A Gintama Fanfiction
Gintama © Sorachi Hideaki
Fanfict Love For Nothing © Ayuha
Okita Sougo x Yato Kagura
Romance – Humor (Tapi nggak yakin)
Warning : [mungkin] OOC, miss Typo(s), Gaje deh, juga disetiap pemikiran/sang karakter sedang membatin, tulisannya pasti akan di italic.
Love For Nothing
.
.
Don't like? Don't read..
Cerita sebelumnya.
Kagura mendapat surat dari kerajaan untuk kembali berkencan dengan Hatta. Seperti biasa Kagura ingin meminta tolong kepada Gintoki dan Shinpachi, namun mereka menolak. Kagura pun meminta tolong kepada papinya, dan ditolak. Akhirnya Kagura galau. Saat Sougo datang, Kagura malah menangis?
~LFN~
"Baka," suara menyebalkan itu keluar begitu saja dari bibir tipis pemuda yang tengah mendekap seorang gadis. Pemuda itu langsung melepaskan dekapannya yang tadinya dalam sekali.
Ketika wajah mereka berhadapan, sang pemuda berkata, "Kau pikir aku memelukmu karena sengaja?" dan itu membuat gadis dihadapannya sedikit kecewa, dalam hati.
"Untuk apa aku melakukan hal yang tidak ada keuntungannya bagiku?" jelasnya kemudian.
"La-lalu? Untuk apa kau melakukan itu padaku, aru?!" geram gadis Yato tersebut yang bernama Kagura.
Senyuman sadis muncul di sudut bibir lelaki shota yang bernama Sougo itu.
"Ah? Hanya terbawa suasana, mungkin," jelasnya lagi sembari berdiri dan mencoba untuk meninggalkan Kagura sendirian.
Langkah Sougo tiba-tiba terhenti. Tanpa berbalik ia berkata, "Kupikir acting-mu kurang bagus. Walaupun 'mungkin' banyak yang mengira kau sungguh-sungguh. Tapi kau takkan bisa membohongiku, bodoh."
Dan Sougo melanjutkan langkahnya.
Kemudian berhenti lagi.
"Oh iya. Tadi aku memelukmu karena banyak orang-orang yang mengira aku telah membuat seorang anak kecil menangis. Jadinya aku meredam tangisanmu agar semuanya tak menganggapku sebagai salah satu dari loli hunter," Sougo melanjutkan langkahnya sembari melambai-lambaikan tangannya yang membuat Kagura geram.
"Da-da-DASAR SADISS!"
A-apa-apaan dia, aru? Padahal sudah kupikir kalau tadi itu termasuk acting yang luar biasa bagus dan tak akan membuat orang lain tahu kalau aku sedang pura-pura menangisi si sadis karena tidak membalas cinta palsuku ini, aru. ARGH! Dan kegeramannya pun berlanjut hingga ke dalam batin.
"Kagura?" ketika Kagura sibuk mengacaukan rambut oranye-nya dengan frustasi, terdengar sebuah suara yang tengah memanggilnya. Kagura pun berbalik untuk mengetahui siapa yang telah memanggilnya.
"Kyu-kyuubei?" dan Kagura semakin tidak percaya, untuk apa dia datang ke tempat ini.
"Yo, Kagura. Apa kau melihat Tae-chan? Aku tidak menemukannya di rumahnya."
Dasar Kyuubei bodoh, aru. Apa-apaan dengan pertanyaan yang langsung merujuk ke arah anego itu, aru.
"Tidak, aru. Tidak melihatnya, aru."
"Begitukah. Baiklah, aku pergi dulu untuk mencarinya," ketika Kyuubei hendak melangkahkan kakinya, pergelangan tangannya langsung digenggam oleh Kagura, yang membuat Kyuubei bingung.
"Kyuubei, tolong aku, aru," dan akhirnya Kagura pun meminta tolong pada Kyuubei.
Kagura pun menjelaskan segala yang terjadi. Ia ingin selamat dari perjodohan abad monyet itu. Karena itu, ia ingin meminta tolong kepada Kyuubei untuk membatalkannya.
"Jadi begitu, 'kah. Baiklah aku akan membantumu dengan 'Operasi Perebutan Wanita'!" jelas Kyuubei dengan bangganya.
"Tapi Kyuubei. Kau 'kan, wanita juga?" Kagura bertanya karena penasaran.
