Mine and Yours—

Author: Rin

Chapter: 2/?

Disclaimer: All casts is belong to theirselves.

Rated: M

Pair: KiHyun (Kibum x Kyuhyun), WonSung (Siwon x Yesung), slight ZhouRy, YeWook.

Genre: Romance – Family – Angst

.

Warning: AU, YAOI, OOC, twincest, Possessive!Kibum, uke!Kyu, Kibum and Kyuhyun as twins, changing of Kyuhyun's surname.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

Kyuhyun berjalan dengan langkah yang amat pelan, menyusuri koridor-koridor fakultas seni musik yang agak sepi. Sesekali ia berhenti melangkah ketika dirasakannya bagian bawah tubuhnya yang agak sakit. Jarak dengan kelasnya memang hanya tinggal beberapa meter lagi, namun dengan keadaannya saat ini jarak tersebut rasanya jadi seperti lebih jauh berkali lipat.

Ia menghela nafas. Yah, separuhnya ini sebenarnya salahnya juga sih—walau tetap separuhnya lagi adalah salah hyungnya itu yang malah merangsang dirinya tadi pagi hingga ia tidak bisa menahan keinginannya untuk… yah… disetubuhi olehnya.

Blush!

Rasanya ia jadi ingin berheadwall ria mengingat hal itu, kebiasaan rutin yang sering dilakukannya dengan hyungnya itu kalau hyung tertua mereka sudah berangkat kerja. Morning sex yang tidak kenal tempat, entah itu di dapur seperti tadi pagi atau di tempat lainnya. Dan yang lebih parahnya lagi adalah bahwa ia yang kadang malah tidak tahan untuk melakukannya dengan hyung kembarnya itu.

Aigoo, kelihatannya wajahnya sudah sangat memerah sekarang.

"Kui Xian, kau sedang sakit ya? Wajahmu sampai berubah warna seperti tomat begitu..."

Kyuhyun tersentak mendengar suara itu. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat seorang namja berkulit putih dengan mata sipit yang tengah memandanginya dengan polos—setengah khawatir sekaligus juga penasaran di saat yang bersamaan.

Kyuhyun masih diam, kelihatannya otaknya mengalami loading yang cukup lama untuk mengenali siapa namja yang tengah berdiri di hadapannya. Sementara sang namja yang tingginya jauh lebih pendek darinya itu hanya mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Entahlah, mungkin rasa khawatirnya kini sudah menguap entah kemana, digantikan dengan rasa penasaran kenapa namja yang lumayan jenius ini malah terlihat seperti komputer rusak sekarang.

"Kui Xian, kau dengar aku atau tidak?"

Ia masih mencoba untuk memanggil namja yang masih bengong di tempatnya itu, walau sebenarnya itu adalah perbuatan yang cukup sia-sia dan hanya membuang waktu saja.

Kyuhyun—masih dalam posisi loadingyang lama—mengerjapkan matanya beberapa kali. Iris obsidiannya menatap namja dengan pipi chubby yang balik menatapnya dengan tatapan ingin tahunya yang terlihat polos. Andai saja jiwa seme Kyuhyun bangkit saat ini juga, mungkin ia akan menyerangnya sekarang juga.

Tunggu, bukannya tadi namja ini bilang wajahnya memerah? Aigoo, memangnya terlihat jelas ya?

Kyuhyun membelalakkan matanya. Kelihatannya kali ini ia benar-benar sudah sadar dari masa loading lamanya. "Ya! Mochi China, abaikan yang barusan kau lihat!"

Dan berikutnya, Kyuhyun langsung melesat pergi menuju kelasnya—dengan langkah yang amat pelan, antisipasi menyembunyikan wajahnya yang kelihatannya sudah lebih memerah dari yang tadi.

Namja yang dipanggilnya Mochi China itu hanya bisa menatapnya dengan heran. Kedua alis matanya bertautan ketika disadarinya langkah Kyuhyun agak aneh. Orang itu tidak sedang sakit kan?

"Henli-ya~ Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kelasmu mulai sebentar lagi?"

Namja berpipi chubby itu membalikkan badannya ketika dirasanya seseorang memanggil namanya. Dan kedua matanya terbelalak begitu melihat seorang namja berambut merah tengah berdiri di hadapannya dengan kedua alis mata yang bertautan. Dan detik berikutnya, ia pun langsung berlari menuju kelasnya—menyusul Kyuhyun yang baru saja berbelok ke balik pintu kelas.

