"..Ou-chan.."

"Sou-chan.."

"Jangan pernah.."

Mata Shappire lelaki Shota membulat ketika menemukan sesosok wanita yang ia cintai tengah berada di hadapannya.

"..Ane.."

"..melihat ke belakang," senyuman gadis itu tampak mengembang kemudian ia perlahan menghilang.

"ANEUE!"

Dan jitakan berhasil mendarat di kepalanya.

"Sougo, kau pikir sudah jam berapa ini?" tanya pemuda berambut hitam—yang tadi menjitaknya—kepada lelaki shota yang ia sebut Sougo.

Ekor mata Sougo mulai memperhatikan sedikit jam justaway, "Ah, baru jam setengah sembilan, Hijikata kono yaro," jawab Sougo—sembari bangkit dari tidurnya—dengan polosnya.

"Jangan bilang 'Ah, baru jam setengah sembilan, Hijikata kono yaro' padaku!" Teriak lelaki bersurai hitam yang disebut Hijikata itu sembari berlalu, "Ngomong-ngomong, Kondou-san ingin bicara padamu."

Dan Sougo hanya bisa memandangi Hijikata dengan pilu yang ia pendam.

.

.

A Gintama Fanfiction

Gintama © Sorachi Hideaki

Fanfict Love For Nothing © Ayuha

Okita Sougo x Yato Kagura

Romance – Humor (Tapi nggak yakin)

Warning : [mungkin] OOC, miss Typo(s), Gaje deh, juga disetiap pemikiran/sang karakter sedang membatin, tulisannya pasti akan di italic.

Love For Nothing

.

.

Don't like? Don't read..

Warning sedikit, di chapter ini bakal ada dua OC, namanya Yagami Ai. Gadis cantik, sekseh, pokoknya klop bingo(?) dan Red Kirei.

Cerita sebelumnya.

Kagura fixmenjadi maid 'pribadi'-nya Sougo walau terpaksa. Sougo pingsan akibat hantaman kaki Kagura yang membuat Kagura harus merawatnya karena Sougo terpaksa harus libur kerja—karena sakit tentunya. Namun Sougo mengajak Kagura pergi ke sebuah taman karena bosan. Dan Kagura fix harus memanggil Sougo dengan sebutan ghousujin-sama dan menghilangkan suffix 'aru'.

~LFN~

"Yo, Sougo, bagaimana tidurmu?" tanya Kondou—kyoukucho dari Shinsengumi—pada Sougo yang baru saja memasuki ruangannya.

Sougo duduk bersimpuh di hadapan Kondou sembari menundukkan wajahnya, "Tidak begitu buruk, Kondou-san," jelasnya walau ia tidak menampakkan wajahnya pada Kondou.

"Ah, kau terlihat begitu buruk hari ini," Kondou sedikit memeriksa keadaan Sougo, namun Sougo malah tersenyum sembari menggeleng, memberitahu kalau ia baik-baik saja.

Alis Kondou bertautan, ia masih tidak yakin, namun karena ia mengerti situasi, akhirnya tidak begitu ia perdulikan, "Yang semangat ya, Sougo," Sougo pun membalasnya dengan anggukan.

"Oh iya, maaf sebelumnya karena aku memanggilmu di hari liburmu. Tapi aku membutuhkanmu untuk menangkap seseorang dari Joui," akhirnya Kondou pun menjelaskan tujuan ia sebenarnya.

"Dia adalah seorang pembunuh wanita muda. Ia menculik wanita itu, kemudian ia sekap selama tiga hari tanpa makan dan minum, lalu ia mendandani wanita tersebut hingga tampak cantik dan anggun," Kondou menjedanya sejenak, "Kau tahu 'kan apa hal selanjutnya?" Kondou bertanya pada Sougo yang sedari tadi memerhatikannya.

"Ia menjual wanita muda itu?" Sougo menebak dan mengembalikan pertanyaan tersebut.

"Tidak," bantah Kondou kemudian, "Sambil tersenyum, ia menggoreskan pisau ke pipi wanita tersebut, lalu beralih ke bibirnya hingga menuju goresan pipi itu, lalu hidungnya, beralih ke tangannya, memotong satu persatu jarinya layaknya memotong bawang, namun ia tidak mengganggu kaki jenjang wanita itu," jelasnya.

Sougo hanya menatap Kondou dengan layaknya ia mendapatkan tugas mencari seekor kucing pencuri.

"Oi kau! Serius dong dengan pekerjaan rumit ini!" Kondou akhirnya mencak-mencak di tempat sembari menunjuk-nunjuk batang hidung Sougo.

Sougo memegangi jari telunjuk Kondou, "Tidak usah khawatir, Kondou-san. Pekerjaan itu tidak serumit yang kau pikirkan," Sougo menjawab dengan santainya yang membuat Kondou rada tidak puas.

