Marfa aully : AAAAH! SELESAAI? SELESAI?! KENAPA SELESAAAI! SAYA TAK RELAAA! /nangis guling-guling/ baru tau sougo bisa sakit juga ternyata, ya... gak nyangka, kagura yabg kekuatannya kayak bulldozer lepas rem itu bisa ngerawat juga ya? /dibacok okikagu/ Elien-chaaan bikin okikagu yang laiiiiin... aku mohon... huaaa... SOUGO JADI ROMANTIS! APA APAAN SOUGO JADI ROMANTIS! BAHKAN KAGURA MEMANFAATKAN BAKAT SI PENGISI SUARANYA SEBAGAI TSUNDERE YANG SELAMA INI DISIA-SIAKAN! CINTA ITU MENGERIKAN! Hijibaka-san, kalau mau kencan sama gin-chan jangan nelpon ke yorozuyanya langsung, ngapel aja langsung ke yorozuyanya... /diseppuku hijikata/ ya... kayaknya segini aja... elien-chan... aku akan merindukanmu... TT

Elien-san : IYA SAYANG SUDAH OWARI {} RELAKAN PEUISSS :* Sama, aku juga baru tau mereka bisa kayak gitu /ditabrak okikagu/ Mau bikin OkiKagu yang lain tapi gavunya ide bwat merekaahh TT SOUGO ROMANTIS KAANN 3 SSST PENGISI SUARA-SAN NTAR DATANG /wat. Hijikata: SIAPA YANG MAU KENCAN SAMA MAKHLUK KERITING SEPERTI DIA?! Oke, terimakasih sudah mau membaca dan ngikutin fanfict butut ini ;-; Aku akan merindukanmu juga {}

sougokara : lanjutin min... :v

Elien-san : Baiklah '-')7

Soukagu : endingnya gantung aru! Butuh sequel aru!

Elien-san : Okeh.

Soralove45 : Aaaaaaaaaaaaa..! Ini sudah end? Serius? BENARKAH?! Sougo yg lagi sakit emang hot,gimana Kagura gak kecantol XD dia jadi romantis sosweet gitu! Aku suka hahahaha. Aku gak rela bgt ini udah abis! Please bikin okikagu lagi atau sequelnya huhu. Ok good job author-san :3 mau lagiiiiiiiiiiihh

Elien-san : IYAA SAYANG {} HOT banget kan yak, aku aja kecantol xD /apa. Relaiinn peuwiiss ;-; Baiklah bebbzz. Terimakasih sudah mau baca xD baiklahh..

P.s : Sesuai janji sewaktu ch. 11. Saya akan membuat isi hati sang Sougo dari ch. 1 sampai ch. 11 jika ada yang minta 3 orang. Dari review kalian. Baiklah, ch. 12 ini spesial untuk kalian yang sudah mengikuti fict abal 3 ENJOYYY!

.

.

.

A Gintama Fanfiction

Gintama © Sorachi Hideaki

Fanfict Love For Nothing © Ayuha

Okita Sougo x Yato Kagura

Romance – Humor (Tapi nggak yakin)

Warning : AU, [mungkin] OOC, miss, typo(s), Gaje deh, juga disetiap pemikiran/sang karakter sedang membatin, tulisannya pasti akan di italic.

[SPECIAL OMAKE] Love For Nothing

P.s: Pemikiran Sougo akan di italic-bold sambil diberi petik dua (").

.

.

Don't like? Don't read..

Chapter 1.

"China?" lelaki bertampang shota itu terkajuit, eh, terkejut ketika melihat gadis yang ia sebut 'China' tersebut tiba-tiba sudah berada di depannya dan dengan napas yang terpenggal-penggal.

"Sadis..hah..hah..." gadis berambut orange itu masih sibuk mengatur napasnya, pipinya terasa panas dan memerah. "Hah..hah..Aku..menyukaimu!" mata lelaki Shota itu langsung melotot tak percaya. Bibir tipis lelaki itu pun tampak sedikit mengangga.

Eh?

Are?

He?

Si China suka padaku?

Uso!

"Apasih yang mau kau bicarakan?" si shota itu masih menganggap gadis ala China itu datar sembari melihat ke arah selain gadis China itu. Napas gadis orange itu sudah mulai teratur walau pipinya masih panas dan memerah. Sekilas, cowok shota itu memperhatikan pipi si China yang memerah—yang ia kira kalau si China itu sedang malu.

Eh?

Tapi pipi si China itu memerah.

Heh?

Si China itu menarik kerah baju si Shota.

China—Kagura langsung menarik kerah baju si shota—Sougo dengan kasar. Namun tatapan Sougo tetap tidak melihat ke arahnya. Kagura muak dibeginikan. Ntah setan darimana yang membuat Kagura memegangi pipi Sougo dengan kedua tangannya dan membelokkan wajah Sougo agar melihat ke arahnya.

"Lihatnya ke arahku, dasar sadis!" Kagura malah memarahi Sougo. Sougo pun mau-tak-mau melihat wajah Kagura. "Sadis.." Kagura memenggal kalimatnya. "..Kimi no koto ga suki dakara!" Kagura mencoba memperjelas ucapannya tadi.

Kagum sejenak. Itulah yang dipikirkan Sougo. Kagura sudah tersapu, eh, tersipu. Sougo masih takjub tak percaya hingga bibirnya sedikit membuka kembali.

Hening sesaat.

"Aku tak percaya kalau kau..." Sougo memenggal kalimatnya dan Kagura menjadi tidak sabar untuk mendengar pernyataan yang sebenarnya. "Aku tak percaya kalau kau bisa menyanyikan lagu AK*B48," Sougo sedikit mengulangi katanya barusan dan langsung mendepak kedua tangan Kagura dari pipinya, lalu berjalan meninggalkan Kagura.

"Eh?" Kagura yang masih shock, belum bisa mencerna kalimat Sougo. Dan..

"SADIST BASTARD! TEMEE!"

...Kagura menendang kepala Sougo dari belakang hingga Sougo memuntahkan darah.

"Si China bodoh itu. Apa yang sudah ia pikirkan terhadapku. Datang tak diundang dan langsung mengatakan kalau ia menyukaiku. Apa dia tak pernah mengerti betapa terkejutnya aku? Kupikir dia akan seperti biasanya. Melangkahkan kaki padaku dan menghantam tubuhku. Tapi apa yang sedang ia pikirkan saat itu? Membuatku kalut."

