Mine and Yours—

Author: Rin

Chapter: 3/?

Disclaimer: All casts is belong to theirselves.

Rated: M

Pair: KiHyun, WonSung, ZhouRy, YeWook, WonKyu.

Genre: Romance – Family – Angst

.

Warning: AU, YAOI, OOC, twincest, Possessive!Kibum, uke!Kyu, Kibum and Kyuhyun as twins, changing of Kyuhyun's surname.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

Trrrtt… trrrttt…

Yesung tersentak, sebuah getar dari ponselnya mengalihkan perhatiannya yang awalnya tertuju pada sosok namja—yang menurutnya—manis di hadapannya. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel miliknya. Yesung melengos perlahan melihat siapa yang tengah berusaha menghubunginya saat ini. Bukankah ia tadi sudah mengatakan kalau ia sedang tidak ingin diganggu, kenapa orang ini malah menghubunginya?

Ia menekan tombol merah dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, memutuskan untuk mereject panggilan dari kekasihnya itu. Yesung kembali menatap namja di hadapannya yang masih diam. Baru saja ia akan membuka mulutnya, kembali ponselnya bergetar. Ia menghela nafasnya perlahan, hampir tidak terdengar. Diambilnya kembali ponsel yang sudah ia masukkan tadi. Tanpa melihat siapa yang tengah berusaha menghubunginya, ia langsung mematikan ponselnya.

"Ryeowook-ah…"

Namja manis itu mendongakkan kepalanya, walau sebenarnya ia tidak bisa melihat apapun yang ada di hadapannya. Hanya gerak refleks yang memang wajar dilakukan oleh setiap manusia ketika dirinya dipanggil orang lain. "Nde, hyung?"

"Ikut denganku."

Ryeowook mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar ajakan—ah, bukan, lebih terkesan seperti sebuah perintah kalau mendengar nada suara yang dikeluarkannya. Ikut dengannya? Kenapa tiba-tiba? Apa jangan-jangan sebenarnya namja yang barusan menabraknya lalu menolongnya itu orang jahat, lalu ia akan diculik dan malah nantinya diperkosa? Andwae…!

"Ryeowook-ah? Gwaenchana?"

"A… nde?"

"Kutraktir kau makan. Anggap saja itu permintaan maafku karena sudah menabrakmu tadi…"

Dan mendengar itu Ryeowook kembali mengerjapkan matanya. Ya Tuhan, ia sudah berprasangka terlalu buruk pada orang yang memang berniat menolongnya. Apalagi ia sudah berpikir terlalu jauh dan menganggap kalau orang di hadapannya—entah siapa itu—akan berbuat jahat padanya. Kau sungguh bodoh, Kim Ryeowook…

"Kajja..."

Ryeowook hanya mengikuti langkah kaki Yesung yang menggenggam pergelangan tangan kanannya, sedikit berpikir mengenai hal yang baru saja mengganggunya. Bukan. Bukan karena ia kembali berprasangka buruk pada namja bernama Kim Jongwoon ini, hanya saja ada sesuatu pada namja ini yang membuatnya terpaksa harus berpikir agak keras.

Kenapa rasanya aku pernah mendengar suaranya di suatu tempat?

.

.

Siwon mengerang kesal. Sudah dua kali ia berusaha menghubungi kekasihnya dan keduanya berakhir dengan kegagalan. Yang pertama, panggilannya direject. Sementara yang kedua, ia yakin kalau Yesung langsung mematikan ponselnya. Namja bertubuh atletis itu menatap ponselnya dengan frustasi. Khawatir, jelas saja. Apalagi kalau diingat keadaan hyungnya itu agak sedikit mengkhawatirkan sejak tadi pagi, walau ketika orang itu mulai bekerja ia bisa menutupinya dengan sangat baik. Tapi tetap saja... ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh namjachingunya itu dan itu bukan sesuatu yang baik.

Ia bersandar pada mobilnya yang terparkir sembarangan—ia bahkan tidak tahu sekarang ia sedang berada di mana. Ketiga kalinya, ia berusaha menghubunginya kembali. Siapa tahu ada sedikit keajaiban yang akan Tuhan berikan padanya saat ini.

