"Eh?"
Sayup-sayup terdengar, jantung Kagura terpompa begitu saja.
Ronaan mulai menjalar disekujur pipi mungilnya.
"Jangan membuatku mengatakannya, bodoh," ujar Sougo, pemuda shota yang masih setia berada di depannya sejak adegan anu yang sudah usai beberapa menit yang lalu.
Kagura tak bergeming.
Entah apa yang sedang berputar dalam pemikirannya. Jangan bilang kalau ia sedang berfantasi akan mempunyai seorang anak karena kejadian itu.
Iris biru laut miliknya hilang-timbul—karena kelopaknya mengerjap-ngerjapkan matanya, merasa ada sesuatu yang janggal dalam dimensi otak tak bersuaranya. Manik birunya merosot untuk mengunci Sougo dalam pengelihatannya.
"Apa yang kau?" pertanyaan terlontar dengan erangan.
"Jangan bertanya," jawab Sougo singkat.
Gadis oranye itu pun mulai melangkahkan kaki jenjangnya pergi menjauhi sang sadis.
Ekor mata bernuansa sadis itu bergulir mengikuti gerak-gerik sang China, "Huh, manisnya."
.
.
.
A Gintama Fanfiction
Gintama © Sorachi Hideaki
Fanfict Love For Nothing © Ayuha
Okita Sougo x Yato Kagura
Romance – Humor (Tapi nggak yakin)
Warning : AU, [mungkin] OOC, miss, typo(s), Gaje deh, juga disetiap pemikiran/sang karakter sedang membatin, tulisannya pasti akan di italic.
Love For Nothing
.
.
Don't like? Don't read..
Cerita sebelumnya.
Semua itu terjadi begitu saja. Dimulai dari pernyataan kencan sang sadis. Panggutan di danau. Lalu hadiah dari sang sadis juga. Perjodohan yang dibatalkan. Dan juga pernyataan cinta yang tak langsung dengan sebuah salam bibir.
~LFN~
Beberapa hari berlalu sejak insiden roman yang tanpa penjelasan itu usai.
Seperti kegiatan wajibnya, Kagura menyumpalkan sukonbu di antara bibirnya. Ia merutuki si kepala keriting dalam hati. Karena ceritanya, sang bapak kepala keriting itu tidak bisa membeli majalah kesayangannya dikarenakan tadi pagi ada insiden jatuh ke dalam jamban, dan kini sang Kagura lah yang harus bersusah payah melangkahkan kaki mungilnya pada jalan trotoar.
"Aku saja tidak tahu harus membeli dimana, aru," runtuknya singkat.
Wanita penggila sukonbu itu tiba-tiba mendapati dirinya melihat sang polisi yang tak bertanggung jawab.
Kagura memilih untuk menghindarinya. Jantungnya berdebar untuk beberapa saat. Apakah ia akan mati?
Manik biru lautnya bergulir mengarah ke pucuk cokelat di sana. Ditatapnya lekat-lekat sang pemilik rambut itu dalam diam.
"Kupikir lebih baik aku tidak bertemu dengan sang sadis sialan itu, aru," pernyataan singkat terlontar.
Kagura pun memilih jalan memutar.
Namun bahunya tampak dicengkram dari belakang. "Jangan menghindar, bodoh."
Suara dingin tak berdosa itu terngiang-ngiang. "Apa kau masih marah karena kejadian semalam?"
Jemari Kagura memegangi tangan Sougo yang meraih pundaknya, lalu mendepaknya. Bibir Kagura tampak bergetar. "Tidak perlu kau ungkit, aru. Aku hanya menganggapnya sebagai ciuman Sadaharu, aru."
"Dingin sekali kau."
Suasana dinginnya angin bagai menerpa untuk menjadi penengah di antara keheningan mereka. Kaki yang terbalut celana seragam legam itu pun berbalik arah. Meninggalkan Kagura dan payung ungunya tanpa perkataan.
"Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, aru!" teriakan singkat membuat Sougo tampak menundukkan kepalanya bagai sehabis tersetrum oleh Kizaru dengan Pika Pika no Mi atau oleh Pikachu sekalian.
"Lakukanlah sesukamu."
~LFN~
"Jangan bodoh kau Kagura!" bapak keritingnya mencak-mencak ketika mendapati Kagura berhasil membawakan majalah, namun bukan JUMP.
"Apa kau mau membunuhku?" dan semuanya pun bertanya Apakah JUMP bagaikan tujuh bola naga?