"Hahaha! Kau polos sekali, Kagura. Tak ada perbedaan antara wanita dan pria. Semua perbedaan hanyalah mitos! Kau tahu, jika wanita dan pria itu sama walau ******* nya berbeda, hahaha!" dan Kyuubei pun masuk ke zona kegilaan tersendirinya.
"Baiklah biar kujelaskan, dimulai dari Plan A. Kau kencan dengan Hatta, lalu aku datang membawa buaya, akhirnya Hatta berkencan dengan buaya," jelasnya.
"Keren, Kyuubei! Itu pasti berhasil, aru!" Tolong, siapa saja. Pukul kepala dua orang bodoh ini.
"Jika itu gagal, kita bergerak ke Plan B. Misalnya buaya itu menolak berkencan dengan Hatta dan Hatta patah hati. Ia pasti merebutmu dan membawamu lari. Di sana aku akan menunggangi kuda untuk memberinya minum di sungai," Oh tolong, ini tidak nyambung sama sekali. Tolong, siapa saja cegat orang ini untuk berbicara. Ah, dan narrator lah yang kini ber-tsukkomi ria karena tidak ada sang straight man di sini.
Kagura mengangguk dan mengacungkan jempolnya, tanda setuju. Apa dia segitu bodohnya?!
"Kita bergerak ke Plan C. Ketika sang kuda selesai minum, aku akan membawanya ke kandang untuk memberinya istirahat," APA-APAAN DENGAN PLAN C NYAAAAAAAAAAAAA?
"Bagaimana dengan nasibku, aru?" Ah, bagus Kagura. Ternyata kau bertanya pertanyaan yang nyambung.
"Kau sudah ada di kandang kuda," KENAPA BISA?! Oi, apa yang terjadi? Kenapa bisa Kagura kembali ke kandang ketika ia tengah dibawa kabur oleh si baka oji itu? Oi? Jelaskan pada narrator ini!
"Biasanya, semua akan berakhir di Plan C. Namun kupikir, kita harus punya Plan D untuk berjaga-jaga jika semuanya gagal," Oi bodoh! Sudah jelas seluruh Plan-mu akan gagal!
"Plan D nya. Aku akan menyuruhmu merawat kudaku sampai ia tumbuh besar," Udah dong! Apa-apaan dengan plan D ini. Apakah kau segitu inginnya membuat sang kuda tumbuh? Kenapa kuda yang jadinya dirawat? Bagaimana dengan Kagura dan baka oji?
"Itu bagus, Kyuubei, aru. Aku pikir aku akan selamat dari perjodohan, aru," Ah, Kagura. Rasanya kau akan menikahi kuda kalau begitu caranya.
"Baiklah. Kita bertemu esok di tempat kau berkencan. Namun rasanya aku akan tiba sore hari, jadi sampai jumpa," dan Kyuubei pun pergi menjauhi Kagura, meninggalkan Kagura sendirian.
...
...
...
..
.
Keesokan harinya di Kabuki cho.
Siang ini tidak begitu terik, diakibatkan karena tengah musim dingin. Kagura berjalan sembari bersenandung ria. Atas saran dari Kyuubei, Kagura menata dirinya di salon dan kini ia tengah berjalan untuk menemui baka oji dan berkencan, lalu pulang.
Rambut yang tergerai menggelombang dengan indahnya. Riasan yang tampak natural, membuatnya imut. Balutan Yukata di bagian tubuhnya yang indah. Yukata berwarna merah muda dengan gradiasi putih dengan corak bunga sakura itu indah menemani tubuhnya. Tak lupa kaus kaki putih selututnya dengan sepatu berwarna merah muda-putih menemani jemari kakinya.
Indah memang gadis itu sekarang. Namun, semua akan langsung memuntahi dan meludahi pasangannya. Aku yakin.
Dan sang baka sudah terjun ke sungai sekarang.
Ketika bersenandung dengan indahnya, Kagura langsung menjadi muram ketika melihat di depannya tengah berdiri sang sadis yang tampaknya sedang berpatroli seperti biasa.
Kagura hanya mencoba tenang dan berjalan begitu saja, melewati si sadis. Namun, pergelangan tangannya di raih oleh si sadis dan Kagura terseret karena si sadis menyeretnya ke sebuah tempat.
