—Mine and Yours—
Author: Rin
Chapter: 6/10
Disclaimer: All casts is belong to themselves.
Rated: M
Pair: KiHyun, WonSung, ZhouRy, YeWook, WonKyu, HoMin.
Genre: Romance – Family – Hurt/Comfort
.
Warning: AU, YAOI, OOC, twincest, mature contents, Possessive!Kibum, uke!Kyu, Kibum and Kyuhyun as twins, changing of Kyuhyun's surname.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Yesung melangkahkan kakinya cepat, meninggalkan Siwon yang berjalan di belakangnya. Langkahnya membawa dirinya memasuki salah satu gedung apartemen di kawasan Seongdong. Raut wajahnya datar, tak terbaca, tanpa ekspresi apapun walau hatinya jelas mengatakan hal yang berbeda. Kedatangannya ke sini bukannya malah mengindikasikan kalau sebenarnya ia mendukung hubungan kedua sepupunya, alih-alih menentangnya?
Ini menggelikan sebenarnya. Bertahun-tahun ia selalu merasa gagal sebagai seorang hyung karena membiarkan mereka, kini ketika ada sesuatu yang mengganggu—dimana itu sebenarnya berpotensi untuk memisahkan mereka secara paksa—ia malah berusaha membantu… sebisa mungkin…
Namja bersuara emas itu menarik nafas pelan. Sebenarnya apa yang ingin ia lakukan di tempat ini? Membantu kedua sepupunya kah? Atau apa? Bukankah hal yang paling diinginkannya sejak dulu—sejak ia mengetahui hubungan mereka—adalah memisahkan mereka? Sebisa mungkin menjauhkan keduanya dan membuat mereka tidak berhubungan lagi…
Yesung tahu siapa yang mengirimkan foto-foto itu pada Kyuhyun—bahkan hanya dengan melihat tulisan yang tertera pada lembaran-lembaran itu. Ia sudah terlalu terbiasa dengan tulisan itu—atau lebih tepatnya pernah terbiasa. Setidaknya dulu, sebelum ia terpisah dari orang itu. Satu-satunya hal yang membuatnya bingung hanyalah… apa… tujuannya?
Ting!
Yesung tersentak. Lift yang membawanya—dan Siwon—sudah sampai di lantai yang ditujunya. Ia menghela nafas perlahan seolah berusaha menenangkan dirinya sendiri, sebelum kemudian melangkahkan kakinya menuju salah satu pintu dari beberapa pintu yang terlihat.
Siwon—yang berjalan di belakangnya—hanya diam walau dalam hatinya bertanya-tanya akan tingkah kekasihnya yang terkesan… aneh… atau… entahlah. Hanya saja ia merasa kalau aura yang dikeluarkan olehnya benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman. Pertanyaannya… apa yang membuatnya jadi seperti itu? Padahal sebelum mereka tiba di gedung ini Yesung bahkan lebih terkesan seperti orang yang sedang bingung.
Namja bertubuh tinggi itu menggelengkan kepalanya. Menebak bagaimana perasaan atau emosi kekasihnya itu adalah salah satu hal tersulit yang bisa ia lakukan. Lebih sulit bahkan jika dibandingkan menebak bagaimana mood seorang Kim orang yang tertutup, sama seperti dua Kim bersaudara lainnya. Tertutup, bahkan pada dirinya yang notabene adalah kekasihnya—ah, aniya, status mereka bahkan patut dipertanyakan. Tanpa cinta itu apanya yang disebut kekasih?
Siwon tersentak ketika Yesung menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu—entah tempat tinggal siapa—lalu menekan bel di samping pintu. Raut wajah kekasihnya semakin tidak terbaca ketika suara kunci yang dibuka mengganggu indera pendengaran mereka. Ketika pintu terbuka, terlihatlah seorang namja—bermata sipit ditambah dengan pipi chubby serta tingga badan yang sedikit lebih pendek jika dibandingkan dengan Yesung—menatap keduanya dengan tatapan bingung.
"Ne? Ada yang... bisa kubantu?"
"Henry-ssi, apa kau ada waktu? Ada yang ingin kubicarakan denganmu..."
