Mine and Yours—

Author: Rin

Chapter: 4/?

Disclaimer: All casts is belong to theirselves.

Rated: M

Pair: KiHyun, WonSung, ZhouRy, YeWook, WonKyu.

Genre: Romance – Family – Angst

.

Warning: AU, YAOI, OOC, twincest, mature contents, Possessive!Kibum, uke!Kyu, Kibum and Kyuhyun as twins, changing of Kyuhyun's surname.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

Kibum mengendarai mobilnya, menembus keramaian di jalanan-jalanan Seoul yang ramai. Langit sudah sepenuhnya gelap dengan awan-awan hitam yang menggantung, tanpa satu pun bintang yang terlihat, seolah itu adalah ejekan alam padanya yang memang sedang dalam mood yang… agak keruh.

Namja berkacamata itu menaikkan kecepatan mobilnya ketika ia memasuki jalanan yang cukup sepi. Tak ada niat sedikit pun untuk pulang ke rumah, karena toh kalau pun ia ke sana, ia khawatir itu akan semakin memperkeruh suasana hatinya.

Jujur saja, kejadian tadi sore sebenarnya masih terbayang dalam pikirannya. Ia tidak menyalahkan siapapun. Itu hak adik kembar tidak identiknya untuk pergi dengan siapapun yang dia mau, lagipula pertemuannya dengan Siwon juga kemungkinan hanya sebuah kebetulan. Hanya saja… yah, wajar saja kalau ia cemburu dengan kedekatan adik berstatus kekasihnya itu dengan orang lain kan?

Ia menurunkan kecepatan laju mobilnya, hingga berhenti sama sekali—di jalanan yang tidak dikenalnya. Ia tidak khawatir, toh ini masih di Seoul. Kibum menghela nafasnya, ia menumpukan kepalanya pada pada stir mobil yang sedari tadi ia genggam dengan agak keras—buah dari pelampiasan emosinya.

Memang tidak ada yang salah dengan apapun yang terjadi sebenarnya saat ini. Justru ia yang salah karena sudah mencintai saudaranya sendiri—lebih parahnya lagi adik kandungnya yang hanya lebih muda beberapa menit daripada dirinya. Bukannya ia pura-pura buta dengan kenyataan kalau ia sebenarnya tengah memacari adik kandungnya sendiri, hanya saja… ia lebih memilih untuk mengabaikannya. Toh adiknya itu juga sama seperti dirinya. Sama-sama mencintainya—membuat mereka sebenarnya melakukan dua dosa di waktu yang bersamaan.

Kibum menyandarkan tubuhnya pada punggung jok, matanya menatap jalanan sepi yang hanya diterangi lampu jalanan yang agak redup dengan tatapan hampa. Sebenarnya… kalau boleh jujur, ia lelah. Terlalu lelah, kalau boleh dispesifikasikan. Menjalani hubungan seperti ini tidak mudah, bahkan mungkin cenderung berbahaya. Beban moral yang ditanggung juga sangat berat.

Lalu…

Terlebih lagi… mereka sudah mengecewakan banyak orang. Orang tua mereka yang sudah meninggal, juga… Yesung, satu-satunya orang dewasa yang bisa mereka percayai hingga kini.

"Tch…"

Sebenarnya semuanya akan lebih mudah, kalau saja ia tidak mencintai saudaranya sendiri—dan akan lebih mudah lagi kalau ia mencintai seorang yeoja. Yang jadi masalahnya adalah, benar kata banyak orang, cinta itu buta. Love is blind.

Cinta bahkan membuatnya tidak lagi memandang apakah mereka sesama namja atau bukan, apakah mereka berhubungan darah atau tidak. Pernah dulu ia berusaha untuk mengubur dalam-dalam perasaannya itu—memilih untuk menyembunyikannya hingga rasa itu mati perlahan. Namun, tak semudah ia mengucapkannya, karena itu adalah hal tersulit yang harus ia lakukan selama usia hidupnya hingga kini. Itu bahkan jauh lebih sulit daripada harus mengerjakan soal-soal untuk mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang pernah ia kerjakan dulu ketika ia masih duduk di bangku SMU.

Teman dekatnya, Shim Changmin, mengetahui hubungannya ini dan ia ragu kalau hyung tertua di rumahnya itu tidak juga menyadari hubungannya dengan Kyuhyun mengingat betapa seringnya mereka melakukan hubungan sexual di tengah malam. Tidak, tidak, ia tahu kalau hyungnya itu tidak sebodoh kelihatannya. Orang itu terlalu peka sejujurnya, dan ia tahu itu. Apa hyungnya itu memilih untuk berpura-pura tidak tahu?

