.

.

.

Hana Yori Dango 3

THE NEXT GENERATION

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 12

Sakura menatapnya, benar-benar bingung, dan dia merasa hatinya melompat senang, tapi dia tetap tidak mengerti perilaku Sasuke dan Karin terhadap satu sama lain. Bagaimana cara Sasuke tersenyum pada Karin dengan begitu sayang, caranya memperlakukan Karin dengan begitu lembut, dan cara Karin menempel padanya seolah dia punya hak untuk menyentuhnya.

"Kalau begitu siapa dia?" Sakura bertanya dengan suara berbisik karena jantungnya berhenti.

Sasuke tersenyum, napasnya tersengal. Dia masih terlihat terengah-engah.

"Dia... dia…"

"Tunggu! Kau harus duduk. Akan kuambilkan segelas air atau sesuatu," kata Sakura, praktis menyeret Sasuke ke tempat tidur. "Tetap di situ," katanya sambil menyerbu keluar dari kamarnya. Dia menyadari ibu dan ayahnya mengintip dari luar kamar mereka.

"Itu adalah… Uchiha Sasuke... kan?" Ibunya bertanya, akhirnya punya keberanian untuk bicara.

"Ya," kata Sakura pelan, kemudian orang tuanya dengan cepat menyeretnya ke dapur.

"Kenapa Uchiha Sasuke ada di sini?!" Ibunya mencicit, benar-benar senang, sementara ayahnya merosot dengan lengan disilangkan, menggerutu pada dirinya sendiri bahwa gadis kecilnya tidak butuh dikejar-kejar oleh bangsawan kaya.

"Dia… kami… berteman."

"OH, PACARMU!" cicit ibunya sambil melompat-lompat.

"Diam!" kata Sakura sambil mengambil gelas dan mengisinya dengan air. "Jika kalian masuk ke kamarku, aku bersumpah akan membunuh kalian," kata Sakura kepada keluarganya yang hanya tersenyum melihatnya buru-buru kembali ke kamarnya.

Ketika Sakura menutup pintu dan berbalik menghadap Sasuke, dia tidak terkejut menemukannya sedang tertidur. Sambil menghela napas, Sakura meletakkan gelas kemudian teringat perkataan ayah Sasuke, jadi dia meneleponnya.

"Dia baik-baik saja?" tanya Fugaku khawatir.

"Dia benar-benar tertidur," kata Sakura, melihat Sasuke sambil bersandar di mejanya.

"Syukurlah. Terima kasih, Sakura. Ketika dia bangun, hubungi aku lagi," katanya.

Sakura setuju dan memutuskan telepon. Dia menatap Sasuke yang tertidur tepat pada saat klimaks dari semua ini. Apa yang harus dia lakukan? Dia mengatakan sesuatu yang mengerikan padanya, membuat asumsi yang salah. Merasa sedikit terganggu namun benar-benar senang, dia memutuskan untuk menyelimuti Sasuke dan tidur di kamar orang tuanya.

Saat meraih selimut untuk menyelimuti Sasuke, Sakura merasa dirinya tidak sanggup bergerak. Dia duduk di lantai dan memandanginya. Sasuke begitu indah, begitu tampan, dan dia mencintainya. Tangannya menangkup wajah Sasuke yang tertidur, dengan lembut menelusuri wajahnya sebelum dia mendesah lagi. Pembicaraan mereka akan berlanjut pagi nanti. Dia menarik tangannya dan mulai berdiri saat tangan Sasuke meraihnya dan menariknya ke tempat tidur. Sakura tidak punya waktu untuk bereaksi. Dia jatuh ke tempat tidur dan menemukan dirinya menatap Sasuke.

"Sasuke—" Dia mulai protes dan mencoba duduk tetapi Sasuke memegangnya semakin erat.

"Tetaplah di sini," katanya, membuka matanya sekilas dan tersenyum.

"Sakura!" kata ibunya, masuk ke kamarnya dan Sakura langsung bangun dari posisinya, benar-benar bingung dan terkejut atas kedatangan ibunya. "Sakura, ada seorang wanita yang mencarimu!" lanjut ibunya.

"Wanita mana?" tanya Sakura.