Hembusan napas berat terdengar. "Aku akan membelinya lagi, aru."
Payung ungu pelindung matahari pun terkepak, Kagura berlalu. Sekali lagi. Dan ia tak akan mau keluar rumah lagi.
Dalam diam, Kagura berjalan. Bermohon pada Tuhan agar manik sadis itu tidak menatapnya seperti sekarang. Ya seperti sekarang.
Tu-tunggu dulu.
"SA-SADIS?!" teriakan itu membuat orang yang merasa pun ter-notice.
Ia pun membalikkan wajahnya. "Apa?" pertanyaan singkat terlontar dari mulut sadis yang mengebulkan sebuah asap.
"Kalau kau ada urusan, lebih baik kau ucapk—," ucapan sadis terpotong ketika dirinya terhempas ke tanah begitu saja. Wajahnya memerah sempurna. Entah mengapa, kaki imut Kagura langsung menghampirinya.
Telapak tangan kecilnya sedikit menepuk-nepuk pelan pipi Sougo. "Sadis?"
Dirasanya kening milik Sougo dengan kening miliknya dan Kagura pun meringis karena kepanasan.
"Jangan bilang kalau anak ini demam, aru," ujar Kagura kalang kabut.
Manik birunya bergulir kesana-kemari untuk mencari pertolongan.
Namun nihil.
Si bodoh itu berpatroli di tempat yang tak banyak orang melangkahkan kakinya.
Kagura bangkit dan meraih payung kesayangannya. "Dasar bodoh. Biarkan sajalah dia mati di sana. Tak 'kan ada yang mau menolongnya di tempat sepi seperti ini."
Namun ending-nya begini: Kagura membawa Sougo ke Yorozuya dan merawatnya.
"Terimakasih Tuhan. Aku akhirnya melakukan hal bodoh, aru," ujar Kagura singkat.
"Mengapa Souichirou-kun ada di sini?" pertanyaan diajukan oleh manik ikan mati yang tengah melakukan kegiatan wajibnya, yaitu mengupil diselingi mengorek kupingnya.
Spontan Kagura kaget. "Bu-bukan maksudnya aku membawanya dengan sengaja. Di-dia hanya terkapar di tanah tadi, aru," Kagura menggeleng-gelengkan kepalanya dan berbicara ala karakter Tsundere.
Gintoki menghentikan kegiatannya dan ber-hoo sejenak. "Dasar anak muda," ujarnya kemudian berlalu.
Namun kembali lagi. "JUMP-ku mana?"
Kagura melengos pergi seenak udelnya tanpa menggubris perkataan yang berasal dari bibir semi bapaknya itu.
"Oi, Kagu.."
"Diamlah, aku sedang memiliki pasien, aru."
Di kala seru-serunya obrolan diantara mereka, sebuah bunyi terdengar dari telepon hitam yang biasanya lumutan karena jarang ada yang nelpon.
Kagura mengangkatnya. "Halo?"
Suara baritone terdengar. "Apa ini telepon milik Yorozuya?"
"Oh, kalau kau ingin menelepon Gin-chan untuk acara kencan kalian. Dia ada kok, aru," ucap Kagura tak berdosa.
"UNTUK APA AKU KENCAN DENGAN MAKHLUK KERITING SEPERTI DIA?!" Kagura menjauhkan gagang hitam yang sedang ia pegang.
Terdengar suara deheman dari seberang. "Aku ingin tahu. Apakah Sougo ada di sana? Tampaknya dia melalaikan tugas patrolinya hari ini."
"Si sadis itu ambruk, aru."
Kagura langsung memutuskan sambungan telepon. Kaki mungilnya melenggak menuju dapur Yorozuya dan kembali membawa obat dan air putih.
Ketika dia sampai. Kelopak mata yang menyelimuti mata sadis itu terbuka perlahan namun pasti dan menampilkan mata sayu. "Are?" ujarnya kemudian.
"Kau tiba-tiba terkapar menyedihkan di tanah, aru. Apa kau ingin ditabrak, aru?" ejek Kagura.
Sougo mendelik sejenak. "Apa kau yang merawatku?"
Manik biru Kagura membuka. "Y-ya, aku ha-hanya ka-kasihan melihatmu ti-tidur di sana. Ja-jadi.." Kagura mengatakannya sembari mengeja kata-kata, membuat kepalanya mengeluarkan asap.
Muncullah perempatan jalan siku-siku di kepala Sougo. "Tidak usah kau paksakan."
