.
.
.
Hana Yori Dango 3
THE NEXT GENERATION
.
.
.
Disclaimer
Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,
sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.
Written by ButaTokki and CamsaHead
Translated by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 3
Sasuke tidak menunggu Sai, dia menyerbu ke dalam mobilnya dan dengan cepat memerintah supir untuk mengantarnya pulang. Dia memang marah, tapi lebih dari itu dia terluka. Apa sih yang terjadi dengan Naruto?! Dari semua orang Naruto! Sial, Naruto sudah seperti saudara baginya dan dia membawa-bawa omong kosong ini. Apa-apaan. Kenapa semua orang yang penting dalam hidupnya selalu menyakitinya. Ketika mobil tiba di rumahnya, dia langsung melangkah masuk. Tidak repot-repot memberi salam, tidak repot-repot untuk peduli. Dia tahu sekarang ayahnya tidak di rumah dan dia punya amarah yang besar untuk dilampiaskan kepada wanita itu! Dia berjalan langsung ke kamar wanita itu dan langsung ke tempat tidurnya... dia masih tidur.
"Aku membencimu." Dia menatap marah ke arahnya. "Aku harap kau mati saja!" katanya datar. "Mengapa kau tidak mati saja!"
Air mata menggenang di matanya. Dia sudah mendengar dari ayah Sasori dan bahkan ayah Naruto. Seandainya ibunya meninggal, Fugaku mungkin akan lebih menghargainya dan tidak terobsesi dengan ide bahwa istrinya akan bangun. Dia membencinya, semua adalah salahnya.
"Aku membencimu!" Dia meneriakkan itu, air mata akhirnya jatuh dari matanya tetapi ketika dia memandang ibunya dia merasa bahwa kemarahannya digantikan oleh rasa kesepian. Sasuke mengulurkan tangan dan meraih tangan ibunya. "Aku membencimu…" Dia berbisik lirih… tetapi dia pun tahu dia tidak sungguh-sungguh.
.
.
#The Next Generation#
.
.
Sakura berjalan menuju kantin ketika tiga orang siswa menghentikannya. Sejauh ini kartu merah tidak memengaruhinya. Biasanya, siswa lain akan mengerjainya sekarang tetapi penerima beasiswa sepertinya diperlakukan istimewa oleh Uchiha Mikoto sehingga Sakura tidak menyangka bahwa seorang siswa akan melakukan hal berbeda.
"Hanya karena kau istimewa bukan berarti kau bisa membuat Sasuke-sama marah tanpa mendapat hukuman apapun," kata gadis yang berdiri di tengah.
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang membuatnya marah," jawab Sakura, mencoba menjaga emosinya. Dia sudah cukup terlibat drama hari ini.
"Jangan berlagak tidak bersalah!" Gadis di sebelah kiri berkata dan mengangkat tangannya untuk memukul Sakura ketika Naruto menahannya tepat waktu.
"Murid beasiswa seharusnya dihormati." Dia berkata dengan suara rendah, "atau kau sudah lupa aturan yang dibuat kepala keluarga Uchiha sendiri?" Naruto melepas tangannya dan ketiga anak perempuan itu pergi tanpa berkata apapun. "Kelihatannya aku selalu menyelamatkanmu dari sesuatu." Naruto berkata dan tertawa seperti bercanda dengan diri sendiri.
"Dan aku berterima kasih. Tapi kenapa?" Sakura bertanya, rasa penasaran memenuhi pikirannya. Naruto tersenyum, tangannya meraih rambut Sakura dan menyelipkannya di belakang telinganya. Sakura merasa seluruh tubuhnya bergetar karena tindakan sederhana dan tanpa maksud itu—atau seperti itulah yang dia pikir. Naruto memandangnya, punggung tangannya mengusap wajah Sakura dengan lembut.
"Bukankah sudah jelas?" Dia bertanya lembut, mengambil satu langkah maju hingga ia menjulang di hadapan Sakura, menaklukkannya, tetapi Sakura bukannya merasa terintimadasi malah terlindungi dan terpesona sepenuhnya.
"Tidak…" Dia berkata tersendat meskipun dia punya firasat bahwa dia tahu apa yang sedang terjadi. Naruto nyengir—seperti orang idiot, yeah— tetapi dia nyengir.
"Aku menyukaimu." katanya.
