YEYEYEYE CHAPTER 3, ARU! /digeplak/

Maaf ya fanfict-nya kayak gorilla as usual /ditendang/

Yosh, lanjut saja!

.

.

A Gintama Fanfiction

Gintama © Sorachi Hideaki

Fanfict Love For Nothing © Ayuha

Okita Shougo x Yato Kagura

Romance – Humor (Tapi nggak yakin)

Warning : [mungkin] OOC, miss Typo(s), Gaje deh, juga disetiap pemikiran/sang karakter sedang membatin, tulisannya pasti akan di italic.

Love For Nothing

.

.

Don't like? Don't read..

Cerita sebelumnya.

Kagura yang tak ingin dijodohkan oleh baka oji tersebut akhirnya menyatakan cinta pada Sougo yang tak menganggapnya. Yorozuya kali ini tutup hanya untuk rapat tentang Kagura dan baka oji. Tiba-tiba Umibouzo datang dan memohon kembali, namun nihil. Ia pun menelepon raja dan membatalkannya. Perjanjian itu bisa dibatalkan dengan satu syarat.

~LFN~

"Oi Raja yang wajahnya kayak babi! Katanya cuma satu syarat, aru!?" Gadis bercepol ala gadis China tersebut hanya bisa mencak-mencak di tempat sembari bertelepon ria dengan raja di kerajaan ntah berantah.

"Yang syarat kedua itu anggap saja bonus," dan tangan gadis ala China tersebut sudah hampir memecahkan hape KW12 ayahnya.

"Aaa, yang tenang, Kagura-chan," Kepala botak—ayah gadis ala China tersebut mencoba menenangkan anaknya yang ia sebut dengan Kagura tersebut. "Moshi moshi? Ah, iya Kagura pasti mau kok. Tenang saja," dan ayah Kagura tersebut sukses memuncratkan darah dari mulutnya akibat tendangan anaknya.

"Kagura-chan harusnya tak keberatan dengan syarat kedua itu. Kau 'kan memang sudah punya pacar, bukan?" pertanyaan yang terlontar dari ayahnya tersebut membuat Kagura bagaikan tersambar petir. Oh iya juga, aku 'kan memang sudah bilang ke papi kalau aku punya pacar. Aku harus bagaimana ini, aru.. Kagura resah sendiri.

"Ah, pokoknya Umibouzo-san, kami akan menjaga Kagura-chan. Jadi tidak usah khawatir dan—," perkataan lelaki ber-megane tersebut terpotong oleh lelaki berambut silver. "PULANG SANA, HAGE!" teriak lelaki berambut silver itu sembari menendang kepala botak—yang sudah tertutupi karung—Umibouzo. Lelaki yang menggunakan kacamata hanya bisa kicep di tempat.

Lelaki bersurai silver itu langsung berjalan ke arah Kagura dan menepuk pundaknya, "Jangan sedih, Kagura. Kali ini biarlah Yorozuya yang bertindak," senyuman pun mengembang di wajah lelaki tersebut. Wajah Kagura pun sumringah, "Gin-chan!" dan memeluk lelaki yang ia sebut dengan Gin-chan.

"Kagura-chan, kau memang mau menakhlukan Okita-san?" tiba-tiba lelaki penggemar Otsu-chan itu berceletuk. Tatapan Kagura langsung seperti '(-_-)' dan berkata, "Mau bagaimana lagi, aru? cuma si sadis itu yang hampir seumuran denganku, aru," jawabnya dengan malas.

"Bukan itu maksudku. Mengapa tidak minta bantuannya saja agar dia mau menjadi pacar pura-puramu—AKH!" megane lelaki tersebut hampir retak akibat bogeman dari Kagura. Kagura kembali meludah di samping lelaki tersebut. "Apakah kau tak ingat kalau ia tak akan pernah, TAK AKAN PERNAH sudi membantuku, lihat episode 27, aru," mata Kagura benar-benar berapi-api seperti mau mengajak perang ninja yang kedua.

