Hilang

Pair : Hinata Hyuuga & Naruto Uzumaki

Genre : Hurt & Comfort

Chapter 6

6 bulan kemudian

"Hari ini adalah kelulusanku Hinata." Kata Naruto-kun sambil memegang pundakku. "Aku harap nanti kau mau menungguku. Setelah ini, aku akan melanjutkan study ke London. Aku ingin belajar bisnis disana, supaya jika pulang nanti aku sudah siap meneruskan perusahaan tou-sama."

"Naruto-kun, hiks hiks hiks. Bi-bisakah aku,a-kku sekolah disini tanpamu?" Balasku sambil memeluknya.

"Hinata, kau akan membunuhku jika terus menangis seperti anak kecil. Aku ingin pergi dengan senyumanmu. Bukan dengan tangisanmu Hinata-chan." Balas Naruto-kun sambil membalas pelukanku.

"Narut-to-kun, ak-kku mohon jangan pernah tinggalkan aku." Kataku sambil menangis sesenggukan dalam pelukannya.

"Tidak akan aku meninggalkanmu kecuali jika kau yang meninggalkanku terlebih dahulu Hinata-chan." Kata Naruto-kun sambil mengelus puncak kepalaku.

"A-arigatuo Naruto-kun"

"Tunggulah aku 2 bulan lagi. Karena saat itu aku akan datang mengunjungimu Hinata-chan." Kata Naruto-kun lagi.

"Nee Naruto-kun"

Setelah kelulusan Naruto-kun kami masih tetap berkomunikasi lewat email. Tidak pernah ada pertengkaran dalam hubungan kami berdua.

Aku mulai terbiasa tanpa ada Naruto-kun yang menemaniku disekolah. Karena aku juga masih mempunyai sahabat yang setia berada disampingku.

KHS-08.00

"Ohayou, Hinata-chan"

Suara itu sukses membuyarkan lamunanku tentang Naruto-kun. Suara siapa? Kenapa suaranya asing ditelingaku.

Aku terpaksa meninggalkan dunia khayalanku demi menengok ke asal sumber suara. 'rambut merah, mata hazel, senyum yang lembut. Baby face sekali' inner ku.

Kuberanikan bertanya siapa pemuda yang dihadapanku sekarang ini. "O-oha-ayou. Kamu siapa?"

"A.. Namaku Akasuna Sasori. Hinata-chan." Katanya sambil mecium tanganku. Wajahku seketika panas. Mungkin saat ini aku sedang merona dibuatnya.

"A-a.. Sasori-kun. Tidak kusangka kau akan pindah secepat ini ke KHS." Kataku setelah dia menjawab pertanyaanku.

"Kenapa? Kau tidak suka jika aku menyusulmu ya Hinata-chan. Aku kira Hiashi-sama sudah memberi tahumu tentang kepindahanku kemari dan.. Acara pertunangan kita berdua." Kata Sasori-kun seketika mengingatkanku dengan perkataan Tou-san kemarin malam.

Flashback

END HINATA POV

Manshion Hyuuga

"Hinata" Panggil sang kepala rumah tangga kepada putri sulungnya. "I-iya Tou-sama?" Jawab putrinya. Hinata.

"Ayah akan langsung memberi tahumu sekarang." Hiashi. Ayah Hinata mulai pembicaraannya. Sedangkan sang hime hyuuga tetap sabar mendengarkan pembicaraan selanjutnya tanpa ada niatan untuk membantah atau hanya sekedar mendongakkan kepala.

"Sebuah perusahaan bagaikan seekor burung yang suatu saat akan terus mengibarkan sayapnya. Kemudian terbang sesuka hatinya Hinata."

Hinata masih menundukkan kepala. Firasat buruk tengah melanda hatinya.

"Kau sudah dewasa Hinata. Suatu saat kau harus mempunyai seorang pendamping hidup yang mapan."

"Ha-ai wakarisimasita Tou-sama" Jawab Hinata sedikit gugup.

