminya. Untuk karakter Naruto mungkin tidak sedikit dari pembaca yang berpikiran bahwa sikapnya seperti seorang cewek, lemah, atau apapun itu. Tapi percayalah teman-teman pembaca sekalian, saya berusaha membuatnya bersikap sebagai cowok yang baru pertama kalinya merasakan ini dan itu, yang juga masih kebingungan dengan apa yang terjadi padanya, #apasih.
Ehm, sekarang lagi musim ujian ya? Saya mengucapkan selamat belajar buat yang lagi ujian. Jangan lupa berdoa supaya nanti teman-teman dapat hasil yang terbaik. Untuk yang sedang tidak ujian author doakan semoga dimudahkan segala urusannya. Amin.
Saya berterima kasih karena masih banyak teman-teman yang masih setia mengikuti serial ini dan ucapan halo bagi para pembaca yang baru bergabung. ^_^
Seperti biasa sebagai ungkapan rasa terima kasih, saya akan menuliskan pojok review dari teman-teman semua. Jika tidak ingin membaca, kalian boleh boleh langsung skip kok. :3
uzumakinamikazehaki: makasih sudah review, iya ini sudah saya lanjut. Sebenarnya ada beberapa cara untuk menyembuhkan naruto, dan mereka di sini sedang mencari solusi yang terbaik tanpa harus menyakiti. Seiring waktu nanti akan terungkap cara nyembuhinnya, ditunggu saja ya. Pasti ada, kok.
hanazawa kay: Hore! Akhirnya saya berhasil ngebuat momen-momen manis buat mereka. Moga ke depannya saya bisa nulis yang sebaik itu atau bahkan bisa lebih baik lagi. Ayahnya Sasuke gak begitu benci kok sama Namikaze, seiring waktu ada penjelasnnya . Makasih buat reviewnya.
Ryuusuke583: ehmm, ini termasuk lama update gak ya? #diinjek. Saya terlalu berani sampai otak atik IP saya, haha.. kalau gak gitu susah buat buka FF-nya . Sasuke harus mau kasihan dulu buat bisa dapetin naruto, ya nggak? Hehe.. makasih reviewnya.
Akasuna no Akemi: halo, makasih sudah mampir dan kasih review. Alasan trauma naruto sedikit saya masukin di sini, walau gak terlalu detail sih. Karena masih belum waktunya nyeritain masa lalu naruto, maafkan saya T^T . Oh iya sudah saya masukkan disini siapa oknum yang gak suka sama keluarga Namikaze, silakan dibaca, #promosi. Semoga puas dengan chapter baru ini .
SNlop: makasih sudah mau kasih review lagi. Vaginal plug adanya di hewan, bentuknya seperti butiran nasi putih. Kalau pada manusia lebih dalam bentuk lendir, jadi belum bisa dikatakan sumbatan, itu setahu saya. Hehe.. iya makin banyak karakter nih, sudah terasakah konfliknya? Akan saya usahakan sebisa mungkin terjawab di chapt selanjutnya, meskipun ada beberapa yang belum. Minta kesabarannya ya . Untuk tambahan pengetahuannya saya juga senang bisa bagi-bagi ilmu di fict ini, walau gak sepenuhnya saya tulis dengan baik dan jelas :D
saphire always for onyx: halo, iyaa ini saya update lagi, semoga suka yaa. Saya buat sasunaru baikan secepatnya, gak tega buat misahin mereka, #lhah. Yang nongol banyak banget, saya sendiri sampai lupa ada siapa aja, #dijotos. Iya ini sedang saya buat ke arah konflik yang nggak terlalu banyak, sudah terasakah konfliknya? Makasih ya reviewnya.
intan. pandini85: ehm, di sini sosok misteri saya buat sebagai pencurinya, entah itu baik atau buruk. Semoga kamu nggak terlalu keganggu. Kyuubi baik-baik aja kok, bukan dia yang nulis suratnya. Sudah ketahuan kah siapa pelakunya? Hehe.. sementara saya buat omoi jadi karakter abu-abu dulu. Ini sudah saya lanjut, silakan dibaca. Makasih sudah review.
RevmeMaki: iyaa, akhirnya bisa update lagi . Iya kemarin update lama karena ada saudara yang sakit, tapi sekarang sudah sembuh kok. Sebenarnya minato gak ada hubungan langsung sama haruno cs, ayah sakura lebih mirip sebagai perantara saja. Jangan dibotakin ya, kasihan sakura, dia masih belum sadar. Omoi memang jahil, ketahuan kah dia yang nulis suratnya? Makasih reviewnya.
AprilianyArdeta: halo! yang pasti omoi sedang ngerencanain sesuatu, modusnya masih saya buat hitam putih, #dilindes. Sudah saya tampilkan di chapt ini saiapa yang nggak suka sama keluarga Namikaze, #promosi. Silakan dibaca, ini sudah update. Makasih sudah review.
zadita uchiha: iya banyak tokoh yang saya munculkan, maklum untuk ngedukung ceritanya. Sekarang sudah saya lanjut, selamat membaca. Makasih ya reviewnya.
kimjaejoong309: saya buat sasuke orang yang pantang nyerah buat dapetin naruto :3 . hubungan Fū-Naru sudah saya tulis di chapt ini, #promosi. Iya sakura di sini saya buat seperti itu, masih terobsesi sama sasuke. jadi kasihan sama keduanya. Tingtong! Tebakan kamu benar, omoi ada rencana buat mereka. Naruto punya trauma yang buat dia seperti itu, saya ulas sedikit di sini, meski gak terlalu banyak. Orang misteriusnya sudah ada di sini, coba ditebak :3 . ini sudah saya lanjut, moga suka. Makasiih reviewnya. .
akara suki: horee, saya juga senang akhirnya bisa update! Tebakan kamu benar, ayo lihat kece-nya naru di sini . Sasuke sama sakura sudah saling kenal sejak kecil, soalnya ayah mereka teman bisnis. Makasih reviewnya. Ini sudah saya lanjut, silakan dibaca.
Kizu583: wah! Makasih pujiannya, saya juga suka alur yang seperti ini. karena tidak terlalu ribet di otak saya yang susah paham sama alur yang muter-muter . Hubungan KyuuHana masih lanjut nih, salah abang Itachi gak gerak cepat . NaruFū-nya bisa dilihat di chapt ini, #promosi. saya akan buat sedemikian rupa supaya gak ada chara di sini yang kecewa, semoga bisa happy end. Benarkah fict saya dapat jempolan? Makasih banyak, saya nggak nyangka ternyata fict saya disenangi banyak orang, #terharu. Makasih buat reviewnya .
Namikaze Yuki: halo! Ingin saya juga seperti itu, eman sudah punya susu plus-plus diangkat begitu saja, #lhah. Sejauh ini gak sampai mengganggu kesehatannya, kok. Kelanjutan hubungan Fū-Shibuki ada chapter ini, #lagilagipromosi. Fugaku sama namikaze kenalan lama yang saling berhubungan. Pemilik rumah sakitnya gak terlalu suka sama keluarga namikaze gitu, tapi sepertinya belum saya jelaskan detail di sini. Maafkan.. T_T. Rencananya masih dirahasiakan dulu, kan "ini rahasia" #lihatjudul, #sayadibuang. Haha.. ini sudah saya lanjut, semoga suka. Makasih reviewnya.
Kagaari: wah makasih sudah suka sama chapt kemarin. Iya omoi suka iseng jadi dia ngelakuin itu, dan alasannya masih abu-abu di chapt ini, . Hubungan gaara-sasuke bukan yang romantis kok, mereka saling kenal aja. Makasih sudah review.
Dewi15: iyaa ini sudah lanjut, semoga suka. Makasih sudah review.
zukie1157: iyaa, akhirnya saya update . Sebenarnya yang pertama sadar kedekatan sasunaru itu kakak mereka, setelah itu sakura, selanjutnya gaara. Iya omoi nakal, dia memang sengaja berbuat itu. Fugaku minato kenalan lama tapi sudah nggak pernah ketemu lagi. Benarkah kamu senang sama chapt yang panjaaang? Kalo chapt yang ini gimana? #kedipkedip. Yang manggil nii-san masih rahasia, nih! Belum boleh ketahuan, #diinjek. Iya saya jadi semangat buat nulisnya. Makaish ya sudah review
Aiko Michisge: iyaaa sudah saya lanjut, silakan dibaca. Makasih sudah review
mifta cinya: makasih ya sudah review di beberapa chapter. Tentu saja boleh dibaca, silakan . Iya di sini sakura anak orang kaya, jadi sikapnya agak nyebelin gitu. minato dan keluarga masih belum siap kalau naruto nanti ada masalah, musuh minato nggak main-main soalnya. Dan yang mengincar naruto adalah orang yang benci sama minato. Rencana omoi ada banyak, dia memang sengaja berbuat seperti itu .
Himarura Kiiromaru: ini sudah saya update. Banyak banget ya rahasia di chapt kemarin? #garukgaruk. Maaf ya sudah bikin kamu geli pas di toiletnya itu, syukurlah kamu suka fict ini . Iya saya akan berusaha buat naruto nggak feminim :3 . apa di chapt ini naruto masih kecewek-cewekan? Ini sudah saya update, semoga suka. Makasih ya reviewnya.
Joonie Kim Kyusung: oalah gitu ya, iya nggak apa-apa kok. Makasih sudah suka dan kasih review .
efi. astuti. 1: sebenarnya sikap sasuke ke sakura biasa saja, karena mereka teman sejak kecil. Amin, moga sasunarunya lancar. Makasih sudah review.
choikim1310: halo! Iya kasihan, naruto korban selingkuh. Sakura cinta banget sama sasuke, tapi cintanya nggak kebales. Tenang aja hubungan sasuke-gaara bukan hubungan romance, kok . Sosok misteriusnya masih misterius di chapt ini, #lhah. Tapi sosok misterius itu ada di chapt ini, hayo coba tebak, hehe.. itakyuu harus jadi pair dong, #maksa. Sip, genre mpreg permintaanmu sudah saya catat. Iya di luar negeri ada laporan kalau cowok bisa punya rahim, dan bisa datang bulan juga meski pakai cara yang idak biasa. Menurut saya kasus itu lebih cenderung ke true hermaphrodite, jadi dua kelamin berkembang meski dari penampilannya hanya mengambil salah satu kelamin, bisa cowok atau cewek. Kadang disebut juga third gender dan kasusnya sudah banyak yang terjadi, begitu setahu saya. Hehe.. makasih sudah review.
ichigoStrawberry-nyan: iya kesialan naruto kemarin ulahnya sakura. Tapi untungnya naruto baik-baik aja. Data naruto sengaja disembunyikan karena suatu alasan. Karena omoi ada rencana ia berbuat seperti itu ke mereka. Iya kyuubi masih straight jadi susah buat beloknya. Ini sudah saya lanjut, silakan dibaca. Makasih ya reviewnya.
annisa. ajja. 39: iyaaa sudah saya lanjut . Silakan dibaca, moga suka. Makasih ya sudah review.
Guest (snowbell): iya sekarang sudah dilanjut. Maaf ya kalau di chapt ini masih belum dibuka semuanya . Iya nanti ada naru dan asinya, kok. . Makasih sudah review.
aqizakura: makasih sudah review. Iya orang tua itu sudah muncul di chapt ini lho, #promosi. dan dia punya maksud yang tidak baik ke keluarganya minato, sementara itu yang bisa saya jelaskan. Yup, orang misterius itu ada sedikit hubungannya sama orang tua itu. Itakyuu? Ada dong, pastinya. Kyuubi sama sekali nggak tahu tentang suratnya, ia suka ke itachi sebatas dosen aja begitu juga dengan itachi. Ini sudah saya update, semoga suka. Makasih reviewnya.
iche. cassiopeiajaejoong: tebakan kamu benar! Yang ngerjain naruto itu si sakura. Sudah ketahuan ya yang ngasih surat itu si omoi? Hehe.. omoi punya banyak rencana buat mereka. Bukti perselingkuhan itu bisa dilihat di chapt ini . #promosi. ini sudah lanjut, semoga suka. Makasih reviewnya.
ChubbyMinland: iya job baru mereka sekarang jadi tukang kuntit, hehe.. #digiles. Susah banget ternyata ngebuat naruto liat sasuke, prosesnya itu lho yang bikin gak kuat. Tapi kalau sudah jadi mereka bener-bener setia kok, #semoga. Iyakah kemarin masih kurang momennya? Kalau di chapt ini gimana? #kedipkedip. Karakter omoi masih abu-abu di fict ini, ceritanya jadi orang yang nyusahin gitu. dia sudah punya banyak rencana yang belum bisa author jelaskan di chapt ini, #ketawasetan. Ini sudah dilanjut, moga suka. Makasih reviewnya.
Fuuin SasuNaru: lhah, jangan benci saya.. T^T kalo sudah jodoh mereka pasti ketemu kok. Minta doanya ya, biar mereka cepet bersatu. Ehm, suke kurang apa ya? Kurang jelek mungkin? Hehe.. Makasih reviewnya.