"Jangan takut tentang itu, aku akan melindungi aksi kalian.." kata-kata lelaki shota tersebut terhenti dan jarinya menunjuk ke arah gadis ala China yang sedang memegangi payung berwarna ungunya tersebut. "..Tapi aku tidak peduli dengan kasusmu," kata lelaki itu sembari pergi meninggalkan mereka semua. Wajah gadis ala China itu pun mengarah ke kamera—tentunya ke layar—sembari berkata, "Anak itu benar-benar menyukaiku. Sungguh menyebalkan.."

"Ah, tidak. Kagura benar-benar berkata 'tak akan pernah'-nya dua kali, 'kan Shinpachi-kun?" Gintoki mulai berkicau dan bertanya pada cowok megane yang ia sebut Shinpachi. Shinpachi mengangguk, "Iya Gin-san, dia benar-benar berkata dua kali, ah gawat."

"Makanya, aku harus menakhlukannya tanpa meminta tolong, aru.." Kagura duduk di sofa dan memangku kedua lututnya kemudian membenamkan wajahnya. "Ah tapi Kagura-chan. Kemarin aku melihat Okita-san sedang berduaan dengan seorang wanita," Shinpachi berkata sembari duduk di samping Kagura. "HAH?! Jangan-jangan dia sudah punya pacar yang asli, aru?!" Shinpachi mengangguk. Gintoki mengupil. Kagura menjambak-jambak rambut oranyenya frustasi.

"Tunggu. Walaupun ia punya pacar, ia tak akan bisa menolak my nice body, aru," Kagura berkata sembari bergaya ala model majalah 18+ dan malah mendapat tendangan dari Gintoki dan Shinpachi. "OIIII! Kagura-chan tenangkan dirimu.. sebenarnya, badanmu itu yeah seperti.. kau tahu itu.." Kagura sudah kembali menunjukkan wajah '(-_-)' akibat menunggu perkataan Shinpachi, "..seperti anak-anak," dan muncratlah darah dari mulut dan hidung Shinpachi akibat bogeman Kagura.

"Aku punya ide. Kemarikan telinga kalian berdua," Gintoki tiba-tiba berkata sebagai penengah. Kagura dengan polosnya memegangi telinganya dan mencopotnya, "Nih, Gin-chan," katanya polos sembari memberikan telinganya ke tangan Gintoki. Mata Gintoki dan Shinpachi masuk zona dark-shadow. Shinpachi membuat tatapan ke arah Gintoki yang berarti 'Gin-san-dia-benar-benar-sudah-tak-waras' dan Gintoki pun mengangguk, "TELINGA NDASMU!" Teriak Gintoki sembari menjitak kepala Kagura.

...

...

...

..

.

Gadis ala China—bukan. Gadis itu sekarang sungguh fashionista. Tidak salah seharian kemarin ia menghabiskan waktu bersama lelaki bersurai silver dan lelaki ber-megane hanya untuk mengubahnya agar tampil cantik. Kali ini gadis tersebut tengah berdiri di depan markas Shinsengumi, tempat dimana tinggal seseorang yang mengisi hatinya—AKH!

"Mengisi hati, NDASMU! Ulangi lagi. Jangan jadi narrator payah, aru," gadis tersebut malah menonjok narrator yang 'menurutnya' salah mengucapkan naskah.

Oke, balik lagi..

Gadis itu baru menunggu selama dua jam. Tapi ia sama sekali belum berkenan untuk memencet bel pintu masuk Shinsengumi tersebut. Surai oranyenya kini tampak memanjang dan menggelombang dengan indah akibat wig rambut. Ia kini sudah memakai pakaian casual, bukan kimono dan bukan yukata, melainkan baju zaman 2014. Wajahnya yang diberikan sedikit polesan membuat wajah chubby-nya semakin imut.

"Patsuan, kau mendengarkanku? Roger," tampak seorang lelaki berambut silver—namun rambutnya bergaya afro—tengah memberikan sinyal kepada seseorang yang ia sebut Patsuan.

"Yeah, Gin-san, aku mendengarmu, roger," lelaki ber-megane—namun megane-nya kali ini terlihat seperti megane yang dipakai untuk menonton bioskop 3D—membalas sinyalnya kepada seseorang yang ia sebut Gin-san.