~LFN~

Chapter 2.

"Oi, laki-laki tampan di sana," Shinpachi langsung memanggil lelaki itu. Dan lelaki itu menoleh karena merasa dirinya dipanggil.

"Shimura-san?" laki-laki itu tetap datar.

"KAGURA MENANGIS KARENAMU!" Shinpachi mulai mengancang-ancang agar bisa berlari dan menghajar laki-laki di hadapannya. Usahanya hampir berhasil kalau...

"OTAEEEEEE-SAAAANN!" ...gorilla jejadian itu tidak terbang dan menghantam tubuhnya hingga terkapar dan K.O di tempat.

"Kondou-san?" laki-laki yang memang sedari tadi berduaan dengan perempuan di sampingnya itu pun men-notice(?) kalau gorilla terbang itu sebenarnya adalah Kyoukuchou.

"Ah, Sougo. Ngapain kau di sini?" gorilla atau kita panggil saja dengan Kondou, bertanya balik kepada Sougo.

"Aku sedang mengantar nenek ini menuju halte depan," ujar Sougo datar sembari menunjuk halte bus yang tinggal satu meter lagi.

"Shimura no otouto itu mengatakan padaku kalau si China bodoh itu menangis karenaku. Heh, kenapa? Apa aku salah karena mengatakan dia bisa menyanyi lagu AK*B48? Salahkan dirinya sendiri kalau mau disalahkan, bodoh. Siapa yang menyuruhnya membuat jantungku berdebar ketika dia menyatakan suka."

~LFN~

Chapter 3.

"Ketika melihat surai oranye itu, aku teringat kembali kepada wajah bodoh si China dan hal bodoh yang telah ia katakan padaku."

"Oi.. ada yang bisa dibantu?" Suara itu.. SADIS?! Kagura membatin. Di dalam batinnya ia meronta-ronta. Ah, ia enggan berbalik untuk melihat wajah itu. Sangat tak ingin. "Kalau ada yang bisa dibantu, silahkan tinggal bilang," tangan kekar lelaki itu berhasil membalikkan tubuh Kagura. Kagura memang sudah menghadap lelaki itu, tapi ia tak menatapnya, melainkan menunduk yeah bisa dibilang menatap tanah. Bodoh, mengapa aku jadi malu seperti ini? Mengapa aku seperti gadis yang mau menyatakan cinta, aru? Begitulah batinnya Kagura.

Tangan kanan lelaki itu memegangi tengkuk wajah Kagura dan mengangkat wajah Kagura agar mau melihatnya—namun sangat extreme—wajah Kagura menengadah seutuhnya, SEUTUHNYA! Lehernya hampir copot. Kagura mencolok kedua mata lelaki itu dengan jari telunjuk dan tengahnya.

"HORA! Oi teme, apa kau tak tahu betapa sakitnya leherku, HUH?!" Kagura malah mau mengajak berantem orang yang sudah tepar di tanah sembari memegangi kedua matanya dan berguling-guling akibat kesakitan. Lelaki itu bangun, "Kau yang teme. Mataku sakit keduanya, bodoh!" Lelaki itu hanya menampakkan sebelah mata merahnya.

"Ternyata bingo. Anak yang memiliki rambut oranye itu ternyata benar. Memang si China bodoh. Lalu, apa maksudnya berdiri di depan markas Shinsengumi sembari berdandan ria bagaikan kesamber petir? Biarkan sajalah aku mengikuti permainannya."

Shinpachi dugem di pohon. Ia benar-benar tak percaya kalau Kagura dan lelaki itu bisa berantem di saat-saat seperti itu, "Ah Kagura-chan, mungkin kau salah target," Shinpachi benar-benar dibuat jadi kalem.

Gintoki dengan polosnya kembali melempar Kagura dengan kaleng bekas. Kagura langsung ingat apa tujuan ia ada di sana.

Lelaki berparas shota itu langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan obat mata ins*to supaya matanya tidak perih lagi, "Kau ada di depan markas Shinsengumi. Jadi ada masalah apa kau disini?" pertanyaan terlontar dan Kagura membisu. Ia tak tahu harus menjawab apa. Keringat dingin tiba-tiba mengucur deras dari tubuhnya. Wajahnya juga menunjukkan kalau ia was-was. Eh, tunggu dulu. Jangan-jangan, si sadis ini tak kenal aku? Akibat pemikiran yang tak sengaja lewat itu pun, Kagura bisa memulai pembicaraan.

"Kau tak ingat padaku?" Kagura bertanya sesuai pemikirannya barusan.

"Sepertinya menarik jika mengikuti permainannya, hehe. Lebih baik aku berbohong saja."

Lelaki shota itu menatap Kagura datar dan berkata, "Tidak," perkataannya sama datarnya dengan wajahnya. Kagura langsung tertawa. Tawa BAHAGIA. Ia tertawa sekencang mungkin. Tiba-tiba buah mangga masuk ke dalam mulutnya membuat ia tersedak. Dengan air mata yang bercucuran—tentunya karena tersedak—Kagura melihat ke arah atas. Oh, Shinpachi tengah menatap Kagura dengan tatapan 'jangan-membuang-banyak-waktu'.

Gawat, setelah pertanyaan 'kau tak mengingatku,' tak ada lagi sesuatu topik yang mengganggu pemikiranku. Bagaimana ini.. Ujar Kagura dalam hatinya.

"Sepertinya anak bodoh ini perlu dibantu untuk mengatakan sebuah topik."

"Memangnya kita pernah kenal? Kau siapa?" pertanyaan lelaki sadis itu langsung membuat pemikiran Kagura connect, "A..aku—ehkm. I'm is your girlfriend a long time ago," Kagura dengan bangganya melontarkan bahasa elien. Membuat lelaki shota dihadapannya menatapnya datar seperti '(-_-)'. Gintoki speechless di tempat. Ia menepuk jidatnya dengan tangannya sendiri. Berbeda dengan Shinpachi yang menepuk jidatnya dengan pohon yang tengah ia naiki.

"Kurasa aku menyesal karena sudah ingin ikut dalam permainan bodohnya."

"Gawat Gin-san, kalau begini caranya, Okita-san akan ilfeel ke Kagura, roger," kali ini Shinpachi lah yang mengirim sinyal.

