Holaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw
Udah mau klimax, aru!
.
.
.
A Gintama Fanfiction
Gintama © Sorachi Hideaki
Fanfict Love For Nothing © Ayuha
Okita Sougo x Yato Kagura
Romance – Humor (Tapi nggak yakin)
Warning : AU, [mungkin] OOC, miss Typo(s), Gaje deh, juga disetiap pemikiran/sang karakter sedang membatin, tulisannya pasti akan di italic.
Love For Nothing
.
.
Don't like? Don't read..
Cerita sebelumnya.
Kagura dua kali tertipu oleh perasaannya Sougo. Sementara itu, Kagura diajak kencan untuk yang kedua kalinya. Awalnya Kyuubei ingin membantunya dengan merencanakan empat rencana, namun ia tidak datang karena papaue-nya mengajaknya latihan. Lalu, Kagura tengah dilamar oleh Hatta yang membuat Sougo malah menarik Kagura menjauh dan malah memarahinya sembari mengatakan benci padanya.
~LFN~
"Aku membencimu, gadis bodoh."
"Aku membencimu, bodoh."
"Aku membencimu."
"Aku."
"Aku."
"AAAHH!" gadis bercepol ala China itu malah mengacak rambut oranye-nya frustasi. Ia terus-terusan mengingat suara sang sadis yang sudah mengatakan 'Aku membencimu, gadis bodoh,' dengan santainya. Kagura—gadis itu—pun langsung memeluk anjing kesayangannya.
Sudah beberapa hari berlalu sejak kalimat tadi terngiang di telinganya, dan sudah beberapa hari pula Kagura tidak bertatap muka dengan pria sadis yang sudah mengatakan kalimat itu. Walaupun begitu, sangat sulit untuk melupakan perkataan menusuk hati itu.
Beberapa hari itu bisa kita hitung sebagai enam hari, karena malam ini adalah malam natal, tepat pada tanggal 24 Desember. Dimana seluruh pasangan akan menghabiskan waktu romantis mereka di dalam dunia kecil yang mereka buat dengan roman-nya.
Kagura pun tidak kalah dengan para pasangan bodoh itu. Ia juga sudah diajak untuk kencan di bawah salju di malam natal yang indah. Ia diajak oleh siapa lagi kalau bukan sang pangeran sakral. Sangat tidak mungkin baginya jika ia diajak oleh sang pangeran sadis. Bertatap muka saja sudah tidak pernah, bagaimana bisa sang sadis itu mengajaknya tiba-tiba.
Bukan karena mereka tidak pernah berjumpa lagi, tetapi Kagura-lah yang lebih memilih menghabiskan waktu di dalam Yorozuya ketimbang berjalan-jalan keluar seperti biasa dan akan seperti biasa dia pun melihat sorot mata sadis itu.
"Kagura-chan. Apa tidak apa-apa?" tanya lelaki berkacamata kepada Kagura dengan muka-muka serius dicampur aduk dengan ekspresi khawatir. Kagura hanya mengangguk.
"Kemana pun benang merahku tersambung, aku akan menerimanya, aru," senyuman pun mengembang disela-sela ucapannya, "Artinya, siapapun jodohku dan bagaimanapun rupanya. Aku akan senang, aru."
Bijak! Entah mengapa gadis kecil yang biasanya selalu mengeluarkan kata-kata kasar dan pedas itu bisa menjadi sebijak ini! Apakah dia benar-benar bijak atau hanya bergaya sok bijak?! Oi! Kagura, yang sadar dong! Jangan bilang kau bijak itu karena kau tidak diterima oleh Okita-san dan memilih untuk pasrah?! Dan lelaki ber-megane itu pun malah mengomentari ucapan Kagura di dalam batinnya.
"Lagian. Aku dan sadis pasti tidak berjodoh, aru. Buktinya, aku tidak mendapatkannya hingga sekarang, aru," ucapan Kagura girang. Namun itu malah membuat Shinpachi—nama lelaki berkacamata itu—malah merasa iba.
"Jadi, kau akan menemuinya saat malam natal?"
"Ya."
"Kau tidak akan menyesal?"
"Tidak."
"Kau yakin kau akan baik-baik saja?"
"Aku yakin."
"Apa kau—," tercoloklah mata Shinpachi hingga kaca dari kacamatanya pecah.
"Dasar kau kuso megane, aru! Bisanya hanya kepo-in orang saja, aru! Jangan sok bijak! Dasar perjaka yang tak akan pernah menjadi yang pertama, aru!" ucap Kagura pedas, seperti biasa.
Shinpachi langsung bangkit, "OI! APA-APAAN DENGAN MENGEJEKKU PERJAKA DAN KENAPA MEMANGNYA DENGAN NAMAKU?!" dan seperti biasanya, Shinpachi membalas Kagura dengan tsukkomi andalannya.
Senyuman tipis kemudian terlihat di wajah Kagura, "Tidak usah khawatir, aru. Walaupun aku dijodohkan oleh makhluk itu, aku pasti tidak akan langsung dinikahi karena usiaku yang masih remaja, aru," ucapan Kagura membuat Shinpachi sedikit berpikir dengan tenangnya.
"Ya, mungkin kau akan mendapatkan pemuda lain di saat kau dewasa nanti, 'kan," Shinpachi kini berpikiran positif dan ia tenang karena pemikiran positif itu.
