HAAI

Gak nyangka kalau aku bakal sampai di chapter 4, uhuy..

Padahal aku ini termasuk author yang males nge-update cerita uvu

Ah, sudahlah. Diriku malah curcol(?)

.

.

A Gintama Fanfiction

Gintama © Sorachi Hideaki

Fanfict Love For Nothing © Ayuha

Okita Shougo x Yato Kagura

Romance – Humor (Tapi nggak yakin)

Warning : [mungkin] OOC, miss Typo(s), Gaje deh, juga disetiap pemikiran/sang karakter sedang membatin, tulisannya pasti akan di italic.

Love For Nothing

.

.

Don't like? Don't read..

Cerita sebelumnya.

Kagura pun akhirnya harus bisa menyetujui satu syarat dan satu bonus syarat; berkencan dengan baka oji dan harus memperkenalkan pacarnya sebulan kemudian. Kemudian ia bergaya ala gadis 2014 dan dibantu oleh Yorozuya. Namun, Trio Yorozuya itu malah ketahuan oleh Sougo. Saat menatap Sougo, Kagura selalu merasa sebal, sehingga ia tak bisa bergaya manis di depan Sougo. Lalu, bagaimanakah cara Kagura menakhlukkan hati seorang 'sadis'?.

~LFN~

Tangan kekar itu tengah memegangi benjol yang berada di kepalanya. Lalu ia bangun setelah kepalanya ter-tubruk pohon yang menjulang hingga pohon itu pun roboh—tentunya akibat kerasnya tubruk-an di antara ia dan pohon tersebut.

"Ah," lelaki itu mengelus-elus benjolnya lalu menatap gadis yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya sambil tersenyum penuh kemenangan dan menatapnya dengan tatapan 'kasihan-sekali-kau'.

Lelaki itu masih sabar.

"fuuuu~" gadis itu pun menutupi mulutnya dan langsung ber-fuuu ria.

Empat garis siku-siku muncul di wajah lelaki sadis itu.

"Oi, teme! Maksudmu apa, hah? Kenapa kau datang kemari dan malah membuat kepalaku ada benjolan begini, hah?!" lelaki itu berteriak-teriak di depan gadis itu. Gadis itu langsung menurunkan tangannya—yang tadinya menutupi mulutnya—dan berkata, "Ah, gomenne, Okita-kun, aru," laki-laki—Okita—itu pun kembali tertegun.

Okita memandangi wajah gadis fashionista itu dengan mata yang melotot tak percaya. Sebuah kata hendak ia ucapkan—terlihat dari bibirnya yang mulai membuka—namun pandangannya malah menurun—memandangi tanah.

"Sial," celetuk lelaki itu tiba-tiba. Ia langsung bangkit dan beranjak dari tempatnya duduk tadi. Gadis oranye itu memasang tampang penuh tanda tanya.

Dan tendangan menghampirinya.

"Oiiiii! Kagura-chan, apa yang kau lakukan?! AH kalau begini 'kan gawat jadinya. Kalau Okita-san jadi membencimu bagaimana?!" Lelaki ber-megane itu langsung masuk ke zona tsukkomi-nya lagi.

"Cih," gadis—Kagura—itu mendecih sejenak, "Aku tidak melakukan apapun, aru," jawabnya tak berdosa. Lelaki berambut silver itu langsung menjitak Kagura, "Ah sudahlah, kita hentikan ini semua. Lagian hari ini baru hari pertama. Masih ada dua puluh sembilan chapters lagi, 'kan Patsuan?" Lelaki silver itu bertanya pada sosok lelaki berkacamata.

"Oiiiii! Apa-apaan dengan dua puluh sembilan chapters lagi?! Yang ada nanti para readers akan bosan dan tidak tertarik untuk membaca fanfict ini! Kasihanilah elien-san itu! Kalau readers bosan dan elien-san tidak mendapatkan review, dia pasti menyudahi fanfict ini di chapter sepuluh atau dua puluh!" lelaki berkacamata—Patsuan—itu menarik napas dalam-dalam. Napasnya sudah tersenggal-senggal hanya untuk meneriaki kata-kata berusan.

