.
.
.
Hana Yori Dango 3
THE NEXT GENERATION
.
.
.
Disclaimer
Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,
sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.
Written by ButaTokki and CamsaHead
Translated by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 8
Jadi itu benar... Sekarang Sasuke menyerah tentang Sakura dan dia tidak membutuhkannya lagi. Sakura hanya dimanfaatkan. Sakura merasa marah, tapi pikirannya menyerah pada hatinya dan dia merasa hancur. Dia melihat mobil itu mulai berjalan dan sebelum dia bisa menahannya lebih lama lagi, dia berlari mengejarnya, meneriakkan nama Sasuke.
.
.
#The Next Generation#
.
.
Sasuke mendengarnya. Dia menoleh ke belakang dan melihat Sakura berlari mengejarnya. Rahangnya terkatup. Sakura milik Naruto sekarang. Sasuke harus membiarkannya pergi karena di sanalah tempatnya. Dia mengalihkan tatapannya menjauh dari Sakura, kembali menghadap ke depan dan menutup matanya.
.
.
#The Next Generation#
.
.
Sakura merasa lututnya lelah dan dia jatuh ke tanah. Air mata bergulir di wajahnya. Dia marah pada Sasuke, tapi lebih dari itu dia merasa setiap bagian kecil dari dirinya hancur. Sasori dan Sai terkejut melihat reaksi Sakura, tapi tidak ada yang lebih terkejut atau syok melebihi Naruto. Naruto menatap Sakura sesaat sebelum berjalan ke arahnya dan berlutut. Sakura menangis.
"Sakura," kata Naruto pelan.
"Maafkan aku," sahut Sakura.
Suaranya gemetar ketika dia berbicara. Tangannya diletakkan di dada seolah-olah mencoba untuk menahan hatinya yang hancur agar tetap berada di tempatnya.
"Naruto, aku sangat menyesal," katanya. Air matanya jatuh lebih cepat. "Aku tidak bermaksud begitu." Dia terisak-isak.
Naruto mengulurkan tangan dan memeluknya. Betapa ironisnya. Sasuke menyerahkan Sakura karena dia pikir Sakura mencintai Naruto dan tidak ingin menyakitinya, dan di sini Sakura menangis. Hatinya menangis untuk Sasuke.
"Tidak apa-apa," kata Naruto, meskipun air mata jatuh dari matanya. Dia tak bisa berbuat apa-apa. "Ini sudah takdir," katanya lembut.
.
.
#The Next Generation#
.
.
Siswa-siswa menatap meja itu dengan tatapan bingung. Sekarang F3 sedang makan siang dengan kelompok Sakura, para penerima beasiswa. Ino duduk di seberang Sai sementara yang lainnya memulai percakapan tentang film. Mereka semua menghindari topik tentang kepergian Sasuke untuk sementara. Saat itulah Ino memutuskan untuk mengajukan pertanyaan yang begitu ingin dia tanyakan kepada Sai.
"Ne, Shimura-kun," kata Ino.
"Kau bisa memanggil aku Sai," katanya.
"Ah, oke. Sai. Ano ne... apa yang kau maksud sebelumnya ketika kau bilang kau membutuhkan banyak gadis sebanyak yang bisa kau dapatkan? Untuk apa?" tanya Ino. Pertanyaan itu benar-benar mengganggunya.
"Kau pasti berpikir aku mewarisi sifat ayahku. Si casanova," kata Sai.
"Well... yeah. Siapapun akan berasumsi begitu." Ino mengaku. Sai, sejauh ini memang bertingkah seperti ayahnya.
"Kalian semua salah," kata Sai dan menyeringai padanya. Ino merasa kesal dengan seringai dan daya tarik Sai yang entah bagaimana terjadi pada waktu yang sama. Sai memegang tangannya, seringai masih menghiasi bibirnya. "Bagiku ini lebih seperti seni." Dia berkata, membawa tangan Ino ke bibirnya.
Sai mencium celah antara jari tengah dan jari manis Ino. Sensasi bibirnya mengirim getaran ke atas dan ke bawah tulang punggung Ino. Jantungnya berhenti berdetak dan dia menarik tangannya.
"Aku tidak tertarik pada senimu," kata Ino, tapi Sai hanya mengangkat alis dan menyeringai.
"Baiklah jika kau berkata begitu."
