.

.

.

Hana Yori Dango 3

THE NEXT GENERATION

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 13

Ino tidak tidur sama sekali. Sebenarnya dia kedatangan, menurut pendapatnya, tamu yang sangat aneh. Orang tuanya telah berangkat kerja sebelum pukul tiga dini hari. Ayahnya adalah seorang pilot dan ibunya seorang pramugari dan mereka memiliki penerbangan yang lepas landas pada pukul empat pagi sehingga mereka telah pergi bahkan sebelum Ino punya kesempatan untuk tidur. Sejak dia pulang dari pesta Sasuke, Sai menolak untuk meninggalkannya sendirian. Dia mengintai rumahnya, menerobos masuk ke rumahnya, bertemu orang tuanya dan sekarang... dia tersenyum padanya. Ohoho, Ino benci ketika dia tersenyum.

"Kumohon, bicaralah padaku," kata Sai, tidak mampu membuat Ino berbicara sejak semalam ketika dia tahu tentangnya saat dipukul Sakura. "Kumohon bicaralah padaku!" pintanya sedikit putus asa.

Ino terus membaca bukunya, benar-benar mengabaikan kehadiran Sai. Keheningan mengikutinya selama beberapa saat, sebelum bukunya diambil dari tangannya dan tiba-tiba dia didesak ke sofa. Ino berkobar dalam kemarahan, syok dan malu.

"Apa yang kau lakukan?" Dia kesal karena tubuh Sai berada di atasnya, tersenyum sekali lagi.

"Aku membuatmu bicara."

"Lepaskan aku!"

"Tidak, aku lebih suka begini."

Ino mencoba melawannya, tapi Sai lebih kuat dan itu merupakan kejutan karena dia tampaknya bukan tipe orang yang memiliki semacam kekuatan fisik.

"Ini pemerkosaan!" Dia berargumen dan Sai tertawa.

"Tidak, ini disebut 'menjepitmu ke sofa hingga kau mau berbicara padaku'." Sai membungkuk lebih dekat. "Tapi jika kau mau, aku bisa mencoba memerkosa, tapi bagaimanapun kau akhirnya akan memberikan dirimu untukku."

Ino memelototinya. Dasar bajingan sombong.

"Seperti aku mau saja," jawabnya

Ino terkejut dengan betapa gemetar dan terengah-engah suaranya terdengar, yang membuat Sai semakin percaya diri. Sai menyeringai padanya dan menundukkan kepala ke sisi lehernya dan Ino merasa dirinya membeku oleh sentuhannya. Sai mencium lehernya dengan lembut.

"Lihat... kau benar-benar bisa diperkosa sekarang," bisik Sai di kulitnya dan Ino merasa bulu kuduknya berdiri.

Sai menyapukan bibirnya di leher Ino hingga ke tulang bahunya sampai dia mencapai tepi bibirnya. Napas Ino benar-benar terenggut dari dirinya. Sai menciumnya di tempat itu, setengah di bibirnya, setengah di pipinya. Ino tidak bisa menahannya lagi dan dia memalingkan kepalanya ke samping sehingga bibir Sai sepenuhnya berada di bibirnya. Sai baru saja akan memperdalam ciumannya ketika Sakura menerobos pintu.

"Ino, kau tahu, kau harus mengunci pintumu! Bagaimana jika—" Sakura memulai, tapi dia berhenti saat melihat mereka berdua dan pipinya merah menyala.

"Oi, oi, oi. Apa ini?" Sasuke menggoda mereka dan Sai mulai membenahi posisinya.

Ino tidak bisa mempercaya ini. Apa dunia berputar terbalik hari ini!?

"Kau. Tidak. Melihat. Apapun." Dia berkata dengan suara rendah dan membunuh.

Sakura harus menggigit bibirnya untuk menyembunyikan senyumnya.

"Aku tidak melihat apapun." Sakura mengulangi, berusaha keras untuk tidak tertawa.

"Aku melihat semuanya," kata Sasuke dengan seringai, bahkan Sai merona saat itu karena untuk pertama kalinya dia tidak ingin orang berpikir bahwa dia hanya bermain-main.

"Kau—sebagian besar waktumu bahkan tidak di sini, tidak ada yang akan percaya padamu," kata Ino.

Sasuke masih tersenyum. "Aku percaya pada diriku sendiri, dan setiap kali aku tersenyum pada kalian berdua, aku akan berpikir tentang apa yang mungkin terjadi jika Sakura dan aku tidak menerobos masuk melalui pintu itu dan kau akan tahu aku berpikir begitu... dan itu cukup menyiksa."

"Wow," kata Sakura, melihat Sasuke dan sedikit takut pada skemanya. Itu benar-benar brilian.

"Aku tidak tahu kau bisa jadi licik," kata Ino, terkejut juga.

"Aku sudah tahu." Sai mengatakan dengan jelas.

"Jadi akhirnya kau menemukannya?" Sasuke bertanya pada Sai.

"Sepertinya begitu," jawab Sai dan memegang tangan Ino.

"Menemukan siapa?" tanya Ino. Tangannya terasa seperti benar-benar pas berada di genggaman Sai.

"Tidak ada," Sai berbohong dan tersenyum padanya. Ino merasa hatinya berdetak.

"Ng-ngomong-ngomong," kata Ino, melihat Sakura dan berdeham. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Well, aku tidak benar-benar tahu apa yang terjadi. Yang aku tahu adalah kita harus menyembunyikan Sasuke," jawab Sakura, mulai serius dan dia bergerak menuju meja dan duduk di kursi sebelahnya, mendesah.

"Menyembunyikannya? Dari siapa?" tanya Sai, menangkap moodnya.

"Seorang wanita dan kami tidak tahu siapa dia," kata Sasuke.

Dia berdiri di belakang Sakura, membungkus lengannya di sekeliling Sakura dan mengistirahatkan dagunya di kepalanya. Dia ingin mengambil semua kekhawatiran Sakura dan membuatnya tersenyum lagi. Dia benci melihatnya tertekan karena dirinya.

"Sepertinya akhirnya Sasuke mengatakan bahwa Karin adalah sepupunya." Sai berkomentar, menilai perilaku mereka.

Mata Sakura terbuka lebar karena syok. Karin. Adalah. SEPUPU. Sasuke?! Yah, tidak heran dia begitu baik padanya, mereka adalah keluarga. Dia menutup matanya, merasa seperti idiot.

"Tidak. Aku belum sempat mengatakannya," kata Sasuke sedikit kesal. Sai memasang wajah menyesal dan Sakura berpaling ke arah Sasuke yang tersenyum melihat ketakutan lenyap di wajahnya. "Tidak apa-apa," katanya lembut, memahami gejolak Sakura. Ponsel Sakura berdering mengejutkan mereka.

.

.

.

TBC

.

.

.

Q : Siapa yg ngejar Sasuke? Siapa perempuan itu?

A : Jawabannya ada d chap depan. Sabar n ikutin terus ya.

Special thanks to

dark blue and pink cherry, dsaruka2, Eysha CherryBlossom, arannis, suket alang alang, caesarpuspita, JungYH