Dan Siwon bersumpah, untuk pertama kalinya ia melihat aura yang dikeluarkan oleh Kim Jongwoon bisa semenakutkan ini...
.
.
Kyuhyun membuka kedua matanya pelan, sedikit mengerjapkannya, menyesuaikan retina matanya dengan ruangan yang minim cahaya seperti ini. Tidak gelap, hanya remang-remang hingga ia masih bisa menerka apa yang ada di sekitarnya.
"Hng...?"
Namja berambut ikal itu tersentak ketika disadarinya pergerakannya jadi agak terbatas. Ia masih bisa menggerakkan tubuhnya, hanya saja terhalang oleh sesuatu—seseorang—yang merengkuhnya.
Kyuhyun mendongakkan kepalanya, mendapati kembarannya yang tengah tertidur-sambil agak memeluknya. Diperhatikannya wajah sang hyung. Halus, namun juga terlihat tegas di saat yang sama. Terlihat sempurna, bahkan di tempat yang minim cahaya seperti ini. Salah satu hal yang membuatnya terpikat, hingga akhirnya melangkah melewati batas yang tidak seharusnya ia ganggu.
"Sudah puas memandangi wajahku, Kyuhyunnie-chagi?"
Kyuhyun tersentak. Kedua matanya membulat, antara kaget dan malu. Rona merah menjalari wajahnya yang agak pucat. Aigoo, ia tidak menyangka kalau hyungnya ini ternyata sudah bangun—atau mungkin tidak tidur sama sekali dan hanya pura-pura memejamkan kedua matanya.
Kibum—walau dalam gelap sekalipun—hanya menyeringai melihat wajah adik kembarnya yang memerah. Ia tidak benar-benar tidur sebenarnya, hanya memejamkan kedua matanya sekalian mengistirahatkan pikirannya. Kapan lagi ia punya waktu luang untuk melakukan hal itu, ditambah hanya ditinggal berdua dengan Kyuhyun. Ia tidak tahu kemana Yesung pergi. Sedikit khawatir mengingat apa yang ia temukan di atas tempat tidur Kyuhyun—dan dirinya—yang pastinya telah lebih dulu dilihat oleh Yesung. Dan tidak adanya komentar apapun dari Yesung mengenai hal ini, sudah lebih dari cukup baginya untuk mengambil kesimpulan bahwa hyung tertua mereka itu memang sudah mengetahui hubungan mereka—bahkan jauh sebelum ini.
Namja berwajah stoic itu mendekatkan wajahnya hingga sejajar dengan Kyuhyun, hampir tidak ada jarak yang memisahkan keduanya. Kyuhyun yang mendapati hal ini hanya bisa terbelalak, tanpa ada satu suara pun keluar dari bibirnya. Bungkam, ia hanya bisa diam—terlalu kaget mungkin—bahkan ketika Kibum mulai mencium pipinya lalu menjilatnya perlahan dengan gerakan sensual...
Wait... menjilat...?
"Y-yaa, hyung! Apa yang kau lakukan?"
Kibum sedikit menjauhkan wajahnya dari Kyuhyun lalu menatap wajah saudara kandung satu-satunya itu—masih dengan seringai tercetak jelas di wajahnya.
"A-apa...?" Kyuhyun—dengan rona merah yang masih setia terlihat di wajahnya—hanya bisa menelan salivanya melihat seringai hyungnya itu. Mencurigakan sekaligus juga... err... menggoda...
"Aniya~" Kibum kembali mendekatkan wajahnya, kali ini leher jenjang Kyuhyun yang jadi incarannya, "Kyuhyunnie~ Hyung sudah lama tidak melakukan ini padamu, lehermu makin terasa manis, ne~?"
"Nghh..." Kyuhyun tak menanggapi ucapan Kibum. Sulit, apalagi ketika Kibum bukannya menjauhkan kepalanya ia malah mengecupnya pelan—sesekali meniupnya. Jadi... wajar kan kalau yang keluar dari mulutnya adalah desahan halus?
Kibum mengubah posisinya. Dari yang awalnya mereka dalam posisi menyamping dan saling berhadapan, kini namja pemilik killer smile itu mengambil posisi di atas Kyuhyun. Kyuhyun berusaha menstabilkan nafasnya, padahal Kibum hanya menyentuh bagian lehernya—itu pun hampir tidak bisa dibilang benar-benar menyentuh.