FujoDeviLZ10: iya akhirnya bisa kita lihat interaksi mereka di sini. Sebenarnya mereka kayak pasangan biasa kok, nggak suka yang aneh-aneh. Itu semua memang omoi yang ngerencanain, #ups. Jadinya itachi ngira yang ngasih surat ke dia itu kyuubi. Iya nanti saya ungkap satu satu misterinya. Makasih sudah review.
aokiaoki95: iyaaa, ini saya buat itakyuu jadi side pairing. Naruto masih susah dibuat beloknya, gimana nih? #dibuang. Jadi happy end dong! Hehe.. Sakura masih punya obsesi ke sasuke kok, tenang aja, #lhah. Kita lihat nanti gimana akhir dari obsesi sakura :3 . iya sasuke jadi daun muda di sini dan suka banget cari perhatian ke naruto gitu. Dipukulin aja dia bisa bahagia, apalagi kalau dikasih yang lain . Apapun dari naruto diterima dengan senang hati sama sasuke, namanya juga sayang. Kyuubi di sini kakak yang sayang adek kok dan menyayangi naruto dengan caranya sendiri, #apabanget. Nggak apa-apa kok kalo kemarin nggak sempat review. Gimana ujiannya? Lancar? #sokakrab. Moga dapat hasil yang terbaik. Makasih buat doa dan reviewnya. Author senang .
uchiha. emo10: iya sasuke kamu nggak boleh nyerah! #ikutnyemangatin. Iya naruto punya phobia sama bus, jadi reaksinya seperti itu. Alasan traumanya saya buka sedikit di chapt ini, tapi mungkin masih belum terlalu jelas, maafkan ya . Kyuubi suka sama itachi hanya sebatas suka sama dosen aja, nggak lebih, begitu juga Itachi. Hanya saja itachi lagi bingung di persimpangan (?) jalan. Kalo hubungan sasuke-gaara cuma sebatas kenal kok, nggak pernag jadian. Naruto nggak akan pernah mutusin Fū, kok, #bohong. Untuk yang itu bisa dibaca di chapt ini, #promosi. naruto suka ke sasuke kapan? Masih lama nih, #kayaknya. Saya masih dalam proses ke arah sana, tenang saja . Makasih ya sudah review.
Disclaimer : Naruto dan semua chara yang terdapat di cerita ini adalah milik Masashi Kishimoto namun plot cerita murni karangan author. Author tidak mengambil keuntungan dari pihak manapun.
Genre : Romance, Sci/Fi
Warn : BxB, jika tidak menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan male relationship diharap tidak membaca fict ini, author tidak menanggung jika ada pembaca yang mual dan muntah karenanya. Bahasa tidak baku dan kadang sulit dimengerti. Banyak typo.
Rated : M (mengandung unsur dewasa, bagi pembaca di bawah umur disarankan tidak menirunya)
Pair : SN
Mohon maaf sebelumnya jika cerita ini kurang berkenan bagi kalangan tertentu. Untuk itu saya sarankan untuk segera menekan tombol "kembali".
Have a nice weekend!
Selamat membaca, teman-teman!
Sekilas chapt sebelumnya:
Teriakan Kyuubi berhasil membuat Itachi fokus kembali pada jalan. Tapi ketidaksiapan Itachi mengerem mobilnya hampir menyenggol seorang pejalan kaki yang akan menyebrang. Membuatnya mengerem mendadak mobilnya.
Ckiit!
"Kau tak apa, Sensei?" tanya Kyuubi saat tatapan mata Itachi menerawang kosong.
.
Pemilik rumah sakit terbesar di Konoha itu kembali menatap foto-foto terbaru yang berada di atas pangkuannya, "Menyerahlah, Minato. Kau sudah tak bisa apa-apa, lagi."
.
"Bagaimana kau tahu, Sasuke? Kau pasti pernah melihat mereka di suatu peragaan busana, ya? Gadisku benar-benar hebat! Sampai kau bisa mengenalnya," puji Naruto pada sang pacar.
"Mungkin kau bisa melihatnya sendiri," Sasuke menatap serius Naruto kemudian melirik ke sekilas ke arah pemuda Sabaku. Tatapan penuh isyarat dari Sasuke membuat Gaara sedikit mengerutkan kedua alis non-eksistennya.
Ramainya suasana kelas membuat mereka tak tanpa menyadari bahwa terdapat pihak yang sengaja menguping pembicaraan mereka.
"Game on. Rencana kita dimulai, Nii-san," gumam sosok misterius itu.
Title : Ini Rahasia (by aurantii13)
Chapter 6
Sejak menapakkan kakinya di rumah hewan Omoi sudah merasakan atmosfer yang tidak menyenangkan. Hal ini membuatnya berpikir bahwa menempatkan Kyuubi dan Itachi di ruang yang sama bukanlah ide tepat untuk saat ini.
Rumah hewan merupakan tempat pemeliharaan dan perlakuan pada hewan coba itu menjadi tak lagi kondusif untuk sekedar mengobrol ringan ataupun berdiskusi tentang hal yang lainnya.
Sesuai instruksinya hari ini Itachi memberikan contoh tentang berbagai cara pemberian itu meski kedua mahasiswanya hanya menginginkan untuk diajari tata cara perlakuan secara intra-arterial saja. Salahkan ego Itachi yang selalu menginginkan kesempurnaan pada setiap hal yang dikerjakannya sehingga ia mau repot mengajari mereka dengan pengetahuan praktisnya.
Penelitian kali ini dilakukan dengan dua macam cara yaitu pemberian prolaktin sintesis secara intra-arterial sedangkan bromokriptin diberikan secara intra-muscular.
Pemberian intra-arterial cukup sulit dilakukan karena mereka harus mencari letak pembuluh arteri yang cukup sulit ditemukan dan beresiko pecah. Sedangkan intra-muscular cukup mudah karena pemberian zatnya hanya pada otot.
"Ehm, Itachi-nii. Aku rasa kau tak perlu mengajarkan sampai sedetail itu. Kita hanya minta diajarkan yang pemberian intra-arterial saja." Omoi melirik iba pada mencit yang tengah dipegang oleh Itachi. Hewan pengerat itu terlihat setengah sekarat karena menjadi model berbagai perlakuan dari Itachi seperti gavage*, per inhalasi*, intra-vena*, dan yang lainnya lagi termasuk perlakuan yang wajib mereka lakukan yaitu intra-arterial dan intra-muscular.
Selesai menyampaikan uneg-unegnya pada Itachi kini Omoi beralih pada Kyuubi. "Kau juga Kyuu, sudah berapa mencit yang terluka akibat ulahmu tidak konsen?"
Sungguh, dinasehati oleh anak didiknya sendiri sebenarnya membuat Itachi sedikit marah namun sejak kejadian kemarin membuat segala sesuatu yang dikerjakan olehnya terasa serba salah, seperti yang diunegkan oleh Omoi contohnya.
"Ah, kau benar. Sebaiknya saat ini bukan waktu yang tepat untukku membantu," ucap Kyuubi. Ia langsung pergi sebelum mendapat persetujuan dari mereka.
"Apa sesuatu hal terjadi antara kalian?" Omoi memandang Itachi, meminta penjelasan.
Itachi masih saja fokus pada kegiatan berberesnya. Perginya Kyuubi tanpa pamit menandakan bahwa materi yang diberikannya sudah cukup sampai di sini. "Bukan hal yang penting," ucapnya singkat tanpa menatap Omoi.
"Sebaiknya jika kau yang salah cepatlah minta maaf padanya, " saran pemuda berkulit gelap.
Itachi menimbang-nimbang sendiri benarkah ia harus menceritakannya atau tidak pada Omoi. "Kemarin aku meminta pendapatnya tentang hubungan sesama jenis." Akhirnya ia mengaku, karena menurutnya selain Omoi tak ada seorang pun tahu bahwa ada pria lain yang menyukai dirinya.
"Lalu?" desak Omoi, ingin mendengar penjelasan Itachi selengkapnya.
"Dia bilang hal itu tak ada hubungannya denganku, lalu tanpa kusadari aku telah membentaknya. Jika saja rem tak sanggup menghentikan mobilku, entah apa yang akan terjadi pada kami." Itachi menghentikan kegiatan yang dilakukannya, matanya kini tertuju pada kedua tangannya. Itachi merasa malu pada Kyuubi karena hampir mencelakakan nyawanya, ia tak mau lagi menjadi penyebab kematian orang lain.
"Terserahmu sajalah, Itachi-nii." ucap Omoi sambil mengangkat bahunya, pura-pura tidak mengerti.
Omoi tersenyum puas dalam hatinya. Ia telah berhasil memanfaatkan pribadi Itachi dan Kyuubi yang bertolak belakang. Ia sendiri tidak menyangka bahwa strategi surat itu dapat berjalan dengan baik. Yang perlu ia lakukan sekarang ialah menjalankan rencana yang lain. Tidak ada yang bisa menghalangi dirinya mencapai tujuannya!
Tak ingin dianggap aneh oleh Itachi karena tersenyum-senyum sendiri membuat Omoi kembali membantu Itachi membereskan semua alat demonya.
_ page break _
"Kyuubi? Kau kah itu?"
Kyuubi menolehkan kepalanya ke arah pintu. "Chiyo-baa?"
Nenek tua yang dipanggil Chiyo-baa itu melangkah ke arah Kyuubi. Karena faktor usia laboran itu berjalan cukup pelan.
"Itachi sedang tak ada di sini jika kau mencarinya." Chiyo mengambil duduk di sebelah Kyuubi.
Namikaze sulung menggeleng dan kembali fokus dengan apa yang dilakukan, menginjeksikan bromokriptin sesuai tugasnya. "Aku tidak mencari sensei. Aku ke sini untuk merawat mencit yang jadi bagianku saja." Saat ini ia memang sedang menghindari Itachi. Kyuubi ingin Itachi kembali bersikap seperti biasanya, tidak aneh seperti kemarin.
"Kau cukup bersemangat meneliti untuk orang seusiamu Kyuubi," komentar Chiyo.
"Tidak juga Chiyo-baa, aku hanya ingin melakukan apa yang bisa kulakukan untuk orang yang kusayangi." Kyuubi teringat pada adiknya.
Setidaknya dengan penelitian ini Kyuubi dapat mengerti kelainan yang diderita Naruto. Ia cukup penasaran dengan hasil proyek ini nantinya. Bromokriptin yang diinjeksikannya ini mirip terapi yang diberikan pada Naruto walau perlakuannya ini menggunakan dosis akut.
Tak ada salahnya untuk berdiskusi dengan dokter yang merawat Naruto jika hasil penelitiannya nanti cukup signifikan. Kyuubi bahkan sempat memiliki hipotesis jika dosis obat untuk Naruto ditingkatkan ada kemungkinan Naruto dapat sembuh tanpa adanya operasi.
Walau demikian Kyuubi cukup mengerti bahwa adiknya bukanlah bahan percobaan karena diperlukan uji klinis untuk menentukan keamanan penggunaan dosis terbaru. Namun sayangnya uji klinis itu sepertinya cukup sulit dilakukan mengingat kelainan yang diderita adiknya cukup langka.
"Chiyo-baa?" panggil Kyuubi saat tak ada tanggapan dari perempuan tua itu. Saat menoleh ke samping Kyuubi mendapati Chiyo sedang tertidur, mungkin karena kelelahan.
Sudah sejak seminggu yang lalu Kyuubi mulai akrab dengan Chiyo. Chiyo mengajarkan banyak hal tentang cara perawatan pada mencitnya, hal yang tak ia dapat dari kuliahnya atau Itachi. Ia mengajari bagaimana cara mengganti sekam, banyak sekam dan pakan yang harus diberikan di tiap kandang, bahkan memberi tahu Kyuubi bagaimana cara mengenali mencit yang sudah kawin seperti tadi pagi. Ia cukup senang saat mengetahui hampir semua mencit betinanya yang diinduksi masa estrusnya* terdapat vaginal plug. Sehingga Kyuubi dapat memulai perlakuannya hari ini.
_ page break _
Rencana demi rencana yang selalu gagal membuat kekesalan gadis merah muda semakin memuncak. Bukannya membuat Sasuke menjauh kini Uchiha bungsu itu malah semakin menempel saja pada Naruto. Karena telah kehabisan ide maka Sakura tak memiliki alternatif lain selain menggunakan pemaksaan.
Menurut Sakura memisahkan Sasuke dan Naruto secepatnya adalah cara yang terbaik. Oleh karena itu ia hanya menginginkan pemuda Namikaze itu tak nyaman lagi di sekolah dan segera memutuskan untuk pindah. Walaupun sepertinya hal itu sangatlah kecil kemungkinannya, mengingat sang target sudah menapaki kelas terakhirnya.
Dari informan yang telah dipercayainya, Sakura berhasil mengetahui bahwa sepulang sekolah ini pemuda bersurai pirang akan mencari kebenaran akan kesetiaan kekasihnya. Ia juga mendapatkan kabar bahwa Sasuke dan teman Naruto yang lain juga ikut serta dengannya. Sehingga Sakura pun memutuskan untuk mengikuti mereka agar Sasuke tidak diapa-apakan oleh Naruto meski dipikir berulang kali pun hal itu sepertinya tidaklah mungkin terjadi.
Saat ini Sakura sudah duduk manis di mobilnya dan mengekori kendaraan yang dikemudikan oleh Temari Sabaku semenjak meninggalkan gerbang Konoha High School.
Karena hal yang tak diketahuinya, Sasuke dan Naruto yang tidak membawa kendaraan ke sekolah itu ikut menebeng bersama Gaara, sahabat Naruto. Serta kemungkinan bahwa usia Gaara di bawah 18 tahun membuatnya belum memiliki lisensi sehingga mobil tersebut harus dibawa oleh Temari yang merupakan saudara Gaara, begitu analisa Sakura.
Namun setelah diikuti oleh Sakura, mobil yang dikendarai oleh Sabaku sulung itu ternyata tidak langsung menuju Konoha Mall.
"Eh, Konoha Mall kan tidak lewat jalan ini?" Berulang kali mengunjungi mall itu membuat Sakura hafal di luar kepala berbagai jalan yang menuju ke mall yang terbesar di Konoha . Karena masih terheran-heran membuat Sakura mengabaikan ponselnya yang terus berdering.
"Nona, sepertinya itu telepon yang penting," komentar Ebisu, supir Sakura, di saat gadis muda itu tak segera menjawab teleponnya.