"SUDAH KUBILANG KAN JANGAN MENDEKATIKU SAMPAI AKU MEMAAFKANMU, KOALA-GEGE!"

Dan Zhoumi—namja yang harus merelakan dirinya dipanggil koala—hanya bisa facepalm melihat tingkah ajaib kekasihnya itu.

.

.

Henry menjatuhkan tubuhnya di sebelah Kyuhyun yang tengah sibuk berkencan dengan PSPnya. Mendengus keras—dengan wajah yang sangat kusut, ia meletakkan tasnya dengan agak kasar di atas meja hingga menimbulkan suara 'bukk' yang agak keras.

Merasa terganggu dengan suara yang bisa dibilang tidak pelan itu, Kyuhyun menoleh ke sampingnya—setelah sebelumnya menekan tombol pause pada PSP hitam yang senantiasa menemaninya itu. Didapatinya satu-satunya teman dekatnya di jurusan itu yang kini tengah melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah kusut namun entah kenapa malah terkesan manis. Beruntung bagi mereka karena mereka duduk di bangku barisan belakang. Setidaknya mereka—atau mungkin lebih tepatnya sang Mochi China aka Henry—bisa menghindari tatapan lapar dari semua namja yang ada di jurusan ini.

"Mochi China, wajahmu kusut begitu, seperti belum pernah disetrika saja," ujar Kyuhyun.

Plak.

Henry menggunakan gulungan kertas yang ada di atas mejanya—entah milik siapa—untuk memukul kepala Kyuhyun. Ayolah, moodnya saat ini benar-benar sedang buruk dan temannya itu bukannya membantu malah membuat moodnya semakin jatuh saja. Yah, ruginya memiliki seorang teman dekat seperti Kim Kyuhyun.

"Yaa! Kau pikir aku ini baju apa? Ya jelas saja aku belum pernah disetrika, babo!"

Kyuhyun memilih untuk kembali fokus pada game yang sedang ia mainkan daripada menanggapi ucapan—dan tindakan namja manis tersebut, walau perhatiannya tetap tertuju pada teman dekatnya itu. "Soal Zhoumi-gege lagi?"

Henry memutar kedua bola matanya, seolah sudah bosan dengan pertanyaan Kyuhyun tersebut. "Memangnya siapa lagi yang bisa membuat moodku jatuh mendadak?"

Dan kali ini giliran Kyuhyun yang memutar bola matanya, bosan. Selalu saja hal-hal yang bisa menaikturunkan mood namja China di sampingnya ini tidak pernah jauh-jauh dari seorang namja berambut merah yang merupakan senior mereka di jurusan musik, Zhoumi, atau sebut saja kekasih namja mochi ini. Heran juga sebenarnya melihat bagaimana hubungan mereka selama ini. Sangat jauh dari kata tenang, karena Zhoumi setiap saat, entah ketika mereka berada dimana pun selalu mengganggu Henry—dengan kepervertannya yang tingkat dewa. Lalu kali ini apa? Sampai bisa membuat namja yang polos ini diselimuti aura-aura tidak mengenakkan—yang bahkan bisa membuat Kyuhyun ingin sementara menjauhkan dirinya dari Henry.

"Sekarang apa lagi?"

Rasanya kalau selalu menjadi tempat curhat temannya ini, lama-lama Kyuhyun bisa memiliki job sampingan sebagai psikiater—walau mungkin kemampuannya dalam memberikan saran patut dipertanyakan sejujurnya. Ayolah, di universitas ini siapa yang tidak mengenal seorang Kim Kyuhyun, namja jenius yang merupakan kembaran dari Kim Kibum, mahasiswa jurusan kedokteran. Seorang manusia yang bahkan bisa membuat banyak penghuni universitas ini hanya bisa menggelengkan kepalanya karena dirinya yang kelewat hiperaktif dalam mengerjai seseorang. Yah, kebetulannya saat ini ia sedang tidak ada mood untuk mengerjai siapapun, mengingat ia sendiri bahkan sedikit mengalami kesulitan untuk berjalan dengan benar.