"AH! Nah, lihat, tidak bisakah kau bilang saja begitu." Sakura dan Naruto melompat setinggi tiga kaki dan terpisah enam kaki saat mendengar suara Sasori. "Itu bisa menolongku agar tidak was-was mencoba menebak apa yang sedang kau perbuat!" katanya sedikit kesal sambil menyeringai ke arah Sakura dan Naruto.
"Ap-apa? Apanya yang perbuat? Apa kau sedang berbuat sesuatu, Naruto?" tanya Sakura, mulai mengoceh dalam kepanikan.
"A-aku—"
"Aku tahu kau tidak melakukan apapun, kan? Apa maksudmu dengan 'perbuat'?" Sakura berkata dan tersenyum ke arah Sasori dan Sai yang datang di belakangnya.
"Kau tidak perlu menyembunyikannya," kata Sai, berjalan ke hadapan mereka berdua.
"Jadi Naruto, karena sekarang dia pacarmu, bolehkah aku mempermaknya?" tanya Sasori.
"Aku bukan pacarnya!" Sakura menolak.
"Belum," goda Sai.
"Tinggalkan kami sendiri, teman-teman," kata Naruto, mencoba terdengar memaksa tetapi rona di pipinya menggagalkannya.
"Akan semakin sulit untuk menenangkan Sasuke." Sasori berkata dan mendesah.
"Jangan bilang apa-apa padanya." Naruto berkata padanya.
Dia masih belum yakin dengan apa yang akan dilakukannya. Dia tidak ingin menghianati temannya… tetapi dia tidak mau Sasuke terus mencoba menyakiti Sakura. Sasori dan Sai mengangguk dan mulai berjalan menjauh, mereka berbicara lirih antara mereka sendiri seperti yang biasa mereka lakukan.
"Dia akan membenci ini." Sai mendecakkan lidahnya dan berhenti berjalan ketika mereka cukup jauh dari pendengaran Naruto dan Sakura tapi masih bisa mereka lihat.
"Aku bisa memikirkan ada lebih dari satu alasan mengapa dia membenci ini," kata Sasori, berbalik melihat Sakura.
"Yeah aku melihatnya juga." Sai setuju dan berbalik menghadap Naruto dan Sakura juga.
"Firasat buruk, dejavu," kata Sasori pelan.
"Mikoto-chan yang biasa menceritakan kisah itu kan?" Sai bertanya, merujuk ibu Sasuke. Sasori mengangguk. "Sasuke akan memutus sekringnya," kata Sai.
"Dia sudah memutus sekringnya, sekarang semuanya akan meledak."
"Um… apakah itu benar?" Sakura bertanya kepada Naruto.
"Kenapa kau berbisik? Mereka tidak bisa mendengar kita." Naruto berkata dan tertawa.
"Ah," Sakura berdeham kemudian bertanya lagi, "Apa itu benar?"
"Ne, datanglah ke rumahku besok. Ada pesta," kata Naruto, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Sakura.
"Eh? Pesta? Untuk apa?" Sakura bertanya.
"Besok ulang tahunku," jelas Naruto.
"Ah! Tapi… aku tidak yakin akan cocok di keramaian itu dan—,"
"Akankah aku melihatmu di sana?" dia menginterupsi Sakura, membungkuk dan condong ke depan, wajahnya hanya beberapa inci dari Sakura.
"Ba-baiklah." Sakura berkata tanpa berpikir karena jantungnya berhenti sejenak.
"Bagus," katanya, tersenyum. Setelah itu dia berbalik dan berjalan menjauh. Dia telah memutuskan. Kali ini, tidak seperti ayahnya, dia sungguh-sungguh akan mendapatkan gadis yang dicintainya.
.
.
#The Next Generation#
.
.
Pestanya, di mana banyak orang-orang kaya berkumpul, sangat spektakuler. Tidak ada yang tidak glamor dalam kehidupan papan atas, semuanya seolah ada dalam dongeng, dan pangeran tampan barada dalam radar semua orang. Dia adalah pusat perhatian, bahkan ayahnya lebih perhatian dibanding biasanya dan Naruto suka itu. Matanya melirik ke arah teman-temannya, Sasuke adalah satu-satunya orang yang nampak seperti diseret ke dalam pesta dan Naruto tidak terkejut jika si hebat Uchiha Fugaku memang melakukannya, karena Naruto ragu Sasuke sudah memaafkannya, tetapi dalam momen itu dia tidak begitu tertarik apakah temannya telah memaafkannya… dia sedang cemas…
Dia akan datang, dia yakin gadis itu akan datang, dia hanya perlu menunggu. Di sini, di depan semua orang, di depan ayahnya dia akan menjadikan Sakura pacarnya, di sini dia akan menunjukkan kepada ayahnya bahwa dia adalah orang yang lebih berani dan kuat daripada dia, di sini dia akan memberi Sasuke alasan untuk melepaskan Sakura. Takdir telah memberinya kesempatan dan dia akan melangkah ke dalamnya.