'Nomor yang Anda tuju sedang—'

Siwon langsung melempar ponselnya ke dalam mobil. Sebenarnya ada apa dengan namjachingunya itu? Sejak tadi pagi ia sudah bertingkah aneh. Setelah pekerjaannya selesai ia langsung terburu-buru pergi dan berkata kalau ia sedang tidak ingin diganggu saat ini, menolak untuk ia antarkan pulang ke rumah. Dan kini namja bersuara indah itu malah berusaha menghindarinya dengan mengabaikan panggilannya.

Siwon mengacak rambutnya kasar. Frustasi, khawatir dan penasaran melanda pikirannya. Frustasi dan khawatir mungkin wajar saja. Tapi penasaran? Sebenarnya ia agak bingung dengan perasaannya ini. Yah, memang ia lumayan dekat dengan ketiga bersaudara Kim itu dan ia tahu hubungan ketiganya terlalu dekat hingga tanpa komunikasi verbal pun mereka sudah bisa saling memahami. Namun, selama kedekatannya dengan ketiga orang itu, ada sesuatu yang sebenarnya sudah disadarinya sejak lama. Ada sesuatu di antara ketiga orang itu yang disembunyikan darinya. Entah apa itu…

Siwon mengalihkan pandangannya ke sekitarnya. Matanya terpaku pada sebuah bangunan yang berada tak jauh dari tempat mobilnya terparkir. Ia kenal tempat itu. Sebuah bangunan bergaya klasik dengan nuansa gothic yang cukup kental. Bukankah itu universitas tempat si kembar Kim kuliah?

Ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Hampir pukul tiga. Kalau tidak salah ingat, berdasarkan ucapan Yesung tadi pagi, ini sudah hampir waktunya salah satu dari si kembar itu pulang.

Dan ingatannya memang tidak salah, karena tidak lama berselang seorang namja berambut ikal kecoklatan tengah berjalan keluar gerbang universitas sambil membawa tasnya. Wajahnya terlihat mengantuk, efek dari kelelahan mungkin. Ia bahkan tidak sadar ketika Siwon tengah berjalan mendekatinya.

"Kyu...!"

Kyuhyun tersentak, rasa kantuknya sedikit menguar ketika sebuah suara yang sudah dikenalnya tengah memanggilnya. Ia mendongakkan kepalanya dan dilihatnya seorang namja yang ia kenal sebagai manager sepupunya itu sudah berada di dekatnya. "Siwon-hyung..."

"Kau pulang sendiri, eoh?"

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. "Kibum-hyung pulang jam enam. Daripada membuatku lama menunggunya, dia menyuruhku pulang saja."

Siwon diam beberapa saat sebelum kemudian sebersit pemikiran mampir dalam otaknya. Yah, daripada ia harus merasa frustasi karena keberadaan namjachingunya yang entah berada di mana itu. "Mau kuantar pulang?"

Kyuhyun mengerjapkan matanya beberapa kali. Tawaran yang bagus sebenarnya, karena itu artinya ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk naik bus karena satu-satunya mobil yang ada di rumah mereka saat ini dipakai oleh Kibum. Mobil miliknya tengah berada di bengkel karena kecerobohannya minggu lalu yang menyebabkan sang mobil sedikit—kalau tidak mau dibilang lumayan—hancur gara-gara menabrak pagar besi dan sebuah pohon. Kalau kalian tanya bagaimana ia bisa begitu, maka ia tidak akan menjawabnya. Sudahlah, ia tidak mau mengingatnya. Hanya dengan membayangkan Kibum dan Yesung yang memarahinya saja ia sudah malas untuk mengingatnya lagi. Namun sebelum ia hampir menerima tawaran itu, ia teringat sesuatu.

"Hyung, Yesung-hyung mana?"

Siwon baru akan menjawab pertanyaan itu ketika Kyuhyun kembali melanjutkan pertanyaannya.

