Summary : Kehidupan Naruto Namikaze yang terlihat biasa saja meskipun tidak biasa menjadi berubah ketika juniornya di sekolah, Uchiha Sasuke, tengah memergokinya sedang melakukan sesuatu di toilet sekolah! Warn: BxB, SN.

A/N : Halo semuanya! Saya aurantii13 kembali menghadirkan chapter terbaru untuk teman-teman semua. Sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatan update chapt 7 ini yang sebenarnya harus publish seminggu yang lalu. Tapi apa daya karena laptop harus saya tinggal saat ke rumah saudara. Walhasil cerita yang harusnya sudah siap edit baru saya kerjakan baru-baru ini. T_T

Baiklah saya tidak akan membuang waktu lagi, di kesempatan ini saya akan membalas review dari pembaca. Silakan diskip jika tak ingin membacanya.

Aiko Michisge : halo! Iya ini sudah saya lanjut, silakan dibaca. Makasih sudah review.

Fuuin SasuNaru : maaf ya saya jadi nambahkan karakter gadis Hyuuga di sini #bungkuk. Tapi kemunculan dia (saya anggap) penting di cerita. Saya sendiri juga geli pas nulis adegan remas-remas itu, #lhah. Naru cinta sama suke? Beres nanti bisa saya atur . Ini sudah saya lanjut kok, semoga suka. Oke, makasih reveiwnya.

Akasuna no Akemi : Hashirama memang ***-nya Naruto kok, #spoiler. Saya memang suka bikin orang penasaran sama saya, hehe.. Syukurlah ada yang suka sama momen SasuNaru-nya . Kemarin sempat khawatir kalau terlalu berlebihan ngedeskripsikannya, maklum saya author yang baru lahir kemarin sore. Perihal ada apa dengan Sakura bisa dilihat di chapt ini, #promosi. Sudah saya lanjutkan, silakan dibaca. Makasih ya reviewnya.

Gui'sDark : wah jangan jedukin kepala dong, Kak. Nanti pusing lho. Oh iya, fict-nya dibaca santai juga gak apa-apa kok . Kartu omoi akan terbuka jika sudah saatnya, #emangkapan. Intinya omoi ngelakuin semua ini karena suatu hal, gitu. Tebakanmu benar, Naru pernah dilecehin. Jadi menurut pengalaman dari beberapa orang yang saya tahu, pelecehan itu bisa menyebabkan trauma. Nah, itu yang saya pakai di karakternya Naruto. Iya, Naruto memang anak baik, dia benar-benar pria gentle, #peluknaruto. Saya juga terharu di bagian putusnya Fū-Naru. Untuk Sasuke, mari kita berdoa agar ke depannya dia tak lagi jadi pemuda yang malang. Tentang Shibuki, Hashirama sama Hashirama masih belum bisa saya jelaskan, maaf ya. Soalnya spoiler alert sih, #apabanget. Iya ya, kok saya buat Hinata jadi stalker juga? Kenapa? #ditendang. Minuman yang diberi Hinata saya munculkan di chapt ini, #promosi. Iya, kalau tentang Sakura maunya saya juga gitu, relain naru buat sasu, gih!. Ah, plot yang saya bikin bukan apa-apa, saya masih harus banyak belajar buat fict yang bagus. Yups, saya memang ngebuat Gaara penggila drakor. Soalnya di balik wajah datarnya, di otak Gaara ada sejuta ide yang diambil dari drama itu. Kalau Sasuke memang rajanya modus, jadi pokoknya Naru harus selalu waspada. Makasih ya reviewnya. Gak gaje kok reviewnya, saya suka. Ini sudah dilanjut, moga kamu suka.

mifta cinya : gak akan ada naruhina, kok. Kasian bang Sasu ntar. Pokoknya Naru Cuma untuk Sasu, #maksa. Iya, karakter Hashirama saya buat sadis karena dia orang yang berkuasa di fict ini. Pokoknya kakek tua itu mau macem-macem ke Naruto, dia ada maunya sih. Ini sudah saya lanjut, tapi maaf ya kemarin gak bisa update cepat. Nah, ini silakan dibaca chapt barunya .

ChubbyMinland : iya Naru susah suka sama orang lain, jadinya gak sadar-sadar gitu. Tapi lama-lama dia akan nyadar sama perasaannya kok, jadi sebentar lagi kita harus berterima kasih pada si raja modus, Sasuke. Makasih reviewnya.

uzumakinamikazehaki : iya sudah saya lanjut, semoga gak penasaran lagi. Selamat membaca . Makasih reviewnya.

akarasuki : ehm, rencana ayahnya Sakura masih saya tulis, mohon tunggu tanggal mainnya. #diinjek. Iya, ini sudah saya lanjut, semoga suka. Makasih ya reviewnya.

versetta : flash back traumanya Naruto? Oke, saya tampilkan di chapt ini, dibaca ya.. #promosi. morning wood itu ereksi yang dirasakan setiap lelaki. Jadi 'itu'nya lelaki mengeras seperti kayu pas pagi hari sehingga dinamakan kayu di pagi hari. Maafkan ya kalau penjelasan saya jadi muter-muter, hehe.. sakura sama utakata? Oke, siap laksanakan! Makasih sudah review.

hanazawa kay : iya, hinata tahu rahasianya naru untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Peran hinata masih saya buat abu-abu di sini, #lhah. Tapi saya sudah masukin beberapa hint di sini, semoga bisa ditebak, hehe. Naruto orang yang baik jadi dia pantas dapet kebahagiaan kok. Banyak orang yang menyayanginya. Makasih sudah suka sama fict saya, makasih juga reviewnya. Moga anda juga suka sama chapt terbaru ini .

Ara Uchiha : makasih reviewnya. Iya ini sudah saya next-next, semoga suka sama chapt ini.

Himarura Kiiromaru : wah iya, kemarin word-nya sampai 13 k. Kalau chapt ini word-nya.., ehm, lebih dari 13 k. Maaf kalau terlalu panjang. Gak berani nebak juga gak apa-apa kok, hehe.. Dibuat seru aja . Iya hinata punya obsesi, tapi bentuk obsesinya beda seperti Sakura. Sst, ini juga termasuk clue, lho ;) . dan obsesinya itu bakalan bikin susah Naruto, bisa dibaca di chapt ini, #promosi. hinata sama sakura gak saling kenal kok, tenang aja. Ini sudah saya lanjut, met baca ya. Makasih sudah review.

Uzumaki Prince Dobe-Nii : Sasuke sudah gak kasihan lagi kok di chapt ini, dia sudah dapat pencerahan. Dia juga sudah tahu hubungan naruhina, kita tunggu saja sepak terjang Sasuke :3 . Ini sudah saya lanjut, semoga suka . Makasih ya reviewnya.

kirei-neko : MinaKushi melakukan sesuatu yang gak dikehendaki, jadi Naruto yang kena batunya. Selain itu Naruto lebih punya banyak celah buat diganggu dibanding Kyuubi yang tubuhnya sehat sentosa. Tenang naruhina gak bakal lama kok, saya juga gak tega buat pisahin sasunaru. Iya, ini sedang saya usahakan si naru buat 'ngeh' sama perasaannya sasu. Makasih ya reviewnya.

efi. astuti. 1 : he'eh, Sasuke sudah beneran cinta ke Naruto. Iya, makasih juga buat kamu yang sudah sempatin review, saya senang. Semangat juga ya! Ini sudah lanjut, met baca aja.

SNlop : iya ini ada naruhina dulu, tapi saya janji gak akan lama kok. Hinata juga tahu rahasianya Naruto, dia mau melakukan *** ke Naru soalnya. Haruno-Uzumaki lagi ngerencanakan sesuatu yang wah buat naruto, ditunggu saja tanggal mainnya. Ehm, banyak ya rahasianya? Ini sudah saya kupas salah satu rahasianya, semoga suka . Makasih juga buat kamu yang sudah kasih review.

Kagaari : sebenarnya hinata sudah tahu lebih dulu rahasianya naru dibanding sasu. Nah, ini saatnya Sasuke buat bertindak :3 . di chapt awal tinggi SasuNaru sepantaran, tapi semakin nambah chapter sasuke lebih tinggi dibanding naruto. Soalnya hormon testeron naruto yang jumlahnya sedikit juga ada pengaruh ke tingginya dia. Makasih ya reviewnya.

kimjaejoong309 : pemilik Konoha Medical Center masih ada hubungannya sama naru. Ini yang bisa saya jelaskan saat ini, #ditabok. Begitulah seseorang yang ingin mencapai tujuannya, semua cara dilakukan termasuk mempermainkan orang lain, #apasih. Naruto dulu pernah dibully, jadinya ia bisa punya trauma seperti itu. Di chapt ini ada bagian dimana hinata nembak naru, entah diterima atau ditolaknya, #promosi. hinata sudah punya caranya tersendiri buat ngedeketin naru, tenang aja, #lhoh. Ayo kita kupas bersama rahasinya satu persatu mulai dari fict ini. Ehm, moga kamu suka sama penjelasannya. Makasih ya sudah review.

choikim1310 : wah, ada yang suka sama utakata-sakura nih.. Iya, hashirama-mito ada hubungan sama naru kok, tapi maafkan ya rahasia hubungan mereka masih belum bisa saya tampilkan di sini . Iya bener yang ngintip kemarin itu si hinata, dan gadis itu sedang berusaha ngedeketin naruto. Jadian atau gaknya mereka bisa dibaca di chapt ini, #promosi. makasih ya reviewnya. Semangat juga buat kamu .

aokiaoki95 : tenang aja sakura dan hinata gak akan bisa ngeganggu hubungan sasunaru kok. Saya juga gak sabar buat nyatuin mereka, mohon ditunggu ya. untuk itakyuu porsinya saya buat sedikit di chapt ini, soalnya lebih saya fokuskan di flash backnya. Akan saya usahakan jatah itakyuu akan diperbanyak di chap depan . Pengganggu hubungan saya buat ada buat ngebikin hubungan tambah langgeng, begitu menurut saya, hehe. Amin, moga nilai-nilainya memuaskan ya! chapt terbaru sudah saya update, semoga kamu suka. Makasih reviewnya.

AprilianyArdeta : ehm, dendam hashirama ke namikaze ya? belum saya jawab detail, tapi saya bisa kasih tahu kalau hashirama itu gak suka banget sama minato. Makasih reviewnya.

Ryuusuke583 : ehh? Naruhina kerasa yuri ya? setelah ini gak akan ada lagi adegan yang nyerempet yuri, #mungkin. Saya juga gak suka yuri, lho. Ayo kita toss! SN akan bersatu secepatnya, saya janji kelingking deh. Lemon bakal ada kok, tenang aja. Ini sudah next, met baca ya.

saphire always for onyx : maaf ya sampai bikin nosebleed, nih saya kasih tissue . Itakyuu-nya masih sedikit di chapt ini, nanti chapt depan saya banyakin lagi kok. Ditunggu ya! makasih reviewnya.

Namikaze Yuki : iya mereka putus, tuh. Soalnya naru cuma boleh buat sasu, ya kan? Meski ada hinata si Sasuke tetap semangat kok :3 . he'eh naru punya trauma yang bisa bikin dia kayak gitu, dan semoga saja setelah ada sasu traumanya itu bisa hilang. Makasih ya sudah review.

Septaniachan : makasih ya sudah bilang keren . Makasih juga sudah kasih review. ini sudah saya lanjut, moga suka.

annisa ajja39 : karakter hashirama memang saya buat kejam lho, #ketawa setan. Ingatan naru nyata kok, flash back-nya saya beri di chapt ini, #promosi. iya saya juga sering susah login kalau lewat hp, jadinya saya lebih suka lewat pc . Makasih sudah review.

zukie1157 : iya, chapt 6 kemarin emang panjang, tapi chapt ini lebih panjaaang, #lihatword. Hehe.. Mau nyubit omoi? Boleh kok, nih, #sodorinomoi. Ah! Ketahuan ya kalau hubungan Shibuki-Fū yang janggal ini? Hashirama juga pingin eksis di fict ini, makanya dia berbuat seperti itu ke naru, #bohong. Yang benar Hashirama itu punya alesan untuk berbuat demikian. Gimana adegan kisu-kisu SasuNaru kemarin? Seneng deh ada yang suka. Memang gitu ya kalau sudah berduaan, yang lain serasa ngontrak :D . tenang aja masa lalu fuga-mina sama namikaze-uzumaki akan saya bahas satu per satu, #winked. Meski bikin geregetan, si sakura juga kasihan lho di fict ini. dia juga tersiksa akibat obsesinya ke sasuke. memang bener ya kalau 'cinta itu deritanya tiada akhir'. Ingat quote ini? sabar ya, itakyuu muncul sedikit di chapt ini, jadi kayak iklan beneran deh. Tapi adegan mereka akan diperbanyak di chapt depan, #semoga. Ini sudah saya lanjut, semoga suka. Makasih sudah review.

intan. pandini85 : keluarga senju kenal kok sama keluarganya naruto karena mereka ada hubungan. Maaf ya mungkin penjelasan saya masih muter-muter. Tapi misi Shibuki dan siapa yang menyuruhnya akan segera saya bahas. Ini sudah lanjut, silakan dibaca. Makasih reviewnya .

AQua Schiffer : makasih ya sudah suka sama fict-nya. Syukurlah kamu suka sama karakter yang saya buat. Gomen ne, misterinya malah makin banyak. Karena masa lalu sakura sudah saya bahas sekarang giliran punya naruto yang saya tulis di chapt ini, #promosi. Beres, hubungan mito-kushina, hashirama-pailitnya perusahaan uchiha, sama tujuan omoi ke itakyuu akan segera saya beberkan! Ditunggu saja ya! Ini chapt terbaru sudah saya update, semoga makin suka. Makasih sudah review.

Yumi Kagura : bukankah itu keren kalau makin banyak pengganggu hubungannya? #digampar. Tolong abaikan paham tentang pengganggu a la saya. Percaya gak percaya hubungan naruhina tambah ngelancarin hubungan sasunaru yang bisa dibaca di chapt ini, #promosi. Sebenarnya tanpa mereka sadari momen-momen saat mereka bersama itu bisa dihitung bermesaraan lho. Cuma mungkin saja hati mereka belum pada konek, #ngomongapa. Sip, sudah saya next, sekarang maukah anda membacanya? Semoga suka . Makasih sudah review.

iche. cassiopeiajaejoong : iyaa, naru punya trauma makanya dia bisa seperti itu. Hashirama memang jahat dan ada banyak hal yang akan dia lakukan ke naruto. Ups, naruhina jadi yuri ya? hehe.. Sip, ini sudah lanjut kok, moga kamu suka. Makasih reviewnya! Ganbatte!

ajibana7777 : iya saya juga ngerasa bang itachi-nya kok jadi superrr pede ya? mungkin karena sudah lama gak ngerasain pacaran, jadinya dia suka heboh sendiri gitu. padahal apa yang dikiranya itu belum tentu bener. Makasih ya reviewnya.

Wulan384 : penyakit juga salah satu alasan kenapa senju pengen dapetin naru, kok. Hubungan naruhina bisa dibaca di chapt ini, #promosi. hehe.. Kalau itakyuu sih jadiannya masih butuh progress, mohon ditunggu ya.. Omoi sedang berniat aneh-aneh ke mereka, jadi itakyuu-nya perlu waspada. Utakata-sakura? Oke beres, kalau setingannya sudah pas akan saya usahakan. Neji bakalan ada tapi masih belum yakin Gaara-nya mau sama dia atau gak. Makasih ya sudah review.

Mr. Gaje : makasih sudah bilang karakter naruto-nya gak kecewekan. Eh, misteri ya? waduh, saya sama sekali gak kepikiran kalau ternyata fict-nya masuk kategori misteri. Iya nanti akan saya tambahkan di genre-nya . Makasih sudah review.

Blackr9264 : makasih sudah review. ini sudah saya lanjut, moga suka.

Ruki99 : iya untuk bisa mencapai hubungan SasuNaru yang seutuhnya mereka memang harus menghadapi banyak cobaan, ya gak? #maksa. Narutonya masih belum mau mengakui hubungannya dengan Sasuke. sedangkan Sasukenya sendir lagi jatuh bangun mengejar cinta Naruto, #kayaklagu. Oke, makasih sudah review.

miss horvilshy : iya deh, jadi nambah penghalang SasuNaru-nya. Maafkan author ya, . pokoknya saya akan membuat pasangan itu segera bersatu, #onfire. Pindahnya naruto ada hubungannya kok sama traumanya itu. Oh iya, tebakan kamu benar, naruto pernah jadi korban pelecehan. Nah, jangan gigit tissue lagi ya.. hasihirama itu orang yang banyak maunya, sampai Uchiha dijadikan musuh. Terus obrolannya dengan Haruno itu lagi ngerencanain sesuatu buat Naruto. Tentang omoi, dia memang sengaja ngelakuin hal itu karena suatu hal yang belum bisa saya jelaskan, #nangis. Eh iya, satu hint buat kamu (dan mungkin buat pembaca yang lainnya), omoi melakukan semua itu atas inisiatifnya sendiri. Gak apa-apa kok kalau kebanyakan nanya, saya juga minta maaf kalau belum bisa jelasinnya secara gamblang. Oke, ini sudah saya update, silakan dibaca. Makasih reviewnya.

uchiha. emo10 : iya naruto memang diperah, tapi dia bukan sapi kok, hehe.. #keepcalm. Yeah juga! Akhirnya naruto putusin ceweknya, atau sudah bisa dibilang mantan? Flashback naruto ada di chapt ini . SasuNaru yosh! Makasih reviewnya.

all silent readers dan pembaca baru : terima kasih sudah mau membaca karya abal saya. Mungkin jika berkenan saya berharap suatu hari ini teman-teman sekalian bisa memberi masukan pada saya. Makasih ya. Tanpa kalian saya sih cuma apa atuh, #minjemjudullagu. Hehe..

Makasih juga buat teman-teman yang sudah mau nge-fav sama ngikutin fict ini !

Disclaimer : Naruto dan semua chara yang terdapat di cerita ini adalah milik Masashi Kishimoto namun plot cerita murni karangan author. Author tidak mengambil keuntungan dari pihak manapun.

Genre : Romance, Sci/Fi, Mystery

Warn : BxB, jika tidak menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan male relationship diharap tidak membaca fict ini, author tidak menanggung jika ada pembaca yang mual dan muntah karenanya. Bahasa tidak baku dan kadang sulit dimengerti. Banyak typo.

Rated : M (mengandung unsur dewasa, bagi pembaca di bawah umur disarankan tidak menirunya)

Pair : SN

Mohon maaf sebelumnya jika cerita ini kurang berkenan bagi kalangan tertentu. Untuk itu saya sarankan untuk segera menekan tombol "kembali".

Selamat membaca, teman-teman!

Sekilas chapt sebelumnya :

"Aku juga mengetahuinya, Naruto-kun. Aku tahu rahasiamu. Tolong pertimbangkanlah perasaanku." Hinata melonggarkan pelukannya kemudian menempatkan kedua telapak tangannya di dada Naruto.

Nafas Naruto terkesiap saat tangan itu meremas gunungan kembar di dadanya.

.

.

Title : Ini Rahasia (by aurantii13)

Chapter 7

Untuk membuktikan keberadaan dirinya dalam hati Naruto, Sasuke bertekad untuk tidak menemui pemuda itu selama beberapa hari. Tetapi niatan tersebut justru menjadi bumerang baginya. Jika di awal niat ia bisa yakin pada suatu hari nanti Naruto akan mencarinya, maka justru saat ini Sasuke menjadi pesimis dengan anggapannya itu. Dan sesuai dengan perkiraan terburuk Sasuke, singkat cerita Naruto tak pernah menemuinya.

Sengaja tak bertemu langsung dengan pemuda itu membuat Sasuke merindukan Naruto. Walau terdengar indah, ternyata rindu mempunyai dampak sesederhana namanya. Perasaan kangennya itu menjadikan Sasuke tak bisa tidur nyenyak serta makan pun tak enak.

Tekad bodohnya itu pun juga berdampak pada rutinitas Sasuke yang kini tak beda dari seorang stalker yang hanya bisa memandangi Naruto dari kejauhan. Namun tentu saja hal itu tak bisa dilakukannya setiap waktu karena ada saatnya dimana Sasuke harus menjalani kewajibannya sebagai seorang siswa, seperti menghadiri kelas misalnya. Tentu hal ini dilakukannya karena Sasuke tak ingin mendapat ceramahan dari sang ayah yang isinya selalu itu-itu saja dan bisa memakan waktu berharganya untuk berkhayal yang iya-iya dengan Naruto.

Kurang tidur menjadikan penglihatan Sasuke agak tak fokus saat berjalan menuju kantin. Pandangannya semakin mengabur saat tiba-tiba ada seorang atau dua orang, Sasuke tak yakin, telah menempelkan diri pada masing-masing lengannya.

Merasakan tangannya direnggut paksa membuat Sasuke memejamkan matanya yang memanas dan sedikit berair. Sasuke berhitung mundur dalam hati, mencoba menghilangkan rasa pusing yang mendadak hadir.

"Lepas," perintah Sasuke pada orang yang telah menghambat perjalanannya, ia masih belum membuka matanya.

"Tapi Sasuke~" Sasuke merasakan pelukan di lengan kirinya semakin erat. Gadis itu kukuh menolak permintaan Sasuke untuk melepaskan tangannya.

"Kurasa tujuan kita sama, Sasuke. Kau mau ke kantin, bukan?" tanya gadis lain yang berada di sebelah kanan Sasuke. Sama seperti gadis sebelumnya, gadis ini juga memeluk erat lengan Sasuke. Bahkan ia sengaja menghimpitkan lengan Sasuke pada belahan dadanya, berharap sang pemuda memberi perhatian lebih padanya.

Sentuhan belahan dada pada lengannya itu membawa alam bawah sadarnya untuk teringat pada seseorang. 'Dada Naruto kah?' tanya Sasuke dalam hati. Karena pusing ia masih belum bisa membuka matanya.

Diam-diam Sasuke mendekatkan dirinya pada obyek yang sedang memeluknya itu untuk sekedar mengendus aroma seseorang yang ada dalam pikirannya akhir-akhir ini. Tapi ternyata yang didapatkan bukanlah wangi jeruk yang dicarinya.