"Well, akhirnya!" Sasori berkata ketika dia melihat Sakura muncul. Dia berdiri di pintu masuk bersama Sai.
"Apa?" tanya Sakura.
"Aku telah menunggumu!" Sasori berkata padanya dan meraih tangannya.
"Dan kau benar, Sasori. Dia memakai jins," Sai berkata dan tertawa.
"Apa? Aku tidak punya yang lain dan setidaknya aku memakai blus!" Sakura membela diri.
"Kau menampilkan diri ke jajaran tertinggi di masyarakat, kau tidak bisa memakai baju seperti itu," Sasori menjelaskan sambil membimbingnya ke belakang dan naik tangga yang menuju ke salah satu kamar di lantai dua.
Sakura terus memberontak di sisa jalan sampai Sasori akhirnya berhenti dan menarik sebuah kain hitam untuk memperlihatkan padanya sebuah ruangan yang penuh dengan pakaian dan aksesori glamor. Sakura menatap kagum ke sekelilingnya, belum pernah sebelumnya dia melihat lemari sebesar rumahnya… atau begitu banyak dan bermacam-macam potong pakaian dalam satu tempat. Lemari itu sesungguhnya terdiri dari dua tingkat. Di lantai atas Sakura menemukan gundukan sepatu, dia hanya berkedip menatapnya. Dia menemukan dirinya tak mampu berkata-kataa; gadis yang memiliki lemari ini pasti tidak pernah kehabisan pakaian untuk dipakai.
"Kau suka lemariku." Sasori bertanya, pertanyaan yang membuat Sakura menoleh begitu cepat.
"Lemarimu?!" dia bertanya bingung dan Sasori menatapnya bangga. Sakura mengedarkan pandang lagi… lemari ini terisi dengan pakaian wanita. Pemahaman mendadak muncul di benaknya.
"Tidak heran," katanya memandang Sasori, sekarang Sasorilah yang tidak mengerti dengan ekspresinya. "Itu menjelaskan kenapa kau tak pernah dekat dengan perempuan… kau terjebak di dalam lemari."
Pipi Sasori menyala merah karena malu dan dia memukul bagian belakang kepala Sakura.
"Aku BUKAN GAY!" Dia berkata jengkel, menatap Sakura sebentar. "Aku perancang busana! Tetapi aku bukan gay!"
Sakura menatapnya. "Apa kau yakin?"
"POSITIF!"
Sakura mengangkat tangannya menyerah. "Maaf, salahku," katanya lembut, tetapi sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya.
"Turunan neneknya, dia punya… bakat dalam fashion," Sai berkata dan tersenyum, menahan tawa.
"Kita sudahi ini, aku BUKAN gay," kata Sasori dengan tatapan mematikan untuk mereka berdua.
"Oke, oke," kata Sakura, mengangkat kedua tangannya menyerah. "Jadi, mengapa lemarimu ada di rumah Naruto? Dan mengapa aku di sini?" tanya Sakura.
"Aku memindahkan lemariku sementara ke sini spesial untukmu karena KAU akan jadi model malam ini," kata Sasori dan rasa bangga kembali kepadanya.
"Apa?" Sakura bertanya, lalu menggigit bibirnya, menyadari dia berteriak.
"Dengar, Naruto punya alasan mengundangmu dan alasannya sepertinya besar dan aku tidak akan membiarkanmu tampil dengan pakaian seperti itu," kata Sasori kemudian memutar mata tidak sabar. "Jadi masuk ke sana dan lepaskan pakaianmu dan pakai apapun yang aku berikan atau aku AKAN membakar rumahmu," perintahnya sambil mendorong Sakura ke ruang ganti.