"Sebelumnya Tou-san bukannya ingin mengekangmu Hinata. Kau adalah pewaris Hyuuga nanti. Ayah tidak mungkin memilih Neji. Karena dia ingin merintis usahanya sendiri."

"Hanabi juga tidak mungkin. Sikapnya yang sangat ceroboh hanya akan menghancurkan Hyuuga secara perlahan. Kau lah satu-satunya harapan Tou-san Hinata."

"Untuk memperluas sayap Hyuuga, Tou-san akan menjodohkanmu dengan rekan bisnis Tou-san. Mereka salah satu keluarga yang paling berpengaruh di Sunagakure. Akan sangat menguntungkan jika kedua benteng yang besar bisa bersatu."

"Keluarga Akasuna. Mereka sudah mengenal Tou-san sejak lama. Begitupun sebaliknya. Mereka malah sangat senang apabila menjadi rekan kita nanti."

"Namanya Akasuna Sasori. Dia putra dari teman Tou-san. Beberapa hari lagi dia akan pindah ke KHS untuk bersekolah denganmu. Tou-san harap kau bisa mudah berinteraksi dengannya. Dan bisa mulai menjalin sebuah hubungan supaya kita bisa secepatnya mengadakan acara pertunangan."

"Ha-ai Tou-sama." Kata Hinata dengan nada yang sangat kecil karena sedari tadi dia menahan air matanya. Mengingat posisinya saat ini masih mencintai Naruto dan masih terikat hubungan dengannya pula.

Kamar-22.00

HINATA-POV

Sangat keterlaluan memang. Menjodohkan anak demi perusahaan. Itulah ayahku. Aku tidak punya pilihan lain sekarang selain menuruti apa saja ucapan ayahku.

Aku adalah satu-satunya harapan ayah. Aku tidak boleh mengecewakannya. Tapi saat ini aku kekasih Naruto-kun dan aku masih sangat mencintainya.

Aku bahkan sangat merindukannya.

Apa yang harus aku lakukan kami-sama? Apa aku harus memutuskan hubunganku dengannya atau aku diam saja?

Aku masih sangat mencintainya. Tapi disisi lain aku juga tidak mau mengecewakan ayah. Hinata, kau benar-benar pecundang.

Mungkin saat ini lebih baik aku diam saja. Biarlah Naruto-kun tau suatu saat nanti jika aku sudah siap memberi tahunya. Saat ini aku hanya perlu berpura-pura menyukai Sasori-san. Dan disisi lain aku berpacaran dengan Naruto-kun.

Hinata, kau benar-benar jahat sekarang.

End of flashback

"Hinata-chan, aku harap kita bisa saling mengenal lebih. Aku sudah lama tertarik denganmu. Aku tau kau tidak mengenalku selama ini. Tapi aku sudah tau kau lama dari Hiashi-sama." Kata Sasori kepadaku.

"Ha-hai Sasori-kun. Aku akan berusaha untuk mengenalmu lebih." Kataku sambil kuulas senyum yang kubuat setulus mungkin.

Kurasa aku berbakat memainkan peran ini. Terbukti dengan seulas senyumku, bisa membuat Sasori-kun merona.

"Sasori-kun, kita sekelas?" Kataku penasaran. "A.. Soal itu. Iya. Aku yang meminta kepada kepala sekolah pemabuk itu Hinata-chan." Jawab Sasori.

"Bagaimana kalau berkeliling sekolah dulu Sasori-kun? Masih ada 30 menit sebelum bel jam pertama dimulai." Kataku. "Kurasa itu bukan ide yang buruk Hinata-chan." Jawab Sasori.

Kami kemudian keluar kelas. Aku mengajaknya berkeliling sekolah. Kutunjukkan ruangan-ruangan dari lantai bawah sampai lantai atas.

Ketika kami berdua sampai kantin, aku mengajaknya duduk dibangku yang dulu sering aku duduki bersama Naruto-kun. Aku kembali teringat masa-masa dulu. Masa yang paling bahagia dalam hidupku mungkin.

