—Mine and Yours—
Author: Rin
Chapter: 5/10
Disclaimer: All casts is belong to themselves.
Rated: M
Pair: KiHyun, WonSung, ZhouRy, YeWook, WonKyu, HoMin.
Genre: Romance – Family – Angst
.
Warning: AU, YAOI, OOC, twincest, mature contents, Possessive!Kibum, uke!Kyu, Kibum and Kyuhyun as twins, changing of Kyuhyun's surname.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Changmin berlari menyusuri koridor panjang di lantai dua gedung fakultas seni. Sesekali kedua iris gelapnya menyapu setiap sudut tempat yang dilewatinya, berusaha menangkap keberadaan seseorang. Ada seseorang yang harus ditemukannya sekarang—atau setidaknya harus ia temui kalau ia memang tidak bisa menyeretnya pergi.
Peluh mulai mengalir dari dahi menuju lehernya. Ia sudah berlari dari gedung fakultas kedokteran tepat ketika kelasnya berakhir, dan jarak antara dua gedung ini sangat jauh. Bahkan masih terbilang cukup melelahkan walau ia memiliki kaki yang terbilang cukup panjang.
Langkahnya semakin melambat ketika ia hampir tiba di ujung koridor hingga akhirnya berhenti sama sekali. Seluruh sudut di gedung ini—baik lantai satu maupun lantai dua—sudah ia telusuri dan orang itu tidak ada di tempat ini, sementara lantai tiga terlarang untuk mahasiswa.
Iris gelapnya menangkap sosok seorang namja yang dikenalnya. Bukan yang dicarinya, tapi setidaknya orang ini ada kemungkinan mengetahui keberadaan seseorang yang tengah dicarinya kini.
"Yunho-hyung!"
Changmin kembali melangkahkan kakinya, kali ini mendekati seorang namja bertubuh jangkung yang baru saja keluar dari kelasnya. Yunho—namja yang ia panggil itu—menoleh. Ia tersenyum ketika mengetahui siapa yang tengah memanggilnya.
"Changminnie?"
"Hyung, ada yang ingin kutanyakan padamu!"
Yunho mengerutkan alisnya. "Ditanyakan padaku? Tumben sekali..."
Changmin mempoutkan bibirnya. "Yaa, hyung! Bisakah untuk kali ini kau serius? Kalau tidak, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku seujung jari pun malam ini."
Yunho membulatkan kedua matanya. "Y-yaa! Baiklah, baiklah. Apa yang mau kau tanyakan?" Lebih baik mendengarkannya, daripada ia kehilangan jatah setiap malamnya.
Changmin menghela nafas lega. Ancaman klise, tapi selalu mempan, terutama untuk mengancam orang sepervert Jung Yunho. Bahkan sejak sebelum mereka pindah ke apartemen yang sama, tingkat ke pervertan orang ini tidak juga berubah, malah semakin menjadi-jadi. Heran sebenarnya, kenapa dulu Jaejoong-hyung bisa bertahan menjadi kekasihnya selama satu tahun?
"Changminnie?"
Changmin tersentak. "Ah, ne?"
Yunho mengerutkan alisnya, namun memilih untuk tidak menanyakan apa-apa. Bisa-bisa ancaman yang baru saja diucapkan oleh sang kekasih malah menjadi kenyataan, karena ia tahu kalau kekasihnya ini selalu serius dengan apa yang ia ucapkan.
"Apa yang mau kau tanyakan?" Ulang Yunho.
"Itu… apa kau melihat Donghae-sunbae?"
Yunho mengerutkan alisnya. Untuk apa kekasihnya ini menanyakan keberadaan namja lain? Apa ia tidak tahu kalau dirinya agak cemburu?
Changmin yang menyadari arti tatapan Yunho langsung melengos perlahan. Rasanya sulit sekali menjadi kekasih orang sepervert tapi di saat bersamaan seprotektif Jung Yunho. Ia dekat dengan orang lain—entah itu namja atau yeoja—orang ini pasti langsung merasa cemburu. Memang tidak ditunjukkan secara langsung, tapi ia bisa menyadarinya. Mereka baru berpacaran selama setengah tahun ini—tepat ketika ia menyadari kalau ia tidak mungkin mendapatkan seorang Kim Kibum, tapi orang ini bersikap kalau mereka ini seperti sepasang suami istri. Ayolah, ia tidak membenci hal itu—ia justru merasa senang. Tapi adakalanya ini membuatnya agak risih. Ia bahkan harus mengeluarkan usaha ekstra keras hanya untuk membuktikan kalau ia sudah tidak mencintai Kim Kibum dan hanya dekat sebatas teman dengannya.