Henry diam mendengar pertanyaan Kyuhyun, membuat sang penanya sontak menghentikan kembali kegiatannya kencan dengan PSP dan mengalihkan pandangannya ke arah sang mochi China dengan kedua alis berkerut—heran. Kyuhyun mengerjapkan kedua matanya berkali-kali tatkala dilihatnya semburat merah tipis merambat kedua pipi chubby sahabatnya yang putih. Kalau sudah begini ia jadi tidak sulit untuk menebak apa yang membuat Henry bisa begitu marahnya pada Zhoumi. Aigoo, pasangan yang benar-benar aneh…

"Jangan bilang kalau ini berhubungan dengan kegiatan sex kalian?"

Plak.

"Yaa! Mochi sangar! Kau ini hobi sekali sih memukulku! Tidak di rumah atau di sini, kenapa kepalaku terus yang jadi korban?" rintih Kyuhyun ketika untuk yang kedua kalinya, sebuah gulungan kertas kembali dipukulkan kembali ke kepalanya. Pelakunya sudah jelas siapa lagi kalau bukan sang namja mochi di sampingnya. Rasanya kalau begini Henry dan Yesung bisa membentuk perkumpulan 'pukul kepala Kyuhyun'.

"Salahmu sendiri, kenapa juga itu kau sebutkan terang-terangan begitu? Ini kan tempat umum, babo!"

Baru saja Kyuhyun ingin membalas kembali ucapan sang Mochi, sang songsaengnim telah lebih dulu masuk ke dalam kelasnya. Jadilah ia terpaksa kembali menelan kalimat yang akan ia lontarkan pada Henry—dan juga memasukkan PSPnya ke dalam sakunya, mengingat untuk songsaengnim yang ini adalah seorang dosen yang killer, jadi ia tidak ingin mengambil resiko ketahuan memainkan PSPnya di dalam kelas.

.

.

Ada selang waktu selama satu jam antara jadwal Kyuhyun yang tadi dan selanjutnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang ketika namja bersuara bass itu keluar dari kelasnya. Ia melangkahkan kakinya seorang diri ke gedung utama. Kalau kalian tanya ke mana Henry Lau, sudah jelas tanpa berpikir lama pun Kyuhyun sudah bisa menjawab pertanyaan itu. Kemana lagi kalau bukan menuju kelas namjachingunya. Aish, padahal tadi sebelum masuk kelas ia sudah marah-marah tidak jelas, sekarang malah dengan sendirinya mendatangi namja kelebihan tinggi badan itu, dasar orang aneh...

Kyuhyun berbelok menuju koridor B, melangkahkan kakinya menuju satu-satunya tempat yang selalu ia datangi kalau sedang tidak ada nafsu makan. Tempat yang akan penuh di saat tertentu, terutama di masa ujian atau masa-masa tugas akhir bagi para mahasiswa tingkat akhir. Perpustakaan. Dan berhubung sekarang bukan masa-masa dimana para mahasiswa membutuhkan tempat seperti perpustakaan, sudah jelas kalau tempat itu pasti sepi kan?

Ia membuka pintu perpustakaan yang tingginya dua kali lipat tubuhnya. Ruangan tersebut masih memiliki kesan klasik sama seperti bangunan-bangunan lain yang ada di universitas ini, kecuali untuk bangunan yang memang baru didirikan, seperti gedung fakultas kedokteran atau fakultas sastra. Selebihnya, hampir seluruh bangunan di sini masih bergaya Eropa klasik dengan sentuhan nuansa Gothic. Ia jadi sedikit kagum dengan orang yang merancang bangunan-bangunan di sini. Jarang-jarang di Korea ada tempat seklasik ini.

Kyuhyun melangkahkan kakinya masuk ke perpustakaan. Benar dugaannya kalau tempat ini memang sepi—tidak ada pengunjungnya malah. Hanya ada seorang penjaga perpustakaan yang sudah berusia renta yang tengah terkantuk-kantuk di mejanya sendiri.

Kyuhyun menyusuri tiap-tiap rak berukuran raksasa tersebut, mencari tempat yang menurutnya cocok untuk dirinya kembali berkencan dengan PSPnya. Yah, jangan pernah menganggapnya akan belajar di perpustakaan kalau Kim Kyuhyun mengatakan akan pergi ke perpustakaan. Ia terlalu pede dengan kejeniusannya hingga ia merasa tidak memerlukan jasa perpustakaan untuk mendongkrak nilai-nilainya.

Ia baru akan melangkahkan kakinya menuju sudut perpustakaan yang jarang dijamah oleh para penghuni universitas ini ketika sepasang tangan merengkuh tubuhnya dari belakang. Wangi tubuh yang sangat ia kenali tercium oleh indera penciumannya, membuatnya tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa orang yang sudah berani-beraninya memeluk dirinya.

