"Ini adalah surat dari kerajaan."

"Apa-apaan kau, aru?" tanya gadis bercepol itu pada seseorang yang diutus dari kerajaan.

"Maksud saya, Oji, ah baka oji itu ingin mengundangmu pada kencan kedua kalian," Jelasnya kemudian.

Gadis bercepol atau kita anggap Kagura itu pun langsung meraih surat undangan tadi, kemudian meremasnya.

"Dasar si bodoh itu, aru. Apakah ia tidak terlalu terburu-buru, aru? Baru minggu ketiga, aru," sembari meremas, wajah Kagura sudah nampak bagaikan death evil yang membuat sang utusan kerajaan itu bergidik ngeri hingga ingusan.

"Apapun yang terjadi, aku tak akan menjadi pengantinnya, kau dengar itu, aru?!" teriak Kagura kemudian membuat utusan yang ingusan itu hingga berlarian.

Kagura mendengus sejenak, "Apa-apaan dia?"

.

.

A Gintama Fanfiction

Gintama © Sorachi Hideaki

Fanfict Love For Nothing © Ayuha

Okita Sougo x Yato Kagura

Romance – Humor (Tapi nggak yakin)

Warning : [mungkin] OOC, miss Typo(s), Gaje deh, juga disetiap pemikiran/sang karakter sedang membatin, tulisannya pasti akan di italic.

Love For Nothing

.

.

Don't like? Don't read..

Cerita sebelumnya.

Sougo memimpikan aneue-nya datang yang membuatnya teringat kembali. Namun ia tak bisa mengungkapkan perasaan terpendamnya pada para Shinsengumi dan akhirnya ia pun memendam juga ketika bersama Kagura. Sougo memiliki misi untuk menangkap sang pembunuh wanita yang mengincar seorang pelayan toko minimarket, namun berakhir dengan kalahnya sang pembunuh dan meninggalnya sang target yang membuat Sougo tambah kesal. Dalam kekesalannya yang dalam, akhirnya ia pun menceritakan segalanya pada Kagura hingga berbagai simpati pun diberikan oleh Kagura padanya.

~LFN~

"Huuh? Kau ingin menyuruhku lagi untuk membantumu dalam kencanmu?" tanya lelaki bersurai silver pada Kagura sembari mengupil dan malas.

"I-iya, Gin-chan, aru. Tanpa bantuanmu dan Shinpachi, aku tidak bisa sukses untuk kencan dan kau tahu 'kan jika aku tak sukses, aru?" seketika, background kuburan dan kilat yang menyambar-nyambar pun muncul membuat Gin—lelaki silver—itu merinding.

"Baiklah Kagura-chan. Aku memang tak ingin di seppuku massal," jelasnya lalu beranjak pergi.

"Mau kemana kau, Gin-chan, aru?" Kagura pun berlarian kecil untuk mengejar Gin tersebut.

Gin mengorek telinganya dan keluarlah Shinpachi.

Uh?! Apa-apaan dengan aku yang keluar dari telinga Gin-san?! Oii! Teriak Shinpachi dalam hati.

"Ohayou gozaimasu," oh ternyata, Shinpachi datang dari pintu Yorozuya.

"Ah, Shinpachi kebetulan, tadi aku akan ke rumahmu," Gin langsung merangkul bahu Shinpachi dan berjalan bersama hingga meninggalkan Kagura sendirian.

Kagura masih diam di situ.

Iya, masih diam.

Hingga,

"GIN-CHAN DAN SHINPACHI BODOOOOOOOOOOHH, ARU! DASARRR BODOOOOOOH, ARU!"

Yah, teriakan itu pun menggema dari dalam Yorozuya.

~LFN~

Sudah satu jam Kagura ditinggal oleh Gin dan Shinpachi. Kagura pun mulai menunjukkan titik jenuh menunggu. Ia kemudian meraih gagang telepon hitam yang senantiasa tergeletak di meja Gin. Sembari memutar-mutar—agar bisa memasukkan nomor telepon—Kagura pun mengeluh. Setelah nomor yang dituju selesai ia masukkan, Kagura lalu menempatkan gagang telepon hitam itu pada telinganya sembari menunggu balasan dari seberang.