"Ah! Kau benar, Ebisu-san," seru Sakura. Ia pun terpekik riang ketika mendapati seseorang yang menghubunginya itu adalah ayahnya. Sudah lama Sakura tidak melihat sang ayah meski mereka tinggal satu atap.
"Ayah! Aku rindu Ayah! Iya, aku sudah pulang. Sekarang? Tapi, Yah aku sudah ada rencana. Tidak bisa jika tidak hari ini. Tidak mau. Ayolah, Yah. Tidak. Oke," klik- Sakura mengakhiri teleponnya dengan wajah bersungut kesal berbeda sekali dengan ekspresi sebelum mengangkat telepon.
"Ebisu-san, kita pulang sekarang," titah Sakura.
"Tidak jadi mengikuti pemuda itu, Nona?" tanya Ebisu.
Sakura menggelengkan kepalanya, "Akan ada jamuan nanti sore dengan rekan bisnis Ayah. Ayah mengancam memotong saku bulananku jika aku tidak mau datang."
_ page break _
"Kupikir kita semua akan menyamar. Kenapa hanya aku?" Naruto berteriak histeris di depan salah satu pintu masuk Konoha Mall. Teriakannya membuat beberapa sekuriti pusat perbelanjaan itu hampir saja menyeretnya pergi jika tidak ada dua orang pemuda garang yang tengah mengapit.
"Bukannya tadi kau bilang sendiri ingin mengikuti tanpa membuatnya curiga?" Gaara memandang sekilas penampilan Naruto. Tanda tiga garis melintang di pipi Naruto tertutupi dengan make up tipis. Temari memang tak main-main jika tentang urusan dandan, wajar jika Naruto kesal.
"Kau terlalu terpengaruh drama Korea itu, Gaara. Dasar maniak drama!" Naruto menunjuk-nunjuk dada datar Gaara membuat mereka semakin menjadi pusat perhatian yang menarik bagi pengunjung mall lainnya.
Bahkan di antara penonton itu ada yang sempat merekam interaksi mereka. Mereka seperti melihat adegan shooting secara langsung, apa lagi wajah ketiga orang di hadapan mereka ini sangat rupawan layaknya bintang layar lebar.
"Bukan salahku jika drama itu berkualitas bagus. Ayo masuk, tidak enak menjadi tontonan seperti ini," ajak Gaara dengan menarik paksa lengan Naruto setelah mata hijaunya mengamati kerumunan orang di sekitarnya.
"Nah, kau tahu sendiri, bukan? Aku terlihat aneh. Bagaimana jika nanti ada seseorang mengenaliku?" Naruto tetap tak bergeming, tak jadi masuk ke dalam mall. Ia bisa mati kutu jika berpapasan orang yang mengenalinya.
"Manis," puji Sasuke. Mata hitamnya terang-terangan menelisik tubuh Naruto yang dibalut oleh celana hitam berbahan jeans dan mini dress biru tanpa lengan yang dibalut dengan cardigan yang berwarna serupa namun lebih lembut. Leher jenjang itu dihiasi oleh kalung berbandul prisma safir yang selalu dikenakan Naruto kemudian tampilan itu disempurnakan dengan tas jinjing dan sepatu berhak yang memiliki warna senada. Sasuke bahkan heran jika diperhatikan baik-baik lekuk Naruto ternyata tak jauh berbeda dengan wanita, yang membedakannya adalah tinggi Naruto yang berada di atas rata-rata tinggi wanita.
"Jangan mengatakan manis pada seorang pria, Teme! Kau membuatku mual," Naruto menjitak kepala Sasuke yang tanpa pertahanan.
"Bukankah kau ribut karena takut ketahuan, Naruto? Percayalah kau nampak seperti gadis tulen, tak akan ketahuan." Mata Sasuke kembali menilai Naruto dari bawah ke atas.
"Dengan rambut ikal panjangmu dan bokong seksi ini semua orang akan yakin kau ini seorang gadis," Sasuke menampar pelan pantat Naruto. Aksi Sasuke kali ini membuatnya mendapat jitakan gratis lagi dari Naruto.
"Itu karena Temari sudah keterlaluan mendandaniku. Untuk apa dia memiliki wig seperti ini?" Naruto menyentuh rambut palsu yang ditata terurai itu.
Naruto melihat ada yang tak biasanya dari diri Sasuke kemudian Naruto mendekati pemuda yang lebih muda darinya. "Padahal aku sudah memakai sepatu setinggi ini tapi kenapa kau masih lebih tinggi dariku, Sasuke?" tanyanya. Dia baru menyadari tingginya sekaran tepat di bawah alis mata Sasuke.
"Aku memang lebih tinggi darimu. Lagi pula sepatu itu tak terlalu tinggi," komentar Sasuke sambil menghindari jitakan baru yang tertuju ke arahnya.
"Hah. Kukira sepatu ini akan membuatku lebih tinggi dari kalian." Naruto menoleh ke kanan dan kirinya, mencari keberadaan temannya yang satu lagi. "Eh mana, Gaara?" tanyanya pada Sasuke.
Sasuke mengedikkan bahunya. "Dia pergi saat kau terlalu sibuk menyesali takdirmu."
Sesaat kemudian ponsel Naruto berdering sebentar, ada pesan masuk. Naruto membuka pesan terbaru itu yang ternyata dikirim oleh Gaara.
"Gaara bilang sedang mampir ke toko kaset. Dia bilang ada drama terbaru yang rilis. Ya sudahlah." Naruto berjalan memasuki mall dengan langkah canggung. Tidak terbiasa mengenakan sepatu berhak tinggi membuat dirinya berjalan seperti robot.
Sasuke mencoba mengimbangi ritme langkah Naruto. Ia menoleh saat pemuda pirang itu memanggil namanya. "Sasuke. Kau tahu nama butik yang akan dikunjungi Fū?"
_ page break _
Tepat seperti informasi yang diberikan Sasuke, kini Fū dan Shibuki sedang berada di butik teranyar yang ada di mall ini.
Lagi-lagi kesialan menimpa Naruto, ia terpergok sedang mengintip kondisi di dalam butik dan membuat salah seorang sales wanita berhasil membawanya masuk ke dalam ruangan penuh pakaian feminin itu.
Berada di dalam butik tidak membuat investigasi Naruto terhenti. Dari balik rak baju diam-diam Naruto mengamati Fū yang sibuk memilih pakaian yang disenanginya.
Dari pengamatan Naruto kedekatan Fū dengan Sibuki tak melebihi kedekatan antara model manajernya. Di saat Naruto berpura-pura sibuk memilih pakaian, ia melihat Fū keluar masuk ruang ganti untuk menanyakan kecocokan baju-baju yang telah dipilihnya pada Shibuki yang sedang siap menunggu di depan bilik.
Sebagai pacar yang baik Naruto sangatlah ingin menggantikan posisi Shibuki saat ini dan bisa memuji kecantikan Fū. Tapi tetap saja ia merasa kecewa padanya karena telah melupakan janji kencan dengannya.
'Mungkin dia ada job dadakan dan langsung mengajak manajernya ke sini. Tidak ada yang terjadi sebaiknya aku pulang,' pikir Naruto. Ia telah menyaksikan sendiri hubungan Fū dan Shibuki hanya sebatas pekerjaan, tidak lebih.
Di saat Naruto akan berjalan keluar menuju Sasuke, sebuah tangan tak dikenal hinggap lengannya. Sentuhan itu membuat Naruto reflek untuk menarik tangan asing itu dengan tangan bebasnya kemudian meremasnya erat. Kontan saja tindakannya membuat seseorang yang ternyata adalah sales yang hendak menawari pakaian padanya, terpekik kaget.
Sadar bahwa yang dilakukannya membuat seluruh pengunjung butik terfokus pada mereka, termasuk Fū. Bahkan Sasuke kini sudah berada di dekat Naruto.
"Maaf. Apa ada yang kau inginkan?" Naruto merasa bersalah pada wanita muda itu. Agar tidak mencurigakan, Naruto sengaja melembutkan suaranya saat berbicara.
Sales itu masih memegangi tangannya yang memerah. "Tidak apa-apa, Nona. Mungkin tindakan saya terlalu mengejutkan." Ia kemudian menyerahkan pakaian yang dipilihkannya pada Naruto.
"Untuk apa ini?" tanya Naruto.
"Apakah itu koleksi terbaru season ini?" tanya seorang gadis kepada sales, suara yang familiar bagi Naruto. Ia tak menyangka dress yang dipegangnya sekarang ternyata adalah benda yang diinginkan Fū.
"Maaf Nona, stok kami yang tersedia sedang dibawa oleh nona pirang ini," begitu tanggapan dari sang sales.
"Ah, kalau begitu aku mengalah saja. Dia yang menemukannya terlebih dahulu," ucap Fū. Ia tak ingin merebut barang yang diinginkan orang lain.
"Kau boleh mengambilnya," ucap Naruto sambil tersenyum tipis ke arah sang gadis.
Sesaat Fū merasa pernah melihat senyuman yang diberikan gadis pirang itu, entah dimana. "Tidak bisa. Aku rasa dress itu lebih cocok dipakai olehmu" Fū tersenyum ke arah Naruto. Berharap jika ia balas tersenyum maka memorinya akan kembali. Namun karena ia benar-benar lupa dimana pernah melihat senyuman itu membuat Fū segera menepis asumsinya.
"Iya, Nona. Lebih baik anda mencobanya terlebih dahulu." rayu sales itu, menguatkan saran Fū.
Saat Naruto menatap teduh wajah Fū, gadis itu balik memandangnya dengan sorot penasaran. Ia menduga Fū tidak akan melepaskannya begitu saja jika keinginannya belum terkabul.
Sasuke yang sejak tadi hanya terdiam menonton kini menarik pelan tangan Naruto, mengajaknya pergi. Belajar dari pengalaman jika ia menarik paksa Naruto maka ia akan bernasib sama seperti sales wanita itu.
"Ayo kita pergi dari sini," ajak Sasuke ketika tarikan tangannya tak mendapat tanggapan dari Naruto. Naruto masih diam di tempat.
"Kau ingin aku mencobanya ini?" Pertanyaan Naruto mendapat anggukan antusias dari Fū, begitu juga dengan sang sales yang ikut mengangguk tanpa diminta. "Baiklah aku akan mencobanya," Naruto menghela nafas panjang.
Sebelum Naruto beranjak ke bilik ganti, Sasuke menarik lembut tangannya yang diabaikan Naruto. "Apa kau serius, Naruto? Kau tahu pasti itu dress terusan," Mata Sasuke melotot tajam pada Naruto. "Bukankah kau bilang pada Temari tak ingin memakai baju model itu? Aku masih ingat perdebatan siang tadi," bisik Sasuke pada Naruto. Sasuke masih mengingat ucapan Naruto bahwa ia tak ingin baju yang memperlihatkan kakinya yang terbuka, seperti pakaian sejenis rok.
"Fū ingin sekali melihatku mencoba baju ini. Setidaknya dengan penampilan seperti ini aku bisa menyenangkan dirinya. Ikutlah denganku, Sasuke," ucap Naruto sambil melangkah menuju ruang ganti. Masih mengabaikan tangan Sasuke yang masih menempel di lengannya.
Mereka berhenti di depan ruang ganti yang sedang kosong. "Apa aku harus ikut masuk?" tanya Sasuke penuh harap dengan mata yang menatap Naruto dan bilik sempit itu secara bergantian.
"Tunggui aku di sini, Sasuke. Jangan sampai ada orang lain masuk bilik ini," pinta Naruto.
Sasuke menghela nafasnya pada alasan aneh Naruto. Namun tak lama kemudian ia mendengar Naruto memanggil namanya. "Ada apa?" tanya Sasuke.
"Masuklah, Sasuke." Panggil Naruto dari dalam bilik.
Mendengar permintaan Naruto tiba-tiba membuat jantung Sasuke berdegup lebih cepat dan kerongkongannya terasa kering, membuat ia meneguk keras ludahnya sendiri.
"Kubilang masuklah, Sasuke." Naruto memanggilnya lagi.
Tak ingin sang pujaan hati menunggu lebih lama Sasuke segera memasuki bilik sempit itu, tak menghiraukan tatapan heran dari pengunjung butik yang lainnya.
Dari bilik yang remang Sasuke melihat punggung Naruto terbuka ke arahnya sedangkan bagian depan tubuh Naruto menghadap pada dinding bilik, telapak tangan Naruto menempel pada dinding berbahan kayu itu. Pakaiannya kini telah diganti dengan dress yang ditawarkan oleh sales tadi, hanya saja resletingnya masih belum tertutup. 'Mungkin ini yang membuatnya meminta bantuanku,' batin Sasuke.
"Apa kau berniat menggodaku, Naruto?" Suara Sasuke terdengar serak.
"Untuk apa aku menggodamu Sasuke? Aku hanya ingin kau membantuku memasang resleting." Naruto menunjuk ke arah punggungnya. Naruto kesusahan menutup resleting resleting, tak biasa memakai baju sejenis ini.
Sasuke mendesah kecewa ketika guyonannya dianggap angin lalu oleh Naruto.
"Kau memakai bra, Naruto?" tanya Sasuke setelah tangannya mencapai punggung setengah telanjang Naruto. Tangan Sasuke menyentuh strap belakang bra yang dikenakan Naruto, menariknya perlahan seperti mengecek keelastisannya. Tangannya kemudia beralih untuk menyentuh kait pada bra itu, sesekali Sasuke menggesekkan telapak tangannya pada punggung Naruto. "Aku tidak menyangka kau akan berkorban sejauh ini. Berapa ukuran bra yang kau pakai? Cup A?" tanya Sasuke dengan nada usil.