Telapak tangan Sougo kemudian menyentuh pucuk oranye-nya. "Terimakasih, Kagura," dan Sougo pun menempelkan senyuman indahnya untuk Kagura.
Kagura bingung sejenak. Dadanya terasa panas.
"BAKAYAROU! Apa kau mau menularkan virusmu itu padaku, aru?" teriak Kagura kepalang polosnya.
Sougo terkekeh pelan kemudian meraih jemarinya. "Kau yang sudah menularkan virus kepadaku. Karena tanpamu aku memang tak bisa apa-apa."
Kagura melepaskan pegangan tangannya. "Jangan bodoh, aru. Aku ini tidak sakit, aru. Bagaimana bisa aku mengirimkan sebuah virus untukmu?!"
Terdengar suara desahan dari mulut tipis sang sadis. "Aku lapar."
Kagura mendelik. "Lalu?"
"Makan."
~LFN~
Keadaan tubuh Sougo tampak lebih membaik daripada saat siang hari tadi.
Kagura ternyata memang benar-benar bisa merawatnya. Entah mengapa, Kagura membuat dirinya nyaman dan tenang. Walaupun di dalam dirinya ia tidak mengerti apa itu perasaannya.
Dimana orang mengatakannya cinta?
Sougo menepuk kepalanya yang mengeluarkan pemikiran bodoh seperti itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, guna untuk menghilangkan pemikiran bodoh yang hinggap di otak tenangnya.
"Apa kau sakit kepala lagi, aru?" ujar Kagura tiba-tiba ketika melihat Sougo yang tak semangat seperti itu.
Sougo menggeleng pelan.
Kagura pun menjadi menganggapnya enteng, kemudian berlalu. "Kalau kau butuh sesuatu, katakan saja padaku, aru."
"Kagura," ucap Sougo membuat Kagura membalikkan pandangannya dan memiringkan kepalanya pertanda bertanya.
Sougo menundukkan kepalanya. "Ah, tidak jadi."
Kagura pun langsung berbalik dan meninggalkannya sendirian. Sougo mulai berpikiran kalut.
"Ternyata benar. Okita-san ada di Yorozuya," ujar kacamata yang melekat pada wajah seseorang.
Sougo mendelik, kemudian mengarahkan wajahnya pada seseorang di sana, namun tidak berkomentar apapun. Hal itu yang membuat kacamata atau pemuda yang di depannya mematung tidak mengerti.
Shinpachi pun duduk bersimpuh. "Apa yang sedang kau pikirkan, Okita-san?" tanyanya yang bahkan orang yang ditanyanya tetap diam seribu bahasa.
Shinpachi membenarkan letak kacamatanya. "Kalau soal Kagura-chan. Anak itu memang polos dan kebal. Cobalah untuk berterus terang dengan bahasa yang ia pahami."
Ucapan lelaki berkacamata itu membuat Sougo mulai menyadari sesuatu. "Memangnya aku peduli? Lagian aku tidak tahu harus bagaimana."
"Pertama, kau harus mengetahui perasaan terdalammu, Okita-san," ucapan Shinpachi membuat Sougo kembali menyemprotkan guratan merah pada pipinya.
"Aku pada Kagura itu—," ucapan Sougo terhenti ketika sang empunya tubuh itu ambruk. Shinpachi langsung kalang kabut dan mencoba membenarkan posisi tubuh Sougo.
Punggung tangan Shinpachi menempel di kening Sougo untuk merasakan sesuatu. Panas tiba-tiba menjalar di punggung tangan Shinpachi yang membuat Shinpachi langsung melepaskannya. Shinpachi kini tahu, Sougo benar-benar sedang demam parah.
"Tidak usah terlalu kau paksakan untuk mengetahui isi hatimu, Okita-san."
...
...
...
..
.
Lenguhan terdengar dari bibir imut sang shota. Ia merasa nyeri yang luar biasa di kepalanya.
Ia pun bangkit dari tidurnya dengan keadaan terduduk di sana.
Pemandangan yang ia lihat adalah hampa. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Sougo sedikit menepis rasa perihnya dengan memijat lembut pelipisnya, lalu membenamkan keningnya di pangkuan telapak tangannya. Hampa jika sedang sakit dan tiada yang menemani.
Keheningan itu ambruk ketika terdengar bunyi telepon dari ruang tengah Yorozuya.
Awalnya Sougo enggan mengangkatnya karena kondisi tubuhnya yang lemah itu tidak memungkinkannya untuk bangkit dan sok jadi pahlawan yang mengangkat telepon.