Kagura pun melipatkan kedua tangannya dan mendengus sebal, "Mau bagaimana lagi. Kami 'kan memang tak pernah akur. Aku mau pulang, aru," jawabnya sembari melangkahkan kakinya.

Lelaki silver itu juga mulai melangkahkan kaki. Dan Patsuan hanya bisa tersenyum getir di tempat. Gawat, tak ada yang menganggap omonganku barusan. Ah, elien-san, maaf. Tak ada yang tertarik denganmu. Batinnya Patsuan membuat elien-san yang 'hanya' kedapetan scene di 'Oshiete! Ginpachi-sensei!' pun kembali mojok dengan aura hitam yang semakin menebal.

Patsuan pun mengikuti langkah kedua rekan satu timnya tersebut. Mereka tiba-tiba berhenti berjalan ketika melewati kolam yang berwarna kuning.

Wajah mereka semua sudah cemas.

Mundur seribu langkah pun mereka lakukan.

Tiba-tiba sesosok lelaki berambut hitam keluar dari kolam tersebut—tampak sedang berendam. Tubuh kekarnya sangat terlihat mencolok dikarenakan banyak cairan kuning yang menempel di tubuhnya. Ia hanya telanjang dada, begitu-begitu ia masih tahu diri, kok.

Mengetahui siapa orang tersebut, laki-laki berambut silver itu langsung berkata, "He—eh, kau rupanya," lelaki yang berada di kolam itu langsung memancarkan semburat merah mendengar sebuah suara tiba-tiba mengagetkannya. Lelaki silver itu langsung memangku wajahnya dengan kepalan tangannya, "Hoo.."

Lelaki berambut hitam itu makin blushing di tempat. Ia tak berani melihat ke arah sana, karena di sana ada /s/e/m/e/-nya.

Lelaki silver itu pun membuka mulutnya, "HUAHAHA! Apa ini?! Acara mandi macam apa ini? HUAHAHA," dan tawanya pun diikuti oleh tawanya Kagura. Sementara Patsuan? Masih kicep.

Lelaki yang masih berada di kolam itu pun memalingkan wajahnya, "Cih. Ngapain kalian di sini. Bukan maksudnya aku di sini untuk berendam di air mayones, jangan salah ya!" sewot pemuda itu, dan Patsuan hanya bisa bergumam. Dasar Hijikata-san. Bukannya ia sudah mengatakan secara tak langsung kalau ia sedang menikmati rendaman air mayones itu? Tapi tunggu—. Gumamannya Patsuan terhenti.

"Hoi?! Ini Hijikata? Hijikata-san itu? Shinsengumi oni no fukucho itu?! Ngapain kau ada di sini? Mandi di ruangan terbuka seperti ini?! Memang sih kau menyukai mayones, tapi mengapa kau mandinya di kolam ikan?! Apa kau tak kasihan dengan ikan-ikan yang mati itu?!" Patsuan mode tsukkomi.

"Urusai! Damare! Aku tahu itu. Mau bagaimana lagi? Toilet hari ini penu—," perkataan lelaki—Hijikata—itu terpotong oleh, "Yo, Toshi! Hari ini rekan Shinsengumi kita sedang liburan. Hanya ada kita bertiga; aku, kau dan Sougo. Dan aku juga ingin mengajakmu libura—akh," bogeman langsung dari Hijikata. Wajah gorilla itu pun langsung bonyok, dan gorilla itu terhempas ke belakang.

Trio Yorozuya hanya bisa sweetdroop alias kicep.

"Maa, yang tenang dulu, Oogushi-kun. Kami di sini tak akan menertawakan—AHAHAHAHA!" Patsuan langsung menjitak kepala silver itu, "Kau menertawakannya, Gin-san. Mengenai hal itu, kami menganggap kalau kami tak melihatnya. Jadi kau tak perlu panik, Hijikata-san."

Perempuan oranye itu langsung membogem Patsuan, "Kau sama sekali tak keren, Shinpachi. Pantas saja ibumu memberi namamu Shinpachi, bukan Shinichi!" ledek Kagura yang membuat Patsuan/Shinpachi itu mengeluarkan empat sudut siku-siku di keningnya, "AKU TAHU KALAU NAMAKU SHINPACHI! TAPI JANGAN DISAMAKAN DENGAN SHINICHI, DONG!" dan Shinpachi berteriak like usual.