Kibum tersentak. Ini mengganjal pikirannya, selain kejadian tadi siang juga ucapan Changmin padanya—yang entah bercanda atau tidak—dimana orang itu mengincar Kyuhyun, adiknya. Atau kalau lebih ditekankan lagi, KEKASIHNYA.

Ia mengambil ponsel yang ia simpan begitu saja di bangku penumpang di sebelahnya. 15 pesan. 23 panggilan tidak terjawab.

Memilih untuk mengabaikan semua itu—toh ia tahu siapa yang mengirimnya, ia menekan beberapa tombol, mengetik angka yang sudah sangat dihafalnya.

Kibum menunggu beberapa saat, hingga panggilan itu tersambung. Namun...

'Nomor yang Anda tuju sedang—'

Ia mengerutkan alisnya. Heran.

Ini yang mengganggunya sebenarnya. Kalau Choi Siwon ada di sekitar kampusnya, dimana Yesung berada? Seorang manajer harusnya selalu berada di samping sang artis yang didampinginya, terlebih lagi hyungnya itu bilang kalau mereka akan sibuk dan baru bisa pulang besok pagi—atau siangnya.

Atau…

Kibum semakin mengerutkan alisnya. Ini bisa jadi salah satu kemungkinan sih—walau jauh dalam hatinya ia lebih memilih untuk tidak menghiraukannya.

"Hyung, apa kau membohongi kami?"

.

.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Raut khawatir tercetak jelas di wajah semi pucatnya. Ia memeluk kedua lututnya, mendudukkan diri di atas sofa berwarna pastel di ruang tengah. Sesekali diremasnya celana jeans berwarna krem yang dikenakannya. T-shirt lengan panjang berwarna coklat tua yang melekat di tubuhnya kusut di beberapa bagian karena ia kadang meremasnya dengan agak keras.

Namja berambut coklat itu sesekali menatap layar ponselnya, berharap ada sebuah panggilan masuk atau pesan masuk ke dalam ponselnya. Tapi nihil, dan itu semakin membuatnya khawatir. Hyung kembarnya itu belum pulang padahal orang itu bilang kalau dia akan pulang sekitar pukul enam petang, sementara ini bahkan sudah lewat dari pukul tujuh—sudah lebih dari waktu makan malam.

Puluhan kali ia mencoba menghubungi ponsel hyungnya itu dan belasan pesan sudah ia kirimkan, tapi tak ada jawaban atau balasan atas semua pesannya itu. Sebenarnya kemana hyungnya itu?

Baiklah, ini mungkin agak sedikit kekanakan dan memalukan sejujurnya. Usia mereka sudah melewati angka dua puluh—dan mungkin wajar saja kalau salah satu di antara mereka atau mengkin keduanya untuk pulang ke rumah bahkan melewati jam malam. Namun… ini menyesakkan. Sendirian di rumah, tanpa ada yang menemaninya itu menakutkan kalau boleh dibilang. Ia khawatir—dan takut—kalau orang-orang di rumah ini tidak akan kembali dan meninggalkannya sendiri.

Ia tahu ia terlalu paranoid, karena kemungkinan terjadinya hal itu adalah hampir mendekati nol persen—kecuali Yesung mungkin. Hanya saja kehilangan kedua orang tuanya secara langsung membuatnya kadang merasakan ketakutan akan ditinggalkan seperti ini. Terlebih lagi… oleh hyung kandungnya.

Dddrrtttt... dddrrtttt…

Suara getar ponsel menyadarkannya dari lamunannya. Buru-buru ia melihat layar ponselnya dan seulas senyum terukir di wajahnya ketika dilihatnya nama yang tertera di sana adalah nama hyungnya.

"Yeoboseyo…"

"…"

"Nde, aku hanya sendiri di rumah. Waeyo?"

"…"

"Ya sudah. Kapan kau pulang, hyung? Kau tidak tahu kalau aku mengkhawatirkanmu?"

Wajah Kyuhyun merona merah. "A-aniyo. A-aku tidak merindukanmu, hanya… hanya mengkhawatirkanmu. Itu saja!"

"…"

"Yaa! B-berhenti menggodaku dan cepat pulang, Kim Kibum!"