Ketika sampai di sebuah gang sempit, Sougo—nama orang sadis itu—langsung menghempaskan Kagura ke tembok yang menjulang di hadapannya, membuat Kagura mengaduh sejenak.
"Mau kemana kau?" pertanyaan itu keluar dari bibir Sougo dan pertanyaan itulah yang memecahkan keheningan di antara mereka berdua.
"Bukan urusanmu, aru," Kagura menjawab dengan angkuhnya.
"Benarkah? Lalu mengapa kau tetap mengejar-ngejarku jika kau pikir ini semua bukan urusanku?" Sougo, sepertinya mulai membuat Kagura kebingungan.
"Oi, sadis, aru. Kau pikir, dengan aku mengejar-ngejarmu, semua masalahku adalah masalahmu dan semua urusanku adalah urusanmu, huh, aru?" Kagura tampaknya semakin menantang.
"Kau pikir, jika kau mencintaiku, aku tidak membalasnya, China bodoh?" dan pertanyaan itu sukses membuat Kagura tertegun sejenak.
Pergelangan tangan Kagura mulai digenggam oleh Sougo, sembari mengusap-ngusap dengan halus, "Aku juga suka padamu, bodoh. Sudah lama," dan itu benar-benar membuat Kagura melotot.
"Maaf sudah sering menggodamu, tapi itu untuk menutupi rasa sukaku padamu, karena aku dulunya tetap tidak ingin mengakui hal ini," Sougo berterus terang kepada Kagura. Kagura pun menjadi tersenyum, indah sekali senyumannya.
"Kalau begitu, aru. Maukah kau menemaniku minggu depan, aru?" Kagura bertanya kemudian.
"Maksudmu saat natal? Kupikir aku punya kerjaan pada hari itu, tapi demi kamu, aku mau menemanimu pada hari itu," jelas Sougo dengan manisnya.
"YATTAA!" dan Kagura pun bersorak gembira.
Akhirnya, perjodohan abad gorila itu bisa terlepas. Kagura membatin dengan bahagia.
Di saat Kagura bergembira, Sougo menjadi tersenyum manis—ah, berubah menjadi senyuman sadis.
"Jadi, aku harus kembali bekerja. Bolehkah aku sudahi acting-ku tadi?" perkataan Sougo membuat Kagura membeku.
"Apa maksudmu dengan acting, aru?" Kagura yang kebingungan pun disambut oleh jitakan dari Sougo.
"Bodoh~. Orang bodoh pun tahu kalau yang tadi itu adalah acting. Jadi apakah kau adalah generasi yang bodoh dari yang terbodoh? Haha, dasar gadis yang bodoh," lalu Sougo pun berjalan menjauhi Kagura.
Kagura sudah kesemutan di sana.
Ketika Kagura mendapat ancang-ancang, Kagura pun berhasil menampar Sougo dengan geramnya.
"Beraninya kau membuat hal sepenting itu menjadi lelucon, aru!" dan Kagura pun berlarian meninggalkan Sougo yang memegangi pipinya yang memerah itu.
"Gadis bodoh."
~LFN~
"Ah, itu Kagura-chan sudah datang, dozo."
"Aku juga sudah melihatnya, Pattsuan, dozo."
Tampaknya lelaki bersurai silver—Gintoki—dan lelaki berkacamata—Shinpachi—tengah berkomunikasi lewat talkie walkie.
"Ah, Kagura-san. Kupikir kau tidak akan datang," Hatta yang sudah was-was akibat Kagura yang telat beberapa menit—karena dipojokkan oleh Sougo—itu langsung bersumringah.
Kagura hanya tersenyum mendengar hal itu. Lalu duduk di kursi.
"Kagura-san. Terimakasih sudah datang," ucap makhluk abstrak itu yang dijawab oleh senyuman Kagura.
"Gin-san gawat! Kalau begini terus, kencan mereka mulus, dozo," ucap Shinpachi yang tengah berada di bawah meja kencan Kagura dan Hatta—tentunya untuk mendengarkan percakapan mereka berdua.
Shinpachi dan Gintoki masih sama-sama bergaya ala preman seperti pada saat mereka ingin mengawasi Kagura. Yaitu Shinpachi menggunakan kacamata 3D berwarna dan Gintoki menggunakan wig afro warna perak.
Gintoki tampak menepuk kepalanya di tembok. Ia kini berada di sebelah kursi Kagura dan Hatta, "Tidak adakah seseorang yang ingin menyelamatkan Kagura? Dozo."