N/A: Shinpachi (yang ke delapan); Shinichi (yang pertama).

"Ekhm," Hijikata berdehem, apa orang-orang ini tak menganggap keberadaanku? Apakah hawa keberadaanku selemah Kuroko Tatsuya? Ah aku pun ingin tahu. Hijikata bergumam absurd sampai bawa-bawa nama Kuroko, dan lagi seharusnya nama Kuroko itu Kuroko Tetsuya, bukan Tatsuya. Kalau Tatsuya mah nanti dikira temennya Kagami Taiga—ah buku naskah fanfict tiba-tiba terlempar ke arahku. Dan elien-san tengah menatapku horror 'Ini-bukan-anime-Kuroko-no-Basket' ah aku yang OOT disini? KENAPA AKU YANG OOT?!

Akh, silver haired guy itu memukul kepalaku dengan buku naskah tersebut, "Oi narrator teme. Pulang sana ke ruangan pengisi suara. Apa kau tak tahu diri? Kau bukan karakter di sini. Cepatlah sana pulang," Aku tahu namanya, ia Sakata Gintoki. Heroine di Gintama. Aku mengaguminya dari kejauhan.

"Sana pulang, otoko no tama!" Gadis oranye itu, ah, Kagura. Heroine perempuan di Gintama, dan heroine di fanfict ini. Tunggu, tunggu, tunggu, 'otoko-no-tama' tuh.. 'telur-nya laki-laki.' Dan gue hanya bisa kicep di tempat.

"OIIIIIIIIIIIIII! KOK JADI KAYAK POINT OF VIEW?! BUKANNYA FANFICT INI TIDAK MEMAKAI POV?! DAN MENGAPA YANG MEMAKAI POV ITU MALAH YANG 'BUKAN' KARAKTER DI FANFICT INI?! DAN MENGAPA NARRATOR-SAN MALAH IKUTAN NGOBROL?!—akhem," Shinpachi berdehem sejenak dan kembali memperjelas kalimatnya, "Bukannya kita sudah pernah menampilkan seorang narrator yang berubah menjadi karakter di episode 161?" Shinpachi mendengus.

Ah, maaf Shinpachi, aku baru teringat. Ah aku harus bagaimana ini. Ah, aku merasa bersalah. Apa aku harus bunuh diri? Haruskah aku? Aku tak tahu harus bagaimana, ajari aku untuk mengetahuinya. Tolong aku, Tuhan, aku ingin jadi cheesecake.

"Ini narrator bener-bener ngeselin," dari raut wajahnya, Shinpachi seperti langsung tak ingin tahu tentang diriku.

Ah, baiklah, aku akan kembali menjadi narrator yang dulu. Aku berucap sembari keluar dari layar yang bertuliskan naskah dan berjalan menjauh (hint: lihat episode 161, bagian dramanya Shinpachi dkk, biar jelas).

"NANDE DAYOO?! Bukannya sudah kubilang, kalau kau meneruskannya, kita benar-benar jiplak episode 161! Apa kau tak pernah lihat Gintama?! Dan mengapa kau bergaya seperti osan? Benar-benar persis oi!" Tidak ada jawaban. Ah, narrator sudah kembali seperti semula.

"Sudahlah Shinpachi," Kagura langsung menepuk pundak Shinpachi yang rasanya sudah habis masa kesabarannya.

"Ngomong-ngomong, Oogushi-kun, apa kau tak kedinginan?" Gintoki—yang tadi di perkenalkan oleh narrator—tiba-tiba berceletuk.

"Are? Jadi kau dari tadi di situ, Mayo-freak? Sana cuci badanmu, uh bau, aru. Pantas saja bau, kau berendam di air yang penuh dengan t*ai, aru," ucap Kagura sembari menutup hidungnya, Hijikata naik darah, "Oi? Kenapa kau menganggap mayones itu ta*i?! Padahal mayones itu adalah barang yang mulia yang bisa disimpan, dimakan, diminum, dan dibuat jadi kue!" teriak Hijikata yang membuat Gintoki menutup telinganya, "Iya, iya, baiklah. Kami tak akan mengintip dan memberitahu kepada warga-warga tentang 'wakil ketua yang bertampang setan' ini sedang mandi di air yang di penuhi ta*i ini," Hijikata kembali teriak, "Bukannya sudah kubilang?! Ini mayones."

