.
.
.
Hana Yori Dango 3
THE NEXT GENERATION
.
.
.
Disclaimer
Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,
sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.
Written by ButaTokki and CamsaHead
Translated by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 7
Hampir tengah hari saat Sakura membuka matanya. Sasuke masih berbaring di sampingnya, satu tangannya di pinggang Sakura dan Sakura tersipu saat teringat malam sebelumnya. Bibir Sasuke, seperti biasa, begitu lembut dan hangat. Dan dengan rasa bersalah, Sakura ingin merasakannya lagi. Dia mendesah dan mendongak, mencoba untuk berpikir, dan melihat Sasori menatapnya.
"Aku rasa kau berada di tempat tidur yang salah." Sasori mengatakannya sebelum seringai menghiasi bibirnya.
"Uh... um..." Sakura tidak bisa berpikir.
"Aku yang memintanya tinggal." Suara Sasuke mengejutkannya, membuatnya kembali menatap Sasuke yang matanya masih tertutup. "Mengancam dan sebagainya." Tapi Sasuke tidak terdengar mengancam, hanya lelah.
Sasori mengangkat alis. "Aku sangat meragukan itu. Kelihatannya malah Sakura yang sanggup mengancammu."
Sakura melihat sebentuk seringai di bibir Sasuke.
"HEY! Itu tugasku!" kata Sai sambil berjalan ke kamar Sasuke. "Akulah playboy di sini!" Seringainya melebar. "Yah, untung Naruto belum datang. Aku sarankan kau bangun dari tempat tidur itu sebelum dia melihat ini."
Sakura mengangguk dan agak sakit hati dengan kenyataan bahwa Sasuke tidak melakukan apapun untuk menghentikannya, tapi dia mendengar Sasuke berbisik pada dirinya sendiri, 'kembali ke realita'.
"Dan bagaimana kau berencana untuk memberitahu Naruto tentang hal ini?" Sasori bertanya, melihat Sakura mencoba membenahi rambutnya dan meluruskan pakaiannya.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke, duduk dan mengusap rambutnya yang berantakan.
"Jangan bertindak seolah-olah kami tidak tahu," kata Sai. "Kau yang bilang sendiri kemarin. Kau mencin—"
Sebelum Sai bisa melanjutkan, Sasuke segera bangkit dari tempat tidur dan menutup mulut Sai. Kalau ada orang yang akan memberitahu Sakura bahwa dia mencintainya, itu adalah dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Naruto, oke?" kata Sasuke, menatap Sai sebagai peringatan untuk tutup mulut.
"Sakura-chan, ada satu set pakaian untukmu yang aku siapkan di lemari Sasuke. Sana ganti," perintah Sasori saat dia melihat Sakura tak berhasil merapikan pakaiannya.
"Untuk apa?" Dia bertanya.
"Karena apa yang akan Naruto pikirkan jika dia melihatmu dalam pakaian yang sama persis seperti yang kaukenakan kemarin?" Sasori bertanya dan memutar matanya.
"Oh, begitu," gumam Sakura seraya pergi ke lemari.
Setelah Sakura berada di ruang ganti, semua orang berubah serius.
"Sasuke—" Sasori memulai tapi Sasuke memotongnya.
"Diam," katanya sambil menyisir rambutnya.
"Sasuke, kami memahami bahwa sekarang kau sedang rapuh dan terluka dan bahwa kau membutuhkan seseorang di sampingmu." Sai memulai. "Tapi... Sakura..."
Sasuke menoleh ke arah Sai. "Aku bukannya sengaja jatuh cinta padanya." Dia meneriaki Sai yang memberinya pandangan menuduh. "Aku tidak pernah berencana jatuh cinta padanya."
"Jika kau benar-benar mencintainya, berhenti membuatnya bingung. Berhenti ikut campur," jawab Sasori, sedikit membentak Sasuke.
"Aku mencintainya," katanya tegas. "Aku bukan menyukainya, aku bukan tertarik padanya, tapi aku jatuh cinta padanya. Kenapa aku tidak boleh mencintainya?" Sasuke bertanya dengan gigi terkatup. Keduanya saling memandang.
"Kau mencintainya lebih dari Naruto?" Sasori bertanya.
"Ya."
"Tapi kau mencintai Naruto juga. Dia sudah seperti saudaramu," kata Sai. "Apakah cinta yang kau miliki untuk Sakura benar-benar layak merusak hubunganmu dengan Naruto?"
Sasuke membuang muka. "Apa aku tidak berhak bahagia juga?" bisiknya.