"Moshi moshi?" sapa orang diseberang sana.

"Papi, aku punya permintaan, aru," Kagura langsung to the point pada maksud ia menelepon papinya.

"Iya, apa itu, Kagura-chan?" tanya papinya dengan nada yang hangat dan lembut.

"Aku ingin kau membantuku dalam kencan bersama baka oji, aru," jelas Kagura kemudian yang membuat papinya memutuskan sambungan telepon diantara mereka.

Dan Kagura pun langsung membanting telepon hitam tak berdosa itu. Kagura pun meraih payung ungunya dan berlarian ke luar Yorozuya.

Terik matahari sangat membuat dirinya kepanasan—walaupun sekarang ia tengah berlindung—ia pun berteduh di pinggir toko sembari jongkok dan membenamkan wajahnya pada tangannya—yang ia lipatkan secara silang.

Di dalam batinnya, ia mengutuki Gin, Shinpachi dan papinya yang tak mau membantunya dalam kencannya ini. Ia bahkan tak tahu harus bagaimana dalam kencannya ini. Ia semakin pilu ketika mengingat dirinya yang belum bisa meraih hatinya Sougo. Mungkin tujuh hari dari sekarang ia sudah bertunangan dengan sang baka oji, pikirnya suram. Ia pun lalu berdiri dari jongkoknya dan berjalan tanpa arah.

"Leader 'kah itu?" tiba-tiba sebuah suara membuat ia memberhentikan langkahnya. Di sana terlihat seorang teroris bersurai hitam panjang dan seekor, uh iya seekor pinguin atau bebek atau badut?

"Zura," Kagura pun berlarian ke arah orang yang dipanggilnya Zura itu.

"Zura janai, Katsura da!" seperti biasa, Zura—ah, Katsura meralat namanya yang Kagura salah sebut itu.

"Ngomong-ngomong, mengapa kau berjalan tanpa arah begini, leader?" tanya Katsura kemudian ketika ia mulai peka dengan situasi Kagura.

Kagura menggeleng sejenak, "Tidak, aru, tidak ada sesuatu hal apapun, aru," jelasnya, namun kakinya belum melangkah, "Nee, Zura, aru. Apa kau tahu, aru. Apa yang harus kau lakukan dalam sebuah kencan, aru?" tanya Kagura.

Pertanyaan Kagura membuat Katsura tertawa terbahak-bahak, "Ah, memangnya mengapa kau bertanya seperti itu padaku, leader?" tanya Katsura balik yang membuat Kagura langsung salah tingkah.

"Ah tidak, aru. I-ini karena ada seorang teman, aru. Ia mempunyai teman dan temannya mempunyai teman lagi, aru. Nah teman tadi punya kakak aru, dan kakaknya punya teman lagi aru, lalu—," penjelasan panjang lebar itu pun dipotong oleh Katsura.

"Baiklah, aku mengerti. Jadi permasalahan ini dari temanmu dan temanmu mempunyai teman lagi. Nah teman tadi punya kakak dan kakaknya punya teman lagi, lalu—," jitakan pun berhasil mendarat di kepala Katsura.

Elizabeth—nama makhluk di sebelah Katsura—pun mengajukan papannya yang bertuliskan, "Kau malah membuat hal tadi semakin membingungkan, Katsura-san."

Katsura pun mengelus jitakan yang dibuat oleh Kagura di kepalanya, "Ah maaf, leader. Menurutku dalam kencan itu, kau bisa minum-minum," Katsura pun mulai berkata yang membuat Kagura sedikit bingung.

"Minum-minum itu lalu di temani oleh para gadis," timpanya Katsura kembali.

Uh, gadis? Aku ini gadisnya, bodoh, aru! Kagura sedikit meruntuki Katsura dalam hati.

"Setelah itu kau kembali minum-minum."

"Dan minuman lainnya kembali menghampiri."

"Lalu minuman yang lain juga datang."

"Tak lupa, pelayan lainnya pun membawa minuman."

"Minuman pun data—AKH!" perkataan nista Katsura terputus ketika tinjuan mendarat di muka indahnya.

"Dasar kau, aru! Aku tidak mengerti, aru! Yang kau omongkan semuanya hanya tentang minum-minum, aru!" teriak Kagura kesal, urat di tangan dan dahinya sudah menunjukkan kalau ia sudah sampai pada batasannya.