Namun, bisingnya suara telepon membuat dia makin pening. Dipaksakannya kakinya untuk melangkah walau tertatih-tatih.
Sesampainya, ia sematkan gagang telepon hitam itu di telinganya yang memerah.
"Oi, Yorozuya. Apa kalian ada di sana?" ucap suara baritone di seberang.
Sougo membatukkan dirinya untuk memperjelas suara seraknya. "Ah, Hijikata-san. Kalau kau ingin bertelepon ria dengan danna dan mengatur acara kencan kalian. Maaf saja, danna sedang tidak ada di sini," serunya seenak udelnya.
"SIAPA YANG MAU KENCAN DENGAN ORANG ITU!" teriak sang empunya suara berat dengan nada tinggi. Membuat Sougo menjauhkan gagang itu sejenak.
Deheman suara terdengar. "Sougo, ternyata kau di situ. Apa yang kau lakukan di situ? Kenapa kau melalaikan tugasmu untuk berpatroli?" pertanyaan demi pertanyaan terlontar begitu saja.
Dengan malasnya, Sougo berucap, "Aku sedang malas," kemudian memutuskan sambungan telepon, tidak lupa juga memutuskan kabel telepon hitam tak berdosa itu.
Sougo pun kembali berjalan untuk meraih tempat tidur tadi.
Namun, dilihatnya sebuah cermin yang menampilkan dirinya yang kelam. Tatapan mata sadis yang sayu itu tampak kehilangan gairahnya.
Kau harus mengetahui isi hatimu.
Decihan terdengar. "Untuk apa aku repot-repot mengatakan suka?" ucapnya malas.
Namun, di tatapnya lekat-lekat sang cermin di hadapannya.
"Kagura, aku menyu?" Sougo tampak kesal melihat dirinya seperti itu.
"Aku menyukaimu," ucapnya kemudian. Namun, terhantamlah cermin tak berdosa itu hingga pecah. Sougo langsung memasuki arena kegelapan yang mendalam.
"Omong kosong macam apa itu," komentar dirinya singkat.
Derapan kaki seseorang kian mendekat. "Okita-san, seperti yang kuduga."
"Kumohon pergilah ke suatu tempat."
~LFN~
Derapan kaki tergopoh-gopoh terdengar. "Shinpachi, apa kau melihat sadis, aru?" tanya Kagura dengan ngos-ngosannya.
Shinpachi membenarkan posisi kacamatanya. "Kupikir dia sudah memberitahumu kalau ia ingin pergi ke makam kakaknya."
Kagura langsung melengos begitu mendengar tempat dimana sang baka sadist itu ada.
Fu fu fu. Ternyata kau menyimpan rasa juga, Kagura-chan. Ucap Shinpachi dalam hati.
Langkah kaki Kagura kian mengeras.
Hantaman telapak sepatunya pada jalan dingin trotoar tampak bising sekali. Kagura menggulirkan iris birunya untuk mencari orang yang sedang ia cari. Ia bahkan tidak tahu harus kemana.
Namun matanya terkunci ketika melihat pucuk cokelat ada di sana.
"Yo," ucap pemilik pucuk cokelat yang mengetahui keberadaan Kagura di sana. "Kau ternyata benar-benar ke sini."
"Ti-tidak. Aku hanya jalan-jalan dan berakhir di sini."
"Ah, lupakan. Kagura aku ingin mengenalkanmu pada kakakku," lirihnya kalut.
Kagura pun melangkahkan kakinya untuk menuju sang sadis dan melihat sebuah makam di sana. Sinar manik merahnya meredup di kala menatap lekat sebuah batu nisan di sana.
"Sadis," Kagura melirih melihat sang sadis bisa sebegitu redupnya di hadapan kakaknya.
"Kakakku bagaikan orang tuaku. Kakakku bagaikan segalanya," Sougo mulai berucap. "Aku bahkan tidak tahu, rasa sayangku pada kakakku kini bisa beralih pada seseorang."
Kagura yang tak mengerti pun langsung memiringkan wajahnya. "Siapa?"
Dengusan terdengar dari bibir merah merekah Sougo. Pemikirannya menari-nari untuk mengatakan hal yang akan membuat gadis kecil itu mengerti.
Sougo membalikkan wajahnya pada Kagura. "Rasa sayangku sudah beralih untukmu."
Lagi-lagi terlontarlah sebuah perkataan yang akan membuat sang Kagura berpikiran berkali-kali lipat untuk mengetahui artinya. "Eh?" dan dengan bodohnya, Kagura menampilkan wajah dungunya akibat tidak mengetahui maknanya.