Diamnya Naruto terasa aneh bagi Sasuke, biasanya jika ia berbuat iseng Naruto akan marah dan memukulnya. "Naruto?" panggil Sasuke.
Sasuke merasakan telapak tangan yang masih menempel pada punggung Naruto yang masih terdiam membuatnya sedikit khawatir. "Naruto?" panggilnya lagi.
Dapat disaksikannya wajah Naruto yang menunduk dalam-dalam. Ia segera meraih pundak Naruto dan memutarnya hingga kini ia berhadapan. Sasuke melihat mata Naruto terpejam rapat dan bibir terkunci membentuk garis tipis. Spontan membuat Sasuke mengelus kembali punggung terbuka Naruto.
Bukannya membuat Naruto tenang ternyata elusannya itu membuat tubuh Naruto semakin menciut, seperti ketakutan.
"Sst, kecilkan suaramu, Naru." Tangan itu terus mencengkram erat salah satu lengan Naruto hingga memerah. "Lihat beberapa orang sudah mulai melihat ke arahmu. Berikan padaku, pada mereka semua pertunjukan terbaikmu. Jika tidak, pisau ini sebentar lagi akan menembus kulitmu."
"Perah susumu dihadapan mereka sekarang!"
"Lakukan sekarang juga, Naruto" Tangan kasar miliknya kemudian berpindah pada punggung Naruto yang terbuka untuk mengelusnya, seolah memberi Naruto semangat untuk terus mempertontonkan aksinya.
"Jangan. Tolong jangan," gumam Naruto saat ia mendengar samar-samar suara yang ada di kepalanya.
Mata Naruto masih terpejam, telapak tangan yang menempel pada dinding pun basah karena keringat dingin yang keluar.
'Naruto ketakutan karena kuelus punggungnya?' tanya Sasuke dalam hati.
"Naruto. Naruto, aku Sasuke. Buka matamu." Bisik Sasuke di dekat telinga Naruto, berharap pemuda itu segera sadar. Ia kemudian melepaskan tangannya dari punggung itu.
"Sasuke?" panggil Naruto, mencoba memastikan bahwa baru saja memanggilnya benar-benar berasal dari pemuda Uchiha.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke.
Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali di saat Sasuke semakin memperlebar jaraknya dengan tubuh Naruto. Sasuke tak ingin kejadian itu terulang kembali.
"Aku pasti terlihat memalukan olehmu. Apa pun yang terjadi tolong jangan elus punggungku seperti itu lagi," pinta Naruto dengan menatap arah lain selain Sasuke, tak menjawab pertanyaan itu. "Bisa kau percepat tugasmu? Aku memintamu menutup resleting ini," pinta Naruto lagi yang segera dituruti oleh Sasuke.
Tok, tok, tok.
Terdengar ketukan dari luar bilik. "Apa kalian baik-baik saja?" suara sales wanita yang sama mulai memasuki alat dengar mereka. Membuat Sasuke dan Naruto saling bertatapan.
"Apa yang dia katakan? Tentu saja kita baik-baik saja, bukan?" bisik Naruto pada Sasuke.
"Apa yang kau pikirkan jika dua orang memasuki bilik yang sama di waktu yang sama?" Sasuke memberikan jawaban yang mengandung pertanyaan.
Tok, tok, tok.
"Tidak terjadi apa-apa?" Naruto memutar kedua bola matanya, ia sedang tak ingin main tebak-tebakan saat ini.
Tok, tok, tok.
"Pikirkan dirimu yang saat ini menyamar jadi wanita, Dobe. Kau tahu apa yang pasti dipikirkan orang lain jika sepasang pria dan wanita di bilik yang tertutup." Sasuke menjelaskan.
Naruto terlihat mencerna apa yang dikatakan Sasuke. Wajah Naruto memerah setelah mengerti maksud ucapannya, ia paham. "Tapi kita berdua sama-sama seorang pria. Tidak ada hal yang bisa kita lakukan, Sasuke. Oh!" wajahnya semakin merona ketika sadar telah mengucapkan kata kita dalam kalimat itu. Ia menggelengkan kepalanya ketika teringat ciumannya dengan Sasuke tempo hari.
Tok, tok, tok. Tok, tok, tok.
Ketukan di pintu itu semakin persisten, membuat Sasuke melirik kesal ke sumber suara.
"Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, Naruto." Sasuke melirik Naruto dari bawah ke atas.
"Rawr! Rawr! Pria adalah makhluk yang ganas, kau tahu." Sasuke tiba-tiba mengaum dan memposisikan tangannya membentuk cakar ke arah Naruto.
Di bawah alam sadarnya Naruto menyilangkan tangan ke depan dadanya, bermaksud memasang kuda kuda. Tatapan Sasuke seperti harimau lapar yang akan menerkam mangsanya. "Sadarlah Sasuke! Walau seperti ini aku juga lelaki sama sepertimu." Suara Naruto terdengar panik.
Sasuke menyeringai geli melihat reaksi Naruto. "Cepatlah keluar, segera tunjukkan baju itu pada mereka lalu kita pergi dari sini," ucap Sasuke sambil melangkah menuju pintu.
Di luar bilik Sasuke melihat seorang sales wanita, Fū, dan Shibuki masih setia menunggu di mereka.
"Tidak perlu mengetuk pintu seperti itu- Aibara-san*." Sasuke tersenyum kalem pada sales itu setelah membaca name tag yang menempel di seragamnya. "Kami adalah sepasang kekasih, jadi wajar saja kami berlama-lama di dalam sana," ujar Sasuke.
Mendapat senyuman maut seperti itu membuat sales yang dipanggil Aibara-san itu tersipu.
Tak lama kemudia ia mendadak menolehkan kepalanya ke arah pintu bilik yang dibuka secara kasar oleh pelanggan pirangnya.
"Kau bukan pacarku, Teme! Tidak usah menyebar feromonmu sembarangan!" Naruto menatap sales wanita yang masih merona kemudian melemparkan tatapan sengit pada Sasuke.
Naruto segera menutup mulutnya ketika sadar mata jingga Fū berbinar menatapnya, terlanjur sadar ia telah berteriak dengan suara aslinya.
Saat berada di dalam bilik Sasuke tak begitu memperhatikan penampilannya karena keadaan memang remang. Tak disangka olehnya dress yang dipakai Naruto ternyata begitu apik dikenakan. Menurut Sasuke lekuk tubuh yang dimiliki Naruto memang terlihat abnormal untuk dimiliki oleh seorang lelaki sepertinya. Ia yang sedari tadi takjub memandang Naruto kini mulai menghampirinya dan berjalan memutari layaknya seekor predator.
"Jadi ini alasanmu tak ingin memakai rok? Kenapa kakimu mulus sekali? Tak seperti kaki seorang pria," tanya Sasuke pelan, tak ingin penyamaran mereka terbongkar. Ia memandang lekat kaki jenjang Naruto.
"Kau ingat aku ini memiliki kelebihan hormon prolaktin? Tentu saja hal itu membuat hormon kelakianku sedikit berkurang." Naruto mendesis pada Sasuke, diperlakukan Sasuke ini membuatnya kembali jengkel. Melihat Sasuke tak kunjung berhenti mengelilinginya membuat Naruto memegang kedua lengan Sasuke, bermaksud menghentikannya.
"Jadi intinya hal itu membuat tubuhmu tak seperti seorang lelaki? Apa itu berarti..." Mata Sasuke menerawang ke area selangkangan Naruto.
"Apa yang kau lihat, hah?" Naruto menjitak kepala Sasuke cukup keras begitu tahu kemana arah pandang Sasuke.
"Kalian mesra sekali!" Kedua pemuda itu menoleh pada sumber suara, setengah sadar bahwa yang dimaksud mesra adalah mereka.
"Kau cantik sekali dengan baju itu, Nona! Kau pasti seorang model." seru suara itu lagi yang ternyata adalah suara milik Fū. Wajahnya terlihat berseri-seri menatap dirinya dari atas ke bawah. Dengan tubuh setinggi itu ia menebak bahwa gadis pirang itu adalah seorang model. "Dressnya untukmu saja," Fū menambahkan.
"Terima kasih." Naruto memberikan senyum paksanya pada sang gadis.
Dari arah samping Sasuke menilai senyuman Naruto lebih mirip dengan ringisan yang aneh. Tentu saja dikatakan bermesraan dengan pria lain dan dipuji cantik oleh kekasihnya sendiri pasti sangat melukai harga diri Naruto, begitu pikir Sasuke.
"Nah Nona, jika ingin saya akan membungkusnya untuk anda," sela sales yang sempat terabaikan keberadaannya. Ia melemparkan senyum bisnisnya pada Naruto.
"Maaf, aku tidak jadi mengambilnya." Naruto menolaknya dengan nada pelan. Naruto menjadi tidak enak hati melihat wajah kecewa sang sales saat melihatnya masuk kembali ke bilik ganti.
Sesaat kemudian Naruto muncul lagi dari bilik yang sama dengan masih menggunakan dress yang belum dilepaskannya. Kemudian ia melangkah menuju sang sales yang masih belum beranjak dari posisinya.
"Apa aku boleh langsung memakainya sebelum membayar baju ini?" Naruto bertanya pada sales itu.
"Maaf, Nona?" Sales wanita itu masih belum mengerti maksud pertanyaan Naruto.
"Aku jadi membeli baju ini. Jadi bolehkah aku langsung membayarnya tanpa mencopot dress ini," tanya Naruto lagi.
"Ah! Kalau begitu mari saya antar ke kasir." Wanita itu melangkah riang ke arah kasir. Ia tak lagi peduli dengan keputusan Naruto yang terkesan plin plan.
_ page break _
"Kenapa kau membelinya?" Sasuke menatap bolak balik ke arah Naruto dan kantong belanja yang ditentengnya bergantian. Naruto masih memakai bajuyang dibelinya dari butik tempat Fū berada.
"Oleh-oleh untuk Temari," jawab Naruto singkat. Tak mungkin ia bisa mengatakan alasan yang sebenarnya pada Sasuke.
Saat berada di ruang ganti belum lama ini Naruto baru ingat bahwa ia tak bisa membuka resleting dress yang dikenakannya sendirian. Tak mungkin pula ia meminta bantuan Sasuke.
Tak dapat disangkanya dalam waktu singkat satu persatu rahasia yang tersimpan rapi selalu saja terbongkar di depan pemuda Uchiha. Oleh karena itu Naruto tak ingin kejadian di bilik ganti itu terulang kembali.
Sebagai lelaki yang seharusnya bisa menjaga diri Naruto merasa malu pada Sasuke. Naruto tak ingin Sasuke semakin memandang aneh padanya dengan tingkah lakunya yang kadang di luar kendali. Keping-keping kenangannya selalu membuat Naruto tanpa sadar menghubungkan kejadian di masa lalu dan masa kini. Seakan ingatan itu tak mau meninggalkannya sendiri. Saat teringat memori suram itu Naruto mengepalkan erat tangannya.
"Apapun yang terjadi aku harus kuat," gumam Naruto, berjanji pada dirinya sendiri. Tak ingin perang batinnya diketahui ia mengayunkan kakinya cepat walau dengan langkah kaku. Naruto berusaha beberapa langkah di depan Sasuke.
"Kita pulang?" Sasuke bertanya lagi di saat Naruto terus berjalan di depannya tanpa memberitahukan tujuan mereka. Sebenarnya ia sangat ingin mengetahui alasan di balik tindakan tiba-tiba Naruto. Apakah Namikaze itu memiliki trauma?
"Kita ke food court. Gaara sudah menunggu di sana," jawab Naruto dengan mengacungkan telunjuknya pada tempat yang berada dua lantai lebih tinggi dari tempat mereka saat ini.
_ page break _
"Jadi kau yakin Fu tak mengkhianatimu?" Gaara melirik pasangan Fu-Shibuki yang ada di sebelah meja mereka.
"Aku yakin itu, Gaara," manik biru Naruto memandang lurus manik jade yang ada di hadapannya. Ucapan Naruto mengundang dengusan pelan dari Sasuke.
Mereka tak menyangka selepas dari butik Fū dan Shibuki juga mampir ke food court. Bahkan meja yang dipilih mereka bersebelahan dengan meja yang diduduki oleh rombongan Naruto.
"Apa masalahmu, Sasuke?" Naruto tersinggung dengan apa yang baru saja dilakukan Sasuke.
"Tidak ada," Betapa inginnya Sasuke menceritakan apa yang dilihatnya pagi tadi, namun niat itu diurungkannya. Sekalipun ia mengatakannya Naruto tidak akan percaya.
"Ya sudah," Naruto kembali mengaduk semangkuk ramen yang telah dipesannya.
Greek.
Suara deritan kursi dari arah samping mejanya membuat Naruto berhenti mengaduk kemudian menolehkan wajahnya.
"Aku akan ke kamar kecil." Ucapan Fū dijawab oleh anggukan dari pria di seberangnya.
Beberapa menit setelah kepergian Fū, Shibuki terlihat berpikir sebentar. Kemudian ia pergi menuju arah yang diambil oleh gadis itu.
"Firasatku tidak enak," gumam Naruto ketika Shibuki meninggalkan mejanya.
"Mau kemana kau, Naruto?" Gaara mengamati Naruto yang kini telah berdiri dari duduknya.
"Aku akan ke toilet menyusul Fū." Tanpa menunggu persetujuan dari dua temannya Naruto segera beranjak menuju ke arah toilet.
"Susullah jika kau ingin," ujar Gaara ketika melihat Sasuke terus menatap punggung Naruto yang semakin menjauh.
_ page break _
Firasat buruk yang dirasakan Naruto ternyata benar. Shibuki yang setia menunggu di depan toilet wanita langsung menarik tangan Fū menuju ke koridor tempat Naruto memperhatikannya dari kejauhan. Hal ini membuat pemuda pirang terdesak semakin melangkah mundur memasuki koridor yang ternyata buntu itu. Kini ia terhimpit oleh jalan buntu dan Shibuki-Fū, jika ingin keluar dari sini berarti ia harus melewati mereka terlebih dahulu.
