—Mine and Yours—
Author: Reisuke Celestine
Chapter: 7/10
Disclaimer: Semua cast di sini adalah milik diri mereka sendiri, saya hanya meminjam nama dan beberapa hal dari mereka tanpa mengambil keuntungan apapun. ^^
.
Pair: KiHyun, WonSung, ZhouRy, YeWook, WonKyu, HoMin, KiHae.
.
Genre: Romance – Family – Angst
Warning: AU, YAOI, OOC, twincest, mention of some mature contents, uke!Kyu, dll.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Yesung masih menatap jalanan ramai di depannya. Ini masih di Seoul dan hari sudah malam, namun jalanan masih ramai seperti saat matahari masih bersinar terik. Mobil yang dinaikinya maju perlahan. Macet, kalau ia tidak salah dengar dari omongan orang-orang yang melintas di dekatnya, ada kecelakaan kecil puluhan meter di depannya.
Waktu terus berjalan dan pikirannya semakin terganggu. Rasanya seperti memperingatinya untuk tidak pergi jauh sekarang—kalau bisa segera kembali ke rumah. Firasatnya buruk, dan berusaha diabaikan malah semakin membuat perasaannya tidak enak.
Ia sudah mengirim pesan kepada Kibum—harusnya si kembar yang sulung itu sudah ada di rumah, apalagi ia menggunakan nama Kyuhyun yang bisa membuat anak itu pasti langsung melesat pulang ke rumah. Kyuhyun memang tidak sakit—setidaknya fisiknya hanya lelah, istirahat satu-dua hari anak itu pasti akan baik-baik saja. Tapi apa salahnya berjaga-jaga.
"Siwon-ah… kurasa sebaiknya… kau antarkan aku pulang saja…"
Yesung menarik nafasnya. Mungkin memang lebih baik menuruti firasatnya, daripada malah sesuatu yang buruk benar-benar terjadi. Toh kalaupun tetap nekat pergi, mereka juga sekarang malah terjebak macet kecil seperti ini.
"Eh?"
Siwon menatap sang kekasih dengan tatapan tanya. Ia heran dengan perubahan tujuan Yesung. Setelah melihat sisi lain Yesung yang ditunjukkannya pada orang lain, ia jadi benar-benar tidak habis pikir, sebenarnya ada apa dengan artis asuhannya ini. Kadang di sela-sela waktu kerjanya, ia sering sekali melihat namja di sampingnya ini terlihat melamun. Kalaupun ditanya, Yesung selalu berkilah kalau ia hanya sedikit lelah saja.
Ada banyak hal yang ingin ditanyakannya. Tapi semua itu selalu tenggelam bahkan sebelum ia memiliki niat untuk membuka mulutnya. Yesung menyembunyikan banyak hal darinya. Segalanya—termasuk juga kehidupan pribadinya. Ia hanya terbuka mengenai beberapa hal, dan itu bahkan terlalu sedikit dari keseluruhan hidupnya.
Siwon memilih untuk menuruti kemauan Yesung. Tidak menanyakan apa-apa, tapi ia tahu ada sesuatu yang—lagi-lagi—disembunyikan olehnya.
.
.
Kibum menatap keluar jendela. Kereta yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan konstan. Perkiraannya, ia akan tiba di Mokpo adalah dini hari—kalaupun terlambat, mungkin juga bisa pagi. Itu tidak penting. Yang lebih penting adalah, memangnya apa yang akan ia lakukan di sana? Ia memang pergi dengan tujuan untuk menyelesaikan banyak hal, termasuk masalah dengan orang itu. Lalu apa yang harus dilakukannya?
Bicara tidak akan berpengaruh apa-apa. Ia tahu pribadi orang itu, dan mungkin itu juga yang membuatnya dulu memilih untuk kabur—tanpa menyelesaikan apa-apa, tapi malah berakibat buruk seperti ini.
Lalu bagaimana?
Ia yang biasanya berkepala dingin dan bisa memutuskan segala hal dengan logis bahkan tidak bisa memikirkan langkah apa yang akan ia ambil sekarang. Ini sama saja dengan ia seperti sedang kabur dari Kyuhyun dan memilih untuk meninggalkannya.