Sakura terhuyung-huyung ke ruang ganti, hampir saja menabrak dinding. Dia memandang sekeliling, ada cermin di mana-mana. Dia bergidik sedikit, hal terakhir yang dia inginkan adalah berada di ruangan dengan cermin 360 derajat di mana dia bisa melihat segalanya dengan jelas.
"Ini,"
Tangan Sasori muncul melalui pintu dan mengejutkannya sedikit. Dengan ragu dia mengambil gaun itu. Itu terbuat dari sutra… dia tak pernah memegang sutra asli sebelumnya. Dia memandang sekeliling sejenak, merasa sedikit tidak nyaman sebelum memutuskan bahwa ini tindakan terbaik atau Sasori akan membakar rumahnya. Seraya melepaskan pakaiannya dia menunduk, menolak melihat tubuh setengah telanjangnya di cermin, memakai gaun tersebut sambil mendesah. Ketika dia melangkah keluar ruang ganti, Sai dan Sasori tersenyum padanya.
"Aku tahu gadis tomboy bisa terlihat manis," Sasori berkata dan menyeringai.
"Aku TIDAK tomboy," Sakura mengelak namun diabaikan oleh Sasori yang sekali lagi mendorongnya. Kali ini menuju kursi di depan meja yang penuh dengan make-up. Satu-satunya make-up yang bisa Sakura gunakan adalah lip gloss sehingga dia tidak mengerti kegunaan yang lainnya. Cermin lain ada di depannya, kali ini 180 derajat mengitari wajahnya dan dia kembali merasa was-was.
"Kami akan memakaikan make-up cerah yang membuatmu cantik alami dan lebih baik daripada ini," kata Sasori, mengambil benda yang Sakura tak tahu namanya.
"Jadi kau tahu tentang make-up juga," kata Sakura dan tersenyum menggoda kepada Sasori, yang melotot dan berkata "Aku BUKAN gay," sebelum memakaikannya make-up.
Sakura benar-benar duduk diam dan beberapa saat kemudian Sai berkata, "Namamu sungguh bagus. Sakura. Seperti bunga kebanggaan Jepang."
"Kita lihat saja apa kau bisa mengubah masa depan kami," Sakura mendengar Sasori bergumam dan ketika dia bertanya apa maksudnya, Sasori tidak menjawab. Setelah beberapa tatapan menusuk lagi dari Sasori mengenai kecenderungan seksualnya setelah dia mulai mendandani rambut Sakura, dan beberapa sumpah aneh dan ucapan meyakinkan bahwa dia, Sasori, sepenuhnya heteroseksual, transformasi Sakura selesai dan dia tampak seperti malaikat.
Gaunnya, dengan warna yang ironis, adalah sehelai sutra putih yang lembut. Gaun itu melingkari lehernya, mengangkat dadanya dengan sempurna, meninggalkan kesan lekuk V dan menempel ketat di tubuhnya sebelum menjadi sedikit longgar di pinggangnya, dan meluncur turun hingga ke lututnya. Sasori menonjolkan wajahnya dengan make-up, pink cerah dan putih, dengan eyeliner hitam yang memberinya kesan angelic. Sepatu hak tingginya yang berwarna silver memberi kesan gemerlap dan rambutnya dikeriting. Dia terlihat cantik.
"Mm… bahkan aku bisa jatuh cinta padamu saat ini," kata Sai, mendekati Sakura yang sedang menatap dirinya sendiri di cermin. Sai mendekat dan membelai pipi Sakura yang mana membuat Sakura meninju wajahnya.
"Apa yang kau lakukan?! Dia pingsan!" kata Sasori, terkejut.
"Itu refleks!" Sakura membela diri.
"Apa? Jadi kau mau bilang padaku jika Naruto mencoba melakukan sesuatu padamu, kau akan memukulnya?!" tanya Sasori.
"Tidak… Sai berbeda," kata Sakura.
"Ah, well, dia bisa menyusul nanti. Sekarang Naruto sedang menunggu," kata Sasori, menuntunnya ke pintu.
"Eh? Kau bahkan tidak mencoba membangunkannya?" dia bertanya.
"Tidak," jawab Sasori simple.
"Wow, aku tidak tahu siapa yang paling buruk, kau meninggalkannya seperti itu atau aku yang memukulnya," Sakura berkata.
"Ini urusan pria. Sekarang keluar sana dan pergilah ke Naruto!" Sasori memerintah dan mendorongnya keluar ruangan.
.
.
.
TBC
Review please?
