.

.

.

Hana Yori Dango 3

THE NEXT GENERATION

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 4

Sasuke mengusap rambutnya kesal, dia tidak ingin berada di sana. Dia tidak ingin bergaul dan berpura-pura memberi Naruto ucapan selamat ulang tahun. Dia ingin merenung di kamarnya, mengutuk Naruto sampai ke tujuh tingkat neraka, jika memang ada sebanyak itu. Mengapa dia tidak bisa melakukan itu dengan tenang?! Kenapa dia harus berada di sini? Sasuke menoleh ke samping, ayahnya berdiri di sana, berbicara dengan F4 yang asli tentang sesuatu yang Sasuke tidak mau tahu.

Matanya mengamati ruangan, melihat ke arah Naruto... dia gelisah. Menyipitkan matanya, Sasuke mengamati temannya, ketika Naruto gelisah berarti dia mencemaskan sesuatu. Kemudian dia melihat Naruto berdiri tegak, matanya membuka lebar dan senyum menghiasi bibir tipisnya, dengan penasaran Sasuke mengikuti tatapan Naruto dan napasnya seolah diambil darinya.

Ruangan tampak berhenti saat gadis cantik menuruni tangga, dan untuk sesaat Sasuke benar-benar terpesona, matanya tidak pernah ingin beralih tapi momen terpesona singkat itu hancur ketika Naruto mendekati gadis itu dan mencium keningnya. Sasuke merasa amarah bangkit dalam dirinya. Sekarang dia menyadari siapa gadis itu.

Haruno Sakura. Dia melihat Naruto saat memegang tangannya dan membimbingnya ke tengah ruangan di bawah lampu besar, lampu yang membuat Sakura nampak semakin memesona tapi Sasuke mengabaikannya, membiarkan kemarahan memenuhi dirinya.

"Semuanya!" Naruto berkata dengan suara keras yang membuat semua orang berbalik menghadapnya. "Aku punya pengumuman," katanya dan menatap langsung ke arah Sasuke. "Tapi pertama-tama, aku ingin mengatakan, Sasuke... Maafkan aku."

Sasuke merasa perutnya melilit. Tidak, dia tidak begitu... setidaknya dia tidak menyesal atas apa yang seharusnya dia lakukan. Dia tidak berbicara, namun kemudian dia merasakan mata ayahnya mengamati reaksinya dengan cermat, jadi dia tahu dia harus, dan terpaksa, berperilaku baik. Dia mengepalkan tangan di sisinya, dia harus menahan diri agar tidak berjalan ke arah Naruto dan memukul wajahnya...

'Berhenti menyentuhnya'

Kemarahannya membeku dan seluruh tubuhnya melonjak kaget dengan pikirannya sendiri... mengapa dia begitu marah saat Naruto menyentuh Sakura? Bukankah dia seharusnya hanya marah karena Naruto mengkhianatinya?! Namun semakin dia menatap semakin dia menyadari, dia ingin merobek tangan Naruto yang seolah memiliki hak istimewa untuk menyentuh kulit bahu Sakura dan kesadaran itu mengguncang Sasuke lebih dari yang bisa ditanganinya, jadi dia hanya menyimak, mengatupkan rahangnya. Naruto mulai berbicara lagi.

"Wanita ini..." Naruto memulai dan Sasuke sudah bisa melihat ke mana ini akan berakhir, bagaimana mungkin dia tidak menyadarinya. Dia terluka saat menyadarinya dan dia membenci itu. "adalah wanita yang kusukai!" tandas Naruto.

Ruangan itu langsung dipenuhi dengan gumaman dan bisikan. Sasori dan Sai muncul tepat waktu untuk mendengar pengumuman Naruto. Sasuke menghela napas gemetar, matanya tidak pernah meninggalkan mereka tetapi dari sudut matanya dia melihat ayahnya dan teman-temannya berjalan menuju Naruto dan Sakura. Fugaku berbicara lebih dulu.

"Dia cantik," katanya hangat dan itu membuat marah Sasuke.

