Hilang

Pair : Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

Genre : Hurt /comfort

Chapter 3

Summary :

Dengan terpaksa kami harus melewati sekumpulan kelas 12.

Tubuhku yang kecil tak ayal membuatku harus terdendang kesana kemari oleh kelas 12. Sedikit pusing kepalaku mengakibatkan aku terhuyung.

Hingga kurasa aku menabrak dengan kencang dada seseorang. Kuresapi aroma yang sangat segar dan sangat menenangkan.

'Aroma jeruk' pikirku. Kemudian perasaan gugup mulai melandaku. 'Siapa yang aku tabrak? Bagaimana jika dia marah denganku?'

Pikiranku mulai berkecamuk.

Dengan gugup aku mendongak keatas melihat siapa yang tadi aku tabrak. Betapa terkejutnya aku, karena yang aku tabrak adalah Naruto-senpai.

Deg

Deg

Deg

Bagaikan tersambar petir, 'Naruto'.

"E-eh.. Maaf Naruto-senpai. Saya tidak sengaja." Kataku gugup kepada Naruto. Dia hanya membalas kata-kataku dengan sebuah cengiran yang khas.

Kemudian aku kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang dengan Ino. Dan akhirnya dengan penuh kesabaran dan perjuangan, kami bisa melewati gerombolan senpai kelas 12 yang sangat banyak itu.

'Aku sudah punya Sasuke, aku tau itu. Namun disisi lain, entah kenapa aku selalu lebih tertarik dengan setiap gerak gerik Naruto daripada Sasuke.' Pikiranku mulai berkecamuk kembali ditengah perjalanan pulangku bersama Ino.

"Kau kenapa Hinata? Kenapa kalu terlihat gelisah sekali?" Tanya Ino sahabatku. "A-a Ino, tidak. Aku tidak kenapa-kenapa." Jawabku menutupi raut bimbangku.

"9 tahun denganmu, kau tidak akan pernah bisa membohongiku Hinata. Ayo cerita saja denganku. Kau kenapa?" Tanya Ino kepadaku.

"Aku sedang bimbang Ino. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Mana yang harus aku pilih." Jawabku dengan suara parau.

"Bingung? Bingung kenapa Hinata?" Tanya Ino penasaran. "Kau tau aku sudah mempunyai Sasuke. Tapi disisi lain, aku juga bingung.. Apa aku menyukai orang itu tau tidak." Kataku masih dengan suara parau.

"Memangnya kau suka dengan orang lain Hinata? Tapi dengan siapa Hinata?" Tanya Ino dengan nada yang sarat akan kekawatiran.

"Naruto-senpai 12-1" Jawabku singkat. "Kau suka dengan Naruto-sepai Hinata? Naruto Uzumaki? Wakil ketua OSIS itu? Tapi bagaimana bisa? Sasuke lebih daripada Naruto-senpai Hinata." Kata ino mencoba menyadarkanku.

"A-aku belum bisa berkata kalau aku menyukai Naruto-senpai Ino. Lagi pula, aku tidak menilai orang dari segi materi ataupun fisik. Aku hanya merasa bahwa jika aku berada didekatnya terasa begitu nyaman Ino".

"Kalau kamu berpikir seperti itu, itu artinya kau menyukainya Hinata. Aku sebagai sahabat hanya berharap yang terbaik untukmu." Kata Ino seraya mengelus puncak kepalaku, kemudian melanjutkan perjalanan kami kerumah masing-masing.

Apa benar yang dikatakan Ino? Apa aku menyukaimu Naruto?

1 bulan kemudian

Aku dan Sasuke masih seperti biasa. Namun aku menemukan sebuah kejanggalan dengan Sasuke.

Jika biasanya aku selalu diantar, maka sekarang sudah tidak. Dia selalu saja membuat alasan ini itu.

Sore itu Sasuke kerumahku untuk berkunjung. "Hinata, tunggu sebentar ya aku mau ke kamar mandi terlebih dahulu." Kata Sasuke pamit denganku. "Oh iya, silakan Sasuke."

Aku duduk diruang tamu sambil bermain game di laptopku. Tiba-tiba HP Sasuke berdering menandakan ada sms masuk. 'sms dari siapa?' batinku.

Kubuka sms tersebut. 'Sakura' siapa Sakura? 'Sasuke, kapan kau akan menjemputku? Aku sudah selesai berdandan dari tadi. Katanya kita akan dinner?' kata perempuan di sms itu. Kemudian format sms tersebut aku ganti dengan format belum dibaca supaya Sasuke tidak tau bahwa aku sudah membuka sms itu.

"Maaf Hinata. Apa kau menunggu lama?" Tanya Sasuke setelah selesai dari kamar mandi. "A-a tidak kok." Jawabku pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Kemudian Sasuke mulai membuka HP dan kelihatan bahwa dia sedang membaca sms tadi. "Hinata, aku permisi pulang dulu ya. Aku harus mengantar ibuku pergi belanja." Kata Sasuke yang aku tau dia sedang berbohong.

"Iya Sasuke, hati-hati dijalan. Sampai jumpa besok disekolah." Kataku masih dengan seulas senyum.

Setelah mobil Sasuke keluar dari pekarangan rumahku, air mata jatuh seketika dari mataku.

Malam ini aku sudah melewatkan waktu makan malam bersama ayah dan Neji-nii.

Aku memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Jangan tanya apakah ada gedoran pintu dari keluargaku seperti yang biasanya di film-film dorama.

Setidaknya aku bersyukur memiliki keluarga yang sangat pengertian denganku. Baik ayah maupun kakakku tidak mau ikut campur dengan urusanku.

Mereka sangat bijak dalam melangkah. Bagi mereka aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa dan mau tidak mau aku dituntut mandiri termasuk menyelesaikan masalahku sendiri.

Pikiranku kacau malam ini. Tidak ada ponselku yang bergetar tanda ada sms atau panggilan masuk dari Sasuke.

'Jangan-jangan sekarang ini dia sedang kencan dengan gadis bernama Sakura itu?' Pikirku didalam hati.

Lantas, apa arti kalimat-kalimatnya waktu kami berada diatap kemarin?

[ "Hn. Kau tau, aku sangat sulit sekali sebenarnya bergaul ataupun dekat dengan perempuan." Dia memulai pembicaraan yang entah nanti menjurus kemana.

"Tapi, entah mengapa jika denganmu aku mudah akrab dan bahkan tidak merasa risih. Bahkan aku..." Dia sengaja menggantungkan kalimatnya.

"Aku.. Mulai menyukaimu." ]

Semua kata-kata Sasuke itu terngiang-ngiang didalam benakku. Kenapa disaat aku mulai mau membuka hati untuk laki-laki, malah dia mengecewakan aku.

Kemudian aku mulai berpikir untuk memutus hubungan ini. Untuk apa mempertahankan hubungan ini jika nantinya aku akan terus tersakiti.

'Jelas-jelas Sasuke selingkuh.'

Kemudian aku mengetik beberapa kalimat yang intinya untuk mengakhiri hubunganku dengan Sasuke. Kemudian kukirim ke Sasuke.

20 menit aku menunggu. Dan barulah smsku tadi dibalas olehnya.

'Hn? Kau? Baiklah jika itu maumu.' Balas Sasuke padaku. Tanpa ada kata-kata penolakan ataupun pengelakan karena dia telah kukatakan selingkuh.

Berarti memang benar jika dia selingkuh.

Hatiku terasa tertohok kemudian hancur berkeping-keping. Aku lelah, benar-benar lelah. Dan malam itu, aku putuskan untuk tidur saja.

Aku menangis dalam tidurku.

To Be Continued