.
.
.
Hana Yori Dango 3
THE NEXT GENERATION
.
.
.
Disclaimer
Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,
sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.
Written by ButaTokki and CamsaHead
Translated by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 5
"Apa kau yakin?" Sakura bertanya saat mereka berdiri di luar rumah Uchiha.
"Yeah, ayo," kata Naruto, dan sebelum Sakura bisa protes dia membuka pintu dan mereka masuk.
Sakura mengikuti Naruto masuk. Naruto bahkan tidak mengumumkan kedatangannya atau apa, seolah-olah berjalan di rumahnya sendiri. Tapi sekali lagi, Naruto dan Sasuke sudah berteman sejak kecil.
"Sasuke!" Naruto berteriak dan suaranya bergema melintasi ruangan yang membuat Sakura sedikit melompat kaget. Setelah beberapa saat menunggu dalam keheningan, Sasuke muncul dari lorong dan onyxnya bertemu dengan emerald milik Sakura. Sakura bersumpah Sasuke tersenyum sampai dia melihat Naruto sampingnya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Sasuke pada mereka.
"Tidakkah kau berpikir sudah saatnya Sakura tahu ceritanya?" Naruto bertanya kepada Sasuke.
Sasuke memikirkannya sejenak sebelum melangkah ke arah mereka dan meraih tangan Sakura.
"Apa kau mau bertemu ibuku?" dia bertanya.
"Um... oke," Sakura setuju, tidak benar-benar yakin bagaimana ini akan menjawab pertanyaannya tapi dia membiarkan Sasuke membawanya ke lantai atas melewati lorong-lorong sampai mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda.
"Kupikir akan lebih mudah jika dia mengatakan padamu apa yang perlu kau ketahui berdua saja," kata Naruto, tersenyum meyakinkan padanya dan Sakura hanya menatapnya tak percaya. Dia akan menemui Uchiha Mikoto yang legendaris itu dan Naruto tidak bersamanya? Tapi Sasuke meremas tangannya, membuatnya menoleh. Sasuke tersenyum kepadanya, meskipun senyumnya penuh dengan kesedihan saat dia membuka pintu yang menampakkan sebuah ruangan dengan seorang wanita yang berbaring diam di tempat tidur.
Sasuke tidak berbicara, dia menyaksikan emosi bermain di wajah Sakura, menyaksikan keterkejutan di awal yang diikuti oleh ketakutan dan kebingungan. Sasuke melepaskan tangan Sakura dan mengamatinya mendekati ibunya. Sambil menaruh tangan di saku, Sasuke berjalan ke jendela, bersandar di kusennya. Dia membiarkan Sakura menyerap semuanya, membiarkannya meresapi apa yang dia lihat, dia akan menunggu sampai Sakura benar-benar mengerti apa yang sedang dilihatnya, menunggu dia untuk bertanya.
Sakura bahkan tidak yakin apa penyebab semua ini. Dia selalu berpikir, di antara banyaknya kemungkinan, Uchiha Mikoto adalah seorang wanita yang aktif, sangat sehat, yang tidak pernah melakukan sesuatu yang salah dan muncul di kolom gosip. Dia berpikir bahwa kehidupan Sasuke sempurna. Tapi wanita ini... bahkan tidak hidup. Sakura berpaling ke arah Sasuke, menyaksikannya melihat keluar jendela besar dengan lengan yang disilangkan dan ekspresi muram di wajahnya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya lembut. Sasuke bergeser sedikit tetapi tidak berpaling untuk melihatnya, hanya menghirup dan menghembuskan napas pelan.
"Kami... sedang berlibur..." Dia memulai dan Sakura bisa melihat di wajah Sasuke bagaimana dia seolah berjalan kembali ke tempat itu, di waktu itu. "Kami selalu pergi bersama-sama, ke suatu tempat. Kami selalu tersenyum, selalu bahagia." Sakura mengawasinya menutup matanya dan karena suatu alasan Sakura menemukan dirinya mendekat ke arah Sasuke. "Ayahku seperti seorang anak kecil yang berada di tubuh pria dewasa, selalu bermain-main, berusaha tampak keren dan membuat ibu dan aku terkesan. Dia selalu menginginkan perhatian kami, tapi dia mencintai kami." Sasuke menceritakan memori seperti apa ayahnya dulu.