Perhatian Sai kembali ke pembicaraan teman-temannya. Ino berkedip, dia tidak akan pernah berbicara dengan Sai lagi. Ino sedikit tersipu dan berpaling untuk menyembunyikan wajahnya. Lee membungkuk sesaat, kemudian berbicara padanya.
"Aku melihatnya," ujarnya dengan suara bernada dan Ino meninju bahunya.
"Diam!"
Di ujung lainnya Sakura bergabung dengan Naruto, Shikamaru dan Sasori yang sedang menertawakan lelucon Shikamaru. Sakura tertawa... well setidaknya dia mencoba begitu. Di dalam hati, dia merasa hampa. Hatinya sangat ingin melihat Sasuke sekali lagi. Melihat senyumnya, mendengar tawanya. Hanya melihatnya sekilas atau mendengar satu kata darinya saja sudah cukup. Dia ingin, sangat ingin, mendengar suara Sasuke memanggil namanya sekali lagi. Tapi dia tidak akan bergerak maju jika dia terus memikirkan ini.
Jadi dia tertawa... tawa palsu. Bagaimanapun itu tetaplah tawa dan dia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa dia bahagia. Dia. Bahagia. Dia menatap Naruto yang sedang tersenyum. Setelah hari itu, sesuatu sepertinya berubah. Mereka tidak mengabaikan satu sama lain. Mereka sering ngobrol bersama-sama, tapi lebih sebagai teman sekarang. Naruto diam-diam menerima kenyataan bahwa hati Sakura merindukan Sasuke.
Hari berubah menjadi minggu dan minggu berganti bulan. Kelompok ini telah membentuk ikatan yang aneh. Mereka lebih dekat dan lebih ramah satu sama lain. Luka Sakura perlahan tapi pasti mulai sembuh saat dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia telah move on. Naruto membiarkan perasaannya pada Sakura berubah menjadi cinta seorang kakak yang ingin melindungi adiknya. Sasori... Sasori terus-menerus menculik Sakura untuk melakukan beberapa transformasi fashion yang biasanya menimbulkan pertengkaran dan menyebabkan pakaiannya hancur. Sai dan Ino entah bagaimana membentuk hubungan yang aneh. Yang lain setuju bahwa secara tidak resmi mereka berpacaran, yang entah mereka berdua sadari atau tidak, mereka saling menyukai satu sama lain.
Setelah enam bulan banyak yang berubah dan ada ketenangan yang absolut di sekitar mereka. Hari itu, saat jam makan siang datang, mereka tertawa saat Lee mengatakan sesuatu yang tidak pada tempatnya dan Ino menampar belakang kepalanya. Mereka tiba-tiba mendengar seorang gadis menjerit dan seluruh siswa mulai membuat keributan. Sakura dan yang lainnya tidak mengerti apa yang terjadi. Para siswa mulai berkumpul menuju pintu kantin. Semua berbicara sekaligus dan mereka tidak bisa mencari tahu apa yang sedang mereka gilai. Setelah beberapa detik menunggu, kerumunan mulai terpisah dan memberi jalan, kemudian muncullah Sasuke. Dia berjalan menuju meja mereka dan mereka bangkit dalam diam, tidak mampu berkata-kata.
"Tadaima," kata Sasuke sambil tersenyum.
"Oi! Sasuke!" Sasori yang pertama berbicara dan meneriakinya.
Sasori memberinya pelukan besar dan mengacak-acak rambutnya. Sasuke tertawa dan mencoba menarik Sasori ke arahnya dan diikuti oleh Sai. Sejak saat dia muncul, Sakura tidak bisa bernapas dan hatinya seolah melompat keluar dari dadanya. Dia melihat sesuatu yang berbeda dari Sasuke. Sifat dingin dan sisinya yang penuh kesakitan benar-benar hilang. Yang tersisa hanyalah sisi kekanak-kanakannya. Sisi yang diisi dengan banyak tawa, senyum dan tampak begitu bebas.
Sasuke tidak bisa menahan senyum. Dia merindukan mereka semua dalam enam bulan yang panjang selama dia pergi. Ketika dia berhadapan dengan Naruto, untuk sesaat ada keheningan kecil sebelum keduanya tersenyum dan menarik satu sama lain ke dalam pelukan.
"Apa kau jadi lebih tinggi?" Naruto bercanda saat mereka menarik diri.