Katsura yang tadi terjatuh—akibat bogeman Kagura—pun mencoba bangkit sembari memegangi wajahnya yang bonyok di bogem Kagura, "Leader, kau tidak tahu betapa indahnya minum-minum ditemani para gadis yang cantik," belanya.

Kini, Elizabeth membalikkan papannya, "Jangan samakan kencan dengan pergi ke bar, Katsura-san!"

"Elizabeth, mengapa kau malah memarahi aku?" Katsura kemudian merangkul kaki berbulu milik Elizabeth dengan tangisan yang mengucur deras.

Kagura langsung membalikkan badannya—guna agar tidak melihat pemandangan nista tersebut—lalu kembali berjalan tanpa arah.

~LFN~

Keringat mengucur begitu saja dari pelipis gadis bak China—Kagura—itu. Walaupun dirinya sudah melindungi kulit putihnya dari teriknya matahari di Kabuki cho dengan payung ungunya, namun rasanya tetap saja percuma. Ia tetap saja basah akibat keringat yang terus menerus turun.

Ah, aku lapar, aru. Runtuknya dalam hati.

Aku juga haus, aru. Timpalnya kemudian.

Ia pun memberhentikan langkahnya di depan sebuah gerbang, seperti doujo.

Tatapannya yang sedari tadi tertuju pada tanah pun akhirnya ia naikkan—untuk melihat tulisan di sana—dan tulisan itu membuatnya kaget bukan main.

Shimura kah ini, aru? Mengapa aku malah pergi ke tempat ini, aru? Memang benar aku sedang lapar, aru. Tapi mengapa langkahku secara otomatis malah melangkah ke rumah Shinpachi dan Anego, aru?! Kagura menjerit dalam batinnya. Ia pun mulai menjambak rambut oranye miliknya dengan frustasi.

Gawat ini, aru. Aku sedang tidak ingin berbicara dengan Gin-chan maupun Shinpachi, aru! Tapi mengapa aku malah datang ke depan rumahnya, aru?! Batinnya pun berlanjut. Bahkan menurut saya sang narator, harusnya Kagura lari saja menjauh dari rumah itu agar tidak berjumpa dengan Shinpachi, tapi mengapa ia masih berdiri di depan sana sembari frustasi? Ah sudah biarkan saja apa maunya.

Ketika pintu itu bergerak—tanda mau terbuka—, Kagura langsung meraih payung ungunya—yang tadi terjatuh saat ia menjambak rambut oranye-nya—dan akan berlari, namun sayang..

"Ara, Kagura-chan?" gadis ponytail itu sudah keluar dan melihat Kagura yang hendak berlarian, "Ada apa, Kagura-chan? Mengapa kau berlarian seperti itu?" tanya gadis itu kemudian.

Kagura pun mau-tidak-mau langsung membalikkan badannya untuk melihat ke arah gadis di belakangnya, "Y-yo, Anego!" sapanya dengan terbata. Keringat dingin mengucur begitu saja dari pelipisnya.

Ga-gawat ini, aru. Ka-kalau Shinpachi ada di sana, ba-bagaimana ini, aru? Batinnya kembali frustasi.

"Nee, Anego," Kagura memanggil gadis yang dipanggilnya Anego itu.

"Apa, Kagura-chan?" dengan senyuman manis, sang anego pun bertanya kepada Kagura.

"Shin-shinpachi?" Kagura balik bertanya dengan terbata.

"Eh?" sang anego atau yang kita kenal dengan sebutan Otae itu pun terkejut sejenak, "Shinpachi? Apa kau mau bertemu dengannya Kagura-cha—," perkataannya pun terpotong.

"Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, aru!" Ucap Kagura sebelum akhirnya ia benar-benar berlarian untuk menjauhi rumah tersebut.

Otae yang melihat Kagura berlari pun mulai memegangi pipi kanannya dengan tangan kanannya, "Aku pikir ia mencari Shinpachi. Padahal aku juga sedang ingin mencari Shinpachi dan ingin mengajaknya pergi bersama untuk mencari Shinpachi, namun ia tidak mencarinya, 'kah."