Kyuhyun mengakhiri pembicaraan. Setidaknya itu yang harus dilakukannya sebelum wajahnya benar-benar menjadi merah saat ini.

Cklek. Brakk!

Suara pintu yang terbuka lalu menutup kembali. Kyuhyun buru-buru beranjak dari sofa tempatnya duduk, berjalan menuju pintu depan.

"Hyung~" Kyuhyun langsung berlari ke arah Kibum yang memang baru memasuki rumah lalu memeluknya, seolah mereka sudah tidak bertemu selama berhari-hari.

Kibum membalas pelukan Kyuhyun sambil tersenyum tipis. Kelihatannya hanya dengan melihat wajah manis adiknya itu, moodnya yang agak suram jadi menguap entah kemana. Justru keputusannya untuk berkeliling Seoul dengan mood seburuk itu adalah pilihan paling buruk yang pernah dipilihnya.

"Hm? Kau begitu merindukanku, eoh? Padahal kita kan baru beberapa jam tidak bertemu…" Kibum mencium pucuk kepala Kyuhyun, seketika wangi lavender mengusik indera penciumannya. Aroma yang sangat disukainya.

Wajah Kyuhyun merona merah—tipis dan hampir tidak terlihat, tapi deskripsi itu tidak berlaku untuk Kim Kibum, karena sesamar apapun rona merah di wajah Kyuhyun, itu tidak akan pernah luput dari indera penglihatannya.

"A-aniyo, aku hanya khawatir kau kenapa-kenapa di jalan. Kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku? Kau tidak tahu kalau aku benar-benar khawatir dan... dan..."

Kibum menarik wajah Kyuhyun hingga menghadap ke arahnya. "Dan apa?"

Kyuhyun menggigit bibirnya, iris obsidiannya berusaha untuk tidak menatap hyungnya yang menatapnya dengan intens. "Dan... aku takut... kalau kau... pergi meninggalkanku... sama seperti oemma dan appa…"

Kibum terdiam beberapa saat mendengar itu. Ia tahu di antara mereka yang sebenarnya paling shock dengan kematian kedua orang tuanya adalah adiknya ini. Dan hal itu membuat adik kembarnya itu kadang merasa paranoid kalau ia akan ditinggalkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Namja berkacamata itu mencium pipi adiknya, berusaha menenangkannya. "Aniyo, kau tahu kalau aku tidak akan meninggalkanmu, karena aku tidak bisa hidup tanpamu—"

kecuali kalau aku meninggal lebih dulu, mungkin.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Hangat, dan itu menenangkannya.

"Ah, ngomong-ngomong, Kyu. Kau sudah makan?"

Kyuhyun mendongakkan kepalanya, lalu menggeleng. "Aku menunggumu, hyung. Waeyo?"

"Aku lapar." Jawab Kibum—singkat.

"Eh? Kalau begitu kau mau menungguku menghangatkan makan malamnya?" tanya Kyuhyun. Ia melepaskan pelukannya dan hendak beranjak menuju dapur sebelum kemudian hyungnya itu menahan tubuhnya.

"Aniyo, aku lebih memilih untuk 'memakanmu'~" Bisik Kibum, tepat di telinga Kyuhyun.

Wajah Kyuhyun memerah. "Yaa, dasar pervert! Memangnya kau tidak puas menyetubuhiku dua kali hari ini! Cepat mandi sana dan ganti bajumu! Aku akan menghangatkan makan malam kita!"

Dan detik berikutnya, Kyuhyun menyentakkan tangan Kibum yang melingkar di pinggangnya dan segera berlari menuju dapur, meninggalkan Kibum yang berusaha menahan tawanya. Sesekali menggoda adiknya itu seru juga.

Kibum melangkahkan kakinya menuju kamar mereka berdua. "Ah, Kyu! Jangan hancurkan dapurnya, ne? Aku sedang malas mendengar ceramah Yesung-hyung nantinya!"

.

.

Minggu pagi yang cukup cerah menyambut kediaman keluarga Kim yang saat ini hanya ditinggali oleh dua orang. Yesung masih belum pulang, dan kelihatannya ia memang menepati ucapannya bahwa ia akan pulang hari ini.