"Gin-san, bagaimana kalau aku menemui Okita-san untuk menemui Kagura? Dozo," tanya Shinpachi pada Gintoki sembari was-was.
"Baiklah. Tapi bagaimana caranya kau keluar? Dozo," Gintoki pun balik bertanya pada kacamata yang melekat pada seseorang itu.
"Itu gampang, dozo," Shinpachi lalu berdiri hingga meja yang sedari tadi ada di atasnya menjadi terbalik, ia pun langsung berlarian dengan kencang seperti orang yang sedang kecepirit.
GITU TERNYATA?! Gintoki jadi tak percaya dalam hati.
Y-yah, tapi setidaknya Shinpachi sudah pergi dan akan menemui Okita-kun dan aku hanya perlu menunggu sang Yagami Souichirou-kun itu datang. Sial, ini semua gara-gara baka oji itu. Kita semua dilarang menemani dan membantu Kagura dalam kencan mereka ini. Jika kami ketahuan membantunya, kepala kami pun akan lepas dengan gampangnya. Ugh, membayangkannya saja sudah membuat perutku mual. Jelas atau ucap Gintoki dalam hati. Ia mengeluarkan seluruh uneg-unegnya di dalam hati.
Lalu, di tempat Shinpachi.
Shinpachi sedang berlarian begitu lincahnya menuju markas Shinsengumi dan ia akan langsung menarik sang sadistic dari Shinsengumi, lalu membawanya pada Kagura dan selesai, pikirnya.
Sesampainya Shinpachi di pintu gerbang markas Shinsengumi. Keringat dan peluh begitu deras membanjiri pelipis dan wajah Shinpachi, tentunya karena ia berlari begitu kencang. Ketika ia hendak memencet bel, tiba-tiba ia kecepirit beneran.
Ga-gawat ini! Bagaimana bisa aku malah mau BAB di saat yang seperti ini?! Apakah aku segitu gugupnya ingin menemui Okita-san? Benarkah itu?! Ah, tidak, tidak, tidak, ini pasti bukan gugup. Tapi mengapa hal ini sekarang malah menimpaku? Oh sial. Dan Shinpachi pun bergalau ria di dalam batinannya.
Namun, ia memaksakan untuk memencet bel Shinsengumi. Setelah ia pencet, ia semakin galau karena anu sudah di ujung tanduknya. Ia sudah pada batasnya, dan tak ada seorang pun yang keluar dari markas.
Shinpachi pun menangis dalam diam, segini sialnya kah jadi straight man? Apa salahku, Tuhan?!
Lalu, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan menampakkan langsung wajah yang sedang ingin ia temui saat itu, Okita Sougo.
"Are? Shimura no otouto? Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Sougo kemudian setelah melihat wajah Shinpachi yang sudah pucat bercampur merah dan berkeringat banyak, serta tangannya tengah memegangi pantatnya—ya, menahan BAB.
"Apa kau?" Sougo pun mencoba menebak apa yang sedang Shinpachi rasakan.
Sougo pun memutar-mutar area sekitar Shinpachi dengan penuh selidik, "Ternyata benar, kau telah disodo*mi," jelasnya membuat Shinpachi menggampar Sougo menggunakan sendal.
"Sudahlah Okita-san! Acara melawaknya nanti dulu! Sekarang penting sekali!" teriak Shinpachi dengan geramnya. Ia pun langsung meraih pergelangan tangan Sougo dan menariknya. Namun, sang empunya tangan itu malah tak bergeming sedikitpun.
"China, 'kan?" tebaknya dan membuat Shinpachi melotot dan mengangguk.
Shinpachi pun menghiraukan rasa sakit di pantat dan perutnya, ia lalu bersujud di hadapan Sougo, "Kumohon, Okita-san. Kalau begini terus, Kagura-chan pasti akan menjadi istri makhluk sakral itu," ucapannya malah membuat Sougo hampir menutup markas—setelah ia masuk tentunya.
Dan Shinpachi langsung menahan Sougo yang mau menutup gerbang tersebut, "Kumohon Okita-san," rengek Shinpachi dan Sougo sama sekali tidak menunjukkan rasa iba sedikit pun.
Dan Shinpachi pun menyerah, karena tangannya sudah memerah untuk menahan pintu yang akan di tutup oleh Sougo, "Ah baiklah. Terserah," ucap Shinpachi kemudian setelah pintu markas benar-benar tertutup.