"Sepertinya memang begitu, Shinpachi-kun. Kalau begini, its time for hero," aba-aba itu berhasil membuat Shinpachi tertegun kemudian melompat turun dari pohon. Gintoki pun keluar dari semak-semak dan dengan gesitnya ia membawa Kagura bagaikan sandera.

"Yo, bocchan. Gadismu cantik juga.." dengan suara yang dibuat beda dengan suara miliknya, Gintoki menyandera Kagura, "Kami tidak perlu gaya sok pahlawanmu sekarang. Kami hanya ingin kau mengaku. Apa yang kau pikirkan tentang dia?" kali ini Shinpachi yang bersuara.

"Karena aku sudah menyesal. Lebih baik berkata jujur tentang gadis sok keren ini."

Lelaki shota itu hanya mendengus kemudian membuat wajah yang menjijikkan, "Dia sangat menyebalkan.." Kagura langsung melempar sepatu high heels-nya ke arah lelaki itu namun tak kena, "Sangat menyebalkan," lanjut lelaki shota itu sembari memasuki markas Shinsengumi.

Kagura langsung berteriak, "Kau yang menyebalkan!" lelaki shota itu dengan spontan mengambil langkah mundur dan berkata, "Dan dia sangat berisik," senyuman langsung mengembang di wajah lelaki itu.

"DIAM KAU SADIST BASTARDD!" Kagura akhirnya membuka identitasnya. Gintoki dan Shinpachi tak sempat menutup mulut Kagura dan mereka bertiga hanya berpikir, gawat, kalau begini ketahuan deh..

"HAH?! JADI ITU KAU?!" lelaki shota itu langsung berhamburan ke arah Kagura sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kagura.

"Ohisashiburi danna, Kaguracchi," are? Mereka tak salah dengar 'kan? 'cchi'?

Yosh! Itu bisa jadi pemikiran yang bagus! Aku hanya perlu teriak 'Diam kau sadist bastard' dan semuanya akan sama seperti pemikiranku. Anak sadis seperti dia pasti akan bertindak seperti itu—ittai!

Ternyata Gintoki menjitak kepala Kagura, "Seperti itu, ndasmu! Dia gak akan mungkin mau melakukan hal seperti itu. Oi, Shinpachi, kau yang urus Souchiro-kun itu," Shinpachi mengangguk namun laki-laki shota itu tiba-tiba mengambil langkah mundur dan kembali menampakkan diri ke hadapan trio Yorozuya itu.

"Mereka bertiga itu bodoh atau idiot? Dengan entengnya mereka membuka penyamaran seperti itu."

"Souchiro janai, Sougo desu."

.

"Ano, Sadi—O..oki..okita?" Kagura sepertinya sangat susah payah hanya untuk mengatakan kata 'Okita'. Namun, Sougo malah tertawa, "Sejak kapan kau memanggilku dengan namaku, China?" Kagura langsung memegang wajah Sougo dan melemparnya persis seperti adegan di episode 77.

"Sebenarnya hatiku kalut sejenak ketika dia tiba-tiba memanggilku dengan namaku. Tak seperti biasanya. Karena aku ingin bertingkah dengan normal, aku hanya bisa tertawa mendengarnya."

.

"Apa yang kau lakukan, China?" Sougo langsung berjalan menuju Kagura dan menempelkan keningnya di kening Kagura seperti mau mengajak berantem, "Ah, ano, ja-jangan me-menempelkan ke-ke-keningmu seperti i-itu, i-ini me-membuatku ma-malu," Kagura berkata diselingi oleh blushing dan kata-kata itu sukses membuat Sougo tertegun sejenak, namun..

"Baiklah aku jujur. Diriku memang tertegun melihat si China bodoh yang menyebalkan itu tampak i? Imut?"

"LIKE A HELL I WILL SAY LIKE THAT!"

Badannya kembali dilempar oleh Kagura dengan sadisnya.

"Namun sekali lagi, aku menyesal. Menyesal karena telah menganggapnya imut."

~LFN~

Chapter 4.

"Oi, teme! Maksudmu apa, hah? Kenapa kau datang kemari dan malah membuat kepalaku ada benjolan begini, hah?!" lelaki itu berteriak-teriak di depan gadis itu. Gadis itu langsung menurunkan tangannya—yang tadinya menutupi mulutnya—dan berkata, "Ah, gomenne, Okita-kun, aru," laki-laki—Okita—itu pun kembali tertegun.

Okita memandangi wajah gadis fashionista itu dengan mata yang melotot tak percaya. Sebuah kata hendak ia ucapkan—terlihat dari bibirnya yang mulai membuka—namun pandangannya malah menurun—memandangi tanah.

"Sial," celetuk lelaki itu tiba-tiba. Ia langsung bangkit dan beranjak dari tempatnya duduk tadi. Gadis oranye itu memasang tampang penuh tanda tanya.

"Kalian tahu mengapa aku tiba-tiba berkata 'sial' dan beranjak? YA! ITU BENAR! ANAK ITU MANIS SEKALI KETIKA MENGATAKAN 'Ah, gomenne, Okita-kun'! dan apa-apaan dengan suffix –kun setelah mengatakan namaku? Dia yang bodoh atau aku yang idiot? Aku benar-benar tidak mengerti mengapa diriku begitu kalut dibuatnya."

~LFN~

Chapter 5.

"Selesai membeli cake untuk mengganjal perut, aku melihat sosok lelaki yang selalu dianggap kacamata itu tengah grasak-grusuk kebingungan di luar kafe host club sana."

"Are? China no musume?" Dan ia pun menyadari keberadaan Kagura di sana, "Shimura-san, apa kau?" Okita bertanya sambil menunjuk ke arah Kagura yang sedang duduk dan Shinpachi langsung mengangguk dan berbisik.

"Ntah mengapa rasanya senang bisa melihat wajah si bodoh itu di tempat yang seperti ini."

"Okita-san, kumohon! Untuk saat ini saja, kau bisa meminta bayaran apapun saja, asal kau mau membantuku membuat kencannya Kagura berhasil," Shinpachi memohon bantuan kepada Okita dan Okita tersenyum menyeringai.

"Shimura no otouto memberikanku pilihan untuk menolong si bodoh itu dan bayarannya adalah apapun. Aku cukup menyeringai tajam, bagaimana tidak? Aku bisa saja menjadikan gadis bodoh itu budakku untuk dua minggu ke depan. Ngomong-ngomong soal budak, kenapa tak aku lakukan saja?"