Trio Yorozuya pun kembali melangkah keluar markas Shinsengumi.

"Ah, hari ini cuma begitu? Tak ada seru-serunya," Gintoki berceletuk sembari mengorek telinganya dan meniup kotoran dari telinganya—yang ada di jarinya, "Benar itu, Gin-chan. Chapter kali ini aneh, aru," dan kata-kata kedua orang itu membuat diri elien-san semakin sedih.

"Maa, jangan begitu, Gin-san, Kagura-chan," Shinpachi masih membela elien-san.

"Akhirnya ketemu juga kalian!" SIIILLAAUUU! Dan narrator pun tak kuat membaca naskah akibat silauan kepala kinclong itu.

"Ah, papi?" Kagura lagsung berlari menuju papinya, "Ngapain kau di sini, aru?" tiba-tiba saja keringat dingin mengucur deras di pelipis wajah papinya Kagura itu.

"Oi, hage. Aku punya kabar untukmu," Gintoki langsung memotong pembicaraan antara Kagura dan papinya, "Apa itu?" dan papi Kagura pun malah menanggapi Gintoki terlebih dahulu.

"Kau kenal dengan Shinsengumi oni no fukucho? DIA MANDI DI AIR TA*I!" Gintoki sengaja teriak dengan kencangnya, "OI?! KAU PIKIR AKU TAK BISA DENGAR? BUKANNYA TADI KAU YANG BILANG KALAU KALIAN TAK AKAN MEMBOCORKAN HAL INI?! DAN INI MAYONES, BUKAN TA*I!" suara Hijikata terdengar keras sekali. Walaupun rupanya tak terlihat akibat adanya tembok, tapi suaranya terdengar begitu keras. Shinpachi hanya bisa kicep.

"Ah, ngomong-ngomong. Baka oji itu mau berkencan denganmu hari ini," papinya Kagura pun meluruskan tentang semua yang terjadi, dan kagura langsung menyemburkan air ludahnya, "Apa-apaan itu, papi? Ini 'kan baru hari pertama dari perjanjian, kenapa harus secepat itu, aru?" Kagura tak ingin kencan dengan makhluk absurd itu, apalagi dirinya baru tersadar kalau dirinya belum bisa menakhlukkan Sougo sedikitpun.

"Aku hanya penyampai kabar, kau ditunggu di depan pintu Yorozuya jam tujuh malam ya. Harus berdandan cantik! Secantik ini pun tak apa. Kalau tidak, nanti kau, aku, dan teman Yorozuya-mu akan kena seppuku!" dan kagetlah semuanya. Nande? Oi nande?! Nande aku juga ikutan kena seppuku? Gawat! Aku hanya ingin membantu Kagura oi! Ini tidak adil. Gintoki membatin sembari meronta-ronta dan gugulingan di tanah yang membuat Kagura, Shinpachi, dan papinya Kagura cengo di tempat.

"Ah, ano, sono, mengapa aku juga ikutan di seppuku? Aku 'kan hanya membantu," Gintoki bertanya dengan tampang yang khawatir, "Karena kalau gagal, bayarannya adalah kepalaku dan kepala para Yorozuya," papinya Kagura bertampang sangat polos, membuat Gintoki memuncratkan darah yang entah mengapa keluar dari mulutnya, "DAFUQ?!" dan ia pingsan di tempat.

...

...

...

..

.

Gadis oranye itu sibuk di kamar Doraemon-nya. Mengapa kamar Doraemon? Karena ia tidur di dalam lemari, seperti Doraemon.

Ia menghempaskan tubuhnya kasar dan berdengus secara gelisah. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ah, bagaimana ini, aru? Apakah aku harus berkencan dengan baka oji itu, aru?. Batinnya gelisah. Ia tak tahu harus melakukan apa, itu membuatnya kesal.

