.
.
.
Hana Yori Dango 3
THE NEXT GENERATION
.
.
.
Disclaimer
Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,
sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.
Written by ButaTokki and CamsaHead
Translated by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 6
"KAU~"
Sakura melompat sedikit ketika Ino menggoyangkan jari menuduh ke wajahnya. Dia mengerjap dan menatap wajah Ino. Ini adalah hal terakhir yang dia harapkan terjadi di pagi hari.
"Ohayo?" kata Sakura, ragu-ragu.
"Jangan ohayo-ohayoan! Beraninya kau!"
Sakura berpikir keras apakah dia telah melakukan sesuatu yang menyinggung Ino dengan cara apapun, tapi tidak ada yang terpikirkan olehnya.
"Apa yang aku lakukan?" dia bertanya sedikit takut. Jari Ino masih digoyang-goyangkan.
"Kau pergi ke sebuah acara dan membuat skandal tanpa aku berada di sana! Ada apa denganmu! AKU KAN SUKA HIBURAN DRAMATIS!" Ino protes.
"Aku juga," kata Shikamaru santai dari belakang Sakura.
"Aku tidak. Itu terlalu dramatis," kata Lee di samping Shikamaru.
Ino memelototinya. "Tidak bisakah kau sedikit saja tertarik?" Lee menjulurkan lidahnya. "Jadi... Nona Haruno berpacaran dengan Tuan Uzumaki Naruto!" Sakura merasa pipinya menghangat. "Lain kali kau harus mengajak kami!" kata Ino.
"Aku tidak usah," kata Lee dan menerima tatapan dari Ino yang membuatnya tutup mulut.
"Tidak ada lain kali! Aku hanya punya satu kali momen magis dalam hidupku." Sakura membantah meskipun dia sendiri tahu bahwa itu bohong.
"Dan kami ingin menjadi bagian dari momen tersebut," kata Shikamaru, tersenyum padanya. "Kami benar-benar ingin melihat si tomboy pakai gaun," godanya.
"Kau kan lihat aku pakai rok di sekolah!" balas Sakura.
"Ini beda." Lee tidak setuju, berpihak pada Shikamaru.
"Ajak saja kami denganmu lain kali," rengek Ino.
"Apa kau naksir salah satu dari mereka, Ino?" tanya Shikamaru.
"Siapa? Uchiha gampang marah, Uzumaki sudah ada yang punya, Akasuna benar-benar aneh dan seperti seorang gay, sementara Shimura benar-benar penggoda! Berapa banyak gadis dalam hidupnya yang dia butuhkan?" kata Ino kesal.
"Aku bukan gay."
Suara rendah dan mematikan milik Sasori menyebabkan Ino melompat dan yang lain gemetar saat dia muncul entah dari mana. Ino menatapnya dan tersenyum malu-malu.
"Dan aku butuh gadis sebanyak yang bisa aku dapatkan."
Ino terlonjak lagi saat Sai muncul di sisi lainnya, meskipun Shikamaru, Lee dan Sakura telah melihatnya datang.
"Tapi Sasuke memang gampang marah," kata Naruto, berjalan ke arah mereka. Sakura menyadari bahwa Sasuke mengikuti Naruto dengan sedikit kesal. Tangannya berada di saku dan wajahnya menunduk. "Dan aku memang sudah ada yang punya." Naruto berkata, memegang tangan Sakura yang membuat Sakura malu. Mata Sasuke menyipit melihatnya tapi dia diam saja.
"Sakura, mengapa kau tidak bisa sedikit feminin, bahkan di sekolah!" rengek Sasori, menarik-narik rok sekolahnya, membenci bagaimana itu, entah bagaimana, masih membuatnya tampak tangguh.
"Lepaskan aku!" kata Sakura sambil mendorong Sasori menjauh.
"Harusnya 'tolong lepaskan aku'. Dan jangan mendorong seseorang yang mungkin ingin kau belai tangannya, atau dorong mereka dengan lembut. Dasar tomboy," kata Sasori sambil mendesah.
