.

.

.

Hana Yori Dango 3

THE NEXT GENERATION

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 2

"H-ha?!" Sakura bertanya, membelalakkan mata dalam keterkejutan yang sarat…

Tunggu, tahan sebentar… Apa yang terjadi?! Apakah dia bermimpi? Sepertinya dia tertidur… Apa ini disebabkan oleh apa yang dikatakan Lee tempo hari padanya sehingga dia memimpikan hal yang mengerikan seperti ini?! Sakura, sepenuhnya mengabaikan Sasuke, berbalik mengahadap Ino.

"Ne~ aku bermimpi kan?" dia bertanya. Ino hanya mengedipkan matanya.

"Tidak… Kurasa tidak," jawab Ino. Dia sendiri sedikit bingung dan bertanya-tanya apakah ini semua hanyalah mimpi.

"Mungkin kita berbagi mimpi," kata Sakura. Ino tampak paham.

"Itu mungkin saja. Aku pernah membaca bahwa orang yang dekat dan saling berbagi perasaan yang sama bisa memiliki mimpi yang berkaitan."

"Kalau begitu kita bermimpi."

Ino memiringkan kepalanya ke samping. "Tapi aku ingat bangun."

Sakura berbalik dan menatap Sasuke. Dia berkedip beberapa kali ke arahnya dan berbalik kembali ke arah Ino. "Tidak, ini tak mungkin terjadi. Maksudku, LIHAT! Dia melotot padaku! Dia biasanya tidak menyadari keberadaanku," kata Sakura mulai bingung.

"Beraninya kau mengacuhkan aku?!" Sasuke berteriak sehingga membuat Sakura menghadapnya lagi.

"Ah, baiklah, jadi aku tidak bermimpi," Sakura bergumam sendiri.

"Di sekolah ini, kita semua punya tempat masing-masing dan aku ingin tetap seperti itu. Kutu sepertimu tidak pantas ada di sini. Kau dan teman-temanmu yang tidak berguna tidak termasuk di sini. Sampah seharusnya tetap berada di tempat sampah," Sasuke berkata, mendekatinya dan Sakura merasa wajahnya memanas karena marah, mendengar Sasuke menyebut-nyebut teman-temannya.

"Sakura-chan…," dia mendengar Ino berkata di belakangnya tetapi Sakura mengabaikannya. Dia tidak bisa membiarkan bocah tampan tidak berguna ini menghina mereka seperti itu.

"Kami berusaha lebih keras dibanding siapa pun di sekolah ini. Sementara kau, KAU bocah manja bahkan tidak berkeringat datang ke sekolah ini dan kau bilang kami tidak pantas di sini? Kau tidak pernah menghasilkan satu yen pun dalam hidupmu. Kau tidak pernah melakukan apapun untuk orang lain. Yang kau pedulikan hanya dirimu sendiri," Sakura melanjutkan, mendekat ke arahnya sambil mengangkat tangan dan melihat Sasuke menatapnya balik, matanya membelalak terkejut, benar-benar tidak menduga Sakura akan melawan.

"Kau bocah tidak berguna!" Sakura berteriak dan meninjunya dengan seluruh kekuatan dan kemarahannya. Sasuke terjatuh ke lantai, masih syok dengan tindakan Sakura saat dia memegangi pipinya yang terkena tinju. "Yang kau lakukan hanya bergantung pada orang tuamu! Seluruh hidupmu hanya bermanja pada orang tuamu. Mereka melakukan segalanya untukmu. Apa kau tahu bagaimana rasanya menderita?! Apa kau tahu apa itu?! Apa kau—,"

"Cotto matte yo, Sakura," kata seseorang di belakangnya dan dia merasakan sebuah tangan membungkus tangannya. Dia berbalik untuk melihat siapa yang berbicara.

"Uzumaki Naruto…"

Lee mencondongkan diri ke arah Shikamaru dan Ino. "Perhatikan bagaimana sekali lagi tidak ada –san yang digunakan." Mereka berdua menatapnyaaneh.

"Benarkah?" Ino berkata dengan agak jengkel. "Kau memerhatikannya sekarang?" dia berbisik kepada Lee.