"Aku setuju," kata Soujiro menyeringai. F4 berdiri bangga dalam segala kemuliaan mereka di sebelah Naruto dan Sakura. Kehadiran mereka begitu kuat, begitu mempesona.

"Well, sebagai bentuk penerimaan di kalangan ini, dia memiliki hak istimewa untuk berdansa dengan F4," kata Akira tersenyum, Sakura menatap mereka terkejut.

"De-denganmu?" Dia bertanya pelan. Minato tertawa.

"Tidak," katanya sungguh-sungguh. "Tidak, kami terlalu tua untuk berdansa dengan gadis muda yang cantik." Dia menjawab dengan senyum yang sangat mirip dengan Naruto.

"Dengan anak-anak kami," kata Fugaku. Sasuke membeku.

"Nak, kau duluan," kata Akira pada Sasori yang tersenyum dan berjalan menuju Sakura ketika lantai dansa dibuka untuk mereka.

"Well, halo, 'Cherry'," katanya bercanda. "Kau akhirnya menjadi pusat pesta ini."

"Dan aku masih tidak percaya diri. Kau benar-benar tidak buruk dalam mendandani untuk ukuran seorang pria gay," Sakura bercanda dan segera berkata, "Kutarik kembali," ketika Sasori menatapannya garang.

"Aku senang semuanya baik-baik saja. Sasuke tidak memukul siapa pun," kata Sasori.

"Aku mencoba untuk tidak memikirkannya," Sakura mendesah, menutup matanya sesaat seolah-olah dia tiba-tiba sakit kepala.

"Kenapa begitu?" tanya Sasori.

"Aku mencoba untuk tidak merusak momen untuk diriku sendiri," Sakura menjelaskan dan keduanya terus berdansa yang tampak seperti keajaiban untuk Sakura karena dia tidak benar-benar tahu bagaimana cara berdansa dan yang dia bisa lakukan hanyalah mengkhawatir apa yang harus dilakukan selanjutnya. Sasori memutarnya keluar, dan tangannya tertangkap oleh sepasang tangan terampil, yang memutarnya ke dalam lengan kokoh. Sakura hanya bisa menatap minta maaf pada mata yang menyipit padanya, dan mereka melanjutkan dansa.

"Tidak ada wanita yang pernah memukulku hingga pingsan," kata Sai sedikit kesal, meskipun dia menganggap seluruh situasi ini lucu.

"Maafkan aku... itu kebiasaan, reflek yang cepat," jelasnya dan Sai hanya menatapnya seolah-olah dia tidak mempercayai kata-kata Sakura.

"Sasuke lebih dari sekedar ingin membunuhmu sekarang." Kalimat Sai membuat Sakura mendesah, sekali lagi Sasuke dibawa-bawa.

"Kapan sih dia tidak begitu," gumamnya.

"Tidak, ini berbeda... karena Uchiha-sama berbicara kepadamu," Sai menjelaskan." Dan dia baik," lanjutnya, membuat Sakura menatapnya bingung. "Kau akan mengerti semuanya, dalam waktu yang tepat," jawabnya simpel, tidak membeberkan apapun lagi.

Sakura bertanya-tanya hal apa yang tidak dapat dibicarakan F4? Memangnya kenapa jika Domoyoji-sama berbicara kepadanya? Dan dia baik dalam hal itu. Apa dampaknya terhadap Sasuke? Pikirannya langsung terarah ke rumor masalah keluarga Sasuke. Tidak mungkin... apakah itu benar? Mungkin memang ada alasan mengapa dia begitu dingin. Kenapa dia— Sai memutarnya, melepaskannya tiba-tiba hingga dia tersandung dan jatuh ke pelukan Sasuke, yang tampak tidak nyaman.

Dia cepat-cepat menegakkan tubuhnya dan mereka mulai berdansa. Anehnya, ini lebih mudah baginya dibandingkan dengan dua orang sebelumnya. Sasuke tahu bagaimana cara menuntunnya berputar dan benar-benar membuatnya tampak anggun. Pada awalnya mereka tidak berbicara, tetapi setelah beberapa saat Sasuke memecah keheningan.

"Selamat," katanya, menghindari tatapan Sakura.