"Benar Shinpachi, aru. Lagian, SIAPA JUGA YANG MAU DENGAN MAKHLUK BOTAK TAK BERGUNA ITU, ARU?!" dan background petir menyambar-nyambar sudah menjadi background Kagura saat itu.
"OI! TADI KAU BILANG KAU AKAN SENANG MENERIMA SIAPAPUN! MENGAPA KAU MALAH MENJELEK-JELEKKANNYA! TERNYATA PEMIKIRANKU MEMANG SALAH!" Shinpachi ngos-ngosan ngerepetin Kagura.
"Tapi, Kagura-chan," Shinpachi langsung menundukkan badannya—tanda meminta maaf, "Maafkan aku!"
Bibir tipis Kagura tampak ingin mengeluarkan sebuah kata, namun Shinpachi langsung memotongnya, "Maafkan aku karena tidak bisa membujuk Okita-san menjadi penggantinya Hatta-oji."
"Shinpachi," Kagura melirihnya nama Shinpachi ketika melihat sang Shinpachi meminta maaf dengan sangan menyesalnya, "Aku baik kok, aru."
"Jangan lupa mengatakan kalau semua tentang pacarmu itu bohong, Kagura," sang leader Yorozuya, Sakata Gintoki tiba-tiba muncul sembari mengorek-ngorek telinganya, aktivitas wajib seperti biasanya.
Semua mata langsung tertuju pada mata ikan mati-nya Gintoki, Shinpachi langsung menarik kerah baju Gintoki, "Gin-san! Kenapa?! Kenapa kau—," namun amarahnya terpotong dengan suara Kagura yang melirih.
"Aku tahu, Gin-chan. Aku juga pasti akan mengatakannya esok, aru," hal itu membuat Shinpachi kesemutan seorang diri, ia ingin tahu mengapa mereka malah ingin membocorkan hal penting itu? Jika Kagura dicap sebagai pembohong, belum tentu ia akan diterima di kerajaan dan kemungkinan diasingkan atau dipenggal menjadi naik berpuluh-puluh persen.
Gintoki langsung melepaskan tangan Shinpachi yang menggenggam kerahnya, "Kau tahu 'kan Shinpachi. Kalau Kagura mengatakan yang sebenarnya, mungkin ia akan dicap sebagai pembohong dan kita tahu akibatnya, namun masalah selesai jika kita benar-benar tulus meminta maaf. Tetapi jika kita berbohong bilang kalau pacarnya Kagura sudah putus atau apalah, itu pasti akan memancing masalah baru," mata Shinpachi berkilat-kilat, ia merasa sebagai yang terbodoh karena lebih mementingkan jalan pintas dibandingkan jalan yang lainnya.
"Masalah baru akan timbul dan semua tidak akan mencapai ending-nya, 'kah," Shinpachi berucap dengan lirihnya ketika baru menyadari hal yang penting seperti itu. Gintoki dan Kagura pun mengangguk dengan senyuman yang membuat Shinpachi tersenyum juga.
EH TUNGGU! SEKARANG KENAPA RASANYA MALAH AKU YANG AKAN DINIKAHI OLEH HATTA-OJI ITU?! teriak Shinpachi kemudian di dalam hatinya.
"Selamat bersenang-senang, Kagura," Gintoki mengupil dan kemudian menepuk pundak Kagura—sedikit diusap-usap—tanda ia memberi semangat kepada Kagura.
"Ah, Gin-chan dan Shinpachi juga boleh ikut, aru," ajak Kagura kemudian yang membuat Shinpachi langsung terkaget-kaget.
"Apa maksudmu mengajak kita? Bukankah kencan malam natal itu adalah kencan roman antara kalian berdua?!" teriak Shinpachi tak tahan karena kebingungan dengan Kagura.
Kagura hanyalah menggeleng, "Tidak apa-apa, Shinpachi, aru. Aku pun tidak akan memesan bar atau pun hotel, aru. Tapi aku akan pergi ke festival kembang api, aru," jelas Kagura mengenai rencana kencannya nanti malam.
"Heh?! Festival kembang api? Apa serunya?" kini, Gintoki-lah yang paling heboh mendengar tempat kencannya Kagura.
Kalau kau memesan bar, kau akan senang karena meminum-minum alkohol. Setelah kau mabuk, serunya kau memesan hotel untuk melakukan ini~, lalu melakukan itu~ dan melakukan anu~ Pikir Gintoki di dalam hati, ia tak sadar jika alam bawah sadarnya menyebabkan wajahnya memerah begitu menjijikkannya dengan jemarinya yang sudah bergerak-gerak serasa ingin memegangi sesuatu. Shinpachi yang melihatnya hanya kicep karena tau isi kepala Gintoki yang mesum itu.
"Ntah mengapa, aku ingin melihat kembang api di bawah salju natal yang indah dengan seseorang, aru. Siapa tahu jika aku melihatnya dengan makhluk itu, aku akan mulai menyukainya, aru," begitulah maksud dan tujuan Kagura atas rencana kencannya nanti.
Shinpachi dan Gintoki sudah tak bisa berkata-kata.
"Semoga beruntung, Kagura-chan."