"Ibuku," Sasuke harus berhenti untuk berpikir, "sangat cantik… Ibuku selalu tersenyum dan berjuang." Dia terkekeh memikirkan orang tuanya. "Mereka tidak pernah berkelahi serius, lebih seperti ibu bertengkar dengan ayahku tentang hal-hal konyol, dan selalu menyenangkan melihat ibu menang, selalu membingungkan ayahku hingga dia kalah," dia berkata pelan.
"Tapi dia mencintainya... dia sangat mencintainya, dan dia mencintaiku." Dia membuka matanya lagi, memandang ke luar jendela Dia tidak bisa melihat Sakura yang sekarang berdiri di sampingnya diam-diam. "Musim panas itu, kami pergi ke rumah pantai kami, bersama-sama, jauh dari semua orang dan pekerjaan ayah. Itu menakjubkan." Dia akhirnya menatap Sakura dan Sakura merasa sulit bernapas. Sasuke tersenyum. "Hanya kami bertiga... bersenang-senang." Dia berpaling. "Dengan beberapa alasan ayahku meyakinkan ibuku untuk membiarkannya pergi makan siang dengan rekan bisnisnya sebentar. Pada hari yang sama, ibuku memutuskan ingin membuat tacos," dia berkata pelan.
"Ibu berkata padaku untuk tinggal di rumah sementara dia pergi ke pasar dan membeli apa yang dia butuhkan. 'Aku akan segera kembali Sasuke'," kata Sasuke, mengingat kata-kata ibunya. "Tapi dia tidak pernah kembali."
Sakura hanya menatap Sasuke dan lagi-lagi melihat betapa banyak kesedihan, rasa sakit dan kesepian terkandung di dalamnya meskipun senyum pahit yang lembut menghiasi bibirnya. Sakura mengatupkan bibirnya dan mencoba memikirkan apa yang harus dikatakan tapi ini adalah pertama kalinya dia mendengar cerita seperti itu.
Tentu saja dia masih memiliki pertanyaan yang belum terjawab, tapi dia tahu bahwa itu pasti mengerikan bagi Sasuke... dan ayahnya. Untuk sementara dia hanya berdiri di sana dan mereka saling memandang, tidak tahu harus berkata apa. Sakura tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada seseorang yang telah melewati banyak hal. Setelah mengambil keputusan, Sakura mendekat ke arah Sasuke dan memeluknya. Selama beberapa detik tubuh Sasuke tegang tapi kemudian berubah santai. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Sakura, membiarkan dia menghiburnya melalui kata-kata yang tak terucapkan.
Ada sengatan listrik aneh yang mengejutkan Sakura saat lengan Sasuke menyentuh pinggang kecilnya. Sentuhan itu terasa lembut. Dibandingkan dengan anak laki-laki beberapa hari yang lalu, yang satu ini... yang satu ini tidak bisa dibandingan. Dia seperti anak kecil yang hilang dan menunggu seseorang untuk menemukannya dan menghilangkan rasa sakit yang telah ditahannya selama ini.
Sasuke tidak mengharapkan pelukan. Mungkin keheningan yang cukup lama, mungkin beberapa kata seperti 'itu tetap bukan alasan bagimu untuk meninju orang' dan mungkin beberapa hal lain, tetapi dia tidak pernah menyangka Sakura akan memeluknya. Ketika dia menyentuhnya, dua emosi secara bersamaan menjalari tubuhnya... kenyamanan dan hasrat. Untuk sesaat, dalam momen menyilaukan yang singkat, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Sakura adalah miliknya, tapi kemudian dia teringat bahwa di luar ruangan itu Naruto sedang menunggu Sakura dan dia menemukan dirinya tiba-tiba menarik diri dari pelukan Sakura. Dia melihat Sakura menatapnya, jelas bingung dengan tindakannya, kemudian berbalik malu.
"Maaf, aku seharusnya tidak melakukannya," gumam Sakura, pipinya memerah. Meskipun Sasuke merasa itu lucu, dia merasa terpukul dan membenci dirinya sendiri karena membuat Sakura berpikir bahwa dia benci pelukan itu.
"Aku hanya tidak ingin memeluk sampah," ejek Sasuke, berpaling dari Sakura dan menutup matanya. Dia bodoh, benar-benar bodoh. Mengapa dia harus terus melakukan hal-hal yang dia benci?