Pintu lemari itu tergeser—tentunya digeser oleh gadis tadi—dan muncullah sosok gadis China itu. Lalu ia melempar kaleng bekas minumnya ke kepala silver yang tengah menata rambutnya.

"Oi, apa-apaan kau ini, Kagura?" Lelaki silver itu sukses dibuat kesal oleh gadis—Kagura—itu. Kagura menggeleng, "Tidak ada, aru. Tapi mengapa kau yang berdandan, aru? Bukannya aku yang akan berkencan, aru?" jawab Kagura dengan nada yang kesal. Dan aku sebenarnya tak ingin berkencan dengan makhluk itu, aru. Batin Kagura ikut-ikut kesal.

"Bagaimana kau ini? Bukankah seluruh kasus tentang ini adalah tanggung jawab Yorozuya? Aku 'kan sedang berdandan ala host, just do it!" lelaki silver itu memperjelas sembari menimpa kata-katanya dengan suffix 'just do it' ala host andalannya.

"Hoo.." Kagura hanya ber-hoo ria. Ia lalu beranjak dari dalam lemari menuju ke arah lelaki tadi, "Tapi Gin-chan, mengapa kau jadi host, aru?" tanya Kagura lagi.

Lelaki yang disebut Gin-chan itu pun mendengus, "Huh, nanti kau akan berkencan di host club. Jadi aku berdandan ala host, 'kan Patsuan?" tiba-tiba saja Gin bertanya pada seseorang dan tiba-tiba pula kacamata yang nyangkut di mata seseorang itu berkicau, "OII! AKU BUKAN KACAMATA DOANG! Ahem," kacamata—ah, lelaki berkacamata itu pun berdehem sejenak, "Benar itu, Gin-san. Kami akan jadi pelayan di sana sementara kalian kencan. Kami melakukan itu agar bisa memantau kalian, Kagura-chan," dan lelaki ber-megane itu telah meluruskan apa yang akan terjadi nanti.

"Nah, kami sudah siap, Kagura. Ah—," perkataan Gin terpotong oleh 'ah'-nya. Ia ber-ah karena ia baru menyadari sesuatu, "Kagura-chan, kau belum bersiap-siap?" wajah Gin mulai khawatir, laki-laki ber-megane pun ikutan khawatir.

"Ano, Kagura-chan? Kau tidak lihat sekarang jam berapa?" Kagura pun langsung melihat jam justaway yang berada di samping futon-nya Gin—sesuai dengan intruksi dari laki-laki ber-megane tadi dan berkata, "Jam enam," dengan polos.

"Ka-gu-ra-chan? Aku, kau dan Shinpachi tak mau di seppuku. Kau tahu itu, 'kan?" Gin mengeja nama Kagura dengan frustasi. Kagura hanya mengangguk.

Gin dan lelaki berkacamata—Shinpachi—itu pun langsung mengucurkan keringat dingin.

"Kagura-chan," Shinpachi langsung mendorong Kagura ke arah meja rias—yang entah mengapa bisa ada—dan langsung mendandani Kagura.

"Maafkan aku Kagura-chan. Aku memang tak bisa mendandani seseorang, tapi kita tak ada waktu lagi untuk ke salon," permintaan maaf pun terlontar dari bibir Shinpachi. Gin pun ikut-ikutan mendandani Kagura.

"Eyeliner itu harus dipasang dimana, Shinpachi-kun?" tanya Gin tiba-tiba ketika ia memegang sebuah benda bertuliskan 'eyeliner'. Shinpachi masih tidak ngeh, Kagura apalagi, namun Kagura malah merebut eyeliner tadi dari tangan Gin, "Biar aku saja yang pasang, aru. Eye berarti mata dan liner artinya garis, aru, jadi ini artinya mata bergaris, aru," kata Kagura sok tahu dan langsung memasang eyeliner di matanya sampai mata dan bahkan bola matanya bergaris.

Gin mulai menepuk jidatnya, Shinpachi masih memasang wajah khawatir, "Bagaimana ini. Ah anggap saja itu kesalahan yang biasa," jawab Gin sembari merebut kembali eyeliner tadi, "Ah, dia benar-benar putus asa," komentar Shinpachi terhadap tingkah Gin.