"Aku tidak tahu. Dia terlihat…. aneh," jawab ibunya.

Sakura dengan cepat meraih ponselnya, langsung teringat Uchiha Fugaku.

"Siapa yang kau hubungi?" tanya Sasuke, bangun dan duduk.

"Ayahmu," jawab Sakura dan menunggunya mengangkat telepon.

"Oooh~! Kau kenal Uchiha-sama~?!" pekik ibunya di depannya.

"Bu, bukan waktunya untuk itu!" Sakura komplain. "Ah, halo," katanya saat Fugaku akhirnya menjawab.

"Ada apa Sakura?"

Sakura merasa sedikit gugup dan tidak yakin bagaimana harus berbicara dengan ayah Sasuke. Bagaimana pun dia tetap salah satu figur penting di dunia bisnis Jepang.

"Emm... Anda bilang pada saya untuk tidak berbicara pada siapa pun." Dia berkata sambil melihat Sasuke yang sedikit penasaran mengapa Sakura menghubungi ayahnya, sementara ibunya menyaksikan dengan binar di matanya; anaknya benar-benar berbicara dengan Uchiha Fugaku.

"Aku ingat," kata Fugaku, tampaknya dia memindahkan letak ponselnya.

"Well, ada seorang wanita di rumah saya. Saya belum berbicara padanya, tapi ibu saya… ibu saya bilang dia terlihat aneh. Saya pikir saya harus menghubungi Anda," katanya.

Tidak ada suara di ujung sana dan sesaat Sakura berpikir teleponnya terputus sampai Fugaku berbicara lagi.

"Di mana Sasuke?!" katanya mendesak, bahkan khawatir.

"D-di sini."

"Apakah wanita itu sudah melihatnya?!"

Sakura melihat Sasuke, ada sesuatu yang salah. Dia yakin sesuatu yang mengerikan terjadi.

"Tidak."

"Dengarkan aku dan dengarkan dengan seksama. Pergi, pergi dari rumahmu sekarang! Aku akan mengirim orang ke rumahmu untuk melindungi orang tuamu, tapi kau harus membawa anakku keluar dari rumah itu secepatnya. Aku akan menelepon lagi lima menit kemudian dan kalian berdua sebaiknya keluar dari sana."

Ketika Fugaku memutus telepon, Sakura berdiri tak bergerak sesaat. Ketakutan tiba-tiba menjalari tubuhnya dan kemudian dia bergerak.

"Sakura, ada apa?" tanya Sasuke, memegang tangannya saat dia menyadari perubahan moodnya.

"Sasuke, kita harus keluar dari sini," katanya mendesak.

Sakura tidak benar-benar khawatir dengan keselamatannya, itu prioritas kedua baginya. Yang dia takutkan adalah keselamatan Sasuke, bahwa dia akan menjauh darinya lagi.

"Kau bicara apa? Kau gemetar!" kata Sasuke.

"Jangan khawatirkan aku, kita harus pergi. Sekarang!" jawab Sakura sambil berdiri, menyeret Sasuke bersamanya.

"Sakura, apa yang terjadi?" Ibunya bertanya.

"Bu, kami harus keluar dari rumah. Wanita itu tidak boleh melihat Sasuke," jelas Sakura.

"Oke, kami akan menghalanginya. Kau pergilah lewat pintu belakang," perintah ibunya.

"Aku tidak mengerti apa yang terjadi!" kata Sasuke, jengkel karena sekali lagi dia satu-satunya yang tidak mengerti.

"Aku juga tidak tahu." Sakura berkata padanya, menuntunnya ke belakang rumah di mana mereka bisa kabur. "Yang ayahmu katakan padaku hanyalah kita harus keluar dari sini sekarang dan wanita itu tidak boleh melihatmu!"

Sakura langsung tahu harus membawanya ke mana. Mereka keluar dari rumah dan lari melewati jalan, menjauh secepat yang mereka bisa. Mereka tidak tahu mengapa mereka harus lari, tapi itulah yang mereka lakukan.

"Mau ke mana kita?" tanya Sasuke sesaat kemudian.

"Ke rumah Ino," jawab Sakura.

.

.

.

TBC

Review please?