~LFN~
Tidak terasa, malam tiba. Waktu yang dituju Kagura untuk berkencan dengan Hatta pun akan segera teng. Kagura sudah bersiap-siap. Kali ini Kagura tidak berdandan seperti biasanya, ia hanya menampilkan wajah polosnya dengan dua gulungan ala China, tak lupa memakai pakaian musim dinginnya yang biasanya selalu ia pakai.
Shinpachi dan Gintoki langsung terkejut melihat Kagura yang sama sekali tak terlihat memakai polesan apapun, "KAGURA! KAU TIDAK SEDANG MABUK, 'KAN?!" Gintoki paling histeris. Ia berpikir kalau seppuku akan benar-benar terjadi pada dirinya.
"Kagura-chan, mengapa?" Shinpachi mencoba bertanya dengan kalem, memohon jawaban Kagura yang bagus.
"Tidak ada alasan khusus, aru." Shinpachi dan Gintoki pun gubrak berjama'ah.
"Kalau pun ia memang menyukaiku, harusnya ia tak 'kan peduli dengan penampilanku yang bagaimana pun, aru," dan perkataan Kagura pun malah membuat Gintoki dan Shinpachi beku.
"Yo-yosh. Mari kita pergi," Gintoki sebagai ketua pun memberikan aba-aba kepada Shinpachi dan Kagura untuk pergi ke festival kembang api itu.
Dan mereka pun berjalan beriringan hingga sampai di tempat tujuan.
Sesampainya, mereka tidak melihat adanya tanda-tanda makhluk ungu sakral itu di sana.
"Kagura, bagaimana ini?" tanya Gintoki ketika tidak merasakan hawa keberadaannya sang baka oji.
"Berpencar saja, aru," dan semuanya pun mengangguk untuk berpencar dan mencari sang makhluk sakral yang sok keren itu.
Di sana, banyak sekali stand-stand berjajar. Kagura pun mulai tergoda oleh aroma takoyaki dan memilih mampir dulu untuk membeli beberapa. Ketika kembali berjalan, ia melihat topeng ka*men ri*der yang menurutnya sangan keren itu, dan ia kembali mampir untuk membelinya, lalu ia sematkan topeng itu di kepalanya.
Merasa kakinya mulai pegal, Kagura pun duduk sejenak di sebuah stand. Dan ia malah disapa di sana.
"Selamat malam, gadis muda. Apa kau bisa menembak?" tanya ossan penjaga toko itu.
Kagura pun membalikkan wajahnya untuk bisa melihat wajah orang yang tiba-tiba menyapanya, "Ah, MAru de DAme na Ossan yang disingkat Madao! Apa yang kau lakukan di tempat ini? Mau mencurinya, aru?!" tanya Kagura dengan penuh selidik.
"Ah tidak kok. Seperti yang kau lihat, ini adalah pekerjaan baruku dan aku sedang menjaga toko ini. Toko ini adalah toko dimana kau bisa mengambil apapun yang bisa kau jatuhkan dengan senapan mainan ini," jelas Madao itu.
"Kau yakin? Semuanya?" tanya Kagura yang masih tidak percaya.
"Iya! Semuanya! Asalkan kau menembaknya dengan jujur," jelasnya kemudian.
Kagura pun langsung membeli satu round yang berarti tiga peluru dan menempatkan targetnya pada sesuatu.
DOR! Dan kacamata sang Madao pun terjatuh.
"Ah, aku menjatuhkan gurasan-mu, berarti aku mendapatkannya, aru," Kagura berkata dengan santainya.
"Oi! Bukan hal yang ada pada diriku! Kau harus menembak di hadiah yang di belakangku!" ujar sang madao sembari menempatkan kembali kacamata hitamnya.
DOR! Jam tangan sang madao pun pecah dan di sana ada tatapan sadis dari seseorang.
"Aku mendapatkan sebuah jam tangan," jelasnya dengan tatapan sadisnya.
"Oi! Sudah kubilang! Semuanya itu bukan berarti sesuatu yang ada di tubuhku! Dan apa ini? Kenapa kita jadi flashback ke episode 17, oi?!" sang madao pun sudah berteriak gaje tanpa ada yang mendengarkan.
Kagura lalu menatap tepat ke mata sang sadis dengan sadisnya juga. Namun Kagura langsung membanting senapan itu dan berlalu, "Permainan ini tidak asik, aru. Kau seharusnya berhenti saja, ossan," ucap Kagura sebelum akhirnya benar-benar berlalu.
"Oi! Ini adalah pekerjaan baruku!" sang madao hanya bisa berteriak untuk menolak memberhentikan pekerjaannya.
Sang sadis? Ia malah menembakkan peluru senapannya ke ikat pinggangnya sang madao.
"Aku mendapatkan ikat pinggang," jelasnya sebelum akhirnya ia membalikkan wajahnya untuk melihat sang gadis China berlalu dalam diamnya. Walaupun sang madao berceloteh panjang lebar, sang sadis yang kita anggap Sougo itu tidak mendengarnya sama sekali. Hal itu yang membuat sang madao kesemutan sendiri.
Kembali kepada Kagura, ia jadi marah-marah sendiri karena ia malah bertemu dengan orang yang paling tidak ingin ia temui. Dan ia makin marah karena ia belum juga menemukan si jelek yang menyebalkan itu.