.

Okita langsung duduk di sebelah Kagura, "Yo gadis China, mau ke ranjang?" pertanyaan itu membuat empat sudut siku-siku muncul di kepala Kagura dan Shinpachi hanya bisa face palm saja melihat semua itu.

"Ah, aku yakin kau tak mau, aku juga sih sebenarnya tak mau karena badanmu terlalu anak-anak," Twitch, sudut itu bertambah lagi.

"Bagaimanapun juga, aku tidak mau meniduri anak-anak yang sangat kekanak-kanakkan ini," twitch twitch twitch, sudut itu bertambah tiga kali lipat.

"Kau tahu tidak? Lucu sekali bisa melihat wajah manis itu ditempeli oleh perempatan jalan. Dan saat itu ia tidak memarahiku, aku pun semakin jail mengatakan hal-hal yang membuatnya semakin menggemaskan."

"Oi kau! Aku sedang berkencan dengan Kagura-san! Kalau kau mau membawanya pergi itu berarti kau harus melawanku!" baka oji membuat Kagura tertegun sejenak.

"Ceh. Kuakui sikap sok pahlawannya makhluk itu membuatku ingin muntah."

"Yeah, lagian, kalaupun pergi ke ranjang, sudah jelas kalau Kagura-san akan pergi bersamaku!" TWITCH! Kagura langsung memukul kepala baka oji itu hingga pingsan dan tiba-tiba saja Okita langsung meraih pergelangan tangan Kagura dan menariknya keluar host club.

"Terimakasih gadis bodoh, kau telah memukulnya hingga pingsan. Karena jika tidak kau lakukan, mungkin saja aku telah membunuhnya karena perkataan yang ia ucapkan sebenarnya membuat rahangku mengeras dan telingaku pun tak sudi untuk mendengarnya. Dari pada berkalut, dimana ada kesempatan, disitu ada jalan. Tujuan aku meraih pergelangan tanganmu dan membawamu lari ya tak lain tak bukan untuk menjauhkanmu dari makhluk astral itu, berterimakasihlah padaku."

.

"Oke, oke, aku mengerti. Silahkan saja kau marah, tapi aku tak bisa membiarkanmu bersama makhluk aneh itu," langkah Kagura terhenti, kakinya jadi membeku mendengar perkataan aneh yang keluar begitu saja dari mulut lelaki itu.

Sougo lalu menghampiri Kagura dan tersenyum seimut-imutnya, "Aku tidak suka kau bersamanya, Ka-gu-ra-chan," dan berlalu meninggalkan Kagura yang masih mencerna kalimat yang dilontarkan oleh Sougo tersebut.

"Aku memang tidak suka melihat gadis bodoh yang menjadi rival-ku itu bersama orang lain. Sangat tidak suka."

"Karena kalian akan menyebabkan kombinasi yang buruk, sebagai polisi, aku tidak ingin berkonsultasi dengan keluarga yang aneh—huaks," dan tendangan ala Kagura pun sukses mendarat di kepala Sougo.

"Mungkin kau akan marah jika alasannya adalah 'karena kalian akan menyebabkan kombinasi yang buruk' sebenarnya aku memang tak tahu harus memilih alasan apa, karena pemikiran tidak suka itu langsung saja terlontar dari mulutku. Dari pada membuatmu ge-er dan sebagainya, lebih baik menggodamu saja."

Sougo mengelap darah yang keluar dari mulutnya dan tersenyum, "heeeh."

"Aku meng-heeeh ria karena aku suka melihat wajahmu yang sok tsundere itu. Jujur saja kau menyebalkan ketika berlagak tsundere seperti itu. Namun tingkat manismu meningkat."

.

"Ossu, danna, kau masih hidup?" tanya seorang laki-laki shota yang baru saja menembakkan bazooka ke arah para Yorozuya.

"Daripada aku kesal melihat gadis dungu itu bersama makhluk astral. Lebih baik aku minta saja gadis itu jadi babuku selama dua minggu. Agar dia terbebas dari genggaman makhluk yang sok keren itu."

"Aku meminta untuk menjadikanmu maid-ku selama dua minggu, China."

~LFN~

Chapter 6.

"Baiklah, baiklah-aru. Walau ini hanya karena imbalan yang SAMA SEKALI tak aku setujui-aru, bukan berarti aku bisa menolaknya-aru," Kagura sedikit mendengus sebal.

Tampak mulut dari Sougo melengkung ke atas dengan angkuhnya, ia tersenyum kemenangan, "Baiklah, kujemput kau besok pagi," katanya sembari berjalan keluar.

"Aku menang. Aku bisa membuatnya menjadi mainanku untuk dua minggu kedepan. Lihatlah, betapa lucunya wajah sebalnya dia. Lebih baik aku godai dia kembali."

"Jangan lupa, harus seksi," dan tendangan Kagura pun sukses membuatnya pingsan seketika.

.

Ia pun menaikkan kacamatanya—yang tak melorot sedikitpun—lalu berjalan dan duduk di samping lelaki shota, "Apa kau sudah merasa baikan, Okita-san?" sapanya dengan menanyakan kabar lelaki shota—Okita atau kita anggap Sougo.

"Aku sudah menyuruh maid-chan mengambiliku minuman, tapi dia belum kembali, itu yang membuatku sebal," jelas Sougo sembari memecahkan botol obat di sampingnya.

'uh, aku bertanya kabar dia menjawab tentang Kagura-chan. Dan apa-apaan dengan memecahkan botol obat? Dia pikir obat itu murah?! Mahal oi mahal! Biar kutagih Shinsengumi sehabis ini,' lelaki berkacamata atau kita anggap Shinpachi itu membatin sembari menunjukkan aura gelap, ntah datang dari mana aura itu.

"Mungkin dari kalian akan berpikiran yang sama dengan Shinpachi. Menanyakan kabar dan aku menjawab tentang si bodoh itu? Itu karena aku ingin sekali mendapati perhatian darinya. Namun, kurasa nihil. Aku merasakan aura tikus disini."

.

"Kuh, bohong. Wajahmu memerah," dan Kagura mendelik sejenak,"Tenang sajalah. Perasaanmu itu terbalas kok," Kagura pun menatap Sougo dengan tak percaya, "Aku juga menyukai," dan perkataan itu membuat Kagura benar-benar membulatkan matanya, "Diriku."