Sakura menunduk ke arah tangannya. Tangan Naruto, yang cukup besar dan… lembut, yang entah bagaimana bisa mengaitkan jarinya di sela-sela jari Sakura. Sasuke menyadarinya juga. Sakura menatap ke atas lagi, matanya menatap lurus ke mata Naruto dan dia merasa napasnya telah terenggut darinya.

"Aku tahu kau marah…" dia memulai dan Sakura merasa kemarahannya lenyap. "Demo… kau tidak tahu tentang kehidupan kami dan apa yang telah kami lalui…" Dia berkata pelan.

Sakura menatapnya, amarahnya berubah menjadi ketenangan yang mengisi seluruh tubuhnya, Sasuke menyaksikan dalam diam dan dia tiba-tiba sangat, sangat marah namun untuk alasan yang sama sekali berbeda. Dia merasa hatinya mengerat dan dia berdiri, memblokir amarah asing tersebut dengan amarah yang baru.

"Oi, Naruto! Apa yang kau lakukan?!" Sasuke bertanya pada sahabatnya, merasa terkhianati.

"Hentikan permainanmu," Naruto menjawab ringkas saat dia menarik tangannya dari tangan Sakura dan mendekati lokernya. "Ini," kata Naruto, mengambil note merah F4 dan merobeknya, "sudah cukup."

"Eh?! Apa maksudmu? Jangan asal datang dan merusak pertunjukan!" Sasuke berteriak.

"Jika kau ingin balas dendam kepada wanita itu, jangan melampiaskannya kepada orang lain! Sakura bukanlah dia!" Naruto balas berteriak dan siswa-siswa di sekitar mereka mulai membisikkan pertanyaan mereka satu sama lain, tanpa satu pun tahu jawabannya.

"Sekali lagi… tidak ada –san atau bahkan –chan atau –kun." Lee berbisik ke arah Shikamaru dan Ino yang sedang menonton dengan cukup terhibur. Mereka berpaling ke Lee lagi, bertanya-tanya apa yang salah dengannya.

"Benarkah?!" Shikamaru berbisik.

"DIAM?!" Sasuke berteriak, mengejutkan Ino, Shikamaru dan Lee dan memaksa mereka untuk memperhatikannya lagi ketika Sasuke meneriaki Naruto, kemarahannya membara bertingkat-tingkat seolah-olah asap keluar darinya, yang mungkin saja terjadi.

"Baik, sekarang tenanglah." Sasori berkata saat menyadari pistol tak kasat mata teracung dari Naruto ke Sasuke dan sebaliknya. Sebuah peperangan dari dua sifat yang sama sekali berbeda akan meletus.

"Dia akan kecewa padamu!" kata Naruto, menghentikan tindakan Sasori. Sai dan Sasori menutup mata mereka… "Lihat dirimu… kau sama sekali tidak mirip dia." Sasuke maju selangkah. "Dia tidak menginginkan ini. Tidak dari mereka, terutama tidak darim—" tetapi Naruto tak menyelesaikan kalimatnya, tinju Sasuke mendarat dengan keras di wajah Naruto dan menyebabkan lelaki malang itu terjatuh ke tanah, darah mengalir dari bibirnya.

"Aku menyuruhmu untuk tutup mulut! Aku tidak peduli dengan wanita itu! Dia boleh mati di tempat tidur itu, aku tidak peduli! Aku tidak peduli apakah dia akan kecewa padaku atau tidak! Dia tidak berhak merasakan apapun terhadapku. Dan aku tidak akan pernah ingin menjadi seperti dia. Jadi tutup mulutmu, Naruto, karena kau tidak tahu apa yang kau bicarakan," kata Sasuke, menggeram pada Naruto.

"Benarkah aku tidak tahu?" Naruto bertanya padanya, menyeka darah dari mulutnya saat Sakura berlutut di sebelahnya. "Bisakah kau dengan jujur berkata bahwa itu benar?"