Kyuhyun membuka kedua matanya perlahan. Ia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang menyusup melalui celah-celah jendela yang tirainya terbuka. Ia menoleh ke arah meja. Sudah jam tujuh pagi. Kyuhyun kemudian mengalihkan pandangannya ke sampingnya. Sudah kosong. Kelihatannya hyungnya itu sudah bangun lebih dulu daripada dirinya.

Namja berambut coklat itu berusaha untuk bangkit lalu mendudukkan dirinya. Ia menguap perlahan dan mengusap kedua matanya yang sedikit berair. Deetik berikutnya, ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Di luar kebiasaan yang seharusnya terjadi di antara kedua bersaudara itu, kali ini Kyuhyun tidak harus menyeret langkahnya menuju kamar mandi dengan susah payah karena... yah, kelihatannya karena kelelahan, Kibum memutuskan untuk tidak melakukan hubungan sex tadi malam. Selalu seperti itu tiap kali Yesung tidak pulang selama beberapa hari, maka Kibum tidak akan berhubungan intim dengannya. Mengherankan sebenarnya. Kenapa hyungnya itu malah tidak melakukan apa-apa di saat tidak ada orang lain selain mereka di rumah?

Kyuhyun merona malu. Yah, bukannya ia senang atau bagaimana dengan kegiatan rutin mereka—yang kadang malah tidak mengenal tempat—itu, tapi tidak bisakah hyungnya itu mengontrol nafsunya? Berada di posisi bottom itu sakit lebih seringnya—walau pada akhirnya ia merasa nikmat juga.

"Argh, sudahlah! Kenapa aku malah jadi memikirkan itu!?"

BRAKK!

Suara pintu kamar mandi yang dibanting.

Sementara di dapur, Kibum yang tengah menyiapkan sarapan mereka mengernyitkan alisnya mendengar suara pintu yang dibanting, sebelum kemudian mengendikkan bahunya, memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.

.

.

Setengah jam berlalu, dan kini keduanya duduk manis di meja makan sambil menikmati sarapan mereka. Kyuhyun mengernyitkan alisnya, seolah sedang berpikir—atau memang begitu kenyataannya. Sesekali ia menggigit bibir bagian bawahnya, ketika dirasanya hal yang dipikirkannya itu agak sulit—atau mungkin terlalu kompleks. Entahlah, hanya Kim Kyuhyun dan Tuhan saja yang tahu apa yang dipikirkannya.

Kibum yang melihat tingkah saudara kembarnya yang agak aneh itu turut mengerutkan alisnya. "Kyu, gwaenchana?"

Yah, mungkin lebih baik ia menanyakan keadaannya, daripada berspekulasi tidak jelas yang mungkin makin lama akan jadi terasa omong kosong semua dugaan yang melintas di otaknya.

Kyuhyun masih tenggelam dalam pikirannya, mengabaikan ucapan Kibum yang ditujukan padanya, membuat sang kembar tertua mengangkat sebelah alisnya. Tumben sekali anak ini berpikir sekeras sekarang padahal biasanya ia melihat Kyuhyun yang seperti ini kalau sedang berhadapan dengan PSP hitam kesayangannya.

Kibum mengulurkan tangannya, lalu menepuk pipi kanan sang adik perlahan. "Kyuhyun!"

Kyuhyun tersentak. Namja termuda itu mengerjap beberapa kali ke arah hyungnya. "W-waeyo, hyung?"

Kibum memutar matanya. Dua kali ia memanggil adiknya dan reaksi yang dikeluarkannya hanya dua kata? Yang benar saja…

"Harusnya aku yang bertanya begitu. Ada yang sedang kau pikirkan?"

"Ng…" Kyuhyun terlihat ragu mengatakan sesuatu yang kelihatannya ia coba tahan dalam otaknya.

"Hei, ayolah. Memangnya sejak kapan kita saling menyembunyikan sesuatu begini?"

"Itu… ng…"

"Hm?"

"Mau jalan-jalan denganku, hyung?" tanya Kyuhyun—ragu.

"Mwo?"

Kyuhyun menggaruk pipi kanannya, yang Kibum yakini tidak gatal sama sekali. Reaksi yang selalu dikeluarkan oleh sebagian manusia ketika mereka sedang merasa gugup.