Tak satu pun dari mereka yang menyadari bahwa Sakura membiarkan pintu ruang ganti sedikit terbuka. Sakura tidak meninggalkan ruang ganti bahkan ketika dia sudah berganti pakaian (tidak kurang dari blus dan rok). Dia tetap di dalam, diam-diam mendengarkan mereka bertiga. Dia merasa kebahagiaan bangkit dalam dirinya saat Sasuke mengatakan bahwa dia mencintainya. Tetapi Sasori dan Sai benar. Ini akan sangat menyakiti Naruto dan dia tidak menginginkan hal itu. Tapi dia tahu cepat atau lambat, dia tidak akan mampu menahan diri dari ketertarikannya terhadap Sasuke.
Dia menyentuh bibirnya, masih bisa merasakan ciuman itu. Saat itu adalah kebahagiaan yang mutlak baginya, dia yakin akan hal itu. Dan dia tahu dia ingin saat-saat itu berlanjut, tetapi Naruto... Dia menutup matanya, darah mengalir ke kepalanya dan tiba-tiba dia merasa pusing. Dia tidak bisa berpikir dan segala sesuatu di sekelilingnya mulai berputar. Hal berikutnya yang dia tahu, dia mendengar bunyi gedebuk dan dengan sedikit terkejut, dia menyadari bahwa dirinya berada di lantai. Suara itu tiba-tiba mengejutkan Sasori, Sai dan Sasuke.
"Apa itu?" Sasori bertanya, melihat sekeliling.
"Aku tidak—" Sasuke berhenti dan berbalik ke arah ruang ganti. Jantungnya berhenti. "Sakura?" Dia berteriak tetapi tidak ada jawaban. "Sakura?!" Dia memanggil lagi dengan panik saat dia bergegas menuju ruang ganti. Sasori dan Sai tepat di belakangnya. Sasuke membuka pintu dan berubah pucat saat melihat Sakura di lantai. "Sakura!" katanya khawatir dan berlutut di samping Sakura dalam sekejap mata, dengan Sai dan Sasori di atasnya.
Sakura menatap Sasuke sedikit bingung. "Aku... eh... baik-baik saja," katanya, akhirnya kembali bernapas. Dia menyadari ketika mendengar kata cinta keluar dari bibir Sasuke, dia berhenti bernapas.
"Apa yang terjadi?" Sasuke bertanya, suaranya penuh dengan kekhawatiran dan Sakura merasa sedikit bahagia karena Sasuke cukup "mencintainya" hingga merasa khawatir.
"Aku hanya... kehabisan udara," jawab Sakura.
"Idiot macam apa kau? Siapa yang bisa 'kehabisan udara'?" Sasori bertanya, jelas jengkel.
"Aku senang aku tidak kehilanganmu juga," kata Sasuke, merasa kesedihan mendatanginya lagi saat kenangan akan hari kemarin menghancurkannya.
Sakura memegang tangan Sasuke dan tersenyum padanya. "Aku tidak ke mana-mana," katanya meyakinkan. Dia ingin mengatakan bahwa dia adalah milik Sasuke, persis seperti kemarin malam saat dia benar-benar jadi miliknya... tapi dia tidak yakin apakah dia bisa menepati janji itu.
"Kalian seharusnya bilang kalau kalian berkumpul di sini," kata Naruto sambil memasuki ruangan, masih tidak memperhatikan jari Sakura dan Sasuke yang terjalin.
Sasori bergerak cepat, menjangkau ke bawah untuk menarik Sakura berdiri, berhasil memisahkan tangan Sakura dan Sasuke dengan cara yang tidak mencolok. Hal terakhir yang mereka butuhkan adalah perkelahian antar laki-laki karena perempuan, terutama setelah apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi?" Naruto bertanya, menyadari Sakura membutuhkan bantuan Sasori dan Sasuke untuk berjalan.
"Dia pingsan," jawab Sai.
Naruto berada di samping Sakura, praktis menariknya dari lengan Sasuke. "Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Sasuke membuang muka dan mengepalkan tinjunya.
"Ya... aku belum makan." Sakura berkata jujur .
"Aku akan pergi mengambil makanan," kata Naruto.
Saat dia hendak beranjak, Sakura memegang tangannya. Dia harus meyakinkan dirinya sendiri, menghapus semua pikiran dan perasaan untuk Sasuke dari benaknya.
"Tetap di sini," katanya.
"Kalau begitu aku yang akan pergi mengambil makanan. Aku tidak ingin ada rakyat jelata yang pingsan di kamarku," kata Sasuke, kemudian pergi, meskipun yang dia ingin lakukan adalah memastikan Sakura tidak akan pingsan lagi.