Daijoubu da. Gin-chan ada di semak-semak dan Shinpachi ada di atas pohon. Aku hanya perlu memencet bel ini dan keluarlah si baka sadis itu.. yah Kagura, kau hanya perlu memencet tombol merah ini.. ah, aku putus asa.. aku tak bisa memencet bel ini?! Padahal aku hanya mau terlepas dari perjodohan abad 12 itu..

"Sepertinya Kagura benar-benar tak mau memencet tombol itu, 'kan Shinpachi-kun? roger," Gintoki memberi sinyal kembali kepada Shinpachi.

"Yeah, Gin-san, dia tidak mau, jadi bagaimana? Roger," Shinpachi membalas sinyal.

"Biar aku yang urus, roger," jawab Gintoki sembari memungut kaleng bekas dan melemparnya ke kepala Kagura dengan kekuatan maximal, "OIIIII! Apa saja yang kau lakukan selama dua jam ini, hah?!" Gintoki benar-benar tak sabaran oleh sikap Kagura yang membuatnya kesemutan.

"Gomenne, Gin-chan.." Kagura memegangi kepalanya yang terkena lemparan kaleng bekas itu dan kembali menghadap pintu masuk markas Shinsengumi. Gintoki pun kembali masuk ke area persembunyiannya. Tangan Kagura sedikit bergetar—ah tidak, sangat bergetar sampai seperti orang yang hendak terbang.

"OI?! Apakah Kagura-chan akan baik-baik saja?!" Shinpachi heboh sendiri hingga tak sengaja berdiri dan—yeah terpeleset, namun tidak sepenuhnya terjatuh.

Kembali ke Kagura. Ia masih bergetar. Ia menutup matanya dan memegang lengan bawah tangan kanannya dengan tangan kirinya agar bisa meredam getaran tangannya.

"Oi.. ada yang bisa dibantu?" Suara itu.. SADIS?! Kagura membatin. Di dalam batinnya ia meronta-ronta. Ah, ia enggan berbalik untuk melihat wajah itu. Sangat tak ingin. "Kalau ada yang bisa dibantu, silahkan tinggal bilang," tangan kekar lelaki itu berhasil membalikkan tubuh Kagura. Kagura memang sudah menghadap lelaki itu, tapi ia tak menatapnya, melainkan menunduk yeah bisa dibilang menatap tanah. Bodoh, mengapa aku jadi malu seperti ini? Mengapa aku seperti gadis yang mau menyatakan cinta, aru? Begitulah batinnya Kagura.

Tangan kanan lelaki itu memegangi tengkuk wajah Kagura dan mengangkat wajah Kagura agar mau melihatnya—namun sangat extreme—wajah Kagura menengadah seutuhnya, SEUTUHNYA! Lehernya hampir copot. Kagura mencolok kedua mata lelaki itu dengan jari telunjuk dan tengahnya.

"HORA! Oi teme, apa kau tak tahu betapa sakitnya leherku, HUH?!" Kagura malah mau mengajak berantem orang yang sudah tepar di tanah sembari memegangi kedua matanya dan berguling-guling akibat kesakitan. Lelaki itu bangun, "Kau yang teme. Mataku sakit keduanya, bodoh!" Lelaki itu hanya menampakkan sebelah mata merahnya.

Shinpachi dugem di pohon. Ia benar-benar tak percaya kalau Kagura dan lelaki itu bisa berantem di saat-saat seperti itu, "Ah Kagura-chan, mungkin kau salah target," Shinpachi benar-benar dibuat jadi kalem.

Gintoki dengan polosnya kembali melempar Kagura dengan kaleng bekas. Kagura langsung ingat apa tujuan ia ada di sana.

Lelaki berparas shota itu langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan obat mata ins*to supaya matanya tidak perih lagi, "Kau ada di depan markas Shinsengumi. Jadi ada masalah apa kau disini?" pertanyaan terlontar dan Kagura membisu. Ia tak tahu harus menjawab apa. Keringat dingin tiba-tiba mengucur deras dari tubuhnya. Wajahnya juga menunjukkan kalau ia was-was. Eh, tunggu dulu. Jangan-jangan, si sadis ini tak kenal aku? Akibat pemikiran yang tak sengaja lewat itu pun, Kagura bisa memulai pembicaraan.