Dari dalam, Sougo langsung tersenyum sadis, ia menang, pikirnya. Sembari berjalan untuk meninggalkan gerbang markas, ia tersenyum senang karena tidak membantu Kagura. Namun, apakah ia akan senang kalau Kagura akan menjadi milik orang lain?
"Okita-san apa kau yakin?! Meninggalkan Kagura-chan begitu saja?! Apa kau yakin kalau kau tidak apa-apa jika Kagura-chan akan bersama dengan orang lain dan bukan bersamamu?! Aku hanya perlu jawabanmu, Okita-san! Apa kau yakin?!" dan teriakan dari Shinpachi berhasil membuat Sougo tertegun dan menghentikan langkahnya.
Sembari menunduk Sougo tak bergeming dan kemudian berkata dengan nada yang tak biasanya, "Ya, aku yakin."
...
...
...
..
.
Mentari kini tak terasa sudah sampai pada batasnya, mentari indah dan cemerlang itu akan bersembunyi kembali dan membiarkan sang purnama malam yang akan menggantikan tahtanya untuk saat itu.
Kini, gadis super imut itu tengah berdiri tak bergeming di sebuah jembatan sembari sesekali mengedipkan kelopak matanya yang ia lakukan dengan refleks. Matanya terisi oleh bintang-bintang di langit yang tengah memadu warna dengan sang purnama, indah memang. Membuat mata biru yang indah miliknya menjadi semakin indah dengan gradiasi cahaya bintang-bintang dan sang dewi malam itu.
Gadis itu di temani seseorang di sana. Seseorang itu tampak sakral dan sudah jelas bukan manusia. Makhluk itu pun merona ketika memerhatikan gadis tadi dalam diam, ya, makhluk itu sungguh menyimpan rasa pada gadis di sebelahnya itu. Keheningan malam dan semilir angin setia menemani suasana gelap dengan paduan bintang-bintang itu. Sangat indah jika salah satunya berbicara dan menyatakan cinta, kuyakin itu.
"Ano, Kagura-san," dan suara itu berhasil memecahkan keheningan di antara mereka, makhluk itu memanggil gadis tersebut dengan sebutan Kagura.
Kagura—gadis tadi—pun menoleh ke arah makhluk tersebut. Ia pun mengisyaratkan kalau ia berkata, 'apa?'.
Dengan rona di wajah makhluk itu, yang kuyakin akan membuat semua orang muntah berjama'ah, makhluk tersebut pun berkata, "Indah ya, malam ini," membuat Kagura kembali membalikkan pandangannya pada bintang-bintang yang bertebaran indah di sana. Ya, perkataan makhluk itu garing memang.
Bagaimana ini, aru. Kemana perginya Kyuubei? Apa yang sedang ia lakukan? Bukankah ia akan menjadi penyelamatku, aru? Dan ternyata Kagura tengah was-was dalam hati.
Dan Kyuubei pun bersin-bersin di kediamannya. Ia tengah diajari teknik oleh Papaue-nya.
Sial. Aku tak 'kan bisa mendatangi Kagura kalau begini. Kagura, kumohon maafkan aku. Pikirnya dalam batin.
Kembali pada Kagura dan suasana indah.
Hatta—nama makhluk sakral itu—pun tiba-tiba langsung memegangi jemari Kagura yang membuat Kagura kaget.
"Apa-apaan kau, aru?" tanya Kagura dengan geram, Kagura hampir menonjoknya jika ia tidak berteriak dengan keras.
"AKU TAHU KALAU KAU TIDAK PERNAH INGIN DENGANKU, KAGURA-SAN!" dan ia pun benar-benar mendapat tonjokkan spesial dari Kagura.
"Suaramu berisik sekali, aru," ucap Kagura setelah Hatta terkapar.
Hatta pun mencoba bangkit. Ia lalu berlutut di hadapan Kagura, di bawah sang rembulan, Hatta berucap dengan sopannya, "Tapi kumohon, Kagura-san. Jadilah pasanganku untuk sehidup semati," OH BAKA OJI?! BAKA OJI KAH INI? MENGAPA IA TIBA-TIBA BISA MENJADI SEKEREN INI DALAM MENYATAKAN PERASAAN?!
