.

.

.

Hana Yori Dango 3

THE NEXT GENERATION

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 9

Sakura menghela napas gemetar saat dia menatap langit. Air mata—dia berkata pada dirinya sendiri tidak akan menangis—jatuh dari matanya. Bagaimana... bagaimana Sasuke bisa move on begitu cepat?

"Sakura!" panggil Naruto ketika akhirnya dia menemukan Sakura di tempat biasa di atap.

Sakura selalu menikmati angin dan dia juga pernah menceritakan pertemuannya dengan Sasuke di tempat yang sama pada suatu waktu, hingga dia praktis menceritakan semua rahasianya pada Naruto. Naruto membantunya, memberinya nasihat. Selama Sasuke pergi, Naruto menjadi seseorang yang membantu Sakura menyembuhkan hatinya yang patah, membuat dia mampu berdiri untuk dirinya sendiri lagi. Itu memakan waktu dan usaha dan Sakura telah bekerja keras sendiri. Naruto melihat semua itu dan benci karena hanya dengan sesaat Sakura terluka lagi. Naruto merasa ingin meninju Sasuke karena begitu bodoh dan bebal.

"Sakura," ulang Naruto, mendekatinya.

Sakura berbalik dan Naruto melihat air matanya berlinang.

"Naruto." Dia merintih dan memeluknya.

"Tidak apa-apa. Sasuke memang idiot," kata Naruto, melingkarkan sebelah lengannya di sekeliling Sakura sambil membelai lembut rambutnya.

"Tapi aku berusaha keras untuk melupakan dia." Sakura terisak-isak ke dadanya dan Naruto menyelipkan kepala Sakura di bawah dagunya.

"Aku tahu. Kita akan memperbaiki hal ini," katanya lembut.

Dan Naruto bersungguh-sungguh. Sasuke tidak akan melewati ini dengan damai. Naruto sedikit menjauh, cukup jauh hingga bisa melihat ke arah Sakura yang mengangkat kepala untuk melihat ke arahnya. Naruto menempatkan tangan di pipinya, dengan lembut menghapus air matanya. Bagi mereka, posisi itu sangat normal, tidak memiliki arti lain selain untuk menyamankan dan menghibur, tetapi untuk orang lain mereka akan tampak seperti dua kekasih yang hendak berciuman dan itulah yang dilihat Sasuke ketika dia membuka pintu ke atap dan melihat mereka.

"Oh," katanya, menyebabkan Sakura dan Naruto menoleh kepadanya dengan cepat. Sasuke harus berpegangan pada gagang pintu karena dia merasa jantungnya berhenti. "Ah, maaf, salahku, tidak bermaksud mengganggu," katanya sambil tersenyum minta maaf pada mereka sebelum menutup pintu.

"Aku pikir dia salah sangka," kata Naruto dan hendak pergi mengejar Sasuke tapi Sakura menahannya.

"Tak perlu repot-repot menjelaskan," katanya, mendesah. "Itu bukan masalah. Tidak akan mengubah apa pun."

"Tapi Sakura, kau masih memiliki kesempatan! Kau masih bisa memperjuangkan—" Naruto mulai protes, berbalik menghadap Sakura, tapi Sakura menempelkan jari di bibirnya, membungkamnya.

"Tidak masalah sekarang," katanya.

.

.

#The Next Generation#

.

.

Sasuke tidak pergi menuruni tangga, setidaknya tidak segera. Dia berdiri di sana, kembali bersandar di pintu dan menutup matanya sambil menarik napas dalam. Dia harus menjaga semua kontrol yang telah dibangunnya selama dia pergi. Dia telah menyerahkan Sakura ke Naruto, dia sendiri yang mengatakan begitu. Dan akan tetap begitu bahkan jika itu menyakitinya. Dia membuka matanya dan menyunggingkan senyum lembut di bibirnya saat dia berjalan kembali ke tempat yang lainnya. Sasuke hanya turun beberapa langkah sebelum bertemu dengan sepupunya. Dia menatapnya sambil menyeringai, yang lain berdiri di belakangnya.

"Omae... Nani ga miteru?"

Sasuke berkedip dan melompat, sedikit bingung saat senyum iblis Karin melebar.