"Kenapa kau ganti parfum-, kau bukan Naruto." Ucapan Sasuke terhenti setelah membuka matanya. Matanya menyipit setelah tahu seseorang yang berada di sampingnya bukanlah orang yang dia maksud.

Seseorang yang sempat disangka sebagai Naruto olehnya tersipu malu. Gadis itu tak menyangka bahwa Sasuke yang terkenal angin-anginan mau mengendusi aroma tubuhnya.

Kesal tidak mendapat tanggapan, Sasuke melepas paksa para gadis itu dari tangannya "Kubilang lepaskan!"

"Tapi Sasuke-" seru gadis itu bersamaan, keduanya cemberut saat Sasuke melemparkan tatapan dingin pada mereka.

"Jangan ganggu aku." Sasuke mengangkat salah satu lengannya ke atas, berharap mereka segera pergi dari hadapannya. Ia benar-benar ingin sendiri saat ini.

Interaksi yang terjadi antara mereka mengundang perhatian dari siswa lain yang melintasi koridor. Mendapatkan tatapan kasihan dari beberapa siswa yang menonton aksi pengusiran mereka membuat kedua gadis itu malu dan segera pergi dari hadapan Sasuke.

Greb.

Sasuke menghela nafas lelah saat melihat lengan kanannya kini lagi-lagi menjadi 'korban paksa'. Ketenangan sepertinya sama sekali tak mau menghampirinya. "Apa yang kau inginkan, Sakura?" Suara Sasuke terdengar ketus.

"Apa kau tak lapar, Sasuke-kun? Ayo kita ke kantin!" seru Sakura. Gadis itu menggelayut manja di lengannya serta berhasil mengundang tatapan iba yang kali ini ditujukan pada Sasuke. serasa Sasuke adalah pemuda termalang di abad ini karena ulah para penggemar yang tak pernah mau meninggalkannya sendiri.

"Aku.. Tidak jadi ke kantin. Kau pergilah." Sasuke memijat pelan pelipisnya, rasa pusingnya kembali. Pergi ke kantin dengan kondisi seperti ini bukanlah rencana yang bagus.

"Sasuke!" Telinga Sasuke menangkap sebuah suara yang memanggilnya.

"Apa lagi ini? Bahkan sekarang aku berilusi mendengar suara Naruto?" gumam Sasuke tak percaya.

Sakura menaikkan alisnya mendengar gumaman Sasuke karena menurutnya saat ini memang ada seseorang yang sedang memanggil tunangannya. Sakura terheran apakah tunangannya ini baik-baik saja? Apa dia menganggap bahwa suara ini hanya ilusi? Sakura menggelengkan kepalanya pada alasan tak masuk akal. Mana mungkin pria secerdas Sasuke berpikiran dangkal seperti itu.

"Sasuke!" Pemuda yang Sakura ketahui bernama Naruto semakin mendekat ke arah mereka. Melihat sang rival yang kian mendekat membuat Sakura refleks mengeratkan pelukannya pada lengan Sasuke.

"Yo, Sasuke! Lama tak jumpa!" Naruto tersenyum cerah karena akhirnya sampai di hadapan dua kouhainya. Berlarian di koridor membuat nafasnya agak tersengal. Ia tampak mengernyitkan mata saat meraba area dadanya yang tampak menonjol. "Apa kau akhir-akhir ini sedang sibuk eh, Sasuke?" tanyanya, acuh pada dadanya yang saat ini terasa kencang.

'Naruto mencariku?' Sasuke yang berpikiran bahwa yang di hadapannya ini adalah bayangannya perlahan mengulurkan tangannya untuk menangkup wajah Naruto. Kemudian keempat jemari pucat itu membelai rahang sempit Naruto sedangkan ibu jarinya mengelus pelan bibir kemerahan yang pernah ia kecup.

Naruto terkaget saat Sasuke mendadak menyentuh wajahnya. Wajahnya agak merona karena teringat adegan ciuman di mall lemarin. Saat ini jemari Sasuke menyentuh titik yang sama pada wajahnya seperti saat itu. Naruto akui ia tak suka disentuh seperti itu, sentuhan itu berhasil membuatnya merinding entah karena apa. Saat Naruto mengangkat tangan itu, bermaksud hendak menyingkirkannya, ia tak sengaja merasakan suhu Sasuke tidak seperti biasanya. "Tanganmu panas. Apa kau demam?" tangan Naruto kini menggenggam tangan pucat Sasuke.

Remasan lembut dari Naruto membuat Sasuke tersadar bahwa semua bukanlah imajinasinya saja. Cepat-cepat ia melepaskan tangannya dari genggaman Naruto. Tak ingin ketahuan bersikap di luar karakternya, Sasuke berdehem sekali. "Tidak. Aku tidak demam. Ada yang ingin kau katakan, Naruto?" Sasuke sengaja membuat nada bicaranya terkesan angkuh. Sasuke masih ingin menguji apakah Naruto peduli padanya.

Sakura yang mendengar pertanyaan dari Naruto menatap Sasuke dan pemuda pirang bergantian. Ia baru sadar ternyata suhu tubuh Sasuke memang tak sehangat biasanya. Sakura tidak berkomentar apa pun dan hanya menatap sinis ke arah Naruto. Kenapa pemuda saingannya ini bisa lebih dulu tahu keadaan Sasuke dari pada dirinya?

Naruto mengerjapkan matanya sekali. Ia heran, mengapa tiba-tiba Sasuke begitu dingin padanya. "Umm, aku hanya ingin mengajakmu makan siang saja, kalau kau mau," tawarnya.

Sebelum Sasuke membuka mulut untuk menjawab tawaran itu, terdengar suara lain yang menginterupsi obrolan mereka. Mata Sasuke menyipit tak suka saat seorang gadis berambut indigo berlari ke arah mereka.

Dari hasil pengamatannya Sasuke tahu gadis bernama Hinata Hyuuga ini tiba-tiba sedang gencar mendekati Naruto. Ia tak tahu apa tujuan sebenarnya gadis itu. Meski ia tak tahu apakah Namikaze bungsu membalas perasaan Hyuuga, tapi Sasuke merasakan akan terjadi hal tidak menyenangkan yang akan terjadi menimpa mereka.

"Naruto-kun, aku sudah mencarimu. Kita makan siang bersama, kan?" Hinata menatap Naruto. "Oh! Maaf sepertinya aku telah mengganggu," serunya kemudian setelah menyadari isyarat mata biru itu bahwa mereka sedang tak sendirian.

"Hinata, kau duluan saja. Kita bisa bertemu di tempat biasa." Naruto tersenyum ke arah Hinata. Hinata mengangguk singkat pada Naruto dan berlalu begitu saja tanpa berpamitan dengan dua orang yang lain, Sasuke dan Sakura.

'Di tempat biasa, eh?' batin Sasuke. Rahangnya merapat, Sasuke tidak suka melihat kedekatan mereka. Keakraban mereka membuat dirinya tak tenang.

"Aku sibuk, Naruto. Aku akan makan bersama, Sakura." Sasuke menjawab tawaran Naruto yang sebelumnya dengan nada datar. Ucapan itu membuat wajah Sakura mencerah seketika, tidak menyangka akhirnya Sasuke menyetujui ajakan makannya.

"Benarkah, Sasuke?" tanya Sakura dengan wajah berseri-seri, namun pertanyaannya tak dihiraukan Sasuke yang sibuk mengamati ekspresi Naruto.

Melihat kedekatan antara Sasuke dan Sakura dan membuat Naruto berpikir bahwa mereka sedang berkencan. Naruto merasa bodoh karena tentu saja Sasuke akan menolak ajakannya dan pergi bersama gadisnya. Alasan Naruto menawari pemuda Uchiha itu tidak lebih karena ia ingin bertemu dengannya. Kehadiran Sasuke belakangan ini membuat harinya tak lagi sepi, karena akhirnya ia bisa memiliki teman dekat selain Gaara dan Temari.

"Oh, oke! Maaf telah mengganggumu." Bibir Naruto tersenyum kaku saat menatap Sakura bergelayut manja pada Sasuke.

Inner Sasuke senang melihat senyuman terpaksa itu, setidaknya ia tahu Naruto merasa sedikit kecewa karena telah ditolaknya. Bukankah itu berarti kehadiran dirinya di hati Naruto tidaklah sebatas adik kelas yang dikenalnya? Walau di bibirnya tak tercetak senyuman namun kesenangan itu tetaplah terpancar di kedua bola matanya.

Meski telah ditolak, Naruto bukanlah seseorang yang mudah menyerah. Ia tak bisa mengacuhkan keinginan hatinya untuk bisa menghabiskan waktu dengan Sasuke. Walau baru mengenal Sasuke dan sikap pemuda itu terkadang kurang ajar padanya tapi Naruto merasa harinya akan kurang lengkap jika tak bertemu dengan Sasuke, seperti beberapa hari ini. hal yang aneh, karena ia tak merasakan hal demikian pada teman lelaki yang lain. Seperti Gaara misalnya?

Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung memikirkan alasan apa yang akan digunakannya untuk bersama dengan Sasuke. Mata safirnya membola ketika teringat akan tawaran yang belum dikatakannya. "Umm, besok lusa Hinata mentraktirku ramen Ichiraku yang tempatnya tak jauh dari sini. Dia mengatakan aku boleh mengajak orang lain. Walau aku belum mengajak Gaara, tapi apa kau-"

"Lusa aku harus ke Otto." Sasuke memotong ucapan Naruto. Entah angin apa yang mendorongnya untuk melakukan kebohongan itu. Mungkin Sasuke masih merasa di atas angin setelah tahu Naruto menganggap dirinya setara dengan Gaara, Sasuke tidak sadar bahwa tindakannya membuat manik biru itu berkilat sedih. "Jika tak ada yang ingin kau katakan maka ini saatnya aku harus pergi. Ja nee*." Sasuke berjalan kembali ke arah kantin diikuti Sakura yang masih setia di sampingnya.

Deg!

'Eh? Hanya perasaanku saja ataukah Sasuke sengaja menjauhiku?' Naruto kembali memandang heran punggung Sasuke, tidak tahu kenapa ia merasa kecewa. "Baiklah aku anggap kau tak bisa pergi denganku. Oke, sampai jumpa, Sasuke," ucapnya pada angin setelah Sasuke dan Sakura kian menjauh.

Sakura menaikkan sebuah alisnya ketika melihat Sasuke mencium punggung tangannya sempat dipegang oleh Naruto. Kilau mata obsidiannya memancarkan kegembiraan saat merasakan pemuda pirang yang berlari menjauh.

"Aku tidak lapar. Kau sendiri saja." Sasuke memutar balik jalannya setelah melepaskan rengkuhan Sakura, sudah tak berselera untuk ke kantin. Uchiha muda mengambil langkah cepat menuju atap sekolah, tak sabar untuk menikmati momen-momen bersama Naruto yang terekam di memorinya.

Sakura terperangah mendapati keputusan tiba-tiba Sasuke. "Sasuke-kun, tunggu!" teriakan Sakura sukses membuat seisi koridor menoleh padanya saat Sasuke tak bisa terkejar.

_ page break _

"Halo, Ebisu-san? Jalankan semuanya rencana sesuai. Lokasi berpindah ke area di dekat ramen Ichiraku. Bisa, kan? Sepulang sekolah. Ingat ya, jangan ada kekerasan! Kali ini aku tidak ingin mendengar berita kegagalan." Sakura tersenyum sinis setelah menutup teleponnya.

Dalam waktu singkat Sakura berhasil mengetahui identitas gadis yang baru saja berakrab ria dengan Naruto. Sudah pasti motivasi Hinata Hyuuga adalah mendekati Naruto, jika memang benar maka kehadiran gadis Hyuuga itu bukanlah halangan baginya untuk mendapatkan perhatian Sasuke.

Lusa Sasuke tak akan bersama Naruto, dan Sakura pun tinggal memastikan bahwa Gaara bukanlah seorang pengganggu. Kali ini rencananya harus berhasil.

_ page break _

"Maukah kau menerimanya, Naruto-kun?" pintanya. Hinata memandang penuh harap.

"Wah ini untukku? Terima kasih, Hinata!" Naruto dengan senang hati menerima minuman itu.

Berdua dengan Hinata di dekat taman sekolah membuat Naruto bersyukur bahwa selain Sasuke dan Gaara ada orang lain yang menerima dirinya apa adanya. Walau sebenarnya ia merasa sungkan pada Hinata karena terang-terangan tak menerima ungkapan perasaan Hinata beberapa waktu yang lalu. Sementara waktu dirinya belum siap membuka hatinya untuk orang lain. Putusnya dengan Fū membuat Naruto tak lagi yakin apakah ia masih bisa menjadi seorang kekasih yang baik.

"Naruto-kun? Kau melamun?" tanya Hinata. Mata lavendernya menatap cemas ke arah Naruto.

"Maaf aku sedikit melamun. Ada yang ingin kau katakan, Hinata?" Naruto mengikuti arah pandang Hinata saat gadis itu menatap intens dirinya.. Mata safir itu membola ketika melihat baju di sekitar dadanya tercetak basah.

"Hinata! Maaf kau harus melihat sesuatu yang tidak menyenangkan." Naruto berbalik arah, memunggungi Hinata. Kedua tangannya tertangkup di atas dadanya. Naruto lupa bahwa setiap beberapa hari sekali air susunya akan banjir dan meluap seperti ini. Walau sudah sering merasakannya tapi tetap saja setiap kali hal ini terjadi rasanya akan sangat menyakitkan.

"Apakah ada yang bisa kubantu, Naruto-kun?" Hinata menawarkan bantuan.

Naruto menggeleng cepat. Tidak mungkin ia menerima bantuan dari Hinata. Sebagai seorang lelaki ia malu harus dibantu dalam keadaan seperti ini. Apa lagi dalam kondisi yang tidak biasa. Saat ini hanya ada satu nama yang terlintas di kepalanya. "Aku akan memintanya dari orang lain saja, Hinata," katanya.

Hinata menunjukkan raut wajah kecewanya. "Aku tahu akan sangat menyakitkan bagimu jika kondisimu seperti itu. Karena kau tak menerima bantuanku, bagaimana jika aku yang meminta tolong padamu?"

Naruto menautkan kedua alisnya saat mendengar pernyataan Hinata. Ia baru saja mengirimkan pesan pada seseorang. Naruto bersyukur bahwa ternyata Gaara memiliki nomor ponsel orang itu. "Kau mau minta apa Hinata?" tanya Naruto.

"Aku minta air susu yang kau hasilkan, Naruto-kun." Tanpa rasa ragu Hinata menekankan telunjuknya pada dada montok Naruto, membuat pemuda itu sedikit meringis.

Walau ia lelaki tetapi ia tetap merasa tenaga tekanan yang dikeluarkan Hinata pada dadanya tidak main-main. Bahkan bisa menyebabkan air susu Naruto muncrat begitu saja jika putingnya tidak teplester saat ini, kedengarannya memang terasa berlebihan tapi itulah yang dirasakan Naruto saat ini.

Hinata kasihan melihat wajah menahan sakit yang diekspresikan oleh pemuda pirang itu. "Ah! Maafkan aku!" Hinata tersenyum canggung.

"Kau membuatku sedikit takut Hinata. Kau aneh sekali sampai bisa mengetahui rahasiaku ini. Untuk apa kau meminta air susuku lagi? Bukankah kemarin aku sudah memberikannya?" Naruto memandang curiga pada Hinata. Naruto tahu bahwa semua rekam medisnya bersih dari segala hal yang menyangkut kelainannya ini, tidak mungkin Hinata tahu begitu saja akan penyakitnya.

Hinata mengedikkan bahu mungilnya. "Entahlah. Hanya penasaran dengan susu yang kau hasilkan. Lagi pula saat ini air susumu sedang melimpah, bukan? Bukankah jika kau buang atau kau berikan padaku hasilnya sama saja?" Hinata mengatakan dengan wajah polosnya.

"Bukan begitu Hinata." Naruto menyisir kasar rambut pirangnya dengan salah satu tangan. Pemuda mana yang tidak malu jika seorang gadis meminta sesuatu yang aneh dan lagi hal itu adalah sesuatu yang tidak lazim untuk diberikan. Ia benar-benar tak mengerti pikiran seorang gadis. Naruto merasa harus segera pergi dari situasi tidak kondusif seperti ini. Di samping itu ia sudah berjanji dalam waktu sepuluh menit sudah harus berada di toilet lantai tiga, dan tempat itu bukanlah tempat yang dekat.

"Oke. Jika kau diam itu tandanya kau setuju." Hinata menyerahkan botol minumnya pada Naruto, mengambil keputusannya sendiri.

Naruto tak menyangka gadis yang ia kenal pemalu itu ternyata memiliki sikap frontal jika diinginkan. Meminta susunya, mengetahui rahasianya, bahkan pernyataan cinta dadakan dari Hinata membuat Naruto menggelengkan kepalanya, tak percaya. Kenapa semua hal tiba-tiba terjadi pada dirinya? "Baiklah Hinata. Sekarang apa lagi yang kau inginkan setelah menyerahkan botol ini padaku?" Dengan malas Naruto menerima benda yang diserahkan Hinata.

"Tentu saja sebagai tempat menampung air susumu, Naruto-kun." Hinata terkikik geli, merasa lucu bahwa Naruto tidak segera tanggap situasi.

Naruto menatap botol berwarna hitam berlarik perak yang berada di genggamannya. Setelah menatap benda ditangannya ia jadi teringat bahwa beberapa hari ini gadis itu selalu saja memberikannya minuman yang diwadahi dalam botol itu. Ia tidak tahu minuman aneh apa yang diberikannya. Ketika ditanya Hinata menjawab bahwa minuman itu hanyalah sari kedelai biasa.

"Hinata, apakah besok kau akan memberikanku minuman itu lagi?" mengerti apa yang ditanyakan Hinata pun mengangguk. "Ehh, bisakah aku menolaknya. Walau aku tak ingin menyakitimu, tapi aku harus jujur kalau sari kedelai itu rasanya tidak enak." Tanpa sadar Naruto mengecapkan mulutnya yang terasa getir.

"Tidak bisa. Kau sudah berjanji untuk menerima minuman buatanku. Dengan minuman itu aku dapat mencapai keinginanku," ucap Hinata, wajahnya memerah saat mengingat harapan yang sebentar lagi akan terkabul.

_ page break _

Dengan nafas tersengal Naruto terus mempercepat langkahnya. Ia sudah terlambat beberapa menit dari waktu yang di janjikan. Ketika telah sampai tujuan ia mengetuk pelan bilik terujung dari toilet lantai tiga ini. Naruto segera masuk setelah pintu alumunium itu sedikit terbuka.

Naruto mengamati penampilan pemuda yang akan dimintai bantuannya. "Maaf. Apa kau marah karena menunggu lama, Sasuke?" tanya Naruto ketika tak kunjung ada respon dari pemuda di hadapannyanya.

"Apa kau baru saja bersama Hinata?" posisi Sasuke tidak bergeser sedikit pun sejak Naruto memasuki bilik. Tangannya masih bersedekap di depan dadanya dengan punggung yang menempel di dinding. Manik obsidiannya menatap lekat Naruto.

"Ya, kami makan siang bersama. Kenapa kau masih marah? Aku sudah minta maaf padamu." Naruto meninggikan nada bicaranya. Jika terus seperti ini bisa-bisa emosinya ikut tersulut. Bermaksud meniru Sasuke, Naruto juga melipatkan kedua tangannya di dada tapi tetap berusaha tidak menekannya terlalu kencang.

"Ck!" Sasuke berdecak kesal, setelah sadar bahwa pembicaraan mereka tak akan mengarah kemana pun. Lagi pula ia tidak punya alasan khusus untuk marah berlebihan, karena faktanya Naruto hanya terlambat dua menit dari waktu yang dijanjikan.

Sasuke kemudian melangkah menuju kloset lalu duduk di atas benda itu. Matanya kembali terfokus pada Naruto yang sedang menatap arah lain selain dirinya. "Naruto." Panggil Sasuke, namun tak mendapat respon.

"Naruto tatap mataku. Aku sedang berbicara denganmu. Apa kau ingin kita berada seharian di sini?" Ucapan Sasuke kali ini berhasil mendapat respon Naruto. Mata biru itu balik memandang ke arahnya, seolah mengajaknya berkomunikasi. Apakah Naruto menginginkan sesuatu?

Naruto sengaja mengacuhkan panggilan dari Sasuke. Kenapa Sasuke masih saja marah setelah ia meminta maaf padanya? Naruto hanya ingin permintaan maafnya diterima, itu saja. Naruto tidak mengerti apa yang dipikirkan pemuda raven ini. Saat dipanggil untuk kedua kalinya barulah ia bersedia menatap Sasuke. Usahanya tidak sia-sia karena beberapa saat kemudian ia mendengar gumaman 'Baiklah, tak seharusnya aku marah padamu,' dari bibir Sasuke. Hal itu membuat Naruto kedua sudut bibirnya terangkat ke atas.

"Kemarilah!" perintah Sasuke. Ia menepuk pelan salah satu pahanya, secara tersirat meminta Naruto untuk duduk di atas pangkuannya.

Naruto mengeratkan genggaman tangannya pada botol yang dibawanya. Botol minum yang memiliki inisial HH pada salah satu sisinya itu bergetar pelan mendapat perlakuan seperti itu dari Naruto. "Bisakah kita menggunakan cara lainnya, Sasuke?" tanya Naruto pelan.

"Kurasa kemarin kau tidak ada masalah saat pertama kalinya kita berada di bilik terkunci ini. Apa masalahmu sekarang?" Sasuke memandang Naruto tak sabaran.

"Kloset itu sempit?" jawab Naruto ketika tidak mampu memberikan alasan terbaiknya,

"Tidak perlu memperdebatkan hal itu, Dobe. Kau membuatku semakin ketinggalan kelas bahasa." Sasuke menepuk kembali pahanya. Terlambat mengikuti kelas bukanlah alasan Sasuke yang sebenarnya, ia hanya ingin Naruto berada di pangkuannya secepat mungkin. Kedekatan Naruto dengan gadis lain membuat Sasuke semakin ingin memonopoli pemuda pirang itu secepatnya dan hanya dirinyalah yang boleh bersama dengan Naruto.