"Y-yah, kupikir… jarang sekali kan kita bisa punya waktu luang begini. Kalau tidak aku yang sibuk, pasti hyung yang sibuk. Karena itu… tidak ada salahnya kan kalau kita… ng…"

"Kencan, maksudmu?" potong Kibum, membuat wajah Kyuhyun kini dihiasi rona merah. Yah, tidak sulit untuk menebak tujuan dari ucapan Kyuhyun. Dengan status mereka yang sepasang kekasih, ajakan jalan-jalan itu berarti kencan bukan? Namun yang membuatnya tidak habis pikir adalah, ia tidak menyangka kalau sang adik yang akan mengatakannya. Ah, dan satu lagi, wajahnya ketika mengatakan itu... benar-benar manis...

Kyuhyun menganggukkan kepalanya—amat pelan. Takut kalau hyungnya itu menolak ajakannya ini. Yah, siapa tahu hyungnya itu ada kesibukan lain siang nanti dan ia tidak ingin mengganggunya.

Kibum tersenyum tipis—yang sayangnya tidak terlihat oleh Kyuhyun yang menundukkan kepalanya. Kelihatannya ia terlalu malu menatap wajahnya setelah mengatakan itu. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Kyuhyun. Kibum menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan Kyuhyun yang masih duduk di kursi. Dikecupnya pipi kiri Kyuhyun—singkat tapi manis.

"Tentu. Apapun untukmu, chagiya~"

Mendengar itu, Kyuhyun bersorak—dalan hatinya, jelas saja—dan malu di saat yang bersamaan. Aigoo, hyungnya ini benar-benar tahu caranya mengubah warna pipinya yang pucat menjadi memerah.

"Cepat bersiap sana. Kita akan bersenang-senang hari ini~"

.

.

Apa yang diucapkan oleh Kibum mengenai bersenang-senang memang benar. Setidaknya bagi Kyuhyun. Toh ini moment yang jarang mereka dapatkan—terutama dengan status Kibum yang merupakan mahasiswa kedokteran, membuat hyungnya itu benar-benar sibuk hingga kadang menimbulkan sebuah pemikiran dalam otaknya, sebenarnya otak sang hyung itu terbuat dari apa? Kenapa orang itu bisa tahan berada di jurusan yang sering—selalu lebih tepatnya—membuat mahasiswanya stress tidak hanya untuk masalah keuangan tapi juga otak?

Keduanya kini berada di salah satu pusat keramaian di Seoul, berjalan menyusuri jalanan yang ramai, sesekali berbelok ke toko yang dirasanya menjual sesuatu yang menarik—tanpa membeli apapun seringnya. Mereka bukan Yesung yang seorang shopaholic terutama kalau hyungnya itu sedang libur dan mereka pun sama-sama tidak ada kuliah, bisa dipastikan kalau namja bersuara emas itu akan mengajak mereka pergi dan membelikan sesuatu—atau beberapa mungkin—untuk mereka. Yah, hyungnya itu memang seorang shopaholic tapi bukan untuk dirinya sendiri.

Setidaknya mereka cukup menikmati suasana seperti ini. Menghabiskan waktu hanya berdua, bukannya berdiam diri di rumah dan malah berakhir dengan suara desahan di atas ranjang.

"Ahjussi, aku mau dua es krim~" ujar Kyuhyun, ketika mereka sampai di sebuah kedaiyang menjual es krim—atas permintaan Kyuhyun tentunya.

Kibum menggelengkan kepalanya—heran. Sebenarnya berapa usia real seorang Kim Kyuhyun? Kenapa tingkahnya bahkan menyerupai anak SD yang sedang diajak jalan-jalan oleh kedua orang tuanya? Yah, biar begitu, harus ia akui… adiknya yang terlihat polos ini (lupakan ketika mereka sedang berhubungan intim karena seorang Kim Kyuhyun—jika sedang ada niat—bisa menjadi liar) benar-benar manis…

Kibum menghentikan langkahnya, mengurungkan niatnya mengikuti Kyuhyun ketika sesuatu telah lebih dulu menarik perhatiannya. Ia tersenyum, seolah menemukan sesuatu yang menarik. Benar juga, selama mereka menjadi sepasang kekasih, ia belum pernah memberikan apapun pada adiknya itu…

.

.

Kyuhyun memakan es krim yang tadi ia beli sambil duduk di salah satu bangku taman dengan Kibum duduk di sebelahnya. Dua jam mengelilingi tempat-tempat ramai membuat mereka memutuskan untuk mengistirahatkan kedua kaki mereka tepat ketika Kyuhyun menyelesaikan urusannya dengan si penjual es krim—seorang ahjussi genit yang menggodanya hanya karena wajah manisnya. Sungguh, kalau saja etika tidak berlaku di tempat umum, dengan senang hati ia akan memporak-porandakan kedai itu saat itu juga.