Sementara itu Kagura yang masih berlarian pun mulai lelah, dapat dilihat dari larinya yang makin lama makin melambat hingga ia berjalan. Kembali berjalan tanpa arah.

Kali ini ia benar-benar berjalan lama sekali, hingga suasana pun tak seterik tadinya. Kali ini ia memilih untuk singgah ke sebuah taman. Taman yang biasanya ramai pada sore hari. Ia pun memilih duduk di bangku ke dua. Karena cuaca tidak terlalu terik, ia pun menutup payung ungu kesayangannya dan menaruhnya di sebelahnya. Pandangannya kini tertuju pada langit.

"Besok, 'kah?" dan ia pun menutup matanya.

Pikirannya mumet. Ia masih memikirkan bagaimana ia berkencan untuk besok bersama sang pangeran bodoh itu. Apa lagi ia masih berpikir, tujuh hari dari sekarang ia pasti sudah bertunangan dengan pangeran bodoh tersebut. Pikirannya masih mengambang dengan suramnya.

"Hanya gadis bodoh yang tidur di tempat seperti ini," suara itu membangunkannya dari pemikirannya tadi. Ia pun langsung membuka matanya dan terlihatlah wajah shota yang sedang menatapnya.

"Sadi—ah, Okita?" tanya Kagura tak percaya dengan keberadaan lelaki itu, "Apa yang kau lakukan di sini, aru?" tanya Kagura pada Okita—nama lelaki shota itu.

Okita pun berjalan untuk bisa duduk di samping Kagura, "Ah tidak ada, aku sedang berpatroli dan melihat ada gadis bodoh yang bisa tertidur di sini—akh!" dan tercoloklah kedua mata sang sadis Okita.

Kagura langsung berlenggok pergi dari tempat itu, sementara Okita sedang bergulang-guling ke sana ke mari dikarenakan sakitnya mata dia.

Dengan kekuatan, Okita pun melihat Kagura dengan sebelah mata merahnya, "Dasar kau gadis China bodoh! Apa yang kau lakukan padaku?! Dan mengapa kau langsung pergi begitu saja?" tanya Okita dengan geramnya. Okita langsung berjalan untuk menggapai Kagura.

"SADIS BODOH! SANGAT BODOH! TAK ADA YANG LEBIH BODOH DARI PADA SI SADIS INI!" ketika Okita baru sampai di samping Kagura, Kagura langsung berteriak seperti itu dan langsung menonjok pipi mulus Okita dengan amarah yang membuat Okita terjatuh lagi.

Okita dalam jatuhnya hanya tertegun melihat Kagura seperti, rapuh?

"Sadis bodoh!" ntah mata Okita yang salah atau memang benar kalau Kagura, menangis?

Cairan bening yang keluar dari matanya itu terus mengucur yang menyebabkan isakan.

"Sadis, hiks, bodoh! Bodoh sekali, hiks! Kenapa oi, sadis, hiks!" Kagura kemudian berjalan menuju Okita yang setengah duduk dan langsung meraih kerahnya Okita. Ia meremas kerah Okita dengan kuat. Tangannya memberontak di sana.

Okita hanya tertegun melihat hal itu. Lidahnya kelu untuk berucap. Sedangkan Kagura, wajahnya sudah bergelimang air mata yang membuatnya hancur.

"Sadis, kenapa, hiks," Kagura terisak dan terus memberontakki kerah baju Okita yang membuat Okita menundukkan kepalanya.

"Kenapa sadis kau tidak—," perkataan Kagura teredam oleh bahu kekar Okita. Dirinya terdekap dalam pelukan Okita yang sedari tadi belum melancarkan aksi apapun. Okita mendekap Kagura dengan tangan kanannya, namun dalam. Membuat Kagura tak bisa berbicara lagi.

Mata biru Kagura sudah melotot sejak tadi, ia tak tahu jika Okita akan berbuat hal hangat ini. Kagura pun membenamkan matanya dalam kelopaknya, meresapi aroma bahu Okita. Kagura pun bergerak, hingga bibirnya mencapai daun telinga Okita.

"Kumohon, cintailah aku."

TBC, yez!

Hora, kembali lagi dengan saya Ayuha yang dipanggil Elien-san dayo!