Naruto membuka tutup mulutnya, hendak protes karena telah dikatai demikian tapi setelah memikirkan perkataan Sasuke yang ada benarnya ia merasa bersalah karena telah membuat pemuda itu membolos kelas demi dirinya. Dengan terpaksa Naruto segera duduk di pangkuan Sasuke. 'Masih demam, ya?' Dari pangkuan itu Naruto merasakan tak ada perubahan pada suhu tubuh Sasuke yang tetap tinngi seperti saat istirahat siang tadi.

"Naruto? Kenapa kau tak menghadap ke arahku?" Ia terheran mengapa Naruto mengambil duduk memunggunginya. Bukankah ia ingin dibantu seperti kemarin? Dalam pesan singkat yang didapatkannya dari Naruto mengatakan bahwa dadanya terasa penuh dan memerlukan bantuan Sasuke seperti menghisap atau sejenisnya.

"Ada seseorang yang menginginkan susu dan aku harus menampungnya di sini." Tanpa menoleh ke arah Sasuke, Naruto mengangkat tinggi botol yang berada di salah satu tangannya.

Mata Sasuke menggelap ketika mengetahui alasan Naruto. Walau tak ingin dikatakan sebenarnya ia tahu siapa pemilik botol berwarna hitam itu. 'Tidakkah susu yang kemarin cukup baginya?' tangan Sasuke mengepal di sisi kiri kanan tubuhnya.

(Flash back dimulai)

"Ehm, Naruto-kun bolehkah aku minta tolong padamu?" Kalimat yang mengandung kata 'Naruto' sudah cukup membuat Sasuke terdiam saat melintas di area taman sekolah. Sasuke bermaksud mencari tempat yang tenang setelah Sakura selalu saja mengganggu tidurnya di atap. Karena penasaran dengan percakapan yang terjadi maka pencarian tempat untuk menyendirinya itu dihentikan oleh Sasuke.

"Ada apa, Hinata?" Dalam persembunyiannya Sasuke berhasil menemukan wajah seseorang yang sangat dikenalnya, Naruto. Berada di balik semak tinggi dan rindang cukup menguntungkan bagi dirinya saat ini.

"Bolehkah aku minta susumu?" pertanyaan gadis berambut indigo itu sontak membuat Sasuke melebarkan kelopak matanya. 'Benarkah gadis itu berani meminta air susu Naruto?' inner Sasuke bertanya-tanya.

"Tentu saja boleh. Ini Hinata," jika pertanyaan sebelumnya hanya berhasil melebarkan kelopak matanya maka jawaban Naruto berhasil membuat Sasuke hampir kehilangan kedua bola matanya yang akibat melotot yang berlebihan. Namun mata itu kembali ke keadaan normal saat Naruto menyodorkan susu kotak yang belum dibukanya pada Hinata. 'Apa hanya aku di sini yang berpikiran yang aneh-aneh?' Setidaknya dalam inner ia mengakui bahwa ia memang pemuda yang demikian. Dengan kata lain suka berpikiran mesum.

"Bukan yang ini Naruto, aku ingin susu yang itu." Gadis itu menunjuk ke arah dada Naruto. Inner Sasuke bersorak riang karena radar mesumnya terbukti benar. Namun tidak seperti inner Sasuke yang menari tak jelas, pernyataan sang gadis membuat bibir Naruto sedikit ternganga,

"Untuk apa Hinata?" tanya Naruto."Aku berani sumpah, Kyuu-nii mengatakan padaku bahwa susuku ini memiliki rasa susu teraneh sedunia," lanjut Naruto, Sasuke dapat melihat wajah Naruto sedikit merona. Sasuke kembali terkejut dengan pernyataan yang baru saja didengarnya. Tak sadar ia mencengkram erat rimbunan daun yang berada di sekitarnya, tak peduli tangannya dapat terluka akibat tindakannya itu.

"Kyuu-nii... kakakmu?" Pertanyaan gadis yang ternyata bernama Hinata ini mendapat anggukan dari Naruto. "Untuk apa dia meminumnya?" Hinata menunjukkan wajah gelinya. 'Ya. Untuk apa dia meminumnya, Naruto? Jangan katakan kalau kau incest dengan kakamu!' inner Sasuke ikut bertanya, ingin mengetahui kebenaran alasannya.

"Ceritanya panjang. Ngomong-ngomong untuk apa kau ingin susuku?" Naruto mengatur kembali eksepresi wajahnya. Sasuke dapat melihat perubahan pada gestur Naruto. Punggung pemuda Namikaze menegak, dengan lehernya yang mendadak kaku serta pundak sejajar pada bahu. Sasuke mendapati ekspresi siaga pada diri Naruto, ekspresi yang diharapkan oleh Sasuke pada Naruto. Ia senang mengetahui bahwa Naruto tak ingin memberikan susunya dengan suka rela. 'Bagus, Naruto. Bertahanlah! Jangan mau dimintai yang macam-macam oleh gadis tak tahu malu itu!' Sasuke menyemangati Naruto dalam hati.

"Aku hanya ingin tahu saja. Tidak boleh kah?" Hinata menjawabnya singkat. 'Tentu saja tak boleh!' jawab Sasuke mewakili Naruto yang masih terdiam. Sasuke melihat raut malu-malu di wajah Hinata menghilang dan tergantikan ekspresi penuh dengan ketekadan. Sasuke mengerutkan alisnya, merasa ada yang tidak beres dari gadis itu.

"Jadi, berapa banyak yang kau inginkan?" Pandangan Sasuke kembali berfokus pada Naruto, menatap tak percaya.'Kenapa kau menyetujuinya begitu saja, Naruto?' Sasuke tidak menyangka semudah itu Naruto bisa percaya pada orang lain. Bukankah sedetik sebelumnya pemuda pirang itu masih menatap sangsi pada Hinata?

(Flash back selesai)

Samar-samar Sasuke merasakan beban di pangkuannya semakin berat. 'Berat, eh? Tubuh seksi Naruto tak akan pernah berat! Dasar pikiran bodoh!' Sasuke memaki dirinya dalam hati.

"Sasuke? Kau mendengarku?" Naruto berulang kali menekankan pantatnya di pangkuan Sasuke. Ia merasa kesal karena tak dihiraukan oleh Sasuke, maka inilah cara yang dilakukan Naruto agar Sasuke kembali fokus padanya. Saat Naruto kembali mengangkat tinggi pinggulnya untuk ditenggelamkan kembali ia merasakan sepasang tangan menangkap sisi kiri kanan pinggul Naruto.

"Hentikan, Naruto!" Sasuke terdengar menggeram di telinga Naruto. Saking dekatnya Naruto dapat merasakan hembusan nafas panas Sasuke menerpa kulit lehernya. "Akh!" Naruto memekik keras saat kedua tangan di sisi tubuhnya itu menekan kuat pinggulnya. Perlakuan Sasuke benar-benar keterlaluan! Apakah Sasuke memang sengaja? Tidakkah Sasuke tahu bahwa tempat itu adalah salah satu bagian tubuhnya yang sensitif jika di sentuh! Uchiha memang senang mempermainkan orang lain sekehendak hatinya!

Naruto memegang dua tangan yang berada di sisi tubuhnya dan menolehkan wajah ke sisi kanannya. "Jangan sentuh pinggulku, Teme! Itu geli sekal-" ucapannya terhenti saat hidungnya bertabrakan dengan hidung Sasuke. Ia tidak menyangka kepala Sasuke berada di posisi sedekat ini dengan wajahnya.

Sesaat waktu terasa berhenti. Melupakan keadaan masing-masing dalam posisi pinggul yang setengah terangkat dari pangkuan serta dua pasang tangan yang saling menempel di sisi kiri kanan pinggul Naruto. Meski hidung saling bertubrukan tapi masing-masing tidaklah dapat merasakan hembusan, seolah bernafas adalah hal yang tabu untuk dilakukan saat ini. Letak wajah mereka saling simetri, mata dengan mata, hidung dengan hidung, dan bibir dengan bibir. Dua pasang mata bertatapan mencari jawaban tentang apa yang harus dilakukan setelahnya.

Naruto tidak tahu bahwa berada di situasi yang mirip dalam waktu yang hampir berdekatan ternyata mampu membuatnya bereaksi serupa. Saat hidungnya bersentuhan dengan Sasuke, seakan tubuhnya memiliki pemikiran sendiri. Nafasnya terasa tercekat, tak berani menghembuskannya lewat hidung, Naruto melepaskannya perlahan melalui bibir. Berada dalam jarak sedekat ini membuat mata safir Naruto memandang mata obsidian lekat-lekat, untuk pertama kalinya mengagumi mata yang membuat dunia Naruto dapat tersedot ke dalamnya. Hingga tak disadari oleh Naruto bahwa wajah mereka semakin mendekat satu sama lain. Terbawa suasana Naruto hanya bisa menutup kelopak matanya dan pasrah dengan keadaan saat bibir mereka saling bersentuhan.

Tingkah Naruto membuat Sasuke jengkel saat pemuda pirang itu dengan seenaknya menaik turunkan pinggul di pangkuannya. Tidakkah Naruto tahu apa yang sedang diperbuatnya dapat menyiksa lahir dan batin Sasuke? Membuat dirinya serta merta mencengkram erat pinggul ramping Naruto. Namun reaksi yang diberikan Naruto tak pernah diduganya.

Erangan keras Naruto membuat otak Sasuke blank untuk berfungsi. Sasuke terkaget saat mendapati wajah Naruto yang tertoleh padanya. Dalam jarak sedekat ini ia mampu melihat detail wajah Naruto. Pucuk hidung mereka yang saling bersentuhan serta bibir kemerahan Naruto yang sedikit terbuka tak terlewatkan oleh mata Sasuke. Bahkan ia dapat merasakan hembusan perlahan dari celah bibir itu. Sasuke sendiri juga tak mau mengambil nafas, takut jika melakukan suatu gerakan maka keindahan yang ada di hadapannya ini akan menghilang. Mata biru yang cerah semakin berkabut, entah apa yang dipikirkan oleh Naruto. Yang pasti bagi Sasuke saat ini mata indah Naruto menjadi magnet berkali lipat lebih kuat hingga seseorang yang berada di area medannya hanya mampu menuruti kodrat alam. Membuat Sasuke tak kuasa untuk tak mendekat ke arahnya. Mata hitamnya menghilang saat bibir mereka bersatu.

Kecupan yang entah ke berapa kalinya itu terasa lama bagi mereka berdua. Meski kecupannya tidak lebih dari tempelan bibir namun mampu membuat jantung Sasuke berdebar gila dan dada Naruto terasa sesak.

Naruto cemas ketika mendapati sensasi familiar di perutnya, ribuan kupu itu menari lagi. Kenapa dirinya bisa merasakan hal ini bersama Sasuke? Begitu banyak asumsi yang ada di pikirannya saat ini. Namun sayangnya di saat pemuda pirang itu belum mendapat jawaban apa yang dipikirkannya terdengar langkah kaki memasuki toilet, membuatnya harus melepaskan pagutan bibirnya pada Sasuke.

Setelah segel di bibirnya terlepas Naruto menarik dan menghembuskan nafas kuat-kuat, baru sadar ternyata selama berciuman telah membuatnya lupa bernafas. "Tenang Naruto, aturlah nafasmu. Tarik nafas dan hembuskan perlahan." Naruto mendengar bisikan halus Sasuke. kemudian ia menurutinya dengan mencoba bernafas perlahan dengan bibir yang setengah terbuka. Karena lelah sekaligus lega telah mengetahui seseorang selain dirinya dan Sasuke telah keluar dari toilet, Naruto menyandarkan tubuhnya pada Sasuke.

Tanpa disadari oleh Naruto, diam-diam Sasuke juga melepaskan nafas leganya karena akhirnya bisa keluar dari situasi seperti ini. Ia sendiri tak yakin apa yang akan terjadi jika tak ada seseorang yang menghentikannya. Mungkin saja ia bisa lepas kontrol dan akan menyesali apa yang telah dilakukannya. Dan Sasuke sama sekali tak menginginkan hal itu terjadi, Naruto terlalu berharga untuknya.

Naruto merasakan gelengan pelan Sasuke dari balik kepalanya, sedikit geli saat cuping telinganya tersentuh anak rambut Sasuke. Ia mendengar deheman pelan dari pemuda yang berada di belakangnya saat ini. "Kita lanjutkan, Naruto?" Naruto hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sasuke, pikirannya masih sibuk mengusir ribuan kupu yang masih betah bersemayam di tubuhnya.

Naruto menegakkan punggungnya saat sepasang tangan Sasuke menyentuh lengannya, seperti 'merapikan' agar posisi mereka kembali seperti semula. Naruto merasa semua hal telah kembali dalam keadaan sedia kala, bahkan botol Hinata yang sempat terjatuh telah kembali digenggamnya namun ia merasa ada hal lain yang berubah. Naruto merasakan ada sesuatu yang mengganjal di belahan pantatnya. Tempatnya berpangku kini tak lagi terasa nyaman. Sekali lagi Naruto mencoba menggerakkan tubuhnya mencari posisi ternyaman, tapi tidak bisa. "Sasuke, kau.." Naruto tak melanjutkan lagi kata-katanya.

Sasuke tahu saat ini Naruto merasa tak nyaman berada di pangkuannya, walapun ia sebenarnya juga merasakan hal yang demikian. "Abaikan aku, Naruto. Aku bisa mengatasinya. Perlu dibantu melepas kancingmu?" Naruto mengangguk karena hanya ada satu tangan bebas yang mampu melakukan untuk melepas kancingnya.

Setelah mendapatkan persetujuan Sasuke mulai mengarahkan tangannya untuk melepasi satu per satu kancingnya hingga seragam itu terbuka di sebagian, kemudian ia mengangkat perlahan kaos yang dipakai Naruto hingga tangannya mencapai perban yang menghiasi dadanya. Sasuke tersenyum kecil saat mendengar desahan lega Naruto setelah salah satu plester itu terlepas dari tubuhnya. Dapat dirasakannya permukaan plester yang menebal akibat terlalu banyak menyerap cairan dariNaruto. "Jadi kau ingin menumpahkan susumu di botol itu, Naruto?" tanya Sasuke ketika merasakan cairan dari puting Naruto keluar tanpa henti.

Naruto tak peduli dengan kepala Sasuke yang sedang tertumpu di pundaknya, yang ia rasakan saat ini adalah nyeri di dadanya kembali lagi. Ia segera membuka dan mengulurkan salah satu bagian botol ketika Sasuke menanyakan tempat untuk menampung air susunya. Untung saja bagian tutup dari botol memiliki ukuran yang tak kalah besarnya dengan badan botolnya sehingga masing-masing dari mereka bisa membawa wadah penampung.

Dengan telaten Sasuke memeras air susu yang keluar dari salah satu puting Naruto sedangkan puting yang lainnya ditangani oleh pemuda itu sendiri. Susu itu terus mengalir seakan tak berhenti.

Lagi-lagi Naruto merasa keanehan terjadi pada dirinya, kenapa baru sadar terhaadap kenikmatan yang diberikan Sasuke saat menyentuhnya bahkan ia kini merasakan perutnya sedikit menghangat. Sasuke membuat tubuhnya terasa aneh!

Naruto semakin malu pada dirinya saat Sasuke sengaja mengeluskan hidung pada salah satu sisi lehernya. Tindakan Sasuke membuat tubuh Naruto semakin merinding hingga pada suatu waktu ia tak tahan melepaskan lenguhannya. Desahan nafas Naruto membuat aktivitas mereka mendadak berhenti, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Adakah yang harus meminta maaf? Jika ada siapakah yang harus minta maaf di sini? Naruto tidak tahu.

"Naruto, botol ini hampir penuh. Apa yang akan kau lakukan saat air susumu tak henti mengalir?" tanya Sasuke, memecah kesunyian terasa menegangkan ini.

Naruto mengamati wadah penampung yang dibawa olehnya dan Sasuke. Perkataan Sasuke benar, botol ini hampir penuh. Ia juga tak menyadarinya jika Sasuke tidak mengatakan hal itu padanya karena ia masih merasa bahwa dadanya masih terasa penuh. Naruto menggeleng. "Aku tidak tahu. Mungkin kita harus membuangnya ke kloset."

"Hei Naruto, siapa sajakah yang pernah merasakan air susumu?" Tiba-tiba Sasuke melontarkan pertanyaan yang beberapa hari ini terendap di dalam otaknya. Sasuke melirik gerakan maju-mundur tangan Naruto pada putingnya sendiri sejenak terhenti.

"Kau lucu. Kenapa harus menanyakan hal seperti itu?" Naruto kembali melanjutkan aktivitas memerah puting kecoklatan yang ukurannya sudah membengkak.

"Jawab saja pertanyaanku," paksa Sasuke.

Naruto sudah terbiasa dengan sikap kasar Sasuke akhirnya menjawab ragu-ragu, "Oke, Kyuu-nii, Hinata dan kau, Sasuke."

Sasuke segera mengurungkan niatannya untuk bertanya alasan mengapa Kyuubi bisa merasakan susunya. Ia takut tebakan Naruto yang incest dengan kakaknya terkonfirmasi benar.

Clak, clak, clak.

Setelah Naruto menjawab pertanyaan Sasuke dari bilik terujung itu hanya terdengar suara decakan remasan puting serta helaan nafas berat Naruto.

"Sasuke, sudah cukup. Aku lelah," pinta Naruto. Ia capek karena sudah sekian waktu mereka melakukan aktivitas yang sama, memerah susunya. Naruto dapat merasakan putingnya menebal dan sedikit lecet akibat terlalu sering ditekan. Tapi sayangnya saat botol minum Hinata hampir penuh pun dadanya masih saja terasa kencang. 'Gila, berapa banyak lagi susu yang harus ku keluarkan?' tanya Naruto pada dirinya sendiri.

Sasuke berhenti memeras putingnya tapi jemarinya masih menempel pada kulit dada Naruto, penasaran ingin melihat bagaimana reaksi Naruto ketika dirinya berhenti memerah. Sasuke tersenyum miring saat merasakan areola* Naruto berkedut pelan kala telunjuk dan jari tengahnya mengapit daerah tersebut.

Sasuke menyatukan isi botol yang dibawa olehnya dan Naruto yang jika seluruhnya digabungkan akan tertumpah. Sasuke yang tidak ingin membuang susu tersebut segera menenggak habis cairan manis itu.

Slurp, gluk, gluk.

Naruto tercengang ketika mendengar Sasuke meneguk nikmat susunya. Sebegitu enakkah rasanya?

"Setelah ini apa yang harus kita lakukan, Naruto?" Sasuke menjatuhkan botol yang dipegangnya begitu saja ke lantai kemudian meraba puting Naruto masih terasa kaku.

Rabaan tangan Sasuke hampir membuat Naruto menutup matanya, lagi-lagi merasa kegelian.

Plak!

Dengan mata setengah terbuka Naruto menampar tangan yang menggerayang nakal di dadanya itu. "Apa yang kau lakukan, Teme?" Mata biru Naruto berkilat marah.

Tidak langsung menjawab pertanyaan, Sasuke sedikit mengangkat Naruto dengan menggunakan tenaga ekstra pada tulang pahanya dan berhasil memutar tubuh itu ke arahnya.

Naruto terkejut karena tiba-tiba posisinya berubah. "Ku tanya lagi padamu, apa yang kau lakukan, Sasuke?" Naruto berteriak lantang. Naruto tak lagi peduli akan kerasnya volume suara yang dihasilkannya, ia sungguh tak mengerti apa yang diinginkan pemuda Uchiha.

"Sst, Naruto. Kau membuat semua orang akan tahu situasi kita!" Sasuke menempelkan telunjuknya pada bibir Naruto, berharap pemuda itu bisa tenang.

Naruto menghempas jari yang menginvasi bibirnya itu. Walau tak lagi bersuara namun matanya masih memancarkan sorot kemarahan.

Berdasarkan pengamatannya Sasuke tahu bahwa badannya kini sedikit lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Jika saat pertama kalinya ia memangku, posisi kepala Naruto lebih tinggi darinya tapi kini letak kepala mereka hampir sejajar. Untuk melakukan hal yang ingin dilakukannya Sasuke harus lebih menundukkan kepala untuk mencapai dada Naruto. Ketika puting mengkilap tersaji di hadapannya dengan tergesa Sasuke segera mengulum tonjolan yang menjadi obyek imajinasinya. Perlakuan tiba-tiba Sasuke membuat nafas Naruto tercekat.

'Jadi.. inikah yang diinginkan, Sasuke? Meminum susuku langsung dari putingnya? Kenapa ia selalu melakukan hal yang tak terduga?' Mulut Naruto terkatup rapat saat Sasuke menggigit kecil putingnya. Membuat tangan Naruto yang berada di kedua pundak Sasuke terasa gatal ingin menggampar kepala bersurai raven. Bukannya menggampar, kedua tangan Naruto beralih menjambak rambut Sasuke saat pemuda itu mengisap kuat dadanya.

Tindakan Sasuke benar-benar keterlaluan bagi Naruto. Bagaimana bisa Sasuke berbuat ini padanya? Mengapa ia tak bisa mencegah Sasuke yang semakin bertindak jauh? Di atas semua pertanyaan itu mengapa justru jantungnya berdegup kencang saat Sasuke melakukan hal ini padanya? Tubuh bagian selatannya berdesir hebat, membuat Naruto teringat bahwa inilah yang dirasakannya ketika mencapai titik puncak pada setiap mimpi basahnya. Mendadak mata safirnya membola setelah mengetahui kenyataan yang tengah terjadi padanya. Naruto tak ingin kegiatan ini berlangsung lebih lama lagi! Dengan segenap tenaga yang ia miliki, Naruto mendorong paksa bahu Sasuke hingga menghasilkan bunyi kecapan saat mulut pemuda itu terlepas dari putingnya.

Puting yang terlepas paksa membuat mulut Sasuke terasa kosong. Ditatapnya dada kanan yang baru saja dihisapnya kini tak lagi tampak mengeras, bibir Sasuke sedikit terangkat mengetahui hal itu. Di saat dirinya akan mengecup dada yang belum dijamahnya, ia merasakan sebuah telapak tangan yang menekan erat keningnya. "Kenapa tidak boleh, Naruto?" Sasuke cemberut saat aksinya dicegah oleh Naruto. 'Cemberut, eh? Tidak, aku tidak sedang cemberut. Uchiha tidak akan pernah cemberut!' elak inner Sasuke.

