Hilang

Pair : Hyuuga Hinata & Naruto Uzumaki

Genre : Hurt & Comfort

Chapter 2

Summary :

Siang itu, Sasuke memintaku untuk membawa bekal yang kubuatkan ke kelasnya. Ini pertama kali aku melangkahkan kakiku ke koridor untuk kelas 12.

Disepanjang jalan aku mencari tulisan Kelas 12-1. Tapi tidak ketemu-katemu. Akhirnya Disamping Lab IPA ternyata kelasnya.

Kuketuk pintunya dan yang membuka pintunya bukanlah Sasuke. Tetapi seseorang yang tidak pernah kulihat sebelumnya, dan baru pertama ini aku melihatnya.

Sekarang didepanku sedang berdiri seorang pemuda berambut pirang. Dia menatapku heran dan mulut yang sedikit terbuka. Matanya yang berwarna biru laut itu terbuka lebar menggambarkan sang pemilik yang sedang terkejut.

Sedangkan aku, jangan tanya lagi. Sudah pasti wajahku sudah semerah buah kesukaan Sasuke 'tomat'.

Aku yang tidak biasa dipandang sangat intens oleh orang lain tak ayal membuatku menundukkan kepala untuk menghindari tatapan pemuda ini.

Kemudian terdengar derap kaki mendekati kami berdua. Dan sesaat kemudian, aku dengar suara Sasuke yang kelihatannya mengintrupsi kegiatan pemuda yang sedang memandangku tersebut.

"Hinata, sejak kapan kau berdiri di depan pintu? Kenapa tidak langsung masuk saja ke kelas?" Tanya Sasuke yang kemudian membuatku secara otomatis menegakkan kepala.

"E-eh, itu.. Senpai ini menghalangi jalanku Sasuke-kun." Jawabku dengan hati yang berdebar-debar karena ternyata senpai ini masih saja berdiri didepanku dengan pandangan intensnya.

"Hn. Dobe, cepat minggir. Kau membuatnya takut." Kata Sasuke kepada senpai ini. Kemudian senpai tersebut sedikit mundur untuk memberi jalan Sasuke supaya bisa keluar dari kelas.

"Hn. Ayo ikut aku." Kata Sasuke kepadaku sambil menarik tanganku. Tanpa berkomentar apapun, aku dengan pasrah mengikutinya yang entah akan dibawa kemana aku ini.

Sebelum kami hilang dari lorong, aku sempat menoleh kebelakang untuk melihat apa senpai tadi masih berdiri seperti tadi.

Dan dugaanku tidak meleset. Dia masih saja berdiri ditempat tadi. Dan matanya yang biru itu masih saja memandangku.

Sekarang tatapannya sudah berubah. Bukan tatapan yang sarat akan keheranan. Namun, dengan padangan datar. Namun, samar-samar aku melihat bahwa dia menyunggingkan sebuah senyuman yang memaksa jantungku berdetak dengan sangat kencang.

Ada apa denganku ini? Hanya karena senyuman, aku bisa seperti ini? Hinata Hinata, apa kata Ino kalau sampai dia tau kau seperti orang bodoh. Tapi kenapa senyumannya itu terasa begitu indah. Ya.

Senyuman manis dan menawan.

Dan pertanyaanku terjawab sudah. Disinilah aku dan Sasuke. Atap sekolah. Aku dipaksa Sasuke untuk menaiki tangga dengan kecepatan yang tinggi karena aku harus mengimbangi langkahnya yang sangat cepat.

"Bukannya tadi kau bawa bekal untukku." Tanyanya dengan pandangan yang menusuk. Sungguh jengkel aku dengan tatapannya yang seakan-akan mengintimidasi itu. Tapi tak jarang juga membuat jantungku berpacu dengan kencang.

"E-eh, I-ni Sasuke-kun bekal untukmu." Kataku dengan nada yang gugup. "Hn. Apa menu bekalmu hari ini Hinata?" Katanya sambil menerima kotak bekal dariku.

"Sanwidch dengan ekstra tomat didalamnya." Kataku dengan sebuah senyum simpul.

"Hn. Kau sudah tau makanan kesukaanku ya ternyata." Kata Sasuke sambil memakan bekal dariku.

Sedangkan kurasakan wajahku mulai menghangat. Aku berani taruhan, pasti sekarang wajahku sudah sangat merah. Kemudian aku melanjutkan makan bekalku saja daripada melamun tidak jelas.

Setelah kami selesai makan bekal, Sasuke tiba-tiba tidur di pangkuanku.

"Hn. Kau tau, aku sangat sulit sekali sebenarnya bergaul ataupun dekat dengan perempuan." Dia memulai pembicaraan yang entah nanti menjurus kemana.

Aku masih menunggunya untuk membuka suara kembali. "Dengan ibuku saja, aku tidak begitu dekat karena dia selalu sibuk dengan urusan bisnis pakaiannya. Sering keluar negeri sering membuatku jarang bertemu dengannya."

Aku berfikir, ternyata aku masih bernasib baik. Walaupun ayah orang yang sibuk dengan pekerjaannya untuk mengurus perusahaan, tapi ayah masih menyempatkan sedikit waktu untukku dan Neji-nii.

"Tapi, entah mengapa jika denganmu aku mudah akrab dan bahkan tidak merasa risih. Bahkan aku..." Dia sengaja menggantungkan kalimatnya.

"Aku.. Mulai menyukaimu." Katanya kemudian yang sukses membuat mataku melotot kaget.

"Kau.. Mau kan menjadi perempuan pertama terdekatku?" Katanya dengan mulai bangun dari posisinya kemudian menggenggam tanganku.