"Pokoknya, para wanita yang ia bunuh tidak memiliki goresan sedikit pun di kakinya dan jantungnya pun tidak tergores sedikit pun, artinya wanita itu tewas karena kehabisan darah," jelas Kondou lagi, "Kau tahu 'kan, mengapa aku memilihmu?"

"..." tidak ada respon dari Sougo.

"..Kau tahu 'kan?" tanya Kondou kembali.

"..." Sougo tetap tidak merespon.

"...Kau?" Kondou sudah banjir keringat karena Sougo hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

"Oi, Sougo! Kuatkan dirimu, oi! Ya ampun," Kondou malah berteriak-teriak gaje sembari menggoncang-goncangkan tubuh Sougo yang rasanya nyawanya sudah entah berantah ada di mana.

"..Ittekimasu," jawab Sougo, kemudian ia melangkahkan kaki keluar dari ruangan Kondou.

Kondou yang melihat Sougo yang bersikap tidak seperti biasanya pun bertambah khawatir, "Ittera...shai."

"Tolong jangan mati."

~LFN~

Sang surya kini tengah nampak. Ia sudah tidak malu-malu lagi untuk memamerkan cahaya indahnya yang akan digunakan oleh sekian banyak makhluk hidup. Cahayanya begitu indah, membuat siapa saja kagum olehnya, namun tidak untuk Sougo. Laki-laki shota itu sedari tadi mengeluh sembari berjalan di koridor Shinsengumi untuk menuju keluar markas. Suasana mendung tampak dari wajahnya yang kelabu. Langkah kaki yang tidak beraturan sudah menjadi ritme-nya. Bahkan kaki yang sengaja di lontarkan ke arahnya pun tak ia gubris.

DUAK!

Benar 'kan? Ia terjungkang ke depan.

Sembari mencoba bangkit, ia mengelus dahinya yang terlebih dahulu mencium lantai. Lalu ia pun mencoba melihat ke arah belakang dan mendapati seseorang yang sangat ini tidak ingin ia temui. Sekali melirik, Sougo langsung membuang mukanya dan tak mau berniat untuk melirik laki-laki itu.

"Shinu, Hijikata kono yaro," hanya itu ucapan yang terlontar dari bibir tipisnya. Ia berucap sembari menahan pedihnya luka dahulu yang sudah sembuh, namun terbuka lagi.

"Teme, apa-apaan kau ingin membunuhku?" Laki-laki yang disebut Hijikata pun mulai marah-marah di sana.

"Ah, lupakan. Tapi ngomong-ngomong, apakah kau disuruh untuk menangkap 'Red kirei'sang pembunuh para wanita?" Hijikata berucap sembari meminta kepastian kepada Sougo.

Sougo berdiri dari jatuhnya. Kemudian berjalan tanpa menjawab yang membuat tangan Hijikata meraih pundaknya dan berteriak, "Oi kau! Aku serius! Aku juga ingin menangkap sang red kirei itu! Aku ingin membunuh pemuda yang beraninya hanya pada wanita itu!" teriak Hijikata sungguh-sungguh.

Namun Sougo malah mendepakkan tangan Hijikata dengan bahunya, "Laki-laki dingin yang tak punya perasaan sama sekali terhadap wanita yang dia cintai tidak berhak untuk memarahi laki-laki yang menghilangkan nyawa para wanita, karena laki-laki dingin itu bahkan lebih buruk dari pada tisu toilet yang sedang dipakai untuk mengelap pan*tat," perkataan Sougo bisa diambil kutip, karena termasuk quote. Tapi... kenapa tisu toilet ikutan?

Cengo, itu yang dirasakan Hijikata.

"Oi, Sougo! Apa-apaan dengan menyindir soal wanita yang ku cintai itu? Memangnya ada ap—," belum sempat Hijikata menyelesaikan kalimatnya, ia teringat akan sesuatu, "Sougo.. jangan-jangan kau?"

Sougo hanya berjalan tanpa memerdulikan perkataan Hijikata.

Hijikata-san, kau ternyata masih ingat dengan kakakku. Batinnya Sougo.

"...Ingin permen dari Yoshiwara?"

~LFN~

"Ahhh," Sougo mendesah kesal. Semua masalah ia hari itu adalah karena ia rindu pada kakaknya, itu saja. Namun, setiap kali ada orang yang ia kenal, ntah mengapa lidahnya jadi kelu untuk bercerita tentang aneue-nya. Ia hanya butuh bahu untuk bersandar. Ah tidak perlu lagi, karena ia sedang bersandar pada bahu seseorang.

"Apakah ada yang terjadi, ghousujin-sama?" tanya gadis bercepol dua yang tengah menyandar di sandaran bangku taman kepada lawan bicara di sampingnya—yang tengah menyender di bahunya.

Ada.