"Apa?" tanya Sakura, terkejut Sasuke berbicara padanya.

"Untukmu dan Naruto," jawabnya.

"Ah... terima kasih," kata Sakura, sejenak percaya bahwa mungkin sebenarnya dia baik sampai Sasuke berbicara lagi. Kali ini matanya bertatapan dengan Sakura dengan penuh dengan penderitaan.

"Aku rasa rakyat jelata selalu membawa kemalangan untukku," katanya dan sebelum Sakura bisa menjawab dia memutarnya dan meninggalkan Sakura pada Naruto. Sakura ditinggalkan dengan perasaan tidak enak akan komentar Sasuke tadi. Dia tidak bisa apa-apa selain bertanya-tanya apa artinya dan mengapa dia tampak begitu hancur saat mengatakannya.

Naruto tersenyum padanya, dan dia tersenyum ke arah Naruto, tetapi ketika dia bergerak dengannya, Sakura dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti Sasuke yang melangkah ke gelapnya malam, menuju kebun. Apa sih yang mereka sembunyikan? Apa itu... yang menyebabkan adanya ekspresi terluka di wajah Uchiha Sasuke?

"Terkejut?" Naruto bertanya, menarik Sakura keluar dari pikirannya sendiri.

"Hah?" Dia bertanya bodoh dan Naruto tertawa.

"Apakah kau terkejut?" dia bertanya lagi. Sakura tersenyum malu-malu padanya.

"Anehnya... tidak." Dia mengakui dan Naruto tersenyum lebar.

"Jadilah pacarku?" Dia bertanya dan Sakura melihat ke arah lain main-main.

"Aku menolak," katanya dan Naruto menaikkan alisnya geli.

"Kenapa?"

Sakura berpaling ke arahnya lagi. "Kau harus membuat ini romantis," katanya.

"Lebih dari ini?" Dia bertanya bingung.

"Kau akan terkejut dengan betapa tingginya standar rakyat jelata," katanya main-main. Naruto tertawa dengan jawabannya.

"Oke, lalu bagaimana tentang hal ini," katanya, memutar Sakura dan menangkapnya dalam pelukan. Dia membungkuk ke arah Sakura dan tersenyum ketika wajah mereka hanya terpisah beberapa sentimeter, tetapi sebelum dia bisa menciumnya, sebuah tinju mendarat keras di sisi wajah Naruto. Orang-orang tersentak kaget dan Uchiha Fugaku yang pertama kali memecah kesunyian.

"Apa yang kau lakukan?!" Dia marah pada anaknya yang berdiri di atas Naruto dan Sakura berlutut cemas di sisinya.

"Memberikan apa yang pantas untuknya," kata Sasuke kepada ayahnya. Kemudian Sakura berdiri dan menampar Sasuke.

"Dasar idiot!" Dia berteriak kepadanya. "Tidak peduli apa masalahmu, kau tidak boleh terus menghancurkan kebahagiaan orang lain seperti itu! Kau tidak bisa terus melakukan apa yang kau mau!" Sakura memarahinya, seolah-olah Sasuke masih anak-anak dan Sasuke melotot ke arahnya.

"Nyatanya aku bisa melakukannya. Aku punya hak untuk melakukannya," katanya.

"Apa?" tanya Sakura, tidak mengerti apa maksudnya.

"Aku punya hak untuk melakukan apa pun yang aku mau terhadap kebahagiaan orang lain ketika orang lain menghancurkan kebahagiaanku," katanya dan memandang tepat di mata ayahnya sebelum dia pergi.

Sakura menatap kepergiannya sejenak sebelum kemarahan membawanya mengikuti Sasuke. Tidak peduli apa maksudnya, dia tetap tidak memiliki hak untuk memukul orang seperti itu begitu saja! Dia melihat Sasuke berjalan keluar ke taman lagi, mengawasinya melangkah cepat menuruni tangga, dan Sakura berada tepat di belakangnya. Dia melihat saat Sasuke mendatangi gerbang sebelum berhenti dan menendang pohon terdekat. Sakura berhenti beberapa meter jauhnya. Sasuke masih belum menyadari keberadaannya.