"Dimana perginya sang makhluk buruk rupa itu, aru?!" Kagura sudah capek berjalan kesana kemari untuk mencarinya, namun ia tidak kunjung bertemu dengan sang pangeran bodoh itu.
Kakinya sudah bengkak, lebih dari satu jam ia mutar-mutar tempat itu, namun tak ada tanda-tanda dari seseorang yang ingin ia temui. Ketika Kagura masih memaksakan untuk berjalan, ia terjatuh karena sendal kanannya putus.
"Kakiku bengkak, aru. Bagaimana ini," pikirnya gamang. Ia seperti sedang dihadapkan pada pilihan menyerah mencari sang bodoh dan akan terus membenci perjodohan hingga akhir hayat atau mencarinya walau tertatih-tatih.
Tanpa pikir panjang, Kagura langsung bangkit dan melepaskan kedua sendal kayunya. Lalu berjalan dengan tertatih karena kakinya sudah nyeri, "Aku tidak boleh menyerah, aru. Kalau aku tidak menyukai perjodohan ini, bagaimana bisa aku bahagia, aru," ucap Kagura sembari berjalan dengan tertatih-tatih.
"Oi," sebuah suara membuatnya memberhentikan langkahnya. Kagura membalikkan pandangannya untuk melihat siapakah empu sang suara itu.
Ketika Kagura sudah melihatnya, Kagura malah mempercepat gerakan kakinya yang tertatih-tatih itu. Jatuh-bangun sudah Kagura lakukan, mengingat kakinya sudah bengkak total. Ntah setan apa yang membuat Kagura malah ingin menjauhi sang empu suara itu padahal pemuda itu tidak bergeming sedikit pun. Pemuda itu masih pada tempatnya semula, tanpa bergerak, walaupun ekor matanya yang biasanya menyorotkan tatapan sadis itu terus mengikuti gerakan sang gadis China itu.
"Kumohon berhenti," pemuda itu hanya mengeluarkan ucapan itu, namun Kagura makin mempercepat langkahnya.
"Jangan pernah mendekatiku, kono yarou, aru!" teriak Kagura sembari tertatih-tatih. Pemuda tadi? Hanya terus terdiam. Tidak ada tanda-tanda ingin mengejar Kagura.
Setelah sekian lama, Kagura pun terjatuh. Ketika mencoba bangkit, Kagura merasa kalau kakinya kaku dan tidak bisa ia gerakkan.
"Are?" Kagura masih mencoba menggerakkannya, namun nihil, "Kau kakiku, bodoh! Bergeraklah, aru!" teriak Kagura sembari memukul-mukul kaki bengkaknya.
"Oi," tangan Kagura yang hendak memukul kakinya lagi itu rasanya tertahankan. Kagura pun melihat orang yang sedang memegangi tangannya itu dan tanpa sadar menangis.
Kagura sudah ingin menangis dengan sejadi-jadinya, namun ia menahannya dengan menggigiti bibirnya, "Tolong aku," ucap Kagura pada pemuda yang ia benci itu.
Pemuda itu atau kita anggap Sougo, pun langsung mendekap Kagura, "Yeah, aku tahu kalau kau itu sebenarnya takut untuk menemui calonmu itu sehingga kau selalu berbalik arah kalau menjumpainya," ucapan Sougo membuat Kagura tersentak dan menangis di bahunya.
"Yarou, kau ini apa, hiks, seorang stalker 'kah, hiks, aru," ucap Kagura masih mencoba menahan tangisannya. Namun Sougo tak mengeluarkan ucapan apapun.
"Iya, aru! Aku takut menemuinya, aru. Karena aku berpenampilan seperti ini, aru, hiks. Aku takut dia malah membenciku, aru. Lalu Papi, Gin-chan dan Shinpachi, hiks. Akan mati karena aku, HUUUAA!" dan pecahlah tangisan Kagura yang sedari tadi ia pendam. Ia menangisi segalanya di bahu seorang pemuda yang sangat ia benci.
Alunan suara tangisan itu bercampur dengan putihnya salju yang turun. Salju harusnya dingin, namun yang gadis itu rasakan adalah kehangatan yang kali ini sangat hangat baginya. Ia sangat bersyukur bisa merasakan hangatnya hari itu. Ia takkan melupakannya karena kehangatan itu adalah hal yang paling penting baginya karena membuat ia sangat bahagia.
Disela-sela turunnya salju dan tangisan Kagura yang mulai tenang, kembang api mulai bermunculan dengan indahnya di langit sana. Karena Kagura sudah mulai tenang, Sougo pun melepaskan dekapan diantara mereka. Kagura terkejut karena ia takut ini adalah permainannya Sougo padanya, karenanya Kagura sudah menundukkan wajahnya tanda kecewa ketika ia melihat mulut sang sadis mulai terbuka.
"Kencanlah denganku esok."
"Eh? EEEEEEEEHHHHHHHHHHHHH?!"
~LFN~
Pagi itu, matahari tampak bersinar dengan indahnya, begitu pula dengan matanya Kagura, bersinar dengan indah. Hal itu yang membuat dua karibnya bingung.
"Kagura-chan ada apa sih? Mengapa kau begitu girang hari ini? Bukankah hari ini adalah hari dimana kau akan mengakui semua kebohonganmu?" tanya salah satu karibnya, Shinpachi.