Sougo memegangi bahu Kagura. "Setidaknya, tutup saja matamu."
"Untuk apa kau menyuruhku hal seperti itu? Kau mau melakukan hal cabul atau memperbudakku, 'kah?"
"Kumohon tutup saja dan kau akan mengerti segalanya," ucap Sougo kesal dicampur kesungguhan membuat Kagura mau tak mau ya harus mau menutupkan matanya.
Dan lagi.
Bibirnya tertempeli oleh sesuatu.
Sesuatu yang pernah ia rasa namun berbeda sensasi.
Kali ini bibirnya tampaknya sudah mengerti apa itu panggutan.
Ya, penyalur kisah kasih di antara mereka.
Sougo memanggutnya dengan lembut dan perlahan. Karena ia tahu, kali ini Kagura mengerti apa yang dimaksud dengan hal ini.
Sougo pun melepaskan panggutan di antara mereka. "Apa kau mengerti?"
Kagura mengangguk dengan ronaan yang tajam.
Mungkin si sadis ini ingin membuatku sebagai seorang perempuan dewasa. Ujar pemikiran bodoh Kagura.
"Kagura, perkenalkan dirimu pada kakakku," titah Sougo kemudian.
Kagura pun tersadar dari lamunannya dan melangkah maju.
"Sougo no Ane. Namaku adalah Kagura. Senang bertemu denganmu. Aku adalah tem—."
"—pacarku," Sougo berhasil menginterupsi perkataan Kagura yang membuat Kagura baru sadar dengan segalanya.
Sougo tampak menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal. "Ya ampun. Pemikiranmu itu macam apa? Setelah kau mengerti, mengapa kau masih mau menganggapku sebagai teman?"
"Jadi bukan teman ya?" tanya Kagura polos.
"SUDAH PASTILAH BUKAN!" teriak Sougo geram.
Kagura lalu terkekeh sejenak dan meraih pipi Sougo untuk ia daratkan sebuah ciuman kemudian berlari meninggalkan sang sadis yang beku di tempat.
"BODOH, Apa yang kau lakukan?!" tanya Sougo geram.
"Pembalasan, HAHA!"
Dan narrator beserta penulis pun bingung. Mereka pacaran atau mau adu jotos di ring sebelah? Baiklah tidak tahu. Pokoknya mereka sudah mengerti dengan perasaan masing-masing dan inilah ending-nya.
Mereka adu jotos beneran.
O
WA
RI
Kenapa endingnya adu jotos?
Karena kalau pelukan udah terlalu menstrim dan eftipi banget /gak.
Terimakasih untuk yang sudah mengikuti fanfict troublemaker ini! Iro iro arigatou~ ^^
Akhirnya mencapai ending juga wkwk :v /wut
BIG THANKS BUAT PARA REVIEWERS YANG UDAH TERTULIS PADA KOTAK(?) OSHIETE GINPACHI-SENSEI! TANPA KALIAN AKU HANYALAH BUTIRAN DEBU YANG MEMILIH JADI KUMAN SAJA :3 /apaan.
Mungkin ini hanya saran, jadi tidak usah diperdulikan juga gak apa-apa. Mau dibaca atau enggak juga gapapa. Aku gak nyogok kok :3 /apaansih.
Chapter 12 kalau mau, aku bikin isi hati sang sougo dari chap 1-11. Ada yang mau? Minimal tiga review yang mau. Aku buat :3 kalo kagak yaudah gapapa aku baik-baik saja, tidak usah dikhawatirkan :3 /wut.
Terimakasih karena sudah membaca project ffn yang hampir mencapai pengerjaan selama satu tahun wkwk :3 ^^
Alhamdulillah, kelar ^^
OSHIETE!
GINPACHI-SENSEI!
"Baiklah kalian semua! Ini adalah kotak surat yang mungkin terakhir."
marfa aully : UAAAAAGH! OKIKAGUNYA MANTEEEP! Gin-chan segitu mesumnya, ya, ternyata.../dibunuh Gin-chan/ terus... Shinpachi boleh kok kalo mau sama baka ouji /Shinpachi: KENAPA AKUUU?/, dan, KENAPA KAGURA TIBA-TIBA JADI DEWASA?! SOUGO JADI KEREN GITU! DIA EMANG KEREN SIH, TAPI... TAPI! Oh iya, entah kenapa tapi rasanya humornya agak berkurang, ya? Elien-chan, semangat bikin cerita, ya! Jangan lama apdet lagi!v nanti aku panggilin kamui lhoo...