"Hmm," Gin merengut sebentar, "Kalau mata bergaris itu salah, bagaimana dengan garis mata?" tanya Gin pada kedua kouhai-nya. Kagura tiba-tiba bertanya, "Tapi Gin-chan, garis mata itu ada dimana, aru?" Shinpachi langsung memasang eyeliner pada alis Kagura, "Se-sepertinya di alis."

"Oh, souka. Garis mata berarti alis, sasuga Shinpachi, aru," kata Kagura kegirangan dan Gin hanya bisa tersenyum ketika mereka berhasil memecahnya satu kasus.

Kagura langsung memegang lipstick dan memasangnya di bibirnya. Begitu tebal. Gin mulai menata rambut Kagura dengan ahli—namun tak ahli—membuat rambutnya tiba-tiba jadi afro.

"NAANDEE DAYOOO?!" Shinpachi kembali ke mode tsukkomi-nya. Ia lalu membalikkan badan Kagura agar menghadap ke arahnya. Dan ekspresi khawatir langsung muncul di wajah Gin dan Shinpachi.

"Se-seppuku?" Gin langsung sembunyi ke dalam lemari Kagura, "OI KALIAN! KALAU KALIAN DI-SEPPUKU, BILANG KALAU GIN-CHAN-NYA KALIAN SUDAH TIADA TERLEBIH DAHULU!" Gin sudah benar-benar tak bisa tenang. Shinpachi hanya bisa kicep dan berkata, "Ah, kita harus bagaimana?" dan Kagura hanya bisa menggeleng pertanda tak tahu.

Tiba-tiba muncullah seorang masochist—bukan, seorang ninja masocist. Ia keluar dari atas atap Yorozuya dan berjalan menghampiri Kagura dan Shinpachi, "Oh, kalian sedang kebingungan?" tanyanya, Shinpachi langsung berbinar, "Sacchan-san! Ah, kau datang di saat yang tepat!" gadis ninja yang disebut Sacchan-san atau kita kenal dengan Sarutobi itu langsung memerhatikan wajah Kagura yang sudah seperti badut tak jadi.

Rambut afro yang kusut, mata yang bergaris, alis yang berwarna oranye tapi ada hitamnya, pipi yang ada buletan merah mencolok, bibir yang sudah terlihat sangat tebal, ah sungguh kacau. Sacchan tiba-tiba langsung ber-fuu ria. Ia tersenyum, "Aku mau membantu kalau—," kata-katanya terpotong.

"Kalau apa, Sacchan-san?" Shinpachi jadi gemes kalau mendengar ucapan yang terpenggal seperti itu. Sacchan pun kembali berkata, "Aku mau membantu kalau, BAYARANNYA ADALAH GIN-SAN-NYA KALIAN UNTUK HARI INI!" dan keluarlah Gin yang sedari tadi berada di dalam lemari Kagura, "Oi, tunggu, tunggu, tunggu! Syaratnya terserah kau dan apa saja itu asalkan jangan itu syaratnya!" Gin langsung menarik kerah baju Sacchan.

"Kalau tidak mau, aku juga tidak mau," Sacchan menggoda Gin. Ah gawat, apa aku mau di-seppuku atau kencan dengan cewe aneh ini.. ah keduanya tak ada yang bagus. Tapi daripada mati sih. Dan Gin pun membatin.

"Bagaimana?" Shinpachi dan Kagura sudah mengangguk terpaksa dan akhirnya Gin pun mengangguk, dengan sangat sangat sangat sangat terpaksa.

"AHH HOREE! Baiklah, kemarilah Kagura! Dan kalian para lelaki, tidak sopan memerhatikan gadis yang sedang berdandan," Sacchan mengusir Gin dan Shinpachi lalu kemudian Sacchan pun akhirnya mulai mendandani Kagura dengan pro-nya.

TBC, yeay

Ufft, tadinya mau dilanjut sampai kencannya, tapi saya lagi sibuk nih minggu ini /curcol.