Namja berambut ikal kecoklatan itu hanya menatap wajah hyungnya yang juga balas menatap dongsaengnya, sementara jari-jarinya bermain di dada bidang Kibum yang sedikit terekspos karena kemeja yang dikenakannya tidak bisa dibilang rapi dengan tiga kancing teratas yang terbuka.
"Mulai menggodaku, eoh~?" Kibum menjilati telinga Kyuhyun, membuat sang adik hanya tertawa kecil.
"Aniya, hyung. Siapa yang menggodamu? Namja 'polos' sepertiku tidak mungkin bisa melakukannya kan~?"
Kyuhyun mendorong tubuh Kibum perlahan, hingga keduanya bertukar posisi dan ia yang ada di atas. Perlahan, ia mengelus dada Kibum dari balik kemejanya, sambil sesekali menyentuh kedua nipplenya yang agak mengeras. Mulai terangsang, eoh?
Perlahan dan dengan gerakan seduktif, Kyuhyun mulai membuka kemeja yang masih dikenakan oleh hyungnya itu hingga Kibum topless. Kyuhyun menjilat bibirnya. Padahal baru berselang satu hari sejak kegiatan sex mereka yang terakhir, tapi tetap saja tubuh hyungnya ini selalu berhasil membuatnya terangsang dan oh, jangan lupakan bagian bawahnya yang kelihatannya mulai mengeras... bahkan holenya pun langsung berkedut, meminta untuk segera dimasuki.
Sedikit tidak sabar dengan Kyuhyun yang hanya diam saja memandanginya—kagum dan disertai nafsu—Kibum agak menggerakkan pinggulnya, hingga kejantanannya dan Kyuhyun yang masih tertutup oleh celana bergesekkan.
"Ohh... nghh..."
Dan tak ayal, cukup untuk membuat sang adik kembali mendesah. Kibum langsung menarik kepala Kyuhyun, lalu melumat bibir menggoda milik kembarannya itu. Tak hanya melumat, Kibum pun mulai menghisap bibir bagian atasnya. Tak tinggal diam, Kyuhyun pun membalas lumatan sang kakak dan menghisap bibir bagian bawahnya, sementara kedua tangannya mulai memainkan nipple Kibum yang mengeras.
"Mmphh..."
Bosan hanya bermain dengan bibir adiknya, Kibum pun melesakkan lidahnya dan mulai mengekspolarasi rongga mulut Kyuhyun, sesekali mengajak bermain lidahnya yang disambut dengan senang hati oleh sang tuan rumah. Tangan Kibum pun dengan lihainya langsung membuka piyama yang dikenakan Kyuhyun hingga keduanya sekarang half-naked.
Kibum melepaskan ciumannya, dan kini beralih ke leher Kyuhyun yang tadi sempat ia sentuh. Diciumnya, lalu dijilat dan dihisap, hingga menciptakan beberapa kissmark di beberapa bagian leher Kyuhyun.
"Ngghh... ooohhh... hyunghh..."
Kyuhyun tak dapat lagi menahan desahannya, apalagi tangan hyungnya mulai bermain dengan nipplenya sementara tangan yang satunya lagi tengah membuka celana yang masih ia kenakan sambil sesekali menyentuh kejantanannya yang mulai tegang—kelihatan sekali berusaha untuk menggodanya. Aigoo, hyungnya ini benar-benar hobi membuatnya frustasi seperti ini.
"Mmh..."
Kyuhyun menjauhkan tubuhnya dari Kibum, membuat kembaran tertuanya itu melayangkan tatapan protes. Namja yang sedikit lebih muda itu terkekeh.
"Kau tidak sabaran sekali, hyung... aku kan juga ingin memuaskan hyung... terutama..." Kyuhyun menjilat bibirnya, tangannya bergerak turun hingga menyentuh kejantananan Kibum yang kelihatannya mulai mengeras lalu meremasnya pelan, "...'mainan' kesukaanku ini~"
"Nghhh..."