"Aku tidak butuh tips, Tuan Gay," kata Sakura, menikmati pelukan Naruto yang nyaman, yang membuat Sasuke memandang ke arah lain dengan jengkel dan pedih.
"Sepertinya wanita cantik semalam telah menghilang." Sai mendesah bersama Sasori.
"Diam," balas Sakura.
"Ayo pergi, kita bisa terlambat ke kelas," kata Sasuke, merasa ini semua sudah cukup, kemudian pergi.
Sebagai pemimpin kelompok, semua orang mengikutinya, termasuk Naruto yang sebenarnya enggan melepaskan Sakura. Sakura memperhatikan mereka pergi dan merasa sedikit terganggu dengan Sasuke.
"Dasar perusak kebahagiaan," gumamnya marah.
"Aku penasaran dengan apa yang maksud Shimura saat dia bilang dia butuh gadis sebanyak yang bisa dia dapatkan," kata Lee.
"Dia hanya seorang playboy bodoh," kata Ino.
"Tapi berapa banyak gadis dia bisa dapatkan?" Shikamaru bertanya-tanya dan Lee mengangguk, menanyakan hal yang sama.
"Aku menginginkan gadis-gadis sebanyak yang bisa aku dapatkan juga!" Lee berkata.
Keduanya tiba-tiba hanyut dalam fantasi laki-laki.
"Eeww," kata Ino sambil menatap keduanya melamun. "Jadi Sakura," Ino berkata, beralih ke Sakura, "sepertinya troll tua tukang ngomel menyerah melawanmu dan Naruto. Aku tidak melihat dia menyerangmu hari ini," katanya sambil tersenyum. "Pasti menyenangkan tidak ada maniak yang temperamental di sampingmu, benar kan?" Ino tertawa sebelum menampar belakang kepala Shikamaru dan Lee. "Hentikan. Kalian ngiler. Jorok!"
"Aku rasa begitu," gumam Sakura dan lagi-lagi teringat bagaimana cara Sasuke tertawa.
Dia menggeleng, membersihkan pikirannya dari memori itu. Dia mencintai Naruto, dan Sasuke harus dikesampingkan.
.
.
#The Next Generation#
.
.
"Ah, Sakura-chan, kau mau ke mana?" Ino bertanya saat makan siang dimulai.
"Aku mau mencari Naruto," Sakura menjelaskan dan pergi.
Sakura melewati halaman sekolah dan akhirnya menemukan Naruto di gym, tapi dia melihat seluruh anggota F4 sedang terlibat percakapan yang tampaknya serius yang membuatnya berhenti di pintu. Dia melihat Naruto, Sasori dan Sai berdiri di satu sisi, sementara Sasuke menghadap mereka di sisi lain.
"Mereka bertengkar," Sakura bergumam dan mencoba untuk mendengarkan dengan cermat apa yang mereka katakan. Yang dia tahu pasti, tiga lainnya bersama-sama menentang Sasuke. Begitu yang terlihat.
"Ini bukan permainan. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil milikku." Sasuke berkata tegas dengan ekspresi yang tegas pula.
Naruto berdiri di depan Sasuke dan di belakangnya berdiri Sasori dan Sai. Dalam momen sebelumnya sepanjang hari itu, semakin Sai dan Sasori menggoda Naruto tentang hubungannya dengan Sakura semakin marah Sasuke, sampai dia benar-benar meledak dan berkata pada Naruto bahwa dia jatuh cinta pada Sakura. Dia membuat penekanan bahwa tidak seperti Naruto yang mengaku menyukai Sakura, Sasuke mencintainya. Entah bagaimana mereka berakhir di sini, saling bertatapan, man to man.
"Aku tidak akan membuat kesalahan seperti ayahku," Naruto menjawab. Nada bicara mereka tenang tapi mematikan. Sakura menahan napas saat dia mendengarkan diam-diam. "Dia menyerahkan kebahagiaannya dengan wanita yang dicintainya untuk ayahmu. Sekarang takdir memberiku kesempatan ini untuk bahagia!" kata Naruto.