Kagura hanya mematung tak berdaya. Hal inilah yang tak pernah ingin ia lalui. Ya, Hatta menyatakan perasaan itu padanya. Ia sama sekali TAK 'KAN ingin dinikahi oleh makhluk ntah berantah itu.
Dalam kegalauan yang luar biasa dahsyat, tiba-tiba saja seseorang berucap dari ujung jembatan.
"Are? Rasanya aku melewatkan momen indah bagi kalian berdua. Maaf, salah jalan," suara sadis itu tentunya berasal dari sadistic no ouji, Okita Sougo. Sougo yang lehernya berbalut dengan syal merah andalannya, tadi berucap dengan dinginnya dan membuat Kagura dan Hatta terfokus pada Sougo.
Namun, bukannya berbalik arah, Sougo malah maju ke arah mereka.
Hatta langsung dengan sigapnya menghalangi jalan Sougo menuju Kagura. Ia yakin, Sougo akan menemui Kagura, karena itulah ia menghalanginya.
"Minggir kau," ucap Sougo dingin pada Hatta. Hatta yang sudah berkeringat dingin itu tetap bersikeras untuk melindungi Kagura-nya. Namun tatapan sadis Sougo malah membuat keringat itu semakin dingin dan membuat nyali Hatta menjadi ciut.
"Kau pikir kau keren, huh?" sekali geser saja, sudah membuat Hatta terjatuh. Sougo pun berlalu dari Hatta kemudian mendekat ke arah Kagura.
Kagura menatap Sougo dengan malas dan ada rasa takut, tentunya karena ia takut dikerjai lagi perasaannya oleh Sougo.
"A-apa, aru?" tanya Kagura, namun Sougo tak bergeming dan malah mata merah menyalanya itu melihat tepat ke dalam mata birunya Kagura. Tatapannya semakin dalam dan dalam. Akhirnya Sougo pun meraih pergelangan tangan Kagura dan menyeretnya dengan kasar.
Namun langkah mereka terhenti, tanpa berbalik Sougo berkata, "Walau kau pikir kau adalah seorang pangeran jadi kau bisa mendapatkan segalanya?" dan Sougo pun kemudian melangkahkan kakinya kembali sembari berkata, "Mungkin bisa. Namun tidak dengan gadis ini."
Perkataan Sougo membuat Hatta membeku di tempat, "Sialan, lelaki itu."
Gintoki dan Shinpachi—dua teman Kagura—tiba-tiba datang ke arah Hatta yang masih dalam posisi terduduk itu.
"Akhirnya kalian ketemu juga. Kami sudah mencari kalian dari tadi, eh?" dan 'eh'-nya Gintoki lah yang membuat mereka berdua menyadari kalau ada seseorang yang hilang di antara mereka.
"Oji, dimana Kagura-chan?" tanya Shinpachi kemudian, dan Hatta memilih untuk bungkam dari pada menjawab pertanyaan itu. Hatta pun meninggalkan Gintoki dan Shinpachi yang masih di selimuti dengan tanda tanya besar.
Beralih dimana Kagura dan Sougo berada.
"Hentikan ini, bodoh, aru," Kagura ingin melepaskan diri dari Sougo, namun pegangan tangan Sougo sangat erat, dan ia yakin, kini pergelangan tangannya sudah memerah.
Sougo tetap berjalan tanpa arah tanpa memerdulikan ocehan Kagura. Ia tetap bungkam sembari menyeret Kagura dengan kasarnya.
"Kau kenapa, bodoh, aru?!" ucap Kagura dengan geramnya. Kini, kakinya telah Kagura jadikan sebagai rem agar Sougo kesusahan untuk menyeretnya.
Dan benar saja, langkah Sougo pun berhenti.
"Yang kenapa itu kau, bodoh," balas Sougo tanpa berucap dan Kagura pun kebingungan.
"Apa-apaan dengan mengejar-ngerjarku dan akhirnya kau juga sudah dilamar oleh orang lain?" kini Sougo berbalik dan menatap Kagura tajam yang membuat Kagura tak kuasa melawan mata merah itu. Kagura pun mengalihkan perhatiannya ke lain arah dan memilih bungkam.
Sougo memegangi kedua bahu Kagura lalu menggerakkan ke depan dan belakang berulang-ulang, "Kau hanya menyukaiku, bukan?" dan pertanyaan checkmate itu membuat Kagura langsung mendorong tubuh Sougo.