"Ah... sou," dia mendengar Sakura berkata di belakangnya, jelas tersinggung dan Sasuke ingin membenturkan kepalanya ke dinding atas kebodohan dan kesombongannya yang mutlak. Sakura menjernihkan pikirannya dan berkata, "Well, baiklah. Aku juga tidak benar-benar ingin memeluk bocah manja. Aku hanya merasa kasihan pada seorang anak hilang tapi aku sungguh bodoh karena memaksakan diri," dia membentaknya, membuat Sasuke berpaling ke arahnya. Apakah kata-katanya benar?
"Aku tidak butuh belas kasihanmu," kata Sasuke, ingin mengembalikan harga dirinya.
"Aku tahu, jadi selamat tinggal," sahut Sakura sambil berjalan menuju pintu. Sebelum pergi dia memberi tatapan terakhir ke arah ibu Sasuke dan membungkuk. "Maaf mengganggu," gumamnya dan berjalan keluar pintu.
Setelah Sakura pergi, Sasuke membanting tinjunya di meja terdekat. Dia begitu bodoh. Dia duduk di kursi dekat ibunya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama dia tidak melihat ibunya dengan kebencian, tapi dengan rasa putus asa. Sambil membungkuk ke depan, dia menempatkan kepalanya di sisi tempat tidur, menutup matanya, merasakan hatinya sedikit hancur akibat kata-kata Sakura.
"Bantu aku," dia berbisik, merasa seolah-olah untuk pertama kalinya dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Sejak saat dia dan Sakura berciuman, perasaannya terhadap Sakura tumbuh secara eksponensial sampai ke titik di mana dia merasa terluka.
"Apa yang terjadi?" tanya Naruto, membuat Sasuke tersadar. Ketika Sasuke duduk, dia melihat Naruto berdiri di sana dengan Sakura, yang dia melihat ke arah lain dan jelas sedang kesal. Sasuke merasa sakit melihat tangan Sakura di genggaman Naruto. Gerakan kecil itu saja sudah merobek hatinya.
"Tidak ada," jawab Sasuke singkat sambil duduk tegak.
"Jelas terjadi sesuatu!" kata Naruto, kemudian menghadap Sakura.
"Apa dia menjawab pertanyaanmu?" dia bertanya dan Sakura hanya menggeleng sebagai jawaban, bahkan tidak repot-repot untuk menatapnya.
"Baik! Ini jawaban untukmu!" kata Sasuke, suaranya meninggi saat dia berdiri, kemarahan memenuhinya, tapi kemarahannya diarahkan untuk dirinya sendiri. "Ayahku berharap ibuku bangun. Dia begitu berharap sampai berubah menjadi obsesi. Dia berubah menjadi seperti dulu, dingin dan egois lagi. Dia menolak untuk benar-benar mengakuiku sebagai anaknya dan ibuku telah melanggar semua janjinya padaku, yang menunjukkan betapa hinanya rakyat jelata!" Sasuke berteriak padanya. Kali ini Sakura menatapnya tapi Sasuke tidak bisa memahami ekspresi di wajahnya. Seolah-olah Sakura sedang berpikir terlalu banyak agar benar-benar paham.
"Ibuku sering berkata, ada kebanggaan tersendiri yang datang dari latar belakang yang sederhana," dia berkata, beralih ke arah ibunya. "Di mana harga dirinya sekarang?" suaranya pahit. Dia merasa amarahnya sendiri menggelegak dalam dirinya. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sasuke," katanya mengulangi kata-kata ibunya. "Itu semua omong kosong." Dia meludahi ibunya sebelum berbalik untuk melihat Sakura dan Naruto. "Aku tidak butuh belas kasihan sialanmu." kata Sasuke, menatap Sakura, tiba-tiba darah Uchiha muncul dalam dirinya.
Sakura tiba-tiba melihat mata Sasuke berubah dingin dan dia menyadari bahwa itu adalah kesan yang selalu ditampakkan Sasuke. Kesan 'jauh' yang selalu diperlihatkannya. Jadi dia bertanya-tanya, jika dengan berbicara tentang hal itu dia menjadi sedingin ini, apakah itu berarti dia selalu memikirkannya dan itulah penyebab mengapa moodnya selalu buruk.
Tapi dia juga melihat seorang anak dalam diri Sasuke. Dia melihat tawa dan senyum itu sekarang termakan oleh kata-kata yang biasa digunakan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Sasuke terluka di dalam dan itu menyakiti Sakura. Dia merasa hatinya tersentak. Mendadak dia ingin memegang tangan Sasuke dan memeluknya.