Btw, sankyuu ya buat yang 'selalu' ngikutin fict gorilla ini, hiksuu~ Aku minta usul deh, pas kencan ntar, Sougo dimunculin gak? Kalau gak dimunculin juga nggak ngaruh juga sih, dimunculin pun sama, nggak ngaruh, 'kan dia belum suka sama Kagura-nya. Sougo masih acuh tak acuh nih, jadi gimana? Mau dimunculin gak dia? Kasih tau pendapatnya dan alasannya lewat review ya !

Oke begitu saja, btw, minta RIPIUUUUWWW YAA!

~LFN~

Oshiete!

Ginpachi-sensei!

"Yosh, elien-san hari ini sedang pundung. Jadi biarkan saya, Ginpachi, membacakan review dan membalasnya," perkataan itu berasal dari seorang guru berjubah putih, yang tengah mengemut permen lolilolilolipop—yang tampak seperti rokok, bernama Ginpachi.

"Review pertama oleh 'LalaNur Aprilia'-san. 'wkwkwk. Hancur sudah image Okita di mataku :v #gak. Apdeett! pengen tau se-gaje dan seancur apakah date Baka Ouji sama Kagura :v'. Yosh, Shouchirou-kun memang hancur ya. Oke ini sudah update. Sayangnya, date Kagura dan Baka oji adanya di chapter selanjutnya, jadinya jangan merasa bosan dengan fict ini, got it? Baiklah, 'LalaNur Aprilia'-san, tetap jadi reviewers setia ya," Ginpachi pun membalik surat yang tengah ia pegang.

"Hoo, ada review lagi," Katanya 'lumayan' kagum, membuat elien-san terohok di pojokan.

"Yang kedua oleh 'soralove45'-san. 'Wah Wah ternyata si baka ouji bakal muncul yah ? Haha. Dasar hage banyak maunya! Oke selama ini fict okikagu, saya dukung terus ;D Next chappy!'. Kalau baka oji tidak muncul, Kagura pasti tidak akan menika—akh!" GINPACHI-SENSEI! Ah, tidak. Ia pingsan di tempat ketika murid perempuan bercepol dua, berkacamata itu tiba-tiba menendangnya.

Murid itu mengambil alih, "Akhem," ia berdehem sejenak, "Sebenarnya sih aku tidak sudi, TIDAK SUDI, kalau ada baka oji itu, tapi semua itu tergantung pada elien-san saja. Hage itu memang banyak maunya! Cuih, apa-apaan tuh ngejodohin anak ter-kawaii-nya kepada makhluk ungu aneh seperti itu. HUUH?! OkiKagu? Apa-apaan itu?" tiba-tiba seorang lelaki shota mengangkat tangannya.

"Aku keberatan. Aku tak ingin dipasangkan oleh gadis China itu," katanya tiba-tiba membuat gadis yang sudah berada di depan mimbar Ginpachi-sensei itu langsung menaikkan kakinya ke atas mimbar itu, "Hooy! Siapa juga yang mau dipasangkan oleh laki-laki super sadist bastard sepertimu, huh?!"

"Maa maa, sudah-sudah kalian, biar aku yang mengambil alih," kacamata yang melekat di antara mata seseorang itu berkata, " OIII! KENAPA AKU CUMA DIANGGAP KACAMATANYA SAJA SIH?!" Akhirnya ia pun ikut-ikutan teriak.

Dan kelas pun ribut.

.

.

.

"Ah, mau bagaimana lagi," tiba-tiba, sosok elien-san itu berjalan menuju kamera dan menampakkan wajahnya, "Walaupun 'tadinya' aku tak ingin muncul di scene ini, tapi melihat kelas yang hancur berantakan seperti ini pun, tak bisa ditolong lagi. Biar aku yang menyelesaikannya," katanya sembari membaca ulang review dari 'soralove45'-san.

"Ini fict OkiKagu ko—akh!" TIDAK! BAHKAN ELIEN-san PUN PINGSAN AKIBAT TENDANGAN OKITA DAN KAGURAAA. Ah, tidak bisa ditolong, aku saja yang mengakhiri ini semua.

Walaupun peran saya hanya narrator, tapi saya akan jawab.

.

.

.

Ini sudah chapter yang selanjutnya.

.

.

.

Tetap dukung ya fict ini! Itu saja, sampai jumpa di next chapter!