Mata safir Naruto terbelalak kaget saat melihat pemandangan di depannya. Shibuki sedang mencium Fū tepat di bibirnya. Melihat hal itu seketika dada Naruto terasa nyeri.
Namun Naruto masih tak gentar memperjuangkan Fū karena ia memiliki kepercayaan yang tinggi pada gadisnya. Ia tahu Fū adalah gadis yang setia. Ia bisa meyakinkan dirinya karena jika dilihat baik-baik Shibuki melakukan ciuman sepihak dengan gadis itu.
Fū memukul-mukul pundak Shibuki agar segera melepaskan ciumannya. Permintaan Fū itu segera dituruti oleh pria bersurai coklat itu walau dengan raut wajah terpaksa.
"Sudah kubilang jangan suka menciumku sembarangan, Shibu-kun!" teriak Fū, nafasnya masih terengah-engah.
"Koridor ini sepi." Shibuki berdalih.
"Sudah ke berapa kalinya ku dengar alasan itu. Meski aku setuju berkencan denganmu bukan berarti kau bisa menciumku sesuka hatimu." Ucapan Fū yang satu ini membuat mata Naruto kembali membola.
"Kau tidak senang, Fū? Katakan padaku apa kekasih pirangmu itu bisa memelukmu seperti ini?" Shibuki memeluk Fū. "Apa dia bisa memberikan ini?" Ucapnya kali ini dengan mengecup bibir gadis itu beberapa kali.
Pipi Fū sedikit bersemu mendapat perlakuan seperti itu. Ia yang masih ada di dekapan Shibuki hanya bisa mengeratkan pelukannya. "Aku akan segera memutuskannya, Shibu-kun. Tenang saja."
"Apa kau yakin ingin memutuskannya? Kita masih bisa menjalani ini diam-diam." Shibuki menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Fū.
Fū tampak menganggukkan kepalanya. "Aku sudah tak mau lagi berpacaran dengan pria yang lemah seperti dia. Kau pasti ingat aku pernah bercerita bahwa setiap kencan dia selalu membawa pengawal. Dia seperti wanita yang perlu dijaga saja."
"Baiklah. Kalau begitu cepat putuskan dia, Fū." Kali ini Shibuki sendiri yang menyuruhnya.
Meski dari balik koridor Naruto masih dapat mendengar dan melihat interaksi keduanya dengan jelas. Tidak hanya dadanya yang nyeri, kini matanya pun memanas setelah mengetahui perbuatan yang mereka lakukan di balik punggungnya.
Naruto tidak menyangka gadis yang dikasihinya itu masih belum bisa menerima dirinya apa adanya. Ia memanglah pengecut karena belum bisa menceritakan semua yang terjadi di dirinya pada Fū. Tapi semua itu dilakukannya karena ia memang belum siap kehilangan gadis yang disayanginya. Ia tak ingin Fū menjadi jijik akan kelainan yang dideritanya lalu memutuskan dirinya.
Namun kini Naruto menjadi serba salah. Jujur atau tidak pada Fū sepertinya akan menghasilkan keputusan yang sama, ia menjadi pihak yang ditinggalkan.
Naruto tidak sanggup melihat Fū dan Shibaku yang kembali berciuman. Di saat ia mundur ke belakang punggung Naruto menubruk sesuatu yang semestinya tidak berada di sana.
"Sasuke?" tanyanya setelah berhasil berbalik ke belakang. Alis pirang Naruto saling bertaut, heran. Sejak kapan Sasuke berada di sini?
"Kau hampir menangis Naruto." Sasuke melihat mata safir yang mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak menang-" ponsel Naruto tiba-tiba berdering nyaring sebelum ia sempat menyeka air matanya yang hampir tumpah.
Fū terkesiap mendengar nada dering yang sepertinya dikenal. Ia segra melepaskan ciumannya dengan pria dewasa itu. "Nada dering itu. Naruto?" wajah Fū tampak memucat. Ia memang berniat memutuskan Naruto baik-baik. Tapi tidak seperti ini, dalam keadaannya sekarang yang tengah berduaan dengan pria lain.
"Apa dering ponsel itu mengganggumu, Fū?" Pertanyaan Shibuki mendapat anggukan dari gadisnya, wajah Fū masih terlihat pucat.
"Berani sekali orang itu sampai membuatmu seperti ini." Shibuki menunjukkan wajah kesalnya. Ia berniat menghajar siapa pun yang sedang mengintip mereka.
Naruto masih menatap ponselnya yang tetap berdering.
Kyuubi calling…
Dijawab atau tidak panggilan itu tetap saja telah membuat posisi Naruto yang sedang mengintip terbongkar. Sebenarnya bisa saja dia datang menghadang Shibuki dan menghajarnya babak belur mumpung Naruto sedang mood ingin berkelahi. Tapi tindakannya itu akan menimbulkan keramaian di mall ini dan membuat mereka terseret ke pihak berwajib. Jika itu terjadi maka mau tidak mau keluargannya yang akan turun tangan. Naruto tak ingin menjadikan urusan pribadi menyusahkan orang-orang yang disayanginya.
Kabur dengan lari pun tidak mungkin dilakukan karena posisinya saat ini terjepit antara Shibuki dan jalan buntu. Ia juga tidak tahu apa yang akan dikatakkannya pada Shibuki jika pria itu telah sampai di hadapannya, bagaimana pun juga dalam penyamarannya ini mengintip seseorang akan dianggap aneh.
Sementara otaknya masih berpikir, indra pendengarannya menangkap langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Kehabisan akal karena tidak menemukan alasan lainnya, tanpa pikir panjang kedua tangan Naruto meraih tengkuk dan kerah Sasuke kemudia menyatukan bibir mereka. Film roman picisan yang pernah ditontonnya bersama Fū cukup berguna saat ini. Ia akan berpura-pura melakukan make out dengan Sasuke. Satu-satunya alasan yang dapat digunakan mengapa mereka sekarang berada di sini.
Sasuke bingung ketika tiba-tiba Naruto menciumnya. Ia tidak menyangka Naruto akan menciumnya duluan, meski itu sekedar tempelan bibir saja. Bukankah Naruto tidak suka dicium olehnya?
Walaupun Sasuke senang pemuda yang diinginkan telah berani menciumnya, ia tidak bisa begitu saja menerima keadaan dan menjadi pihak yang tidak mengerti apa-apa disini.
"Mengapa tiba-tiba menciumku?" tanya Sasuke setelah ia berhasil melepas ciumannya dengan sedikit memperlebar jarak antara mereka. Meski terlihat berjauhan Sasuke dan Naruto masih berada dalam zona dimana mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
Mata hitam Sasuke menatap Naruto yang kini menggigit bibir bawahnya, tak menjawab pertanyaan. Sasuke dapat mendengar suara langkah yang bergema semakin mendekat.
Naruto menolehkan kepalanya ke belakang menerka berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan Shibuki sampai di hadapan mereka. Naruto kembali lagi memandang wajah Sasuke yang masih saja stabil seolah ciuman darinya tak terlalu berpengaruh bagi pemuda Uchiha itu. Dengan satu keyakinan yang dimilikinya kini mata safir Naruto menatap lekat mata obsidian di depannya, mampu membuat nafas Sasuke tercekat tak kentara
"Tak ada cara lain Sasuke." Ucapan Naruto membuat alis Sasuke sedikit terangkat. "Berpura-puralah menganggapku seorang gadis yang kau cintai, ciumlah aku, dan anggaplah tempat ini adalah tempat terbaik bagi kita untuk memadu kasih." Naruto menjelaskan, walau mata birunya memancarkan sorot ketidakyakinan.
Penjelasan Naruto menyebabkan kelopak mata Sasuke mengerjap sekali di saat sirkuit otaknya berusaha bekerja secepat mungkin memahami keadaan. "Tidak ada situasi yang membuat kita aman selain kita pura-pura berciuman. Benar begitu, Naruto?" Sasuke melihat anggukan dari Naruto.
"Jika begitu kau juga harus berpura-pura menikmati ciuman dariku, Na-ru-to," bisik Sasuke, sengaja menyentuhkan bibirnya tepat di cuping telinga Naruto saat ia mengeja pelan namanya.
"Bagaimana caranya menikmati ciumanmu, Sasuke?" Manik biru Naruto menatap dalam manik kelam Sasuke, kemudian ia menggigit pelan lidahnya sendiri karena mengatakan hal yang tidak seharusnya.
Sasuke meletakkan tangan Naruto di setiap sisi pundaknya. Ia mengangguk sekali dan menggerakkan perlahan tangannya ke lengan Naruto, memastikan sentuhannya telah seringan bulu, semua itu Sasuke lakukan tanpa melepas manik legamnya dari tatapan bola safir di hadapannya. Sasuke memberikan senyuman terbaiknya, mencoba menenangkan pemilik mata indah itu yang kini yang mulai bergerak tak fokus dan memancarkan sorot canggung.
Tangan Sasuke berpindah di pundak Naruto, mengusapnya perlahan menuju leher dan masuk ke dalam helaian rambut halus itu. Jemari Sasuke sesekali menyisir rambut pirang itu sekali memposisikan seluruh tangannya pada leher Naruto.
Sasuke sedikit menundukkan tubuhnya di saat keempat jarinya mulai berada di tengkuk untuk menahan leher jenjang itu terus berada di tempatnya sedangkan ibu jarinya dengan lembut mengusap garis dagu Naruto. Setelah berhasil mendongakkan wajah Naruto ke arahnya ia kembali memandang mata biru itu. Kembali mengingatkan bahwa semua akan baik-baik saja. Dada Sasuke kembali bergemuruh, telapak tangannya sedikit berkeringat. Perasaan ini benar-benar baru dan terasa menakjubkan bagi Sasuke.
Melihat Sasuke yang sedikit memiringkan kepala ke arahnya membuat Naruto menirukan gerakan tersebut namun dengan arah yang berlawanan seolah mengerti apa yang akan dilakukan Sasuke, tak ingin menubrukkan tulang hidung mereka. Perlahan tapi pasti kelopak mata mereka terpejam bersamaan ketika bibir itu saling bersentuhan. Bibir itu saling mengecup malu-malu hingga akhirnya meleburkan diri dalam lumatan panas.
Jemari kanan Sasuke menari dengan lembut dan perlahan di atas pipi Naruto, melintasi rahang, kemudian membelai lembut sisi lehernya. Tangan Sasuke yang lain bergerak bebas menuruni pinggang Naruto, berhati-hati agar tidak sedikit pun menyentuh punggungnya.
Perlakuan Sasuke membuat tangan Naruto bergerak naluriah menyusuri punggung Sasuke, mencari tempat yang tepat baginya untuk berpegangan merasa pusing oleh sensasi yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Pemuda pirang itu mengaitkan kedua lengannya pada leher Sasuke dan semakin mendongakkan wajahnya untuk menekan lebih dalam bibir Sasuke. Ia tak ingin mengakui bahwa perlakuan lembut Sasuke ini telah membangkitkan perasaan asing baginya. Ribuan kupu-kupu telah terbangun dari tidur panjangnya, menggeleparkan ringan sayapnya di perut Naruto kemudian berputar-putar.
Tanpa mereka sadari tak ada satu pun dari mereka yang ingin mengakhiri kegiatan ini.
_ page break _
Fū dan Shibuki hanya bisa terdiam saat melihat sepasang kekasih saling bercumbu mesra. Gadis pirang serta pemuda berkulit pucat yang mereka temui di butik ternyata memanglah sepasang berkencan. Mereka bahkan tidak merasa terganggu dengan deringan ponsel yang terus berbunyi serta tidak menyadari bahwa mereka kini telah memiliki penonton. Berhasil membuat orang yang memandangnya iri.
"Kenapa kau tak pernah menciumku seperti itu, Shibu-kun?" nada bicara Fū terdengar sedikit ketus.
_ page break _
"Misi selesai, Nona. Sampaikan salamku pada kakakmu," ucap pria paruh baya itu. Berbinis dengannya sangat menguntungkan bagi Shibuki.
_ page break _
Walaupun Sakura memiliki rumah yang besar namun mata hijau itu tak bosannya menatap sekelilingnya. Pemilik rumah megah ini benar-benar memiliki cita rasa yang tinggi dalam menata desainnya.
Saat ini Sakura dan sang ayah, Kizashi, tengah menerima undangan untuk jamuan sore di rumah salah satu kolega bisnis mereka, Hashirama Senju, pemilik Konoha Medical Center. Selama bertahun-tahun rumah sakit terbesar di Konoha itu sudah menjadi konsumen utama alat-alat medis dari Haruno Inc.
"Anak perempuanmu manis sekali. Seperti yang pernah kau katakan," ucap Hashirama berbasa-basi. Suasana terkesan santai karena saat ini mereka berada ruang makan, tempat biasanya ia menjamu tamu.
"Saya tidak bisa menyerahkannya pada anda, tuan Hashirama. Sakura sudah memilih takdirnya. Ia telah bertunangan dengan putra bungsu dari keluarga Uchiha," jawab Kizashi tersenyum bangga. Sakura yang mendengar ucapan ayahnya menjadi tersipu malu.
"Aduh! Hilang sudah kesempatanmu mendapatkan gadis dari keluarga Haruno, Utakata," seru Hashirama pada pemuda lain yang duduk di seberang mejanya.
"Kakek tidak usah berlebihan begitu. Nona Haruno ini sudah memiliki pendamping. Kita tidak bisa memaksakan kehendak, Kek." Pemuda berambut coklat sebah ini menjawab kalem.