"Tidak," tampaknya pemikiran dan bibirnya tidak berkompromi, sehingga menghasilkan jawaban yang berbeda.

"Tapi, mengapa kau menyender di bahuku, kono yaro? Singkirkan kepalamu dari bahuku!" titah gadis itu yang tak suka akan bahunya yang menjadi sandaran kepala sang sadis.

"Ah," lelaki itu tetap bersikeras menyender di bahu gadis itu, "Aku sebenarnya ingin menyandar di dadamu karena empuk supaya aku merasa kalau aku tidur di atas bantal, tapi kau tahu lah kalau dadamu itu bagaikan papan lindasa—akh!" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Sougo sudah terlempar akibat pukulan dari gadis tadi.

"Maaf saja ya, ghousujin-sama, tapi aku belum puber," jelasnya dengan menekankan ucapannya pada kalimat 'ghousujin-sama'. Gadis yang kesal itu pun meraih payung ungunya—yang tadinya terlepas saat ia memukul Sougo—dan melenggok pergi meninggalkan Sougo yang masih terkapar di tanah.

Sougo pun mulai bangkit dan mengelus kepalanya yang terlebih dahulu mencium tanah ketimbang badannya, "Ah, gadis yang aneh."

Sougo yang sudah bangkit pun akhirnya menggerakkan kakinya untuk berjalan menuju salah satu minimarket yang cukup sepi pembeli. Kaki yang berbalut seragam Shinsengumi itu pun terus berjalan mendekati minimarket tersebut dan memasukinya dengan penuh selidik.

Kakinya pun beralih dari lurus, menuju ke kanan minimarket dan meraih salah satu majalah Shounen JUMP! Yang ber-cover Naruto—dari fandom sebelah.

Jemarinya sibuk membolak-balik halaman demi halaman dari majalah tersebut. Namun, matanya malah tidak tertuju pada majalah yang sedang ia baca. Matanya hanya tertuju pada satu titik. Hanya satu. Yaitu seorang gadis yang sedang berdiri di depan mesin kasir, gadis yang cukup cantik.

Gadis jelita itu tampak ngeri saat melihat dirinya tengah diperhatikan oleh sosok seorang sadistic.

Matanya penuh selidik. Aku takut. Tolong aku polisi! Batin gadis itu ngeri.

"Maaf saja sudah membaca pikiranmu, tapi aku polisi," jelas Sougo sembari menunjukkan kartu namanya. Di situ tertera bahwa ia adalah salah satu anggota dari Shinsengumi.

Gadis tersebut pun terjatuh di lantai atau maksudnya gubrak, "Dasar kau! Sudah membaca pikiranku! Dan tak tahunya kalau kau itu seorang polisi, huh dasar! Membuatku takut saja," jelas gadis itu sembari memalingkan wajahnya dan menyilangkan tangannya di dadanya—kesal.

Sougo bergerak menuju gadis itu dan menggengam pergelangan tangan gadis itu, lalu membawanya lari tanpa sempat mendengar omelan dari gadis itu seperti Aku harus jaga toko! Atau Kau mau membawaku kemana? Atau Dasar mesuuum! Seperti itu kira-kira.

Sougo terus membawa lari gadis itu hingga sampai ke sebuah gubuk yang sudah hampir hancur. Pintu yang engsel atasnya sudah copot. Jendela yang sudah hilang kacanya. Atap yang sudah terbang.

Gadis itu terlempar ke dinding di depan mereka—tentunya Sougo yang melemparnya. Gadis itu mengaduh sejenak karena merasakan punggungnya yang nyeri akibat tubrukan dinding yang menjulang dingin itu.

"Ma-mau apa kau membawaku ke sini?!" Sougo bungkam akan pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu, ia malah berjalan mendekati gadis itu yang membuat gadis itu menatap horor ke arah Sougo.

"Namamu?" tanpa memerdulikan pertanyaan gadis itu, Sougo malah melontarkan sebuah pertanyaan.

Keringat dingin bercucuran di pelipis gadis itu, Gawaaaatttt! Super gawaaat! Apa-apaan dengan laki-laki ini? Sudah menatap tajam diriku lalu menculikku dan kini menanyai namaku? Apa-apaan coba? Itulah jeritan hati sang gadis.

"Oi, jangan membuatku mengulangi pertanyaan yang sama!" titah Sougo dengan sadisnya sembari hendak mengacungkan pedangnya. Membuat gadis itu melompat kaget.

"Ba-baiklah," gadis itu ketakutan sembari memegang kuat baju seragam kerjanya, "Ya-yagami A-Ai," lalu melontarkan jawaban yang membuat sudut bibir Sougo pun tertarik ke atas dengan indahnya.

"Bagus," Sougo pun kembali memasukkan pedangnya yang tadinya hampir ia hunus. Ia pun berjalan menuju samping gadis itu lalu berdiri melawan arah tembok, "Aku hanya menyelamatkanmu."