"Kau tak ingat padaku?" Kagura bertanya sesuai pemikirannya barusan. Lelaki shota itu menatap Kagura datar dan berkata, "tidak," perkataannya sama datarnya dengan wajahnya. Kagura langsung tertawa. Tawa BAHAGIA. Ia tertawa sekencang mungkin. Tiba-tiba buah mangga masuk ke dalam mulutnya membuat ia tersedak. Dengan air mata yang bercucuran—tentunya karena tersedak—Kagura melihat ke arah atas. Oh, Shinpachi tengah menatap Kagura dengan tatapan 'jangan-membuang-banyak-waktu'.

Gawat, setelah pertanyaan 'kau tak mengingatku,' tak ada lagi sesuatu topik yang mengganggu pemikiranku. Bagaimana ini..

"Memangnya kita pernah kenal? Kau siapa?" pertanyaan lelaki sadis itu langsung membuat pemikiran Kagura connect, "A..aku—ehkm. I'm is your girlfriend a long time ago," Kagura dengan bangganya melontarkan bahasa elien. Membuat lelaki shota dihadapannya menatapnya datar seperti '(-_-)'. Gintoki speechless di tempat. Ia menepuk jidatnya dengan tangannya sendiri. Berbeda dengan Shinpachi yang menepuk jidatnya dengan pohon yang tengah ia naiki.

"Gawat Gin-san, kalau begini caranya, Okita-san akan ilfeel ke Kagura, roger," kali ini Shinpachi lah yang mengirim sinyal.

"Sepertinya memang begitu, Shinpachi-kun. Kalau begini, its time for hero," aba-aba itu berhasil membuat Shinpachi tertegun kemudian melompat turun dari pohon. Gintoki pun keluar dari semak-semak dan dengan gesitnya ia membawa Kagura bagaikan sandera.

"Yo, bocchan. Gadismu cantik juga.." dengan suara yang dibuat beda dengan suara miliknya, Gintoki menyandera Kagura, "Kami tidak perlu gaya sok pahlawanmu sekarang. Kami hanya ingin kau mengaku. Apa yang kau pikirkan tentang dia?" kali ini Shinpachi yang bersuara.

Lelaki shota itu hanya mendengus kemudian membuat wajah yang menjijikkan, "Dia sangat menyebalkan.." Kagura langsung melempar sepatu high heels-nya ke arah lelaki itu namun tak kena, "Sangat menyebalkan," lanjut lelaki shota itu sembari memasuki markas Shinsengumi.

Kagura langsung berteriak, "Kau yang menyebalkan!" lelaki shota itu dengan spontan mengambil langkah mundur dan berkata, "Dan dia sangat berisik," senyuman langsung mengembang di wajah lelaki itu.

"DIAM KAU SADIST BASTARDD!" Kagura akhirnya membuka identitasnya. Gintoki dan Shinpachi tak sempat menutup mulut Kagura dan mereka bertiga hanya berpikir, gawat, kalau begini ketahuan deh..

"HAH?! JADI ITU KAU?!" lelaki shota itu langsung berhamburan ke arah Kagura sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kagura.

"Ohisashiburi danna, Kaguracchi," are? Mereka tak salah dengar 'kan? 'cchi'?

Yosh! Itu bisa jadi pemikiran yang bagus! Aku hanya perlu teriak 'Diam kau sadist bastard' dan semuanya akan sama seperti pemikiranku. Anak sadis seperti dia pasti akan bertindak seperti itu—ittai!

Ternyata Gintoki menjitak kepala Kagura, "Seperti itu, ndasmu! Dia gak akan mungkin mau melakukan hal seperti itu. Oi, Shinpachi, kau yang urus Souchiro-kun itu," Shinpachi mengangguk namun laki-laki shota itu tiba-tiba mengambil langkah mundur dan kembali menampakkan diri ke hadapan trio Yorozuya itu.

"Souchiro janai, Sougo desu."

...

...

...

..

.

Keadaan trio Yorozuya sudah seperti makanan ikan. Mereka diikat dengan badan menghadap ke bawah. Silahkan re-watch episode 20 saat mereka semua ketahuan bukan pengusir hantu melainkan Yorozuya.

"Oi Souchiro-kun, mengapa kau mengikat kami?" tanya Gintoki kepada lelaki yang menyebut dirinya Sougo.