"Hahahaha. Jadi ini maksud anda mengundang kami kemari, Tuan?" tanya Kizashi tanpa tedeng aling-aling.
"Apa kau harus selalu mengajak seluruh kolegamu untuk mengenalkannya pada Utakata, Kek? Apa kau tidak percaya cicit kita ini tak mampu mencari pendamping, hmm?" Seorang wanita tua dengan anggunnya ke arah mereka dan mengambil duduk di samping Utakata.
"Ayah, siapakah wanita tua?" bisik Sakura pada Kizashi.
"Dia adalah Mito Uzumaki, istri dari tuan Hashirama. Ayo beri salam padanya." Perintah Kizashi.
"Uzumaki? Kenapa beliau tidak mengganti nama keluarganya ayah?" tanya Sakura lagi.
"Untuk seorang gadis kau cukup penasaran dengan semua hal, Nona muda. Pasti cocok berdampingan dengan Utakataku yang kalem ini. Tapi sayangnya kau sudah memiliki seseorang." ujar Mito ketika mencuri dengar percakapan antara ayah dan putri Haruno.
Perkataan sang nyonya pemilik rumah sukses membuat Sakura menjadi sedikit salah tingkah. "Saya Sakura Haruno. Salam kenal, Nyonya." Sakura berdiri dari duduk dan membungkukkan tubuhnya, mencoba sesopan mungkin. Membuat pasangan Hashirama-Mito tersenyum senang.
"Katakan Kizashi, kenapa kau masih saja berhubungan baik dengan Uchiha?" Hashirama mulai membicarakan persoalan bisnis mereka.
"Sebaiknya jangan mengatakannya di sini, Tuan." Kizashi melirik putrinya yang sedang asyik menikmati hidangan. Kizashi menganggap topik sensitif itu tak baik dibicarakan di depan Sakura.
"Baiklah kita bicarakan di ruang kerjaku saja." Hashirama mengalah.
Walaupun Sakura terlihat dengan tenang menikmati hidangan yang tersaji, tapi sebenarnya gadis itu sedang sibuk berpikir. Menurut Sakura marga Uzumaki adalah marga yang jarang dimiliki seseorang. Membuatnya penasaran dengan hubungan antara ibu Naruto yang dahulu pernah menyandang nama Uzumaki.
Sementara yang lainnya sudah memiliki urusan masing-masing Nyonya Uzumaki sedang sibuk menyiapkan beberapa kudapan untuk Utakata. "Kau harus mendapatkan gadis pintar seperti dia, Utakata. Nah habiskan camilan yang sudah kusiapkan." Ia memberikan piring yang dibawanya pada pemuda berumur dua puluh lima tahun itu.
"Tidak perlu repot-repot, Nek. Aku bisa mengambilnya sendiri nanti." Utakata menolaknya halus ketika melihat tumpukan kudapan di piring yang dibawa oleh neneknya.
"Kau ini mudah sekali terkena sakit, cicitku. Biarkanlah nenek tua ini merawatmu." Mendengar neneknya yang merajuk membuat Utakata tersenyum tipis.
"Terima kasih, Nek."
"Hentikan juga kebiasaanmu yang terus berjalan tanpa arah itu. Setidaknya bawalah beberapa orang denganmu," perintah sang nenek kemudian.
"Baik, nek," ucap pemuda itu sembari menyesap secangkir tehnya.
_ page break _
"Apakah sudah ada perkembangan dari bocah itu? Apa aku harus menunggu lebih lama lagi? Kita tidak boleh kehilangan barang semenarik itu. Berikan laporan secepatnya jika ada kemajuan," Hashirama segera menutup telepon yang berada di meja mahoni.
Kini Hashirama dan Kizashi berada di dalam ruang kerja kediaman Senju. Kizashi masih duduk tegap di hadapan Hashirama saat pria tua itu menjawab sebuah teleponnya. Diam-diam ikut mendengarkan sebagian percakapan itu.
"Katakan padaku, mengapa kau masih saja membantu perusahaan Uchiha, Kizashi?" tanya Hashirama setelah mengakhiri penggilan teleponnya.
"Saya masih merasa bersalah karena telah membuat mereka hampir bangkrut beberapa tahun lalu. Lagi pula kita akan menjadi besan saat putriku resmi menikah dengan putra terkecil mereka," dalih Kizashi.
"Tak seharusnya kau merasa bersalah. Karena aku yang telah menyuruhmu berbuat demikian," ucap Hashirama. "Dari pada membahas masalah yang tidak penting itu. Bagaimana jika beralih pada proyek baru yang sudah kurencanakan?" kali ini Hashirama mengeluarkan benda dari sebuah laci kemudian menghempaskannya di hadapan Kizashi.
"Siapa dia," tanya Kizashi tanpa sadar. Pandangannya kini tertuju pada puluhan lembar foto yang memiliki objek yang sama.
"Naruto Namikaze," ucap Hashirama sambil tersenyum.
_ page break _
Kushina membuka dan menutup pelan pintu kamar anak bungsunya. Keadaan Naruto sepulang sekolah kemarin cukup membuatnya untuk mengantarnya kemari. Jika kemarin Kyuubi yang pulang dengan wajah murung maka hari ini giliran bungsunya yang mendadak menjadi pendiam. Kushina tidak tahu apa yang sedang terjadi karena ketika ditanya pun Naruto menjawabnya bahwa semua baik-baik saja.
Sudah menjadi kebiasaannya untuk mengunjungi kamar anak-anaknya saat tidur, walau ia sendiri lebih sering mengunjungi Naruto karena Kyuubi selalu mengunci kamarnya.
Naruto yang memiliki kebiasaan hanya menyalakan lampu tidurnya setiap malam membuat suasana kamar remang-remang. Kushina melangkah hati-hati menuju kasur agar anaknya itu tidak terbangun karena sekarang ini waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari.
Kushina mengamati Naruto yang tengah tertidur, sorot matanya menyendu. Ia tidak menyangka bayi yang selalu digendongnya itu sudah sebesar ini. Naruto tumbuh menjadi seorang pemuda tampan dan tegar meski di balik penyakit yang dideritanya. Jika Tuhan mau mengabulkan doanya ia tidak ingin anaknya ini yang menanggung beban yang diakibatkan olehnya. Andai saja ia terlahir sebagai seorang yang sehat.
Klik-
Kushina menoleh pada pintu Naruto yang sekarang sedikit terbuka itu.
"Sudah kuduga kau ada di sini, Bu." Karbon kopi anak bungsunya menyembulkan kepala pirangnya ke dalam ruangan.
"Kembalilah tidur. Aku akan segera kembali." Kushina mengusir Minato secara halus. Saat ini ia sedang ingin menghabiskan waktunya bersama Naruto, tak ingin momen itu diganggu.
Kushina kembali memandang wajah Naruto yang masih tidur. Kebiasaan tidur anaknya ini tak pernah berubah, mulutnya sedikit terbuka. Dengan lembut ia mengatupkan rahang Naruto. Lalu ia mencari bagian tubuh dari anak bungsunya yang membuat dirinya selalu khawatir akan masa depan Naruto.
Terlahir sebagai seorang penderita Galactorrhea memang tak mudah karena ketidakseimbangan hormon itu menyebabkan hormon kelakian yang seharusnya dimiliki oleh Naruto menjadi sangat sedikit. Oleh karenanya Kushina jarang melihat tanda morning wood pada Naruto di setiap paginya. Ia takut rendahnya testosteron Naruto membuatnya tidak bisa menikmati hidup sebagai seorang lelaki.
Meski demikian Kushina tahu dia tak bisa berbuat apa-apa bagi Naruto. Yang bisa ia lakukan adalah memberikan obat-obatan itu yang entah sampai kapan bisa menyembuhkan. Operasi pun terlalu bahaya bagi Naruto karena bisa saja mereka melakukan hal yang macam-macam, mengingat penyakit yang di derita anak bungsunya ini adalah penyakit yang langka. Naruto akan menjadi kelinci percobaan mereka dan Kushina tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
_ page break _
Sudah hampir seminggu Naruto mencoba menghubungi Fū namun selalu gagal. Ia merasa gadis itu seperti sedang menghindarinya. Walau enggan Naruto memang harus segera memastikan kepastian hubungannya dengan Fū. Untuk itu ia meminta tolong Hinata, teman Fū untuk mempertemukan mereka tanpa sengaja karena ajakan Naruto selalu ditolaknya.
Peristiwa di mall beberapa hari yang lalu seakan mengacaukan hubungan Naruto dengan beberapa orang yang dikenalnya. Ia kini sudah terlanjur kecewa pada Fū walau rasa sayang pada gadis itu masih ada. Sasuke pun seperti sedang menjauhinya juga. Uchiha muda itu bahkan tidak menghadiri latihan rutin klub. Naruto yang sudah mulai akrab dengan Sasuke menjadi sedikit kesepian saat pemuda itu jarang menampakkan diri di depannya. Bukankah dulu Sasuke sendiri yang sudah seenak hatinya mengganggu ketenangan Naruto? Walau demikian Naruto tetap bersyukur karena hubungannya dengan Gaara dan keluarganya tetap baik-baik saja.
Saat ini Naruto akan menuju tempat yang dijanjikan Hinata untuk bertemu Fū, di sanggar tari. Setelah sampai di tempat yang dimaksud ternyata tempat klub tari berlatih terlihat sepi hari ini. Sepertinya Hinata telah sengaja mengosongkan ruangan itu.
Naruto melihat gadis yang dicarinya sedang duduk di salah satu kursi yang terdapat di ujung ruangan.
Fū yang masih asyik memainkan ponselnya menyadari dengan kedatangan orang lain di tempat itu ketika orang itu mengambil duduk di sampingnya. Gadis itu semakin terkejut ketika melihat pemuda yang sedang dihindarinya beberapa hari ini berada tepat di sebelahnya. Mulutnya terasa terkunci.
"Ada yang ingin kau katakan, Fū?" tanya Naruto kalem, di bibirnya tersungging senyuman.
Mata Fū mendadak terasa perih ketika melihat senyuman teduh khas Naruto. Alih-alih menjawabnya kini ia terisak menangis. Air matanya sedikit demi sedikit mengalir di pipinya.
Fū tahu bahwa sesumbar adalah hal yang tidak pantas dilakukan. Kala bersama Shibuki ia terlalu percaya diri saat berkata ingin memutuskan Naruto. Kini saat berada di hadapan orang yang pernah mengisi hatinya Fū bahkan tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Kenapa kau menangis? Gadis cantik sepertimu tak pantas untuk menangis." Naruto mengusap air mata yang mengalir di pipi Fū dengan menggunakan ibu jarinya.
Bagaikan bendungan yang telah jebol, bukannya tangisan Fū menjadi berhenti perlakuan lembut Naruto padanya membuat air matanya semakin deras mengalir. Ia merasa tak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini, harusnya Naruto marah dan membencinya. Naruto adalah pacar yang baik dan setia. Karena kesenangan sesaat ia sendiri yang telah merusak hubungan mereka. Ia telah bermain api di belakang Naruto bahkan kemarin ia sempat mengatai pemuda itu tentang hal-hal yang tidak benar. Fū benar-benar malu pada dirinya.
"Ma-maaf Naru-kun. Maaf, maafkan aku," ucap Fū sambil sesenggukan.
"Sudahlah Fū, kubilang menangis tak cocok untukmu." Naruto menghapus air mata yang kembali mengalir di pipi gadis bersurai hijau itu.
Fū harus menghentikan hubungan yang tidak sehat ini. Ia tak ingin lagi mendustai Naruto, pemuda itu pantas mendapatkan seseorang yang tulus padanya. Seandainya ia bisa menerima dan memahami Naruto apa adanya maka semua tidak akan seperti ini.
Naruto mengelus punggung gadis itu sampai tangisannya sedikit tenang sementara matanya sibuk mengelilingi dinding yang mengitari mereka, mencoba bersikap tenang. Naruto memandang satu-satu pigura yang terpasang di dinding itu sambil sesekali tersenyum pada beberapa pigura yang terdapat sosok gadis yang di sebelahnya ini.
Sampai mata biru Naruto tertumbuk pada sebuah pigura yang diingatnya adalah foto pementasan tari pertama yang dilakukan oleh Fū di sekolah ini sekaligus hari dimana Naruto mengajaknya berpacaran. Fū yang selalu ceria di setiap waktunya berubah menjadi anggun dan kalem ketika menari. Sikap profesional itu membuat Naruto kagum dan tertarik pada gadis itu sehingga pada tahun pertamanya di Konoha High School ia memutuskan untuk menjadikan Fū sebagai kekasihnya.
Walau perjalanan cintanya pernah gagal saat di sekolah menengah pertamanya, ia memberanikan diri mengajak Fū berkencan. Berharap dengan cinta barunya ini ia dapat melupakan traumanya di masa lalu yang membuat Naruto menjadi sulit untuk percaya pada orang lain.
"Naru-kun. Aku.." Panggilan Fū membuat Naruto tersadar dari lamunannya.
"Naru-kun, sebaiknya kita mengakhiri hubungan ini. Maaf aku telah bersama pria lain." Fū menunggu reaksi kaget dari pemuda itu yang tak kunjung didapatkannya.
"Aku sudah menduganya." Naruto menghela nafas lega, setidaknya Fū sudah mencoba jujur padanya.
Mata jingga Fū sedikit melebar ketika mendengar pernyataan Naruto. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku yang mencari tahunya sendiri. Dengan Shibuki, bukan?" Naruto balik bertanya pada Fū. Sejak kemarin Naruto telah menata hatinya sehingga akhirnya ia dapat mengatakan kalimat ini dengan santai.
Gadis itu menjawabnya dengan mengangguk pelan. "Jadi, apakah kau tidak marah?"