"Sasuke—," dia memulai.
"MOU II YO!" Sasuke berteriak, memotongnya dan berbalik untuk menghadapi ibunya. "Sudah cukup..," dia mendengar Sasuke bergumam, nadanya lembut tapi sisi dirinya tersebut dengan cepat memudar ketika tangannya meraih masker oksigen ibunya dan menariknya.
"Chotto, Sasuke, apa yang kau lakukan?" Naruto berkata sambil menahan Sasuke saat dia mulai memberontak.
"Kau pembohong!" Sasuke berteriak.
Sakura merasa jantungnya berhenti berdetak saat dia mulai menyadari sesuatu. Selama ini... Sasuke tidak punya cara untuk melampiaskan semua emosi yang dimilikinya. Dia pasti sedang terluka di dalam. Bunyi monitor EKG ibunya yang semakin cepat menyebabkan perawat datang terburu-buru, meskipun Sasuke masih memberontak di lengan Naruto yang mencoba untuk meraih ibunya. Semua perawat berusaha membantu Naruto tapi bagaimanapun dia adalah anak Uchiha Fugaku dan dia mewarisi kekuatan ayahnya. Sasuke mendorong perawat dan menarik masker oksigen ibunya lagi, tapi yang benar-benar membuat Sakura terkejut adalah kata-katanya.
"Bangun sialan!" katanya. "BANGUN!" teriaknya. Sasuke tidak yakin apa yang membisikinya, seolah reaksinya itu datang tiba-tiba. Mengapa setelah sepuluh tahun dia tiba-tiba jatuh? Mungkin Sakura yang memberikan mesiu terakhir yang menciptakan ledakan ini.
SLAP!
Sasuke menemukan dirinya jatuh di lantai. Semua orang di sekelilingnya berhenti bergerak. Ketika Sasuke mendongak, matanya bertemu ayahnya.
"Apa yang kau lakukan." Fugaku menyeringai. Sasuke membeku saat ayahnya menatapnya dengan kebencian. "Apa kau akan membunuhnya?" Fugaku berteriak dan meraih kerah kemeja Sasuke.
"Stop!" Sakura berkata dan mendorong Fugaku ke samping. "Hentikan!" katanya dan berlutut di samping Sasuke. "Kau baik-baik saja?" dia bertanya dan yang bisa Sasuke lakukan hanya mengangguk, masih tidak yakin apa yang telah dilakukannya. "Aku tahu bukan tempatku untuk mengatakan ini," kata Sakura, berdiri dan menghadap Fugaku. "Tapi kau harus menahan dirimu sendiri! Berhenti bertingkah seperti anak kecil. Kau bukan anak kecil lagi, kau orang tua dan kau MEMILIKI seorang anak. Bertanggung jawablah," Sakura berkata dan menggigit lidahnya, langsung menyesali apa yang dia katakan. Benar-benar bukan tempatnya untuk memarahi ketua Uchiha Corporation, tapi sedikit banyak dia tahu bahwa Mikoto juga melakukan hal yang sama kepada ibu Fugaku. Nasib terkadang memang aneh.
Fugaku menatap Sakura, sedikit mundur. Anehnya dia tidak merasa marah kepadanya karena untuk sepersekian detik Sakura mengingatkannya pada istrinya saat dia seusia Sakura, dia memutar kepalanya untuk melihat Mikoto yang sekarang kondisinya stabil sebelum berpaling untuk melihat Sakura lagi... aneh.
"Menarik," Fugaku bergumam, tiba-tiba merasa sedikit malu dan kesal sekaligus. Fugaku menatap Sasuke, wajahnya bengkak dan darah mengalir dari luka segar di sisi wajahnya. Fugaku menyadari cincin kawinnya telah melukai Sasuke. Tiba-tiba Fugaku merasa menyesal dan Sasuke melihat emosi itu di wajah ayahnya, seolah-olah ayahnya untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun tiba-tiba menyadari Sasuke sebenarnya adalah anaknya. "Ibumu akan mengatakan hal yang sama." Dia berkata, memandang ke Mikoto sebelum berjalan keluar ruangan, meninggalkan Sasuke yang terguncang. Ayahnya entah bagaimana... menjadi tenang.
Seperti yang ditakutkannya, Sasuke merasa air mata mulai menyengat matanya dan dia menundukkan kepala, untuk menyembunyikannya dari mereka. Tiba-tiba dia merasakan lengan-lengan membungkus di sekelilingnya dan merasa hatinya melompat.