"Me-menyelamatkanku? Dari apa?" tanya Ai dengan takutnya. Ia pun mulai berpikiran negatif karena ia sudah menjadi sesosok yang dilindungi seorang polisi.

"Red kirei," ucapan Sougo sukses membuat mulut Ai itu menganga lebar, langsung saja Sougo memasukkan sampah yang ia genggam sedari tadi ke dalam mulut Ai yang membuat Ai tersedak dengan tidak elitnya.

"Ka-kau-ohok," Ai masih sibuk karena sampah tadi masih tersangkut di tenggorokannya, "Kau melakukannya dengan sengaja, 'kan?!" dan yap, Ai marah dan kesal.

"Menurutku kau adalah sasaran utama red kirei," tampa memperdulikan omongan Ai, Sougo melanjutkan analisisnya. Alis Ai dengan refleksnya bertautan tanda ia tak paham.

Ketika bibir Ai mulai membuka, Sougo memotong pembicaraannya, "Tak usah bertanya, suaramu suram."

Sial, laki-laki ini benar-benar membuatku sangaat kesal. Teriak batin hati Ai yang paling dalam.

"Pokoknya, kau harus berada di sisiku sampai aku bisa menangkap red kirei," akhirnya Sougo pun mengucapkan maksud ia membawa Ai ke dalam gubuk itu, "Dia akan datang setidaknya dalam dua atau tiga hari dari seka—," bunyi gedebum memotong pembicaraan Sougo hingga membuat atap yang masih tersisa itu roboh seketika.

"Gyaahhahaha," tawa seseorang yang hanya tampak dari siluet.

"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, o hime-sama," sambungnya sambil menampakkan sesosok lelaki berambut panjang namun diikat satu. Goresan silang tengah menggores pipi kirinya—ah, Elien-san menjitakku sambil berkata 'jangan nyeritain Himura Kenshin di sini' katanya, padahal dia mengatakannya sendiri. Baiklah kembali kepada sesosok laki-laki yang memiliki goresan silang di pipinya.

Ia lalu meraih tangan Ai. Sougo pun bangkit dari jatuhnya dan menampilkan kalau dirinya sudah bersimbah darah, "Te-tenang Yagami-san, aku orang yang sangat kuat dan pintar—hueek," dan ia memuntahkan darah.

"Uh, aku tidak melihat ada seseorang yang kuat dan pintar di sini. Prediksimu saja sudah salah dan apa-apaan dengan berlagak sok kuat itu? Kau malah terlihat sangat lemah," ntah mengapa Ai jadi ber-tsukkomi ria.

Jempol tangan kanan Sougo terangkat pertanda bahwa dirinya baik-baik saja. Ia lalu bangkit, "Maaf Yagami-san. Tadi aku hanya bercanda.." ia memenggal kalimatnya sambil mengancang-ancang untuk menebas leher sang red kirei, "Aku harus ke toileeett!" teriaknya sembari berlarian kencang menjauhi mereka berdua.

Beberapa detik, mereka masih cengo.

"Apa-apaan dengan polisi itu?!" teriak Ai dengan memasang wajah yang sangat jelek—bahkan ingusnya keluar—karena saking tak percaya dengan yang dikerjakan oleh Sougo. Bagaimana bisa seorang polisi yang sudah hampir mendapatkan targetnya malah pergi untuk urusan yang bahkan aku tak percaya apa itu. Dan ketidakpercayaannya pun berlanjut sampai ke batinnya.

Batinannya tak berlanjut karena dagunya kini merasakan sesuatu yang hangat, "Hime-sama, tolong kembalilah padaku," ternyata hal yang hangat itu adalah tangan dari red kirei yang tengah memegangi dagunya. Ai mendepak kasar tangan tersebut.

"Kembali? Apa maksudmu dengan kembali?! Aku denganmu itu tidak akan perna—" teriaknya teredam oleh pisau milik red kirei yang menutupi bibirnya.

~LFN~

Hari ini tumben sekali si sadis tidak memanggilku, aru. Batinnan dari seseorang yang selalu memakai suffix 'aru' disetiap akhir kalimatnya. Sukonbu seperti biasa ada tepat di bibirnya. Mengenakan pakaian layaknya China, ia berjalan sembari melindungi diri dari sinar matahari di bawah payung ungunya, ialah Kagura.

Ntah mengapa dirinya malah menabrak sesuatu yang membuatnya menjatuhkan sukonbu dan payungnya, sesuatu yang cepat.

"China?" tanya lelaki yang ternyata menabraknya tadi.

Kagura yang dipanggil China itu pun sedikit mendelik ketika mendapati ghousujin-sama-nya tengah berlarian, "Sesuatu pasti terjadi. Jelaskan padaku, ghousujin-sama," Kagura akhirnya benar-benar tak ingin dibuat penasaran, namun Sougo sudah berlarian jauh terlebih dahulu.