Drrttt... drrttt...

Kibum tersentak. Dirasakannya sebuah getar yang berasal dari ponselnya, pertanda sebuah pesan masuk. Ia merogoh saku jeans yang dikenakannya, mengambil ponselnya.

From: Yesung-hyung

Aku tidak akan pulang hari ini. Ada sedikit urusan dengan oemma dan appa di Cheonan. Baik-baiklah kalian di rumah dan selamat bersenang-senang. Ah, dan satu lagi, katakan pada adikmu, berani menyentuh dapur maka aku akan menggorengnya hidup-hidup. ^^

Kibum meringis perlahan. Ia sudah membiarkan sang adik menggunakan dapur kemarin malam. Yah, asal Yesung tidak diberitahu dan keadaan dapur baik-baik saja, kelihatannya tidak masalah. Kibum men-scrolldown pesan itu. Ada satu kalimat lagi.

P.S. Kuharap kalian tidak mengecewakanku—entah dengan apapun itu. Jongwoon.

Kibum terdiam. Kalimat ini bisa berarti ambigu, atau juga tidak. Entah apa maksud dari hyungnya ini menulis kalimat bernada ganda seperti ini. Apa ini berarti sesuatu? Entahlah… Lalu… Jongwoon? Sudah lama sekali hyungnya itu tidak menggunakan nama ini. Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?

Kibum mengalihkan pandangannya ke arah Kyuhyun yang kelihatannya terfokus pada es krim miliknya, setelah sebelumnya kembali menyimpan ponselnya di dalam saku. Ia mengernyit mendapati kalau cara makan sang namdongsaeng benar-benar berantakan. Aigoo, really, sebenarnya berapa usia real Kim Kyuhyun itu? Apa jiwanya sedang tertukar dengan jiwa anak SD yang sedang labil atau bagaimana?

"Kyu..."

"Nde?" Kyuhyun menoleh ke arah Kibum.

Chu~

Kyuhyun membatu. Ia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Ini tempat umum, harusnya hyungnya itu sadar soal itu. Kenapa orang ini malah menciumnya tepat di sudut bibirnya?

"H-hyung?"

Kyuhyun semakin membatu ketika dirasanya Kibum bukan hanya menciumnya tapi juga sedikit menjilati bagian itu sebelum kemudian menjauhkan tubuhnya lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Mengabaikan Kyuhyun yang kini hanya bisa diam dengan rona merah yang menjalari wajah hingga telinganya dengan cepat—hingga beberapa detik cukup membuat kesadarannya kembali lagi.

"Y-yaa! Hyung, apa yang kau lakukan!?"

"Wae? Aku hanya membersihkan es krim yang bercecer di pipimu~"

Kyuhyun memilih untuk tidak menanggapinya. Ia lebih memilih untuk memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajah semi-pucatnya yang sudah memerah total.

Kibum menarik Kyuhyun ke dalam pelukannya, lalu berbisik tepat di telinganya. "Berhenti mengeluarkan ekspresi begitu atau aku akan 'menyerangmu' sekarang juga, Kyunnie chagiya~"

Kyuhyun membulatkan kedua matanya. Sontak ia memukul bahu sang kakak, dengan kesal. "Yaa, dasar pervert!"

Triingg...

"Mwo?"

Kyuhyun tersentak ketika dirasakannya sebuah benda melingkari lehernya. Ia menundukkan kepalanya dan dilihatnya sebuah cincin yang disambungkan dengan rantai berukuran kecil tengah menggantung di lehernya. Kapan hyungnya ini memakaikan ini padanya?

"Hyung, ini..."

"Untukmu. Sama dengan yang kupakai ini..." Kibum menunjukkan kalung dengan pendant cincin yang sama persis dengan yang dikenakan oleh sang adik. "Yah, kurasa kalau cincin ini dipakai seperti biasa, itu akan membuat hubungan kita ini ketahuan. Karena itu... kujadikan kalung... Kau suka?"

Kyuhyun terdiam sebelum kemudian mengeluarkan senyumnya—yang manis kalau perlu ditambahkan. "Nde, gomawo, hyung."

.

.