Elien-san : Alhamdulillah dibilang mantep Orz. Ginchan kan emang ga waras /disambit. Iya daripada Shinpachi gapunya kapel /digorok. MAKANYA SHINPACHI JUGA BINGUNG KENAPA KAGURA JADI BIJAK. SOUGO HARUS LAH JADI KEREEENN. Humor berkurang wajar qaqa. Disini genre nya kan RomCom, masa Com doang Rom nya kagak:v. Alhamdulillah semangat kok! Ini apdet wkwk! Panggilin ajaaa, biar aku nikahin /wut.
Sougokara : lanjut min... ! saya baru review fanfiv anda... pair okikagu itu yg pqling saya greget apalagi pas di chapter 428 atau 458 yg si kagura dikira meninggal tuh.. kata" sougo kpd kagura itu sdh kelewatan dari sadis... :v
Elien-san : Ini sudah lanjut emang mereka greget(?). ahaha yang pas itu:v
Risuki Taka : Heyhooo! KYAAAAA! SUMFEH DAH AKU GEMES SAMA MEREKA! Manisss, tapi si okita jg nyebelin ga jujur sm diri sendiri *di bazooka si sadis* Mbaca ini rasanya kayak lanjutan anime aalinya sumpeh, jd ikut greget sm degdegan xD Ini tamatnya chap brp? Yosh, update kilat yaaak! Udh keburu pnasaran xD #plak
Elien-san : Haay! AH KAMU LEBIH GEMES /apa. Kamu juga manis /wut. Seorang sadis pasti susah mengungkapkan sesuatu xD. Kok gitu yak, anime aslinya kan ga ada romaannn. Ini tamat sekarang xD Sudah apdet yaakk jangan penasan mulukkk xD
Soralove45 : Hai, konnichiwa! Sudah lama aku ga review nih! (Disebabkan jarang buka fandom yg indo*plakk) Dan ternyata saat dibaca ulang dari awal sampai skrang, akhirnya sudaaah... JEJEENG mencapai klimaks! Gyaaaaaaahhhh XD Sempet sebel sih liat mereka acting terus, tapi akhirnya nyadar juga sama prasaan sndiri XD haha kasian bgt gin-chan dan shin bakal dipenggal, untung selamat ya fyuuhh. Wahaha inilah yang aku tunggu, adegan kisu okikagu lmao X) Ada lanjutannya kan inih? Muehehe next! Good job!
Elien-san : Konnichiwa! Gavavah kok xD Ini udah klimaks asli(?) GYYYAAAHH, akting itu perlu buat rumah tangga /apasih. ADEGAN KISU DITUNGGU?! Por wat? Ada kok, ini udah jadi wkwkwkk. Thank you!
Kirisinaicon19 : gomen baru bisa komen.. numpang ane lagi di warnet jadi bisa login ... :v dari dulu hingga sekarang hanya nih Fanfic yang paling ane GREGET dan Top JEMPOL ... p.s : dulu saya "silent reader" sekarang "coba2 nulis FFn juga" NEXT YA, AYUHA – CHAN
Elien-san : Gapapa kok. Mba, anda curhat? Cieee /apa. Alhamdulillah udah di greget dan top jempolnyaa terimakasiiihhh :D p.s : terimakasih sudah beralih mereview dari yang tadinya sr. Semoga fict mu bagooeess xD. Udah next kok, kirisinaicon-san!
Reyne Dark : Ano, aku kirang greget dengan ancmannya Sougo yang berkata, "Jika kau membuatnya canggung bla bla bla..., aku akan marah" ancamannya kurang berasa. Kenapa tidak, "... akan kupenggal kepalamu" begitu? Andaikan ini ada di anime kyaaa... TvT Aku tunggu next chapt
Elien-san : Entahlah, aku lebih suka dengan sosok laki-laki yang berbicara apa adanya, bukan memaksa memenggal gitu V.V aku suka kalo ada cewek dijahatin diancamnya "Aku marah lho~" wkwk rasanya tuh kayak ngajak "Beb, terbang yuk" /apaan/ /gaadahubungannya/. Suruh pihak anime buatin /?. Kyaa ini sudah apdet kyaaa..
Baiklah, segitu saja acara pembalasan review nyaa..
Entah kenapa semuanya pada ngomong GREGET melek /wat.
Terimakasih atas waktu yang hampir setahun ini ^^ baibaiiii~ sampai jumpa di cerita lainnyaa~