"Kau salah!" kata Sasuke, suaranya meninggi. "Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang hanya bisa kita serahkan pada nasib!"
Dan tiba-tiba Sakura tahu mereka sedang membicarakan dirinya. Mungkinkah...? Mungkinkah Sasuke... benar-benar menyukainya?
"Naruto," panggil Sakura cukup keras sehingga bisa mereka dengar.
Sakura melangkah keluar dari bayang-bayang. Mereka menatapnya dan dia melihat Sasuke memandangnya dengan heran sebelum berubah serius lagi.
"Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bersama," kata Sasuke, nadanya lembut tapi ada finalitas dan kekuasaan di dalamnya.
Sasuke memberi tatapan terakhir ke arah Sakura. Matanya menunjukkan campuran kebencian dan rasa sakit, seperti biasa… tapi kali ini dia juga melihat keinginan di dalamnya. Keinginan manis yang membuat jantungnya berdetak cepat.
"Apa yang terjadi?" Sakura bertanya, berpura-pura tidak menyadari segala sesuatu yang terjadi meskipun dia tahu persis apa yang sedang terjadi. Hal terakhir yang bisa dia duga atau bayangkan adalah Uchiha Sasuke yang hebat begitu menginginkan dirinya... begitu menyukainya! Ini tidak masuk akal tapi itulah yang terjadi.
"Tidak ada apa-apa," kata Naruto pelan, tidak ingin memberi tahu Sakura bahwa Sasuke baru saja mengatakan bahwa dia jatuh cinta padanya.
"Tidak ada. Sasuke kehilangan kelerengnya. Itu saja." kata Sasori, mencoba untuk mencerahkan suasana.
"Aku tidak tahu Sasuke punya sisa kelereng untuk dihilangkan," kata Sai.
Sasori memberi Sai tatapan 'aku tahu itu!' yang membuat Sakura tersenyum lembut.
"Bukan apa-apa?" Sakura bertanya lagi, dan ketiganya diam-diam saling memandang dan mengangguk.
"Bukan apa-apa," Naruto mengulangi.
Sakura mengerti mengapa mereka tidak ingin mengatakan padanya, mengapa Naruto tidak mau memberitahunya. Dia tidak ingin kehilangannya. Sakura merasa jantungnya tersentak. Dia memeluk Naruto, sedikit terganggu dengan fakta bahwa "sentakan" yang dia rasakan terhadap Naruto benar-benar berbeda dengan Sasuke. Tapi seperti memori akan tawa Sasuke, dia hanya akan menyimpannya dalam pikirannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura pada Naruto saat melihatnya seperti memiliki masalah.
"Yeah, aku baik-baik saja," kata Naruto dan mencium keningnya.
Semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak ingin terlalu khawatir tentang Sasuke, tapi untuk beberapa alasan dia merasa semuanya seperti berputar di luar kendali mereka.
.
.
#The Next Generation#
.
.
Sasuke bersandar di tepi atap sekolah. Entah bagaimana dia menyukai sensasi pusing. Dia berpikir bahwa dengan satu gerakan kecil dia bisa jatuh ke trotoar di bawah. Tidak pernah ada yang pergi ke atap Eitoku Gakuen—siswa-siswa di sini terlalu canggih—tapi dia punya darah rakyat jelata dalam dirinya dan kadang-kadang dia berpikir seperti mereka. Sambil menghirup napas, dia mendongak ke langit. Matanya mengikuti awan yang sedang melayang.
"Mou ii," katanya lembut, berbicara sendiri atau lebih seperti berbicara pada nasib.
Sasuke menemukan dirinya tersiksa oleh nasib dan dia tidak menyukainya sedikit pun. Mengapa nasib memilih dirinya? Apa yang telah dilakukannya sehingga dunia melawannya?! Alisnya berkerut saat dia merasa dalam masalah. Dia ingin seseorang, sekali dalam hidupnya, cukup peduli untuk memperjuangkan dirinya... untuk mencintainya...