"Aku jujur loh tentang perasaanku. Aku juga menyukai diriku kok. Perasaan yang sama dengan perasaan si China bodoh itu, 'kan? Berarti perasaan dia terbalaskan karena aku memiliki perasaan yang sama dengannya, yaitu menyukai diriku."

"Kalau kau tak suka ya sudah, aru! Pergilah bekerja, aru!" teriaknya tak mau kalah, namun Sougo memegangi pergelangan tangan Kagura.

"Tidak. Lebih baik menghabisi waktu bersamamu," dan menyeringai kemenangan atas wajah terkejut Kagura.

"Aku memang lebih suka bersamanya daripada kerja. Munafik jika mengatakan kerja lebih menyenangkan dibandingkan memainkan mainanku ini."

.

"Tenang, aku dan kau 'kan rival. Tak akan pernah bisa bersatu. Tapi selalu bertemu."

Kagura masih tak mengerti tentang apa yang diucapkan oleh Sougo.

"Intinya, aku ingin ramen yang kau buat."

"Mungkin bodoh ucapan yang kukatakan itu. Tapi sungguh, aku ingin ramen buatannya. Dan maksudku, aku dan dia adalah rival, selalu bertemu walau tak diinginkan. Jangan berpikiran macam-macam, ya."

"Shakhit thahu, ghoushujin-shamha."

Dan Sougo pun tersenyum menang.

"Aku tersenyum menang karena aku merasa menang bisa mendapatkan wajah imut gadis yang selalu membuatku muak itu sembari mengatakan 'ghoushujin-sama' padaku."

~LFN~

Chapter 7.

"..Chi-na?" matanya Sougo membulat seketika. Diri gadis yang sedari tadi menanyakan kabarnya kini berada di depannya.

Kagura—gadis itu pun langsung membantu Sougo untuk berdiri, "Kenapa kau?" Sougo malah bertanya dengan penuh tanda tanya karena ia sangat tak percaya akan hal itu.

"Aku tidak percaya ketika gadis bodoh itu tiba-tiba menolongku yang sedang diambang maut. Aku pikir gadis itu sama sekali tidak memerdulikanku. Namun, fakta telah memutarbalikkan pemikiranku padanya kini."

.

"Ada apa?" tanyanya, namun Sougo malah menggeleng dan melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Kagura.

"Tanganku refleks memeganginya walau aku tidak tahu harus berkata apa. Apa yang sedang terjadi padaku?"

"Kagura, aku memimpikan kakakku," mata Kagura membulat sempurna, bukan karena apapun tapi karena nada suara Sougo tampaknya lemah sekali. Juga ia baru pertama kali mendengar kalau Sougo memanggilnya dengan namanya. Ia pun langsung membalikkan badannya agar menghadap ke arah Sougo—walaupun berjarak satu meter.

"Aku mimpi dia datang, namun pergi lagi," Sougo tidak menunduk, ia tetap pada posisi duduknya, namun pandangannya terkesan hanya lurus ke depan. Ntah mengapa, kaki Kagura terburu-buru ingin berada di samping Sougo sehingga ia tersandung batu, untungnya dengan sigap Sougo memeganginya agar tidak jatuh. Mata mereka bertemu.

"Aku tidak mengerti mengapa aku bisa dengan entengnya mengatakan hal penting yang selalu terngiang-ngiang dibenakku itu kepada seorang Kagura? Gadis China yang bodoh?"

"Tidak. Hanya saja aku baru bercerita padamu di sepanjang hari ini," hal itu malah sekarang membuat Kagura terdiam.

"Ke-kenapa?" tanya Kagura canggung.

"Entahlah, siapa yang tahu," hal itu membuat Kagura rada kesal, namun tak ia gubris rasa kesalnya saat itu.

"Bukan hanya gadis bodoh itu yang kaget dan canggung karena baru dia yang aku ceritakan hal itu. Aku pun merasakannya. Ntahlah, siapa yang tahu kalau aku mengatakannya hanya padanya. Apa yang terjadi padaku saja aku tidak mengerti."

"China.." Sougo memanggil Kagura dengan panggilan seperti biasa, "..Ini pedih rasanya," sambungnya dengan nada yang sangat lemah, membuat Kagura tiba-tiba langsung menempelkan tangannya di pipi Sougo yang membuat Sougo kaget.

"A-apa? Apa-apaan kau?" tanya Sougo yang masih merasa kaget.

"Kaget, kalut, gundah, menyelimutiku. Namun kegundahan teramat menyelimuti ketika tangan mungilnya berada pada pipiku. Aku tak mengerti, mengapa aku segundah ini ketika merasakan hangatnya tangan mungil itu."

"Kau begitu buruk hari ini.." Kagura lalu melepaskan tempelan tangannya pada pipi Sougo. Ia kemudian berlalu, "..Setidaknya itu hadiah dariku biar kau tidak begitu buruk lagi," lalu akhirnya benar-benar meninggalkan Sougo.

Sougo melihat Kagura berlalu dalam diam, namun tangannya ia tempelkan pada pipinya yang tadi ditempelkan Kagura—dengan tangan Kagura—lalu tersenyum.

"Tapi, terimakasih padanya. Aku baikkan."

~LFN~

Chapter 8.

"Rasanya diriku melihat gadis yang membuat gundahku hilang kini diselimuti gundah."

"Hanya gadis bodoh yang tidur di tempat seperti ini," suara itu membangunkannya dari pemikirannya tadi. Ia pun langsung membuka matanya dan terlihatlah wajah shota yang sedang menatapnya.

.

"SADIS BODOH! SANGAT BODOH! TAK ADA YANG LEBIH BODOH DARI PADA SI SADIS INI!" ketika Okita baru sampai di samping Kagura, Kagura langsung berteriak seperti itu dan langsung menonjok pipi mulus Okita dengan amarah yang membuat Okita terjatuh lagi.

"A-ada apa dengannya?"

Okita dalam jatuhnya hanya tertegun melihat Kagura seperti, rapuh?

"Sadis bodoh!" ntah mata Okita yang salah atau memang benar kalau Kagura, menangis?

Cairan bening yang keluar dari matanya itu terus mengucur yang menyebabkan isakan.