"Benar itu sadis, mengapa kau mengikat kami, aru?" Kagura ikut-ikut. Sougo langsung melepaskan mereka semua dan berjalan, "Kalian pergilah. Shinsengumi adalah orang sibuk, tidak seperti kalian yang membuat drama di depan markas," ucap Sougo datar membuat muncul empat sudut siku-siku di kepala Kagura, "Oi teme—hmph," mulut Kagura langsung dibekep oleh Gintoki.

"Hah?" Sougo merasa ter-notice(?). Gintoki dan Shinpachi langsung menggeleng. Sougo pun kembali berjalan.

Gintoki melepaskan bekep-annya, "Oi!" dan menjitak Kagura terlebih dahulu, "Kau tak ingin menakhlukkan hatinya, 'kan?" Gintoki berkata semacam ia sudah muak dengan drama percintaan antara vampire dan werewolf. Kagura menunduk, "Mau bagaimana lagi. Dia benar-benar menjengkelkan, aru."

Shinpachi merasa terkesan oleh Kagura yang tetap ingin berusaha, "Maa, Gin-san, tak usah memarahinya terlalu dalam. Kita semua tahu kalau ini akan sangat sulit, oleh karena itu, mari kita lanjutkan misi-penakhlukkan-souchiro-kun!" Shinpachi berkata dengan berapi-api—ia sangat semangat membantu Kagura.

"Shinpachi," Kagura menatap Shinpachi dengan mata berkaca-kacanya. Ia hendak mengatakan sesuatu kalau tak dipotong oleh, "Sougo desu."

Mata trio Yorozuya sudah masuk ke dalam dark-shadow lagi. Mereka tak tahu harus berkata apa melainkan berpikir, ah tidak! Anak itu datang saat kami sedang membicarakan tentang penakhukkannya. Gawat! Bisa-bisa ia tahu semuanya.. begitulah pikiran absurd mereka.

"Ah, Souchiro-kun, sejak kapan kau ada di sana?" Gintoki melontarkan pertanyaan dengan wajah yang dibanjiri keringat dingin pertanda takut. Sougo tampak berpikir, "Hmm.. sepertinya baru 20 detik," dan trio Yorozuya itu langsung menghitung kalimat dibawah:

So u go de su. Ma ta tri o Yo ro zu ya su dah ma suk ke da lam

Akhirnya mereka berpikir lagi, kami terselamatkan..

"Ano, Sadi—O..oki..okita?" Kagura sepertinya sangat susah payah hanya untuk mengatakan kata 'Okita'. Namun, Sougo malah tertawa, "Sejak kapan kau memanggilku dengan namaku, China?" Kagura langsung memegang wajah Sougo dan melemparnya persis seperti adegan di episode 77.

"Are? Episode 77 kah ini?" Gintoki mulai mengucurkan keringat dingin. Ia langsung memegang kerah baju Kagura, "Oi Kagura. Kalau kau memang sebenci itu padanya, kita cari saja orang lain," Kagura menggeleng, "Kalau aku bisa menakhlukkannya, mungkin sangat menyenangkan, HUAHAHA."

"Gin-san, rasanya Kagura-chan benar-benar membenci Okita-san," Shinpachi sudah berkeringat dingin sembari menunjuk Kagura yang sudah seperti monster. Gintoki hanya mengangguk tak percaya.

"Apa yang kau lakukan, China?" Sougo langsung berjalan menuju Kagura dan menempelkan keningnya di kening Kagura seperti mau mengajak berantem, "Ah, ano, ja-jangan me-menempelkan ke-ke-keningmu seperti i-itu, i-ini me-membuatku ma-malu," Kagura berkata diselingi oleh blushing dan kata-kata itu sukses membuat Sougo tertegun sejenak, namun..

"LIKE A HELL I WILL SAY LIKE THAT!"

Badannya kembali dilempar oleh Kagura dengan sadisnya.

TBC, teme..