"Bestuni... nandemonai... "

"USO DESHOU! Nani, nani..." Karin memegang lengan Sasuke dan berlari menaiki tangga, dia mendorong pintu hingga terbuka lebar dan melihat jari Sakura di bibir Naruto. "UWAH~ HONTOU GA!" Dia menjerit. Sakura segera melepaskan diri dari Naruto, yang lain membuntutinya masuk. "Oh kalian benar-benar pasangan. Tidak heran kalian berdua pergi bersama-sama... melakukan hal nakal." Karin terkikik, mendapat tamparan kecil dari Ayame yang menatapnya. "Mou ii, kami datang untuk mengundangmu makan siang dan makan malam!" Dia mengumumkan dan Naruto menatapnya aneh.

"Ayahku... dia mengundang F4 makan malam, untuk merayakan kembalinya kami. Jelas kalian semua diundang " kata Sasuke, memaksa dirinya untuk tenang di sekitar Naruto dan Sakura.

"Tentu, kami akan pergi," kata Naruto dan menggigit lidahnya saat dia menyadari bahwa dia terdengar semakin mirip pacar Sakura saat dia berbicara mewakili mereka berdua.

"Ya, kami akan pergi," kata Sakura dan menatap mata Naruto.

Sasuke menyaksikan gerakan itu dan merasa marah pada dirinya saat kenangannya dengan Sakura datang lagi. Dia tidak pergi untuk hal yang sia-sia. Dia kembali karena dia tahu dia sudah siap. Dia tidak akan kalah kali ini.

"Sakura, apa yang kau lakukan?" Naruto berbisik padanya. "Membuatnya cemburu?"

"Betsuni," jawab Sakura dan Karin memberi mereka seringai.

"Betapa mesranya, ne Ryo-chan~" katanya, menusuk pipi Sasuke yang memutar matanya.

"Berhenti bicara omong kosong," katanya.

Sasori kemudian berjalan menuju Sakura dan lengannya dilingkarkan di sekitar Sakura, menariknya menjauh dari Naruto.

"Dan aku akan bersenang-senang denganmu," katanya, memberi senyum nakal yang membuat Sakura mengerang.

"Aku tidak bisa melarikan diri darimu kan?" tanyanya putus asa.

"Kau tahu itu," kata Sasori. Tayuya tertawa kecil atas apa yang sedang terjadi antara Sakura dan Sasori. Dia harus mengakui bahwa Sasori manis. "Yosh! Ayo pergi. Lemariku merindukanmu tiga hari terakhir ini!" Sasori mengumumkan.

Sakura mengerang keras saat Sasori mulai menariknya pergi. Naruto tersenyum. Sakura berbalik untuk memberikan tatapan 'tolong aku' kepadanya tapi dia tidak bergerak seujung jari pun untuk membantunya.

"Jadi... bisakah kita pergi? Kita harus bersiap-siap." Karin berkata sambil melingkarkan lengannya dengan lengan Sasuke, tersenyum atas kehangatannya.

Sasuke menunduk ke arah sepupunya sebelum mengangguk. "Mhm."

"Jadi Naru-kun, sampai bertemu nanti," kata Karin sambil mengedipkan mata sebelum dia mulai berjalan keluar, mendiskusikan taco dengan Sasuke sekali lagi.

Naruto menatap kepergian mereka, merasa sedikit tersentak dan terganggu pada saat yang sama.

'Naru-kun?' katanya dalam hati.

"Sebaiknya kau segera menyusul," kata Shion padanya dan tersenyum misterius sebelum dia pergi.

Naruto bertanya-tanya apa yang dia maksud, tapi dia tidak bisa menghapus rasa familiar yang dirasakannya. Dia merasa seperti pernah melihat Karin sebelumnya tapi setiap kali dia hampir ingat kapan dan di mana, dia kehilangan itu. Dia memiliki daya ingat yang buruk, seperti yang terlihat. Dia mendesah frustrasi dan mengikuti mereka, mengabaikan Sasuke karena dia masih sedikit marah padanya, meskipun dia senang Sasuke kembali.

.

.

#The Next Generation#

.

.

"Ah! Ya ampun, apa ini perlu?!" tanya Sakura saat Sasori berusaha menyematkan aksesori bunga di rambutnya.