HWAAAAAAAAAAAAAAAA AAKUU UDAH LAMA NGGA APDET YAK! Orz /sujud.

ADUH GOMEN! YANG INI CERITANYA TERMASUK SINGKAT UVU!

TAPI GILA IDENYA ILANG MUNCUL, JADINYA CERITANYA SINGKAT. TOLONG AMPUNI HAMBA /NAK.

AMPUNI HUMOR YANG TAK ADA INI. AMPUNI ROMANCE YANG NGGA KENA INI

/matikankepslok.

Oke, baiklah. Pokoknya mohon maaf atas:

1. Telat apdet.

2. Cerita singkat.

3. Humornya garing.

4. Romancenya ga dapet.

5. OOC, Miss, Typo(s).

6. DLL.

Oke sekian dari saya untuk chapter ini. Chapter depan sepertinya humornya dikenain, soalnya acara kencannya Kagura sama baka oji pfffftt... jadi tunggulah di chapter selanjutnya untuk mengetahui kisah dan cerita tentang OkiKagu atau HattaKagu? Pokoknya jangan lupa review dan sampai jumpa yaa~~

Oshiete!

Ginpachi-sensei!

"Ee, kembali lagi dengan saya, Sakata Ginpachi. Mohon maaf karena chap kemarin saya tidak hadir, dikarenakan saya harus menonton Gorilla futari. Oke kita langsung saja membaca review pertama dari Satsuki Kobayakawa, '*terobos masuk ke kelas 3z(?)* /SEKMAKSUDNYAAPA. ELIEEEEN-SAAAAAN! INI APA-INI APAAAA- LAGI NGERJAIN TUGAS LAGI-LAGI DAPET EMAIL DARI GM*AIL-SENSEEEEI-(?) /dibejek karena berisik. Sial. Dapet ini langsung meluncur ke ficnya. Astaga, mantap banget. OkiKagu sudah mulai maju juga nih. :'''. Sougo yang tertutup banget sudah mulai terbuka, walau rada musti 'dicongkel' dulu sih. Juga, enta gimana kali ini agak maksa humornya. :v But no problem, Gintama memang seperti ini. Ah, kok pas banget saya rewatch pas episode Obi Hajime sama otaku Hijikata vs Shinpachi... /TERUS. T-TAPI ELIEN-SAAAN, GINPACHI-SENSEI ITU KESAYANGAN LHHOOO-:''' /diusir. Any way by the way in fly away like butterfly with justaway(?), selama mata saya memandang nggak ada typo. Maklumi saya yang lagi kena penyakit menular (?) /NO. Keep writing, Elien-san! Lanjutkan yoh, nanggung banget ini sebenta lagi si botak harus nyerah dengan OkiKagu! *diesh* Salam damai dari planet Mayo, (?) –Satsuki.'."

"Oke, ini jawabannya. Ngapain kau terobos ke kelas saya?" Ginpachi langsung mengusir gadis yang menerobos itu dengan paksa juga, "Kalau sedang ngerjain tugas ya kerjain!" tukas Ginpachi dengan amarah /eeaa.

"Mantapkah. OkiKagu memang sudah harus maju, makanya Sougo harus melancarkan aksi-aksinya /jiah. Dicongkel? Apanya?! OAO" Humornya iya, memang udah maksain, maklum, udah rada bingung gimana penempatan humornya, desu. No problem kah? Arigatouuu TTATT. APA HUBUNGANNYA DIRIMU LAGI REWATCH DENGAN FICT INI?!" Oke, Ginpachi berdehem, ketika naskah membaca review ini diinterupsi oleh elien-san.

Elien-san pun langsung menyodorkan naskah ke Ginpachi kembali, "Baiklah saya lanjut. APA? AKU KESAYANGAN DIRIMU? BAIKLAH KITA KE JAMBAN BESOK! Oke, terimakasih sudah mengoreksi typo nya. Elien-san sedang dalam proses untuk writing-nya, kok. Tenang saja. Si hage itu pasti nyerah kok, yakin deh!" Ginpachi pun lalu meraih review selanjutnya.