Sasuke tidak menjawab, tidak ada kata-kata yang bisa keluar darinya saat tubuhnya gemetar karena marah. "Sai, Sasori, ayo pergi. Aku tidak ingin bicara dengan kotoran lagi," katanya lalu pergi.

Sai menatap Sasori dan mulai berjalan di belakang Sasuke. Sasori berpaling ke Naruto dan membuat isyarat tangan yang berarti 'Kita perlu bicara' atau mungkin 'Aku akan meneleponmu nanti' Sakura tidak yakin. Pada saat itu perhatiannya teralih ke Naruto.

"Kau baik-baik saja?" Dia bertanya lembut, Naruto mengangguk dan senyuman mengembang di bibirnya. Dia nyaris terlihat puas.

"Aku baik-baik saja, Sakura." Dia berkata, melihat ke arah Sakura tepat di matanya, membuat Sakura sedikit merona. Shikamaru, Lee dan Ino berlutut diam-diam, menonton adegan di hadapan mereka dengan seringai di wajah mereka.

"Hore! Sekali lagi tidak ada –san," kata Lee mengejutkan Naruto dan Sakura. Keduanya merona akibat kedekatan mereka yang tiba-tiba.

"Lee, hentikan itu!" Ino berkata sambil memukul belakang kepalanya sebelum berbalik ke arah Naruto.

"Jadi…" Dia nyengir "Mau jadi ksatria berjubah bajaku juga?" Dia mengedipkan mata ke arah Naruto dan wajah Naruto semakin memerah.

"Dia hanya bercanda," kata Sakura sambil membantu Naruto berdiri. "Tapi sungguh, terima kasih untuk hari ini."

"Tidak masalah. Bagaimanapun Sasuke seolah menjadi tanggungjawabku… sebagai teman. Jika aku masih temannya," katanya, mencoba terlihat tidak peduli namun gagal.

"Kau benar-benar peduli padanya," Sakura berkomentar dan menyadari para siswa kembali menjalankan aktivitas masing-masing, tahu bahwa klimaks pagi ini telah berlalu.

"Yeah, tapi terkadang dia bisa ditangani. Dia tidak pernah seperti itu sebelum…," Naruto berkata serak, pikirannya kembali ke tahun itu.

"Sebelum?" tanya Sakura.

"Ah, bukan apa-apa, lupakan yang aku katakan," jawabnya, menyadari dia agak keceplosan. Sakura mengerutkan bibirnya, tiba-tiba penasaran. Mereka menyebutkan seorang wanita tadi…

"Hei, Sakura! Berapa lama kau ingin berdiri di sana? Pangeran charmingmu mungkin bisa membolos tapi kita masih punya beasiswa yang harus kita pertahankan," Shikamaru memanggil.

"Ah! Oh tidak!" Sakura berkata, melihat jam dan mendekati teman-temannya. "Terima kasih, Uzumaki Naruto!" Dia berteriak dan lari.

.

.

#The Next Generation#

.

.

Shinai Sasuke memukul keras tubuh anak laki-laki di depannya. Matanya melotot ke arahnya seolah-olah dia adalah hal yang paling menjijikkan di dunia. Dia mendidih karena marah.

"Aku mengatakan padanya untuk bermain mudah," Sasori berkata pelan kepada Sai yang sedang menonton Sasuke bermain Kendo dengan orang biasa.

"Gunakan psikologi terbalik," Sai menyarankan. Sasori mengangguk dan memanggil Sasuke.

"Jangan bermain mudah dengannya!"

Sayangnya Sasuke membawanya ke hati. Dalam satu gerakan cepat dan elegan dia memukulkan shinainya ke wajah anak itu hingga menyebabkannya terjungkal. Sasori memiringkan kepalanya ke samping.

"Itu tidak berhasil," gumam Sasori.

Sasuke menunduk ke arah remaja yang setengah tak sadarkan diri itu. "Menyedihkan" katanya.

"Apakah kau berencana melampiaskan semua kemarahanmu kepada semua orang hari ini?" Suara Naruto menyebabkan mereka bertiga menoleh ke arahnya, tetapi Sasuke yang terlihat paling fokus padanya.

"Kenapa kau di sini?" Dia bertanya, suaranya rendah tetapi mematikan.