Di saat seperti ini ia malah jadi mengingat Yesung. Hyungnya itu, walau dari luar terlihat seperti namja yang angin-anginan, kadang menyebalkan kalau mendadak sedang moody, tapi sebenarnya sangat baik hati itu, tapi setiap perkataannya selalu tepat sasaran. Kadang ia berpikir, mungkihkah Yesung yang sering ia dapati melamun ketika sendiri itu sebenarnya juga memikirkan permasalahannya dan Kyuhyun?
"Yesung-hyung terlalu baik—untukku ataupun Kyuhyun. Aku bahkan heran karena dia masih saja bertahan untuk tetap tinggal bersama kami."
Yesung selalu mengatakan kalau ia bertanggung jawab atas dirinya dan kembarannya, bahkan ketika sebenarnya usia mereka sudah cukup untuk tidak lagi di bawah pengawasan kerabat mereka. Sesibuk-sibuknya dia, Yesung bahkan bisa sempat mengucapkan selamat ulang tahun pada mereka setiap tahun—toh karena mereka lahir di hari yang sama, Yesung cukup melakukannya satu kali dalam setahun. Dan karena mereka bertiga lahir di bulan yang sama—hanya berjarak tiga hari—mereka bahkan sering merayakannya berbarengan.
Kibum menghela nafasnya. Ia akui kalau saat ini ia sedang dalam mode melankolis, karena malah jadi teringat banyak hal yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Rasanya seperti orang yang sedang menghadapi ajalnya dan kilasan kejadian yang pernah dialaminya dulu berputar terus menerus seperti sebuah film dan ia adalah penontonnya.
"Rasanya ingin kabur saja, tapi kalau tidak dihadapi malah akan semakin buruk saja."
.
.
"Jadi, ceritakan."
Zhou Mi menatap namja yang lebih tinggi darinya itu dengan tatapan memaksa. Suasana café tempat mereka berada sekarang sedang sepi, mungkin karena ini sudah lewat dari pukul tujuh dan tempat ini sebenarnya berada di daerah yang agak terpencil. Namja berambut merah itu langsung menghubungi Changmin dan memintanya untuk bertemu—setelah sebelumnya menenangkan Henry di apartemennya.
Ada banyak yang ingin ia tanyakan, terutama ketika mendengar racauan Henry tadi. Anak itu bahkan tidak sadar terus mengatakannya seperti kaset rusak yang berputar terus menerus. Ia terlihat tertekan, dan sebenarnya walau ingin, ia tidak bisa menyalahkan Yesung akan hal itu. Penyanyi itu mungkin berhak melakukannya, karena kesalahan mungkin ada di diri kekasihnya itu. Henry tertekan karena apa yang dilakukannya, dan harusnya ia menyadarinya sebelum ini, apalagi dengan sikap aneh anak itu hari ini.
"Apanya?" Namja bertubuh tinggi itu menatap sunbaenya yang bahkan mengabaikan secangkir latte miliknya di meja, padahal ia sedang bersiap-siap untuk memesan banyak makanan karena ia menunda makan malamnya hanya untuk bertemu dengan sunbae beda jurusannya ini.
"Ada banyak yang kau ketahui yang bahkan kau simpan sendiri mengenai… yah, kejadian ini…"
Changmin diam. Memang sedikit tidak menyangka kalau Zhou Mi bisa menebak hal itu. Ia memang tahu banyak hal terutama darimana semua hal ini bermula. Tapi diam adalah opsi yang selalu dipilihnya. Salah bicara sedikit saja, ia khawatir akan terjadi sesuatu pada Kibum dan kembarannya. Walau bicaranya pada Kibum selama ini selalu terdengar sinis atau terkesan meremehkan, tapi ia juga tidak ingin hal buruk terjadi pada namja itu. Mungkin karena Kibum adalah satu dari beberapa orang yang bisa bertahan dengan sikapnya yang mungkin sedikit kekanakan tanpa merasa terganggu atau apalah. Lagipula, sebenarnya bohong waktu ia bilang kalau ia tidak punya perasaan lagi pada namja es itu. Perasaan cinta sulit untuk dihilangkan, walau perasaannnya memang tidak begitu dalam padanya.
"Aku bahkan tidak tahu harus mengatakannya dari mana dulu."