"Aku tidak akan macam-macam dengannya, hyung..."
Yunho menghela nafasnya. "Arra, arra... baiklah. Dia tidak masuk hari ini. Aku tidak tahu alasan jelasnya, tapi kudengar sepupunya jatuh sakit di Mokpo sana."
Changmin mengerutkan alisnya. Tidak masuk? Lalu siapa?
.
.
Zhoumi menghela nafasnya. Sepanjang hari ini, dimulai dari kejadian tadi pagi di gedung utama hingga menjelang sore seperti ini, benaknya dihantui oleh satu hal. Ia bahkan sulit untuk berkonsentrasi mendengarkan penjelasan sang songsaengnim selama di kelas tadi.
Namja China itu memijat lekukan hidungnya. Ini membingungkan sebenarnya. Dan yang paling membingungkan dari semua ini justru adalah dirinya sendiri. Ia mengetahui beberapa hal—yang katakanlah tidak boleh sampai diketahui oleh banyak orang—termasuk hubungan kedua Kim bersaudara itu. Mengetahui—tapi bukan untuk mempedulikannya. Toh itu bukan urusannya, hanya saja sedikit banyak dalam hatinya ia justru sedikit mengkhawatirkan keduanya.
Ia tidak dekat dengan mereka berdua. Terutama dengan sang kakak kembar. Ia hanya tahu mengenai Kim Kyuhyun dari apa yang didengar dari kekasihnya dan pertemuan mereka yang bahkan dapat dihitung dengan jari.
Dan…
Ia tidak ingin ikut campur, namun sepertinya takdir justru berkata lain, karena—disadari atau tidak—sejak ia memutuskan untuk mengikuti permainan Changmin, ia sudah ditarik untuk terlibat dalam suatu hal yang… sangat sulit diprediksi olehnya…
"Hhh…"
Lalu…
Yang jadi masalah saat ini adalah, kalau di universitas ini yang mengetahui hubungan keduanya hanya dirinya dengan Changmin, lantas siapa yang menyebarkan kabar itu di sini?
"Gege!"
Zhoumi tersentak. Ia mendongakkan kepalanya, mendapati namjachingunya yang tengah berjalan ke arahnya.
"Gege, gwaenchana?" tanya Henry, ketika ia sampai di hadapan Zhoumi.
"Eh?" Zhoumi mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Terlihat ia masih agak tidak fokus dengan percakapan ini, membuat Henry seketika mempoutkan bibirnya.
"Gege, aku serius bertanya padamu. Kau ini kenapa sih?"
Zhoumi terdiam beberapa saat. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, sebisa mungkin menghalau pikiran-pikiran aneh yang mulai menguasai benaknya—terlepas dari apakah itu memang penting atau tidak. Terlalu banyak pikiran seperti ini bisa membuatnya tidak fokus dengan kuliahnya dan itu artinya sama saja dengan ia sedang berusaha melepas beasiswanya di universitas ini.
"Aniyo, aku tidak apa-apa... kurasa."
Henry menatap Zhoumi agak lama, seolah ingin mengatakan sesuatu. Zhoumi yang menyadari tengah ditatap dengan intens, mengerutkan alisnya. "Waeyo?"
Namja berpipi chubby itu menggigit bibirnya, yang entah kenapa terlihat ragu di mata Zhoumi. Beberapa detik kemudian, Henry menggelengkan kepalanya, mengubah kembali sikapnya seperti biasa lagi. "Aniyo. Tidak ada apa-apa. Aku harus pergi sekarang. Aku masih ada kelas lagi setelah ini."
Henry membalikkan tubuhnya, ingin segera berlalu dari tempat itu.
"Henli-ya, apa hari ini Kui Xian masuk kelas?" Pertanyaan yang dikeluarkan Zhoumi sontak menghentikan langkah Henry yang kemudian membalikkan badannya.
"Aniyo, kudengar dia sedang sakit hari ini."
Detik berikutnya, Henry segera melesat pergi dari tempat itu. Ia tidak ingin terlalu lama berada di tempat itu, atau ia akan terus merasa bersalah.