Sasuke mengutuk dirinya sendiri, dia tidak bermaksud untuk memukul Naruto, tapi saat dia melihat jarak antara Naruto dan Sakura sangat dekat dia kehilangan kewarasan dan kontrolnya dan sebelum dia sadar tinjunya telah terhubung dengan wajah Naruto. Dia kembali ke ruangan, setelah mengamati di sekitar taman dengan cepat dan sampai pada kesimpulan yang mengerikan, dia juga jatuh cinta pada rakyat jelata sialan itu dan dia kembali hanya untuk melihat momen ciuman mereka yang baru saja dilewatkannya. Apa yang salah dengan keluarganya? Mengapa mereka tidak bisa jatuh cinta dengan orang-orang kaya lainnya? Apa sih yang mereka butuhkan sehingga jatuh cinta pada rakyat jelata?!

"Hey!" Suara Sakura mengejutkannya dan saat dia berputar dia bergerak tepat pada waktu sepatu tumit tinggi dilempar ke arahnya.

"Apa sih yang kau lakukan?" tanyanya saat Sakura mendekat kepadanya dan sekali lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menyadari betapa cantiknya Sakura.

"Membalas dendam untuk Naruto," katanya.

"Oh, jadi kau benar-benar pasangan sekarang ya? Kau mewakilinya?" tanyanya mengejek.

"Itu bukan urusanmu!" kata Sakura dan hendak memukulnya tapi Sasuke menangkap tinjunya dan memegang tangannya yang lain.

"Lepaskan aku!" Sakura berteriak kepadanya dan memberontak.

"Tidak akan," kata Sasuke dan Sakura semakin berontak.

Akhirnya setelah kehilangan sedikit kesabaran terakhirnya, Sakura menariknya kuat-kuat untuk membebaskan dirinya yang justru membuatnya terjerembab akibat sepatu hak tingginya yang hanya sebelah kiri dan mulai jatuh membawa Sasuke bersamanya. Mereka berdua jatuh ke tanah, Sasuke berada di atas Sakura dan keduanya menyadari dengan kaget bahwa bibir mereka menempel bersama-sama.

Keduanya membeku, tidak yakin apa yang harus dilakukan selanjutnya, Sakura tidak bisa berbuat apapun selain menyadari bahwa bibir Sasuke lembut karena tekanan pada bibirnya sudah cukup untuk membuatnya tahu bahwa bibir Sasuke tidak berada di sisi wajah atau tepi bibirnya. Bibir Uchiha Sasuke benar-benar melingkupi bibirnya sendiri. Sasuke yang pertama bergerak, perlahan-lahan bangkit, meskipun bibirnya menjauh dari milik Sakura, dia masih bisa merasakan teksturnya yang lembut seolah tidak pernah lepas. Sakura mengawasi Sasuke merona dan mengulurkan tangan padanya saat dia duduk. Dia menyambutnya dan Sasuke membantunya berdiri. Dia menduga Sasuke akan marah, melempar beberapa benda, mengutuknya ke neraka dan mengatakan sesuatu seperti 'dasar rakyat jelata dekil' tapi dia hanya berdiri di sana... dalam keheningan. Sasuke mengusapkan tangan ke wajahnya dan mendesah, tenggelam dalam pikirannya dan Sakura hanya menatapnya.

"Sasuke...," Sakura memulai lalu berhenti, kemudian menyadari bahwa dia baru saja memanggilnya dengan nama kecil saja, tapi Sasuke bahkan tidak marah seperti yang diharapkan Sakura untuk sesaat. Dia hanya menatap Sakura dan setelah beberapa saat dia berkata.

"Jika kau tahu segalanya tentangku... Aku ingin tahu apakah kau akan mengerti," katanya.

"Apa?" tanya Sakura dan mulai mendekat kepadanya, tapi sekali lagi dia tersandung dan Sasuke memegang lengannya untuk menyeimbangkan dirinya. Yang paling mengejutkannya, Sasuke tertawa, tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena wajahnya berubah serius lagi.