"Bukannya kalian sedang sibuk? Yesung-hyung bilang kalau dia baru bisa pulang besok. Apa tidak apa-apa kau berkeliaran di sini dan malah mengantarku pulang? Siapa tahu Yesung-hyung membutuhkanmu."

Siwon kembali mengatupkan bibirnya mendengar ucapan Kyuhyun. Sibuk? Bahkan pekerjaan namjachingunya hari ini tidak lebih dari empat jam saja dan sampai tiga hari ke depan dia mendapat libur, kenapa orang itu malah mengatakan baru bisa pulang besok?

Ia teringat, kalau Yesung sudah mengatakan dia tidak ingin diganggu dan pergi begitu saja seorang diri bahkan sampai tidak pulang ke rumah si kembar Kim ini, itu artinya kalau namja bersuara indah itu sedang terbebani pikirannya. Dulu dia pernah melihatnya seperti itu, ketika namjachingunya itu hampir setiap hari mendapat teror dari anti-fans. Tapi kali ini apa?

"Siwon-hyung, gwaenchana?"

Suara Kyuhyun mengembalikan kesadarannya yang malah melamun, mengabaikan keberadaan namja manis di hadapannya—

—tunggu, tunggu, manis?

Siwon mengenyahkan pikirannya itu, ia sudah punya namjachingu dan ia mencintainya jadi seharusnya ia tidak tertarik dengan orang lain—walau ia tahu kalau Yesung tidak mencintainya sama sekali.

"Nde?"

"Kau melamun, hyung. Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kyuhyun—yang entah disadari atau tidak malah mengeluarkan raut wajah polosnya. Kalau seperti ini, justru Siwon malah mempertanyakan, benarkah namja di hadapannya ini hanya lebih muda beberapa tahun darinya?

Yang mengganggu pikiranku? Ada banyak. Ingin ia menjawab seperti itu, tapi itu hanya tertahan dalam benaknya saja. Tidak, tidak, walau ia tahu kalau sang maknae ini adalah tipe orang yang sangat jahil, namun ia juga tahu kalau namja ini adalah orang yang sangat perhatian—terutama sekali dengan hal-hal yang berhubungan dengan Yesung, salah satu dari sedikit orang yang beruntung bisa disayangi oleh seorang Kim Kyuhyun yang notabenenya sulit menerima kehadiran orang lain dalam hidupnya walau terlihat dari luar ia bisa dengan mudah bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Dan menjawab kalau pikirannya sedang terbebani oleh sebuah nama yaitu Kin Jongwoon sudah jelas itu hanya akan membuat namja di hadapannya malah jadi ikut khawatir.

"Aniyo, aku hanya sedang ada sedikit masalah di rumah."

Kyuhyun menganggukkan kepalanya, tidak ingin terlalu jauh mencampuri urusan Siwon. Selain karena ia tidak mau dianggap terlalu mencampuri urusan orang lain, ia juga tidak terlalu peduli dengan hal itu. "Ah, hyung, kau belum menjawab pertanyaanku. Mana Yesung-hyung?"

"Ah, itu... ini waktunya istirahat, dan Yesung-hyung bilang kalau dia ingin tidur dan tidak ingin diganggu. Dan daripada aku tidak ada kerjaan sampai satu jam ke depan, jadi aku memutuskan untuk berjalan-jalan..."

Siwon memuji kemampuannya untuk mengarang alasan seperti itu saat ini. Setidaknya ia tidak usah membuat si bungsu dari si kembar ini khawatir karena menghilangnya keberadaan namjachingunya ini. Lagipula kalau Yesung sudah mengatakan kalau ia akan pulang besok, maka kekhawatirannya agak berkurang sedikit. Ia tahu kalau Yesung menyayangi kedua namja kembar ini dan kalau ia sudah mengatakan itu, maka ia memang akan kembali besok. Masalahnya, untuk apa ia berbohong seperti itu?

"Arraseo..." ucap Kyuhyun—pelan. Ia menyadari sesuatu, ada yang aneh dengan Siwon walau ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

"Jadi... mau kuantar pulang?"