Zhoumi mengerutkan alisnya ketika melihat kepergian Henry. Ada yang aneh, tapi ia tidak tahu apa...
.
.
Yesung melangkahkan kakinya masuk ke pekarangan rumah keluarga Kim. Ia mengernyit heran ketika dilihatnya pintu pagar yang tidak terkunci. Sampi di pintu depan, ia semakin heran karena didapatinya pintu depan yang tidak terkunci juga. Harusnya kedua anak kembar itu sedang kuliah saat ini, kenapa pintu tidak terkunci sedikit pun?
Ia melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam rumah. Gelap, dan sepi. Hanya cahaya matahari yang menyusup masuk melewati tirai-tirai transparan yang menjadi penerang di rumah ini. Tidak ada sedikit pun suara kecuali —hei, ia tidak salah dengar kan? Kenapa telinganya seperti menangkap ada suara seseorang yang sedang menangis? Hantu itu tidak ada kan?
Yesung bergegas menuju lantai atas. Hanya ada dua kamar di sana. Yang satu miliknya dan sisanya adalah milik kedua Kim kembar itu. Dan tanpa perlu berpikir lama lagi, ia segera masuk ke dalam kamar Kibum dan Kyuhyun—yang tidak terkunci.
Ia tertegun di muka pintu ketika didapatinya Kyuhyun yang memeluk kedua lututnya sambil menenggelamkan wajahnya di antara keduanya. Bahunya bergetar, dan sesekali terdengar isakan lirih dari mulutnya. Tak butuh waktu lama untuknya mengambil kesimpulan kalau si bungsu yang jahil tapi sebenarnya baik ini tengah menangis.
Masalahnya, apa? Apa yang membuatnya menangis? Apa Kibum menyakitinya, atau ada hal lain?
"Kyu?"
Kyuhyun tersentak. Segera ia mendongakkan kepalanya, dan kedua iris gelapnya sontak membulat ketika melihat siapa yang tengah berdiri di dekat pintu kamarnya. "Y-yesung-hyung?"
Yesung berjalan mendekati Kyuhyun. Wajah Kyuhyun memucat—tak kentara tapi Yesung menyadarinya, bahkan walau kamar milik Kim bersaudara itu agak gelap karena lampu yang tidak dinyalakan dan tirai-tirai transparan yang menutup rapat jendela kamar mereka hingga sinar matahari pun hanya bisa menyusup ke sela-sela tirai, ia bisa menyadari perubahan air muka Kyuhyun. Terlihat menyedihkan dan… tertekan serta frustasi…
Yesung mencelos. Sebenarnya ada apa? Apa yang sudah terjadi selama ia tidak pulang ke rumah ini? Hell, itu bahkan hanya satu hari dan ia seperti menghilang selama berminggu-minggu? Jinjja, sebenarnya apa yang sudah terjadi?
"Kyu, gwaenchana?" Yesung duduk di tepi tempat tidur, tepat di hadapan Kyuhyun.
Kyuhyun menatap ragu ke arah namja bermata sipit itu. Ia sudah berhenti menangis, namun jejak air mata masih sedikit menghiasi kedua pipinya. Kedua iris gelapnya bergerak tak beraturan, seolah berusaha mencari jawaban dari pertanyaan sederhana namun nyatanya sangat sulit untuk dijawab. Tubuhnya baik-baik saja, tapi hati dan pikirannya tidak—bukan hanya kali ini tapi sejak lama.
Yesung masih menunggu. Melihat dari gesture yang ditunjukkan oleh sepupunya ini, ia bahkan sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan—atau ditunjukkan—oleh anak ini.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya—pelan dan ragu. Bukan maksudnya untuk berbohong, tapi sungguh, ia tidak ingin membuat hyung yang sangat disayanginya ini khawatir. "Aku tidak apa-apa, hyung..."
Benar kan dugaannya?
Yang tertua membuka mulutnya, hendak mengeluarkan bantahan, sebelum Kyuhyun melanjutkan ucapannya.
"...sungguh..."
Melihat raut wajah Kyuhyun, yang benar-benar bersikeras bahwa ia baik-baik saja, Yesung memilih untuk tidak mengeluarkan kalimat bantahan apapun yang ingin dikeluarkannya.