Uh, anak itu benar-benar membuatku kesal, aru.

...

...

...

..

.

Kini, Ai sudah terkapar bersimbah darah yang keluar dari sekujur kakinya dan tampak juga red kirei yang sudah memancarkan senyum sadisnya. Ia menang, pikirnya. Namun Sougo malah tersenyum dengan lebih sadisnya.

"Yare yare," Sougo pun berjalan mendekati Ai dan menutup kaki Ai yang penuh goresan dengan jas seragam Shinsengumi miliknya, "Ternyata dugaanku tepat," lanjutnya sembari berdiri.

Red kirei mendelik. Alisnya bertautan tanda ia tak paham, namun semua itu ia singkirkan dan sembunyikan dengan memasang senyuman sadis, "Ah, kau tahu rupanya?" dan ia malah bertanya.

"Kau tahu bahwa aku mengincar kakinya?" red kirei berkata sembari melempar jas Shinsengumi milik Sougo yang tadinya menutupi luka Ai. Ia lalu memegangi kaki Ai yang sudah tak mulus lagi dan menciuminya, "Hm, aroma yang sungguh indah," jelasnya lalu membanting kaki Ai dan berdiri kembali.

"Kau hampir mati karena kehilangan kakimu, 'kan?" tanya Sougo dengan polosnya. Namun red kirei malah kaget dan dengan sigapnya melancarkan serangan pada Sougo, dengan gampangnya pula Sougo menangkisnya, "Gadis itu, Yagami Ai, adalah putri kesayangan ayahmu dan dia merupakan anak angkat yang telah menghancurkan mimpimu untuk menjadi pelari hebat, 'kan? Berkat kaki palsu, kau masih bisa berjalan, bukan?" tangan kiri red kirei meninju pipi Sougo yang membuat Sougo terlempar.

"Kuh, kau tahu banyak juga. Tidak salah kalau para polisi menyewamu untuk menangkapku. Tapi.." ia memenggal kalimatnya di saat ia bergerak menuju Sougo yang masih baru bangkit dari jatuhnya, "..Kau akan mati seka—gwah!" serangan yang hampir mulus itu malah hancur akibat seekor anjing besar tadi menimpanya.

"..Chi-na?" matanya Sougo membulat seketika. Diri gadis yang sedari tadi menanyakan kabarnya kini berada di depannya.

Kagura—gadis itu pun langsung membantu Sougo untuk berdiri, "Kenapa kau?" Sougo malah bertanya dengan penuh tanda tanya karena ia sangat tak percaya akan hal itu.

"Sudah kuduga, ada hal yang tak beres denganmu hari ini, ghousujin-sama. Jadinya tadi aku mengikutimu dan mendapatimu sudah seperti ini," jelas Kagura dan langsung menuju ke anjing kesayangannya, "Sadaharu, gigit dia, aru," titahnya pada Sadaharu—anjingnya tersebut dan Sadaharu langsung memasukkan kepala red kirei ke dalam mulutnya.

"Kau..sendirian?" tanya Sougo sembari meraih jas Shinsengumi miliknya.

Kagura menggeleng sejenak, "Aku bersama mayora dan teman-temannya," jelasnya diiringi dengan suara gaduh yang mulai menuju ke arah mereka.

"Diamlah kalian semua! Shinsengumi datang!" teriak sang 'mayora' seperti biasa.

Mayora tersebut langsung mengetahui keberadaan Sougo, "Sougo! Kau tidak apa-apa? Tidak biasanya kau terluka," sang mayora langsung bertanya keadaan Sougo, sementara para anak buahnya sibuk memborgol dan memasukkan sang red kirei ke dalam mobil patroli untuk dimintai keterangan.

Sebenarnya hari ini bukanlah hari yang pantas untuk Sougo bertugas, karena suasana hatinya sedang kacau. Karenanya sedari tadi ia tak berkelakuan layaknya seorang Sougo. Ia bahkan hampir kalah hanya karena tinjuan di pipinya yang membuat ia terlempar. Kuh, menyedihkan. Namun hal itu karena ia sedang tidak mood untuk melakukan apapun karena semua hal menyedihkan dalam dirinya masih ia pikul seorang diri.

Sougo langsung berjalan—hingga genggaman Kagura pada bahunya terlepas—sampai menuju sesosok gadis yang sedari tadi tengah terbaring lemah di sana. Sougo duduk bersimpuh di samping gadis itu. Ia memegangi kepala gadis itu lalu menutup mata gadis itu dengan tangan kanannya.

"Gomennasai.." kata yang keluar dari mulut Sougo membuat Kagura terbelalak tak percaya. Ntah mengapa jantungnya rasanya terpacu akibat hal yang diucapkan Sougo.

