.
.
.
Hana Yori Dango 3
THE NEXT GENERATION
.
.
.
Disclaimer
Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,
sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.
Written by ButaTokki and CamsaHead
Translated by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 11
Karin menyaksikan kesedihan dan patah hati berkelebat di mata Sasuke. Kemudian sesuatu yang lebih gelap, lebih menakutkan, mulai muncul. Ekspresi kehilangan dan kehampaan yang Sasuke bawa begitu lama. Ekspresi kesepian itu. Dia sudah begitu sejak ibunya mengalami kecelakaan dan selama sepuluh tahun setelah itu. Seolah tersesat di kegelapan di mana dia tidak bisa melarikan diri dan Karin menolak untuk membiarkan sepupunya kembali ke sana.
"Tidak... Sasuke," bisiknya, menjangkau lembut, menyentuh pipinya dan menyeka air matanya.
Pemandangan itu membuat Naruto tegang. Dia tidak tahu mengapa pemandangan Karin menyentuh Sasuke begitu mengganggunya, tapi yang paling aneh adalah reaksinya yang benar-benar mengejutkan tidak hanya Karin tapi juga dirinya sendiri. Dia mengulurkan tangan dan menarik tangan Karin menjauh dari wajah Sasuke. Karin menatapnya bingung.
"Apa—" Karin memulai tapi Naruto bergerak cepat, meraih lengan Sasuke dan membuatnya berdiri.
"Teme, apa yang kau katakan padanya?" Suaranya lembut, begitu juga dengan tatapannya.
"Aku—bukan apa-apa. Aku hanya—kami berciuman." Sasuke mengakui.
"Kau menciumnya?!" kata Karin senang, mengejutkan Naruto. "Jika kau menciumnya, mengapa kalian bertengkar?" tanya Karin bingung.
"Sepupu sayang, entah bagaimana ini adalah salahmu," kata Sasuke, berpaling padanya.
"Bagaimana bisa ini salahku?"
"Permisi... Sepupu?!" kata Naruto tiba-tiba.
"Si," jawab Karin dan tersenyum penuh arti pada Naruto.
"Oh... oh... oh tidak... Sakura...," kata Naruto perlahan setelah beberapa detik terdiam. Dia memijat pangkal hidungnya frustrasi, membungkukkan kepalanya seolah-olah berpikir keras.
"Mengapa 'oh tidak'?" Sasuke bertanya, masih terdengar sedih. Dia memaksa dirinya untuk bereaksi terhadap lingkungannya. Rasa ingin tahu menguasainya sekarang.
"Kau Karin? Uchiha Karin?!" Naruto bertanya pada Karin, mengabaikan pertanyaan Sasuke saat dia mengangkat kepalanya ke arah Karin.
"Satu-satunya~!" kata Karin, terus tersenyum, tapi sekarang dengan rasa bangga seolah-olah dia baru saja memainkan trik menakjubkan.
"Sepupunya Sasuke?!" Naruto bertanya, perlahan-lahan memahami semuanya. Masing-masing potongan puzzle jatuh ke tempatnya.
"Ya, memangnya apa lagi?" kata Sasuke seolah-olah pertanyaan Naruto begitu bodoh. Dia lelah tidak memahami apa yang dimaksud orang-orang.
"Yah, aku pikir dia adalah pacarmu!" kata Naruto kepada Sasuke.
"Apa?! Itu konyol!" Sasuke mendengus.
"Dan kau tahu, Sakura juga berpikir begitu," kata Naruto, langsung menatap Sasuke, menunjukkan semua kejengkelannya akan kebebalan Sasuke.
Sasuke menatap Naruto sejenak, tiba-tiba menyadari segalanya. "Dia cemburu pada Karin?!" tanyanya bingung. Naruto hanya menatapnya, lengannya disilangkan. "Tapi ken—"
Jantung Sasuke berhenti. Dia menatap Naruto. Sekali lagi komunikasi dalam diam terjadi di antara mereka.
"Aku...," kata Sasuke pelan. Kesadaran penuh akhirnya menghantamnya. "Aku!" katanya. Matanya penuh dengan kegembiraan. Sakura mencintainya. Dia mencintaiNYA. Sakura tidak mencintai Naruto tapi DIA. Selama ini dia. Semuanya masuk akal sekarang. "Oh sial," rutuknya, mengejar Sakura. Dia harus menjelaskan kepadanya.
Sakura membanting pintu kamar saat dia sampai di rumah. Tak seorang pun di rumahnya mendekatinya saat dia sedang marah. Beraninya dia! Beraninya dia! Sakura tidak peduli walaupun dia Uchiha Sasuke! Dia tidak punya hak untuk mempermainkannya! Kesal dan benar-benar tersakiti, dia melemparkan dirinya ke tempat tidur, membiarkan air matanya turun.