Kayak chapter kali ini hancur banget. Tadinya mau buat yang romance. Tapi ntar Kagura nya perfectly bakalan OOC banget. Yah jadinya like usual mereka akan seperti tom and jerry. Tapi jangan khawatir ya yang pecinta OkiKagu. Chapter selanjutnya do'ain aja Kagura-nya akan serius menakhlukkan hati sang sadis supaya dia nggak dinikahin sama baka oji XD. Berhubung soal date-nya Kagura dan baka oji, kayaknya bakal ada di chapter depan atau chapter selanjutnya lagi. Pokoknya nggak akan lama kok. Yah kayaknya gitu aja.

MINTA RIPIUW NYA SENPAI!

~LFN~

Oshiete!

Ginpachi-sensei!

"Ciaossu, fanfict abal ini mendapatkan dua review. Yang sabar ya, elien-san," celetuk guru berjubah putih—yang tengah memegangi dua buah amplop—itu kepada seorang elien yang tengah pundung di pojokan. Elien tersebut kemudian melihat ke arah kamera lalu tersenyum miris, "Oh, hai. Aku Ayuha. Terimakasih ya yang sudah menyempatkan untuk me-review walaupun malah lebih sedikit dari yang kemarin," katanya lalu kembali pundung.

"Yosh, biarkan saja dia merenungi nasibnya di sana. Oke, kita beralih ke surat pertama. Dari 'LalaNur Aprilia'-san. 'gomenne kagak log-in *bows* Pfftt... akhirnya ada scene Otae dan Kondo-san muncul. Jujur, setiap kali Otae-san ngegibeng Kondo-san itu adalah scene fav saya di Gintama :v *di-seppuku* Ppftt... plot twist banget itu pas Okita nganterin nenek-nenek nyebrang ke halte. Ehtapi Shinpachi gak jadi nebas Okita kan? #dilindes. Apdeeet... ponponpon #plakplak'. Kali ini saya akan membiarkan elien-san yang menjawab semuanya. Silahkan waktunya, elien-san," Lelaki berambut silver itu pun mempersilahkan elien tersebut agar bisa menyempatkan waktunya di sana(?).

Kamera pun menampilkan wajah elien yang suram, "Hai, 'LalaNur Aprilia' -san, arigatou buat review-nya! Woles aja keleus walau gak log-in juga.. Otae-san sama Kondo-san kayaknya nggak akan terlalu banyak keluar deh(?) Eh, twist? Ahahahaa.. Gak jadi kok, Shinpachi keburu pingsan di tempat gara-gara gorilla terbang itu. Sudah apdet ya.. Oke, kembali ke Ginpachi-sensei," Kamera pun beralih menuju wajah lelaki yang tengah mengemut permen yang tampak seperti rokok—Ginpachi-sensei—tersebut.

"Oke, pertanyaanmu sudah terbalaskan. Review yang kedua atau yang terakhir, dari 'soralove45'-san. 'Yuhuuu, thanks udah masukin nma sya diujung tanduk(?) Hahaha. Tapi scene okikagunya banyakin lagi yah :3 Oh ya,btw, itu yg ceritanya yg dijelesin di chap1, yg mereka jadi anak sekolahan itu kayaknya bakalan seru deh! Jadi pengen baca! XD *plakk. Okee lanjut chap 3 yah'. Silahkan dijawab, elien-san," Ginpachi-sensei langsung mengalihkan kamera dari dirinya menuju elien yang tengah meratapi nasibnya.

"Arigatou review-nya, 'soralove45'-san. Ah, memasukkan nama anda adalah hal yang membuat fict ini keren(?). Btw, sama-sama. Sip sip sip oke, ntar dibanyakin kok :3 Oh soal ide itu xD aku gak tauu nih mau ngebuatnya atau nggak, soalnya Sougo muka-muka orang yang nggak pinter /dibazooka Sougo/. Sudah lanjut yaaa," Kamera kembali menampilkan wajaha Ginpachi-sensei.

Ginpachi-sensei menunjuk ke arah kamera sembari berkata, "Jangan pernah lewatkan kelanjutan fict gorilla ini. Okay, sampai jumpa di 'Oshiete! Ginpachi-sensei!' di next chapter."

Layar kembali memperlihatkan elien yang tengah menundukkan wajahnya.

"Hai."

"Jangan lupakan fict-ku ya."

"Sampai jumpa next chapters ya."

Dan layar pun berubah menjadi hitam.