Sakura menghabiskan sisa jam makan siang dengan Naruto, Sasori dan Sai. Tapi begitu bel berdering, dia tidak kembali ke kelas, seperti yang seharusnya dipikirkan penerima beasiswa yang waras. Dia menaiki tangga yang mengarah ke atap sekolah, tiba-tiba merindukan hembusan angin. Dia selalu menyukai belaian angin di kulitnya. Keluarganya jarang menggunakan AC sehingga selalu angin yang membuatnya tetap dingin dan anginlah yang diinginkannya saat ini. Meskipun dia tahu itu tidak mungkin, dia tetap berharap angin akan membawa pergi masalah dan kekhawatirannya.
Mengetahui tidak ada gunanya berharap, Sakura menghela napas dan membuka pintu atap dan menemukan dirinya menghadap punggung Sasuke. Sasuke bersandar di pagar, benar-benar santai. Sakura langsung ingin menghampirinya. Mendengar suaranya saja akan cukup baginya. Tapi Naruto kembali ke benaknya dan bagaimana perasaan Naruto jika kehilangan dirinya. Dia mengerutkan bibirnya dan hendak menutup pintu di belakangnya ketika pintu itu berderit.
Sasuke memutar kepalanya dengan sedikit kesal, bertanya-tanya siapa sih yang repot-repot datang ke atap sekolah, dan dia melihat Sakura membeku. Matanya melunak saat melihat Sakura, namun dia tidak mengatakan apa-apa. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi sebagian dari dirinya merasa tidak enak pada Naruto, selain itu dia tidak tahu harus berkata apa. Lalu matanya beralih dari Sakura dan kembali melihat langit.
"Kau boleh pergi kalau kau mau," katanya tiba-tiba, terkejut saat mendengar suaranya sendiri. "Aku tidak akan menghentikanmu." Dengan lembut dan tenang, dia berbicara pada Sakura. Suaranya lembut terbawa angin. "Setidaknya tidak sekarang," katanya, menutup mata dan menarik napas.
Sakura tersenyum lembut mendengar nada suaranya, senang menemukan sisi manisnya lagi.
"Sebenarnya... aku punya pertanyaan yang ingin aku tanyakan," kata Sakura, mendekat ke arahnya. "Kenapa kau tidak mengijinkan kami bersama?" tanyanya, mengacu pada Naruto dan dirinya sendiri.
"Bukankah sudah cukup jelas?" tanya Sasuke. Suaranya berubah menjadi bisikan saat jari-jarinya menggenggam jari-jari Sakura dan hati Sakura mulai berdetak lebih cepat.
Untuk beberapa alasan Sasuke tidak bisa menahannya lagi. Bagian terakhir dari kontrol diri yang dimilikinya telah lenyap. Dia menutup jarak di antara mereka dan mengistirahatkan dahinya pada dahi Sakura, merasa bahagia ketika Sakura tidak menarik diri atau menunjukkan tanda-tanda penolakan.
"Kau satu-satunya yang tidak akan pernah kuberikan," kata Sasuke, tersenyum.
Sakura benar-benar terdiam dan hanya bisa menatap Sasuke. Dia ingin momen ini bertahan selamanya, tetapi saat-saat bahagia seperti itu selalu hancur oleh realitas.
"Ada yang menemukan Uchiha-sama?"
Mereka mendengar seseorang berteriak dari bawah. Senyum Sasuke memudar dan dia menutup matanya, masih mempertahankan kedekatan mereka, tapi dia kesal sekarang.
"Aku akan memeriksa di sini!"
Yang lain berteriak, suaranya datang dari tangga. Dalam waktu kurang dari satu menit seseorang akan membuka pintu. Sasuke menggertakkan gigi dan mengeratkan pegangannya pada tangan Sakura.
"Uchiha-sama!" Orang itu berkata sambil membuka pintu. Apa pun yang akan dia katakan pasti mendesak, dilihat dari caranya mengabaikan pandangan keduanya. "Mereka bilang ibumu meninggal!"