"Kibum-hyung~?"

"Hm?"

Orang yang memeluknya itu hanya bergumam kecil sambil mempererat pelukannya pada namdongsaengnya itu. Kibum menenggelamkan wajahnya di antara bahu dan leher Kyuhyun. Hembusan nafas hangatnya di leher Kyuhyun sontak menimbulkan sensasi menggelitik di lehernya. Aigoo, itu salah satu titik lemahnya dan hyungnya malah dengan santai mengusik daerah sekitar itu—

—tunggu, kalau keadaannya begini, masa sih?

Kyuhyun membalikkan badannya membuat pelukan hangat tersebut melonggar. "H-hyung, kalau ada yang melihat bagaimana?"

"Wae? Di sini sepi. Hanya ada penjaga perpustakaan yang mengantuk dengan telinga yang tertutup earphone. Ini juga bukan musim ujian. Kau pikir siapa yang akan memergoki kita di sini?"

"I-itu—hmph!"

Kalimat yang akan diucapkan oleh Kyuhyun terpotong ketika dengan seenaknya, Kibum menciumnya tepat di bibir. Kyuhyun membelalakkan matanya. Tidak masalah kalau mereka melakukan ini di rumah, namun ini akan jadi masalah besar kalau ada yang memergoki mereka melakukan ini di tempat serawan perpustakaan. Ya Tuhan, semoga saja tidak ada yang datang ke tempat ini…

Tak mendapat respon dari Kyuhyun, Kibum mendorong Kyuhyun hingga keduanya bersandar pada salah satu rak yang berada di dekat mereka. Beruntung, karena rak tersebut dipaku ke lantai hingga tak masalah walau mereka mendorong rak tersebut agak keras. Kibum menyusupkan sebelah tangannya ke leher bagian belakang Kyuhyun lalu menekannya, mengajaknya untuk semakin memperdalam ciuman mereka.

Perlahan, Kyuhyun membalas ciuman tersebut. Kedua matanya terpejam, seolah melupakan kemungkinan kalau akan ada orang yang akan memergoki mereka. Terlalu sayang kalau ia harus menyia-nyiakan ciuman yang selalu memabukkannya ini hanya karena takut ketahuan. Dengan instingnya sendiri, tanpa sadar ia menghisap bibir bagian bawah milik hyungnya itu, sementara Kibum sendiri menghisap bibir bagian atas namdongsaengnya itu.

Kibum semakin memperdalam ciumannya, disusupkannya lidah miliknya ke dalam celah yang terbuka di antara bibir manis kembarannya itu dan menelusuri seluruh bagian rongga mulutnya.

"Nnhhh…"

Erangan tertahan meluncur dari mulut Kyuhyun, ketika lidahnya secara tidak sengaja bersentuhan dengan lidah milik hyungnya. Ia menautkan lidahnya dengan milik hyungnya, ingin merasakan sensasi yang sama dengan yang dirasakannya barusan. Kedua tangannya yang semula tergantung di samping tubuhnya kini beralih ke leher Kibum, seolah tidak ingin melepaskan ciuman tersebut.

Dengan senang hati, Kibum menyambut tautan lidahnya dan dengan lihainya ia memainkan lidah milik kembarannya itu sambil sesekali menyesapnya, menimbulkan desahan tertahan yang semakin kentara dari mulut Kyuhyun, tedengar layaknya sebuah melodi yang sangat indah di telinganya.

Masih bertautan lidah, tak disadari oleh sang namdongsaeng ketika Kibum mulai melepas kancing kemeja yang dikenakannya. Ia malah merasakan sensasi yang membuat hasratnya semakin menggebu untuk disetubuhi oleh hyungnya saat ini juga—mengabaikan fakta kalau saat ini mereka tengah berada di tempat umum.

Kyuhyun memukul pelan dada Kibum ketika dirasakannya paru-parunya mulai kehilangan pasokan udara. Mengerti dengan keadaan Kyuhyun, Kibum melepaskan ciumannya—dengan tidak rela tentunya. Obsidian berbingkai kacamata miliknya kini beralih pada leher jenjang Kyuhyun yang dialiri oleh keringat yang mengalir turun menuju dada bidangnya. Terlihat menggoda, membuatnya tidak bisa lagi menahan hasratnya. Padahal tadinya ia tidak ingin bermain sejauh itu di tempat seperti ini. Yah, salahkan saja keadaan Kyuhyun yang benar-benar menggodanya walau mungkin sang pemilik tubuh tidak menyadarinya.