"Sadis, hiks, bodoh! Bodoh sekali, hiks! Kenapa oi, sadis, hiks!" Kagura kemudian berjalan menuju Okita yang setengah duduk dan langsung meraih kerahnya Okita. Ia meremas kerah Okita dengan kuat. Tangannya memberontak di sana.

Okita hanya tertegun melihat hal itu. Lidahnya kelu untuk berucap. Sedangkan Kagura, wajahnya sudah bergelimang air mata yang membuatnya hancur.

"Aku tidak mengerti."

"Sadis, kenapa, hiks," Kagura terisak dan terus memberontakki kerah baju Okita yang membuat Okita menundukkan kepalanya.

"Apa yang gadis ini pikirkan."

"Kenapa sadis kau tidak—," perkataan Kagura teredam oleh bahu kekar Okita. Dirinya terdekap dalam pelukan Okita yang sedari tadi belum melancarkan aksi apapun. Okita mendekap Kagura dengan tangan kanannya, namun dalam. Membuat Kagura tak bisa berbicara lagi.

Mata biru Kagura sudah melotot sejak tadi, ia tak tahu jika Okita akan berbuat hal hangat ini. Kagura pun membenamkan matanya dalam kelopaknya, meresapi aroma bahu Okita. Kagura pun bergerak, hingga bibirnya mencapai daun telinga Okita.

"Kumohon, cintailah aku."

"Aku benar-benar tidak mengerti."

~LFN~

Chapter 9.

"Baka," suara menyebalkan itu keluar begitu saja dari bibir tipis pemuda yang tengah mendekap seorang gadis. Pemuda itu langsung melepaskan dekapannya yang tadinya dalam sekali.

Ketika wajah mereka berhadapan, sang pemuda berkata, "Kau pikir aku memelukmu karena sengaja?" dan itu membuat gadis dihadapannya sedikit kecewa, dalam hati.

"Untuk apa aku melakukan hal yang tidak ada keuntungannya bagiku?" jelasnya kemudian.

"La-lalu? Untuk apa kau melakukan itu padaku, aru?!" geram gadis Yato tersebut yang bernama Kagura.

Senyuman sadis muncul di sudut bibir lelaki shota yang bernama Sougo itu.

"Ah? Hanya terbawa suasana, mungkin," jelasnya lagi sembari berdiri dan mencoba untuk meninggalkan Kagura sendirian.

"Terbawa suasana, ya. Alasan yang klise. Namun alasan klise itulah yang cocok kuucapkan saat ini. Dan kini aku mengerti apa yang membuatnya menangis dan minta dicintai. Ia memaksaku dengan acting buruknya itu. Ceh."

.

"Mata merahku memanas. Rahangku mengeras. Aku tidak mengerti apa yang kurasakan saat itu. Yang kuingat, hari itu aku melihat si China bodoh tengah bersenandung ria sembari bergaya dengan mempesonanya."

"Mau kemana kau?" pertanyaan itu keluar dari bibir Sougo dan pertanyaan itulah yang memecahkan keheningan di antara mereka berdua.

"Bukan urusanmu, aru," Kagura menjawab dengan angkuhnya.

"Benarkah? Lalu mengapa kau tetap mengejar-ngejarku jika kau pikir ini semua bukan urusanku?" Sougo, sepertinya mulai membuat Kagura kebingungan.

"Oi, sadis, aru. Kau pikir, dengan aku mengejar-ngejarmu, semua masalahku adalah masalahmu dan semua urusanku adalah urusanmu, huh, aru?" Kagura tampaknya semakin menantang.

"Dan yang kuingat adalah. Perkataan kotorku meluap-luap di pemikiranku. Hingga aku menyinggung masalah si China yang mengejar-ngejarku. Aku masih kecewa dengan omongan itu."

"Jadi, aku harus kembali bekerja. Bolehkah aku sudahi acting-ku tadi?" perkataan Sougo membuat Kagura membeku.

"Apa maksudmu dengan acting, aru?" Kagura yang kebingungan pun disambut oleh jitakan dari Sougo.

"Bodoh~. Orang bodoh pun tahu kalau yang tadi itu adalah acting. Jadi apakah kau adalah generasi yang bodoh dari yang terbodoh? Haha, dasar gadis yang bodoh," lalu Sougo pun berjalan menjauhi Kagura.

"Dan yang paling kubenci adalah. Acting."

.

"Sudahlah Okita-san! Acara melawaknya nanti dulu! Sekarang penting sekali!" teriak Shinpachi dengan geramnya. Ia pun langsung meraih pergelangan tangan Sougo dan menariknya. Namun, sang empunya tangan itu malah tak bergeming sedikitpun.

"China, 'kan?" tebaknya dan membuat Shinpachi melotot dan mengangguk.

"Mengapa tebakanku benar? Itu karena aku memang tengah memikirkannya daritadi. Aku tak mengerti mengapa, tapi aku merasa bersalah padanya."

"Okita-san apa kau yakin?! Meninggalkan Kagura-chan begitu saja?! Apa kau yakin kalau kau tidak apa-apa jika Kagura-chan akan bersama dengan orang lain dan bukan bersamamu?! Aku hanya perlu jawabanmu, Okita-san! Apa kau yakin?!" dan teriakan dari Shinpachi berhasil membuat Sougo tertegun dan menghentikan langkahnya.

Sembari menunduk Sougo tak bergeming dan kemudian berkata dengan nada yang tak biasanya, "Ya, aku yakin."

"Aku yakin. Dusta memang jika didengar. Tapi saat itu aku benar-benar yakin bisa membiarkan si bodoh itu bersama dengan orang selain diriku. Karena diriku juga tidak mengerti, aku harus yakin atau tidak."

.

"Aku pun kalut memikirkan sikap Kagura selama ini. Selamat untuk gadis bodoh itu, kini dirinya sudah masuk zona pemikiranku akhir-akhir ini. Ternyata yang diomongkan itu benar, aku benar-benar tak bisa membiarkannya begitu saja. Dan tanpa berpikir banyak, aku pun langsung berlarian untuk mengejar gadis itu dan meluruskan segalanya."

"Are? Rasanya aku melewatkan momen indah bagi kalian berdua. Maaf, salah jalan," suara sadis itu tentunya berasal dari sadistic no ouji, Okita Sougo. Sougo yang lehernya berbalut dengan syal merah andalannya, tadi berucap dengan dinginnya dan membuat Kagura dan Hatta terfokus pada Sougo.