Diam menyelimuti keduanya. Ini adalah interaksi tercanggung yang pernah terjadi di antara keduanya, dan Yesung sungguh membenci ini. Ia menghela nafasnya. Jinjja, ia benar-benar ingin—dan harus—tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia benar-benar khawatir, dan ketidaktahuannya ini sungguh membuatnya kembali merasa gagal sebagai hyung yang baik bagi keduanya… untuk kedua kalinya.
Ia menjulurkan tangan kanannya, mengusap kepala Kyuhyun dengan sangat lembut, yang otomatis membuat Kyuhyun kembali mendongakkan kepalanya, menatap Yesung. "Hyung?"
"Kurasa… walau aku paksa sekalipun, kau tidak akan mau mengatakan apa-apa padaku. Aku benar kan?"
Kyuhyun menundukkan kepalanya. Ia tidak berani walau hanya untuk menatap kedua iris gelap yang berkilat tajam namun lembut di saat yang bersamaan. Detik berikutnya, Kyuhyun kembali menganggukkan kepalanya, tak ingin berbohong lagi—karena ia lelah. Lelah dengan hampir semua hal yang pernah ia alami, lakukan dan putuskan. Rasanya bahkan jauh lebih melelahkan dibandingkan dengan ketika ia diharuskan berpikir untuk kemudian memutuskan ke jurusan mana ia akan berlabuh beberapa tahun yang lalu.
Ini melelahkan. Ia ingin mengakhirinya, namun ia bingung, harus dimulai dari mana ia memutuskannya. Kibum pernah mengatakan, semakin lama mereka menyimpan ini dalam-dalam, kemungkinan untuk ketahuan justru semakin besar. Dan semakin lama mereka tak memiliki niat untuk mengatakan apapun pada Yesung, maka semakin sulit pula ketika mereka memiliki keinginan—yang lebih dikarenakan tekanan—untuk mengatakannya. Itu yang dialaminya. Yesung bukan hanya akan kecewa padanya. Lebih dari itu, kemungkinan paling buruknya adalah ia akan membencinya—membenci mereka berdua, dan dia… benar-benar tidak sanggup akan hal itu. Selama ini, satu-satunya orang dewasa—walau nyatanya perbedaan usia mereka hanya beberapa tahun—yang selalu bersama mereka hanya Yesung. Dan kemungkinan kalau Yesung akan membenci mereka, membencinya utamanya, benar-benar membuatnya berpikir kalau mati bahkan jauh lebih baik.
Grep.
Kyuhyun membelalakkan kedua matanya. Ia sedikit mendongakkan kepalanya, ketika dirasanya Yesung tengah memeluknya kini. Ia diam membatu, bingung dengan reaksi apa yang harus dikeluarkannya. "H-hyung?"
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu tertekan sekarang, dan kurasa kau pun tidak ingin mengatakannya. Karena itu... walau ini tidak berpengaruh apa-apa bagimu, setidaknya biarkan aku memelukmu."
Kyuhyun menggigit bibirnya. Terlalu baik. Ia tahu hyungnya ini terlalu baik. Dan kebaikannya ini justru membuat rasa bersalahnya semakin besar.
"Kau bisa menceritakannya padaku kapan-kapan, kalau kau tidak sanggup mengatakannya sekarang. Aku siap mendengarkanmu kapanpun kau mau."
Kyuhyun menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Yesung. Ia berusaha menahan tangisnya, walau nyatanya sangat sulit. Perlahan, ia membalas pelukan hyungnya itu, berharap dengan itu semua beban pikirannya selama bertahun-tahun ini akan terangkat dan ia bisa kembali membuka matanya tanpa beban atau tekanan batin yang menghinggapinya.
Detik berikutnya, air mata kembali mengaliri kedua pipinya. Dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Yesung adalah diam, membiarkan Kyuhyun mengeluarkan seluruh emosinya, memilih untuk tidak mengucapkan sepatah katapun—sepenasaran apapun ia saat ini. Perasaan Kyuhyun adalah yang paling penting di atas segalanya—bahkan jauh lebih penting dari apa yang sedang ia putuskan untuk kehidupannya sendiri, termasuk mengenai Choi Siwon…
.
.
Yesung menghela nafas lega. Ia menarik selimut yang hampir terjatuh lalu menutupi tubuh Kyuhyun yang tengah tertidur dengan benda itu. Sedikit merapikannya, ia kemudian mengusap dahi Kyuhyun perlahan. Kyuhyun masih tidak mengatakan apa-apa, bahkan hingga ia tertidur karena terlalu lama menangis.