"Tidak apa-apa," Sakura berbisik kepadanya.
Dari sudut ruangan Naruto menyaksikan semuanya, merasa terasing dari tempat itu. Sakura memeluk Sasuke dan dia tahu bahwa itu adalah hal yang wajar dilakukan. Sasuke membutuhkannya tapi Naruto tidak bisa mengenyahkan amarah yang membuncah dalam dirinya. Dia telah bersumpah bahwa dia tidak akan membiarkan nasib ayahnya terjadi padanya. Tinju Naruto mengepal saat dia kembali ke memori masa lalu ketika dia melihat ayahnya duduk di samping tempat tidur Mikoto. Hari dimana dia pertama kali mendengar ayahnya mengucapkan kata-kata yang mengubah pandangan Naruto terhadapnya.
"Mikoto... Aku tidak pernah berhenti mencintaimu," kata ayahnya. Ayahnya telah menyerah.
Naruto melihat Sakura menarik diri dari Sasuke, meletakkan tangannya di wajah Sasuke dan mengangkat kepalanya. Air mata bisu diam-diam mengalir di wajahnya. Sakura mengulurkan tangan dan dengan lembut mengusap air matanya, tangan Sasuke terangkat dan dengan lembut meletakkannya di atas tangan Sakura, pemahaman dalam diam melintas di antara Sasuke dan Sakura, dan Naruto merasa darahnya mendidih.
'Tidak' pikirnya pahit,
Dia tidak akan membiarkan Sakura jatuh cinta pada Sasuke, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia tidak akan mengijinkan mereka untuk saling jatuh cinta.
"Sasuke," kata Naruto, dan dia harus mengontrol suaranya.
Sasuke mengalihkan matanya menjauh dari Sakura dan memutar kepalanya untuk menatap Naruto. Naruto mengulurkan tangannya dan Sasuke meraihnya. Naruto membantunya berdiri tapi segera ketika dia telah berdiri, Sasuke berpaling untuk melihat Naruto yang masih memegang tangannya... erat. Sakura berdiri perlahan-lahan, melihat keduanya saling menatap dalam diam.
"Apa yang kau katakan?" kata Sasuke tiba-tiba, mengejutkan Sakura. Dia hampir yakin bahwa tidak ada kata-kata mereka ucapkan sampai sekarang.
"Itu adalah satu hal yang tidak akan aku biarkan." Naruto menjawab, sekali lagi membuat Sakura kebingungan. Apakah ada semacam pembicaraan dalam diam antara keduanya yang dia lewatkan?
"Kau sudah gila." Sasuke akhirnya menarik diri dari tangan Naruto, berpaling dari Sakura dan Naruto, tidak ingin membiarkan emosinya terlihat.
"Aku hanya memperingatkanmu, Sasuke." Naruto berkata tegas. "Yang satu ini tidak akan aku berikan kepadamu," katanya dan Sasuke berbalik untuk menjawab kembali tapi berhenti saat dia melihat Naruto meraih tangan Sakura. "Kami akan pergi sekarang." Naruto berkata sambil menarik Sakura lembut. Sakura mengikuti dalam diam meskipun untuk sesaat dia berbalik untuk melihat Sasuke yang menunjukkan ekspresi masam di wajahnya.
Sasuke tahu dia bersikap egois saat memikirkannya tapi bukankah dia layak mendapatkan kebahagiaan lebih dari orang lain? Tidak seperti orang lain yang dia tahu, kebahagiaan mereka berlangsung sejak lahir, tapi kebahagiaannya telah dipotong pendek dan sejak saat itu ke mana pun dia pergi hanya ada bebatuan. Dia menginginkan sukacita dan tawa. Dia muak menunggu ibunya, terus berharap dengan sia-sia bahwa sekali lagi dia akan melihat mata ibunya terbuka dan melihatnya serta mengatakan padanya kata-kata yang dengan sukarela akan dia percayai.
Dia akan melakukan apa pun untuk menemukan sebuah harapan, sumber kebahagiaan lain, dan semua itu berasal dari Sakura. Dia merindukannya dan dia akan berjuang untuk mendapatkannya. Tiba-tiba Sasuke tidak peduli apakah itu akan menghancurkan Naruto. Hidup akan mulai berjalan adil baginya. Dia akan membuatnya seperti itu.
.
.
.
TBC
Review please?