"Hentikan Sasuke. Tidakkah kau tahu yang kita lakukan saat ini tidak boleh terjadi!" desis Naruto. "Ini hal yang tak sewajarnya dilakukan oleh kita yang sesama lelaki. Ini salah, Sasuke!" Naruto menunjuk dirinya dan Sasuke ketika mengucapkan kalimat itu.

"Aku tidak merasa sedang melakukan kesalahan, Naruto. Aku hanya membantumu dan kau tampak menikmatinya. Tidak ada masalah di sini." Sasuke mengangkat satu alisnya, selain itu tidak terjadi perubahan ekspresi pada raut wajahnya yang agak memerah.

"Bagaimana caraku untuk membuatmu paham?" Sepertinya pertanyaan Naruto hanya ditujukan untuk dirinya sendiri. Naruto menarik rambut Sasuke agar tatapan mereka dapat bertemu. "Dengar Sasuke. Aku memang berterima kasih padamu karena telah menolongku. Tapi tidak seharusnya kau melakukan hal itu lagi padaku."

"Tidak bisa." Sasuke menjawab cepat.

"Kenapa tidak?" Naruto balik bertanya.

Walau wajahnya menghadap Naruto namun mata Sasuke kembali menatap dada Naruto yang masih membesar, sesekali air susu menetes dari puting kirinya. "Dada kirimu bengkak. Kau pasti kesakitan, Naruto." Tangan Sasuke menekan dada itu, membuat Naruto mengernyitkan wajahnya. Naruto tak bisa bohong jika dadanya memang terasa nyeri.

"Tak apa, Sasuke. Aku bisa mengatasinya," ujar Naruto.

"Berikan satu kesempatan lagi." Permintaan Sasuke membuat Naruto bingung. "Beri aku kesempatan untuk menghisap dada kirimu dan kau akan terbebas dari nyerimu." Sasuke memandang lekat wajah Naruto, berharap Naruto mengabulkan keinginannya.

Naruto berpikir lama saat mata legam Sasuke menatapnya penuh harap. "Baiklah, Sasuke. Tapi jangan terlalu lama seperti sebelumnya." Naruto memalingkan wajah saat mengucapkannya. Menatap mata Sasuke dapat membuat dirinya berubah menjadi orang yang penurut.

"Aku berjanji tidak lebih dari dua puluh hisapan." Naruto menatap ngeri saat Sasuke mengerling genit padanya.

"Kau!" Naruto tidak tahu ucapan tepat yang bisa mendeskripsikan tingkah Sasuke saat ini. "Dua puluh hisapan terlalu banyak. Lima saja!" seru Naruto.

"Sembilan belas." Sasuke tak suka jika permintaannya tak dituruti.

"Enam?" tawar pemuda pirang.

"Tujuh belas." Alis Sasuke bertaut. 'Kenapa sedikit sekali?' pikir Sasuke.

"Tujuh" Naruto meninggikan sedikit angkanya.

"Oke. Lima belas, Naruto." Kesabaran Sasuke mulai habis, ia sedang tidak mood untuk berunding.

"Masih terlalu banyak, Sasuke. Sepuluh!" Naruto menaikkan drastis angkanya.

Otak Sasuke bekerja cepat untuk menimbang-nimbang bahwa sepuluh tidaklah terlalu sedikit menurutnya. "Oke, sepuluh," putus Sasuke. "Bersiaplah, Naruto." Sasuke kembali menempelkan mulutnya pada dada Naruto tanpa menunggu balasan dari pemuda di hadapannya.

'Satu.' Naruto menghitung dalam hati pada hisapan pertama. 'Dua,' hitungnya lagi dalam hati, hisapan kedua Sasuke lebih kuat dari sebelumnya. 'Tiga,' pada hitungan ini Naruto dapat merasakan air susunya mengalir deras ke mulut Sasuke. Pada hitungan berikutnya Naruto menjambak rambut hitam yang ada di genggaman karena Sasuke menghisap kuat-kuat dadanya.

"Hhah.. Mmm." Naruto mengeluarkan desahan tertahan pada hitungan ke lima yang entah kenapa dapat menciptakan gelayar nikmat pada tubuhnya. Naruto sangat malu dengan respon yang diberikannya oleh karenanya semenjak hisapan ke-enam ia lebih berkonsentrasi untuk mengontrol gerakan tubuhnya dari pada meneruskan hitungannya.

Sasuke gembira pada respon positif yang diberikanNaruto, setidaknya bukan hanya dirinya yang menikmati aktivitas ini. Pada hitungan ke-sepuluh Sasuke melepaskan puting yang dikulumnya. Bagaimanapun juga Sasuke adalah seorang pemuda yang selalu menepati janjinya.

"Naruto?" panggilan Sasuke membuat Naruto segera membuka matanya yang terpejam. "Sudah tidak nyeri?" Sasuke menanyakan kondisi Naruto. Ia sedikit khawatir karena wajah Naruto terlihat pucat serta tubuh yang banyak mengeluarkan keringat.

Naruto menjawab pertanyaan Sasuke dengan anggukan dan segera berdiri dari pangkuan pemuda itu untuk merapikan diri. Naruto merasa penampilannya sangat acak-acakan, dilihat dari seragamnya yang tampak kusut. Ia lalu memasang plester yang baru pada dadanya dan merapikan kembali seragam yang ia kenakan. Naruto menolehkan wajahnya ketika sadar bahwa dirinya sedang diamati oleh teman sebiliknya ini.

"Terima kasih, Sasuke. Ku kira kau sudah tak mau lagi membantuku karena kau selalu menghindariku belakangan ini. Aku sangat senang." Naruto menatap teduh Sasuke yang masih duduk di atas kloset.

"Hn." Sasuke menjawabnya singkat kemudian beranjak dari kloset saat dirasa penampilannya sudah cukup rapi.

Naruto terdiam saat Sasuke perlahan menghampirinya. 'Dia tak menanggapi ucapanku. Apa Sasuke marah lagi?' pikirnya. Ia tak bisa mengartikan sorot mata yang diberikan Sasuke. Ditatap demikian membuat Naruto kembali merasakan gelayar aneh di perutnya. Naruto hanya bisa mengeluarkan sebuah senyuman canggung untuk menutupi rasa gelisahnya

Sasuke mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto. "Apa itu artinya kau senang jika aku yang membantumu, Naruto?"

"Hmm. Tentu saja aku senang, Sasuke." Naruto mencoba menjawabnya dengan santai.

"Jika itu Gaara, apa kau tetap senang?" tanya Sasuke lagi.

"Apa maksudmu? Tentu saja aku akan senang." Naruto mengerutkan kedua alis pirangnya, bingung.

'Bukan itu yang ku maksud, Dobe,' inner Sasuke membuang nafas lelah, ia sudah menduga Naruto akan menjawabnya demikian. "Katakan Naruto, apa kau benar-benar senang saat kau bersamaku?" Sasuke memegang dan mengguncang pundak Naruto.

"Lepaskan tanganmu, Sasuke." Naruto melirik salah satu tangan yang kini nangkring di pundaknya.

"Apa kau sering meminta bantuan pada Gaara, Naruto?" Salah satu tangan Sasuke yang berada di pundak semakin merayap naik dan memegang tengkuk Naruto bermaksud mendekatkan wajah mereka. "Apa kau pernah memintanya untuk menciummu atau menyentuhmu? Sampai kau berani meminta bantuanku kala itu." Ucapan Sasuke merujuk pada permintaan Naruto untuk menciumnya ketika di mall ataupun membantunya mengatasi masalah dadanya. Sasuke menatap awas kedua mata Naruto, berharap akan mendapat respon secepatnya. Namun sepertinya perkataan Sasuke belum mendapat respon darinya oleh karena itu Sasuke kembali mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan.

Dua hidung yang saling bersentuhan itu membuat wajah Naruto memanas dan darah di kembali berdesir di tubuhnya. Saat bibir Sasuke hendak menyapanya Naruto memutuskan untuk memalingkan wajahnya ke samping, membuat bibir itu menyentuh pipinya. "Aku tidak mengerti dengan apa yang kau tanyakan. Tindakanmu telah di luar batas, Sasuke." Naruto masih enggan menatap Sasuke, mata itu selalu mampu membuat Naruto menuruti segala keinginannya. 'Apakah ini yang membuat Sasuke menghindariku?' batin Naruto.

"Batas apa yang kau maksud, Naruto? Tunjukkan sejauh apa kau akan meminta bantuan pada orang lain!" Dengan hati-hati Sasuke mengucapkan kalimat itu. Bibirnya kini berpindah ke samping telinga Naruto, Sasuke sengaja meniup pelan organ yang kini merona itu.

"Kita adalah teman, Sasuke. Tak seharusnya bertindak seperti apa yang kau lakukan pada diriku seperti sekarang ini." Naruto memejamkan kedua matanya. Perlakuan Sasuke membuatnya teringat akan drama picisan yang pernah ditontonnya, dimana pelakon pria sering memepet gadisnya. 'Eh? Tapi aku bukanlah seorang gadis! Dasar ingatan bodoh!' teriak Naruto dalam hati.

"Teman? Kau pikir apa yang kita lakukan sampai saat ini masuk kategori teman?" Pertanyaan Sasuke membuat Naruto tertohok. Sibuk dalam pikirannya sendiri menyebabkan Naruto tak sadar bahwa tangan sudah Sasuke tak lagi menyentuhnya.

"Kau terlihat kecewa, Naruto. Apa kau menganggapku lebih dari teman?" Pertanyaan yang selalu ditahan akhirnya terlepas begitu saja dari mulut Sasuke, ia sudah tak bisa menahan perasaannya lebih lama lagi.

Dalam refleks sebenarnya mulut Naruto ingin mengucap kata 'iya' namun segera diurungkannya saat menangkap tatapan serius Sasuke. "Aku.. tak yakin." Terdengar nada keraguan dari ucapan Naruto. Tanpa diketahui Sasuke diam-diam Naruto sudah seenak hati menaikkan level mereka menjadi saudara karena Sasuke selalu siap sedia menolongnya. Namun karena gengsi Naruto tak ingin berkata jujur dengan apa yang dipikirkannya.

"Asal kau tahu, aku tak pernah menganggapmu sebagai teman biasa, Naruto." Sasuke ingin membuat Naruto tahu bahwa ia menganggapnya lebih dari teman.

Mata biru Naruto membola mendengar pernyataan Sasuke. Ia sungguh tak menyangka ucapan tegas dari pemuda itu dapat membuat nafasnya tercekat. 'Apa Sasuke tak ingin berteman denganku karena aku adalah orang yang merepotkan baginya? Tentu saja pemuda normal seperti dirinya akan berpikiran seperti itu. Tak adakah yang mau berteman dengan apa adanya diriku?' Naruto tersenyum miris saat mengucap dalam hati pikiran mindernya. Naruto bukanlah seorang yang melankolis tapi jika terus terbawa suasana hati, pemuda seperti dirinya bisa saja mengeluarkan air mata. Ia harus keluar dari keadaan seperti ini!

"Oh, oke jika itu maumu. Tak apa jika kau tak mau berteman denganku. Ku kira kau ingin mengatakan apa. Hahaha! Thanks Sasuke, atas bantuanmu selama ini. Nah, aku harus segera kembali. Ja!" Mata Naruto menyipit saat mengucapkan kalimat panjang itu kemudian melepaskan pukulan ringan pada bahu Sasuke sebelum keluar dari bilik.

'Apa aku mengatakan hal yang salah?' Sasuke membatin. Reaksi yang diberikan Naruto sangatlah tidak terduga baginya. Ia memang mengatakan bahwa dirinya tak menganggap Naruto sebagai teman tapi bukan berarti sama sekali tak ingin berteman dengannya. Justru ia ingin memperlakukan Naruto lebih dari itu. Sasuke menggeleng iba pada pikiran bebal Naruto.

"Mungkin aku harus meluruskan masalah ini, tapi tidak sekarang," ucap Sasuke pada bilik toilet yang kosong.

_ page break _

Greek.

Semua siswa di kelas itu menoleh ke arah pintu, namun perhatian mereka semua kembali fokus ke depan setelah mengetahui siapa gerangan yang berani terlambat di pelajaran salah satu guru tergalak di Konoha High School.

Kluk.

Naruto membungkukkan badannya ketika perhatian Asuma sudah tertuju padanya. Ketika Naruto akan memberikan alasan keterlambatan hadirnya, guru Sejarah itu mengangkat sebelah tangannya dan memberi tanda padanya untuk segera duduk dan mengikuti pelajarannya. Kesempatan itu tak disiakan oleh Naruto untuk segera menghampiri bangkunya. Ia bersyukur perhatian teman-teman sekelasnya tak lagi tertuju padanya. Entah apa yang akan dikatakannya saat mereka melihat wajah sendunya saat ini.

Naruto tahu Gaara terus memperhatikannya semenjak ia memasuki ruangan. Lewat tatapan matanya Naruto meminta kesediaan pemuda Sabaku untuk tidak banyak bertanya padanya.

Naruto menghela nafas lelah untuk ke sekian kalinya hari ini. Rupanya ia lupa membawa buku paket untuk pelajaran Asuma. Ketika ia membayangkan hukuman apa yang akan menimpanya Naruto merasakan sebuah benda yang disodorkan pada bahunya. Sodokan yang makin persisten itu membuat Naruto menolehkan kepalanya dan mendapati sebuah buku yang didambakan ternyata ada di depan matanya.

"Kau bisa memakai buku ini, Naruto." Sara, sang gadis berambut merah, tersenyum malu-malu saat menyerahkan buku miliknya pada Naruto. Di samping gadis itu duduk Ten Ten, gadis tomboy yang ikut tersenyum saat memandang Naruto.

"Ku pinjam ya!. Terima kasih." Naruto mengeluarkan senyum kerennya yang membuat kedua gadis yang melihatnya menjadi tersipu malu. Naruto adalah salah satu pemuda yang memiliki senyuman yang enak dipandang di kelas ini, jadi wajar saja bahwa beberapa siswa berlomba-lomba mendapatkan senyum itu.

Endus, endus.

'Apa lagi, sekarang?' Naruto menghela nafasnya lagi. "Sai, aku tak ingin terkena hukuman dari sensei lagi. Bisa kah kau mundur dan duduk tenang di bangkumu sendiri?" bisik Naruto. Dahinya berkedut kesal karena anak rambut pemuda berkulit pucat itu mencoba mengendusinya.

"Kenapa aku selalu mencium aroma manis seperti susu dari tubuhmu, Naru-chan? Kau ini maniak susu, ya?" Sai masih belum berpindah dari posisinya. Pernyataannya membuat Naruto menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Sai.

"Untuk ke sekian kalinya jangan memanggilku Naru-chan, Shimura. Sebaiknya kau kembali ke tempatmu sebelum Asuma-sensei melemparimu sesuatu," ucap Naruto, masih berbisik. Kedutan kesal di dahinya serasa ingin meletus.

"Tenang saja, Asuma tak akan melihat kit-Ctak!

Perkataan Sai terhenti saat sebuah tutup spidol tepat mengenai dahinya.

"Shimura, cobalah ulangi apa yang baru saja saya katakan." Asuma memberikan perintah yang membuat kulit Sai yang dari lahirnya sudah pucat menjadi semakin memucat. "Oh iya. Setelah selesai, tolong bawakan ke depan tutup spidol yang kau pegang itu!" tambahnya.

_ page break _

Laboratorium Zoologi, Konoha University.

Padahal sudah genap bunting dua puluh satu hari tapi masih saja ada mencit yang belum beranak. Selain itu parameter konsentrasi prolaktin dari mencit yang telah melahirkan haruslah diambil sampel darah secepatnya. Kemudian sampel darah yang didapat sesegera mungkin ditempatkan pada vacuette EDTA*. Demi alasan itulah Kyuubi, sebagai salah satu anggota proyek harus rela bertahan di laboratorium sampai malam hari.

Berulang kali Kyuubi mengecek waktu yang ditunjukkan arloji yang ternyata masih pukul delapan malam. Sudah tiga jam lamanya ia menunggu tapi Omoi tidak segera menunjukkan batang hidungnya. Jika melewati pukul 22.00 masih ada mencit yang yang belum melahirkan maka dengan terpaksa Kyuubi harus menginap berdua dengan Itachi di laboratorium. Memikirkan hal itu membuat Kyuubi semakin jengkel karena semenjak kemarin Itachi tampak menghindarinya oleh alasan yang tak diketahuinya, membuat Kyuubi berpikir apakah sang dosen masih memikirkan pertengkaran mereka saat berada di mobil.

Upaya penghindaran Itachi jelas berdampak buruk bagi Kyuubi. Bagaimana tidak jika misalnya saja saat ini Kyuubi harus berjalan melintasi ruangan untuk mendapatkan vacuette EDTA. Benda-benda itu terletak pada meja yang diduduki oleh Itachi yang berjarak sekitar sepuluh meter darinya sedangkan ia sendiri tak diperbolehkan membawa beberapa tabung sebagai cadangannya. Benar-benar hal yang tidak efisien. 'Jadi, Itachi punya sifat kikir, eh?' tebak Kyuubi.

Kyuubi mengusap-usap kedua lengannya saat suhu ruangan semakin menurun drastis. Ia tidak tahu bahwa temperaturnya akan serendah ini karena tak pernah berada dalam laboratorium sampai semalam ini. Untung saja ia adalah pemuda yang sehat dan kondisi seperti ini tidak akan menyebabkan dia terkena sakit, begitulah pikiran narsis dari Kyuubi.

"Uhuk, uhuk!" Tapi sepertinya ketahanan tubuh Itachi tidak seperti Kyuubi karena pria itu terus saja terbatuk dengan nafas sedikit berbunyi. Beberapa saat kemudian Kyuubi melihat Itachi memanggilnya dengan isyarat tangan.

Menurut pengamatan Kyuubi sepertinya Itachi adalah seseorang yang memiliki penyakit asma. 'Penyakitnya kambuh karena udara dingin?'tanya Kyuubi dalam hati. Dengan gerak cepatnya Kyuubi mendudukkan Itachi dalam posisi yang lebih nyaman. "Apa kau membawa obat, Sensei?" pertanyaan Kyuubi dibalas dengan tatapan Itachi pada tas yang terletak di ujung ruangan.

"Tidakkah pendingin ruangannya dimatikan?" Kyuubi menggerundel sendiri saat mencari obat yang dimaksud Itachi. Setelah mendapat inhaler* yang dicarinya dengan cepat Kyuubi kembali ke sisi Itachi. "Sensei, aku harus mencari pengontrol suhu. Bisakah kau memakai obatnya sendiri?" Tanpa menunggu jawaban dari Itachi, Kyuubi melesat ke sepenjuru ruangan untuk mencari benda tersebut namun sayang tak segera ditemukan.

'Ada baiknya aku keluar ruang untuk mencari bantuan,' pikir Kyuubi. Ia segera menghampiri pintu untuk membukanya. "Sial ternyata terkunci! Apa mereka tidak tahu masih ada orang di ruang ini?" rutuknya.

Brak!

Kyuubi menendang daun pintu yang tertutup rapat. Nihil, pintunya tetap tertutup. Fokus Kyuubi teralihkan saat mendengar suara batuk, membuatnya segera kembali ke sisi Itachi.

"Sensei! Kau baik-baik saja?" Kyuubi terkejut saat mendapati posisi Itachi sedikit terkulai dari sebelumnya dengan inhaler yang masih tergenggam di tangannya. "Apa kau sudah menggunakan inhalernya?" pertanyaan Kyuubi dijawab oleh anggukan sekali dari Itachi.

Kyuubi memperhatikan penampilan Itachi sekali lagi. Kulit dan bibir Itachi semakin pucat. Walau wajahnya tak terlihat kesakitan tapi Kyuubi tahu bahwa dosennya itu pasti masih kesulitan dalam mengambil nafas.

Saat kondisinya tak kunjung membaik Itachi memejamkan matanya agar lebih fokus bernafas, suhu di sekitarnya membuatnya mengantuk.

"Eh, jangan tertidur!" Inilah kondisi yang tak disenangi oleh Kyuubi, saat menangani seseorang yang mulai kehilangan kesadarannya di saat situasi sedang kritis. Tepukan di pipi Itachi berhasil mengundang respon dengan kernyitan di dahinya. 'Bagus, setidaknya ia masih sadar,' Kyuubi membatin. Kemudian ia mengambil inhaler dari tangan Itachi. "Itachi-nii, aku akan memakaikan inhaler ini padamu. Buka mulutmu." Kyuubi segera memasukkan bagian mulut inhaler itu pada Itachi setelah ia membuka sedikit mulutnya. "Setelah merasakan hembusan udara masuk kau harus menghirupnya perlahan. Mengerti?" perintah Kyuubi. Itachi mengangguk dan Kyuubi segera melakukan apa yang baru saja diinstruksikannya.

"Karena tak ada pengontrol suhu dan pintunya tak bisa terbuka aku harus mencari bantuan dari luar, Itachi-nii." Langkah Kyuubi terhenti saat tangan Itachi memegang lemah lengannya. "Aku hanya ingin mengambil ponsel di tasku untuk menghubungi penjaga ruangan." Niatan Kyuubi untuk menghubungi penjaga kampus batal saat Itachi tak segera melepaskan lengannya.

Melihat tubuh Itachi yang menggigil membuat Kyuubi melepas jas lab yang dipakainya. Kyuubi kembali menggunakan inhaler itu pada Itachi saat irama nafasnya tak kunjung teratur. 'Aku tak boleh menggunakan obat ini terus menerus. Apa yang sebaiknya kulakukan? Tak ada air hangat di sini. Tak ada benda penghangat lagi selain baju yang kupakai,' Kyuubi masih memikirkan cara untuk menyembuhkan Itachi. 'Mungkin aku bisa menggunakan tubuhku. Ehm, tunggu sebentar! Tidakkah itu terasa aneh nantinya? Cih, tak ada cara lain yang bisa ku lakukan!'Kyuubi masih sibuk bermonolog dalam hati.