Ia penasaran—sekaligus khawatir. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Kyuhyun menangis seperti itu sejak kematian kedua orang tuanya. Dan mengingat Kyuhyun menangis ketika anak ini masih berada dalam lingkup tanggung jawabnya, benar-benar membuatnya frustasi. Apa ia memang bukan seorang hyung yang baik? Hingga membuat begitu banyak kesalahan terhadap kehidupan kedua namja kembar ini?
Yesung memperhatikan wajah Kyuhyun. Kalau dilihat seperti ini, kadangkala ia ragu kalau ini adalah benar-benar Kyuhyun. Terlalu manis dan innocent untuk ukuran namja yang hobi menjahilinya. Yesung tersenyum kecil—sekaligus miris. Tuhan begitu baik telah memberikannya malaikat kecil ini—walau kadangkala benar-benar membuatnya harus mengurut dahinya—dalam naungan tanggung jawabnya. Tapi ia sendiri yang menyia-nyiakannya—bahkan membuat beberapa kesalahan yang berakibat fatal, bukan bagi mereka kini, melainkan bagi kehidupan mereka ke depannya.
"Hufft..."
Srek...
"Eh?"
Yesung tersentak ketika dirasakannya tangan kanannya menyentuh sesuatu—beberapa lembar kertas menurut perkiraannya—tepat di dekat bantal yang ditiduri oleh Kyuhyun. Perlahan, ia mengangkat sedikit bantal itu, tak ingin mengganggu Kyuhyun. Benar dugaannya memang ada beberapa lembar kertas tebal di bawah bantal. Ia mengerutkan alisnya. Untuk apa Kyuhyun meletakkannya di bawah bantal?
Dengan gerakan yang ia usahakan sehalus dan sepelan mungkin, Yesung menarik beberapa lembar yang bisa ia jangkau tanpa mengganggu Kyuhyun yang sedang tertidur.
Kedua iris gelapnya membulat ketika dilihatnya apa yang tercetak pada lembaran-lembaran itu. Jadi ini yang membuat Kyuhyun seperti ini? Tapi... siapa...?
Yesung membalikkan lembaran foto itu. Alisnya bertautan melihat sesuatu yang tertulis di sana. Bukan isi tulisannya yang membuatnya tertarik, melainkan gaya tulisannya itu sendiri. Ini...
Yesung segera meraih ponselnya lalu mengetik beberapa kali. Ia bergegas berjalan keluar kamar, setelah memastikan Kyuhyun tidak akan terbangun—setidaknya hingga Kibum pulang kuliah.
Ada yang harus dilakukannya dan ini benar-benar penting.
.
[[to: Siwonnie.
Apa kau ada waktu sekarang? Aku ingin kau menemaniku ke luar kota. Sekarang.]]
.
[[to: Kibummie.
Kyuhyun sakit... kurasa. Bisa kau menemaninya selama aku pergi? Ada sesuatu yang harus kulakukan. Apa pun yang terjadi jangan jauh-jauh darinya.]]
.
.
Kibum memasuki rumah dengan langkah yang tergesa-gesa. Ia bahkan tidak menutup pintu rumahnya dengan rapat. Pesan singkat dari Yesung membuatnya langsung melesat ke rumah, mengabaikan sisa jadwal kuliahnya hari ini. Khawatir, jelas saja. Pantas saja adik kembarnya itu tidak terlihat di sudut manapun di kampus tadi.
Namja berkulit putih itu segera menaiki tanggga, dan berbelok menuju kamar mereka berdua. Ia membuka pintu kamar tersebut dengan agak keras. Langkahnya sontak terhenti ketika melihat Kyuhyun yang tertidur pulas. Kelihatannya sedikit keributan yang dibuatnya beberapa saat yang lalu tidak mengganggu istirahatnya sedikit pun.
Menghela nafas lega, Kibum mendekati ranjang dimana Kyuhyun masih tertidur, lalu duduk di salah satu space yang kosong. Ia mengulurkan salah satu tangannya, hendak mengelus kepala Kyuhyun, namun sesuatu telah lebih dulu menarik perhatiannya. Kibum mencondongkan tubuhnya, mengambil selembar kertas terbalik yang tergeletak di sudut berlawanan dengan tempatnya duduk. Kelihatannya, entah Yesung atau Kyuhyun, sudah menjatuhkannya.