Sasori telah memaksa Sakura mengenakan gaun dan sekali lagi Sakura berubah menjadi benar-benar cantik. Gaun itu menempel ketat di tubuh bagian atasnya, dengan aksen manik-manik dan kerutan dengan warna pink cerah dan rok yang jatuh dari pinggul ke lantai yang sering Sakura tepuk karena tampak mengembang.

"Stop! Kau bisa merusaknya!" Sasori memarahi dan menampar tangan Sakura.

"Jujur Sasori, memangnya perlu bagiku untuk mengenakan gaun?!" tanya Sakura kesal. " Tidak bisakah aku mengenakan jins buatan desainer atau sesuatu yang lain?" Dia mulai berputar dan mendapat pelototan dari Sasori.

"Tidak! Dengar Sakura, kau akan bertemu Uchiha Fugaku. Kau tidak bisa berjalan di depan ayah Sasuke dan terlihat... tidak modis!"

"Tapi Mikoto-san biasa memakai itu."

"Itu kasus yang berbeda. Dia pengecualian. Selain itu, tidakkah kau ingin mengalahkan Karin? Pikirkan, jika kau muncul lebih cantik daripada dia, kau tidak hanya akan mendapatkan restu ayahnya, tapi Sasuke juga tidak akan bisa melepaskan pandangannya darimu." Dia berkata dan tersenyum melihat Sakura kembali merapikan pakaiannya.

"Aku tidak peduli tentang hal itu," katanya ketus tapi Sasori bisa melihat di matanya bahwa itu sangat penting baginya.

"Dan aku tidak akan mendekatimu lagi," kata Sai di sudut ruangan. "Aku mungkin akan ditinju lagi."

"Aku bisa membayangkannya," kata Ino, tertawa. Kemudian wajahnya serius lagi dan dia menampar lengan Sai. "Kau main mata dengan Sakura-chan?" tanyanya marah.

"Ya," kata Sakura.

"Aku tidak percaya," kata Ino, kemudian berdiri dan pergi.

Sai mendesah. Dia tidak tahu mengapa dia begitu ingin mengejar Ino, tapi itulah yang dia lakukan. Dia harus mengakui... Ino berbeda baginya, jadi dia berdiri dan pergi mengejarnya.

"Aku pikir yang satu itu sedang jatuh cinta juga." Sasori berkomentar.

"Oh, aku pikir Sai memang begitu sementara ini," jawab Sakura dan mulai bermain dengan kukunya dan lagi-lagi ditampar oleh Sasori hingga membuatnya berhenti.

"Bisakah. Kau. Menghentikan. Itu?" Dia bertanya, benar-benar terganggu, tetapi pada saat yang sama menikmati momen mendandani Sakura seperti yang biasa dia lakukan.

.

.

#The Next Generation#

.

.

Sasuke berbaring terlentang di tempat tidurnya. Tentu saja dia tahu teman-temannya akan segera tiba, tapi dia bukan tipe orang yang membutuhkan waktu untuk berpakaian. Dia selalu melakukannya pada menit terakhir. Dia menutup matanya dan mendongak. Pikirannya kembali pada apa yang telah dia lihat sebelumnya... Sakura dalam pelukan Naruto. Dia hampir kehilangan semua kendali dalam dirinya saat melihat Naruto memeluknya, tapi sepertinya mereka melakukannya dengan sangat baik dan dia harus tetap seperti ini. Sasuke tersenyum sendiri, Sakura jauh lebih cantik selama enam bulan terakhir. Dia merindukannya.

"Apa yang kau lakukan?"

Suara Karin memaksanya untuk membuka mata dan dia menatap mata sepupunya.

"Beristirahat," jawabnya.

Karin menggeleng. "Nuhuh, tidak. Mereka akan tiba di sini sebentar lagi! Sana, ganti pakaian!" Karin mengeluh sambil mendorong Sasuke dari tempat tidurnya.

Sasuke berdiri dengan lengan Karin yang melilitnya. Karin mungkin adalah orang yang paling sensitif yang pernah dikenalnya. Belum lagi manja. Dia selalu harus memegang atau menyentuh sesuatu, seolah-olah dia memiliki beberapa gangguan. Tapi Sasuke tumbuh besar dan terbiasa dengan itu karena Karin sudah seperti itu sejak mereka masih anak-anak.