Aku hanya menunduk malu. Baru kali ini ada seorang pemuda yang menyatakan perasaan secara langsung didepanku.

Kemudian aku berpikir, apa salahnya aku mencoba membuka diri untuk menerima eksistensi seorang laki-laki.

Dan sebagai alasannya aku hanya mengangguk.

Kulihat Sasuke menyunggingkan sebuah senyum tipis. Dan detik kemudian, aku jatuh kedalam pelukannya yang sangat erat.

Kurasakan ada sedikit bunga-bunga yang menggelitik perutku saat ini.

Setelah bel tanda istirahat sudah selesai, aku dan Sasuke kembali kekelas kami masing-masing.

Tapi sebelum Sasuke kembali ke kelasnya, dia mengantarku ke kelasku terlebih dahulu. Setelah itu dia kembali ke kelasnya.

Didalam kelas, tidak kusadari aku tersenyum sendiri. Yang tak ayal membuat teman sebangku Ino menjadi heran.

"Hey Hinata, kau kenapa? Senyum-senyum sendiri." Tanya Ino sambil menepuk pundakku. Aku belum menjawabnya.

Alih-alih menjawab, aku malah menunduk dengan wajah yang merona.

"Hhhh, aku tadi melihat kau diantar Sasuke-senpai sampai didepan kelas. Dan akhir-akhir ini kau sering membawa kotak bekal 2. Apa jangan-jangan bekal itu untuk Sasuke-senpai? Dan penyebab kau jadi seperti ini karena Sasuke-senpai juga?" Kata Ino sambil berspekulasi.

Aku kembali mendongakkan kepalaku dan membalasnya dengan senyum meronaku. Yang sukses membuat Ino terkejut dan kemudian menyunggingkan sebuah senyum simpul.

"Jangan bilang kalian berdua jadian?" Katanya sambil tersenyum geli memandangku. Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Hahaha, tidak kusangka seorang ketua OSIS yang terkenal dingin dan cuek bahkan anti dengan perempuan bisa tertarik dengan gadis pemalu sepertimu Hinata." Kata Ino sambil tertawa.

"E-eh, a-apa salah gadis pemalu mendapat pacar orang yang dingin?" Kataku sambil pura-pura memasang wajah sedih.

"E-eh, gomen Hinata.. Bu-bukan begitu maksudku. Aku hanya bercanda tadi. Jangan marah ya." Kata Ino gugup.

Aku mulai mendongakkan kepala dan tersenyum geli memandang Ino. "Hihihi. Aku bercanda Ino-chan."

"Kau jahat Hinata." Katanya Ino sambil mendengus. "Hihihi, gomen Ino" Kataku kemudian memeluknya.

Saat akan keluar kelas, tidak sengaja aku melihat senpai pirang itu melewati kelasku dengan senpai-senpai yang lain sambil membawa sekumpulan kertas yang cukup banyak.

Kelihatannya mereka adalah sekumpulan anak-anak OSIS yang sedang menuju ruang OSIS yang kebetulan berada 2 kelas disamping kelasku.

Kudengar teriakan-teriakan yang berasal dari teman-teman perempuan di kelasku. "Kyaaaa... Lihat... Itu Naruto-senpai."

"Waaahhh... Dia tampan sekali. Tidak kalah dengan Sasuke-senpai."
"Tidak apa jika aku tidak bisa mendapatkan Sasuke-senpai. Yang penting masih ada Naruto-senpai."

"Aku suka rambut pirangnyaaaa..."

"Aku suka mata saphirenyaaa..."

"KYAAAA NARUTO-SENPAIIIII"

Dari kalimat mereka tadi aku yakin bahwa yang mereka maksud adalah senpai pirang itu. Siapa lagi kalau bukan dia. Karena hanya dialah yang berambut pirang itu.

Sekarang aku sudah tau siapa namamu senpai..

'Naruto-senpai'

Sekilas aku melihatnya melirik kearahku. Tapi hanya sekilas saja. Setelah itu dia kembali fokus kedepan dan lenyap setelah melewati pintu ruang OSIS.

Saat bel pulang, siswa siswi segera menuju ke lantai 1. Aku dan teman-teman yang akan melewati koridor menuju langsung ke gerbang keluar terpaksa harus berhenti karena jalan yang ramai dipenuhi oleh senpai-senpai kelas 12.

Aku melihat mereka sedang melihat papan pengumuman yang entah apa isinya. 'Mungkin tentang berita TO' pikirku.

Kami bingung harus lewat mana lagi. Kalau kami melewati koridor yang satunya lagi, kami harus berbalik dan lebih merepotkan lagi karena harus melewati anak 10 dan 11 yang sekarang sedang berada dibelakang kami.

Dengan terpaksa kami harus melewati sekumpulan kelas 12.

Tubuhku yang kecil tak ayal membuatku harus terdendang kesana kemari oleh kelas 12. Sedikit pusing kepalaku mengakibatkan aku terhuyung.

Hingga kurasa aku menabrak dengan kencang dada seseorang. Kuresapi aroma yang sangat segar dan sangat menenangkan.

'Aroma jeruk' pikirku. Kemudian perasaan gugup mulai melandaku. 'Siapa yang aku tabrak? Bagaimana jika dia marah denganku?'

Pikiranku mulai berkecamuk.

Dengan gugup aku mendongak keatas melihat siapa yang tadi aku tabrak. Betapa terkejutnya aku, karena yang aku tabrak adalah Naruto-senpai.

Deg

Deg

Deg

To Be Continued