Flashback

Kantin

"Hinata-chan, bekalmu memang nomor satu. Bahkan lebih enak dari masakan Kaa-san. Apalagi ramen buatanmu. Hahaha" Kata Naruto sambil mengunyah ramen buatanku.

"Naruto-kun! Jangan makan sambil tertawa, nanti tersedak." Kataku kawatir.

"Uhuk uhukk uhukkk!"

"Naruto-kun! Sudah kubilangkan. Kau bandel sekali. Kalau begini aku tidak mau menjadi istrimu." Kataku sambil memijat tengkuk lehernya.

"Mewwww... Aku bercanda Hime." Kata Naruto sambil menjulurkan lidahnya.

"Naruto-kun! Kau membuatku kawatir." Kataku yang berpura-pura memasang wajah sedih. "A-ano, Hinata-chan.. Aku tidak bermaksud. AAAAArrrrghhh aku hanya bercanda Hime. Kau akan membuatku gila jika kau seperti ini." Kata Naruto-kun sambil memelukku.

"Mewww... Aku bercanda Naruto-kun. Mana mungkin aku bisa marah kepadamu Naruto-kun" Kataku sambil terkikik geli dalam pelukannya.

"Hhhh Hinata-chan," Panggil Naruto-kun. "Mmm?"

"Berjanjilah kepadaku, kau akan bersamaku sampai kapanpun. Berjanjilah padaku kau akan menikah denganku dan berjanjilah padaku, kau akan melahirkan anak-anak yang lucu dariku." Kata Naruto-kun sambil mengelus puncak kepalaku.

"Mmmm. Aku berjanji Naruto-kun" jawabku.

End of flashback

Bagus Hinata, kau benar-benar perempuan jahat. Kau adalah gadis bermuka 2.

"Hinata-chan, kenapa kau melamun? Ini sudah jam setengah 9 kurang 10. Kita punya waktu 10 menit untuk kembali ke kelas sebelum perlajaran pertama dimulai." Kata Sasori memecahkan lamunanku.

"Aa-a.. Benarkah? Oke, kalau begitu mari kembali ke kelas Sasori-kun." Kataku sambil berdiri.

Manshion Hyuuga

Di Manshion ini sedang berkumpul aku, ayah, Neji-nii, Hanabi-chan dan juga Sasori-kun. Kami sedang makan malam bersama.

"Bagaimana hubungan kalian berdua? Hm?" Tanya ayah kepada kami berdua. Baru saja aku mau menjawab tapi Sasori-kun sudah menjawab terlebih dulu.

"Hiashi-sama, hubungan kami sangat dekat sekarang. Tanpa ada kata pacaranpun kami sudah seperti pacaran saja sekarang."

Pernyataan Sasori tadi tak ayal membuat Neji-nii dan Hanabi-chan hampir tersedak karena menahan tawanya.

"Ehrm ehrm.. Baguslah kalau begitu. Berarti rencana ini akan berhasil. Sasori, aku dan ayahmu sudah sepakat bahwa pertungan kalian akan dimajukan lusa besok. Dan mulai sekarang, biasakanlah memanggilku Tou-san. Bagaimanapun juga sebentar lagi kau akan menjadi menantuku."

"Baik Tou-san." Jawab Sasori sambil mengulas senyum manisnya.

Aku? Jangan tanya lagi aku. Sudah pasti dari tadi aku hanya menundukkan kepala meratapi nasib.

Setelah Sasori pulang, aku langsung menuju kamar untuk merenung. Aku merindukan Naruto-kun. Tapi apa aku tidak akan mengganggunya jika sekarang aku meneleponnya?

Kuurungkan niatku untuk meneleponnya. Aku takut mendengar suaranya. Aku bagaikan ingin lari dari kematian. Aku ingin lari dari kenyataan bahwa besok lusa aku akan bertunangan dengan Sasori-kun.

Bisa kah aku Kami-sama?

Bisakah aku menghadapi semua ini?

To Be Continued