Kyuhyun membuka celana Kibum, hingga kejantanannya yang berukuran lumayan besar itu terpampang dengan jelas. Belum terlalu tegang, tapi sudah cukup untuk membuatnya menelan salivanya. Holenya semakin berkedut, sementara cairan pre-cum miliknya mulai mengalir. Aish, padahal hyungnya itu tidak melakukan apapun tapi miliknya sudah benar-benar ereksi sekarang dan oh... ia benar-benar ingin dimasuki sekarang juga.
Kyuhyun membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada kejantanan hyungnya. Kedua matanya berbinar penuh nafsu, layaknya anak kecil yang menemukan mainan kesukaannya. Dijilatnya perlahan kejantanan milik hyungnya itu sambil meremasnya pelan. Sedikit mempermainkannya tidak masalah kan, toh tadi Kibum juga sudah menggodanya dengan merangsang beberapa bagian tubuhnya yang paling sensitif.
"Ngghh... aish, Kyuhyunnie... masukkan itu ke dalam mulutmu..." Kibum menggeram frustasi. Gerakan Kyuhyun pada kejantanan miliknya terlalu pelan, membuat hasratnya benar-benar tertahan.
Kyuhyun mengerjapkan kedua matanya, terlihat polos namun sorot matanya justru dipenuhi oleh nafsu. Ia menjilat ujung kejantanannya. "Ani. Aku belum selesai bermain dengannya. Hyung diam saja."
Kibum menghembuskan nafasnya dengan berat. Lagi-lagi ia harus dibuat frustasi ketika Kyuhyun hanya mengocok kejantanannya—itu pun dengan tempo yang sangat pelan. Ini bahkan lebih parah jika dibandingkan dengan yang barusan.
"Kyuhyunnie~"
Kyuhyun hanya menyeringai. Memang itu tujuannya, menggoda Kibum—yang biasanya hobi menggodanya setiap kali mereka melakukan sex entah dimana pun. Balas dendam sekarang tidak masalah kan?
Ah, tapi... aish, serba salah juga sih. Ia ingin segera dimasuki dan melakukan ini hanya membuang waktu saja...
Tak ingin terlalu lama membuat holenya terasa kosong seperti ini, Kyuhyun pun langsung memasukkan kejantanan hyungnya ke dalam mulut.
"Aaahhh~"
Kyuhyun langsung memaju-mundurkan kepalanya, sesekali ia meremas kejantanan Kibum yang tidak muat di dalam mulutnya, berusaha memancing cairan milik hyungnya itu keluar. Sementara Kibum sedikit mendongakkan kepalanya dengan kedua matanya yang terpejam, desahan-desahan keluar dari mulutnya, sedangkan tangannya meremas surai kecoklatan milik sang adik.
"Ngghhh... oohh..."
Desahan yang dikeluarkan Kibum membuat Kyuhyun semakin bersemangat melakukan servicenya. Namun selang beberapa lama, ketika Kibum tak kunjung mencapai klimaksnya dan hanya cairan pre-cum saja yang mengalir, Kyuhyun pun langsung menghentikan blowjobnya kemudian mempoutkan bibirnya. Jinjja, kadang Kibum heran apa adiknya ini memang sudah berusia di atas dua puluh tahun atau hanya seorang anak kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa?
"Wae~? Sudah menyerah? Katanya ingin bermain dengan kejantanan milik hyung~"
Mendengar kalimat Kibum, Kyuhyun semakin mempoutkan bibirnya, merasa kalau hyungnya ini tengah mengejeknya. "Aku sudah melakukan yang biasa kulakukan, tapi hyung tidak juga klimaks... padahal biasanya tidak begitu kan~?"
Kibum menarik tubuh Kyuhyun, hingga adiknya itu hampir menduduki kejantanannya yang sudah benar-benar tegang. Blowjob dari adiknya memang hebat, hanya saja... yah, tumben sekali ia belum mencapai klimaksnya selama ini...
"Mollayo~ Mungkin kejantanan hyung ini lebih merindukan holemu yang di bawah daripada mulutmu~"
Kibum mengelus hole Kyuhyun dengan kedua jarinya. Sedikit membalas dendam sebenarnya.
"Aaahhh... ppali, hyung. Cepat masukkan kejantananmu ke dalam holeku... oohhh..."