Sakura menyaksikan semua rona terkuras dari wajah Sasuke. Pegangannya pada tangan Sakura benar-benar terlepas dan dia hanya berdiri di sana. Syok jelas tergambar di wajahnya. Mulutnya sedikit terbuka dan Sakura melihat matanya digenangi air mata.
"U-uso..," katanya lirih.
Jantung Sasuke benar-benar berhenti berdetak. Dia tidak mendengar langkah kaki berlari ke atap, tapi Naruto, Sai dan Sasori sekarang berdiri di sana.
"Sasu-chan—" Naruto memulai tapi Sasuke tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Tanpa diduga dia berlari keluar pintu, menuruni tangga dan mulai lari ke rumah.
'Tidak! Ini tidak mungkin terjadi! TIDAK!' hanya itu yang bisa dia pikirkan.
Kakinya entah bagaimana membawanya dengan cepat ke rumahnya meskipun rasanya seperti bertahun-tahun. Dia berlari ke rumahnya hanya untuk melihat orang-orang membawa tubuh ibunya keluar dari kamarnya. Kain putih menutupi tubuhnya.
Ketika Fugaku melihat anaknya, dia berjalan ke arahnya, tapi Sasuke mengabaikannya, melewatinya dan menuju ke arah tubuh ibunya. Dia menarik kain putih itu dan menatapnya. Air mata jatuh dari matanya. Dia meraih dan menyentuh wajah ibunya... dingin.
"Bangun." Dia berkata pelan pada awalnya, menempatkan tangannya di bahu ibunya dan mulai mengguncangnya. "Bangun," katanya keras. Naruto, Sai, Sasori dan Sakura tiba pada saat itu. "BANGUN!" Dia berteriak, benar-benar gemetar hebat. Fugaku bergegas ke arahnya, mencoba menghentikan anaknya saat dia melihatnya benar-benar hancur, tapi Sasuke hanya melihat ibunya. "BANGUN! KAU BILANG KAU TIDAK AKAN MENINGGALKANKU. KAU BOHONG!" teriaknya, Fugaku menarik anaknya menjauh dan tubuh istrinya dibawa pergi. "TIDAK! TIDAK! IBU BANGUN!" Dia berteriak. Fugaku memeluknya dari belakang. Memegang tangannya saat anaknya memberontak dalam pelukannya.
"BANGUN!" Sasuke menangis. Dia memberontak sampai kehabisan tenaga dan lemas dalam pelukan Fugaku, dan hanya menangis. Mereka jatuh ke lantai bersama-sama. Fugaku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menahan anaknya. "Maafkan aku." Sasuke mulai terisak-isak. "Ibu, maafkan aku... ibu..."
Sakura menyaksikan dengan mata berkaca-kaca, merasa hatinya ikut hancur bersamanya.
.
.
#The Next Generation#
.
.
Sasuke duduk di kamarnya. Air matanya akhirnya berhenti. Dia akhirnya kehilangan semua tenaganya tapi dia tidak bisa tidur. Dia terlalu sedih untuk tidur dan dia merasa dunia menjauh dan hening saat dia hanya duduk di sudut sana. Ayahnya pergi untuk mengurus pemakaman ibunya. Dia tidak ingin melihat teman-temannya. Dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi selain kosong dan hampa, dan yang bisa dia lakukan hanya menatap hampa. Dia bahkan tidak menyadari bahwa seseorang telah memasuki kamarnya. Dia hanya tahu seseorang berada di sana ketika dia merasa sebuah tangan membungkusnya.
"Sasuke."
Dia mendengar seseorang berkata. Dia tidak bisa melihat wajahnya karena semua lampu dimatikan dan saat itu mungkin hampir tengah malam, tapi dia mengenali suara itu di manapun dan kapanpun.
"Sakura, aku tidak bisa tidur," katanya, suaranya tenang dan serak. "Seharusnya aku tidak berkata aku ingin dia mati... aku seharusnya tidak—" Dia tersedak kata-katanya sendiri saat isakan keluar dari mulutnya dan air matanya mulai turun lagi.