"Hhh… hhhh… ahhh~!"

Kyuhyun yang tengah mengais udara sebanyak-banyaknya, mendesah panjang ketika dirasakannya sebuah benda lembut yang basah menyentuh lehernya. Ia menggigit bibirnya, berusaha untuk menahan desahannya. Ia bukan orang bodoh yang tidak menyadari tempat apa ini. Kesadarannya masih ada untuk setidaknya membuatnya tidak mengeluarkan suara-suara yang bisa membuat orang lain memergoki kegiatan mereka ini.

Sulit sebenarnya, terutama ketika hyungnya itu malah menjilatinya lalu menghisapnya dengan sangat perlahan seolah ingin menggodanya. Aigoo, leher itu adalah salah satu bagian di tubuhnya yang paling sensitif kalau disentuh dan hyungnya ini malah dengan sengaja bermain-main di daerah itu. Tidak tahukah ia kalau namdongsaengnya ini tersiksa karena menahan desahannya sedari tadi?

Masih bermain-main di lehernya, Kibum menyusupkan tangan kirinya ke punggung Kyuhyun dan semakin menghilangkan jarak di antara mereka sementara tangan kanannya memilin salah satu nipple Kyuhyun yang mulai menegang.

"Hnnhh…ngh…"

Kyuhyun menggigit bibirnya semakin keras. Dua titik tersensitif di tubuhnya tengah disentuh oleh hyungnya dan itu sangat menyiksanya ketika ia tidak bisa mengeluarkan desahannya dengan lepas. Akan jadi masalah besar bagi ia dan hyungnya kalau sampai ada orang yang memergoki perbuatan mereka ini karena status mereka yang merupakan saudara kandung. Lalu… akan ada orang yang mereka kecewakan karena ini. Hyung tertua mereka yang selama ini sudah merawat mereka dengan sangat baik.

Yesung-hyung… jeongmal… mianhaeyo…

.

.

Namja berambut merah itu mengurungkan niatnya menuju bagian pojok perpustakaan. Tadinya ia berniat untuk mengambil beberapa buah buku di bagian yang jarang terjamah itu, namun sesuatu yang dilihatnya membuatnya mengurungkan niatnya itu.

Ia melangkahkan kakinya keluar perpustakaan, tempat dimana sang namjachingu telah menunggunya.

"Gege? Kau bilang tadi ingin meminjam buku kan? Kenapa sekarang malah kembali dengan tangan kosong?" Henry menatap heran ke arah Zhoumi yang hanya tersenyum canggung ke arahnya.

Zhoumi menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak gatal. "Yah, aku bisa meminjamnya lain waktu, lagipula sebentar lagi kau ada kelas kan? Sebaiknya kita kembali ke gedung fakultas Musik saja. Aku juga masih ada urusan di sana..."

Henry mengernyit heran. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh gegenya itu dan itu bukan sesuatu yang baik. Sebenarnya ada apa? Apa ada hubungannya dengan sesuatu di dalam perpustakaan yang tidak ia ketahui?

Ia menggelengkan kepalanya, memutuskan untuk menghalau pikiran itu. Tidak, tidak, ia tidak ingin berprasangka buruk pada apapun. Lagipula bisa saja gegenya itu mendadak malas meminjam buku kan? Henry pun melangkahkan kakinya, mengikuti sang kekasih yang telah lebih dulu melangkah ke arah gedung fakultas musik.

Tanpa disadari oleh siapapun, seulas seringai terlihat di wajah Zhoumi. Kui Xian, kira-kira ini akan berlanjut bagaimana, eoh?

.

.

Yesung menyusuri trotoar yang agak sepi. Kacamata hitam semi transparannya dan topi yang dikenakannya membuat wajahnya tertutup dengan sempurna. Hoodie tanpa lengannya melekat erat di tubuhnya. Tak terlihat kalau ia adalah seorang Kim Yesung, seorang penyanyi terkenal ataupun terlihat seperti orang yang mencurigakan. Ia malah lebih terkesan seperti seorang turis yang sedang berjalan-jalan.