Kyuhyun menggerakkan pinggulnya tak beraturan, berusaha mencari kejantanan sang hyung—dan kelihatannya Kibum pun masih berusaha untuk menggodanya dengan menjauhkan kejantanannya dari hole Kyuhyun.
"Tanpa pemanasan?"
"Aish, tidak perlu... ppali, hyung..."
"Kkk~ Sekarang siapa yang tidak sabaran, eoh? Cari kenikmatanmu sendiri, nae dongsaeng~"
Kyuhyun mengangkat tubuhnya, kedua tangannya berpegangan pada bahu Kibum. Detik berikutnya, ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya, mengarahkan holenya tepat ke arah kejantanan milik sang kakak yang mengacung.
"Aaaaaahhhhh~"
Tepat mengenai sweatspotnya. Tanpa membuang waktu lagi, Kyuhyun pun langsung menggerakkan tubuhnya ke atas dan ke bawah, membuat kejantanan Kibum selalu tepat menusuk titik kenikmatannya.
"Ngghhh..."
Kibum yang merasakan kenikmatan ketika kejantanannya dijepit dan ditarik masuk ke dalam oleh dinding rektum adiknya yang selalu terasa ketat ikut menggerakkan pinggulnya—dengan arah yang berlawanan.
Desahan-desahan erotis terdengar semakin mengeras ketika gerakan keduanya semakin liar. Peluh saling menetes, menyatu tatkala kulit mereka saling bersentuhan. Bibir keduanya kembali bertautan, sedikit meredakan desahan yang sedari tadi dikeluarkan oleh mereka.
Kyuhyun yang pertama kali melepaskan tautan mereka, ketika dirasakannya kejantanannya ingin mengeluarkan sesuatu.
"Hyunghhh... ooohh... I wanna cum... ngghhh..."
"Bersama, chagi... nghh..."
Gerakan keduanya semakin liar, bahkan ranjang yang mereka tempati pun berubah bentuk menjadi sedikit abstrak. Desahan semakin keras terdengar, mengabaikan kemungkinan kalau tetangga mereka akan mendengar suara yang dikeluarkan keduanya.
"Hyunghhh... I'm cumming... aaahhhh..."
Bersamaan dengan itu, Kyuhyun pun mencapai klimaksnya dan menumpahkan cairannya di atas perut Kibum, sebagiannya mengotori ranjang yang mereka tempati.
"Ooohh..."
Dan Kibum pun mengalami hal yang serupa. Cairan putih kentalnya memenuhi hole Kyuhyun. Cukup banyak, hingga sebagiannya mengalir keluar membasahi paha keduanya lalu turun ke seprai putih yang bentuknya bahkan sudah tidak bisa dibilang rapi dan layak digunakan untuk tidur. Aigoo, kelihatannya mereka harus membereskan ini sebelum Yesung pulang ke rumah.
Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Kibum yang langsung memeluknya erat.
"Lelah?"
Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kibum sambil memejamkan kedua matanya.
"Hyung..."
"Ne, wae?" Kibum mengelus rambut Kyuhyun perlahan. Rasanya semakin berat melakukan hal yang baru saja ia putuskan.
Tapi...
Ini demi kebaikan Kyuhyun...
"Hyung tidak akan... meninggalkanku... kan?"
Bersamaan dengan kalimat itu selesai terucap, Kyuhyun pun jatuh tertidur dalam pelukan Kibum.
Ah, andai saja ia sempat melihat wajah Kibum ketika ia menanyakan hal itu...
.
.
.
"Hyung tidak akan... meninggalkanku... kan?"
Kibum menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia baru saja selesai memakaikan kembali piyama sang adik dan sedikit membereskan ranjang yang baru saja mereka gunakan untuk kegiatan panas mereka. Setidaknya tidak akan terlalu menimbulkan kecurigaan yang cukup berarti kalau-kalau Yesung memeriksa keadaan kamar ini.
Namja berwajah dingin itu mengenakan mantelnya, lalu meraih tas miliknya yang barusan ia letakkan di dekat meja. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Kyuhyun yang kini tertidur lelap, terlihat sekali kalau anak ini lumayan kelelahan...
"Mianhae..."
Kibum mengelus surai kecoklatan milik Kyuhyun lembut, membuat adiknya sedikit menggerakkan tubuhnya, sedikit menyamankan dirinya. Bahkan dalam keadaan tidur pun ia masih bisa merasakan sentuhan lembut hyungnya.