Kyuhyun dengan segera mengubah kembali raut wajahnya menjadi sedikit lebih ceria. Ayolah, tinggal dengan seorang Kim Jongwoon yang pandai menyembunyikan perasaannya di balik wajah poker facenya membuatnya banyak belajar menggunakan itu. "Nde, kalau tidak merepotkan sih tidak masalah..."

Dan berikutnya Kyuhyun pun melangkahkan kakinya mengikuti Siwon yang telah lebih dulu berjalan ke arah mobilnya.

.

.

Kibum bersandar pada salah satu pohon oak yang berdiri tegak di pekarangan universitasnya. Iris obsidiannya yang dibingkai oleh kacamata menatap ke arah gerbang. Raut wajahnya sulit terbaca namun ada sedikit kilat kemarahan yang terlihat di matanya. Ia mengalihkan pandangannya pada ponsel miliknya—yang memang sejak tadi ia genggam.

"Itu adikmu kan?"

Kibum menyibukkan dirinya dengan menekan tombol-tombol ponselnya secara asal. Ia tidak perlu menoleh pada siapapun yang baru saja berbicara padanya karena tanpa dilihat pun ia sudah tahu siapa orang itu.

"Tidak, tidak, kurasa lebih tepat kalau menyebutnya… kekasihmu, right?"

Kibum melengos perlahan. "Shim Changmin, bisakah kau tutup mulutmu itu?"

Namja bertubuh jangkung itu hanya mengeluarkan seringainya. Mengganggu si sulung dari kedua bersaudara Kim memang salah satu kegiatan yang menyenangkan—baginya, karena reaksi yang dikeluarkan oleh namja ini selalu menarik perhatiannya. Dulu ia pernah memiliki perasaan khusus pada namja berwajah es ini ketika mereka baru pertama kali bertemu di semester satu, dan tentu saja sebagai orang yang menyukainya jelas ia berusaha untuk menarik perhatiannya walau itu ternyata sangat sulit. Namun sebuah kejadian, tepatnya ketika mereka menginjak semester dua, membuatnya harus menyerah akan perasaannya sendiri. Ayolah, bagaimana ia tidak menyerah kalau orang yang ia sukai ini malah terlihat berciuman dengan seseorang—adiknya—di koridor fakultas seni yang sudah sepi. Dan beruntung baginya karena perasaannya belum terlalu dalam sehingga ia tidak harus merasa frustasi karena patah hati ini.

Dan tentu saja, mengganggu seorang Kim Kibum dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Kim Kyuhyun memang menjadi hiburan tersendiri baginya. Apalagi ditambah dengan kenyataan kalau ia adalah satu-satunya orang di universitas ini yang mengetahui hubungan kedua kakak beradik kembar itu.

"Adikmu itu manis, kau tahu? Tidak khawatir kalau ia akan diambil oleh namja itu?" ujar Changmin, matanya tak lepas dari wajah es Kim Kibum—memperhatikan bagaimana perubahan yang akan ditunjukkannya.

Dan seringainya semakin lebar ketika dilihatnya raut wajah Kibum mulai mengeras—walau orang itu berusaha menutupinya.

"Dia namjachingu Yesung-hyung."

Changmin mengendikkan bahunya, bersikap seolah ia tidak peduli. "Siapa yang tahu kan? Di dunia ini tidak ada yang bisa membaca pikiran seseorang, jadi kau tidak bisa menebak apa yang tengah dipikirkan oleh namja itu atau adikmu sendiri."

Kibum menghentikan kegiatannya menekan tombol-tombol ponselnya.

"Dan perasaan manusia adalah sesuatu yang kompleks, asal kau tahu saja. Hanya dalam hitungan detik, bahkan perasaan cinta yang dalam bisa berubah menjadi kebencian…"

"Kau tahu, Shim Changmin, kurasa daripada masuk fakultas kedokteran kau lebih cocok masuk fakultas psikologi saja."