"Lelaki mana yang tidak marah jika pacarnya direbut orang lain. Ini semua salahku sendiri. Maaf tidak bisa membahagiakanmu." Naruto tersenyum kecut, raut wajahnya berubah cemas ketika melihat Fū yang kembali menangis. "Hei, tidak usah menangis lagi, Fū."
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf Naru-kun. Tapi.. Tapi maukah kau memenuhi permintaan terakhirku sebagai pacar?" Di tengah isak tangisnya Fū memandang Naruto penuh harap.
"Tentu, apa yang kau mau?" Naruto berusaha menunjukkan wajah tersenyum, seolah putusnya hubungan mereka tidak terlalu menyakiti hatinya. Bagaimanapun juga Naruto ingin membuat gadis yang masih disayanginya ini bahagia sampai di saat terakhir mereka pacaran.
"Maukah kau menciumku?" Tak memakan waktu lama Naruto memberikan sebuah kecupan singkat pada kening Fū.
Fū tak puas dengan kecupan kening yang diberikan Naruto, yang ia inginkan adalah ciuman tepat bibir. Setidaknya untuk pertama dan terakhir kalinya Fū ingin merasakannya dengan Naruto.
Sesaat setelah kecupan singkat di kening selesai, Fū segera menarik kerah Naruto dan mencium bibir yang telah lama ingin dirasakannya. Mudah baginya untuk melakukan hal ini karena sebelumnya posisi Naruto masih condong ke arahnya. Ia tahu Namikaze muda itu tidak suka dipeluk, alih-alih memeluk tubuhnya tangan Fū kini menangkup rapat kedua sisi wajah Naruto dan menahannya di sana.
Naruto memuji gadis itu karena telah berani mencium bibirnya. Saat Naruto berciuman dengan Fū ia menunggu reaksi desiran aneh seperti yang didapatkannya ketika berciuman dengan Sasuke kemarin. Sayangnya, harapannya itu tidak terkabul karena sampai lumatan di bibir itu dilepaskan, Naruto masih merasa biasa saja. Entah kenapa Naruto merasa menikmati ciuman penuh perasaan yang diberikan Sasuke. Pipi Naruto merona ketika mengingatnya.
'Tidak mungkin aku menyukai ciuman itu. Lagi pula itu hanya akting.' Naruto meyakinkan dirinya.
"Terima kasih atas semua kebaikan yang kau beri Naru-kun. Maaf aku sudah tak mungkin bisa menjadi sumber kebahagiaan untukmu. Semoga kau menemukan seseorang yang tulus padamu." Perkataan Fū menarik fokus Naruto kembali ke dunia nyata.
Kini gadis itu berdiri dari duduknya. Dengan wajah sembab habis menangis Fū mencoba tersenyum padanya, kemudian ia membungkuk pamit pada Naruto dan pergi dari ruangan itu.
Fū benar-benar tak bisa untuk tak menangis lagi jika melihat wajah Naruto. Dari pada menyusahkan pemuda baik itu karena kecengengannya maka lebih baik ia segera undur diri.
Naruto tertegun mendengar kalimat terakhir Fū. Dalam hati bertanya-tanya, 'Adakah orang yang mau menyukaiku tulus apa adanya?'
_ page break _
"Tidak biasanya kau sediam ini. Apa kau sedang jatuh cinta, Itachi?" tanya Sasori, teman Itachi yang juga merupakan dosen muda di Konoha University. Istirahat siangnya terkadang dimanfaatkan untuk makan bersama orang-orang yang akrab dengannya. Karena Nagato sedang sibuk dengan Konan, istrinya yang sedang hamil tua, jadilah ia hanya berdua dengan Itachi di kantin ini.
"Tidak. Kenapa semua orang selalu berpikir seperti itu?" Itachi menghela nafas.
Akhir-akhir ini di mata Sasori, sahabatnya ini terlihat tidak seperti biasanya. Kadang melamun, kadang menghela nafas lelah seperti saat ini. Itachi nampak galau.
"Katakan padaku, siapakah wanita yang berhasil menarik simpatimu?" desak Sasori.
"Tidak. Aku hanya sedang memikirkan nasib proyekku," jawab Itachi. Sebenarnya ia masih memikirkan surat-surat dari Kyuubi serta perhatian yang diberikan pemuda itu belakangan ini. Kyuubi adalah tim penelitiannya jika ia ada masalah dengan Kyuubi maka secara tak langsung proyeknya akan terganggu. Jadi, ia tidak sepenuhnya berbohong pada Sasori.
Sasori masih memandang skeptis Itachi dengan sorot tajamnya.
Itachi memandang balik dengan tatapan Uchiha andalannya, tak ingin kalah dengan Sasori.
"Baiklah aku akan mengatakannya padamu. Bukan wanita yang ada di pikiranku saat ini," aku Itachi, ketika Sasori tak juga mau mengalah.
Sasori menggeser duduknya, semakin merapatkan duduknya pada Itachi. "Jadi sejak kapan kau mulai belok, Chi?" Sasori menoleh ke kanan dan kirinya, ia tak ingin pembicaraan sepenting ini didengar orang lain.
Itachi menghela nafas kembali. "Ini bukan tentangku. Aku tidak sepertimu."
"Jangan memandangku seperti itu. Cinta tak memandang gender, kau tahu. Lagi pula kita tidak sedang membicarakan hubunganku di sini." Sasori tak suka dengan cara memandang Itachi.
"Kubilang padamu, aku tidak menyukai pria." Itachi menyanggakan kepalanya pada tangan yang bertumpu pada meja, menatap Sasori. "Hei Sas, yakinkan diriku bahwa surat-surat Kyuubi yang berisi pujian bukanlah pertanda ia menyukaiku. Ya bukan?" tanyanya.
"Kyuubi? Jadi Kyuubi namanya?" Sasori menyeringai. "Jika kau tak menyukainya, tolak saja dia. Mudah, bukan?"
"Nah akhirnya kau mengerti juga. Tapi semua tak bisa semudah itu dilakukan. Banyak hal yang menjadi pertimbanganku." Itachi melirik makanan di piring yang belum tersentuh, nafsu makannya hilang.
"Jadi kau ingin mempertimbangkannya? Baguslah kalau begitu. Sudah saatnya kau move on. Kau tak bisa menutup hati selamanya." Sasori tahu setelah kematian dua orang yang dicintainya, Itachi tidak pernah dikabarkan dekat dengan orang lain. "Atau kau memang ingin memberi Kyuubi kesempatan? Kau bimbang." Sasori menambahkan.
"Aku tak yakin." Itachi menggelengkan kepalanya, percuma saja menceritakannya pada sahabatnya itu bahwa dia bukan gay. Sebenarnya mudah saja bagi Itachi untuk menolak, dan mengganti Kyuubi dengan mahasiswa lain. Tapi ada sesuatu dari diri Kyuubi yang membuatnya tak mampu melakukan hal itu. 'Apa ini artinya aku mempunyai bakat menjadi seorang gay?' pikir Itachi.
"Cobalah, Chi. Ajak dia keluar, lihatlah keseriusannya padamu,".saran Sasori.
_ page break _
Naruto tidak tahu kenapa ia bisa terlibat dalam pertengkaran ini. Yang ia ingat adalah melaksanakan tugas piketnya, membuang sampah ke halaman belakang sekolah lalu pulang, itu saja.
Naruto juga tidak menyangka lawannya bisa sebanyak ini. Satu banding lima adalah pertarungan yang tidak adil bukan?
Dari beberapa orang yang mengeroyoknya* hanya ada seseorang yang ia kenali. Jirobo, adalah seorang pemuda yang juga bergabung di klub yang sama dengannya di Konoha High School.
'Kenapa mereka tiba-tiba mengepung? Apa salahku?' Naruto sibuk menerka sendiri.
Bugh!
Pukulan salah satu dari mereka berhasil mengenai tubuh Naruto untuk pertama kalinya. Mungkin beberapa saat lagi dagu itu akan segera lama berpikir membuatnya lengah dan tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan pihak lawan untuk melancarkan serangannya yang membabi buta pada Naruto.
Satu dua pukulan berhasil ia hindari. Namun sayangnya pukulan yang berasal dari Jirobo berhasil mengenainya, kali ini pipi kiri Naruto yang merasakan nyerinya. Pukulan itu membuat Naruto meludahkan sebersit darah, hasil dari tubrukan gigi dan permukaan pipi bagian dalam.
Naruto memperhatikan keadaan yang berada di sekitarnya dengan lebih baik. Lima orang yang mengelilinginya itu rata-rata memiliki tubuh yang lebih besar darinya.
Tak ingin membuat tubuhnya habis babak belur Naruto semakin meningkatkan kewaspadaannya. Naruto mengambil posisi kuda-kuda andalannya, walau sendirian ia yakin bisa mengalahkan mereka jika menggunakan strategi yang tepat. Lagi pula medan pertarungan itu familiar baginya. Memikirkan kemenangan yang akan didapatnya membuat Naruto melepaskan cengiran khasnya.
"Cepat serang!" teriak Jirobo, sang pemuda tambun. Perintahnya itu mendapat sambutan yang antusias oleh kawan-kawannya.
Naruto yang masih irama nafasnya buru-buru menggenjot tubuhnya dengan bertumpu pada bantalan tumitnya, bermaksud meningkatkan fleksibilitas langkahnya walau ruang geraknya sengaja ia buat terbatas. Naruto bermaksud mengumpulkan mereka di satu titik penyerangan. 'Yeah, mungkin ini kesempatan emas yang diberikan Tuhan agar bisa melampiaskan semua kekesalan yang kurasakan,' batin Naruto sambil menegakkan tubuhnya dan selalu memposisikan tangannya di depan dada, salah satu titik kelemahan yang dapat menjatuhkannya.
"Hyeah!" Naruto berteriak keras, berharap semua energinya terkumpul dalam setiap hembusan nafas.
Dengan menitikberatkan tubuh pada salah satu kaki Naruto mengatur rotasi pinggangnya. Teknik ini sangat berfungsi saat bertahan dan membalas serangan lawan dari berbagai arah tanpa harus berpindah tempat.
Satu pukulan masuk hampir mengenai leher jika saja Naruto tidak segera melintangkan tulang hastanya untuk menangkis sekaligus melakukan penyerangan balik ke arah dagu sang pengirim pukulan.
Dugh! Dugh!
Pukulan bertubi itu berhasil membuat rahang sang lawan, Kidomaru, cukup terluka, setidaknya pukulan itu akan menggeserkan posisi rahangnya. Pemuda berambut gelap itu kini bergerak mundur, merasa sedikit pening akibat pukulan Naruto. Satu orang beres bagi Naruto. Lawan Naruto tersisa empat orang.
"Boss! Apa kita harus melawannya? Bukankah kita hanya perlu mengambil beberapa fotonya saja!" tanya seorang yang lain mencoba mengajak Jirobo berbicara di tengah serangan mereka. Ia tidak menyangka lawannya dapat setangguh ini bahkan mampu bertahan dari serangan lima orang sekaligus. Ketidakfokusannya berhasil membuat pemuda bernama Sakon sedikit terpental oleh tendangan Naruto.
"Sial kau!" teriak Dosu saat temannya berhasil dipukul mundur. Ia melancarkan tendangan ke arah perut mengambil kesempatan saat Naruto agak kewalahan melawan serangan yang semakin intens.
Tendangan ke arah perut dari Doso dapat ditangkis oleh Naruto dengan melakukan tangkisan bawah. Untung saja tenaga yang dikeluarkan penyerangnya itu termasuk lemah sehingga lengannya tidak terlalu kebas. Saat Naruto menghindar dari beberapa serangan ke arahnya ia sempat mengambil bagian tubuh Dosu yang sempat terulur padanya. Naruto tersenyum dalam hati, ia sudah mendapat mangsa yang empuk.
"Akh!" teriak Doso saat Naruto spesifik menyerang ke arahnya. Naruto berniat mengunci pergerakannya kakinya. Ia ingin segera mengakhiri pertarungan tidak jelas ini.
Kuncian maut itu dilakukan dengan menangkap kaki lawan dengan kedua tangan Naruto, kemudian memposisikan tangan kanannya di bawah kaki lawan dan tangan kiri yang berada di atas kakinya. Sebenarnya hal itu cukup sulit dilakukannya mengingat kondisi lawan masih bersepatu sama seperti dirinya. Tak lama kemudian Naruto berhasil mengunci kakinya dengan menjepit kaki pemuda botak itu di antara lengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang lutut Doso.
Naruto menggunakan kekuatan penuh mencoba menyeret pemuda yang lebih tinggi itu keluar dari zona yang dibuatnya sambil mengangkat kuncian tangan kanannya di kaki Doso dengan dibantu oleh tangan kirinya yang sukses menarik betis sehingga lawannya itu berputar menghadap ke bawah. Saat ini ia hanya ingin menuntaskan Doso dengan membuat jarak dengan ketiga lawan lainnya yang masih bugar. Lawan yang lebih lemah seperti Doso harus ditangani terlebih dahulu, begitu prinsip Naruto.
Setelah ia berhasil membawa Doso menjauh, Naruto mendorong lawannya itu hingga terjatuh ke tanah tanpa melepas kuncian di kakinya. Kemudian Naruto mendorong kaki yang telah terkunci itu ke arah depan membentuk formasi kalajengking.
Naruto memegang erat pergelangan kaki kiri lawan dengan tangan kirinya kemudian membawa kuncian itu ke paha kanan lawan begitu juga dengan kaki yang sebaliknya sehingga membentuk posisi sila terbalik. Dengan sedikit gerakan ke arah yang berlawanan dapat membuat persendian di pergelangan kaki itu akan terluka.
