Hilang

Pair : Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

Genre : Hurt & Comfort

Chapter 4

Summary :

[ "Hn. Kau tau, aku sangat sulit sekali sebenarnya bergaul ataupun dekat dengan perempuan." Dia memulai pembicaraan yang entah nanti menjurus kemana.

"Tapi, entah mengapa jika denganmu aku mudah akrab dan bahkan tidak merasa risih. Bahkan aku..." Dia sengaja menggantungkan kalimatnya.

"Aku.. Mulai menyukaimu." ]

Semua kata-kata Sasuke itu terngiang-ngiang didalam benakku. Kenapa disaat aku mulai mau membuka hati untuk laki-laki, malah dia mengecewakan aku.

Kemudian aku mulai berpikir untuk memutus hubungan ini. Untuk apa mempertahankan hubungan ini jika nantinya aku akan terus tersakiti.

'Jelas-jelas Sasuke selingkuh.'

Kemudian aku mengetik beberapa kalimat yang intinya untuk mengakhiri hubunganku dengan Sasuke. Kemudian kukirim ke Sasuke.

20 menit aku menunggu. Dan barulah smsku tadi dibalas olehnya.

'Hn? Kau? Baiklah jika itu maumu.' Balas Sasuke padaku. Tanpa ada kata-kata penolakan ataupun pengelakan karena dia telah kukatakan selingkuh.

Berarti memang benar jika dia selingkuh.

Hatiku terasa tertohok kemudian hancur berkeping-keping. Aku lelah, benar-benar lelah. Dan malam itu, aku putuskan untuk tidur saja.

Aku menangis dalam tidurku.

Pagi ini penampilanku kubuat senatural mungkin seperti tidak habis menangis. Kupoles wajahku dengan bedak supaya bekas tembamnya tidak kentara.

Namun sebaik apapun aku menutupinya, keluargaku tidak akan pernah bisa tertipu. Terbukti pagi ini di ruang makan aku harus menjawab pertanyaan ayah dan Neji-nii yang seakan-akan tengah mengintrogasiku.

"Hinata, kenapa matamu sembab?" tanya Neji-nii.

"Jangan katakan kau menangis karena Uchiha itu, ayah sudah tau Hinata." Sambung ayahku.

"Nee-chan harus semangat. Jangan mau ditindas laki-laki yang tidak pernah menyayangi nee-chan sungguh-sungguh. Hhh.. Laki-laki benar-benar menjengkelkan." Sambung Hanabi tiba-tiba.

"Jaga bicaramu Hanabi. Tidak semua laki-laki seperti itu." Sambung ayah kelihatan tersinggung.

"A-ano.. Terima kasih nasihatnya Hanabi-chan. Ayah, aku berangkat sekolah dulu." Kataku mencoba lari dari percakapan menyesakkan tersebut.

"Biar aku antar Hinata." Neji-nii berusaha menawarkan bantuannya kepadaku.

"A-a.. tidak perlu Neji-nii. Aku bisa naik bis, lagi pula aku lebih suka berangkat sendiri." Jawabku menolak Neji-nii.

"Baiklah kalau begitu, hati-hati Hinata." Kata ayah. "Terima kasih Tou-sama".

Pagi ini gerimis mengawali hariku yang sudah buruk. Aku berjalan menuju halte bus dengan memegang payung karena takut tasku basah.

Sampai aku naik bus pun masih sama. Kulihat dari jendela 'gerimis' batinku. Aku duduk di barisan nomor 2 dari pintu belakang bus.

Karena dari rumah tadi aku banyak melamun Sasuke, aku jadi lupa tidak mengenakan jaket. Padahal suhu hari ini sangat dingin.

Kurasakan samping bangkuku diduduki seseorang. Aku tidak begitu mempermasalahkan siapa orang tersebut. Toh aku juga tidak berminat untuk tahu.

Perjalanan rumahku ke KHS bisa memakan waktu 2 jam. Maka dari itu aku harus berangkat sangat pagi jika tidak ingin gerbang sekolahku ditutup.