Kibum berjalan menyusuri gedung utama universitasnya. Ia mengernyit pelan ketika dirasakannya tatapan orang-orang di sana kini tertuju padanya dan terlihat melecehkannya—walau ia masih bisa menutupinya dengan wajah datarnya. Hari ini ia hanya datang seorang diri karena Kyuhyun sedang tidak ada jadwal.

Ia terus melangkahkan kakinya menuju salah satu papan pengumuman besar yang ada di tengah hall—dimana lautan manusia bertumpuk di sana. Tumben sekali...

Tepat ketika langkahnya semakin dekat dengan tujuannya, orang-orang itu—yang dengan mudah bisa ia simpulkan kalau mereka adalah para mahasiswa di sini—agak menyingkir darinya tanpa melepaskan tatapan mereka pada dirinya, seolah ingin menelanjanginya saat itu juga. Ia heran, jelas saja. Ada apa sebenarnya dengan orang-orang ini?

Dan jawaban dari pertanyaannya itu terjawab ketika ia telah berdiri tepat di depan papan pengumuman. Kedua matanya membulat ketika sesuatu tertempel di sana.

"Perlakuan tidak pantas yang dilakukan oleh sang kakak terhadap adik kandungnya"

Kibum mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih ketika membaca tulisan—yang ditulis dengan tangan—itu. Kepalan tangannya semakin keras ketika dilihatnya tepat di bawah tulisan itu beberapa foto—yang dia benar-benar tahu—kencannya kemarin dengan Kyuhyun yang memang… terlihat tidak wajar untuk dilakukan oleh sepasang saudara kandung. Ah, kelihatannya darah mulai mengalir dari sela jari-jarinya…

Ia cabut kertas itu lalu meremasnya dengan kasar, membuangnya begitu saja ke lantai. Namja berkacamata itu segera meninggalkan tempat itu—tanpa mengeluarkan sepatah kata sedikit pun atau pun menoleh pada para penonton di sana yang masih memandanginya, sebelum kemudian perlahan membubarkan diri.

Ya Tuhan, apa ini hukuman yang perlahan sedang Kau berikan untukku?

.

.

Zhoumi memungut kertas yang baru saja diremas oleh Kibum, ketika para mahasiswa di sana perlahan mulai menghilang. Ia menatap setiap tulisan dan foto yang ada di dalamnya tanpa mengeluarkan ekspresi yang cukup berarti.

"Ah, akhirnya benar-benar ketahuan oleh satu universitas ini…"

Tanpa Zhoumi menoleh ke asal suara, ia tahu siapa yang mengucapkan kalimat itu.

"Shim Changmin, apa ini perbuatanmu?"

Changmin mendekati sang senior lalu berdiri tepat di sebelahnya. Ia menggelengkan kepalanya. "Aniyo, aku bahkan tidak tahu kalau kemarin mereka berkencan... Kukira kau yang melakukannya, sunbae... Lagipula kalau aku pelakunya, aku tidak mungkin menggunakan tulisan tanganku sendiri untuk menuliskan kalimat-kalimat di kertas itu. Ceroboh dan terlalu riskan..."

Kedunya berpandangan. Sebuah kalimat terlintas dalam otak mereka seolah pikiran keduanya terhubung oleh benang yang tidak terlihat. Di universitas ini hanya mereka yang mengetahui bagaimana jelasnya hubungan dua Kim bersaudara itu, jadi siapa yang melakukan ini?

Changmin kembali memandangi kertas yang masih digenggam oleh Zhoumi. Ia mengerutkan alisnya. Gaya tulisan itu rasanya familiar, tapi otaknya benar-benar buta untuk mengingat siapa pemilik tulisan itu.

"Sebenarnya siapa?" gumamnya pelan.

.

.

Kyuhyun meremas belasan kertas di tangannya dengan perasaan bercampur aduk. Ia tidak tahu siapa yang mengirimkan ini ke rumahnya. Sebuah amplop coklat tanpa nama pengirim yang dialamatkan padanya—dan berisikan sesuatu yang membuatnya benar-benar ingin bunuh diri saat ini juga.

Foto-foto dirinya dengan sang kakak—entah itu di kampus atau ketika kencan mereka yang kemarin—yang menunjukkan kedekatan mereka yang terlalu tidak wajar untuk disebut sebagai saudara.

Tubuhnya yang bersandar pada pintu kamarnya kini merosot. Perlahan ia memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya.

