.
.
.
Hana Yori Dango 3
THE NEXT GENERATION
.
.
.
Disclaimer
Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,
sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.
Written by ButaTokki and CamsaHead
Translated by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 10
Pada awalnya Sakura hanya menginginkan ini. Dia melakukannya dengan segenap jiwa, tapi bayangan Karin dengan tidak nyaman berkelebat dalam benaknya disertai memori tentang Sasuke yang meninggalkannya hari itu, dan hatinya mulai merasa sakit dan hancur lagi. Sasuke hanya memanfaatkannya, seperti sebelumnya. Dia menutup matanya erat, bibirnya masih melekat pada bibir Sasuke. Dia begitu ingin ini menjadi kenyataan.
"Sakura?" tanya Sasuke terengah-engah, sedikit menarik diri menjauh saat dia merasakan perubahan dalam diri Sakura. "Apa yang salah?" tanyanya, tetap mempertahankan kedekatan mereka. Sakura diam dan matanya tetap tertutup. "Mengapa kau tidak mau melihatku?" tanyanya lembut, berusaha menjaga suasana hatinya yang cerah, tidak ingin kekhawatirannya meletus ke permukaan. Dia takut itu akan membuatnya yakin bahwa memang ada sesuatu yang salah.
"Aku takut," kata Sakura tenang. Matanya masih tertutup.
"Terhadap apa?"
"Jika aku membuka mata, aku takut aku akan menangis. Jika aku berbicara, aku takut akan hancur," dia mengaku.
Sasuke menyapukan jari-jarinya di pipi Sakura yang lembut dan indah. "Mengapa kau takut akan begitu?"
"Karena kau memiliki Karin," jawab Sakura dan membuka matanya.
Air mata Sakura tumpah. Sasuke menatapnya bingung. Apa yang dia bicarakan?!
"Apa kaitannya Karin dengan ini?"
Sakura menatapnya dengan kaget. Dia tidak percaya Sasuke mengabaikan pacarnya sendiri seperti itu.
"Sasuke, bu-bukankah kau mencintai Karin?" tanyanya bingung. Mungkin dia melewatkan sesuatu.
"Tentu saja aku mencintainya."
"Lalu kenapa kau di sini?"
"Apa?! Apakah jika aku mencintai Karin aku harus melakukan sesuatu?"
Sakura menatap Sasuke bingung. Apa dia serius? Sasuke baru saja mengatakan di depan wajahnya bahwa dia mencintai Karin.
"Sasuke, kita tidak boleh melakukan ini padanya."
"Apa yang kita lakukan padanya?"
"Kita baru saja berciuman!" Sakura melonjak berdiri.
Sasuke mengikuti dengan bingung. "Dan bagaimana itu bisa mempengaruhi Karin?!" tanyanya.
"Sasuke, kau baru saja mengatakan bahwa kau mencintainya, tapi kau tega menyakitinya! Apa kau sengaja jatuh cinta untuk menyakiti orang?" Sakura berteriak dan Sasuke menatapnya seolah-olah dia gila.
"Apa?" Dia menatapnya, merasa sakit kepala. "Aku tidak tahu apa yang salah denganmu, tapi jika itu begitu mengganggumu, kita tidak harus memberitahunya. Selain itu, seharusnya aku tidak menciummu!"
"Kau akan memberitahunya?" Sakura menjerit marah. "Ya Tuhan, bagaimana kau bisa begitu sinis!"
Sasuke menatapnya, benar-benar tidak mengerti. "Kau tidak masuk akal. Dengar, aku tau kau panik karena merasa seolah mengkhianati Naruto, ta—"
"Siapa yang mengkhianati siapa di sini?! Bukankah kau satu-satunya yang mengkhianati Karin?" Sakura mendidih, benar-benar marah terhadapnya.
"Seperti yang tadi kukatakan, apa HUBUNGANNYA ciuman itu dengan Karin?! Itu bukan urusannya!" kata Sasuke, suaranya meninggi, benar-benar bingung tentang apa yang dimaksud Sakura.
"BERANINYA KAU! Bagaimana kau bisa begitu brengsek!" Sakura berteriak.
Amarahnya mulai meledak. Sakura merasa terluka oleh tindakan Sasuke dan dia begitu marah padanya.
"Oke, aku tahu aku bilang akan memberikanmu pada Naruto dan kita seharusnya tidak berciuman, itu mengerikan. Tapi Sakura, aku tidak bisa—"
"APA?! Sekarang kau bilang ciuman itu mengerikan?! Aku tidak percaya! Kau benar-benar keledai!" Sakura berteriak dengan air mata yang turun lebih deras. "Dan asal kau tahu, aku bukan objek yang bisa kau berikan! Aku punya pendapat sendiri dan aku punya perasaan, kalau-kalau kau belum sadar!" Dia membentaknya.