"Kau harus menghentikan ini." Naruto memulai tetapi Sasuke mengejeknya.

"Aku tidak mau mendiskusikan ini lagi." Dia berkata ringkas ketika dia menghadap Naruto sepenuhnya. Mereka berdua bertatapan satu sama lain. Sai dan Sasori mendekat hingga mereka berdiri di sebelah Naruto kalau-kalau mereka harus terlibat di antara keduanya.

"Kau harus melepaskannya," kata Naruto. Sasuke membuang muka. "Sasu-chan aku tahu ini sulit teta—"

"Apa yang kau tahu!" Sasuke berteriak balik. "Kau tidak tahu apapun." Dia mendidih.

Anak laki-laki yang tergeletak di lantai mulai bergerak, perlahan bangkit untuk duduk. Mata Sasuke mengawasinya. "Aku benci mereka semua…" Dia berkata, teman-temannya menyaksikan. "Aku benci wanita itu, aku benci pria brengsek itu, aku benci rakyat jelata," geramnya.

Anak lelaki itu berdiri tetapi dia tidak punya kesempatan untuk mendapatkan keseimbangan ketika Sai, Naruto dan Sasori melihat Sasuke sekali lagi menyerang wajahnya dan kali ini memukulnya hingga pingsan. "Menyedihkan" Sasuke berkata sebelum beralih ke Naruto. "Penghianat…" Sasuke melempar shinainya ke lantai dan mulai berjalan keluar ruangan, karena dia tidak tahan berada dalam satu ruangan dengan Naruto, yang mungkin saja benar.

"Sasuke tunggu!" Naruto memanggilnya.

"Apa?!" Sasuke bertanya, berbalik dengan marah, siap meninjunya tetapi Naruto menjaga jarak cukup jauh dari jangkauannya.

"Sasuke… kau mungkin tidak melihatnya namun aku berusaha membantumu. Aku hanya—,"

"Seorang penghianat dan pembohong, benar kan?" Sasuke bertanya dan terkekeh.

"AKU berusaha membantumu! Tetapi kau tidak membiarkanku melakukannya!" kata Naruto.

"Tidak, kau berusaha menolong gadis itu, rakyat jelata dekil itu!" Sasuke tidak setuju.

"Apa yang aku lakukan untuknya sama banyaknya dengan untukmu. Kapan kau akan melihat bahwa mereka tidak seperti wanita itu?" Naruto membela diri.

"Dan kapan kau akan melihat aku selesai dengan mereka?" Sasuke balas bertanya, suara bsisikannya yang rendah hanya cukup untuk didengar oleh Naruto. Lagipula, Naruto sudah mundur, dia tidak bisa memikirkan apa yang harus dikatakan. Dia tidak tahu bagaimana membuat Sasuke mengerti bahwa dia jadi begitu pemberontak akibat segala sesuatu yang telah dia lalui.

"Aku selesai. Ketika kau kembali waras, datanglah padaku dan mungkin aku akan memaafkanmu. Tetapi jika kau terus memihak si sampah… menjauhlah dari pandanganku," kata Sasuke sebelum melangkah pergi.

"Ah! Ya ampun," Sai mendesah. "Ini akan lebih sulit dari yang kubayangkan." Sasori setuju, mengusap dahinya.

"Maafkan aku… tapi maukah kau memastikan dia tidak akan bunuh diri?" Naruto meminta kepada mereka berdua.

"Roger," kata Sasori dan berlari menyusul Sasuke dengan Sai dan Naruto tinggal di tempat. Kepalanya sakit dan dia tidak memedulikan orang lain di sekitarnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Author's bacot area

Domo, Ravensky desu. Akhirnya setelah hampir tiga tahun author selesai mentranslate fanfic ini, author nekad juga untuk mempublishnya di situs ini. Untuk yang penasaran, tenang, author sudah dapat ijin resmi dari pengarangnya.

Makasih buat yang sudah baca dan mau repot-repot mereview #kecupsatusatu

Update berbanding lurus dengan banyaknya respond reader :D

Jaa matta ne~