"Lucu," kata Sasuke datar, tapi senyumnya tidak pernah hilang. Ketika dia berpaling ke arah Sakura, senyumnya menjadi lembut. "Hey," katanya sambil mengacak-acak rambut Sakura.
Sakura tidak bisa melakukan apapun selain merasa jantungnya melompat di dalam dadanya.
"Hai." Dia berkata pelan.
"SASUKE!" Suara wanita menggema di seluruh ruangan dan semua mata tertuju ke pintu masuk. "Ada apa denganmu?!"
"Apa yang aku lakukan sekarang?" Sasuke bertanya.
Gadis itu, yang mengibaskan rambutnya ke belakang sambil menghentakkan kaki dengan berisik ke arah Sasuke, sangat cantik.
"Mengapa kau tinggalkan aku di kantor guru sendirian?! Kau kan tahu aku tidak tahu arah!" katanya, meletakkan kedua tangan di pinggul sambil menatapnya menuduh.
Sasuke tertawa padanya, tersenyum lebar. "Gomen,gomen," katanya, berpaling dari Sakura dan menuju ke arah gadis itu.
Sasuke memegang tangannya, mencoba membuatnya mengubah pose tubuhnya, tapi gadis itu memberontak dengan cara yang imut sambil menyilangkan lengannya, membuat Sasuke memeluknya sebelum dia menyerah dan kekesalannya hilang. Saat akhirnya menyadari keberadaan kelompok itu, dia tersenyum.
"Oh. Hai, Karin desu!" katanya saat Sasuke menarik diri.
Sakura membencinya. Naruto menatapnya sejenak dan merasa ada sesuatu yang familar dalam dirinya, tapi dengan cepat dienyahkannya ketika dia ingat Sakura. Dia menatap Sakura, benar-benar khawatir dan tiba-tiba merasa marah terhadap Sasuke. Dia ingin meninju Sasuke sekarang, meskipun perasaan itu benar-benar seperti kakak yang ingin melindungi adiknya. Bagaimana mungkin Sasuke tidak memperhatikan bagaimana perasaan Sakura? Apa dia bodoh?
"Uwa~ Kawaii ne~" kata Karin dan menepuk kepala Sakura. "Siapa dia?"
"Seorang teman," jawab Sasuke.
Sakura membenci fakta bahwa Sasuke bahkan tidak ragu-ragu untuk menjawab, bahkan dia tidak berpikir dua kali. Sakura hanya sekedar teman. Segala sesuatu yang Sasuke katakan, semua yang dia lakukan... tampak sewajarnya. Sakura menampar tangan Karin menjauh. Karin tampak seperti gadis yang baik, tapi Sakura tidak punya pilihan selain bersikap kejam.
"Woah, Hello, no, no, no."
Suara perempuan datang dari belakang Sakura, benar-benar mengejutkannya dan yang lainnya. Seorang gadis jangkung yang cantik berdiri di belakang Sakura, entah bagaimana atau kapan dia sampai di sana, di belakangnya, menatap Sakura dengan tatapan protektif dan marah.
"Tidak, tidak. Jadilah anak baik, Tayuya," kata gadis lain yang juga bermunculan entah dari mana. "Dia tidak suka kalau orang-orang kasar terhadap Karin, semacam rasa keibuan yang aneh," kata gadis itu saat Tayuya menyilangkan lengannya, benar-benar kesal dengan Sakura. "Aku Ayame," katanya, tersenyum hangat.
"Dan aku Shion. Hai seksi," kata Shion sambil menyandarkan lengannya di bahu Lee, mengedip padanya. Wajah Lee berubah menjadi sangat merah.
"Ayo kuperkenalkan kalian dengan H4 alias Hana 4. Semacam versi perempuan kita di Paris," kata Sasuke dan memberi isyarat pada keempat gadis itu.
Sakura tak percaya. Kelompok sombong lainnya? Meskipun Ayame tampak baik... dia tidak bisa menghadapi episode penuh drama lainnya. Kepalanya mulai sakit dan dia memejamkan mata dan bernapas dalam-dalam. Dia merasa lengan Naruto membungkus dirinya, mendukungnya, menghiburnya dan memberi tahunya bahwa dia tidak sendirian. Sekarang Sasuke tampaknya dekat dengan Karin. Sakura tidak bisa berbuat apapun dan merasa semakin kesepian.