Mayora yang memperhatikan sikap Kagura yang tiba-tiba salting itu pun bertanya, "Gadis Yorozuya, apa kau baik-baik saja?"

Kagura menggeleng dan langsung memendam wajahnya di balik payungnya. Ia berjalan dan menaiki Sadaharu lalu pergi tanpa mengucapkan apapun. Hal itu hanya dilihat oleh sang mayora dalam diam. Setelah Kagura tidak tampak lagi, mayora pun langsung berjalan mendekati Sougo.

"Diakah orang yang diincar?" tanyanya pada Sougo. Sougo langsung memindahkan kepala gadis itu kembali ke tanah dan dia pun bangkit sembari berjalan menjauhi mayora atau kita sebut saja Hijikata.

"Hijikata-san rasanya ini pedih."

"Huh?" Hijikata masih belum nyambung dengan ucapan Sougo.

"Kehilangan seseorang yang paling kau cintai," jelas Sougo sembari berlalu kembali.

"Sougo? Jangan-jangan kau suka dengan—" kata-kata Hijikata terputus saat ia melihat Sougo menggeleng.

"Tidak. Tapi aku sudah berjanji padanya untuk melindunginya dan membuatnya agar tidak mati. Tapi, aku hanya tetap membuatnya mati. Kuh, mengesalkan," Sougo tetap berjalan dengan ritme biasanya, tanpa dipercepat atau diperlambat, itu pertanda kalau di dalam dirinya ia sudah sangat hancur.

Hijikata kembali memandangi gadis yang sudah mulai membujur kaku itu dan tersenyum.

"Kau.."

"..Menyebalkan."

~LFN~

Lelaki shota itu sudah satu jam berjalan tanpa arah hingga sampai ke suatu taman, pandangannya terfokuskan saat dia melihat seorang gadis tengah duduk di bangku taman itu sambil membawa kotak P3K. Gadis itu pun akhirnya mengetahui keberadaan lelaki yang sudah berdiri di sana yang tengah memasang wajah tak percaya. Lelaki shota atau kita anggap Sougo itu tertegun sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum.

"Duduklah, ghousujin-sama. Biar aku rawat dirimu," pinta gadis China atau kita sebut Kagura kepada Sougo.

Sesuai perintah, Sougo duduk di samping Kagura lalu menghadap Kagura agar bisa Kagura balur luka di dahinya itu.

"Nee," Kagura memecahkan keheningan di antara mereka walaupun tangannya sibuk membenahi dahi Sougo agar terbalur pembalut. Sougo mendelik sejenak saat Kagura berbicara.

"Gadis itu...siapa?" tanya Kagura membuat Sougo tersenyum.

"Siapa ya.." Sougo sengaja memenggal kalimatnya agar bisa membuat Kagura kesal, namun yang ia dapati adalah ekspresi sedih dari Kagura yang membuatnya kaget, "..Hanya seseorang yang harus kulindungi namun gagal," jelasnya kemudian.

"Kau baik sekali pada orang yang baru kau kenal.." Kagura memenggal kalimatnya, "..Tapi mengapa kau tidak bisa mencintaiku?" tanya Kagura tiba-tiba. Membuat Sougo malah menahan ketawa.

"Dasar kau China. Acting cemburumu tidak bagus. Belajarlah dulu pada Taylor Swi*ft," titah Sougo kemudian membuat alis Kagura naik-turun karena kesal.

Uh, acting dan Taylor Swi*ft apa hubungannya? Kagura pun akhirnya membatin.

Kagura lalu tersenyum, "Sudah selesai," katanya, lalu membenahi segala peralatan kesehatan untuk dibawa pergi.

"Aku pulang duluan ya, acara ghousujin-sama dan maid-chan-nya berakhir disini," jelasnya sembari melangkah. Ya, hari itu adalah hari tepat dimana dua minggu telah usai. Kecepatan? Ya, karena Elien-san tidak terlalu ingin mengulur waktu biar cepat tamat karena waktu untuk mengerjakan hal ini sangat mepet.

Kembali pada Kagura.

Ia melangkah, namun langkahnya terhenti ketika pergelangan tangannya diraih oleh tangan Sougo. Hal itu membuat Kagura membalikkan wajahnya untuk dapat bisa melihat wajah Sougo.

"Ada apa?" tanyanya, namun Sougo malah menggeleng dan melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Kagura.

Karena genggaman tangannya sudah terlepas, Kagura pun kembali berlalu sembari berpikiran kalau Sougo hari itu aneh sekali.

Langkahnya kembali terhenti ketika ia mendengar Sougo berucap.

"Kagura, aku memimpikan kakakku," mata Kagura membulat sempurna, bukan karena apapun tapi karena nada suara Sougo tampaknya lemah sekali. Juga ia baru pertama kali mendengar kalau Sougo memanggilnya dengan namanya. Ia pun langsung membalikkan badannya agar menghadap ke arah Sougo—walaupun berjarak satu meter.