Grep.

Akhirnya Kyuubi memeluk Itachi dari arah samping. Dari lubuk hatinya ia berharap kehangatan tubuhnya dapat tersalurkan. Karena melihat orang lain menderita bukanlah hobi seorang Kyuubi.

_ page break _

Saat merasakan suhu di sekitarnya tak lagi dingin Itachi kembali membuka matanya. Ia melirik jam yang berada di salah satu sisi dinding ketika tubuhnya susah sekali untuk digerakkan. Sekarang pukul sepuluh malam. 'Bagus, rupanya aku bisa tertidur di tengah penelitian' batin Itachi sarkastik. Itachi mencoba kembali menggerakkan tubuhnya sampai ia melihat sebuah lengan yang melintang di depan hidungnya. 'Tangan siapa ini? Kyuubi?' batin Itachi saat mendapati kepala bersurai merah kejinggaan bersandar di pundaknya. 'Bagaimana bisa?' Itachi memutar kembali semua memori yang dapat diingatnya.

"Jadi Kyuubi telah membantu saat asmaku kambuh." Itachi menggumam saat ingatan itu kembali. Beberapa hari ini ia sengaja mengacuhkan Kyuubi sampai pada akhirnya hal itu membuat proyek mereka menjadi tidak efisien hingga. Karena terfokus pada pekerjaan dan masalah yang dihadapi membuat Itachi lupa bahwa ia lemah pada suhu dingin.

"Apa kau benar-benar menyukaiku, Kyuu?" tanya Itachi pada angin malam, tak berharap akan jawaban.

"Hmm? Tentu saja aku menyukaimu, Sensei." Itachi menaikkan satu alisnya saat Kyuubi menjawab pertanyaan itu.

'Masih tertidur? Apa dia ini seorang pengigau? Apa sebaiknya kumanfaatkan saja kebiasaan mengigaunya itu?' pikir Itachi, entah kenapa merasa semakin bodoh akhir-akhir ini. Tapi, ide itu terlalu sayang untuk dilewatkan.

"Kyuubi?" panggil Itachi.

"Ngg?" Kyuubi menggumam tidak jelas.

"Jadi.. Sejak kapan kau menyukaiku?" Itachi menepukkan tangan ke jidatnya, tidak menyangka akhirnya ia menanyakan hal sekonyol ini, pada orang yang sedang mengingau pula! Pasti IQ-nya sedang terjun bebas, ya pasti. Dia baru saja terserang asma, bukan? Pasti itu yang mempengaruhi kemampuan otaknya berpikir, begitulah pembelaan Itachi.

Tidak seperti sebelumnya, kali ini cukup memakan waktu lama bagi Kyuubi untuk menjawabnya. "Kalau kau bertanya kapan, jawabannya sudah lama sekali, Sensei," jawab Kyuubi pada akhirnya.

"Kapan, hm?" Itachi mulai tidak sabar, ia mulai terbawa suasana.

"Mnghh, sejak pertama kalinya ikut kelasmu mungkin? Kau pintaaar sekali." Kali ini Kyuubi mempraktekkan ucapannya dengan gerakan tangan yang ia angkat tinggi-tinggi lalu di jatuhkannya begitu saja. "Sejak itu aku selalu termotivasi olehmu, Sensei." Itachi tak melewatkan senyuman kecil yang tersungging di bibir Kyuubi. Setelah menjawab pertanyaan itu Kyuubi kembali menyamankan dirinya untuk bersandar pada tubuh Itachi.

Mendengar pernyataan Kyuubi, walau hanya igauan saja, membuat hati Itachi sedikit menghangat. Itachi kembali teringat akan saran dari beberapa orang terdekatnya. Memberi sedikit kesempatan tidak akan menyakitkan, bukan?

Perlahan beban yang Itachi rasakan sedikit terangkat dan kini beberapa hal yang perlu ia lakukan adalah meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda dan kemungkinan akan meneruskan jurnal yang tengah digarapnya. Mengingat jurnal itu harus disetorkan dalam beberapa minggu lagi. Jika sudah seperti ini keadaannya, Itachi tak bisa kembali tidur.

_ page break _

"Kalian berdua benar-benar aneh," komentar Gaara pada Naruto saat menangkap bola dengan dada kemudian membawanya kembali ke pergelengan kaki. Dia mengobservasi kejauhan, mencari anggota tim yang siap menerima anggota tim. Mendapat sasaran yang empuk, -shoot, Gaara mengumpankan bola yang dibawanya.

Naruto berlari sejajar dengan Gaara, posisi mereka sebagai bek tengah memudahkan mereka untuk menjalin komunikasi. "Siapa yang kau maksud dengan kalian, Gaara? Ngomong-ngomong, aku selalu iri dengan caramu yang bisa menangkap bola seperti tadi." Naruto tak bisa membayangkan jika dadanya terlempari bola semacam tadi. 'Pasti sakit!' Naruto merinding ngeri membayangkannya.

"Kau dan Uchiha. Membuatku tidak tahan untuk mengurung kalian berdua di dalam kamar," jawab Gaara kalem di saat keduanya tengah bersiaga jikalau ada tim lawan yang menerobos pertahanan.

"A-apanya yang harus di kamar? Perumpamaanmu terlalu berlebihan, Gaara!" Wajah Naruto memerah saat mengatakannya. Ia menyesal karena telah menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dan setelah itu pula Gaara tak pernah berhenti untuk mengejeknya. 'Apa dia bilang? Aku ini si lurus yang terlalu polos? Blah! Sebutan macam apa itu?' gusarnya Naruto dalam hati begitu teringat olokan Gaara sehari sebelumnya.

"Yang kalian lakukan tak ada bedanya dengan apa yang dilakukan sepasang kekasih ketika bercinta, kau tahu." Entah terlalu fokus pada pertandingan ataupun memang wajahnya yang memang datar dari lahir, Gaara bisa mengatakan hal itu dengan wajah yang lempengnya.

Deg!

"Kekasih yang bercinta?" Naruto tak bisa membayangkan dirinya melakukan yang iya-iya dengan Sasuke. Kalau membayangkan tentang berciuman sih bisa, toh dia sudah melakukannya berulang kali dengan Sasuke. 'Tidak! Tidak bisa!" Naruto meraba jantungnya yang berdebar cepat ketika mengingatnya. Berpikir tentang ciuman dan Sasuke dalam konteks yang sama sangat tidak baik bagi kesehatan jantungnya.

"Memikirkan bercinta dengan Sasuke, Naruto?" goda Gaara. Jarak mereka agak terlampau jauh, membuatnya sedikit meninggikan suaranya.

"Hati-hati dengan yang kau katakan. Bagaimana jika yang lain dengar?" Mata biru Naruto bergerak liar menatap sekelilingnya. Apa yang dikatakan Gaara terlalu vulgar untuk didengar di tempat umum. "Bukankah kau akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Sasuke untuk membantuku, Gaara?" tanya Naruto.

Duk!

Gaara nyaris tersandung dengan ucapan Naruto barusan. "Kau berhati-hatilah dengan apa yang kau katakan, Naruto. Lihat, kau hampir membuatku terjatuh!" Gaara membalikkan saran dari Naruto. "Aku tidak akan melakukannya untukmu! Lakukan saja sendiri! Sudahlah aku ingin fokus! Sudah cukup tim lawan mendapatkan angka akibat dirimu yang main lirik-lirikan dengannya." 'Wow, itu adalah ucapan terpanjang yang pernah kukatakan setahun ini!' Gaara membatin ngeri. Kehadiran Naruto bisa mengubahnya menjadi ibu-ibu yang cerewet.

"Aku tidak main lirik-lirikan atau apalah namanya itu dengannya! Sasuke tidak melirikku. Bahkan saat ini dirinya tak mau berteman denganku. Hei Gaara, apa kau dengar aku?" Fokus Naruto tidak lagi di lapangan, ia terang-terangan mengajak Gaara berbicara.

"Awas samping kirimu, Naru-chan!" suara Sai terdengar dari kejauhan.

"Apa?" sebelum ia tahu bola seberat empat ratus gram itu telah terlempar ke arahnya. Tidak berpikir dua kali, Naruto menangkapnya sebelum benda itu mengenai wajahnya. Setelah kembali dengan fokusnya Naruto merasa bahwa semua orang kini menatap dirinya.i

Krik. Krik. – mendadak derik jangkrik menjadi background suara.

"Naruto!" seru Guy, guru P.E, selaku wasit di pertandingan ini.

"Ya, Sensei?" Naruto nyengir, masih belum mengerti mengapa guru nyentrik itu terlihat marah padanya.

"Kau memegang bola di tanganmu. Ini bukan voli, Naruto. Apa kau melakukannya untuk pertahanan diri?" Guy mencoba untuk mengonfirmasi.

"Sensei, Naruto melakukan hand to ball*, beri dia kartu pelanggaran!" seru salah seorang dari tim lawan.

"Tidak, Sensei. Naruto hanya melindungi diri, itu ball to hand*. Sensei melihatnya sendiri, bukan?" seru teman Naruto dalam tim yang sama. Tidak mungkin dia melepaskan Naruto. Walau sedikit bodoh, dia cukup lihai bermain di tim ini.

"Ball to hand, aku juga memastikannya sendiri. Beruntungkah Naruto, kau tidak kena pelanggaran!" Guy mengacungkan jempolnya pada Naruto dengan diiringi senyuman khas iklan pasta giginya. –Ting!

Silau gigi putih itu sesaat membutakan semua orang disekitar guru P.E, benar-benar perandaian yang berlebihan.

"Tapi, Sensei!" sanggah pemuda dari tim lawan.

"Tidak, aku sudah memutuskan! Naruto tidak melakukan pelanggaran. Dapatkah kau lihat, persahabatan yang indah dapat terjadi dimana saja, seperti di lapangan ini misalnya! Inilah masa muda yang yang harus kalian jaga selamanya!" ujar sang guru berapi-api, tiba-tiba terdapat ilustrasi ombak yang berdebur di balik punggungnya. Jika sudah melihat guru Guy seperti itu seluruh siswa hanya bisa membiarkannya dan kembali ke posisinya masing-masing.

"Ehem! Baik, kita kembali ke permainan setelah aku memberikan tendangan bebas!" ucap Guy setelah kembali pikirannya kembali ke bumi. Ia akan memberikan tendangan bebas karena bola berada di luar kotak pinalti.

Pluk.

Seseorang menepuk punggungnya, membuat Naruto terdiam. "Jangan bengong lagi eh, Naru-chan!" ucap pemuda berambut hitam klimis sebelum berlari ke arah lain, karena Sai memang berada di tim lawan Naruto. Mempunyai teman kelas yang semanis Naruto, membuatnya tak bisa untuk tak menggodanya pemuda itu.

Plak!

Sekarang giliran pundak Naruto yang dipukul keras oleh Gaara. "Rileks, Naruto. Jangan biarkan masa lalu mengganggumu," saran Gaara.

Pukulan dan ucapan Gaara berhasil mengembalikan Naruto dari alam bawah sadarnya. Tepukan di punggungnya telah membuatnya terlempar ke masa lalu yang tak diinginkannya. "Thanks, Gaara!" ucapnya dengan sepenuh hati.

_ page break _

"Wah, Guy-sensei memang keren!" seru Lee sambil nemplok di pagar pembatas antara lapangan yang dipakai kelasnya dengan kelas XII.

"Hentikan tindakanmu Lee! Kau membuat malu kelas kita!" hardik Kiba, tak tahan dengan kebodohan kawan sekelasnya itu. Lapangan yang mereka gunakan untuk olah raga saat ini bersebelahan dengan kelas lain. "Hei, Sasuke! Bukankah itu adalah kakak kelas yang selama ini kau amati? Ternyata dia lucu sekali, ya! Hahaha!" Fokus Kiba teralihkan pada Sasuke yang masih terdiam mengamati pemandangan di balik pagar pembatas itu. Ia menunjuk pemuda bersurai pirang yang tengah berlarian ke sana ke mari.

"Dia tidak lucu, Kiba. Naruto Namikaze itu pemuda yang manis," sahut Shikamaru, melirik Sasuke. "Benar begitu, Sasuke?" tambahnya lagi. Ia tersenyum ketika melihat tatapan garang Sasuke.

"Eh! Kau benar, Shika! Senpai kita yang satu itu jika diamati sebenarnya manis ya!" Kiba mengiyakan pendapat Shikamaru setelah kembali mengamati Naruto.

Plak!

Pukulan kasar Sasuke mengenai kepala Kiba, setelah melakukan itu ia segera berlalu. Senyum Shikamaru semakin terkembang ketika melihat tatapan Sasuke yang semakin sadis saja. 'Merepotkan. Kena kau, Sasuke!' batin Shikamaru.

"Aduh! Kenapa kau tiba-tiba memukulku, Sasuke!" Kiba mengelus sayang benjolan yang mulai terbentuk di kepalanya.

_ page break _

"Naruto, cepat habiskan makananmu! Jangan hanya diaduk saja," seru Kushina.

"Iya, Bu," jawab Naruto. Ia menyumpit sesuap nasi ke mulutnya kemudian kembali mengaduk nasi kare yang menjadi makan malamnya. Melihat hal itu Kushina kembali menghela nafasnya.

"Sayang, apa hari ini Kyuubi akan menginap di kampusnya lagi?" tanya Minato.

"Tidak, dia bilang akan segera pulang," jawab Kushina, sesekali masih memelototi anak bungsunya agar segera makan dengan benar.

"Tadaima!" seru seseorang dari arah pintu.

"Panjang umur sekali dia," gumam Naruto. Gumamannya mengundang tatapan tak setuju dari kedua orang tuanya. Cepat-cepat Naruto menggumamkan 'maaf' jika tak ingin terkena marah lagi.

"Hush, Naruto!" Kushina kembali menatap tegas anaknya. "Okaeri, Kyuu! Ayo kemarilah. Kau sudah makan?" sambut Kushina setelah anak tertuanya telah sampai di hadapannya.

"Ibu tenang saja. Dosen pembimbing proyek sudah mentraktirku makan. Oh iya, sepertinya besok aku harus lembur lagi. Dan hari-hari berikutnya juga akan sama," ucap Kyuubi. Matanya selalu berbinar saat mengatakan hal berbau penelitian.

"Bagaimana dengan Naruto, Kyuu? Apa dia harus pulang bersama Gaara?" tanya Kushina.

"Benar, Bu. Selama beberapa hari ini dia akan pulang bersama, Gaara." Kemudian Kyuubi menoleh ke arah Naruto. "Ku dengar dari Gaara kau sudah putus dengan gadismu. Benar?" sapa Kyuubi. "Kau diam sekali, Otouto. Jadi, yang dikatakan Sabaku itu memang benar saat mengatakan kau sudah punya pacar baru," pancing Kyuubi ketika sapaannya diacuhkan oleh Naruto.

"Jangan suka bertanya seenaknya pada Gaara, Kyuu-nii! Aku memang putus dari Fū, tapi aku belum punya penggantinya," sungut Naruto, kesal.

Mata rubi Kyuubi memicing tajam. Ia tahu persis jika adiknya selalu terbuka pada Gaara. Sedangkan Gaara adalah pemuda yang tak pernah bohong dengan apa yang dikatakannya, walau mungkin yang diucapkan Sabaku sedikit dibumbui di sana-sini.

Setelah melihat wajah jutek Naruto, terbesit ide jahil di otak Kyuubi untuk sedikit mengganggu adiknya. "Hei Naruto, ku dengar kalau gadis yang baru kau kencani berhasil membuat dirimu 'mengeras' di sekolah. Apakah itu benar?" tanya Kyuubi sambil berbisik, matanya melirik arah selangkangan Naruto.

Bisikan Kyuubi membuat nafsu makan Naruto habis seketika. Bagaimana bisa Gaara membocorkan semua yang diceritakannya? Ehm, walau sebenarnya kata 'gadis' pada kalimat itu seharusnya perlu diganti dengan kata 'pemuda', sih. Tapi tetap saja..

"Guyonanmu tidak lucu! Meski kita adalah saudara tapi tidak berarti harus mengetahui semuanya, bukan?" Naruto memandang kesal Kyuubi. "Yah, Bu. Aku sudah kenyang. Terima kasih makanannya," pamit Naruto menuju kamarnya.

"Kau jangan mengganggu adikmu terus, Kyuu," ucap sang Ayah, Minato. "Semenjak kemarin dia menjadi pendiam seperti itu. Harusnya kau mengerti," tambahnya lagi.

"Aku hanya asal bicara padanya kok, Yah! Aku bahkan tidak tahu apa yang kukatakan benar terjadi atau tidak pada dirinya," aku Kyuubi. "Lagi pula kemarin aku seharian tidak di rumah karena proyek. Jadi, aku tidak tahu." Kyuubi mengedikkan kedua bahunya.

"Bicara tentang proyekmu, bagaimana perkembangannya? Apa dosen pembimbingnya baik padamu?" Tiba-tiba Minato tertarik pada penelitian yang dikerjakan anak sulungnya.

"Baik-baik saja, Yah. Pembimbingku, Uchiha-sensei adalah orang yang baik, bahkan dia menyuruhku untuk memanggil dengan nama kecilnya saja. Menggelikan, bukan?" Kyuubi menjawabnya dengan santai ketika ia sendiri asyik menyemil kudapan yang tersaji di depannya.

"Dengan nama kecilnya? Memangnya berapa usia dosenmu itu, Kyuu?" Kushina mulai tertarik pada pembicaraan ayah-anak ini.

"Entahlah. Yang ku tahu usianya di bawah dua puluh lima tahun," jawab Kyuubi lagi, masih mengunyah cemilannya.

"Muda sekali umurnya. Ku kira dosenmu itu seumuran dengan ayah." Minato melirik Kushina.

Kushina paham akan arti pandangan suaminya, "Kurasa bukan dia Uchiha yang dimaksud Kyuu. Kita bahkan sudah lama tak mendengar kabarnya sejak saat itu." Pandangan mata Kushina mendadak sendu.

"Apa hanya aku yang tak mengerti di sini?" Kyuubi mengangkat alisnya tingg-tinggi, melupakan kudapannya. "Apa ayah mempunyai teman seorang Uchiha yang juga seorang dosen tapi sudah lama tidak bertemu. Benarkah begitu?" Kyuubi mencoba menyimpulkan satu-satu informasi yang didengarnya.

"Hmm.. mungkin dugaanmu separuh benar, Kyuu," jawab Minato, menggantung.

_ page break _

"Kau belum tidur, Sayang?" tanya Mikoto pada suaminya. Sudah selarut ini ternyata Fugaku masih menyalakan lampu tidurnya.

"Tidurlah. Maaf telah membangunkanmu." Fugaku membetulkan kaca mata baca yang dipakainya.

"Coba kulihat apa yang sedang kau baca." Mikoto menyenderkan dagunya pada salah satu pundak Fugaku. "Tumben sekali melihat album foto seperti ini." Wanita yang sudah memasuki usia kepala empat ini pun mengikuti apa yang dilakukan suaminya, menikmati foto-foto kenangan mereka.

"Aku ingin tahu bagaimana kabar kawan pirangku itu," ucap Fugaku tiba-tiba.

"Minato Namikaze?" tebak Mikoto.

Fugaku mengangguk, "Ya. Aku selalu merasa bersalah setiap mengingatnya. Andai saja waktu itu aku tak mengenalkan mereka, tentu saja hidupnya tak akan menjadi seorang pelarian seperti ini." Mata hitamnya menerawang kejadian di masa lampau.

"Sudahlah, ini semua bukan salahmu. Ia pasti mengerti akan hal itu." Telapak tangan Mikoto menyentuh pelan tangan suaminya, menenangkan Fugaku yang sedang kalut.

"Aku harap ia mau memaafkanku, Mikoto," ucap Fugaku. "Hei, aku paling senang saat melihat foto ini. Lihatlah ini, Mikoto!" Pandangan Fugaku teralihkan pada lembaran album yang berikutnya. Mata hitamnya berbinar ketika melihat foto perayaan keluarga kecilnya saat Itachi diangkat menjadi dosen tetap.

"Kau ini benar-benar suka jaga imej, Sayang. Kau terlalu keras pada Itachi. Padahal kau sendiri senang bukan kalau ia mau melanjutkan impianmu menjadi seorang pengajar?" Mikoto tersenyum kecil sambil mencubit pelan salah satu pipi Fugaku.

"Hn. Dia memang seperti diriku," ucap Fugaku bangga.

"Dan kau juga jangan terlalu keras pada bungsumu. Sasuke sudah cukup tertekan oleh Itachi, aku tidak maua kau semakin menambah bebannya," Mikoto mengingatkan.

"Aku hanya ingin ada yang mewarisi perusahaan nantinya. Aku hanya mendorongnya saja. Lagi pula Itachi tak terlalu tertarik melanjutkan bisnis keluarga," tukas Fugaku.

_ page break _

Cklek. Klak! Klak!

Suara pintu yang gagal terbuka itu bergema beberapa kali.

Kushina tidak bisa membuka pintu kamar anak bungsunya. 'Tumben sekali anak itu mengunci pintunya,' batinnya. Ia lalu menempelkan telinganya pada daun pintu yang kenopnnya masih terpegang olehnya. Dari luar Kushina dapat mendengar Naruto bergerak gelisah.

Pluk!

Sebuah tangan mendarat pada pundak wanita bersurai merah itu. "Hah! Kau mengagetkanku, Minato!" desis Kushina, begitu sadar bahwa Minato lah yang mencarinya. Jika sedang kaget atau marah tak jarang ia memanggil dengan nama kecil suaminya.

"Apakah setiap hari kau harus selalu memeriksa kamar anak-anakmu?" Minata mengerutkan kedua alisnya ketika melihat salah satu dinding rumahnya menampilkan pukul empat dini hari.

"Sst! Coba dengar apa yang sedang terjadi di kamarnya!" Kushina mengajak suaminya menguping Naruto dari luar pintu. Ia sendiri sedang sibuk menekan telunjuk di depan bibirnya merahnya.

Minato menggelengkan kepalanya, ia tak pernah bosan melihat tingkah ajaib istrinya, pasti sifat tak terduga kedua anaknya menurun kuat dari sang ibu. "Naruto pasti sedang mimpi basah, Kushina. Kau pasti senang anak bungsu kita sehat, bukan? Sudahlah jangan kau ganggu dia." Minato mengeluarkan senyuman teduhnya.