Kagura menggeleng dengan senangnya, "Aku tidak perlu melakukan hal itu, aru!" ucapnya girang dan jitakan pun mendarat di kepalanya.
"Baka yarou! Apa kau mau menambah masalah?!" tanya sang karakter utama pencinta gula, Gintoki.
Kagura langsung memegangi area jitakan yang dibuat oleh Gintoki, "Bukan begitu Gin-chan. Tapi," dan Kagura pun berbisik-bisik kepada kedua karibnya tentang apa yang ada di dalam kepalanya itu.
"APA?! KAU AKAN BERKENCAN DENGAN PANGERAN SADIS ITU?!" teriakan keheranan yang terucap dari bibir kedua karibnya Kagura.
"Apa caramu membuatnya mengubah pemikirannya? Kau tidak menyantetnya kan?!" tanya Gintoki, gawat, dia mulai rusak.
"Sudah jelas tidak, menyantet itu apa aku juga tidak tahu, aru," ucapnya membela diri.
"Tapi, bukankah itu bagus, Kagura-chan? Akhirnya kau akan terlepas dari perjodohan itu," Shinpachi kini yang berkicau dan di balas oleh anggukan dan senyuman Kagura.
"Oh iya, aku harus menemui si sadis itu, aru. Sampai jumpa kalian, aru," Kagura kemudian berlarian keluar Yorozuya dengan ditemani oleh payung ungunya tanpa berdandan dan memakai gaun indah.
"Kencan 'kah itu?!" teriak Shinpachi tak tahan, "Apa yang akan Okita-san pikir ketika melihat pasangannya begitu santainya menggunakan pakaian seperti biasanya. Aku yakin Okita-san sedang memakai jas sekarang," Shinpachi malah mencak-mencak di tempat seperti biasanya.
"Sudahlah Shinpachi-kun. Biarkan saja dia," kata Gintoki pada Shinpachi agar Shinpachi tidak mengkhawatirkan Kagura. Shinpachi langsung melihat wajah Gintoki dan mendapati Gintoki sudah dipenuhi oleh keringat dingin.
"YANG JANGAN KHAWATIR ITU HARUSNYA KAU, GIN-SAN!"
...
...
...
..
.
Waktu yang ditentukan semalam adalah tinggal satu jam lagi dan Kagura sudah sampai sebelum waktunya. Kagura langsung terkikik senang melihat di sana masih sepi orang dan tidak ada tanda-tanda dari sang sadis. Kagura pun langsung ngumpet di balik tembok sembari kembali menengok ke arah tempat pertemuan mereka.
"Aku hanya perlu memperlihatkan diriku setelah si sadis bodoh itu menunggu selama dua jam. Aku yakin dia akan mencari-cari diriku dan ketika aku muncul, dia dengan bodohnya pasti akan berkata, 'Aku sudah menunggumu lama, tahu,' kikikik!" Kagura sibuk berfantasi ria dengan pemikiran-pemikirannya itu hingga telah tiga jam berlalu, sang sadis belum kunjung datang.
Kagura sudah menunjukkan titik penatnya, ia paling benci menunggu. Akhirnya ia pun berjalan dan duduk di bangku di tempat mereka akan bertemu itu. Kagura menunggu dan menunggu hingga sangat banyak waktu yang terbuang sia-sia. Harusnya mereka bertemu jam sepuluh pagi, kini sudah jam empat sore. Apakah sang sadis lupa atau bagaimana? Kagura makin geram.
"DASAR SADIS SIALAN! Kalau berjumpa, akan kucekik lehernya, aru," ucap Kagura dengan geramnya menunggu.
Dikala penatnya menunggu, sebuah suara menyadarkannya, "Oi, gadis China. Mengapa kau duduk di sana dengan bodohnya?" suara bodoh itu, Kagura sudah yakin suara siapa dan langsung saja Kagura meraih leher sang pemuda dan mencekiknya.
"Aku menunggumu bodoh!" Sougo—pemuda yang ditunggu-tunggu Kagura—sulit bernapas. Mengetahui hal itu, Kagura langsung melepaskan cekikannya. Dan Sougo langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Kau mau membunuhku, bodoh?" tanya Sougo dengan kesalnya. Dan narrator pun bingung, acara kencan macam apa ini? Baiklah kita abaikan saja, kita lanjut kembali.
"Salahmu sendiri sudah membuatku menunggu lama," dan Kagura langsung teringat dengan strateginya tadi.
Ah aku bodoh, aru. Kalau aku yang marah karena menunggunya lama, berarti nampaknya akulah yang sangat menginginkan kencan ini, aru! Dan Kagura pun dengan frustasinya berteriak di dalam batinnya.
Sougo dengan kimono putihnya langsung mengulurkan tangannya pada Kagura, "Maafkan aku," sembari tersenyum ia meminta maaf.
Kagura yang awalnya ngambek jadi makin kesal dengan Sougo yang malah meminta maaf, bukan seperti biasanya. Tapi ia raih juga jemarian Sougo dan ia pun bangkit dari duduknya.
"Jadi, kau mau kemana?" tanya Sougo.
Kagura melipatkan kedua tangannya di dadanya, ia lalu berkata, "Sebagai permintaan maafmu, aku mau kau mentraktirku makan! Aku tidak mau tahu! Aku ingin makan seluruh menu yang ada di satu restoran!" teriak Kagura sembari berjalan duluan.