"Kau terlihat begitu tampan," kata Karin manis kepada Sasuke yang memutar matanya. "Mou! Kau bahkan tidak mengatakan aku terlihat cantik?" Karin bertanya, kesal karena Sasuke tidak peduli dan hanya mengangkat bahu.

"Teme."

Sasuke mendengar seseorang memanggil namanya dan keduanya berbalik untuk melihatnya. Dia merasa napasnya direnggut saat melihat Sakura. Dia begitu cantik dan tampak adiktif, tapi dia dengan Naruto yang lengannya melingkari pinggang Sakura. Sasuke menguatkan hatinya.

"Teme," ulang Naruto. "Apa kau belum menyadarinya?"

"Menyadari apa?" Sasuke bertanya, lagi-lagi penuh pertanyaan.

"Lupakan," kata Naruto, mendesah putus asa.

"Kau tampak cantik." Sasuke berkata ringan dan tersenyum kepada Sakura, menunjukkan bahwa tidak ada perasaan apapun di dalamnya, hanya bersikap sopan.

Sakura tersenyum sopan padanya, bertindak seperti seorang wanita terhormat, juga tidak membiarkan emosi apapun terlihat di wajahnya. "Terima kasih. Kau juga terlihat sangat tampan."

Naruto membuang muka saat Sakura berbicara. Udara menjadi terasa canggung dan tegang dan dia tahu Sakura akan meledak. Setelah tersenyum pada Sasuke dan Karin untuk terakhir kalinya, Naruto menarik Sakura pergi, membawanya menjauh dari Sasuke. Setelah keduanya cukup jauh, Sasuke akhirnya menghembuskan napas.

"Wow," katanya akhirnya.

Sakura tampak cantik. Dia ingin melihatnya, menjangkaunya dan memastikan bahwa dia nyata, menyentuhnya seperti yang dulu sering ia lakukan.

"Kau suka gadis itu?" Karin bertanya.

Sasuke berpaling ke sepupunya. "Tidak." Dia berbohong sebelum berjalan pergi.

Karin menatap Sasuke sampai dia menghilang ke kebun.

"Idiot sialan keras kepala." Dia bergumam pada dirinya sendiri. Matanya kembali ke Sakura dan Naruto... yang lebih idiot dan keras kepala lagi.

Sakura menggerutu, bagaimana mungkin Sasuke hanya menatapnya dan... dan... dan... sialan, dia tidak merasakan apa-apa! Dasar sialan! Bagaimana bisa Sasuke tidak berdesir saat Sakura ada dalam penglihatannya. Sasuke memesona Sakura, tapi dia sendiri bahkan benar-benar tidak terpengaruh. Sialan.

Sasuke duduk di dekat air mancur dan mengambil napas dalam-dalam. Dia harus menenangkan hatinya yang terasa seperti akan meledak. Dia begitu ingin menyentuh Sakura, menjadikannya miliknya sekali lagi, tapi kenyataan bahwa dia sekarang milik Naruto menghalangi kerinduannya. Dia menyentuh air dengan jarinya dan menyaksikan riak muncul dan membesar sebelum kemudian memudar. Cepat dan indah, seperti halnya hubungannya dengan Sakura dan dia bertanya-tanya apakah akan selalu seperti itu. Memudar, tidak menatap satu sama lain. Dia mendengar gemerisik daun yang terinjak, yang membawanya keluar dari lamunannya. Dia berbalik ke arah suara itu dan melihat Sakura sedang berusaha melepaskan keliman gaunnya dari semak-semak.

"Maafkan aku. Aku tidak tahu kau ada di sini. Aku hanya... aku..." Suara Sakura melemah, bingung dan panik berada sendirian dengan Sasuke.

"Tersangkut." Sasuke menyelesaikan kalimatnya. Dia tertawa ringan dan mendatanginya.

"Stop!" kata Sakura, setengah membungkuk karena gaunnya. Jantungnya berdebar cepat di dadanya.

Sasuke berhenti dua meter jauhnya dan memiringkan kepala. "Apa?" tanyanya bingung.