"Jangan mencoba membuat keadaan seakan-akan aku hanya mendambakanmu, sadis, aru," Kagura pun melawan Kagura dengan dinginnya.
"Kau dingin," ucap Sougo yang sudah berjarak beberapa sentimeter dari Kagura.
Kagura pun mengepalkan jemarinya, "KAU YANG DINGIN SADIS! Rasanya usahaku itu benar-benar nol. Aku padamu dan kau padaku itu ternyata memang benar, hanya nol dan itu semua kosong, aru!" Kagura berteriak, ia sudah muak dengan segalanya. Kini, ia bahkan sudah merasa jika menikahi baka oji itu lebih baik dari pada bersama dengan si sadis yang kasar itu.
Namun, Sougo langsung dengan cepat kilat memeluk Kagura begitu saja.
"Boleh saja semuanya kosong dan nol, menurutmu."
Sougo melepaskan dekapannya dan mempertemukan mata mereka berdua.
"Tapi hal yang kosong, harus diisi dan nol adalah awal dari segalanya, kau tahu 'kan?"
Kagura merona, ia bahkan belum pernah merasakan namanya digombalin. Akhirnya Sougo pun membalikkan badannya dan berjalan.
"Jangan merona dan jangan terlalu memikirkan omonganku barusan," ucapnya sangat dingin.
"Aku membencimu, gadis bodoh."
TBC, OYEAAAAAAAAHH~
Hurayy! Sudah chapter 9 aja. Ga nyangka desuuuu!
Uh, Sougo masih seperti biasanya, dingin.
Ada gak dari kalian yang ngira Sougo udah suka sama Kagura? Ciye Sougo.
Baiklah, daripada basabasi panjang x tinggi x lebar, mending langsung review tuuuuuhhh^^
REVIEW EAAAHHHH!
Oshiete!
Ginpachi-sensei!
"Ossu, kembali lagi di acara oshiete ginpachi-sensei. Dengan saya, Ginpachi sendiri dan saya akan membacakan dan membalas review yang masuk," ucapnya sembari mengambil review.
"Eee, review pertama dari marfa aully, 'Wah, parah, sougo masa bikin cewek nangis sih? Kan aku jadi fangirling #eh. Umibouzu ayah yang ndak bertanggung jawab nih! Zura no baka, aku tau, meskipun yang mau kencan itu temennya kagura yang punya temen. Nah, temannya ini punya kakak yang punya teman lalu...entah apa yg terjadi dengan teman kakaknya temannya temannya Kagura, tapi kencan gabisa cuma minum minum kan? Jangan telat update lagu elien-chan! Semangat! Salam cinta Purin13' Baiklah, apakah kau juga seorang sadis? Fangirling sama yang mewekin anak orang? xD Umibouzu emang gitu keleuzz(?) Aku bingung, seseorang tolong artikan xD iya, maafkan elien itu. Ia telat apdet terus. Makasih support dan dukungannya! Salam dari Tomoe-chan(?)"
"Mari beralih kepada review terakhir dari Kuroshi Chalice, 'Yo, kuroshi desu /ngenalin diri dulu maksudnya. Lice dari tadi ketawa ketiwi ngebayangin Sougo cengo ngelihat amukan Kagura yang menjadikannya sebagai kurban amukan kagura w. Eh? Ini pada kenapa gak mau bantuin Kagura? OwO /gak ngedong. Kalau mau di seppuku sini Lice bantuin seppukunya dengan cepat dan praktis /ditimpuk /ngaco gak sabar nungguin mereka makin berkembang lalu menikah lalu punya anak lalu punya cucu lalu cicit lalu lalu lalu /ditimpuk /gak kejauhan apa tau mau review apa lagi ;;w;; Intinya update ya w/' Oke baiklah. Yo, Ginpachi desu. Seseorang tolong, jangan sampai dia ketawa kayak kunti /apasi. Pada gak mau bantuin Kagura gara-gara takut palanya copot(?) Justru mereka gamau di seppuku xD Semoga aja mereka nikah, punya anak, cucu, cicit, dan generasinya hingga beribu-ribu turunan(?) /apasi. Iyakah ;;-;; Iya ini sudah apdet!"
"Oke baiklah, terimakasih pada yang sudah setia sama fanfict ini dan selalu me-review, BIG THANKS YAH ({}) Baiklah, sampai jumpa di next chapter!"