Sougo belum melangkahkan kakinya, "Kau itu apa sih? Manusia atau babi?" tanya Sougo dengan entengnya, membuat Kagura menendangnya dengan mulusnya.
"Mau aku manusia kek, babi kek, aku lapar. Jadi aku mau makan yang banyak!" teriak Kagura dengan kasarnya dan kembali berjalan menjauhi Sougo yang masih dalam posisi terjatuh.
Sougo bangkit dan berjalan beriringan di samping Kagura.
Sesampainya di sebuah restoran, sesuai dengan apa yang diucapkan Kagura, Kagura benar-benar memesan semua menu yang ada. Sougo saja sudah hilang feels ingin makannya. Sougo menutupi mulutnya karena terlalu tak tahan melihat makanan sebanyak itu. Sougo makin tak tahan ketika membayar semua makanan itu, dompetnya mendadak jatuh miskin.
"Ah, kenyang!" teriak Kagura ketika mereka tengah menyusuri sebuah danau.
"Okita! Naik perahu! Ayo naik perahu! Aku ingin memancing ikan!" teriak Kagura dengan antusiasnya.
"Mana ada ikan di danau," ucap Sougo dengan santainya, namun Kagura langsung main tarik Sougo dan naik ke atas perahu. Kagura mendayung perahu itu dengan girangnya hingga ke tengah danau.
"Ah, aku lupa mengambil alat pancing," Kagura tiba-tiba teringat dengan tujuan mereka naik perahu dan melupakan alat pemancing.
"Sudah kubilang, tidak ada yang namanya ikan di danau!" teriakan Sougo tidak digubris oleh Kagura, membuat Sougo kesal dan muncul ide untuk menjahili Kagura.
"China, kau tahu. Jika ada pasangan yang naik perahu hingga ke tengah danau, mereka akan terkena kutukan," ujar Sougo dengan nada datar seperti biasanya.
"Aku tidak peduli, aru," ucapan Kagura membuat Sougo makin kesal, "Tapi, kutukannya itu apa, aru?" tanya Kagura lagi dan Sougo masih bisa bernapas lega.
"Kutukannya itu, tidak bisa memakan sukonbu lagi, misalnya," dan Sougo terkikik ditempat, ia berpikir kalau kebohongannya itu memang tampak sangat bohong. Tapi ntah mengapa dia senang saja sudah mengucapkan itu. Anak bayi baru lahir saja pasti akan tahu kalau hal itu adalah bohongan. Ia pun langsung melihat ekspresi wajah Kagura.
"Eh?" Sougo kaget ketika Kagura hampir menitikkan air mata.
"SADIS BODOH! Kau benar-benar bodoh! Mengapa kau memberitahuku hal sepenting itu di saat kita sudah ada di tengah danau begini, aru? Hwaa, apa yang harus kulakukan, aru?!" Kagura kini berpikir dengan frustasinya. Ia pun mau mencoba berdiri hingga perahunya oleng dan pegangan tangannya pada dayungnya itu pun terlepas.
"Bodoh! Jangan panik! Jangan terlalu kau anggap serius, bodoh!" Sougo sudah marah-marah di sana.
"Ah, tapi dayungnya terlepas! Mereka berenang ke arah belakangmu, aru!" ketika Kagura hendak meraih dayung itu, perahu benar-benar oleng, hingga keseimbangan Kagura pun goyah. Ia hampir terjatuh ke depan, kalau saja tak tertahan oleh, panggutan?
Kagura benar-benar memelototkan matanya, jeda waktu sepersekian detik, Kagura langsung melepaskan panggutan itu. Apa tadi? Itu apa? Apa yang sudah ia lakukan? Apakah ia akan hamil saat itu juga? Sensasi apa itu? Bibirnya tipisnya terasa hangat. Kedua tangan Kagura refleks memegangi kedua bahu Sougo, Kagura kini menundukkan wajahnya pertanda ia sangat amat teramat malu untuk menatap wajah orang yang sudah merebut first kiss-nya itu.
"Sudah kubilang, jangan panik, bodoh. Aku sudah meraih satu dayungnya, jadi tenang saja. Dan semua hal yang kubicarakan tadi itu bohong. Oh kumohon, jangan terlalu kekanak-kanakkan seperti itu," jelas Sougo dengan geramnya.
Are? Si sadis tidak menyinggung apa-apa soal ciuman singkat tadi? Eh? Kenapa? Apa itu bukan yang pertama baginya, aru? Tapi ini yang pertama bagiku, aru. Kenapa kau tidak mengatakan hal apa-apa tentang hal itu, aru? Detakan jantung Kagura semakin terpompa.
Kagura pun melepaskan genggamannya pada bahu Sougo. Ia lalu duduk kembali, "Es krim."
"Eh?" Sougo tampaknya tidak mudeng dengan hal yang diucapkan Kagura.
"Aku ingin es krim, bodoh," ucap Kagura, masih dalam posisi menundukkan wajahnya karena malu dengan kejadian tadi.
~LFN~
Di saat Sougo tengah membeli es krim untuk Kagura, matahari mulai merosot turun. Tandanya, waktu ia akan mengenalkan Sougo pada Papi dan orang dari kerajaan akan datang. Kagura hanya bisa mendesah dengan kesalnya. Apa-apaan dengan sang sadis yang tidak mudeng dengan ciuman tadi? Apa dia sebuah batu oi?