"Apakah Sasuke baik-baik saja sekarang?" Naruto bertanya pada Sasori dan Sai saat dia melingkarkan lengannya di pinggang Sakura.
"Setidaknya dia mampu melewati malam," kata Sai, kemudian melihat Sakura. "Entah bagaimana."
"Itu bagus. Tapi aku bertanya-tanya seberapa banyak perasaan yang dia sembunyikan dari kita," kata Naruto, menyadari tatapan Sai pada Sakura.
"Aku yakin dia punya berton-ton emosi yang tertahan dalam dirinya sekarang. Dan tidak hanya untuk satu alasan," jawab Sasori, melihat Sakura juga.
Sasuke memerintahkan pembantu, yang setengah jalan menyusuri lorong, untuk bergegas ke arah kamarnya dengan membawa sarapan. Dia memastikan pembantu itu memberi makanan untuk Sakura, tetapi dia sendiri tidak kembali ke kamarnya. Dia berbalik ke pintu di sampingnya, membukanya dan mendesah
"Benar," katanya pelan. "Dia tidak di sini lagi."
Sasuke masuk ke ruangan itu. Aroma samar ibunya masih tertinggal. Dia memandang sekeliling, merasakan air mata mulai merebak. Dia duduk di kursi di samping tempat tidur yang kosong dan membiarkan air matanya jatuh, menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur, seperti yang sering dilakukannya, hanya saja kali ini ibunya tidak ada.
"Sasuke."
Suara itu mengejutkannya dan membuatnya mendongak dalam sekejap, ayahnya berdiri di sampingnya tapi tidak ada kemarahan dan kebencian yang terlihat di wajahnya, hanya penyesalan dan kesedihan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Sasuke getir.
Sasuke tidak tahu mengapa dia masih marah pada ayahnya. Ibunya sudah pergi dan mereka mengalami hal yang sama. Mereka harusnya bersatu pada saat ini, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain melampiaskan rasa sakit dan kesepian pada ayahnya.
"Pemakamannya... besok," kata Fugaku. Sasuke berpaling dari ayahnya, seolah-olah dia tidak tahan melihat ayahnya sendiri. "Sasuke, aku tahu bagaimana perasaanmu tapi—"
"Tidak, kau tidak tahu! Yang kau pedulikan hanyalah dia. Kau bahkan mungkin lupa bahwa kau punya anak!" tuduh Sasuke sambil berdiri, membangun amarah dalam dirinya.
"Sasuke, aku minta maaf tapi—"
"Bukankah sudah terlambat untuk itu?" tanyanya lagi dan air mata menghampirinya. Bukankah ini sudah cukup?
"Bukan berarti aku bisa menghentikannya, kan!" kata Fugaku putus asa, menaruh tangannya di bahu Sasuke.
Sasuke menarik diri dari ayahnya. "Omong kosong!" balasnya. Suaranya datar tapi kemarahannya jelas terdengar. "Kau tidak cukup peduli. Kau terlalu sibuk dengan diri sendiri untuk peduli tent—"
"Kau salah!" potong Fugaku. "Mungkin dua tahun pertama, aku menyalahkan dunia dan semua orang di sekitarku atas apa yang terjadi pada ibumu," katanya sambil menyisir rambutnya. "Pada saat aku menyadari bahwa aku harus ada untukmu, hubungan kita sudah buruk."
"Saat itu aku baru sepuluh tahun, Yah."
"Dan kau menatapku dengan kebencian!" balas Fugaku. "Aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya, bagaimana agar kita berbaikan. Dan kemudian... sangat menyakitkan melihat kau begitu mirip dia. Kau sangat mirip dengan ibumu. A-aku tidak sanggup melihatmu. Setiap kali aku melihatmu, aku melihatnya. Senyumnya, matanya, rasa keadilannya yang aneh, dan kebijaksanannya." Sasuke menatap ayahnya. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku takut!" katanya. "Aku takut jika aku mencoba untuk lebih dekat denganmu, jika aku mencoba untuk memperbaiki semuanya, sesuatu akan terjadi padamu... dan aku akan kehilangan semua kewarasanku."
"Maksudku bagaimana jika sesuatu terjadi padamu?" Fugaku mulai mondar-mandir. Segala sesuatu yang terus ditahan dalam dirinya tumpah keluar. "Aku hanya takut kehilangan seseorang yang begitu berharga bagiku. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi, jadi aku menjaga jarak dan berpikir lebih baik seperti itu. Bagaimana jika kau tiba-tiba—" Fugaku berhenti dan mendesah, benar-benar bingung dan terguncang.