Kibum menghela nafasnya, tak terlalu kaget dengan apa yang dilihatnya. Toh ia sudah menduga, siapapun yang menyebarkan kenyataan mengenai hubungan mereka tidak akan bertindak setengah-setengah dengan hanya melakukan hal tersebut pada dirinya saja. Kyuhyun juga pasti akan diganggunya pula. Satu-satunya hal yang membuatnya agak sedikit kaget adalah… orang ini—siapapun itu—terlalu nekat…
Orang ini terlalu tahu mengenai dirinya. Bukan, ia tidak pernah menduga kalau ini perbuatan Shim Changmin. Seburuk-buruknya sifat teman satu jurusannya itu, ia tahu kalau orang itu tidak akan sampai melakukan hal ini. Namja itu tipe pengamat yang tidak akan melakukan perbuatan senekat dan seriskan yang dilakukan si pelaku. Lagipula... untuk apa orang itu mengganggunya kalau ia sendiri sudah memiliki kekasih? Sekurang apapun kerjaannya, Changmin tidak akan melakukan sesuatu yang berbau konspirasi nekat sekaligus berbahaya ini...
Kibum menggelengkan kepalanya. Rasanya terlalu banyak yang memenuhi pikirannya saat ini. Ia meremas lembaran foto tadi dan melemparnya sembarangan. Kedua iris gelapnya beralih pada Kyuhyun yang masih tetap dalam posisinya yang tertidur dengan sangat pulas. Jadi ini yang membuatmu tidak kuliah hari ini?
Kibum melepas kacamatanya. Ia memijat lekukan hidungnya. Yesung sama sekali tidak bisa dihubungi sejak terakhir kalinya hyungnya itu mengirim pesan singkat padanya, dan ia khawatir. Hyungnya yang satu itu selalu menyembunyikan sesuatu darinya, walau ia tahu kalau itu bukan sesuatu yang buruk baginya. Hanya saja... apa hyungnya itu tidak mempercayai salah satu dari mereka hingga tidak pernah mengatakan apapun mengenai hal-hal yang membebaninya?
Baiklah, ia akui, ia juga seperti itu. Tapi tetap saja… argh, sudahlah…
Kibum menarik nafasnya, pelan namun terasa berat. Hari ini terlalu banyak hal yang terjadi. Ia tidak masalah dengan bagaimana tanggapan orang lain mengenai kenyataan soal dirinya dan Kyuhyun, ia bahkan tidak mempedulikan bagaimana tatapan-tatapan yang ditujukan padanya sepanjang hari ini di kampus. Yang ia khawatirkan adalah Kyuhyun. Adik kembarnya itu, katakanlah, masih agak labil dalam masalah pengendalian emosi sejak hari itu. Dan perlakuan buruk yang—kemungkinan—akan diterimanya kalau ia masuk kuliah, akan membuatnya kembali tertekan.
Kelihatannya aku harus bersyukur karena kau tidak masuk kuliah hari ini, Kyuhyunnie…
"Hufft…"
Kibum menatap Kyuhyun. Sedikit senyum terulas di bibirnya. Kalau melihat wajah tenang Kyuhyun yang bagai malaikat ketika tidur, mau tidak mau ia pun jadi ikut merasa sedikit tenang.
Namja bersurai hitam itu membaringkan tubuhnya di samping Kyuhyun. Perlahan ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang dan punggung sang adik, lalu menariknya ke dalam pelukan yang erat namun hangat.
Kyuhyun sedikit bergerak dalam tidurnya. Walau tidak sampai terbangun, kelihatannya Kyuhyun menyadari ada seseorang yang memeluknya—bahkan walau di alam bawah sadarnya sekalipun, terlihat dari gerakannya yang seolah menyamankan dirinya dalam pelukan sang kakak.
Kibum tersenyum lembut. Ia mengecup dahi Kyuhyun dengan amat lembut, sebelum kemudian ia memejamkan kedua matanya.
Mianhae… jeongmal mianhae… akan kupastikan kalau ini akan segera berakhir…
.
.
Yesung memejamkan kedua matanya. Kepalanya ia sandarkan pada kaca mobil yang ia dan Siwon tumpangi. Jalanan Seoul masih terlihat ramai dan langit masih terlihat sangat cerah. Menjelang senja. Jelas ini adalah pemandangan yang sangat indah, kalau saja suasana hatinya sedang tidak buruk.