Kushina melongo mendengar penuturan suaminya. Perkataan Minato ada benarnya juga, tak seharusnya dirinya mengganggu masa-masa indah Naruto saat ini. 'Apa ini artinya hiburanku melihat Naruto yang tertidur akan berkurang?' Kushina membatin sedih, tapi tak lama kemudian ide jenius terlintas di benaknya. 'Ah! Mungkin saja nanti aku bisa mencari tahu siapa yang diimpikan Naruto. Ide bagus, Kushina!' batinnya Kushina sambil tertawa kecil.

Melihat Kushina bahagia seperti itu membuat Minato tersenyum simpul. Tugasnya malam ini untuk 'menjemput' Kushina telah beres. Ia yakin sebentar lagi sang istri akan segera menyusulnya ke kamar.

_ page break _

"Psst! Sasuke, apa yang kau lakukan di sini?" Naruto celingukan melihat kondisi di sekitar ruang kesehatan ini. Gagal sudah niatan membolosnya untuk tidur siang.

"Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini, Naruto?" Sasuke berbisik tepat di telinga Naruto. "Geser tubuhmu, aku ingin tidur di sini!" perintah Sasuke sok bossy. Ia sedikit menyenggolkan badannya saat merebahkan diri di sebelah pemuda pirang.

"Apa kau tak lihat di ruangan ini masih banyak sekali ranjang yang kosong? Dari sekian banyak yang ada kenapa kau harus memilih kasur yang kutempati, Sasuke?" Naruto meninggikan suaranya.

Sasuke meletakkan telunjuknya pada bibir Naruto. "Psst, Dobe. Padahal tadi kau sendiri yang menyuruhku agar tak ramai, tapi ternyata kau sendiri yang berisik."

"Apa kau bilang? Jangan memanggilku, Dobe! Aku ini orang yang lebih tua darimu, Teme! Camkan itu! Pergilah dari sini!" kali ini Naruto mengatakannya dengan berbisik. Ekor matanya melirik Shizune yang masih duduk manis di meja kerjanya.

"Hmm, tidak mau ya tidak mau, Dobe. Aku ingin berada di sini!" Naruto sedikit geli mendengar nada manja keluar dari mulut Sasuke, benar-benar terdengar aneh. Tangannya menampar kasar tangan Sasuke saat pemuda itu curi-curi kesempatan menggerayangi tubuhnya.

Setiap ranjang dilengkapi dengan tirai, jadi keberadaan mereka dalam satu ranjang belum diketahui oleh orang lain. Atau mungkin akan segera ketahuan jika mereka berdua tetap berisik seperti ini? 'Baguslah kalau ketahuan Sasuke akan segera menyingir dari sini. Kasur ini milikku,' pikir Naruto, mendadak posesif pada benda yang seharusnya bukan miliknya ketika tangannya masih saja sibuk menampar tangan Sasuke yang makin berani menyentuhnya.

Plak!

Suara tamparan kembali terdengar nyaring saat menyadari tubuh Sasuke kini berada di atas dirinya.. "Minggir kau, Sasuke!" desis Naruto.

"Khukhukhu, kau ini lucu sekali. Mengapa harus malu?" Sasuke terkekeh mendengar penolakan Naruto. Ia mendekatkan wajahnya pada Naruto, "Bukankah kau juga menikmati sentuhan ini, Na-ru-to." Sasuke membisikkan namanya lambat-lambat.

Bohong jika Naruto tak menikmati apa yang dilakukan Sasuke padanya, tapi tetap saja ia merasa risih jika disentuh seperti ini. "Menyingkirlah Sasuke, kumohon." Suara Naruto terdengar memelas di telinganya sendiri.

Sasuke tak terlihat menyerah dengan resistensi Naruto, saat pemuda pirang menutup kedua matanya Sasuke bertindak cepat dengan mengecupi wajahnya. Kecupan itu membuat mata Naruto kembali terbuka. "Hentikan, Sasuke. Semua hal yang kau perbuat membuatku semakin aneh." Ketika Naruto akan menjauhkan tubuh Sasuke, pemuda Uchiha itu malah membawa kedua tangannya ke kiri dan kanan kepalanya.

"Aku tahu kau berbohong, Naruto." Jemari Sasuke meremas pada dada gembul Naruto, membuatnya tidak tahan untuk tidak mendesah. Air mata Naruto mulai mengalir saat dirinya berusaha menahan desahannya.

"Kenapa ditahan? Aku senang mendengar suaramu." Sasuke menciumi lehernya saat tangannya bergeraka membuka kancing Naruto.

Ctas, ctas, ctas.

Satu per satu kancing Naruto terbuka membuat mata hitam Sasuke menelisik tubuhnya. Naruto merasa familiar dengan tatapan itu. Tapi kapankah ia medapatkannya? Naruto tidak ingat.

"Jangan memikirkan hal lain. Fokuslah dengan hal yang ada di hadapanmu, Naruto," perintah Sasuke. Naruto kembali menutup matanya saat hidung mereka saling bersentuhan.

"Apa yang kita lakukan seperti orang yang sedang bercinta, Sasuke. Kesalahan ini harus segera dihentikan." Naruto memalingkan wajahnya ke samping, sedekat ini dengan Sasuke membuat dadanya berdegup cepat. Naruto tahu Sasuke adalah pemuda tampan yang selalu menjadi pusat perhatian para gadis. Mungkinkah ia sudah tergoda oleh pesona Sasuke? Naruto menggeleng keras setelah mendengar pemikirannya sendiri. Ia lelaki dan lelaki tidak terpesona dengan lelaki lainnya!

"Sudah ku bilang. Fokuslah dengan yang ada di hadapanmu, Naruto!" Sasuke menggesekkan pinggulnya berulang kali untuk menarik perhatian Naruto. Lambat laun gerakan pinggul itu berubah menjadi sodokan cepat yang ditujukan pada selangkangan Naruto.

"Sa- Sasuke, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Naruto saat Sasuke mencengkram dua sisi pinggulnya untuk mempercepat friksi itu. Sensasi yang diberikan oleh Sasuke membuat dirinya panik. Desahannya sudah tak dapat terbendung lagi ketika Naruto kini mulai menggerakkan balik pinggulnya untuk bertemu dengan Sasuke. Mata Naruto membulat horor setelah mengetahui bagaimana reaksi tubuhnya.

"Sa- Sasuke!" Naruto tak tahan untuk tak berteriak ketika kenikmatan menghampirinya. Ribuan kupu yang beterbangan di perutnya kembali terasa

"Sst. Pelankan suaramu. Kau tak ingin Shizune mengetahuinya, bukan?" Sasuke menanamkan wajahnya pada ceruk leher Naruto saat pinggulnya tak berhenti bergerak. Gerakan dalam ritme yang tidak jelas itu berhasil membuat tubuh Naruto melengkung sejadi-jadinya.

"Akh! Akh! Sasuke~" Naruto mendesah panjang saat puncaknya hampir tiba. Tangannya berusaha menggapai sesuatu, apapun itu asalkan bisa membuatnya bertahan dari euforianya. Sampai akhirnya tangan Naruto bersarang pada rambut lebat Sasuke, meremasnya kuat saat gerakan pinggul itu semakin liar.

Naruto memutuskan untuk menggigit kuat bibirnya karena tak sanggup lagi menahan desahannya. Berharap jika ia melakukannya maka suara-suara memalukan yang dihasilkannya dapat terhalau.

Naruto tak percaya melakukan hubungan intim dengan sesama lelaki ternyata juga dapat memberikannya kenikmatan. Matanya terpejam saat Naruto menghentakkan pinggulnya secara mandiri agar titik puasnya segera tercapai. Harapan itu terkabul ketika akhirnya ia merasakan sesuatu yang panas keluar dari ujung kejantanannya.

Naruto juga tidak menyangka bahwa ejakulasi dapat membuatnya sebahagia ini. bahkan mampu membuat dirinya ingin membagikan kebahagiaan itu pada seseorang yang telah memberi kenikmatan padanya. Namun saat mata birunya terbuka, tiba-tiba back ground ruang kesehatan tergantikan dengan suasana kamarnya sendiri.

"Sasuke?" panggil Naruto, suaranya terdengar parau. "Ehm, Sasuke?" panggilnya lagi saat melihat Sasuke yang sudah tidak berada di dekatnya. Walau itu bukanlah hal yang seharusnya tapi untuk sekian kalinya Naruto merasakan kecewa.

_ page break _

"Bagaimana keadaan cicitku, Tsunade?" Mito menatap cemas dokter pribadi dari kediaman Senju sekaligus putri bungsunya itu. Utakata terlihat terbaring lemah di tempat tidurnya.

"Dia hanya kelelahan, Bu. Biarkan dia istirahat," jawab Tsunade pada ibunya. Wanita yang sudah menginjak kepala lima itu tersenyum pada sosok Utakata yang sedang tertidur.

Nyonya Uzumaki menganggukkan kepalanya sekali. Ia bersyukur telah memberikan pendidikan medis terbaik untuk Tsunade.

"Aku berharap kutukan itu tak terjadi lagi pada keluarga kita," ucap Tsunade.

_ page break _

"Maaf Naruto aku dan Temari tak bisa mengantarmu pulang. Ayah sakit, jadi kami harus pergi ke Otto," ucap Gaara ketika mereka dalam perjalanan menuju gerbang Konoha High School.

Walau wajah Sabaku muda terlihat datar namun Naruto hafal raut wajah cemas sahabatnya. "Tak apa-apa, Gaara. Kesehatan ayahmu jauh lebih penting. Kau sudah mengatakan hal itu sejak kemarin."

"Kau bisa pulang bersama Uchiha. Ingat, jangan mau jika kau diajak naik bus lagi," ujar Gaara sambil memeriksa waktu pada arloji yang dipakainya. "Aku harus pergi sekarang," lanjutnya kemudian. Namun tidak seperti ucapannya pemuda itu tak segera pergi dari hadapan Naruto.

"Berhenti memasuki alam pikiranku, Gaara!" protes Naruto sambil merengut.

Gaara menggelengkan kepalanya kemudian menatap lurus mata Naruto. "Aku hanya ingin tahu apa yang akan kau lakukan setelah dari kedai ramen itu bersama Hinata dan Sasuke. Aku merasa kemampuanku kini semakin menurun."

Sebisa mungkin Naruto menghindari tatapan Gaara dan memikirkan hal lain selain Sasuke. Jika ia memikirkan pemuda itu maka kemungkinan besar kebohongannya akan terbongkar. "Lihat! Temari sudah menunggumu!" kata Naruto sambil menunjuk kendaraan yang dikenalnya. Seorang gadis muda melambaikan tangannya dari dalam mobil.

"Suara Temari berisik sekali, bahkan dalam jarak satu mil pun masih bisa kudengar," geruto Gaara. "Ja nee, Naruto," pamitnya dengan nada datar.

Naruto melihat Gaara berjalan menuju mobil yang akan dinaikinya. Sejak kejadian penolakan Sasuke dan mimpi bodoh semalam membuat Naruto tidak bisa menemui pemuda itu. Ia telah menyembunyikan pikiran yang sebenarnya dari Gaara seharian ini. Naruto telah berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya akan ramen di kedai Ichiraku bersama Sasuke dan Hinata setelah itu akan diantar oleh Sasuke.

Seorang diri Naruto kembali melangkahkan kakinya setelah menerima pesan dari Hinata bahwa dia sudah berada di lokasi yang dijanjikannya. Walau selalu dilarang untuk berpergian sendiri, Naruto merasa tak masalah dengan hal itu. Lagi pula letak kedai itu tidak jauh dari sekolahnya. Ia bersiul riang saat membayangkan akan menghabiskan bermangkuk-mangkuk makanan kesukaannya.

"Apakah kau yang bernama Naruto Namikaze?" sebuah suara menginterupsi niat suci Naruto untuk mendapat semangkuk ramen lezat. Naruto melihat ada enam orang yang berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak. Penampilan mereka semua mirip preman.

"Berhenti kau Naruto Namikaze," perintah orang itu lagi saat Naruto kembali melanjutkan perjalanannya, acuh.

"Kalian! Cepat hadang dia!" perintahnya kemudian pada orang-orang yang berpenampilan sama di sekitarnya. Mungkin pria paruh baya dan tak memiliki rambut itu boss mereka, begitu pikir Naruto.

Dengan mudah Naruto berhasil menghindari tiga orang yang berusaha menghadangnya. 'Apa sebenarnya mau mereka? Aku merasa tak pernah punya urusan dengan orang-orang seperti itu,' kata Naruto dalam hati.

Tak dihiraukan oleh pemuda yang tampak ringkih macam Naruto membuat tiga orang tersebut merasa kesal. Setelah saling pandang mereka kemudian tersenyum licik, yaitu sepakat untuk melakukan tindakan kekerasan padanya. "Hyah!" teriakan mereka terdengar sinkron.

Naruto mendecakkan lidahnya begitu mengetahui para preman itu sedang mengajaknya ribut. Jika sudah seperti ini maka tak ada cara lagi selain meladeni mereka sekaligus melindungi dirinya sendiri. Kondisi Naruto sedang prima menjadi kunci utama dirinya memenangkan pertarungan tiga banding satu itu dalam waktu yang tak lebih dari lima menit.

"Kimimaro, giliranmu," kata pria berkepala botak. Kekalahan pasukannya membuat dirinya kembali menyuruh anak buahnya yang lain.

"Kimimaro, eh?" gumam Naruto ketika pemuda berambut putih menghampiri dan menyerangnya. Tidak seperti tiga orang sebelumnya Naruto merasa pemuda bernama Kimimaro itu adalah petarung handal.

Naruto tak melakukan perlawanan yang berarti saat Kimimaro melancarkan serangannya. Otaknya masih sibuk menggali memori. Kimimaro adalah nama yang familiar di telinganya.

Melihat aksi Naruto yang setengah-setengah dalam menghadapinya membuat Kimimaro geram, tak sabar ingin mengakhiri pertarungan ini. Sore ini Kimimaro memiliki janji dengan salah seorang teman kencannya dan ia sama sekali melakukan persiapan apa pun, seperti mandi misalnya? "Tunjukkan padaku kemampuanmu yang sebenarnya pirang! Serang aku!" teriak Kimimaro kesal.

'Hah! Bukankah Kimimaro adalah nama salah seorang temanku ketika di Suna?' Naruto mengamati lamat-lamat penampilan pemuda kurus itu. 'Penampilan mereka nyaris mirip, kecuali raut di wajahnya. Kimimaro yang ku kenal bukanlah seorang brangasan.' Naruto tersenyum perih saat ingatan itu kembali lagi. Meski dalam keadaan sericuh ini ia tak bisa menyakitinya seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

"Aku tidak akan menyerangmu. Berikan alasan kenapa kau juga menyerangku, Kimimaro!" tanya Naruto yang masih berusaha menghindari serangan pemuda yang sepantaran dengannya.

"Jangan seenaknya memanggil akrab namaku. Kita bahkan tak pernah bertemu sebelumnya," tegas Kimimaro seraya mengambil ancang-ancang terbarunya. Serangan kali ini harus berhasil mengenai pemuda pirang.

"Bohong! Bagaimana mungkin kau tak mengenaliku," kata Naruto, matanya menatap nanar Kimimaro.

"Tentu saja mungkin. Jika pernah bertemu denganmu mana mungkin aku melewatkan pemuda manis sepertimu. Kau tipeku," jawab Kimimaro. Posturnya kini terlihat lebih santai sambil mengamati penampilan Naruto. Ia berkata jujur bahwa dirnya tak pernah melihat Naruto sebelumnya serta tipe orang yang selalu dikencaninya adalah seseorang yang memiliki rambut pirang dan bermata biru baik pria maupun wanita. "Hei, apa kita pernah terlibat dalam one night stand*sebelumnya?" tanya Kimimaro, tiba-tiba pertanyaan itu terlintas di kepalanya.

"One- one night stand? Apa yang maksudmu?" Naruto bertanya balik sambil menyesuaikan gerakannya dengan Kimimaro. Kalau ia sedikit lengah maka sudah pasti dirinya akan kalah, Naruto tak ingin hal itu terjadi. Naruto dan Kimimaro bergerak saling memutari lawannya. Jika di mata orang awam pertarungan mereka lebih mirip seperti tarian yang indah dan mematikan.

"Oh, sudahlah. Menyerah saja, Manis. Setelah ikut dengan kami aku berjanji akan mengajakmu kencan," ucap Kimimaro, mendadak keluar topik.

'Apa yang ia katakan? Dia mabuk?' batin Naruto, mulai sangsi bahwa pemuda itu adalah kawan lamanya. "Aku tidak akan ikut dengan kalian. Katakan alasan yang sebenarnya kenapa kalian menyerangku!"

"Kau ini tipe orang yang sulit didapatkan ya rupanya, hm? Wajar saja sih untuk pemuda manis sepertimu," ucapan Kimimaro semakin ngawur.

"Hentikan gombalanmu, kau membuatku mual. Tidakkah kau ingat kita pernah satu sekolah?" berurusan dengan pemuda macam Kimimaro membuat dirinya teringat Sasuke dan akhirnya akan semakin frustasi jika terus ditanggapi.

Pemuda berkulit pucat itu menggeleng, "Aku tidak pernah bersekolah denganmu. Bukankah sudah kubilang, jika aku bertemu dengan pemuda manis sepertimu aku tidak akan pernah melupakannya?"

"Jadi kau melupakannya? Setelah apa yang kalian lakukan padaku?" Naruto menatap Kimimaro dengan mata sangat sedih.

(flash back dimulai)

Selama 13 tahun hidup di dunia, ini adalah pertama kalinya Naruto diperbolehkan untuk pergi bermain ke rumah temannya. Hal itu memang terdengar tidak wajar untuk remaja lelaki seusianya yang seharusnya sudah ratusan kali berkunjung ke rumah teman, tapi Naruto bisa memaklumi hal itu.

Naruto tahu dirinya berbeda dengan yang lain. Puting kecilnya mampu mengeluarkan air susu layaknya ibu yang masih menyusui bayi. Ia pun sudah terbiasa jika setiap saat bajunya akan basah terkena rembesan susu yang kadang menetes di luar kendalinya. Sedari kecil ibunya selalu mewanti-wanti dirinya untuk lebih cerdas dalam memilih teman. Karena alasan itulah ia sulit untuk memiliki seseorang yang dapat dipanggilnya teman. Meski demikian bukan Naruto namanya jika ia terus saja pasrah dengan keadaan. Naruto yakin, pasti ada seseorang di luar sana yang mau berteman dengannya.

Sejak pertama kali menjejakkan kakinya di Suna Junior High School Naruto selalu berpikir optimis bahwa di lingkungan yang baru inilah ia akan mendapatkan banyak teman.

Untung saja kenyataan yang terjadi sejalan dengan harapan yang dimiliki Naruto. Berbekal sikap ramah yang ia miliki Naruto berhasil menjadi salah satu anak yangmemiliki banyak teman. Bahkan ia kini mempunyai sahabat, yaitu seseorang yang memiliki kedudukan lebih istimewa dari pada teman. Orang itu bernama Kimimaro.

Melewati berbagai hal bersama dalam suka dan duka membuat kepercayaan Naruto semakin kuat pada Kimimaro. Hingga akhirnya Naruto berani mengungkapkan rahasia terbesar yang pernah dimilikinya pada Kimimaro.

Awalnya Naruto sangsi apakah Kimimaro masih ingin berteman setelah mengetahui keadaannya namu ternyata sikap temannya itu tidak berubah padanya. Mengetahui hal itu Naruto merasa sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan teman yang baik hati seperti Kimimaro.

Selain baik hati temannya itu sangat perhatian padanya. Buktinya di setiap harinya Kimimaro selalu menanyakan kondisi tubuhnya itu. Naruto juga tak menolak saat sesekali Kimimaro memintanya untuk melihat secara langsung kondisi dadanya. Hubungan mereka berjalan lancar sampai suatu ketika Kimimaro mengajak Naruto untuk main ke rumahnya.

"Coba tebak siapa yang aku bawa sekarang!" teriak remaja tanggung ketika dirinya tiba di rumah yang bertipe minimalis. Jika sudah berdua dengannya seperti ini sifat kalem yang dimiliki Kimimaro akan berubah menjadi manja.

"Kau sudah pulang Kimi-chan" Pemuda berkaca mata itu tidak mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

"Jangan memanggilku seperti itu, Nii-san!" seru Kimimaro.

Interaksi Kimimaro dengan pemuda yang dipanggil Nii-san mengingatkan Naruto tentang pertengkarannya dengan sang kakak. Hal tersebut membuatnya tersenyum, ternyata dimana pun tempatnya persaudaraan selalu seperti itu.

"Siapa bocah yang kau bawa itu?" tanya kakak Kimimaro, jeda iklan membuat perhatiannya teralihkan pada adik yang sibuk manyun.

"Ah! Dia ini bocah susu yang sering kuceritakan padamu. Naruto ini kakakku, namanya Kabuto. Nii-san ini Naruto." Kimimaro mengenalkan mereka satu per satu.

Istilah 'bocah susu' sudah menjadi panggilan akrab Kimimaro padanya, jadi Naruto tak tersinggung saat Kimimaro memanggilnya demikian di depan seseorang yang dipanggil kakak oleh Kimimaro.

"Naruto, aku ganti baju dulu ya. Kau tunggulah di sini dengan Nii-san." Permintaan Kimimaro dijawab oleh anggukan Naruto.

Naruto duduk di sebelah pria yang lebih tua darinya dan ikut menonton acara televisi yang dipilih oleh Kabuto. Naruto tidak sadar bahwa selama menonton televisi sebuah tangan diam-diam merayap di tubuhnya, kemudian seltelah tahu kini ia sekarang sudah berada dalam rangkulan Kabuto.

"Ya, Kabuto-nii?" tanya Naruto takut-takut, entah kenapa aura yang dipancarkan Kabuto berbeda saat Kimimaro berada di ruangan ini.

"Naruto bolehkah aku melihat dadamu?" tanya Kabuto, nafasnya terlihat berat dan putus-putus.