Sasuke hanya mendengarkan apa yang ayahnya katakan. Dia mengerti semuanya sekarang. Semuanya masuk akal. Keraguan dan pertanyaannya lenyap. Ayahnya juga tersakiti. Keduanya bentrok satu sama lain tanpa memahami apa yang masing-masing rasakan atau pikirkan.
"Ayah." Sasuke memulai dan Fugaku menatap putranya, penyesalan menyelimuti wajahnya. "Aku pikir... ibu tidak ingin kita jadi begini." Sasuke melanjutkan.
Fugaku menyeringai. "Ibumu akan memukulku lagi." Dia mengusap bagian belakang kepalanya, mengingat setiap kali Mikoto memukulnya saat dia melakukan sesuatu yang bodoh. "Dia akan sangat kecewa padaku." Dia mengakui. "Nak, maafkan aku."
Sasuke merasakan air mata jatuh dari matanya. Dia tidak menyadari betapa dia ingin mendengar kata-kata itu atau betapa dia bersedia melakukan apa saja untuk mendengarnya. Tubuhnya mulai gemetar karena emosi yang menjalarinya dan ketika ayahnya mengulurkan tangan dan menariknya ke dalam pelukan yang erat, tangis Sasuke pecah. Dia mengulurkan tangan, jarinya nyaris mencapai bahu ayahnya yang jauh lebih tinggi daripada dirinya. Dia membenamkan wajahnya ke bahu ayahnya dan terus menangis. Tiba-tiba rasanya seperti kembali menjadi anak kecil. Semua kebencian dan rasa sakit yang menumpuk selama bertahun-tahun memudar dan yang tersisa hanyalah seorang anak yang sangat mencintai ayahnya. Satu-satunya perbedaan sekarang adalah bahwa ibunya tidak datang dan bergabung dalam pelukan seperti dulu.
.
.
#The Next Generation#
.
.
Sakura berdiri di samping Naruto saat mereka mulai menurunkan tubuh Mikoto. Sasuke berada di samping ayahnya. Suasana di sekitar mereka benar-benar berbeda dari sebelumnya yang penuh kekerasan dan kemarahan, karena itu Sakura berasumsi mereka akhirnya berdamai. Dia merasa bahagia untuk mereka, terutama untuk Sasuke. Akhirnya Sasuke mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan, apa yang selalu dia harapkan. Sasuke tidak membutuhkannya lagi untuk mengisi kekosongan, atau begitulah yang dia pikir. Dia menunduk akibat gagasan bahwa Sasuke tidak lagi membutuhkannya. Sakit, bahkan sangat sakit, hingga air mata mulai jatuh dari matanya. Dia bersyukur ada di pemakaman sehingga tidak ada yang akan bertanya mengapa dia menangis. Karena membutuhkan penghiburan, dia mengulurkan tangan dan memegang tangan Naruto, yang dengan lembut meremas tangannya. Dia tidak menyadari bahwa Sasuke mengawasinya.
Sasuke menghela napas. Dia mencintai Sakura…. Ya tuhan, dia sangat mencintainya. Tapi Sakura... mencintai Naruto. Dia memandang mereka, merasa cemburu ketika lengan Naruto melingkari pundaknya, memeluknya. Mereka saling mencintai, dan karena Sasuke mencintai Sakura dan ingin Sakura bahagia maka dia akan melepaskannya... selain karena dia akan segera pergi dan tidak bisa meminta Sakura untuk menunggunya.
Setelah semua orang memberi penghormatan terakhir mereka kepada ibunya, mereka semua pergi satu per satu dan Sasuke menyaksikan Sakura pergi dengan Naruto, bergandengan tangan. Dia ingin memegang tangannya. Dia ingin menciumnya. Dia ingin menjadikan Sakura miliknya seperti di malam itu. Dia cukup yakin bahwa Sakura akan pergi dengannya jika dia memintanya. Sejauh ini, Sakura tidak menolak ciumannya... tidak benar-benar menolaknya. Sakura bahkan menginap di kamarnya. Tapi bagaimana jika itu semua karena kasihan? Dia baru saja kehilangan ibunya, jadi semua yang Sakura lakukan untuknya sekarang mungkin hanyalah rasa kasihan. Hati Sakura benar-benar milik Naruto dan Sasuke memutuskan bahwa harus tetap seperti itu.
"Nak, kita harus pergi," kata Fugaku dan menuntun Sasuke menuju mobil. "Banyak yang harus kita kemasi," dia melanjutkan.