"Ne, Sasuke," kata Karin, memegang lengannya dan tersenyum ke arahnya. "Aku lapar."
"Ayo semuanya ke lounge F4. Kalian boleh ikut juga," kata Sasuke, mengacu pada Sakura dan teman-temannya.
Sakura ingin tetap dekat dengan Sasuke. Dia ingin dialah yang memegang lengannya.
"Ayo makan taco!" Karin menyarankan dengan gembira, melihat Sasuke dengan mata besar.
"TIDAK!" Sasuke dan tiga gadis lainnya berkata keras, membuatnya cemberut.
"Tapi aku ingin taco."
"Terakhir kali kau ingin taco, kita berada di Meksiko selama dua minggu!" Shion mengeluh.
"Bukan berarti kami benci Meksiko, tapi aku muak dengan makanan Meksiko," jawab Tayuya.
"Pero Porque*?!" Karin protes, ingin tahu apa yang salah dengan taco.
"Karena kita baru saja tiba di Jepang, kita tidak akan makan masakan Meksiko!" Tayuya berkata tegas dan mendapat cebikan dari Karin.
"Kita hanya akan makan apa yang ada di sini, oke?" kata Sasuke, terdengar seperti sedang berbicara dengan seorang anak.
Sakura merasa hatinya hancur lagi. Potongan yang berhasil dia pertahankan kini hancur.
"Aku... merasa sedikit pusing. Permisi," katanya, membungkuk cepat dan pergi.
Sakura merasa sudah cukup melihat adegan itu. Dia merasa akan runtuh kapan saja, seolah dunia menekannya ke bawah. Dia harus keluar dari sini. Naruto mendesah lagi dan Sasuke menatapnya, benar-benar bingung dengan tindakan Sakura, meskipun dia mencoba menyembunyikannya. Naruto mengenalnya dengan baik dan melihat kekhawatiran di matanya. Dia tahu tidak mungkin bagi Sasuke untuk benar-benar melupakan Sakura.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Sasuke enteng.
"Seperti bisa saja," gumam Ino dan Shikamaru memukul bahunya pelan.
Bahkan jika Sasuke tampak baik-baik saja sekarang, mereka masih tidak yakin apakah dia tidak akan meledak di detik berikutnya.
"Sasuke," kata Naruto, mendekati temannya dan menatapnya marah, merasa lelah terhadapnya.
"Apa?" tanya Sasuke.
"Apa kau benar-benar bodoh?" Naruto melanjutkan.
"Tentang apa?" Sasuke bertanya, bingung.
"Iya, apa?" Karin bertanya, ketiga gadis lainnya menariknya menjauh.
"Shhhh, ada drama. Kami ingin melihat tontonan dramatis. Jangan merusaknya!" kata Tayuya.
Ino berbalik dan menyeringai, entah bagaimana merasa seolah-olah dia pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.
"Dia juga suka tontonan dramatis," kata Lee, akhirnya berbicara dan mendapat tamparan kecil dari Ino.
"Aku tidak percaya." Naruto berkata, benar-benar heran. "Kau tidak bisa melihatnya?"
"Tunggu... kenapa kau marah padaku? Sekarang apa yang kulakukan? Aku baru saja kembali!" kata Sasuke, benar-benar merasa seolah masuk twilight zone.
"Dasar idiot," kata Naruto sebelum berjalan pergi.
"Apa yang kulakukan?" tanya Sasuke, beralih ke yang lainnya, yang tidak mengatakan apa-apa.
Telepon Karin berdering, meminta perhatiannya.
"UWAH! OJI-SAN!" Dia menjerit sambil menjawab telepon.
"Mengapa ayahku meneleponmu?" Sasuke bertanya sambil cemberut.
"Karena aku favoritnya. Apa ibu bersamamu oji-chan?" tanya Karin. Sasori, Sai, Ino, Lee dan Shikamaru menatap Karin sedikit bingung. "OKAA-SAN!" kata Karin ceria. Sasuke menyilangkan lengannya, benar-benar cemburu karena ayahnya menelepon Karin, bukan dia. "Tempat ini begitu besar seperti katamu! Uwah~ aku sangat senang bisa masuk ke sekolah ibu dulu!"
"Aku di sini duluan," gumam Sasuke.