"Aku benar-benar ingin tahu... apakah nasib sedang memainkan sebuah permainan dengan kita," katanya, melepaskan lengan Sakura dan berjalan pergi.

Sakura menyaksikannya pergi, bingung. Pendapatnya tentang Sasuke berubah dari 'bocah' menjadi 'dungu' sepenuhnya. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Sasuke tapi dia tersenyum sendiri, mengingat bagaimana tampang Sasuke saat dia tertawa. Sakura perlahan-lahan berjalan kembali menuju pintu masuk rumah Naruto, orang-orang di dalam membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi. Naruto, yang sedang merawat rahangnya yang sakit, Sai dan Sasori melihatnya masuk dan mereka berjalan cepat ke arahnya. Mata Sakura bertanya-tanya ke arah Uchiha Fugaku yang mengatakan selamat tinggal dengan sopan tetapi nampak siap untuk membunuh. Dia meringis sedikit ketika menyadari semua amarah Fugaku akan dilampiaskan pada Sasuke dan dia mendapati dirinya merasa kasihan pada Sasuke.

"Apa yang terjadi?" Sasori bertanya ngeri melihat gaunnya dan fakta bahwa kedua sepatunya ada di tangannya.

"Kami bergumul," kata Sakura datar. Ada sarkasme aneh dalam jawabannya.

"Siapa yang menang?"

Sakura berpikir. "Dia," dia menyimpulkan... Sakura-lah yang berada di bawah.

"Dan gaun itu?!" Sasori mengerang. "Dasar tomboy," desisnya pada Sakura.

"Dasar Tuan Gay," Sakura mendesis balik dan berjalan menuju Naruto sebelum Sasori bisa mengatakan apa-apa lagi.

"Apakah kau baik-baik saja?" dia bertanya meskipun sudah jelas tidak.

"Aku bisa mengatasinya," kata Naruto. "Dan kau?"

"Aku baik-baik saja," jawabnya. Dan terlepas dari kondisinya, dia benar-benar merasa lebih dari sekedar baik saat mengingat bagaimana rasa bibir Sasuke dan bagaimana suara tawanya terdengar.

"Aku minta maaf atas kejadian ini," kata Naruto.

"Tidak apa-apa, tapi... aku ingin tahu apakah Sasuke akan baik-baik saja?" Sakura bertanya-tanya dan melihat Uchiha Tsuakasa pergi.

"Dia pasti akan marah pada Sasuke," kata Naruto.

"Apa yang terjadi dengan keluarganya?" tanya Sakura.

Dia lelah dengan semua rahasia ini. Dia ingin tahu mengapa Naruto begitu takut menyakiti Sasuke dan mengapa Sasuke jadi seperti ini. Dia yakin bahwa ada satu masa dalam hidupnya ketika Sasuke terbiasa untuk selalu tertawa seperti itu. Sai menatap Sasori yang melihat Naruto, mereka tetap diam sejenak. Diam-diam mereka saling menatap, diam-diam mereka berbicara satu sama lain sebelum Naruto berbicara.

"Bukan hak kami untuk memberitahumu," Naruto berkata pelan.

Dia tahu bahwa cerita ini adalah satu-satunya yang dibutuhkan Sakura, yang segera akan dia dengar dari Sasuke sendiri setelah Sasuke bisa menerima segala sesuatu yang terjadi. Namun jawaban itu tidak memuaskan Sakura, dia ingin tahu mengapa! Mengapa ada begitu banyak kemarahan dalam diri Sasuke. Mengapa seperti ada kesedihan, kesepian, dan... kekosongan. Dia melihat kekosongan di mata Sasuke sebelumnya dan dia bertanya-tanya mengapa?

"Yang bisa kami katakan..." kata Sasori lembut.

"... Adalah Sasuke tidak mengalaminya dengan mudah," Sai meneruskan.

"Mungkin kau bisa bertanya padanya besok. Aku akan ikut denganmu," Naruto menawarkan.

"Oke," kata Sakura dan membenci dirinya sendiri karena fakta bahwa hatinya melonjak saat memikirkan akan bertemu Sasuke.

.

.

.

TBC

Review please?