Changmin hanya tertawa mendengar ucapan itu, terasa dingin dan menusuk sebenarnya kalau dilihat dari nada yang dikeluarkannya. Namun ia sudah terlalu biasa dengan itu, hingga sepertinya ia malah seperti sudah membangun dinding untuk memproteksi dirinya dari kalimat yang dikeluarkan oleh namja es di hadapannya ini. "Kuanggap itu pujian untukku…"

Kibum mengerutkan alisnya. Kelihatannya yang orang gila di sini bukan hanya dirinya saja tapi juga seorang namja kelebihan tinggi badan bernama Shim Changmin.

Memutuskan kalau tidak ada gunanya ia meladeni pembicaraan ini, Kibum beranjak dari tempatnya bersandar meninggalkan Changmin yang masih setia memasang seringainya itu. Daripada hasratnya untuk menghajar orang itu semakin besar, lebih baik ia segera menyingkir dari situ.

"Ah, kau tahu, Kim Kibum. Kelihatannya aku mulai tertarik dengan adikmu."

"Kau akan menyesal kalau kau berani mendekatinya. Ingat itu."

Seringai masih tidak lepas dari wajah tampannya. Memang benar, mengganggu orang itu memang menyenangkan. Tentu saja ia hanya bergurau dengan ucapannya itu, karena ia tahu, sekeras apapun ia berusaha untuk memasuki territory kedua namja kembar itu, ia hanya akan jadi outsider yang tentu saja diabaikan olehnya. Lagipula... ia juga tidak ingin mengganggu kehidupan sahabat dekatnya itu. Yah, semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka berdua.

.

.

"Zhoumi-sunbae, mau bertaruh denganku?"

Namja bersurai merah itu menolehkan kepalanya hingga pandangannya bertumbukan dengan seorang namja yang sama tingginya dengan dirinya. Ia mengerutkan alisnya melihat siapa yang tengah berbicara padanya.

Ia tahu kalau orang ini salah satu hoobaenya di universitas ini, namun ia tidak menyangka kalau orang ini akan lebih dulu menyapanya. Tumben sekali ada seorang mahasiswa dari jurusan kedokteran berkeliaran di fakultas seni seperti ini. Namun ia lebih memilih diam, menunggu kelanjutan dari ucapan namja yang diketahuinya bernama Shim Changmin ini.

Changmin berjalan mendekati sunbaenya yang dikenal memiliki suara yang indah ini. "Aku tahu kalau sunbae mengetahui bagaimana hubungan Kim Kibum dengan Kim Kyuhyun."

"Lalu... maumu?"

"Mau bertaruh denganku? Kira-kira kalau seluruh universitas ini tahu hubungan mereka, apa yang akan terjadi?"

Dan Zhoumi hanya bisa terbelalak mendengar itu. Satu dalam pikirannya saat ini, hubungan kedua bersaudara itu memang gila namun orang ini jauh lebih gila lagi.

.

.

Yesung menatap ke arah luar jendela. Saat ini ia tengah berada di salah satu cafe yang dekat dengan tempat ia menabrak namja manis bernama Kim Ryeowook. Tentu saja ia kini tengah bersamanya, bukankah tadi ia mengatakan kalau ia akan mentraktirnya makan?

Ryeowook yang duduk di hadapannya menghentikan kegiatan makannya. Ia tahu kalau orang di hadapannya ini sama sekali belum menyentuh makanan yang sudah dipesannya. Indera pendengarannya cukup tajam untuk tidak mendengar sedikitpun suara peralatan makan yang beradu dari namja di hadapannya sebagaimana hal yang biasa ia dengar kalau dekat dengan orang yang sedang makan, ditambah dengan sepinya keadaan cafe ini yang membuatnya semakin yakin kalau orang ini sedang melamun.

"Hyung, gwaenchana?"

Yesung tersentak ketika suara tenor itu memanggilnya. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah meja dan didapatinya namja manis itu tengah menatap khawatir padanya. Ia tersenyum lembut, menyadari kalau ia malah membuat khawatir namja di hadapannya ini. Yah, salahkan pada intuisinya saat ini yang entah kenapa membuat perasaannya agak tidak enak.

"Nde, gwaenchana."