"Aku mimpi dia datang, namun pergi lagi," Sougo tidak menunduk, ia tetap pada posisi duduknya, namun pandangannya terkesan hanya lurus ke depan. Ntah mengapa, kaki Kagura terburu-buru ingin berada di samping Sougo sehingga ia tersandung batu, untungnya dengan sigap Sougo memeganginya agar tidak jatuh. Mata mereka bertemu.

Kagura langsung berdiri di samping Sougo lalu melempar sekotak sukonbu ke paha Sougo. Sougo meraihnya lalu melihat ke arah Kagura dan Kagura malah memalingkan wajahnya, "Maaf saja, tapi hanya sukonbu-lah yang aku punya," jelasnya.

Sougo mengepalnya lalu memasukkannya ke dalam sakunya.

"Arigatou.." Ucapan itu membuat Kagura merasa doki-doki dan awkward.

"Y-ya," balas Kagura canggung, "Tapi jangan sedih begitu, kalau kau terus begitu, tandanya kau belum ikhlas. Kalau kau belum iklas, kakakmu takkan tenang di sana," jelas Kagura seperti menceramahi yang membuat Sougo sedikit tersenyum.

"Ah dasar kau, bisa saja menceramahi orang," tangan Sougo langsung mengelus rambut Kagura namun hanya sekejap.

"Kau tak perlu terlalu sedih, kau 'kan sudah menceritakannya pada temanmu dan aku," ucapan Kagura membuat Sougo kembali terdiam, "Eh? Ada apa?" Kagura jadi makin bingung.

"Tidak. Hanya saja aku baru bercerita padamu di sepanjang hari ini," hal itu malah sekarang membuat Kagura terdiam.

"Ke-kenapa?" tanya Kagura canggung.

"Entahlah, siapa yang tahu," hal itu membuat Kagura rada kesal, namun tak ia gubris rasa kesalnya saat itu.

"China.." Sougo memanggil Kagura dengan panggilan seperti biasa, "..Ini pedih rasanya," sambungnya dengan nada yang sangat lemah, membuat Kagura tiba-tiba langsung menempelkan tangannya di pipi Sougo yang membuat Sougo kaget.

"A-apa? Apa-apaan kau?" tanya Sougo yang masih merasa kaget.

"Kau begitu buruk hari ini.." Kagura lalu melepaskan tempelan tangannya pada pipi Sougo. Ia kemudian berlalu, "..Setidaknya itu hadiah dariku biar kau tidak begitu buruk lagi," lalu akhirnya benar-benar meninggalkan Sougo.

Sougo melihat Kagura berlalu dalam diam, namun tangannya ia tempelkan pada pipinya yang tadi ditempelkan Kagura—dengan tangan Kagura—lalu tersenyum.

Kagura yang masih berjalan itu pun mulai mengacaukan rambut oranye-nya, "Apa-apaan dengan hanya memberitahu hal penting seperti itu padaku seorang? Dasar sadis!"

TBC desuu..

N/A: red kirei : Merah cantik (?)

Hwaaaaaaaaaaaaah.. akhirnya bisa kembali membuat fanfict abal dengan cerita yang lumayan panjang~~ SANKYUU YANG UDAH FOLLOW + FAV + REVIEW FICT INI! SEMOGA KETEMU SAMA OKITA-SAN! /nak.

Yah pokoknya dari saya itu aja. Ini plot nya udah ngawur. Oh ya, kalau ada miss, typo(s) tolong maklumin ya. Soalnya saya masih tetep gak ada waktu buat ngecek lagi, jadi maaf ya. Juga maaf kalau ada kalimat yang kurang cocok karena imajinasi lagi diujung tanduk /halah/ Btw humor nya udah nggak kena ya? Maaf deh, ini gara-gara mereka udah mulai ke jenjang(?) serius gitu, jadinya kalo serius ditambah humor kan gak bingo gitu /wat.

Gitu aja, salam benang gulung-gulung dari sayaa! JANGAN LUPA REVIEW YA SENPAIII XD X3

~LFN~

Oshiete!

Ginpachi-sensei!

"Oi, Ginpachi-sensei sedang cuti karena mau nonton Gorilla Twin, jadi hari ini oshiete nya ngga sama Ginpachi-sensei tapi sama Elien -san deshhuuuuu, oke ulang."

Oshiete!

Elien-sensei!

"Nah, kalau begini kan beneran saya yang mengajar," elien-san mendelik ke arah jam dan berkata, "Waktu kita kepepet, jadi kita mulai saja ya."