"Tapi tidakkah mereka akan merasa aneh? Kita akan berlibur setelah... setelah apa yang terjadi?" Sasuke bertanya kepada ayahnya saat dia mengikuti ayahnya ke dalam mobil dan sopir menuju rumah mereka.
"Kita semua perlu istirahat dari masalah sekali-kali," jawab Fugaku.
Sasuke menemukan dirinya setuju. Dia harus tinggal jauh dari segala sesuatu di sini, hanya sebentar. Terutama jauh dari Sakura. Sakura meninggalkan Sasuke sendirian selama sisa hari itu, tidak ingin mengganggu keluarga yang sedang berduka itu. Empat hari kemudian mereka semua memutuskan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menemui Sasuke, membayangkan sekarang dia sudah siap ditemui. Ketika mereka tiba di rumahnya, butler dan pelayan membawa koper ke dalam bagasi mobil. Fugaku muncul mengenakan kacamata hitam, tersenyum kecil saat melihat mereka.
"Ah, tepat pada waktunya. Kami akan pergi!" dia mengumumkan.
Sai, Sasori, Naruto dan Sakura menatapnya bingung.
"Ke mana?" tanya Naruto.
"Perancis." Suara Sasuke membuat mereka semua berpaling menghadapnya saat dia keluar dari rumahnya, dengan anggun menuruni tangga besar di pintu masuk rumah. "Kami akan berangkat ke Paris." Sasuke berkata lagi.
"Kau akan pergi?" Sasori bertanya heran.
"Untuk berapa lama?" tanya Sai.
"Kami tidak tahu," kata Fugaku, meskipun anehnya dia terlihat tenang dan Sasuke tidak tampak begitu tertekan, tapi dia terus memandangi ayahnya seolah-olah memiliki beberapa masalah serius... dengan cara yang penuh kasih.
"Apa maksudmu kau tidak tahu?"
"Itu semua tergantung pada banyak hal," kata Fugaku ringan. "Sasuke, aku pergi duluan. Susul aku di dalam mobil ketika kau sudah siap," tambah Fugaku, kemudian pergi.
"Kami hanya liburan sebentar. Bukan masalah besar. Sampai bertemu lagi nanti," katanya, tetapi ketika dia berbalik pergi Sakura memegang tangannya.
"Tunggu, Sasuke!" kata Sakura.
"Apa?" tanyanya, tanpa menghadap Sakura.
Sasuke tidak ingin meninggalkannya. Tidak untuk sehari, tidak untuk sesaat. Tapi dia harus. Jika dia harus menyerah terhadapnya, dia harus mampu untuk melepaskannya.
"Aku..." Sakura memulai tapi terhenti. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang akan dia katakan kepada Sasuke ketika dia mencoba untuk menghentikan kepergiannya. Dia hanya tahu dia tidak ingin Sasuke pergi. "Tidak ada," gumamnya sambil melepaskan tangannya.
Sasuke bergerak maju tapi sebelum sampai di dalam mobil dia berbalik menghadap mereka. Ada sesuatu yang harus dikatakannya kepada Naruto.
"Uzumaki." Sasuke berkata sambil tersenyum.
Naruto menatapnya, sudah lama sejak dia mendengar Sasuke memanggilnya begitu. "Hai', Uchiha." Naruto menjawab, sebuah lelucon lama di antara mereka.
Sasuke mendongak, mendesah, lalu menatap Naruto lagi. "Uzumaki, kali ini giliran Uchiha untuk menyerahkan wanita yang dicintainya sehingga Uzumaki bisa bahagia."
Senyum Naruto berubah menjadi ternganga. Matanya melebar karena terkejut saat dia menatap Sasuke. Sai dan Sasori juga berekspresi sama. Untuk sesaat Sakura tidak mengerti apa maksudnya tapi kemudian dia teringat cerita yang Sai, Sasori dan Naruto katakan kepadanya beberapa hari lalu tentang orang tua Sasuke dan ayah Naruto. Dia merasa jantungnya berhenti berdetak.
'Tidak,' pikirnya panik.
"Ja Matta ne~" kata Sasuke sambil tersenyum sebelum masuk ke mobil. Dan tanpa berkata-kata lagi dia pergi.
.
.
.
TBC
.
.
.
Special thanks to: GaemSJ, JungYH, caesarpuspita, SHL7810, Persephone-Athena, Fivani-chan, axwdgs, Cherryma, suket alang alang, azizaanr dan ribuan silent reader.
Review tetap dinanti :)