Changmin tidak tahu, apa yang membuatnya malah mengajak Zhou Mi untuk ikut dalam permainan yang sebenarnya sudah dimulai sejak lama ini. Awalnya hanya karena ia tahu kalau kekasih orang ini pasti akan terlibat karena orang itu dekat dengannya—cukup dekat untuk dimanfaatkan begitu saja. Tapi rasanya semakin dilalui, ia mulai sadar, kalau sebenarnya ia sedang membutuhkan pegangan. Yunho tidak mungkin diberitahunya mengenai hal ini, karena bahkan masalahnya dengan Jaejoong masih sering mengganggu pikirannya. Zhou Mi dipilihnya, mungkin karena namja itu—walau dari luar tidak kelihatan—bisa berpikir dengan tenang bahkan walau situasi mendesak terjadi di depannya.
"Mungkin bisa dimulai dari seseorang bernama… Lee Donghae?"
"H-hah?" Changmin hampir saja tersedak minuman yang baru saja diminumnya. "Dari mana kau tahu?"
"Tidak penting kan dari mana aku mengetahuinya. Toh beberapa hal juga aku tahu walaupun hanya setengah-setengah." Zhou Mi berusaha mengabaikan fakta kalau tadi Changmin memanggilnya tanpa embel-embel yang menjelaskan perbedaan usia mereka. Terdengar tidak sopan memang, tapi yah terserahlah. Anak ini memang sebelas-dua belas dengan Kyuhyun—kadang sama tidak sopannya terhadap yang lebih tua.
"Itu…" Changmin tadinya tidak ingin mengatakan apapun mengenai masalah ini. Selain karena itu hanya masa lalu—tepatnya bagian dari masa lalu Kim Kibum, ia juga sudah berjanji untuk tidak mengungkit masalah itu kepada siapapun bahkan kepada si empunya yang punya masalah. Tapi dipendam terus menerus, apalagi apa yang terjadi sekarang sebenarnya bermula dari hal itu, juga tidak baik.
Ada orang luar yang terlibat—tepatnya terbawa, secara sengaja ataupun tidak. Mereka salah satunya. Tapi dari yang awalnya hanya ingin bertaruh, mengawasi tanpa melakukan apapun, akhirnya tujuan itu malah berputar seratus delapan puluh derajat dan mungkin justru membuat mereka ingin membantu dua anak itu. Yah, walau mereka juga tidak bisa melakukan apapun sebenarnya.
"Donghae-hyung itu dulu pernah menyukai Kibum-hyung."
"Hah?"
"Tepatnya begini, Donghae-hyung dulu menyukai Kibum-hyung—kemungkinannya sih, sampai sekarang juga perasaan itu masih ada. Dan mungkin juga itu yang menyebabkan semua ini terjadi."
"Aku bahkan tidak mengerti kenapa itu bisa dijadikan alasan untuk mengganggu hidupnya?" Zhou Mi mengerutkan alisnya. Tepatnya, ia bertanya dengan konteks kenapa masalah orang itu malah membuatnya mengganggu kehidupan Henry.
"Orang yang sedang jatuh cinta bahkan bisa posesif—mungkin mendekati psycho malah—kalau orang yang dicintainya ternyata malah tidak membalas perasaannya dan lebih memilih orang lain, hyung."
"Termasuk juga kau?"
Changmin ingin sekali menggeplak kepala orang ini. Memangnya apa hubungan hal itu dengan dirinya? Ia memang pernah patah hati karena Kibum, tapi ia bahkan tidak sampai sebegitunya hanya karena ditolak—secara imajiner ia merasa kalau dirinya sudah ditolak walaupun sebenarnya ia tidak pernah mengatakan perasaannya pada Kibum satu kali pun.
"Aku sudah punya Yunho-hyung untuk apa mengganggu kehidupan cinta orang lain?" Changmin bahkan tidak ingin repot-repot darimana namja bersurai merah ini tahu mengenai perasaannya yang dulu pada Kibum. Anggap saja ia pernah menceritakannya tanpa sadar.
"Kau kan tadinya berniat untuk mengungkapkan hubungan dua anak itu di depan umum."
"Hanya niat, hyung. Aku tidak akan setega itu untuk benar-benar melakukannya."
"Lalu?"
Changmin menarik nafasnya. Cerita ini akan menjadi sangat panjang—berhubungan dengan banyak orang dan berbagai cerita setelahnya.
"Donghae-hyung tahu hubungan Kibum-hyung dengan Kyuhyun. Alih-alih memutuskan untuk berhenti mengejarnya, kurasa dia malah berpikiran, kalau dia tidak bisa mendapatkan Kibum-hyung, maka siapapun yang dicintai oleh namja es itu akan dia teror—sepertinya."—yah, kalau seperti itu sih, aku beruntung karena sudah ditolak—secara tersirat—oleh Kibum-hyung.