"Jangan... jangan mendekat." Sakura berkata pelan, rona merah menyebar di pipinya, takut kalau Sasuke mendekat dia tidak akan peduli jika dia merobek gaun itu dan melompat ke dalam pelukannya dan memohon untuk memberinya kesempatan.

"Aku hanya ingin membantu," kata Sasuke, bergerak lagi. Napasnya tersangkut di tenggorokan saat dia membungkuk sedikit dan membantu Sakura keluar dari semak-semak. "Nah," katanya sambil tersenyum.

Kepala Sakura terasa ringan, lututnya sedikit lemas dan dia menemukan dirinya tersandung ke depan. Sasuke menangkapnya dalam pelukannya tapi dia kehilangan keseimbangan. Dan hal berikutnya yang dia tahu punggungnya membuat kontak dengan tanah.

"Oh." Dia mengerang. Sakura mendarat tepat di atasnya. Wajahnya di dadanya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya, yakin punggungnya akan terasa sakit besok pagi.

"Y-ya... maaf," kata Sakura sambil bangkit dari atasnya. "Terima kasih," gumamnya dan dia duduk, menepuk-nepuk kepalanya saat Sasuke tertawa kecil.

"Kau tidak perlu tampak begitu gelisah," katanya.

"Ah! Kau berdarah!" kata Sakura, melihat luka di lengannya. Sebelum Sasuke bisa protes dan tetap terkendali, Sakura memegang lengannya dan menatapnya, mencoba melihat seberapa parah lukanya. "Rasanya tidak terlalu dalam. Hanya tergores. Aku yakin—" Sakura terhenti saat menyadari bahwa wajah mereka terlalu dekat, lengan Sasuke berada di antara keduanya.

Sasuke menurunkan lengannya dan merasa sedikit kewarasan terakhirnya hilang. Dia mendekati Sakura dan seperti sebelumnya, menyandarkan dahinya pada dahi Sakura. Dia menutup matanya dan tersenyum. Sakura kehilangan akal, dia tidak bisa berpikir dan dia merasa hatinya membentur dadanya seperti drum. Keduanya merasa seperti berada di atas atap itu sekali lagi.

Sakura duduk diam selama beberapa saat, ingin mengingat aroma Sasuke. Ketika dia membuka mata, sepenuhnya siap untuk menarik diri, dia mendapati dirinya membeku. Sasuke menatapnya. Matanya terpaku pada dirinya... pada bibirnya. Dia melihat mata Sasuke menggelap dan tampak lapar dan dia menjilat bibirnya. Tangan Sasuke diletakkan di pangkal lehernya. Ibu jarinya membelai sisi wajahnya sebelum menyentuh bibirnya. Ibu jarinya berlama-lama di sana untuk beberapa saat. Sakura menyaksikan beberapa perdebatan terjadi dalam diri Sasuke sebelum sesuatu yang primitif menang.

"Sas—" Sakura memulai tapi dia tidak pernah menyelesaikannya.

Bibir Sasuke menutupi bibirnya yang setengah terbuka. Benar-benar melingkupinya seolah-olah berkata 'milikku'. Bibir Sasuke bergerak, mulai menari selama mungkin, menikmati setiap tekstur bibir kecilnya, menghisap main-main di bibir bawahnya sambil memperdalam ciumannya... Sasuke terasa seperti tomat.

.

.

.

TBC

.

.

.

Omae... Nani ga miteru? = Kau... Apa yang kau lihat?

Bestuni... nandemonai... = Tidak ada... Bukan apa-apa...

USO DESHOU! Nani, nani = Bohong kan! Apa.. apa

HONTOU GA! = Benarkah!

Balasan review

caesarpuspita : Biar seru dimunculin chara2 baru. Rame kan jadinya..

JungYH : Cup, cup.. Kok malah reader yg patah hati. Wkwkw

suket alang-alang : Sesekali peran Karin protagonis lah :D

yuanthecutegirl : Ini udah dikasih catatan kakinya ya

LoveSasuSaku : Sip, sudah diupdate

Guest1 : Kalau ayah Sasuke sama ibu Karin nikah, ceritanya jadi Cinderella The Next Generation dong. Wkwkw

Guest2 : Hinata ada kok, itu sebabnya Neji gak bisa dipake sebagai Rui. Tapi nongolnya lama. Sabar ya.