"Aku membencimu," katanya lembut.
"Aku membencimu," katanya lagi, tapi memori akan ciuman itu membuat jantungnya berhenti berdetak.
"Aku mencintaimu." Dia menangis lebih keras, perlahan-lahan jatuh tertidur...
.
.
#The Next Generation#
.
.
Telepon berdering tiga kali pagi itu, memaksa Sakura bangun dari tidurnya.
"Moshi moshi," katanya. Suaranya berat.
"Sakura, apa Sasuke bersamamu?" Suara Uchiha Fugaku mengejutkannya hingga terduduk.
"Tidak, Tuan," katanya cepat-cepat.
Dia mendengar Fugaku menyumpah. "Sakura, aku ingin kau mendengarkan baik-baik sekarang, oke?" lanjutnya saat Sakura mendengar gemerisik di ujung yang lain, seolah-olah dia bergerak ke suatu tempat.
"Oke," Sakura setuju ragu-ragu, mendorong poninya yang berantakan menyingkir dari pandangannya.
"Kalau Sasuke datang kepadamu, hubungi aku segera, secepat yang kau bisa. Aku akan memberitahumu ke mana harus pergi dan JANGAN berbicara dengan siapa pun. Kau dengar aku? Tidak seorang pun! Jika dia tidak datang kepadamu lebih dari jam 05:30, tetap hubungi aku dan aku akan memberitahumu ke mana harus pergi, oke?" Dia bertanya, mengatakan semuanya dengan terburu-buru. Ada urgensi dalam suaranya.
"Apa ada yang salah, Tuan?" tanya Sakura cemas.
"Hanya... beberapa komplikasi. Semuanya akan baik-baik saja. Lakukan saja apa yang aku beritahukan padamu. Aku harus pergi sekarang, tapi berjanjilah untuk meneleponku," katanya.
"Saya berjanji," jawab Sakura dan dia menutup telepon.
Sakura melihat jamnya, 04:21, dan dia bertanya-tanya apa yang bisa membuat Fugaku begitu khawatir. Saat itu pintu kamar tidurnya terbuka dan Sasuke masuk dengan terburu-buru, benar-benar terengah-engah dan berkeringat.
"Dari mana saja kau?" tanyanya, seolah-olah itu kesalahan Sakura karena telah pergi.
"Apa yang kau inginkan? Bagaimana kau bisa masuk?" Sakura bertanya, mengabaikan pertanyaan Sasuke dan berjalan ke tepi tempat tidurnya, menjauh dari Sasuke saat dia duduk di tempat tidurnya untuk mengatur napas.
"Ibumu mengijinkanku masuk. Sakura, aku mencarimu! Apa kau tahu betapa sulitnya menemukan rumahmu?" katanya.
"Sekali lagi aku bertanya. Apa. Yang. Kau. Inginkan?" ulang Sakura, memelototinya.
Sakura muak dengan semua hal yang telah dilakukan Sasuke padanya. Dia merasa Sasuke seperti sedang bermain dengan emosinya, melemparnya ke sana-sini seolah-olah itu tak berarti apa-apa baginya.
"Sakura," kata Sasuke, masih terengah-engah.
Sasuke mendekati Sakura sampai dia tidak bisa lagi menjauh. Dia meletakkan tangannya di belakang leher Sakura, mencoba membawanya lebih dekat dengannya tapi Sakura menolak, jadi Sasuke sendiri yang mendekat padanya, cukup dekat untuk membiarkan Sakura mendengarnya.
"Kau salah paham," katanya sambil tersenyum.
Sasuke tampak sangat senang dan Sakura merasa itu konyol. Sasuke sudah kehilangan akalnya.
"Apa?" tanya Sakura.
"Karin... Karin bukan pacarku," katanya, masih terengah-engah.
Sakura melihat lingkaran di bawah mata Sasuke dan bagaimana dia begitu pucat. Apakah Sasuke benar-benar mencarinya sejak dia pergi? Dan dia tampaknya melakukannya dengan berjalan kaki. Dia berantakan!
"Sasuke, tunggu, kau baik-baik saja?" tanyanya cemas, menempatkan tangannya di lengan Sasuke, mencoba menahannya saat dia mulai miring ke samping.
"Apa kau mendengarku?" tanya Sasuke, matanya terlihat putus asa. Dia ingin Sakura tahu, lebih dari apa pun. Tubuhnya terasa begitu lelah dan lemah tetapi dia ingin Sakura tahu.
"Tunggu, apa?" kata Sakura, menyadari apa yang baru saja ia katakan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Author's bacot area
Daaaaannn…. sebagai permintaan maaf dalam semalam author posting dua chapter langsung. Selamat membaca.