"Dan hubungannya dengan Henry?"
"Hyung, kau tahu, aku lelah kalau harus menceritakan semuanya padamu, kenapa tidak kau tebak saja sendiri?"
"Baik orang itu maupun Henry tidak satu jurusan, bahkan berbeda angkatan, kenapa juga harus anak itu yang dilibatkan?" Zhou Mi sedikitnya menangkap maksud dari semua ucapan Changmin. Bahkan kalau ia tidak salah menebak, alasan dari kenapa Henry yang dimintai tolong—mungkin dipaksa atau mungkin juga dirayu—untuk melakukan hal itu adalah karena…
"Sudah jelas karena kekasihmu itu dekat dengan Kyuhyun kan?"
…ah, itu memang salah satu alasan.
Tapi dari mana Yesung bisa mengetahuinya?
"Nah, hyung. Setelah aku menceritakan apa yang kuketahui mengenai hal ini, kira-kira apa yang akan kau lakukan? Kekasihmu itu tidak bisa disalahkan, satu-satunya kesalahan yang dibuatnya hanyalah karena ia tidak bisa menolak permintaan Donghae-hyung yang ini. Yesung-hyung juga tidak sepenuhnya salah, mungkin ia hanya ingin memberinya peringatan untuk tidak lagi berhubungan dengan Donghae-hyung, walau sebenarnya caranya benar-benar salah. Ini semuanya sebenarnya hanya masalah Donghae-hyung dan Kibum-hyung saja, kita berdua, kekasihmu bahkan Kyuhyun hanya terseret tanpa sadar dari masalah yang diciptakan dua orang itu."
Zhou Mi diam. Ia tahu, kalau sebenarnya ini memang bukan masalahnya. Ia pun terseret secara tidak sadar karena mengetahui secara tidak sengaja hubungan dua orang saudara kembar itu dank arena Henry yang juga terseret dengan jalan dimanfaatkan. Selebihnya, sama seperti Changmin—walaupun hoobaenya itu mengetahui pokok permasalahannya sedetail itu—mereka bukan siapa-siapa. Tidak memiliki hubungan dengan masalah itu dan hanya sebatas orang luar yang tidak berhak untuk ikut campur lebih dalam lagi.
Tidak ada yang bisa dilakukannya—dan kalaupun ingin, ia tidak berhak melakukan itu. Lain daripada itu, toh Henry juga secara kasar tidak akan berhubungan lagi dengan orang itu—walau mungkin butuh waktu lama untuk membuatnya tidak lagi merasa tertekan dengan perasaan bersalahnya itu.
"Mungkin tidak ada yang bisa kita lakukan. Walau sedikit janggal, tapi memang benar kalau kita adalah orang luar yang tidak berhak untuk melakukan apapun—bahkan walau sudah sejauh ini terlibat."
Changmin menghela nafasnya. Apa yang dikatakan Zhou Mi sebenarnya benar, bahkan walau seberapa inginnya ia menolong teman dekatnya itu. Kesal? Bisa jadi. Miris? Mungkin. Atau… kecewa? Itu adalah alasan yang paling tepat mungkin. Ada banyak hal yang ingin—dan sebenarnya bisa—ia lakukan, tapi beberapa batasan membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
"Mungkin kau benar, hyung. Jadi taruhan kita waktu itu… batalkan saja ya… hehe…"
Zhou Mi tersenyum tipis. Taruhan ya? Ia bahkan sudah tidak ingat lagi dengan hal itu, karena terlalu penasarannya dengan masalah ini, ia malah sudah melupakan niatnya yang tadinya ingin melakukan sesuatu untuk membuat semua ini akan terlihat lebih menarik lagi.
Changmin menatap keluar jendela. Tanpa disadarinya waktu bahkan sudah berlalu hampir satu jam di sini dan ia belum sempat makan apapun sejak tadi. Itu aneh—mengingat ia yang hobi makan, tidak mungkin ia melewatkan waktu makan malam begitu saja. Bahkan hujan di luar pun tidak disadarinya sama sekali padahal meja mereka dekat sekali dengan jendela.
"Kira-kira, hyung… apa ini akan berakhir dengan baik?"
Zhou Mi memilih untuk tidak menjawab dan Changmin juga tidak mengharapkan jawaban atas pertanyaannya itu. Biarkan waktu yang menjawab—setidaknya, apa yang akan dilakukan Kibum setelah ini adalah penentu dari bagaimana akhir yang akan mereka lihat nanti.