Ia lalu meraih sebuah review, "Yang pertama dari Satsuki Kobayakawa, 'HYAHAHAHAHAHAAHHA PERTAMAAAAX! /DIESH. Dapet e-mail dari Gmail(?), taunya dari FFN. Eh ternyata fic Elien-san udah update. :'3 Serasa ada oasis di tengah padang pasir(?) Aaahh, akhienya h'. Tunggu sebentar. Mengapa pula ini malah kepotong? Apakah Satsuki lelah me-review atau dia nge-review sambil merem?" sang elien sudah mencak-mencak, lalu tiba-tiba mendapatkan sebuah pesan dari Satsuki-san dengan judul 'Review ulang(?)'.

"Mari kita bacakan, 'AAAAAHHHH SIAL KEPENCET SEND— /NANGES. Saya ulang review disini ya, Elien-san. :'' /dibejek. HYAHAHAHAHAHAAHHA PERTAMAAAAX! /DIESH. Dapet e-mail dari Gmail(?), taunya dari FFN. Eh ternyata fic Elien-san udah update. :'3 Serasa ada oasis di tengah padang pasir(?) Aaahh, akhirnya update juga.. Ditengah galau-galau, gak taunya bisa baca beginian. Hint-nya kerasa banget, dan kasihan Shin-chan dan Gin-chan. :'' Betewe, SAYA TYPOOOO SAMA REVIEW KEMARIN— /DESH. GAPAPA KAN SAYA MAMPIR KE KELAS 3-Z, KAN ADA GINPACHI-SENSEI DISANAAAH— /brb pelukin Ginpachi-sensei /dibuang. Ceritanya semakin menarik saja, humornya jadi semakin ala Gintama(?) nih, jadi nggak sabar ntar kayak gimana hati batunya Kagura bisa lumer(?) sama sadisnya(?) Sougo... AH SWEEET- /hush. Sekian coretangaje saya, harap maklum(?) :''D Salam damai, -Satsuki' nah, beginilah mungkin maksud review-nya."

"Oke saya jawab. HYAHAHA KEPENCET SEND /wat. Sst, nama seperti G*mail harus disensor /elusensornyanggabener. Sengaja biar cepet tamat, jadi hint-nya harus dapet:'3 /gagituoi. Gintoki sama Shinpachi emang patut dikasihani dari dahulu. IYA KAMUH TYPO. GABOLEEE GINPACHI NGELIHAT KAMU AJA UDAH GATEL PENGEN GARUK KETEK /wat /nak. Terimakasih :'3 iya humornya, maacih :'3 Dua duanya batu, kalo diadu bukan sweet tapi pecah:'3 /bukangitujuga. Saya maklumi kok, biasa sajaa. Salam kriuk mamamia lezatos dari Ayuha chaan."

Elien langsung membalik review dan kemudian berucap.

"Review kedua yang masuk dari marfa aully, 'Ah, aku baru tahu kalau ternyata racun tikus, lem tikus, ekor tikus dan sega sesuatu yang berhubungan dengan tikus kalau dicampur pake blender jadi hijau warnanya. Shougo-kun, yang semangat ya, ngerjain Kaguranya /dihajar kagura/. Padahal sebenernya aku pengen liat ekspresi Shougo pas minum minuman tijus (tikus dijus) itu, ahahaha /diseppuku Shougo/. Yah, Elien-chan, kurikulum '13 memang mengerikan, kok, aku tahu, tetep semangat y.' Baiklah, tapi sebelumnya saya minta maaf untuk marfa-san, karena namanya tidak tercantum di chapter kemarin karena pakai (_) jadi hilang tiba-tiba. Jadi kali ini saya memisahkan namanya bukan pakai '_' tapi pakai spasi, saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."

"Baiklah jawabannya. Ah, saya juga baru tahu berkat kerja keras Kagura wkwk. Aku dukung juga kok Sougo ngerjain Kagura /wut /ikutandihajar/. Sama, tapi idenya ilang, jadi ngga dicantumin de uvu /ikutandiseppuku/. HWAAA akhirnya ada yang tahu juga gimana ngerinya hal itu /sembahsujud/. Siaapp, aku pasti akan tetap semangat."

Lalu elien kembali membalik review dan tertinggal satu review lagi.

"Yang terakhir dari SyifaCute, 'Lanjut y! Nih cerita makin seru aja... Dan, jgn lupa, UPDATE KILAT!' oke sip. Ini sudah lanjut yaa, syggg:'3 ahh maacih, terimakasih sangaat :'3 Hwa tentang apdet, diusahakan kok, berdoa saja biar bisa apdet kilat :'D /wut."

Tatapan elien pun ke arah kamera.

"Jangan bosan dengan fanfict ini. Walau abal pasti ngangenin! Jadi saya minta review untuk membuat saya bangkit dan ingin melanjutkan chapter yang tinggal beberapa lagi," jelasnya kemudian menunjuk ke arah kamera.

"Sampai jumpa next chapter."