Ia berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia bohong pada Kyuhyun dan Kibum kalau ia akan pulang esok, karena nyatanya pekerjaannya telah selesai sejak satu jam yang lalu. Ia menolak ajakan Siwon yang ingin mengantarnya pulang karena ia memang tidak ada niat untuk pulang ke rumah hari ini. Terlalu banyak hal yang membebani pikirannya dan ia malah semakin tidak bisa merilekskan dirinya jika diam di tempat itu. Kelihatannya ia butuh hypnotherapy saat ini untuk meringankan beban pikirannya...

Yesung menghela nafasnya. Ia terus melangkah tanpa memperhatikan jalanan di depannya, hingga—

BRUKKK!

"Aww..."

—kelihatannya ia sudah menabrak seseorang.

Yesung mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Masih dalam mode kagetnya, hingga akhirnya ia tersadar kalau orang yang ia tabrak itu jatuh ke trotoar. Ia berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan orang yang ia tabrak.

"Mianhae... aku tidak fokus dengan pandanganku. Gwanchana?"

Namja yang ia tabrak hanya diam sementara kedua tangannya meraba-raba jalanan di sekitarnya. "Aa… nde, gwaenchana…"

Yesung menatap namja di hadapannya itu dan satu kata yang terlintas di otaknya. Manis. Terlalu manis untuk ukuran seorang namja. Namun, ada sesuatu yang mengusiknya dari diri namja itu.

"Mianhae, bisakah anda membantu saya mencari tongkat saya? Tanpa itu saya tidak akan bisa berjalan dengan baik." Ujar namja manis itu kembali.

Yesung diam beberapa saat sebelum kemudian ia mengalihkan pandangannya pada kedua mata sang namja manis. Terdorong oleh rasa penasaran, ia mendekatkan tangan kanannya di hadapan wajahnya dan mengibaskannya perlahan. Tak ada respon sedikitpun.

Orang ini… tidak bisa melihat?

Yesung bergegas mengambil tongkat yang memang berada tak jauh darinya itu dan menyerahkannya pada namja manis itu.

"Aa... gomawo... ng..."

Yesung diam sejenak, berpikir nama apa yang sebaiknya ia sebutkan. Nama Yesung adalah yang pertama ia coret karena sudah banyak orang yang mengenalnya dengan nama itu. Dan opsi terakhir adalah...

"Kim Jongwoon imnida. Sekali lagi maaf, aku sudah menabrakmu..."

...nama aslinya yang tidak pernah ia beritahukan pada publik.

"Nde, gwaenchana, Jongwoon-hyung. Ini juga salahku yang tidak berhati-hati melangkah."

Yesung diam selama beberapa saat. Jongwoon-hyung? Setelah sekian lama, akhirnya ada juga orang yang memanggilnya dengan nama aslinya itu. Tanpa disadarinya seulas senyum lembut terukir di wajahnya. Ada sesuatu, entah apa itu, yang sekarang membuatnya merasa tertarik dengan namja di hadapannya ini. Sesuatu yang sukses membuatnya merasa nyaman hanya dengan berada dekat dengannya. Terutama hanya dengan melihat raut wajahnya yang terlihat polos walau sinar di kedua matanya telah menghilang.

Dengan kebutaan namja di hadapannya ini, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Kim Jongwoon yang hanya manusia biasa, bukan Yesung yang seorang penyanyi terkenal.

Rasanya… bahkan jauh lebih nyaman daripada ketika ia bersama dengan Siwon—

"Ngomong-ngomong, boleh aku tahu namamu?"

"Ah, namaku Kim Ryeowook, senang bertemu denganmu, Jongwoon-hyung!" ucap namja bernama Ryeowook itu sambil membungkukkan badannya, membuat senyum Yesung semakin merekah.

—karena ia sendiri memang tidak memiliki perasaan apapun pada dongsaeng yang merangkap sebagai managernya itu.

Ya Tuhan, apa aku benar-benar boleh melakukan ini? Rasanya aku jadi sangat bersalah pada Siwonnie...

.

To Be Continued—

.

a/n: NC-nya kembali saya cut. xD #duagh. Oke, saya kembali setelah sebulan menelantarkan fic ini. Adakah yang masih inget dengan fic ini? O.o

Mian, karena saya gak bisa bales review satu-satu. Mager saya kumat. =.=a #plak

Yosh, sekian dari saya, moga saya bisa update ini lebih cepet. xD

See you next time~