Yah, berharap saja, keputusan apapun yang dibuat namja es itu bisa sebijaksana Yesung.
.
.
Yesung melangkahkan kedua kakinya memasuki rumah milik si kembar Kim itu. Ia tidak mengatakan apa alasannya pada Siwon kenapa ia mengubah keputusannya dari yang semula akan pergi ke Mokpo, malah berbalik pulang. Ia juga tidak mengatakan apapun mengenai alasan mengenai kepergiannya ke Seondong hari ini yang tujuannya adalah menemui Henry atau kenapa ia harus ke Mokpo.
Ia tidak ingin mengatakan apapun. Bahkan ketika berpamitan kepada Siwon tadi. Ia hanya mengatakan ia lelah dan tidak ingin diganggu sampai besok—yang tentu saja membuat namja bertubuh tegap itu sontak langsung memasang wajah khawatir. Setelah meyakinnya kalau ia baik-baik saja, hanya butuh istirahat satu hari, akhirnya kekasih merangkap manajernya itu pun mau pulang walau dengan tidak rela.
Di saat seperti itu, Yesung sering kali merasa seperti ditampar tangan imajiner tiap kali mengingat bagaimana perlakuan Siwon padanya selama ini. Baik, terlalu baik malah. Apa tidak apa-apa terus seperti ini? Rasanya ia jadi seperti memanfaatkan namja itu sebagai pelampiasan akan segala emosinya selama ini.
Ia tidak mencintai namja itu—setidaknya ia hanya menyayanginya dengan kadar kasih sayang yang sama dengan yang diberikannya pada Kibum dan Kyuhyun, mungkin juga pada Changmin. Ia hanya butuh pelarian, tempatnya bisa berpaling dari apa yang membuatnya merasa bersalah, walau faktanya rasa bersalah itu malah semakin berlipat. Yesung bahkan tidak habis pikir kenapa ia malah menjadikan Choi Siwon sebagai kekasihnya—alih-alih sebagai seseorang tempatnya bisa berbagi masalah. Ia bahkan selalu menyembunyikan banyak hal darinya. Dan semakin lama dijalani, rasa bersalah itu bahkan menumpuk, berlipat ganda dari yang sebelumnya ia rasakan.
Banyak orang yang dibohonginya. Hubungannya dengan Kibum dan Kyuhyun pun bahkan dilandasi oleh kebohongan, walau kasih sayangnya untuk dua orang sepupunya itu adalah nyata.
Yesung tidak tahu, sampai berapa lama ia bisa bertahan dengan kebohongan demi kebohongan yang terus diciptakannya tanpa sadar. Selalu mengatakan tidak tahu apapun, padahal ia mengetahui banyak hal. Atau berkata baik-baik saja, padahal hati dan pikirannya terkadang seperti hancur lebur.
Ia menarik nafasnya perlahan. Pada akhirnya semua hal itu harus diakhiri. Daripada terus dilanjutkan dan malah membuat seseorang tersakiti. Lebih cepat, jauh lebih baik.
Yesung yang sedari tadi diam bersandar pada pintu depan, langsung mengunci pintu. Ini hampir pukul sembilan malam, ia tidak yakin kalau Kibum ada di rumah mengingat lampu di depan yang masih mati dan keadaan rumah ini yang sepi. Jadi mungkin, sedari tadi, sejak ditinggalkan olehnya, Kyuhyun masih seorang diri?
Namja bermata sipit itu langsung menuju kamar Kyuhyun. Sedikit rasa khawatir masih terselip dalam benaknya walau tidak separah tadi. Ia berhenti di depan pintu dan menarik nafas lega ketika didapatinya Kyuhyun yang masih tertidur. Didekatinya ranjang yang berantakan—entah karena apa. Ia menahan nafasnya ketika dilihatnya keadaan Kyuhyun yang berbeda dibandingkan ketika ditinggalkan olehnya tadi.
Baju yang dikenakan anak itu telah berganti. Ia tidak tahu apakah Kyuhyun sendiri yang mengganti pakaiannya atau bukan. Selimut yang sedikit tersibak tidak menjadi perhatiannya tapi sesuatu di leher anak itu cukup untuk membuatnya yakin kalau anak itu—tadi—tidak sendiri.