"Yang kedua oleh Lala-chan ssu, 'ALAMAK! SAYA GAK REVIEW CHAP KEMAREN :"D TOYONGYAH DISINI OKITA NGENES BANGET... APAAN ITU OKITA NGATAIN DADA KAGURA KAYAK PAPAN GILES- *ditabok* WHY INI SHIFTNYA NYENTRUM! #apasi. OKELAH KALO BEG-BEG-GITU...SAYA AGAK PUSING NGEBACA CHAP INI TAPI RAPOPO LAH. APDEEETT! #kebanyakanshiftdancapslock.' Baiklah terimakasih review-nya. Kau terlambat, kah? Baiklah tidak apa-apa, jangan ketinggalan lagi! Iya, saya juga kaget, elien-san sih senengnya bikin orang ngenes, mentang-mentang dia jones /abaikan. Biasalah, laki-laki benar-benar ingin dada yang boing-boing /woi. Jangan dipencet dong kalo nyetrum xD. Maafkan elien-san atas tulisannya yang bikin pusing, tapi akan dia usahakan agar lebih bagus lagi, keep support! Teriimakasih, sudah apdet!" Ginpachi kembali meraih review yang lainnya.

"Selanjutnya, review dari marfa aully, 'UGYAAAAA OKIKAGUNYA BIKIN FANGIRLING! Hijikata bikin kesel, dan kenapa shogo tiba tiba kebelet? Pokoknya semangat ngetiknya ya elien-chan! Salam sayang, Jendral Pasukan Pelindung Cinta. Purin13,' Terimakasih atas coret coretnya! Benarkah bikin fangirling? Senangnyaaa. Oogushi-kun ngeselin? Kenapa? Sougo kebelet, biasalah panggilan alam. Baiklah, elien-san pasti semangat kok! Salam sayang dari elien juga," kemudian Ginpachi kembali meraih yang selanjutnya.

"Kemudian dari Sherry Scarlet, 'Wah, maaf ya baru review hahaha harusnya dari pertama baca aku langsung revew hehe gomenne. udah bagus sih, ceritanya menghibur deh. ga terlalu muluk-muluk diksi, deskripsi proposional (sekit tapi ga ribet dan ga monoton) pokoknya perfect. Ganbatte dan keep writing. Aku tunggu next chapt n.n' Terimakasih atas review-nya.. Ah tidak apa-apa kok. Kau sudah meluangkan waktu untuk baca saja aku sudah senang. Terimakasih atas kritiknya yang membuat semangat ^^ Baiklah, elien-san akan semangat dan terus menulis. Oke, ini sudah apdet!" Dan Ginpachi pun meraih review yang terakhir.

"Yang terakhir dari RiRingo, '#kelepek-kelepek dengan mulut menganga dan berbusa dikarenakan dosis humor yang berlebihan.. (abaikan..") domo author-san.. ri-desu.. menyedihkan sekali aku baru nemu fanfic ini.. T.T gak bisa berhenti ngakak lah baca fanfic ini diawal2 chapter sampai2 hrs menggunakan bantuan bantal untuk meredam suara karena udh tngh malam.. XD tp chapter ini rasanya agak2 suraam.. D: tak apalah yg penting sdh ada benih2 l*pe antara Sougo ma Kagura.. ditunggu chap selanjutnya.. 39,' Terimakasih banyak atas coretcoretnyaa.. Waduh, ternyata fict ini benar-benar berbahaya /bakarfictnya /NO. Domo, Ginpachi desu, Elien-san yang punya sedang pundung sambil ngetik xD Jangan bilang menyedihkan, yang penting sudah jumpa 'kan? TAT /pukpuk. AHAHAHAA KOK BISA YA, padahal humornya garing krenyes krenyes xD duh kasian bantalnya digigit2. Iya, sengaja dibuat suram, biar disemangatin kagura /eeaaaaa. Semoga aja Sougo peka /dibazooka. Ini sudah apdet, 39 juga!"

Telunjuk Ginpachi pun menunjuk ke arah kamera, "Jangan lupakan fict ini! Dan terus baca kelanjutan ceritanya! Walau humor nya udah ga kerasa, tapi inti ceritanya yaitu romance nya sedang diproses, jadi sabar menunggunya! Baiklah, sampai jumpa di chapter selanjutnya!"