Ryeowook diam. Ia tahu kalau orang di hadapannya ini tengah berbohong padanya. Memang banyak orang mengatakan kalau seseorang bisa diketahui berbohong hanya dengan melihat matanya, namun jelas saja itu tidak berlaku untuknya yang tidak bisa melihat. Namun kelebihannya adalah, ia bisa menebak seseorang berbohong atau tidak hanya dengan mendengar nada suaranya saja.

Tapi ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Selain karena tidak ingin dianggap terlalu ingin tahu masalah orang lain—walau sebenarnya ia khawatir, mereka baru saja mengenal hari ini. Tidak sopan kan kalau ia yang notabenenya baru mengenal namja di hadapannya ini selama beberapa jam malah menanyakan hal yang terkesan sangat pribadi?

Jongwoon-Hyung, sebenarnya kau ini siapa? Kenapa rasanya aku seperti pernah mendengar suaramu?

Yesung kembali diam. Ia memang berbohong karena nyatanya ia memang tidak baik-baik saja—ah, tidak, sebenarnya sejak dulu ia memang tidak pernah baik-baik saja. Dan sekarang… semakin tidak baik-baik saja karena firasatnya mengatakan kalau sesuatu yang buruk akan terjadi dalam waktu dekat.

Ya Tuhan, semoga saja tidak terjadi hal yang buruk pada mereka berdua…

.

To Be Continued—

.

a/n oke, ini update terakhir sebelum saya bener-bener hiatus sampai seminggu setelah lebaran. :) Pendek? Iya, saya tahu. Tapi mau gimana lagi, ini juga ngetiknya ngebut setelah keluar dari ruang ujian tadi. -.-"

Tinggal dua hari lagi ujian, dan saya libur sampai Oktober. xD #plak

Waktunya bales review~

Guest(1) — haha, mian, lagi sibuk juga sekarang-sekarang. -.-" Iya mereka beneran twincest. Soal ending… gimana nanti aja deh. xDa

Ika . zordick — iya, updatenya emang kelamaan gara-gara saya mendekati akhir semester sih. -.-

Reeiini — Gak tahu tuh ZhouMi mau ngapain, mana sekarang muncul Changmin pula. -.- Yesung… liat nanti aja deh… siapa tahu malah gak sama siapa-siapa. xD #plak

Park Hyo Ra — Mwo? O.o Ternyata ada yang ngestalk juga. O_O Gak tahu tuh Mimi kenapa. #plak. Eh? Belum tentu ini semua happy ending lho…kkkk… xD

KyuKi Yanagishita — Dua-duanya tuh. -.- Itu… maksudnya koala-gege #plak, bakal ketauan di chapter2 depan. xD

Blackyuline — Emang. Gak tahu kenapa sekarang2 jadi suka nyiksa Yeppa. =.=

Cloud3024 — Nasibnya? Tunggu chapter depan aja. xD Alesan kenapa Yesung bisa pacaran sama Siwon nanti saya ungkapkan deh. xDD Ending? Gimana nanti aja deh… :)

Guest(2) — Karena saya agak sibuk. -.- Kenapa sodara? Kan biar seru. xD Lagi puasa, jadi NC ditunda chapter selanjutnya aja. -.-

Chocolatess — waduh, ada yang ngitung juga ternyata. O_Oa Haha, saya malah ragu kalau ini bakalan happy ending semuanya. xD #plak

EviLisa2101 — Sekarang makin bulukan lagi kan? 8D #plak NC-nya setelah lebaran aja ya. xD Toanya balikin ke masjid sana… -.- #lukataitunyolong

Guest(3) — udah saya lanjut nih. -.- Bagus kan jadi saya ada temen suka sama KiHyun. xD #plak

Cloud'sHana — Bagus ada yang inget. xD #plak. Dan sekarang baru update lagi. xD Lalu muncul Changmin juga, gak tahu deh ini bakal kayak gimana. xDDa #duagh

Cloudyeye — udah lanjut. xD

MilMilk2034071chapter depan saya janji gak akan dicut deh. -.-

dennisbubble1004udah lanjut, chingu. :)

Oke, dengan ini, saya bakal balik lagi setelah lebaran. xD See you two weeks later~

.

~Praise Youth and It Will Prosper~

.

Sign

Rin—