Kissmark. Tipis tapi tidak cukup tipis untuk mengelabui penglihatannya, walaupun daya penglihatannya sebenarnya sedikit minus. Dan ia tidak perlu bersusah payah untuk berpikir darimana itu berasal.
Kibum sempat pulang tadi—sepertinya, dan melakukan sesuatu dengan Kyuhyun. Tepatnya apa, ia tidak mau memikirkannya walau sudah bisa ditebak. Lalu dimana anak itu?
Yesung segera menyelimuti tubuh Kyuhyun, setidaknya walau tidak sakit, anak ini butuh istirahat yang cukup untuk menenangkan hati dan pikirannya. Ia sedikit tersentak ketika didapatinya jejak air mata sedikit tersisa di kedua pipi anak itu.
Bisa disimpulkan bahwa sesuatu pasti akan terjadi dalam waktu dekat.
"Kim Kibum, sebenarnya kau ada di mana? Dan apa yang sedang kau pikirkan sekarang?"
Ia tidak akan pernah mengerti mengenai jalan pikiran si sulung kembar itu, tapi semoga saja bukan hal yang buruk atau nekat yang akan dilakukannya sekarang.
.
.
Matahari masih belum menampakkan wujudnya, tapi bagi Kibum bahkan walau matahari terbit sekalipun itu akan lebih terasa seperti mendung abadi untuknya. Udara dingin, dan ia seorang diri di stasiun, duduk di ruang tunggu penumpang tanpa tahu harus melakukan apa.
Ragu. Semakin dekat ke tempat ini, rasa ragu semakin menguasainya. Namja berkacamata itu bahkan memutuskan untuk diam selama beberapa jam di tempat yang sepi seperti ini hanya untuk berusaha meyakinkan dirinya dengan keputusan seperti apa yang akan dibuatnya.
"Yesung-hyung… apa yang harus kulakukan?"
Ia yang biasanya bisa mengambil keputusan atau tindakan apa yang harus dilakukannya bahkan tidak bisa memilih. Dua pilihan dan kedua-duanya bukan pilihan yang baik. Andai ada pilihan ketiga yang lebih baik dari dua hal itu mungkin ia tidak akan seragu ini.
Lari, atau hadapi?
Tapi kalau tidak diselesaikan sekarang juga, pasti akan lebih buruk lagi dampaknya nanti.
Tap. Tap.
Suara langkah kaki membuatnya sedikit tersentak. Ia mendongakkan kepalanya, bayangan seseorang tampak mendekatinya. Ini stasiun kereta yang sedang sepi. Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi, sedangkan kereta terakhir yang datang adalah yang tadi ditumpanginya yang tiba pukul tiga lewat empat puluh lima menit. Kereta pertama dari stasiun ini pun bahkan jadwal keberangkatannya adalah dua jam dari sekarang. Siapa orang kurang kerjaan yang datang ke stasiun di tengah pagi buta begini?
"Kibum-ah? Itu kau?"
Kibum membulatkan kedua matanya. Detik berikutnya, ia langsung tersenyum tipis—sebenarnya lebih kepada menertawai dirinya sendiri. Pilihan ketiga yang lebih baik ternyata memang ada untuknya. Dan datang dengan cara yang benar-benar tidak diduga. Seperti berusaha untuk membuat keraguan yang sempat melandanya hilang.
Mungkin ia bisa meminta bantuan orang ini. Mungkin. Bagaimana hasilnya, lebih baik dicoba saja.
"Eunhyuk-hyung… lama tidak bertemu…"
.
—To Be Continued—
.
a/n ada yang masih ingat dengan ff ini? Sudah satu tahun lebih kayaknya saya menelantarkan ff ini, hiatus kelamaan karena saya sibuk dengan banyak hal—terutama sama cover dance. ^^
Ada beberapa hal yang mungkin sedikit aneh kalau disambungin sama chapter-chapter sebelumnya. Soalnya yang dulu saya merasa ada beberapa hal yang agak aneh, jadi ada beberapa hal yang saya ubah, atau mungkin ada yang saya ulangi di chapter ini.
Tiga chapter lagi sebelum tamat—mungkin. Atau bisa jadi malah dua chapter lagi. Tergantung bagaimana otak saya dapet pencerahan atau gak. xD Tapi yang pasti gak akan lebih dari sepuluh chapter. :3
Jadi… masih berminat buat member review? ^^
See You.
#NowPlaying: Silent Siren - Kakumei