Aku mulai gerah ketika orang disampingku yang baru kuketahui adalah seorang laki-laki tersebut mulai berani macam-macam denganku.

Pertama, tangan orang itu berada di belakang kepalaku. Kemudian dia berusaha untuk memelukku. Dasarnya aku perempuan penakut, aku hanya bisa memejamkan mata.

Aku hampir manangis ditempat.

1 detik

2 detik

3 detik

4 detik

5 detik

BUGGGGGGHHHH

Aku membuka mataku. Kulihat disamping bangku, orang tersebut jatuh tersungkur yang menimbulkan keterkejutan semua orang yang ada si bus.

Kulihat didepan orang tersebut ada seorang pemuda yang memakai seragam KHS. Aku tidak tau bagaimana wajahnya karena dia berdiri mebelakangiku.

"Lebih baik kau pergi sebelum aku menendangmu." Kata pemuda itu. 'suara itu..' batinku.

"Cih, siapa kau memangnya? Ha? Dasar anak kecil." Tanya laki-laki yang ternyata sudah tua itu.

"Kau meragukanku, hm? Aku atlet Judo nomor 1 nasional, atlet karate nomor 2 nasional, dan petinju nomor 1 pelajar nasional." Jawab pemuda itu enteng.

Kulihat ekspresi orang tua itu, dia nampak ketakutan dan setelahnya dia lari ke pintu depan dan melompat saja dari bus yang masih berjalan.

Pemuda itu kemudian berbalik. 'Naruto-senpai'

"Kau tak apa?" Katanya dengan cengiran khasnya.

"A-ano.. Umm, aku tidak apa-apa Naruto-senpai. Arigatou." Balasku, aku yakin wajahku sudah semerah tomat karena malu.

"Perjalanan kesekolah masih 30 menit. Bagaimana jika aku menemanimu duduk disini. Aku kawatir nanti ada orang tua seperti tadi lagi."

"A..a.. Silakan Naruto-senpai." Balasku sambil menundukkan kepala.

"Tidak heran jika mereka mengganggumu." Kata Naruto-senpai ketika sudah duduk disampingku.

"Kenapa Naruto-senpai?" Tanyaku menoleh kepadanya.

"Karena kau cantik." Katanya dengan senyum simpulnya.

"A-ano.. Naruto-senpai terlalu berlebihan." Jawabku gugup.

"Aku serius. Kau ingat, ketika kita pertama bertemu kan? Aku saat itu, memandangmu sangat lama kan? Karena saat itu, aku baru sadar ternyata aku mempunyai adik kelas yang sangat cantik." Kata Naruto-senpai panjang lebar.

"YOSH! Sudah sampai .. Siapa namamu?" Tanya Naruto-senpai. "Hi-hinata. Hinata Hyuuga senpai."

"Baiklah, ayo kita turun Hinata-chan." Ajak Naruto-senpai dengan mengulurkan tangannya kepadaku.

Kami berjalan beriringan menuju KHS. Dengan tangan Naruto-senpai masih menggandeng tanganku. Entah dia lupa atau bagaimana, akupun juga tidak tau.

'Mimpi apa aku semalam? Pertama Naruto-senpai tiba-tiba menolongku dari pria tua tadi, kedua dia duduk berdampingan denganku, ketiga dia memujiku cantik, dan ini dia menggandeng tanganku.' Batinku berteriak-teriak didalam sana.

"Hinata-chan, aku antar kau ke kelas ya. Sekarang kita cari kelas A." Kata Naruto-senpai.

Berpasang mata melihat kami yang tiba-tiba datang bergandengan tangan, tepatnya Naruto-senpai yang menggandengku.

"Nah, kita sudah sampai Hinata-chan. Jaa.." Kata Naruto-senpai ketika kami berada didepan pintu kelasku. Kemudian dia melambaikan tangan sebagai tanda kami berpisah di kelas masing-masing.

Dengan aku melihat Naruto-senpai, sedikit demi sedikit aku mulai bisa melupakan Sasuke. Mungkin memang benar. 'Aku mulai menyukaimu, Naruto-senpai'

To Be Continued