"Wajahmu semakin tampak bodoh jika sedang tampak kesal begitu," es krim tersodorkan pada Kagura. Dan Kagura langsung melahapnya tanpa memerdulikan ucapan Sougo.
Sougo kemudian berlalu, "Aku rasa kau memang tidak ingin bersamaku. Kalau begitu, mari kita udahan dari sini," ucap Sougo dan kemudian ia berjalan menjauhi Kagura.
"Pergi saja kau, dasar manusia es! Aku tidak peduli."
Ketika Kagura baru menyadari apa yang Sougo ucapkan, Kagura langsung frustasi kembali, "Gawat, aru. Kalau sadis tidak ada di saat seperti ini, aku tetap akan dijodohkan oleh mereka semua! HWA!" ketika Kagura sedang frustasi dengan keadaan, Papi dan orang dari kerajaan pun datang.
"Kagura-chan. Mana pacarmu?" si botak, papi Kagura. Ia langsung bertanya to the point. Hal itu yang membuat Kagura mengucurkan keringat dinginnya.
"Ah, dia.. dia lagi di toilet!" teriak Kagura dengan suara yang dibuat-buat. Awalnya semua masih pada tidak percaya, tapi mereka coba untuk percaya.
Kepercayaan Kagura mulai terpatahkan ketika sudah lebih dari tiga puluh menit berlalu. Orang macam apa dia? Di toilet selama itu?
"Kagura-san. Jujur saja. Aku tak akan meninggalkanmu kok, walau kau terlihat sangat normal hari ini," kini sang makhluk sakral-lah yang berucap.
Kagura menggeleng, "Aku jujur kok! Tidak bohong, aru!"
"Kalau begitu, mana dia?" tanya si Hatta kembali. Hal itu malah membuat Kagura ingin menjitak dan mencopot sesuatu yang ada di kepalanya Hatta itu.
"Ah, aku juga ingin tahu, dimana dia, aru," ucap Kagura dengan nada yang bergetar, tanda takut ketahuan kalau Sougo sudah pulang duluan.
"Kalau kau berbohong, kedua karibmu tamat, Kagura-san," ucapan dari pangeran bodoh itu membuat Kagura geram, namun Kagura tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ketika Kagura suda sampai pada titik kekhawatiran—
"Maafkan aku lama," –seseorang datang. Kagura langsung melihat wajah orang itu.
"Sadi—ah, Okita-kun?" Kagura tampak heran. Dan Sougo malah menampilkan sorot mata dengan makna 'kenalkan-saja-aku-cepat,' dan Kagura pun jadi ingat apa yang harus ia lakukan saat itu.
"Ah iya. Ini pacarku, aru. Okita Sougo-kun," ucap Kagura agak canggung dengan predikat 'pacar' itu.
"Pacar? Bukankah dia yang waktu itu merebutmu dariku?" tanya Hatta dengan geramnya.
"Kagura adalah milikku. Jika kau membuatnya canggung dan bingung, apalagi menikahinya, aku akan marah," dan tatapan Sougo sudah masuk ke dalam zona sadist mode on yang membuat Hatta bergidik ngeri.
"Kagura-chan. Kalian pacaran, tapi mengapa kau masih memanggilnya dengan nama keluarga?" pertanyaan Papinya malah membuat Kagura ingin menghantam papinya.
Sialan kau, botak, aru. Ucap Kagura dalam batin, mencoba tenang dan stay cool.
"Ah, maafkan aku. Tapi aku sangat senang dan bahagia memanggilnya dengan sebutan Okita-kun, aru," apa-apaan dengan bahagia hanya karena menyebut nama keluarga? Acara pacaran macam apa ini?
"Ntah mengapa kalian pacaran tapi kurang dekat. Seperti sedaritadi kalian tidak gandengan atau apapunlah itu. Kalau kalian benar-benar berpacaran. Mengapa tidak ada suatu bukti? Seperti kado natal?" pertanyaan ini terlontar dari mulut sang raja ntah berantah itu.
Sialan kau, raja yang mukanya kayak babi, aru. Kagura kembali membatin dan kembali mencoba tenang dan stay cool.
"Ah bukti ya. Ah, apa ya buktinya," Kagura tampak gemetaran karena takut semuanya terbongkar. Apalagi ia belum memiliki apapun dari sang sadis. Ia jadi makin bingung dengan semuanya.
Sougo mendengus sejenak ketika melihat wajah kebingungan Kagura.
"Oi," Sougo memanggil Kagura dan refleks Kagura dengan wajah kebingungannya itu pun menoleh ke arah Sougo dan Kagura langsung dikagetkan karena hal yang tadi sempat membuatnya bingung di perahu terulang kembali.
Mata Kagura enggan menutup karena masih syok, dimana Sougo sudah menutup kelopaknya dan memainkan bibir Kagura dengan lembutnya oleh bibir merekah merah miliknya.
Kejadian itu malah membuat orang yang menonton hal itu jadi syok berjama'ah. Papi Kagura rasanya sudah hampir copot matanya. Sang baka oji sudah sangat iri dengan hal itu. Begitu juga dengan orang kerajaan yang tak menyangka kalau hal itu adalah bukti kalau Kagura dan Sougo adalah sepasang kekasih.