"Ini semua salahku, harusnya... mungkin aku menuruti keinginan Yesung-hyung untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Jadinya... baik aku maupun dirimu tidak terjebak oleh perasaan yang menyesatkan ini..."
Benar, Yesung dulu pernah menyarankannya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Itu terjadi ketika Yesung memutuskan untuk benar-benar tinggal bersama dirinya dan Kyuhyun. Ah, tentu saja, hyungnya itu pasti sudah mengetahui soal hubungan mereka sejak lama dan pasti berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjerumuskan mereka berdua dalam hubungan yang terlarang ini.
Jadi...
Sebenarnya... sejak lama... mereka sudah menyakiti hyung yang paling mereka sayangi itu? Hanya karena keegoisan mereka, mungkin entah sudah berapa kali Yesung harus selalu berada di posisi yang dipersalahkan—walau tak ada orang lain yang menyalahkan ataupun ia yang melakukan kesalahan...
Semua ini karena mereka... ani... tapi karena keegoisannya yang tidak ingin berpisah dengan Kyuhyun hingga harus selalu menyakiti hyung tertua mereka...
Yesung bertanggung jawab atas mereka. Bersikap layaknya seorang hyung yang menjaga kedua adiknya walau mereka bukan lahir dari rahim yang sama—bahkan ketika hyungnya itu disibukkan dengan kegiatan seorang penyanyi terkenal...
Yesung selalu berada di posisi yang sulit. Hanya karena dirinya... dan keegoisannya... Ia bahkan tidak bisa menebak... berapa lama Yesung menahan segalanya, sementara ia dan keegoisannya menutup mata akan apa yang dirasakan oleh penjaganya selama ini?
Kibum menghela nafasnya. Sudah ia putuskan, bahkan walau itu adalah hal paling menyakitkan sekalipun... Ia hanya tidak ingin membuat segalanya semakin parah. Bukan hanya satu dua orang saja yang mengetahui hubungannya dengan Kyuhyun, ini bahkan ratusn orang. Cukup hanya ia yang ditatap dengan tatapan sinis itu, bukan Kyuhyun apalagi Yesung...
"Mianhae, Kyuhyunnie... Yesung-hyung... selamat tinggal..."
Kibum melangkahkan kakinya keluar. Ditutupnya pintu kamar miliknya dan Kyuhyun. Kabur memang bukan hal yang bisa dibenarkan... lagipula ia hanya pergi untuk menyelesaikan sesuatu...
Tanpa disadarinya...
Air mata mengalir membasahi pipi Kyuhyun, turun dari kedua matanya yang masih terpejam erat. Bahkan ketika ia tidur pun... ia pun turut merasakan kesedihan kembarannya...
.
.
.
Yesung tersentak. Rasanya barusan ada yang memanggilnya. Detik berikutnya, ia pun menggelengkan kepalanya. Hanya halusinasi... mungkin aku hanya terlalu lelah akhir-akhir ini... tapi... kenapa rasanya firasatku agak buruk... apa terjadi sesuatu pada Kibum... atau malah Kyuhyun?
"Hyung, sekarang... ke mana...?"
Siwon yang duduk di sebelahnya di kursi kemudi menatap Yesung yang tengah memijat kepalanya. Aku bukan hanya tidak berhasil meraih cintamu ya, hyung. Bahkan kepercayaan untuk turut menanggung masalahmu pun tidak... menyedihkan sekali...
Ia tidak mendengar sedikit pun apa yang dibicarakan oleh Yesung dengan namja bernama Henry Lau itu karena Yesung memintanya untuk menunggunya di luar. Hanya saja dilihat dari raut wajah Yesung dan namja berpipi chubby itu, serta kalimat penuh ancaman yang dikatakan Yesung tepat ketika ia keluar dari apartemen itu, sudah bisa dipastikan kalau pembicaraan mereka bukan pembicaraan yang baik.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu atau peduli dengan siapa yang menyuruhmu melakukannya, Henry-ssi, tapi sekali lagi kau mengganggu kehidupan mereka maka akan kupastikan hidupmu tidak akan lagi mengenal apa itu ketenangan..."