Kelihatannya sesekali mengajak Wookie berjalan-jalan di sini kapan-kapan tidak ada salahnya…
"Aish…" Yesung membuka kedua matanya. Kenapa di saat seperti ini yang terbayang adalah namja buta tapi manis yang kemarin ditemuinya secara tidak sengaja? Pertemuan mereka bahkan hampir tidak berkesan apa-apa—seharusnya, atau malah secara tidak disadari justru sangat berkesan baginya? Ah, terserahlah…
"Hyung, waeyo?" Siwon—yang pandangannya fokus pada jalanan di hadapannya dan kedua tangan yang erat memegang kemudi—melirik ke arah sang kekasih lalu kembali fokus pada jalanan. Heran. Kenapa tiba-tiba Yesung meminta dirinya untuk menemaninya ke suatu tempat yang ia tidak tahu, tanpa memperbolehkan adanya penolakan atau pertanyaan mengenai apa tujuannya. Bukankah ini aneh?
"Aku tidak apa-apa, Siwonnie. Hanya sedikit lelah hingga rasanya aku jadi ingin mati saja…"
Siwon diam. Memilih untuk tidak menanggapi apa-apa. Kalimat itu terlalu ambigú, memiliki dua makna yang membuatnya sedikit mengernyit bingung. Lelah tubuhnya atau lelah pikirannya?
"Hyung, sejak tadi kau tidak mengatakan kita akan kemana, sebenarnya apa tujuanmu?"
"Apartemen milik Henry Lau di Seongdong, setelahnya kita ke Mokpo."
"Mwo?"
.
—To Be Continued—
.
a/n Yang mau protes sama saya gata-gara super lama update ini, silakan kirim protes ke kantor pos terdekat. xD #plak. So, ada yang masih inget ff ini? ;3 Atau malah udah pada lupa? -.-
Oke, saya langsung bales review aja ne? :3
WKniichan – Jadi siapa yang nyebarin? Haha… xD #plak. Dari chapter ini udah saya masukin beberapa orang yang kemungkinan nyebarin, so tungguin sampai chap terakhir aja ya. #plak
Guest(1) – Bukan kok chingu. :3
Ochaviosa – Eh, tapi itu bisa jadi lho. xD
Cho Youngie – Jangan pisahin? O.o Kita liat aja nanti. xD Gomawo, chingu. Gapapa kok kelewat banyak, yg penting ff ini akhirnya ditemukan. xD #plak
Ukekyushipper – Saya suka susah nih bikin yg so sweet. -.- apalagi kalau ini bawaannya udah angst. -_-
Ika .zordick – Tunggu aja sampai beberapa chapter ke depan. :)
Mingmiu – Siapa? Ntar aja deh, chapter2 depan aja. xD
Chocolates – Ambigu: Gak jelas, punya dua makna. xD Iya, bukan Changmin atau Zhou Mi tapi ada orang lain. :3
Mhiakyu – Makin rumit ff ini, makin stress authornya. ~.~
Blackyuline – Bukan, chingu. -.-
Cloud3024 – Tebak-tebak berhadiah aja, kalo bener saya kirim Yesung-oppa ke sana. xD #plak
Lalala – Ada kok. xD Bukan Yesung kok chingu. :)
Violin diaz – YeWooknya chapter depan atau mungkin chapter depannya lagi, sekarang fokus ke KiHyun dulu. :)
Cloudyeye – Bukan Yesung, tebak aja terus. xD
Cloud'sHana – NCnya diundur jadi chapter depan aja. xD Yesung? Udah saya keluarin nih. xD Gak mungkin Yesung lah, chingu. xD Ayo tebak lagi, ntar Yesung-oppanya saya paketin ke rumah. xDD #duagh.
Raihan – Gapapa, chingu. :) NCnya saya undur aja dulu. Haha, Henry? Gimana ya. xD
Park Hyo Ra – Henry? Gimana ya. xD Siwon? Gak tau deh. #plak Yesung? Bukan kok. Reader? Bisa jadi. xD #duagh. Author? Itu jawaban paling bener. xDDD #digeplaksendal. NCnya chapter depan. :3
Dennisbubble1004 – Ncnya saya undurin lagi. :3
Magieapril – Bukan, chingu. xD
RitSuKa-HigaSasHi – Siapa ya? Authonya mungkin ya. xD #plak
.
Oke, sekian dari saya. RnR? :)
Best Regards
—Rin—