"Sakura, kau salah paham. Aku tidak bermaksud seperti itu," kata Sasuke, mendesah saat dia mencoba untuk menjangkaunya.
"Dan jangan berpikir kau masih bisa menyentuhku! Pergi sana!" Sakura berteriak dan melangkah lebih jauh darinya.
"Apa yang terjadi di sini?! Suaramu bisa terdengar sampai ke pesta!" kata Naruto, berhenti beberapa meter dari keduanya, masuk ke dalam adegan itu. "Sakura," katanya sambil melihat tangan Sakura menutupi wajahnya dan berpaling dari Sasuke, menangis begitu keras. "Apa yang terjadi?" Naruto bertanya saat dia memeluknya.
Sasuke melihat Sakura dengan senang hati menerima pelukan itu dan dia merasa terluka. Mungkin dia pantas mendapatkannya, tapi tidakkah ciuman itu berarti untuk Sakura? Sasuke mengepalkan tinjunya. Tentu saja itu bukan apa-apa bagi Sakura, mengapa hal itu harus berarti sesuatu baginya. Sakura toh punya Naruto. Dia sendiri yang telah menyerahkan Sakura kepada Naruto di atas piring perak. Dia tidak bisa mengharapkan Sakura untuk merasa apa pun selain jijik dan menyesal.
"Tidak ada," kata Sasuke pelan. "Aku... hanya suka membuat kesalahan."
Cara Sasuke mengatakannya bagi Sakura terdengar seakan menciumnya adalah sesuatu yang disesalinya, seolah-olah Sasuke mengatakan bahwa dia adalah sebuah kesalahan. Dia berbalik untuk menatapnya sejenak. Kesalahan... Apakah itu arti dirinya bagi Sasuke? Sebuah kesalahan?! Apakah selama ini begitulah arti dirinya? Sakura marah pada dirinya sendiri karena percaya mungkin Sasuke masih mencintainya atau percaya dia pernah mencintainya. Dia merasa tangannya terkepal dan kemudian meninju wajah Sasuke. Karin dan yang lainnya tiba tepat pada waktunya untuk menonton.
"OH MY GOD!" Karin menjerit, bergegas ke arah Sasuke.
"Sakura, apa sih yang kau lakukan?" Ino bertanya ngeri.
"Kau lihat, itulah mengapa aku tidak akan mendekatinya saat menggunakan gaun," kata Sai.
Ino berbalik dan memberinya tatapan 'tutup mulut'.
"Aku... membencimu," kata Sakura, suaranya rendah dan tenang tapi air mata jatuh dari matanya saat dia menatap Sasuke.
Semua orang diam. Sasuke merasa hatinya hancur.
"Oi, chotto matte, Sakura," kata Naruto, meraih tangannya.
Naruto tahu Sakura berbohong. Memang begitu, tapi mungkin... setelah semua rasa sakit yang disebabkan Sasuke, Sakura akhirnya kehabisan kesabaran akan cinta yang dia miliki.
Sasuke menunduk. Pikirannya mati akan seluruh dunia. Dia merasa begitu kosong dan terluka, lebih dari malam saat ibunya meninggal. Ini lebih menyakitkan, karena ibunya tidak punya pilihan selain meninggalkan dia. Dia tidak punya kontrol. Sasuke menyadari bahwa dengan berlalunya waktu perasaan itu akan berlalu pula. Tapi dengan Sakura... benar-benar berbeda. Dia bisa mencegahnya dan memikirkan bahwa ini adalah pilihan Sakura sendiri untuk membencinya. Dia merasakan sakit karena perasaan tertolak yang familiar mencakarnya.
"Sakura, apa yang terjadi?" Naruto bertanya lagi dengan lembut, takut Sakura akan hancur dengan cara yang sama seperti yang tampak pada Sasuke.
"Tidak lebih dari apa yang kau harapkan," jawab Sakura dan pergi.
.
.
.
TBC
.
.
.
Author's bacot area
Waaaaaaaa, gomen ne minna. Author baru sempet posting lagi, pendek pula. Terlalu sibuk sama dunia nyata sampe-sampe lupa dunia kita. Wkwkwk.
Balasan review
Shindymajid : Sayangnya masih jauh. Hehe. Sabar ya.
JungYH and Guest : Wah tengkyu. Stay tune ya.
zeedezly_clalucindtha : Tengkyu, ini sudah lanjut.
caesarpuspita : Bisikin aja Sasukenya, biar gak lemot. Hehe.
azizaanr : Yang nanggung-nanggung malah makin seru kan. Wkwkwk.
suket alang alang : Iya, bener banget. Itu Domyoji Tsubaki.
Akhir kata, keep reading ya :)