Naruto terkejut mendengar pertanyaan Kabuto, "Kau mengetahuinya?"

"Kimimaro sering menceritakannya padaku. Dia bilang kau bisa mengeluarkan susu. Aku ingin melihatnya," ucap Kabuto, tangannya kini memeluk mantap bahu Naruto.

Naruto ragu dengan permintaan Kabuto.

"Kalau kau menolaknya, aku akan melarang Kimimaro berteman denganmu," ancam Kabuto.

"Jangan melakukan hal itu! Baiklah, aku akan melakukannya untukmu." Naruto mengucapkannya tergesa-gesa, ia tidak tahu kenapa ia bisa menuruti Kabuto begitu saja.

Naruto membuka satu persatu kancing di tubuhnya. Mata Kabuto memandang lekat kulit kecoklatan yang sedikit demi sedikit mulai terekspos. Kabuto menelan ludahnya berkali-kali saat melihat Naruto menguliti pakaiannya sendiri hingga dada menggemaskan itu nampak telanjang di depan matanya.

Dapat Kabuto lihat baju yang dipakai Naruto sedikit basah, sebagai bukti gunung mungil di dada Naruto itu menghasilkan susu.

Grep.

Tangan Kabuto menggenggam tangan Naruto. "Kabuto-nii?" tanya Naruto setelah mendapat perlakuan tiba-tiba dari Kabuto.

Kabuto berdiri dari duduknya dan menarik Naruto agar ia ikut berdiri dengannya.

"Ayo ikut aku!" tubuh Naruto ikut terseret saat dibawa paksa oleh Kabuto.

Kabuto memberhentikan sebuah bus yang melintas di depan rumahnya dan mengajak Naruto untuk segera masuk ke dalamnya.

"Kita mau kemana? Kimimaro tidak diajak?" Naruto masih tidak tahu apa yang akan Kabuto lakukan padanya.

"Aku tidak akan membagimu dengan Kimimaro, Naru-chan. Jika kau bertanya akan kemana kita maka akan ku jawab kita akan bersenang-senang di tempat yang tak pernah kau bayangkan." Tatapan mata Kabuto kala itu tidak akan pernah bisa Naruto lupakan.

(Flash back selesai)

Tubuh Naruto mendadak merinding saat masa lalu itu terlintas begitu saja di pikirannya. Kenapa setelah sekian tahun Naruto masih saja bisa mengingatnya dengan jelas?

Greb!

"Hei, kenapa kalian bisanya saling main keroyokan! Lepaskan aku!" perintah Naruto ketika merasakan saat ini kedua lengannya ditahan oleh dua orang yang telah lama dilumpuhkannya.

"Kau hebat, Kimimaro. Kau berhasil mengalihkan perhatiannya," puji salah seorang dari mereka.

"Oke, ayo segera bawa dia pada Tuan. Jika dia terus berontak kalian bisa membiusnya," saran si boss saat melihat Naruto yang tak mau diam dalam kungkungan mereka.

"Tunggu!" tiba-tiba Naruto mendengar suara seseorang yang ia kenali.

"Sakura? Kenapa kau ada di sini? Cepatlah pergi! Mereka bukanlah orang baik-baik," seru Naruto pada pendatang baru.

Tap, tap, tap!

Dengan langkah menghentak Sakura menghampiri seseorang yang anggap sebagai pimpinan kelompok mereka.

"Bukankah sudah kubilang, jangan pakai kekerasan padanya! Aku tidak sekejam itu, kau tahu! Kalian sudah melakukannya di luar batas." Sakura menunjuk-nunjuk dada pria tak bersurai itu.

"Hei, apa kau mengenal wanita berisik ini?" teriak salah seorang pria yang menyergap Naruto.

"Entahlah!" salah satu dari mereka menjawab dengan mengedikkan bahunya.

"Aku Sakura Haruno, orang yang menyuruhmu untuk menangani Namikaze. Aku tidak mau untuk ke sekian kalinya usahaku gagal gara-gara kalian!" Pernyataan Sakura membuat Naruto terdiam.

"Jadi kau yang menyuruh mereka menyerangku? Untuk apa kau melakukannya?" tanya Naruto tiba-tiba teringat penyerangan atas dirinya beberapa hari sebelumnya. Saat ini juga ia ingin meminta kejelasan semua ini. Dosa apa yang dilakukan Naruto hingga Sakura melakukan ini padanya? Ia merasa tak pernah menyakiti gadis itu.

Sakura hanya menoleh sebentar untuk menatap Naruto, tapi tidak mau menjawab pertanyaannya. Toh mereka bisa membahasnya nanti. Fokusnya beralih kembali pada pria-pria berbadan kekar di hadapannya.

"Ku minta kau untuk melepaskan Naruto sekarang juga!" perintah Sakura sambil menunjuk ke arah Naruto.

"Hah! Apa yang kau katakan gadis cilik? Kau memintaku untuk melepaskannya begitu saja? Lucu sekali," pria itu mrnjawabnya sambil terkekeh geli.

Sebal karena permintaannya tak ditanggapi, Sakura berjalan menuju Naruto yang masih dikekang oleh dua orang lainnya. "Lepaskan dia, bodoh!" teriak Sakura sambil mencoba melepaskan rengkuhan mereka pada kedua tangan Naruto.

"Ck, dasar pengganggu. Kalian! Cepat singkirkan gadis ini!" perintah sang boss pada para anak buahnya yang sedang tak bertugas.

"Siap, boss!" sahut mereka berbarengan setelah itu dua di antara mereka telah mengunci tubuh mungil Sakura. Mereka sama sekali tidak memperhalus tindakannya meski seseorang yang mereka tangani adalah seorang wanita.

"Ja-jangan sentuh aku! Lepaskan! Menyingkirlah kalian!" Sakura berteriak histeris saat mereka mencengkram erat dirinya, tubuhnya mulai gemetar.

"Diamlah, perempuan! Jika kau tetap berisik kami tak akan segan untuk memperlakukanmu lebih dari ini," ucap salah satu pria di sampingnya sambil menjambak rambut Sakura.

"Tidak! Lepas! Lepaskan aku!" teriakan Sakura makin menjadi.

Plak!

Salah satu dari mereka menampar Sakura, hingga salah satu sudut bibirnya berdarah.

"Lepaskan aku, hiks, hiks! Ayah.." tamparan itu berhasil membuat Sakura terdiam. Perlakuan kasar mereka membuatnya takut.

"Lepaskan dia, brengsek! Dia seorang wanita! Tidak sepantasnya kalian melakukan hal itu padanya!" teriak Naruto, tiba-tiba amarahnya pada Sakura reda setelah melihat gadis itu diperlakukan semena-mena.

"Wah, ternyata selain manis kau juga pemuda yang baik hati ya, Namikaze?" komentar Kimimaro saat pemuda ia berjalan menghampiri Naruto. "Namamu Namikaze, bukan? Aku mengetahuinya dari gadis itu." Kimimaro menowel gemas dagu Naruto. "Mungkin kita bisa bermain-main dengannya, Bos- Akh!" ucapannya terhenti saat jarinya digigit oleh Naruto.

Naruto tersenyum puas saat melihat jari yang digigitnya itu mengucurkan banyak darah. Setidaknya dalam posisinya seperti ini ia masih bisa melakukan sesuatu. Sesuatu itu sangat mudah untuk dilakukannya karena jarak tangannya dengan mulut Naruto sangatlah dekat, selain itu perlakuan menyebalkan dari Kimimaro membuatnya tak berpikir dua kali untuk menggigitnya.

"Ayah.. Ayah.." Naruto masih mendengar Sakura berulang kali menyebut ayahnya. Naruto kembali memperhatikan keadaan Sakura yang tubuh semakin bergetar dan air mata telah mengalir di pipinya. Ketakutan Sakura semakin menjadi ketika dirinya tak kunjung dilepaskan. Ketika melihat Sakura entah kenapa Naruto seperti melihat dirinya sendiri saat trauma itu terjadi.

Duagh!

"Lepaskan dia, sialan!" dalam momentum yang tepat Naruto berhasil melepaskan diri dari dua orang yang mengekangnya. Dengan cepat ia mencekik leher kedua orang yang menyandera Sakura. "Kubilang lepaskan, dia!" teriak Naruto.

"Aaakh!" teriakan Sakura merenggut konsentrasi Naruto. Tanpa diketahuinya sebuah belati yang dibawa Kimimaro sedikit tergores pada leher gadis itu.

'Ba- bagaimana bisa ia berpindah secepat itu!' Mata Naruto membola saat mengetahui Kimimaro sudah berada di belakang Sakura dan dua penyanderanya yang lain.

"Bagus sekali Kimimaro. Ayo kita buat tawaran yang menguntungkan dengannya." puji si boss pada salah satu anak buahnya. "Nah, kami akan melepaskan gadis itu jika kau bersedia mengikuti kami tanpa perlawanan," pria itu mencoba menawar Naruto.

Naruto masih tak bergeming dari posisinya.

"Jika kau tak segera menjawab maka aku akan menusukkan belati ini lebih dalam lagi," ancam Kimimaro. Sakura semakin memejamkan matanya saat merasakan benda tajam itu semakin menembus kulitnya.

Naruto mendecih kesal karena tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan mereka berdua sekaligus. "Baiklah, cepat lepaskan gadis itu!" Naruto melepaskan tangannya dari leher dua orang yang menahan Sakura. Matanya menyipit saat ide penyelamatan terlintas di benaknya. Tapi rencananya ini tidak bisa dijalankannya begitu saja tanpa kerja sama dari Sakura.

Bruk!

Tubuh Sakura limbung dan jatuh ke tanah setelah dilepas oleh kedua preman itu. Sakura masih saja terisak akibat perlakuan keji mereka.

"Bawa dia!" perintah sang Boss. Mengisyaratkan agar mereka segera membawa Naruto.

Naruto tidak melakukan perlawanan saat dirinya digiring menuju minivan berwarna hitam.

"Mengapa kau menyelamatkanku?" tanya Sakura. Ia yakin bahwa sekelompok pria yang menyerangnya itu bukanlah orang suruhannya.

Pertanyaan Sakura membuat langkah Naruto terhenti dan menolehkan tubuhnya ke arah gadis itu. 'Bagus Sakura! Jika kau baik-baik saja maka misi penyelamatan akan makin berjalan lancar,' seru Naruto dalam hati. Ia memang berencana untuk melumpuhkan sekelompok berandal ini dalam sekejap lalu menghampiri Sakura untuk diajaknya berlari. Tapi jika Sakura berada dalam kondisi terlemahnya maka mustahil rencananya akan berjalan lancar.

"Ayo, cepat jalan!" perintah para preman itu saat Naruto terdiam di tempat.

"Kita berhenti! Jika tidak karena gadis itu aku bisa membuat kalian babak belur," ancam Naruto, ia mencoba mengulur-ulur waktu.

"Mengapa kau menyelamatkanku? Aku sudah berniat jahat padamu. Mustahil jika kau tidak benci padaku." Sakura bertanya lagi, ketika perhatian Naruto tertuju padanya.

"Aku tidak benci padamu. Meskipun pada awalnya aku sempat marah dengan apa yang kau rencanakan padaku. Aku tahu kau pasti tidak akan melakukannya tanpa ada alasan yang jelas," jawab Naruto.

"Itu karena.. Karena kau sudah dipilih Sasuke. Tahukah kau Sasuke sangat menyukaimu?" mata hijau Sakura menatap lekat Naruto seolah tak ingin kehilangan ekspresi yang dilukiskan pada wajah Naruto barang sedetik pun.

Untuk sesaat Naruto tak bisa membalas perkataan Sakura. Mendadak ia lebih memilih untuk diculik saja dari pada harus mendengar pernyataan Sakura yang membuat dirinya malu. "Ma- mana mungkin dia menyukaiku. Dia bahkan tak mau menganggapku teman. Kau mengatakan hal yang abstrak, Sakura."

"Kau naif, Senpai. Tentu saja ia tak ingin menganggapmu sebagai teman. Jangan katakan jika kau tak sadar arti tatapan yang dia berikan. Sasuke sangat menginginkanmu, padahal kau adalah pemuda yang baru dikenalnya. Mengapa aku merasa apapun yang aku lakukan tidak akan pernah membuatnya menyukaiku." Sakura memeluk tubuhnya sendiri. Saat ini ia ingin sekali ada seseorang yang bisa merengkuhnya. 'Akankah Sasuke mau memelukku?' Sakura tersenyum kecut saat dirinya mampu menjawab pertanyaan retoris itu. Sasuke tidak pernah mau menyentuhnya.

"Sakura?" Naruto sedikit khawatir saat tubuh Sakura yang menggigil kembali. 'Apa traumanya kembali kambuh?' begitu pikir Naruto.

"Katakan padaku apakah yang kau memiliki perasaan pada Sasuke?" dalam tatapan matanya yang mendung, Sakura masih bersikeras memandang Naruto.

Jantung Naruto mendadak berhenti berdetak ketika mendengar pertanyaan tak terduga dari Sakura. Kalau ingin jujur sebenarnya Naruto tak mengerti apa yang dirasakannya pada Sasuke. "Aku tidak tahu. Yang ku tahu hanyalah aku merasa nyaman saat bersamanya, itu saja," jawab Naruto. "Sasuke adalah kouhai yang sangat menyebalkan, suka seenaknya, dan tidak tahu tata krama, tapi meski dirinya memiliki sifat seperti itu Sasuke bisa menjadi orang yang sangat perhatian jika dia mau." Tanpa sadar sebuah senyuman tersungging di bibir Naruto saat teringat semua hal yang ia ketahui tentang Sasuke.

Hati Sakura menghangat melihat senyuman Naruto yang terlihat menenangkan. Membuat Sakura betah untuk menatap lama wajah Naruto. Inikah yang Sasuke lihat dari diri Naruto? Kenapa sekarang Sakura merasa kecil di hadapan Naruto? Dibandingkan dengan dirinya yang egois dan manja tentu Sasuke lebih memilih sosok Naruto yang dewasa. Berdasarkan pemikirannya ini tiba-tiba Sakura ingin mengonfirmasi sesuatu. "Kutanyakan padamu sekali lagi. Jawablah dengan jujur, Senpai. Mengapa kau masih mau menolongku?" tanya Sakura.

Naruto tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Sakura. "Karena melihatmu ketakutan seperti itu mengingatkan pada diriku sendiri. Aku tahu bagaimana rasanya berada di posisimu. Selama aku hidup aku tak akan membiarkan seseorang tersiksa di hadapanku." Naruto tersenyum canggung pada Sakura setelah membeberkan salah satu aibnya.

Sakura terbengong setelah mendengar apa yang dikatakan Naruto. Sakura tidak menyangka masih saja ada orang yang memiliki wajah rupawan dan berhati tulus seperti Naruto. Sakura merasa minder dengan dirinya sendiri. 'Apa ini artinya aku harus merelakan Sasuke padamu, Senpai?' pikir Sakura. Di tengah kekalutan batinnya tiba-tiba Sakura merasa tubuhnya berangsur lemas.

Bruk!

"Sakura!" seru Naruto saat melihat Sakura tumbang begitu saja. Langkahnya tertahan saat ia akan menghampiri Haruno muda. Dalam hati mengumpat kesal, dengan keadaan Sakura seperti ini akan sulit bagi mereka untuk menyelamatkan diri. Ia menyesal telah meminta pada sang Pencipta bahwa lebih baik dirinya diculik saja dari pada harus mendengar pernyataan Sakura. Andai waktu bisa terulang kembali.

"Sudah cukup sesi curhatnya? Biarkan saja dia, pisau Kimimaro mengandung sedikit racun yang membuatnya lemas untuk sementara waktu," ucap salah satu preman ketika mereka semakin menggeret Naruto meninggalkan Sakura.

_ page break _

"Nona!" Ebisu menepuk pelan pipi Sakura yang masih tak terkulai lemas. Ia terus melakukan hal tersebut hingga akhirnya gadis itu tersadar dari keadaannya. Ebisu panik setelah tahu Sakura berhasil kabur dari pengawasannya dan semakin panik saat menemukan gadis yang diasuhnya sejak kecil itu tergeletak di ujung gang yang sepi.

"Ebisu-san?" tanya Sakura ketika sadar dirinya tak lagi sendiri.

"Syukurlah anda baik-baik saja. Mengapa ini bisa terjadi?" pertanyaan Ebisu dijawab oleh gelengan lemah dari Sakura. Gadis itu masih enggan mengatakan apa yang terjadi padanya.

Sakura meraih benda yang ada di sekitar kakinya. "Ini adalah kalung milik salah seorang penculik Naruto Namikaze," ucap Sakura dengan susah payah.

Ebisu mengangguk mendengar penuturan Sakura, meski dirinya masih belum mengerti dimana arah pembicaraan ini.

"Tolong selamatkan, dia. Se- segera kabari Sasuke-kunn." Ebisu menatap nonanya yang kini terkulai tak sadarkan diri. Secepatnya ia mengangguk meskipun Sakura sudah tak bisa lagi melihatnya.

_ page break _

Brak!

Sasuke meletakkan secara asal tasnya pada satu-satunya meja yang berada di ruangan itu. Basecamp Taka sudah seperti rumah kedua baginya karena Sasuke selalu datang kemari setiap dirinya ingin melepaskan penat. Ia sudah lupa semenjak kapan rutinitas itu dilakukan, yang pasti segala hal yang ia lakukan di sini untuk mengubah imej dirinya pada Sakura. Berharap gadis itu akan berhenti menyukainya.

"Cara yang bagus untuk menarik perhatian kami, Sas!" Pemuda yang memiliki rambut kebiruan segera menghampiri pemuda Uchiha untuk melakukan toss dengannya.

Seruan Suigetsu, begitu nama pemuda yang ada di hadapannya ini, disambut oleh seringaian tipis Sasuke. Setelah melakukan salam tinju dengan pemuda bergigi tajam itu Sasuke langsung berjalan menuju kulkas. Perjalanan dua jam ke kota Otto membuat dirinya kehausan.

"Kau datang lagi, Sasuke!" seru seorang gadis berkacamata saat tiba-tiba memeluknya.

"Hentikan tindakanmu Karin, kau bisa melihat Sasuke sedang tak ingin diganggu," saran pemuda bongsor yang sejak tadi duduk anteng di kursinya. Juugo hafal kebiasaan Sasuke yang selalu haus setelah sampai di basecamp mereka.

"Tapi Juugo, aku kangen sekali padanya. Sasuke sudah lama tak menemui kita." Karin mengerucutkan bibirnya berharap tindakannya terlihat sedikit imut di mata Sasuke.

"Aku memiliki kesibukan baru di Konoha. Ku harap kalian bisa mengerti." Sasuke mengambil duduk di sebelah Juugo setelah berhasil melepaskan dirinya dari Karin.

"Apa ada gadis cantik yang menarik perhatianmu? Eh? Eh?" tanya Suigetsu sambil menaik turunkan alisnya. Ia sangat tahu sifat Sasuke yang mudah tertarik pada gadis-gadis cantik dan ia berani bertaruh bahwa ketertarikan Sasuke pada mereka tidaklah bertahan lama.

"Bukan gadis yang cantik. Ini bukan hanya ketertarikan biasa, Sui. Dia lebih dari apa yang ku bayangkan." Sasule menyandarkan dirinya pada punggung sofa. Perasaannya pada Naruto membuat hatinya diaduk-aduk tidak karuan, ia lelah.

"Apa Sasuke kita ini sedang jatuh cinta, eh? Boleh ku tahu siapa namanya?" goda Suigetsu.

"Tidak! Sasuke tidak boleh menyukai orang lain. Karena aku adalah satu-satunya gadis yang ditakdirkan untuk bersama dengan Sasuke. Benar begitu, Sasuke?" Karin menyenderkan kepalanya di bahu Sasuke. Gadis itu kini duduk di antara Sasuke dan Jugo.

"Dalam mimpimu, Karin!" ejek pemuda Hozuki pada gadis bersurai merah itu. "Katakan padaku siapa namanya?" tanyanya lagi, Suigetsu masih penasaran dengan gadis pujaan Sasuke.

"Naruto Namikaze." Sasuke menjawabnya acuh tak acuh, ia juga membiarkan Karin untuk terus bersandar padanya. Ia bosan jika terus menerus melepaskan diri dari gadis itu. Bisa buang-buang tenaga, begitu pikirnya.

"Naruto? Jarang sekali ada orang tua yang menamai anak gadisnya seperti itu. Ya 'kan, Juugo?" tanya Karin meminta pembenaran dari pemuda kalem di sebelahnya.

"Ngomong-ngomong kenapa kau mengumpulkan kita di sini, Juugo? Apa ada kelompok lain yang berani menantang kita?" pertanyaan Suigetsu yang menggebu-gebu berhasil menyela ucapan Sasuke yang ingin mengonfirmasi kejelasan identitas kelamin Naruto yang bukanlah seorang gadis.

Tok, tok, tok!

"Nah, jawaban pertanyaanmu ada di balik pintu itu." Juugo memandang arah ketukan pintu. "Masuklah!" perintahnya pada seseorang yang masih berada di luar sana.

Cklek!

Kedatangan Sabaku bersaudara mengejutkan Suigetsu. Tak disangka olehnya pertengkaran perebutan salah satu distrik di kota kecil Ame dapat mengakrabkan mereka.

Sasuke tidak menduga dirinya akan bertemu Gaara di sini. Bukankah pemuda ada janji makan ramen di- entahlah apa nama kedainya itu, ia tak ingat, bersama dengan Naruto. Keduanya bahkan masih saling pandang setelah pemuda bersurai merah itu mengambil duduk di seberangnya.

"Kenapa kau ada di sini?" tanya Gaara. Gaara mengira Sasuke dan Naruto akan pulang bersama hari ini. Bahkan ia sudah menyarankan hal demikian pada Naruto.

"Kau sendiri kenapa ada di sini?" Sasuke bertanya balik. Kenapa Gaara harus bertanya padanya? Batin Sasuke.

"Kyuubi sibuk dan aku juga tak bisa mengantar Naruto pulang. Aku kemari untuk menjenguk ayah. Ku kira kau akan pulang bersamanya," jawab Gaara.

"Kau tidak diajak makan ramen setelah pulang sekolah?" pertanyaan Sasuke dijawab oleh kerutan dahi Gaara.