Sebenarnya siapa yang melakukan ini? Apa ini salah satu bentuk hukuman yang dikirimkan Tuhan untukku karena… terlalu mencintai hyungku sendiri dan melakukan sesuatu yang benar-benar tidak pantas untuk dilakukan sepasang saudara?

.

To Be Continued—

.

a/n akhirnya saya bisa update ini juga. :'D Tadinya mau masukin NC di sini, cuma gara-gara beberapa hal akhirnya gak jadi, dan saya malah bikin KiHyun yang agak-agak fluff gimana gitu(?). Berhubung banyak yang minta KiHyun momentnya dibanyakin ya udah saya masukin di chapter ini… Daaaannnnnn… ini udah mulai masuk ke konflik utama. Kalau sebelum-sebelumnya konflik yang muncul itu cuma konflik sampingan tapi masih saling berhubungan. :)

Yang nebak Changmin itu antagonis dan bakal nyebarin hubungan KiHyun, itu salah. Cuma kalau masalah antagonis, dia agak-agak menjurus ke arah itu. =.=a #eh. Jadi siapa yang nyebarin hubungan KiHyun? Yang pasti bukan Changmin atau Zhoumi, tapi orang lain. Bisa cast yang udah saya munculin atau malah yang belum saya munculin. xD

Oke… waktunya review corner~

ika . zordick Gomawo, chingu. Udah dilanjut kok. :)

dennisbubble1004 Ini udah lumayan banyak kan KiHyun-nya? O.o Udah saya jadiin hampir full semua KiHyun lho. Biarpun jadinya malah fluff gagal. #plak

deakyu Baru tertarik doang, entah bakal saya jadiin suka atau nggak.-,-a #diinjek. Ahaha, Ssaya gak tega bikin Kyuhyun dihukum, jadinya NC buat mereka saya siapin buat entah chapter ke berapa. xD;;a

chocolatess Changmin itu setengah baik setengah nggak kok. #digeplak. Yang ngebocorin juga pada akhirnya bukan Changmin atau Zhoumi. :) Gomawo, chingu.

cloudyeye YeWook kemungkinan aja bisa ada. Siwon baru tertarik doang. Zhoumi emang udah tahu, cuma kapan tahunya nanti saya jelasin. xD

Himawari95 Gak dikasih hukuman sih, waktu mau ngetiknya agak-agak gak tega gitu, jadi saya rombak ulang dan jadilah begini. xDa #eh

cloud3024 Eh? Kalo ini udah masuk kejadian buruk gak? xDa #Plak. Soal Yesung-oppa antara iya atau gak, dia baru ngerasa nyaman aja sama Wookie. :) Yang nyebarin hubungan KiHyun justru bukan Zhoumi atau Changmin, tapi orang lain. Siapa? Saya juga gak tahu... xD #plak

Blackyuline Ini udah agak panjang kan plus udah hampir full KiHyun momentnya ne? Peran Changmin bukan jadi ember bocor kok(?), cuma tipenya emang dia orang yang agak-agak manfaatin suasana. xD

magie april Buat Yeppa belum nemu moment yang pas buat masukin NCnya. Nanti saya coba pikirin lagi.

maknaelovers gak kok, Changmin cuma jadi semi-antagonis doang. xD Dia kan temennya Kibum, tapi belum tentu juga dia bakal bantuin Kibum. xD #plak

lalala hehe, udah diupdate chingu. :)

KMaknae Ini udah lumayan kan KiHyun momentnya? O.o

Park Hyo Ra Haha, Siwon cuma jadi orang ketiga doang kok. :) Masalah endingnya, bisa aja semua couple gak bahagia lho. xD #plak

ochaviosa chukkae karena udah nemuin ini. xD #plak. Justru karena ff incest jarang, makanya saya bikin. Gomawo ne~ :)

Rainy Ini udah gak terlalu menderita kan? O.o biarpun galau masih juga nyempil. Yesung-oppa nya gak saya keluarin dulu di chapter ini. Next chapt mungkin...

Cloud'sHana gwaenchana, saya juga sama kok. Sibuk baca ff, tapi selalu lupa review. xD # ? Sama siapa ya~? . Sama saya aja gitu? Daripada galau gitu... #dikeroyokClouds. Iya nih, lama-lama saya bingung, ini bakal jadi cinta segi berapa. xD

gdtop karena ide yang muncul di kepala saya ya itu. :)

.

.

Oke, sekian dari saya… RnR? :)

.

~Praise Youth and It will Prosper~

.

Best Regards

Rin—

.