Sakura membantu Sasuke berdiri tanpa kata dan membawanya ke tempat tidurnya. Sakura membiarkannya berbaring dan duduk di sampingnya, tidak mengatakan apa-apa, hanya memegang tangannya dan menangis diam-diam. Sakura tidak tahu apa yang mendorongnya untuk berbaring di samping Sasuke sesaat kemudian, atau mengapa dia memeluk pinggangnya dan membenamkan wajah ke dadanya, tapi dia menyukai sensasi saat lengan Sasuke membungkus tubuhnya dan wajahnya terkubur di lehernya. Dia sudah tenang tapi tidak cukup untuk menghentikan tangisnya.
"Tidak apa-apa," katanya lembut, mulai mengusap punggung Sasuke. "Aku di sini," bisiknya.
Sasuke terus memeluknya. Dia tidak tahu apa arti kata-kata itu bagi Sasuke terutama pada saat ini, tapi dia tahu ini semua tak akan bertahan lama.
"Tidak," Sasuke balas berbisik, meskipun pelukannya tidak berkurang. "Di pagi hari... kau akan kembali ke Naruto," katanya, membuat Sakura tegang dalam pelukannya. "Tapi untuk sekarang... saat ini... kau adalah milikku." Dia berkata dengan lembut, menarik diri sedikit hingga dia bisa menatapnya. Sakura mendongak dan tidak sanggup bernapas. "Hanya untuk malam ini." Suaranya serak saat Sakura menatapnya.
Sasuke membungkuk lebih dekat dan menyentuhkan bibirnya pada bibir Sakura dan pikiran Sakura menjadi berkabut. Dia tidak bisa berpikir lagi. Dia tidak ingin menyakiti Naruto, tapi dia tahu pasti... semua yang dia inginkan saat ini hanyalah Sasuke. Sasuke menciumnya lagi, dan ketika dia menarik diri, Sakura langsung duduk.
"A-aku tidak bisa berpikir," katanya.
Ketika dia hendak berdiri dan pergi, Sasuke memegang tangannya.
"Maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi. Hanya saja... tetaplah di sini," kata Sasuke
Sakura tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia kembali berbaring dan keduanya tertidur damai, karena hanya dengan bersama-sama mereka mampu menghapus semua kekhawatiran dan masalah yang dibawakan nasib kepada mereka.
.
.
.
TBC
.
Author's bacot area
Yuhuuu… sesuai permintaan update kilat :D
Judul diperpendek jadi "The Next Generation" biar gak ribet dan rate dinaikin jadi M untuk jaga-jaga.
Balasan review:
GaemSJ : Iya, ini BBF/BOF/MG versi sasusaku
JungYH : Haha, Tsukasa x Fugaku emang beda banget. Anggap aja OOC ya. Btw iya nih, reviewnya sedikit banget. Reader-san udah bosen kali sama HYD :D
SHL7810 : Imej Naruto emang beda banget, tapi kalau dibikin ceria as always bisa ngerusak cerita. Tar author diomelin sama yg punya cerita asli. Haha.
caesarpuspita : Sasuke-kun emang selalu bikin penasaran :P
naintin : Cerita aslinya judulnya "Hana Yori Dango 3: The Next Generation" versi YamaShi [Yamada Ryosuke x Shida Mirai]. Googling aja ya.
SHL7810 : NaruSaku emang pantesnya jadi kakak adik ya.
Persephone-Athena & Fivani-chan : Gak papa telat review. Direview aja author udah seneng banget kok.
axwdgs : Udah sampe chap 6 ya say :)
Cherryma : Iya nih, kasian Mikoto-san meninggal. Tapi ada kejutan kok di chap-chap berikutnya. Ikutin terus ya.
suket alang alang : Mungkin bukan alurnya yang kecepetan, tapi postingnya. Belum seminggu aja udah sampe chap 6. Hehe.
Makasih banyak untuk review dan masukannya ya minna. Sampe ketemu di next chap :)