"Apa yang kudapat dari perjuanganku? Tidak ada. Yang kudapat adalah, gadis itu tengah dilamar tepat di depan mataku."

"Minggir kau," ucap Sougo dingin pada Hatta. Hatta yang sudah berkeringat dingin itu tetap bersikeras untuk melindungi Kagura-nya. Namun tatapan sadis Sougo malah membuat keringat itu semakin dingin dan membuat nyali Hatta menjadi ciut.

"Kau pikir kau keren, huh?" sekali geser saja, sudah membuat Hatta terjatuh. Sougo pun berlalu dari Hatta kemudian mendekat ke arah Kagura.

"Kali ini aku sudah lelah berbasa-basi. Aku tidak ingin melihat wajah sok keren itu berada di samping gadis bodoh itu."

"Walau kau pikir kau adalah seorang pangeran jadi kau bisa mendapatkan segalanya?" dan Sougo pun kemudian melangkahkan kakinya kembali sembari berkata, "Mungkin bisa. Namun tidak dengan gadis ini."

"Rahangku mengeras ketika mengucapkan hal tersebut. Iris merahku sudah sangat menajam ketika mengatakannya. Dan aku benar-benar tak bisa berpikir, mengapa aku bisa mengatakan kalau si sok keren itu bisa mendapatkan segalanya, tapi tidak dengan gadis bodoh itu."

.

"Apa-apaan dengan mengejar-ngerjarku dan akhirnya kau juga sudah dilamar oleh orang lain?" kini Sougo berbalik dan menatap Kagura tajam yang membuat Kagura tak kuasa melawan mata merah itu. Kagura pun mengalihkan perhatiannya ke lain arah dan memilih bungkam.

Sougo memegangi kedua bahu Kagura lalu menggerakkan ke depan dan belakang berulang-ulang, "Kau hanya menyukaiku, bukan?" dan pertanyaan checkmate itu membuat Kagura langsung mendorong tubuh Sougo.

"Tanpa pikir panjang, lidahku langsung ngerocos untuk mengatakan hal itu. Dia mengejarku tapi sudah dilamar? Dia hanya menyukaiku? Pertanyaan bodoh itu telah mengecewakanku, sungguh. Aku benar-benar tak bisa membuatnya terluka lebih dalam. Namun, keadaan memaksaku untuk melukainya, lagi."

"Boleh saja semuanya kosong dan nol, menurutmu."

Sougo melepaskan dekapannya dan mempertemukan mata mereka berdua.

"Tapi hal yang kosong, harus diisi dan nol adalah awal dari segalanya, kau tahu 'kan?"

"Lagi dan lagi, alasan yang klise."

"Aku membencimu, gadis bodoh."

"Aku membenci gadis bodoh itu karena aku benar-benar benci karena sudah dibuatnya kalut bukan main. Gadis itu mengejarku tapi akhirnya sudah dilamar. Aku benci karena ketika aku sudah susah payah mengejarnya, yang kudapat adalah ia sedang dilamar. Oh kumohon, aku benar-benar membencimu, gadis yang sudah membuat perasaanku naik-turun!"

~LFN~

Chapter 10.

Kagura lalu menatap tepat ke mata sang sadis dengan sadisnya juga. Namun Kagura langsung membanting senapan itu dan berlalu, "Permainan ini tidak asik, aru. Kau seharusnya berhenti saja, ossan," ucap Kagura sebelum akhirnya benar-benar berlalu.

"Oi! Ini adalah pekerjaan baruku!" sang madao hanya bisa berteriak untuk menolak memberhentikan pekerjaannya.

"Aku sedikit tertegun ketika si bodoh itu lebih memilih meninggalkanku daripada meladeniku. Apa aku benar-benar menyakiti hatinya?"

"Aku mendapatkan ikat pinggang," jelasnya sebelum akhirnya ia membalikkan wajahnya untuk melihat sang gadis China berlalu dalam diamnya. Walaupun sang madao berceloteh panjang lebar, sang sadis yang kita anggap Sougo itu tidak mendengarnya sama sekali. Hal itu yang membuat sang madao kesemutan sendiri.

"Ketika si jelek itu berceloteh. Aku hanya melihat si bodoh itu berjalan tanpa membalikkan wajahnya untuk melihatku. Ntah mengapa, dia manis kalau sedang cuek."

.

Disela-sela turunnya salju dan tangisan Kagura yang mulai tenang, kembang api mulai bermunculan dengan indahnya di langit sana. Karena Kagura sudah mulai tenang, Sougo pun melepaskan dekapan diantara mereka. Kagura terkejut karena ia takut ini adalah permainannya Sougo padanya, karenanya Kagura sudah menundukkan wajahnya tanda kecewa ketika ia melihat mulut sang sadis mulai terbuka.

"Mungkin aku akan menjadi sok pahlawan jika aku mengatakan suka sekarang. Tapi suasana yang indah ini sangat mendukungku untuk mengatakannya. Aku tidak ingin kehilangan momen ini, lagi. Aku akan membuang egoku untuk saat ini."

"Kencanlah denganku esok."

"Aku masih bodoh ternyata. Aku masih belum bisa mengatakannya dengan baik."

.

"Aku sudah tahu dengan rencananya yang akan memperlihatkan kalau aku benar-benar menginginkan kencan ini padahal dia tidak. Jadi, sengaja saja aku datang agak lama."

Dikala penatnya menunggu, sebuah suara menyadarkannya, "Oi, gadis China. Mengapa kau duduk di sana dengan bodohnya?" suara bodoh itu, Kagura sudah yakin suara siapa dan langsung saja Kagura meraih leher sang pemuda dan mencekiknya.

.

"Sudah kubilang, jangan panik, bodoh. Aku sudah meraih satu dayungnya, jadi tenang saja. Dan semua hal yang kubicarakan tadi itu bohong. Oh kumohon, jangan terlalu kekanak-kanakkan seperti itu," jelas Sougo dengan geramnya.

Are? Si sadis tidak menyinggung apa-apa soal ciuman singkat tadi? Eh? Kenapa? Apa itu bukan yang pertama baginya, aru? Tapi ini yang pertama bagiku, aru. Kenapa kau tidak mengatakan hal apa-apa tentang hal itu, aru? Detakan jantung Kagura semakin terpompa.