Mereka? Mereka siapa? Ia tidak pernah melihat Yesung berbicara sekasar itu pada orang lain. Kepribadian namja itu sangat baik, bahkan tak jarang Yesung pun berbuat baik atau sekedar membelikan makan siang untuk para staf yang bekerja bersamanya...
Kalau sampai Yesung berbicara sekeras ini—bahkan sampai mengancam seseorang, sudah bisa dipastikan bahwa ini berhubungan dengan orang-orang yang paling berarti untuknya.
Berarti untuk...nya?
Siwon tidak mengenal orang lain yang dekat dengan Yesung hingga bisa masuk dalam kategori orang-orang yang paling berarti... kecuali...
Kibum dan Kyuhyun?
Lalu apa hubungannya dengan kedua orang itu?
"Siwonnie... antarkan aku ke Mokpo..."
"Ah, arraseo, hyung..."
Tanpa banyak bertanya lebih lanjut lagi, Siwon pun melajukan mobilnya. Terlalu banyak hal yang menjadi pikirannya walau itu sebenarnya bukan urusannya. Yah, ia bisa menyelidiki hal itu nanti...
.
.
.
Zhou Mi sedikit melebarkan kedua matanya, ketika melihat sebuah mobil keluar dari kawasan apartemen kekasihnya itu. Bukan mobilnya yang menarik perhatiannya, tapi orang yang berada di dalamnya.
Kim Yesung? Untuk apa penyanyi itu ada di tempat ini? Ini kan bukan kawasan yang biasa ditinggali oleh artis-artis seperti dirinya? Jadi... buat apa—
Zhou Mi membulatkan kedua matanya. Ah, kenapa ia baru sadar? Sudah jelas kalau orang itu mendatangi kekasihnya sehubungan dengan dua namja kembar itu—karena ia pun ke sini dengan tujuan yang sama.
Henly!
Namja bertubuh tinggi itu langsung berlari menuju apartemen kekasihnya. Berharap semoga orang tadi tidak melakukan atau menekan kekasihnya. Karena biar bagaimana pun bukan Henry yang salah, namja itu hanya dimanfaatkan oleh seseorang. Itu yang dikatakan oleh Changmin satu jam yang lalu lewat telepon. Oleh siapa ia tidak tahu karena Changmin langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Henly?"
Zhou Mi agak tersentak ketika orang yang dicarinya justru baru saja keluar dari lift. Kelihatannya ia hendak pergi ke suatu tempat.
"Gege..."
Henry berjalan mendekatinya dengan gerakan yang amat pelan dan tak butuh waktu lama bagi Zhou Mi untuk menyadari ada sesuatu yang salah pada dirinya. Kelihatannya Yesung sudah memberikannya sedikit tekanan batin.
Detik berikutnya, namja berpipi chubby itu langsung memeluk Zhou Mi dan menenggelamkan wajahnya di dada namja bertubuh tinggi itu.
"Ini semua salahku, harusnya aku tidak menuruti kemauannya. Sekarang semuanya jadi kacau seperti ini, Kui Xian bahkan jadi tertekan. Harusnya aku bisa menolaknya ketika Hae-hyung memintaku melakukan itu semua..."
.
—To Be Continued—
.
a/n thanks a lot, buat reader yang setia nagih ff ini di review ff yang lain, karena itu jujur bikin saya jadi terdorong untuk mendapatkan mood buat ngetik chapter 6 ini. :D
Saya sudah menepati janji saya, di chapter 6 ini ada NC-nya tapi singkat. Entah hot atau gak itu juga. =.= Masalahnya saya lagi fokus ke ceritanya. Mian. ._.
Okay, saya gak bisa bales review untuk chapter yg ini, tapi saya baca kok, berkali-kali malah buat jadi pendorong semangat ngetiknya... :)
.
Big Thanks For:
SAMaka samanta | VIOSgetz | shin min hyo | Guest | Cloud'sHana | Drianca | Raihan | cloud3024 | SparKyu | ika . zordick | cloudyeye | Magieapril | Cute Evil | chocolatess | JustKYHYN | ratnasparkyu
.
AND FOR READERS
.
See you soon
.
.
Best Regards
—RIN—
.