"Apa yang kalian inginkan? Hah!" Naruto berteriak mengabaikan rintihan pemuda yang sedang dikuncinya. Posisinya tetap siaga pada lawannya yang lain.
"Jangan mendekat! Aku tidak segan membuat pincang kaki ini!" teriaknya lagi saat melihat adanya sedikit gerakan dari tiga pemuda lain.
Mereka hanya bisa melirik satu sama lain. Mata mereka melebar nampak terkejut ketika melihat Kidomaru yang telah sadar dari pusingnya, membawa sebatang kayu hendak memukulkannya pada Naruto.
"Awas!"
Sebelum kawanan Jirobo memperingatkan Naruto, mereka mendengar teriakan seorang gadis yang tiba-tiba muncul dan mengambil posisi di antara Kidomaru dan Naruto. Kayu yang telah terayun itu akhirnya terpukul pada bahunya.
Bugh!
"Akh!" pekik nyaring gadis itu.
Adegan itu terekam slow motion dalam ingatan Naruto. Ia melihat Hinata yang berlari dari tempat yang tak diketahuinya dan tiba-tiba menerima pukulan itu untuknya. Tak ingin gadis itu terluka lebih banyak lagi, spontan membuat Naruto melepaskan Doso yang sempat dikuncinya begitu saja.
"Hinata! Kenapa tiba-tiba?" tanya Naruto setelah memegang lembut bahu Hinata yang terkena pukulan. Gadis itu tak menjawabnya, hanya menunjukkan wajah yang meringis kesakitan.
Melihat wajah kesakitan itu membuat fokus Naruto beralih pada Kidomaru yang masih diam di tempatnya. Kidomaru menunjukkan wajah pasrah, merasa bersalah karena telah memukul seseorang yang tidak tepat.
Naruto mengahantamkan sebuah pukulan telak yang membuat Kidomaru langsung terkapar.
"Katakan apa mau kalian?" Naruto bertanya lagi dengan mata birunya yang menyalak galak, nafasnya masih memburu.
Wajah keempat pemuda yang lain langsung memucat begitu menyadari bahwa seseorang yang tak sengaja mereka lukai ternyata adalah ahli waris Hyuuga. Di bawah alam sadarnya mereka memundurkan kakinya saat Naruto melangkah maju. Aura Naruto terlihat menyeramkan.
Pentolan geng, Jirobo, mengangkat kedua tangannya ke atas, tanda menyerah. "Aku benar-benar tidak bermaksud memukulnya, sungguh! Yang kami inginkan hanya mengambil beberapa fotomu."
"Foto?" Naruto menghentikan langkahnya.
"Bukan foto apa-apa. Ada seseorang yang menggemarimu sehingga ia rela menyewa kami untuk mengambil beberapa fotomu yang sedang tertidur," dusta Sakon. Padahal sebenarnya mereka telah ditugaskan untuk mengambil beberapa foto bugil dari Naruto. Entah untuk keperluan apa, Sakon tidak mengerti.
"Katakan pada siapa pun yang menyuruhmu jika ia sangat menginginkan fotoku ia bisa langsung memintanya padaku. Caranya ini sangat berbahayaa. Aku ingin kalian mempertanggungjawabkan perbuatan kalian." Naruto menolehkan kepalanya ke arah Hinata yang masih memegang pundaknya.
"Baik kami akan mempertanggungjawabkannya. Kau bisa percayakan pada kami. Jika masih tak percaya kau bisa ikut dengan kami," tawar Zaku untuk pertama kalinya sore itu, sebelum Jirobo sempat menjawabnya.
"Tidak! Aku tidak mau bersama kalian." Tolak gadis Hyuuga.
Semua orang kecuali Kidomaru yang sedang terkapar memandang Hinata.
"Benarkah kau tak ingin melepaskan mereka?" tanya Naruto.
Hinata menggeleng pelan saat menatap Naruto. "Tidak perlu. Lagi pula mereka tidak sengaja melakukannya. Ini juga salahku yang tak segera memanggil bantuan untukmu dan terus bersembunyi. Tapi akhirnya aku tidak bisa diam saat melihat salah dari mereka akan berbuat curang padamu." Kali ini pandangan Hinata tertuju pada pemuda yang tak sadarkan diri.
Naruto berpikir sejenak kemudian perhatiannya kembali terfokus pada para pemuda penyebab kekacauan ini. "Kalian dengar, setelah kalian bertindak kejam ternyata gadis ini masih mau memaafkan. Aku ingin kalian segera angkat kaki dari sini," perintah Naruto, memandang garang ke arah mereka.
"Tunggu. Ada satu pesan yang ingin disampaikan nona kami padamu. Tolong jauhi Sasuke Uchiha," ucap Jirobo.
"Sasuke? Apa ini ada kaitan dengannya?" Naruto sedikit memiringkan kepalanya, heran.
"Kami juga tidak tahu. Nah, ayo angkat, Kidomaru." Begitu perintah Jirobo sebelum mereka pergi menjauhi Naruto dan Hinata.
_ page break _
"Maaf jadi merepotkanmu, Naruto-kun," kata Hinata pelan, saat ini terduduk di salah satu ranjang ruang kesehatan.
"Tidak apa. Aku yang salah membiarkanmu terluka. Sepertinya Shizune masih belum pulang. Aku akan mencarikannya untukmu. Tunggulah di sini," pinta Naruto.
Saat Naruto beranjak menuju pintu ia merasakan sentuhan tangan di pundaknya kiri dan kanannya. Reflek yang di luar kendalinya itu membuat Naruto memelintir kedua tangan yang berniat mendekap tubuhnya.
"Na- aduh!" pekik Hinata ketika Naruto memiting tangannya.
"Maaf Hinata. Aku selalu bereaksi seperti ini jika ada orang lain menyentuhku tiba-tiba." Naruto melepaskan tangan Hinata.
Greb.
Sesaat setelah tangannya terbebas Hinata memeluk erat tubuh Naruto dari arah belakang.
"Hi- Hinata, kau harus tahu aku tidak suka dipeluk." Naruto terkejut dan berusaha melepaskan pelukan itu.
"Tapi kenapa kau mau saja dipeluk oleh Uchiha? Ah!" Hinata menggigit bibir bawahnya dengan wajah berkerut. Ia telah kelepasan bicara. Naruto tak boleh mengetahui bahwa aku selalu mengikutinya, pikir Hinata.
"Itu karena aku sudah terbiasa dipeluk olehnya." Wajah Naruto memerah setelah mendengar jawabannya sendiri, merasa salah memilih kata. Tanpa Naruto sadari ia menganggap pelukan Sasuke sudah terasa nyaman untuknya. "Ehh. Itu karena ia tahu sesuatu yang tak kau ketahui Hinata. Aku membiarkannya memelukku karena alasan itu." Naruto buru-buru mengoreksi jawabannya. Ia kembali berusaha melepas pelukan itu namun gadis itu tetap gigih dengan keinginannya.
"Aku juga mengetahuinya, Naruto-kun. Aku tahu rahasiamu. Tolong pertimbangkanlah perasaanku." Hinata melonggarkan pelukannya kemudian menempatkan kedua telapak tangannya di dada Naruto.
Nafas Naruto terkesiap saat tangan itu meremas gunungan kembar di dadanya.
_ page break _
Sasuke bosan setengah hidup dan menyesal telah menyetujui ajakan kencan Sakura. Kafe tempat mereka saat ini berada bagaikan penjara mewah menurutnya. Jika menginginkan sesuatu maka gadis itu akan segera mengabulkannya. Benar-benar membosankan baginya, kehidupan yang tidak sesuai dengan Sasuke yang menyukai tantangan. Jika mengingnkan sesuatu maka ia harus berusaha mendapatkannya, sesulit apapun itu. Seperti keinginannya mendapatkan Naruto.
Bersama Naruto ia selalu mendapatkan berbagai pengalaman yang tak pernah diduga. Naruto terlalu mengagumkan di mata Sasuke membuat seakan tiap detik yang dihabiskan bersama selalu penuh dengan kejutan.
Keakraban mereka membuatnya makin kecanduan akan pemuda pirang itu. Sasuke yang awalnya tertarik dengan keunikan yang dimiliki oleh pemuda itu semakin ingin mendapatkan setelah mengenalnya lebih jauh. Kini Sasuke semakin terjerat dalam pesona lahir dan batin sang Namikaze bungsu. Tak henti-hentinya Sasuke heran dengan polah tingkah Naruto yang tak menentu. Senyum itu, tangis itu, trauma itu, Sasuke menginginkan semua yang ada pada diri Naruto. Begitu sadar ia sudah terjatuh terlalu dalam dan tak bisa kembali lagi.
Adegan ciuman untuk mengelabui Shibuki telah memukul telak egonya. Ciuman yang dianggap pura-pura oleh Naruto itu sebenarnya merupakan ungkapan rasa sayang Sasuke kepadanya. Permintaan Naruto untuk berpura-pura menganggapnya gadis yang ia cintai sudah keterlaluan menurutnya. Ia sudah tidak sanggup memendam rasa ini sendirian. Ketidakpekaan Naruto yang luar biasa dapat membunuhnya pelan-pelan.
'Kau kejam, Naruto,' batin Sasuke pedih.
Untuk itulah ia sekarang berada di sini, di sebuah kafe bersama Sakura. Sikap acuhnya pada Naruto beberapa hari ini semata-mata dilakukannya untuk menguji keberadaan Sasuke di hati pemuda itu. Apakah Naruto akan mencarinya? Apakah Sasuke memiliki peranan di hati Naruto? Sasuke benar-benar terkena karmanya dari gadis di hadapannya saat ini, mencintai seseorang yang tidak akan membalas cintanya.
"Sasuke-kun." Sakura menyentuh punggung tangan Sasuke yang tak henti mengaduk secangkir espressonya. Ia ingin pemuda di depannya itu mau mengajaknya mengobrol dan bersenda gurau seperti dahulu kala, saat mereka masih kanak-kanak. Sakura tahu keegoisannya telah membuat Sasuke menjadi seperti ini.
Sasuke menatap datar tangan mungil Sakura yang menyentuh tangannya, tak menepis dan tak menerimanya. Seharusnya Sakura tahu dengan sinyal-sinyal yang diberikannya Sasuke tidak tertarik dengan hubungan yang ditawarkan oleh gadis itu.
Ponsel Sakura berdering nyaring, memecah keheningan antara mereka. Sasuke melirik sekilas ke arah benda yang berwarna pink itu. Sakura mengerti pesan yang disampaikan oleh lirikan itu, membuatnya buru-buru meraih dan menjawab teleponnya.
"Maaf Sasuke-kun, kau pasti terganggu dengan suara ponselku. Aku akan mengangkatnya sekarang." Sakura mengeluarkan senyum maklumnya pada Sasuke.
Mata hijau Sakura sedikit membeku ketika melihat kontak yang meneleponnya. Tanpa berpindah dari tempat duduknya ia langsung menjawab panggilan itu.
-klik, "Halo? Bagaimana?" Sakura melirik diam-diam Sasuke, untung saja tak ada reaksi dari pemuda itu. "Apa? Gagal? Bukankah kubilang jangan pakai kekerasan! Cukup paksa saja dia! Eh? Hyuuga juga ada di sana?" Sakura sedikit menurunkan volume suaranya saat menyebutkan nama Hyuuga. "Kalian berada di rumah sakit mana? Baiklah, akan kuberikan sesuai janjiku." –klik.
"Sasuke-kun sepertinya kita harus pulang sekarang," ucap Sakura setelah mengakhiri teleponnya.
_ to be continued _
Catatan :
Gavage : pemberian melalui mulut/ oral.
Per inhalasi : pemberian melalui saluran nafas (hidung)
Intra-vena : pemberian melalui pembuluh nadi
Estrus : masa saat hewan ingin kawin, biasanya terjadi pada mamalia
Aibara : tokoh karangan saya sendiri.
Kawanan Jirobo: saya buat kawanan yang meyerang Naruto tiba-tiba adalah mereka yang berasal dari tokoh serial Naruto yaitu ninja desa Otto seperti Jirobo, Sakon, Kidomaru, Zaku, dan Doso.
A/N : Ampun, jangan timpuk saya! Ehm, masih banyak ya yang bekum saya jelaskan. Tapi fict ini sedang proses menuju konflik, kok. Seiring bertambah chapter semua pertanyaan di benak kawan-kawan pasti akan terjawab, #mungkin. Saya akan memberikan tulisan saya yang terbaik, untuk itu saya meminta kesabaran dari teman-teman semua ya!
Teman-teman bisa menanyakan apa saja terkait cerita di fict ini. mungkin penjelasan saya masih kurang jelas, muter-muter, dan sebagainya. Pertanyaan dari kalian akan saya jawab dengan senang hati. Selain itu jika ada uneg-uneg seperti kritik atau saran bisa ditulis di kolom di bawah ini.
Saya sadar seberapapun usahanya masih ada bagian dari cerita yang kurang sesuai ataupun ucapan saya yang tidak ada di tempatnya. Untuk itu author labil ini meminta maaf sebesar-besarnya.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih bagi kalian yang sudah mau mampir dan sampai jumpa lagi di chapt berikutnya.
Salam
aurantii13
.
Sekilas chapter berikutnya:
"Maukah kau menerimanya, Naruto-kun?" pintanya. Hinata memandang penuh harap.
"Wah ini untukku? Terima kasih, Hinata!" Naruto dengan senang hati menerima minuman itu.
.
.
Sasuke mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto. "Apa itu artinya kau senang jika aku yang membantumu, Naruto?"
.
.
"Tolong selamatkan, dia. Se- segera kabari Sasuke-kunn." Ebisu menatap nonanya yang kini terkulai tak sadarkan diri. Secepatnya ia mengangguk meskipun Sakura sudah tak bisa lagi melihatnya.