"Yeah, Sasuke mengatakan hal yang sama. Sekolah akan jadi gila dengan dua Uchiha di bawah satu atap. Dan dengan hal-hal gila yang sepupuku dan aku lakukan bersama-sama... kami akan bersenang-senang. Mhm... Oke, aku menyayangimu! Sampai jumpa," Dia menutup telepon, membuat lima orang membuka mulut lebar. "Kata ibu dia menyayangimu."
"Aku juga sayang Kurenai-chan," kata Sasuke dan Karin mencoleknya, mengolok-oloknya.
Ino tiba-tiba mulai tertawa. Semua mata tertuju padanya. Shikamaru dan Lee mendesah.
"Oh, ini benar-benar tontonan dramatis. AKU SUKA INI!"
"Kau bermasalah!" kata Shikamaru dan Sai bersamaan, tetapi Ino terus saja tertawa, benar-benar menikmati ironi dari situasi ini.
"Eh?! Tunggu... Karin?! Uchiha Karin?!" Sasori bertanya bingung.
"Hisashiburi ne, Saso-chan?" kata Karin sambil tersenyum.
"Eh~" kata Sai, bingung juga.
"Sudah lama kita tidak bermain bersama," kata Karin, kembali ke kenangan masa lalunya.
Sasori menghela napas dan memijat pangkal hidungnya. "Sakura salah paham," gumamnya.
"Apa?" Sasuke bertanya, hanya mampu mendengar nama Sakura.
"Pergi dan jelaskan kepadanya," kata Sai sambil memberinya sedikit dorongan.
"Jelaskan apa?! Ada apa dengan kalian semua! Mengatakan hal yang tidak kumengerti! Apa yang terjadi?" Sasuke bertanya, masih bingung dan Sasori memutar matanya.
"Kau tidak lihat! Kami bicara tentang Sakura!" kata Sasori jengkel.
"Si gadis pendek?" tanya Tayuya.
"Ya, kupikir itu yang mereka bicarakan," kata Shion.
"Apa?" Sasuke bertanya, masih belum mengerti.
"Tidak, tidak! Jangan katakan padanya! Jangan bilang pada Naru-kun atau Sakura juga!" Karin berkata penuh semangat. "Ayo kita mainkan sebuah game!"
"Tunggu, kau tahu apa yang terjadi?" tanya Sasuke, beralih ke Karin yang hanya tersenyum ke arah sepupunya.
"Semua orang dapat melihat apa yang terjadi," kata Tayuya. Dua gadis lainnya mengangguk.
"Aku tidak melihat apa-apa!" Sasuke mengeluh.
"Karena kau idiot," kata Karin simpel, menyatukan tangannya dengan sepupunya. "Si naif dan idiot yang sangat polos. Tapi aku mencintaimu yang seperti itu."
"Aku sangat bingung."
"Semua ada waktunya, Sayang. Semua ada waktunya," kata Karin seraya menepuk lembut lengan Sasuke, membuatnya sedikit jengkel.
"Game apa?" Ino bertanya.
Karin melepaskan Sasuke dan duduk di samping Ino.
"Dengar," katanya, memanggil Tayuya, Shion dan Ayame lebih dekat sambil menunduk.
Mereka semua entah bagaimana menghalau Sasuke dari percakapan itu dengan mendorongnya pergi setiap kali dia cukup dekat untuk mendengar apapun.
.
.
.
TBC
.
.
.
* Pero Porquetapi kenapa?
Author's bacot area
Maaf telat upate, soalnya banyak yang bilang alur fanfic ini kecepetan. Kalau diupdate cepet, makin berasa kecepetan kan :D
Balasan review
caesarpuspita : Sasuke-kun cuma milik Sakura. Hehe.
SHL7810 : Makasih udah diingetin
azizaanr : Ni udah diupdate ya
yuanthecutegirl : Tenang, pahlawan selalu menang belakangan. Wkwk.
Cherryma : Sudah terjawab ya misterinya.
Eysha CherryBlossom : Iya nih kecepetan, tapi udah coba disiasatin.
JungYH : Sasusaku always. Hehe.
suket alang alang : Sakura bukannya galau, cuma gak enakan sama Naruto
Fivani-chan : Mana ada ayah yg gak sayang sama anaknya kan :D
desypramitha26 : Yah, Narusaku bukan di sini tempatnya. Nanti ya coba dibuat ff yg lain.
Guest x 2 : Sudah lanjut nih.