"Dia memang mengatakan akan mentraktirku, tapi aku tidak bisa." Gaara memandang intens mata Sasuke, mencoba menemukan kebenaran dari dalamnya.

Tiba-tiba perasaan Sasuke menjadi tak enak. Mungkinkah Naruto hanya bepergian dengan Hinata? Pikirannya tak tenang saat membayangkan apa yang mereka lakukan berdua setelahnya. Apa Naruto akan baik-baik saja?

Gaara selalu memperhatikan gerak gerik Sasuke semenjak pemuda itu akrab dengan Naruto. Awalnya setengah tak percaya dengan pengakuan Naruto sehari sebelumnya tentang hubungan mereka selama ini. Mana mungkin pemuda badung seperti Sasuke dengan tulus mau membantu sahabatnya? Palingan pemuda itu hanya ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan dari Naruto, mengingat Sasuke termasuk pria yang doyan gonta-ganti teman kencan. Tapi setelah mengamati Sasuke saat ini pemikiran Gaara terhadap pemuda itu sedikit berubah. "Hei aku ingin bicara padamu, berdua saja." Gaara meng-kode Sasuke untuk berbincang di luar saja.

_ page break _

"Langsung saja Gaara, apa yang ingin kau katakan padaku?" seru Sasuke, kesal karena semenjak keluar dari basecamp dirinya harus terus mengikuti kemana Gaara akan mengajaknya berbincang. 'Ck, seperti aku mau saja diajak keliling komplek bersamanya,' batin Sasuke.

"Aku memang ingin keliling komplek," sahut Gaara yang membuat Sasuke mengangkat alisnya beberapa mikron. "Jika kau tanya kenapa aku bisa membaca pikiranmu aku akan menjawabnya dengan senang hati," lanjut Gaara.

Sasuke mendengus saat mendengar penuturan Gaara. 'Aku tak peduli kenapa kau bisa membaca pikiranku. Yang aku pedulikan saat ini adalah apa yang sedang dilakukan Naruto,' batinnya lagi.

"Apa aku salah mendengarnya ataukah kau memang mengatakan bahwa kau ini peduli pada Naruto, Uchiha?" ucap Gaara dengan sedikit senyuman kemenangan di bibirnya.

Ucapan Gaara berhasil membuat langkah Sasuke terhenti. "Kau aneh, Sabaku." Walau tak ingin diakuinya sekarang Sasuke merasa sedikit takut pada Gaara. Mungkin saja jika terus bersama pemuda itu semua hal yang ia sembunyikan bisa terbongkar. "Aku tak ingin berbicara lagi denganmu. Sudahlah, aku kembali saja," kata Sasuke yang segera mengambil langkah menuju basecamp mereka.

"Akan kuceritakan padamu masa lalu Naruto yang sangat ingin kau ketahui. Kuharap perasaan yang kau miliki untuknya tidak hanya sementara." Pernyataan Gaara berhasil memancing perhatian Sasuke, buktinya dalam sepersekian detik pemuda itu telah kembali beriringan jalan dengannya.

"Ceritakan semua yang kau tahu, Gaara!" perintah Sasuke.

(Flash back dimulai)

Gaara kecil sangat tidak menyukai tempat keramaian seperti ini. Keramaian yang dia maksud bukanlah keramaian yang dianggap oleh kebanyakan orang, keramaian suara hati yang berdengung nyaring menjadi satu di dalam kepalanya membuat dirinya tertekan. Ya, Gaara bukanlah seorang anak biasa. Tidak tahu apakah ini anugerah atau kutukan, semenjak Gaara mulai mengerti apa itu dunia ia sudah sanggup membaca pikiran orang lain.

Kemampuannya itu membuat Gaara jadi membenci orang lain dan tidak ingin mempercayai mereka. Baginya semua orang adalah pembohong. Termasuk keluarganya sendiri dan hal itu sungguh membuatnya muak.

Gaara tidak peduli dengan kesusahan hati seorang kakek tua yang duduk di seberang dirinya. Ia juga tidak peduli dengan suara putus asa seorang gadis yang duduk di depannya. Intinya ia tidak peduli dengan keadaan di dalam bus itu.

'Kasihan sekali anak itu.'

'Apa ini tindakan asusila yang tebaru.'

'Andai saja aku bisa menolongnya.'

'Mama aku takut, hiks. Kasihan kakak pirang itu.'

'Siapa pun tolong hentikan apa yang dilakukan pemuda gila ini.'

Gaara mengernyitkan dahinya saat mendengar bisik-bisik suara itu. 'Apa perhatian mereka ditujukan pada obyek yang sama? Jika iya, memangnya apa yang sedang terjadi?' batin Gaara, kepalanya celingukan mencari hal yang membuatnya penasaran. Sampai akhirnya matanya tertubruk pada remaja yang duduk dua kursi di seberang diagonalnya. Pemuda itu memiliki rambut pirang dan kulit kecoklatan. 'Apakah dia yang dimaksud oleh mereka?' tanyanya dalam hati. Setelah Gaara memastikan pendengarannya sekali lagi ternyata memang benar pemuda itulah yang mereka maksud. Masih dalam rangka penasarannya Gaara lalu mencoba memfokuskan pendengarannya pada pemuda berambut pirang.

"Buka bajumu Naruto." Samar-samar Gaara mendengar suara pria yang duduk di sebelah pemuda yang ternyata bernama Naruto itu.

"Tidak bisa Kabuto-nii." Terdengar suara lain yang menjawabnya. Gaara berasumsi suara cempreng nan panik pasti milik Naruto.

"Ayo buka!" pria itu kembali memerintah Naruto. Dari tempat duduknya Gaara dapat melihat gelengan kepala dari Naruto.

"Turuti perintahku. Jika tidak aku akan menusukmu sekarang juga!" bisik Kabuto, begitu nama pria pemaksa itu, seraya menempelkan benda berkilau di samping pinggul Naruto.

Gaara menebak pemuda itu akan segera berteriak, namun sayang usahanya gagal saat Kabuto membungkam mulutnya. Dalam pikirannya Gaara dapat mendengar Naruto berteriak histeris, berharap siapa pun dapat menolongnya.

Saat Naruto kembali memberontak Kabuto mencengkram kedua lengannya dan pisau yang dipegangnya berpindah di leher Naruto. Posisi Kabuto tak lagi duduk seperti sebelumnya.

Mata Gaara melebar setelah mengetahui bahwa benda yang berkilau itu adalah sebuah pisau lipat. 'Ini masalah serius. Tindakan pria itu bisa mencelakakan Naruto!' batin Gaara, mulai terbawa suasana. Gaara menolehkan diri pada Rei, sang ayah yang duduk di sampingnya.

"Ayah tak menolongnya?" tanya Gaara pada ayahnya.

Wajah Rei nampak kaget, untuk pertama kalinya dalam minggu ini anak bungsunya berinisiatif mengajak berbicara. "Kau diam saja. Tidak seorang pun yang berani menolongnya." Rei menggeleng pelan, ia tahu apa yang dimaksud oleh anaknya.

"Kau juga takut padanya," ucap Gaara lalu berdiri dari duduknya. Mudah bagi dirinya untuk mengetahui isi hati ayahnya. Ia benci padanya, ia juga benci pada semua orang yang terlihat pengecut untuk menyelamatkan pemuda itu. Apa hanya dirinya yang tidak takut pada apa pun di sini?

Gaara melihat keringat Naruto menetes deras di pelipisnya. Naruto tak berdaya tangan Kabuto berhasil membuka bajunya. Di saat Gaara akan menghampiri mereka ia merasakan sebuah tangan hangat yang menggenggam erat lengannya.

"Mereka semua tak ingin bertindak gegabah Gaara. Pria itu sangat berbahaya. Lihatlah pisau yang dibawanya. Jika kita bergerak maka dengan mudah pemuda itu ditikamnya." Mata hijau Rei memandang Gaara dengan wajah memelas, meminta pengertian Gaara.

Gaara memandang datar wajah ayahnya, tak peduli. "Aku tidak takut mati. Bukankah kematianku adalah hal yang kalian inginkan. Aku tahu kalian membenciku." Kata 'kalian' bagi Gaara adalah keluarganya serta orang-orang yang mengenalnya.

"Sst, kecilkan suaramu, Naru." Tangan itu terus mencengkram erat salah satu lengan Naruto hingga memerah. "Lihat beberapa orang sudah mulai melihat ke arahmu. Berikan padaku, pada mereka semua pertunjukan terbaikmu. Jika tidak, pisau ini sebentar lagi akan menembus kulitmu."

"Perah susumu dihadapan mereka sekarang!"

Gaara tidak suka akan tubuhnya yang memiliki postur tubuh yang lebih kecil dari anak-anak lainnya yang berusia sepuluh tahun. Genggaman erat ayahnya membuat Gaara tidak berkutik. Ia hanya bisa mendengar perintah-perintah gila yang dari kejauhan.

"Lakukan sekarang juga, Naruto" Tangan kasar miliknya kemudian berpindah pada punggung Naruto yang terbuka untuk mengelusnya, seolah memberi Naruto semangat untuk terus mempertontonkan aksinya.

Naruto melakukan hal yang diperintahkan Kabuto. Ia memenceti putingnya hingga beberapa bagian dari cairan menuruni dada dan perlahan mengalir di perut rampingnya. Samar-samar ia mendengar Kabuto membuka resleting celananya sendiri. Di tengah kegiatannya Naruto merasakan gumpalan padat menusuk-nusuk belahan pantatnya, ia yakin itu bukanlah jari Kabuto.

Naruto memejamkan matanya erat, ia tak ingin melihat tatapan beberapa pasang mata di sekelilingnya. Meskipun telah membutakan penglihatannya namun telinga Naruto masih mendengar apa yang terjadi di sekitarnya. Ia dapat mendengar suara mesin bus yang menderu serta komentar dari beberapa penumpang yang lain.

"Dasar jorok!"

"Menggelikan sekali ada pemuda seperti dia!"

Gaara memandang benci sekelilingnya. Beberapa penumpang tega membisikkan komentar lain yang ia sendiri sebal untuk mendengarkannya. Walau ia baru pertama kalinya melihat lelaki lain mengeluarkan susu seperti itu tetapi ia tidak sampai hati untuk berkomentar. Tidakkah mereka semua melakukan sesuatu untuk pemuda itu selain berbisik-bisik atau pun hanya terdiam saja?

'Ayo lihatlah aku. Saksikan kehebatan diriku. Aku yakin tak ada orang lain yang bisa melakukannya sepertiku.'

'Ayo lihat terus. Kalian pasti iri tak memiliki Naru-chan sama seperti diriku saat ini. Ah, Naru-chan kau memang menggemaskan!'

Mata Gaara kembali membola mendengar apa yang dipikirkan pria gila itu. Ia memang tak mengerti apa yang sedang dilakukan pria itu, tapi mengeluarkan kelaminnya di depan umum bukanlah tindakan terpuji. Apa lagi kini dia tampak asyik memaju mundurkan pinggulnya pada pantat Naruto. "Lepaskan aku," pinta Gaara pada ayahnya. Ia tak bisa membiarkan hal itu terus terjadi.

"Jangan melihatnya, Gaara. Kau adalah anak yang ku sayangi. Aku tidak akan membiarkanmu terluka," jawab Rei, masih kukuh dengan pendiriannya. Ia mencoba menutupi penglihatan Gaara dari pemandangan tak senonoh itu.

"Bohong. Aku tahu kalian semua membenciku. Ayah juga membenciku atas kematian ibu karena melahirkanku." Gaara menatap benci pada tangan sang ayah.

Rei menghela nafas lelah. Ia tahu Gaara memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki orang lain. Rei menyesal pernah membenci anak bungsunya begitu juga atas dirinya yang tega membiarkan anak-anaknya yang lain untuk membenci Gaara. Tapi sungguh, kini dia tidaklah membenci Gaara, ia sangat menyayanginya.

"Jika begitu buktikan kalau ayah juga menyayangiku. Selamatkan Naruto." Gaara berkata arogan, meremehkan Rei. Gaara tahu ayahnya bohong saat mengatakan bahwa ia menyayanginya, jadi tidak mungkin Rei akan menuruti keinginannya begitu saja.

Ucapan Gaara membuat pria bersurai merah itu terdiam. 'Apakah dengan cara ini cukup membuktikan kalau ayah tak membencimu, Nak?' pertanyaan Rei dalam hati itu dijawab dengan anggukan Gaara. "Pak supir tolong berhenti!" teriaknya kemudian.

Tindakan Rei membuat perhatian semua penumpang bus tertuju padanya, tak terkecuali Naruto dan Kabuto. Saat ayah Gaara melangkah menuju mereka berdua, Kabuto semakin mendekatkan tubuh Naruto padanya. Gaara memandang ayahnya dengan tatapan tak percaya.

"Jangan mendekat!" seru Kabuto, matanya bergerak awas. "Pak sopir, lajukan kembali bus ini!" perintah Kabuto pada pengemudi bus. Posisinya sangat diuntungkan karena kursi penumpang depan dan belakangnya tak berpenghuni.

"Lepaskan bocah itu!" kata Rei sambil melangkah satu kali ke arahnya.

Sret.

Ujung pisau Kabuto menggores sepasang garis yang melintang di pipi kiri dan kanan Naruto. "Setiap kali kau melawanku maka aku tak segan melukai anak ini," ancam Kabuto.

"Kyaa!"

Sret.

Kabuto kembali menambahkan sepasang garis di pipi Naruto saat gadis yang duduk di seberang kursinya berteriak. "Kukatakan pada kalian jangan melakukan perlawanan!" teriak Kabuto.

Rei menggeram kesal karena pria itu telah berbuat seenaknya. Meski ia melakukan hal ini demi putranya tapi ia merasa kasihan pada pemuda malang itu. Ia dan penumpang yang lain tidak boleh lagi bertindak gegabah atau pemuda itu akan semakin terluka.

Dari pengamatan Rei setiap kali pria itu menggoreskan pisau di kulit korban maka perhatiannya akan tertuju sepenuhnya pada pemuda pirang itu. Jika dirinya mendapat kesempatan itu lagi maka ia akan mendapat kesempatan melumpuhkan si pria berkaca mata.

Gaara tidak menyukai rencana yang dibuat oleh ayahnya. Ayahnya akan melakukan tipuan perlawanan agar Kabuto menjadi lengah, namun jika hal itu dilakukan maka pipi Naruto akan menjadi korbannya.

Rei kemudian melakukan gerakan palsunya maka sesuai dugaan fokus Kabuto akan tertuju pada pisaunya namun di saat itu pula Gaara berteriak pada ayahnya untuk berhat-hati melakukan perlawanan karena ia tak ingin ayahnya dan Naruto terluka.

Waktu serasa diputar lambat di mata Gaara, ketika ia bersuara Kabuto yang telah selesai menandai Naruto kembali memfokuskan diri pada Rei yang sudah siap menyerangnya. Kabuto yang melakukan pertahanan diri terhadap serangan bertindak sesuai instingnya dengan menghujamkan pisaunya ke ulu hati Rei.

(Flash back selesai)

"Lalu apa yang terjadi pada ayahmu dan pria gila itu?" tanya Sasuke.

Gaara mengerutkan keningnya saat mengingat peristiwa naas yang terjadi beberapa tahun silam. "Kabuto, si pria gila, terlalu shock saat melihat darah yang tidak berhenti mengalir dari bekas tusukannya pada perut ayah. Untung saja sopir bus cepat tanggap dan langsung membawa kami ke rumah sakit terdekat." Gaara tampak berpikir sebentar. "Sementara itu Kabuto dihajar penumpang lain yang geram padanya dan dilaporkan ke pihak berwajib. Ku dengar dia dihukum seumur hidup dengan pasal berlapis atas tindakannya. Benar dugaanku sebelumnya, Kabuto mempunyai gangguan kejiwaan sejenis ekshibisionisme. Dia pantas menerima hukuman selama itu," lanjut Gaara.

"Bagaimana dengan Naruto? Apa dia baik-baik saja?" Sasuke tak peduli sudah ke berapa kalinya ia bertanya sore itu.

"Kebetulan rumah sakit yang sama tempat di mana ayahku dirawat kala itu mengenal Naruto. Tidak ada luka fisik selain goresan di wajahnya, tapi sayangnya luka itu menjadi permanen. Itulah masa lalu Naruto yang bisa kukatakan. Meski sampai sekarang aku merasa janggal bahwa kejadian tidak biasa itu tidak pernah masuk di berita mana pun." Jawab Gaara.

"Apa sejak itu kau jadi dekat dengannya?" Sasuke bertanya lagi. Ia terheran sendiri mengapa hari ini menjadi cerewet sekali.

"Tidak semudah itu dekat dengannya, kau tahu. Apa lagi keluarga Namikaze menginginkan kepindahan ke Konoha setelah peristiwa itu sehingga aku memutuskan untuk mengikutinya kemari. Bahkan aku mengikuti program percepatan agar bisa mengikuti kelas yang sama dengan Naruto. Tapi ayah baru mengizinkanku pindah ke Konoha dua tahun yang lalu," lanjut Gaara.

Mendengar jawaban itu membuat Sasuke kembali menaikkan alis untuk ke sekian kalinya hari ini.

"Jangan menatapku seperti itu. Aku sudah mengenal Naruto lebih lama darimu dan menganggapnya sebagai saudara." Gaara menghentikan ucapannyanya ketika merasakan ponselnya yang bergetar. Pemuda itu segera menjawab panggilannya setelah tahu siapa yang sedang berusahan meneleponnya.

Klik- "Halo. Iya, Bi. Tidak, Naruto tidak bersamaku. Ia mengatakan akan mampir dulu ke kedai ramen dengan gadis Hyuuga. Benarkah ponselnya tak bisa dihubungi? Baiklah, Bi. Akan kubantu mencari Naruto." –klik.

Setelah mengakhiri teleponnya Gaara memandang ponsel di genggamannya cukup lama.

"Naruto belum kembali ke rumah," simpul Sasuke yang mencuri dengar percakapan Gaara di telepon.

"Apa dia menghubungimu? Ibunya Naruto baru saja mengabariku," Gaara menatap Sasuke. Di balik wajah datarnya pemuda Sabaku merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini.

"Tidak." Sasuke mengecek riwayat panggilan di ponselnya. Bukan kontak Naruto yang tertera di layarnya melainkan Ebisu, pelayan pribadi Sakura yang sejak tadi siang mencoba menghubunginya berulang kali. Sasuke malas menjawab panggilan dari Ebisu yang pastinya selalu memberi kabar tidak penting yang berkaitan dengan tunangannya, seperti sekarang ini.

Gaara melirik ponsel yang masih digenggam Sasuke. "Kau tidak menjawabnya? Siapa tahu Ebisu memberikan kabar penting."

"Jangan membaca pikiran orang seenaknya, Sabaku! Ingatlah dengan yang namanya privasi," seru Sasuke sambil menghindar dari Gaara untuk menjawab poneslnya yang bergetar.

-Klik, "Halo. Apa yang ingin kau katakan, Ebisu? Naruto? Apa yang terjadi? Baiklah, aku akan segera ke sana." –klik.

"Tidak usah dijelaskan, Uchiha." potong Gaara saat Sasuke akan menjelaskan perihal telepon yang baru saja diterimanya. "Aku akan ikut denganmu. Mungkin aku dan saudaraku dapat membantumu menemukan penculik Naruto," ucap Gaara saat mereka berlari menuju basecamp Taka.

_ to be continued _

Catatan :

Ja nee : sampai jumpa

Hand to ball : (dalam permainan sepak bola) apabila pemain selain kiper menyentuh bola dengan posisi tangan aktif. Jika hal ini terjadi maka wasit akan memberikan pelanggaran karena pemain sengaja bermaksud menghalangi bola untuk sampai ke arah lawan, dengan kata lain pemain melakukan kecurangan.

Ball to hand : (dalam permainan sepak bola) apabila pemain selain kiper menyentuh bola dengan posisi tangan aktif. Jika hal ini terjadi maka wasit tidak memberikan pelanggaran karena hal ini dilakukan untuk melindungi diri dari bola.

vacuette EDTA : wadah yang digunakan untuk menyimpan sampel darah yang akan diteliti. Tempat ini dilengkapi dengan EDTA (Ethylenediaminetetracetic acid) untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah. Setelah diletakkan di tempat tersebut dapat disimpan di lemari beku.

Inhaler : alat yang digunakan untuk menyalurkan obat via saluran nafas.

one night stand : melakukan hubungan badan dengan seseorang hanya satu malam

ekshibisionisme : dorongan seksual untuk mempertontonkan atau memamerkan bagian genitalnya untuk mendapatkan kepuasan pada seseorang yang tak dikenal dan tak menginginkannya.

A/N : Err, makin nambah chapter kok rasanya makin banyak wordnya ya? Maaf ya kalau chapt ini panjaaang sekali! Harap maklum, saya masih belum bisa mengontrol diri untuk tidak menuangkan apa yang ada di pikiran saya. Oh iya, meski bertahap tapi SasuNaru-nya sudah mulai ada progress, bukan? ItaKyuu akan segeran menyusul kok. Hehe.. Saya juga minta maaf kalau banyak tulisan yang typo atau salah penempatan kata. Untuk itu boleh saya minta pendapat dari teman-teman pembaca. Apa pun itu saya terima kok. Silakan kirim kritik, kesan dan saran lewat kolom review di bawah ini.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih bagi teman-teman yang bersedia mampir dan sampai jumpa di kesempatan berikutnya.

Salam

aurantii13

.

Sekilas chapter berikutnya :

.

"Tidak ada tempat lain untuk berteduh selain di sini. Lagi pula uang yang ku bawa tidak lah terlalu banyak," ucap Sasuke sambil menghitung uang yang tersisa di dompet.

.

.

"Apa kau memiliki alasan khusus kenapa dirimu selalu berkencan dengan seseorang yang memiliki rambut pirang dan bermata biru?" tanya gadis itu pada kekasihnya.

.

"Ini sudah ketiga kalinya aku menanganimu. Kali ini siapa lagi yang menjadi korbanmu, Itachi Uchiha?" tanyanya sambil membuka salah satu berkas yang tersedia di mejanya.