"Aku kaget bukan main ketika mendapati benda kenyal nan tipis telah menempel di bibirku. Aku malu mengakuinya, tapi aku suka. Dan daripada si bodoh itu terus merengek, lebih baik tak usah aku gubris tentang permasalahan kecil itu."

.

"Pacar? Bukankah dia yang waktu itu merebutmu dariku?" tanya Hatta dengan geramnya.

"Kagura adalah milikku. Jika kau membuatnya canggung dan bingung, apalagi menikahinya, aku akan marah," dan tatapan Sougo sudah masuk ke dalam zona sadist mode on yang membuat Hatta bergidik ngeri.

"Ini adalah isi hatiku. Aku benar-benar akan marah jika dia sampai membuat gadis bodoh itu canggung dan lainnya. Kalau ia menikahinya, aku akan memenggalnya, serius."

"Ah bukti ya. Ah, apa ya buktinya," Kagura tampak gemetaran karena takut semuanya terbongkar. Apalagi ia belum memiliki apapun dari sang sadis. Ia jadi makin bingung dengan semuanya.

Sougo mendengus sejenak ketika melihat wajah kebingungan Kagura.

"Oi," Sougo memanggil Kagura dan refleks Kagura dengan wajah kebingungannya itu pun menoleh ke arah Sougo dan Kagura langsung dikagetkan karena hal yang tadi sempat membuatnya bingung di perahu terulang kembali.

"Aku kesal ketika ditanya 'apa buktinya kami pacaran', daripada gadis bodoh itu kebingungan, lebih baik aku memberikannya sebuah kecupan yang membuat semuanya percaya kalau gadis itu milikku. Dan jujur, aku malu menjadikannya pertunjukkan."

"Nee, Okita-kun. Mengapa kau diam dan tidak menyinggung soal ciuman tadi? Sudah dua kali. Itu maksudnya apa, aru?" tanya Kagura dengan geregetannya.

Sougo sedikit menggarus pipinya menggunakan jari telunjuknya walau tidak gatal, ia mencoba mencari alasan, "Aku sedikit malu membicarakannya, jadi aku tidak membicarakannya. Dan soal apa maksudnya—," Sougo memenggal kalimatnya mencoba mencari sebuah kalimat yang bagus, "Itu bukankah dimana orang-orang menyebutnya cinta?" dan Sougo malah membalikkan pertanyaan itu pada Kagura.

"Mengapa gadis bodoh ini bertanya pertanyaan semacam itu di tempat dan situasi semacam ini? Jujur, aku pun tak mengerti. Tapi, menurutku mungkin dimana orang menyebutnya cinta, ya 'kan?"

"Untuk apa aku menutupnya? Apa kau bodoh, aru?!" Kagura masih ngerepet aja.

"Mulutmu itu berisik sekali!" Sougo benar-benar jengkel dan kesal dengan sikap Kagura hingga Sougo langsung mengunci rapat bibir cerewet Kagura dengan ciumannya, lagi.

"Aku suka dibagian ini. Dimana aku menggodainya dengan sebuah ciuman. Walau terkesan kasar, namun sejujurnya, aku sedang mengerjainya."

~LFN~

Chapter 11.

"Jangan membuatku mengatakannya, bodoh," ujar Sougo, pemuda shota yang masih setia berada di depannya sejak adegan anu yang sudah usai beberapa menit yang lalu.

"Diriku malu mengatakannya. Aku suka padanya! Aku benar-benar jatuh pada sikap kekanak-kanakannya!"

.

Sougo mendelik sejenak. "Apa kau yang merawatku?"

Manik biru Kagura membuka. "Y-ya, aku ha-hanya ka-kasihan melihatmu ti-tidur di sana. Ja-jadi.." Kagura mengatakannya sembari mengeja kata-kata, membuat kepalanya mengeluarkan asap.

Muncullah perempatan jalan siku-siku di kepala Sougo. "Tidak usah kau paksakan."

Telapak tangan Sougo kemudian menyentuh pucuk oranye-nya. "Terimakasih, Kagura," dan Sougo pun menempelkan senyuman indahnya untuk Kagura.

"Lucu bukan main. Aku suka sikap dia yang kekanak-kanakkan seperti ini. Ia bahkan bingung untuk merangkai kata-kata. Dengan tulus, aku berterimakasih padanya."

Sougo terkekeh pelan kemudian meraih jemarinya. "Kau yang sudah menularkan virus kepadaku. Karena tanpamu aku memang tak bisa apa-apa."

"Ya! Virus cinta!"

.

"Aku masih belum bisa mengatakannya diluar pemikiranku. Aku masih seorang pengecut yang masih menyembunyikan perasaan ini dan belum bisa mengatakan secara langsung."

"Aku pada Kagura itu—," ucapan Sougo terhenti ketika sang empunya tubuh itu ambruk. Shinpachi langsung kalang kabut dan mencoba membenarkan posisi tubuh Sougo.

.

"Sougo no Ane. Namaku adalah Kagura. Senang bertemu denganmu. Aku adalah tem—."

"—pacarku," Sougo berhasil menginterupsi perkataan Kagura yang membuat Kagura baru sadar dengan segalanya.

Sougo tampak menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal. "Ya ampun. Pemikiranmu itu macam apa? Setelah kau mengerti, mengapa kau masih mau menganggapku sebagai teman?"

"Jadi bukan teman ya?" tanya Kagura polos.

"SUDAH PASTILAH BUKAN!" teriak Sougo geram.

"Kepolosan Kagura itu membuatku terkekeh tak kuasa. Mungkin kami masih belum bisa akur seakur pasangan lainnya. Tapi setidaknya aku senang."

"Aku senang bisa mendapatkannya. Walau aku juga tak mengerti sejak kapankah perasaan ini datang padaku. Tapi aku sangat senang dan menyukainya."

"Rasa sayangku pada kakakku sudah terbelok kepada gadis bodoh yang selalu menghiasi hari-hariku dengan tendangan, pukulan. Namun, dia adalah sosok gadis yang manis dan mempesona yang akan selalu membuatku berulang-ulang mengumpat dalam hati karena terpesona akan manisnya dirinya."

"Jika kalian bertanya apa yang akan kulakukan selanjutnya dengan dia?"

"Tebakan kalian benar."

"Aku akan beradu jotos dengannya di ring sebelah."

Okita Sougo.