Ketika Sougo merasa itu sudah cukup, ia langsung melepaskannya, meninggalkan benang saliva diantara mereka. Bukannya menatap Kagura yang sudah blushing tak percaya, Sougo malah langsung melihat ke arah para penonton tadi.
"Aku sedikit kesal karena hal tadi menjadi sebuah tontonan. Tetapi demi Kagura, akan kulakukan apapun. Percayalah kalau dia benar-benar milikku dan percayakan dia padaku," ucapan Sougo membuat semuanya speechless.
"Karena Kagura sudah memenuhi seluruh syarat, aku nyatakan, perjodohan ini dibatalkan," ucap sang raja itu dan membuat Sougo tanpa sadar tersenyum lalu melihat Kagura yang masih pusing memikirkan hal apa itu.
Tanpa berucap apapun, Sougo langsung meraih jemari Kagura dan membawanya pergi. Kagura yang tersadar dirinya terseret pun kesal dan minta dilepaskan, namun sang sadis tidak menggubrisnya.
"Kagura, kau tahu, kau menjadi gila," tiba-tiba saja sang sadis berucap hal yang gila.
"Nee, Okita-kun. Mengapa kau diam dan tidak menyinggung soal ciuman tadi? Sudah dua kali. Itu maksudnya apa, aru?" tanya Kagura dengan geregetannya.
Sougo sedikit menggarus pipinya menggunakan jari telunjuknya walau tidak gatal, ia mencoba mencari alasan, "Aku sedikit malu membicarakannya, jadi aku tidak membicarakannya. Dan soal apa maksudnya—," Sougo memenggal kalimatnya mencoba mencari sebuah kalimat yang bagus, "Itu bukankah dimana orang-orang menyebutnya cinta?" dan Sougo malah membalikkan pertanyaan itu pada Kagura.
"Makanya itu. Apa maksudnya, aru?!" Kagura makin geram, begitu juga Sougo.
"Tutup matamu saja dan kau akan mengerti," Sougo memerintah.
"Untuk apa aku menutupnya? Apa kau bodoh, aru?!" Kagura masih ngerepet aja.
"Mulutmu itu berisik sekali!" Sougo benar-benar jengkel dan kesal dengan sikap Kagura hingga Sougo langsung mengunci rapat bibir cerewet Kagura dengan ciumannya, lagi.
TBC MUACH :**
HOLAA! VAKUM TERLALU LAMA DAN IDE TERLALU NUMPUK MEMBUATKU MALAH MENULIS FICT DI CHAPTER INI SAMPAI BABLAS KEBANYAKAN MUACH :*
WARNING! SUPER DUPER OOC! DAN BANYAK KERUSAKAN LAINNYA!
MENGENAI RATED, KARENA ADA TJIVOQ NYA, SAYA GANTI JADI RATE T YAP! KARENA KIDS GAMUNGKIN NGEBACA YANG TJIVOQ BAZAH KEQ GITU /KEPS.
Baiklah, memang rusak sih tulisanku, tapi selamat membaca dan jangan lupa di review ya!
HAPPY READING 4K OF WORDS!
~LFN~
Oshiete!
Ginpachi-sensei!
"Etto, karena sudah kepanjangan ini fanfict yang dibuat oleh elien-san. Saya akan mulai. Review dari marfa aully, 'Wah, Kagura-chan cuma akting toh, aku ketipu... aku jadi merasa bodoh... hahh... eh... Kyuube-san, Plan A mungkin berhasil, aku mendukung malah, tapi Plan B, C, dan D itu kemungkinan berhasilnya minus seratus persen, dengan kata lain gak mungkin bisa kejadian. Baru tau aku kyuube bisa lebih kacau dari insiden ryuuguujyou arc /ditebas kyuube/. SOUGO! SIALAN KAU! ITU TERNYATA AKTING HAH? PADAHAL UDAH FANGIRLING! AKU MERASA BODOH LAGIIII! /background gelap terus ada flashlight/. Ekhem, maaf yang barusan, ah, iya, aku mau muntah ngebayangin baka ouji yang bulet itu ngelamar kagura-chan, dan kenapa shinpachi pengen pup di saat yang salah? Dia bukan kondo woe! Yang terakhir... AKHIRNYA SOUGO MENYATAKANNYA JUGA! NANTI MALEM AKU MASAK NASI MERAH CAMPUR NASI PUTIH BUAT PERAYAAN! Ai lap yu deh elien-chan, banyakin okikagunya yaa! Salam untuk Mayora dari temannya teman-temanku."
"Oke jawabannya, ekting itu harus mirip, jadi ya seperti itu hoho B) Kyuubei itu butuh dioperasi otaknya B) /ditebas Kyuubei/ Namanya ekting harus kayak asli, jadi begitulah ;) SAMA, AKU JUGA MAU MUNTAH HUEQ. DI CHAP KEMARIN DOI BELUM MENYATAKANNYA OEEE! Tapi, undang aku ya di perayaanmu /dibejek/. Chap ini OkiKagu-nya banyak 8) Salam juga dari Mayora dan kawan-kawan!"
"Baiklah, karena sudah terjawab. Itulah review nya. Baiklah, jangan bosan dengan fanfict ini. Karena itu, dimohon review membangun dari para senpai sekalian ^^! Sampai jumpa lagi nanti!"
