.
.
.
Hana Yori Dango 3
THE NEXT GENERATION
.
.
.
Disclaimer
Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,
sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.
Written by ButaTokki and CamsaHead
Translated by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 14
"Halo?" kata Sakura gugup.
"Di mana kau?" Suara Fugaku bertanya dari ujung lain.
"Uh... di rumah teman saya, Ino."
"Nyalakan speakernya."
Sakura melakukan apa yang diperintahkan. "Oke," katanya.
"Sasuke!"
"Ya? Ayah, apa sih yang terjadi?" Sasuke bertanya kesal.
"Ingat tentang wanita yang aku ceritakan di Paris?"
Sakura melihat Sasuke membeku, menjauh darinya dengan tidak nyaman.
"Apa kau yakin?" tanya Sasuke.
"Ya."
"Sial." Sasuke mengutuk dan mulai mondar-mandir.
"Dengar nak, kau tidak punya waktu. Sekarang dia pasti sedang menuju ke sana, melacak Sakura ke mana pun yang dia bisa."
"Aku tidak percaya ini."
"Nak, ambil apa yang kau butuhkan dari rumah itu, bawa gadis itu dan lari. Lari ke tempat di mana kau akan aman sampai aku dapat menghubungimu lagi. Sasuke, kau tidak bisa membiarkan dia menangkapmu." Fugaku terdengar takut dan Sasuke juga tampak takut. Ini benar-benar buruk.
"Tunggu, aku tidak ingin Sakura terlibat dalam hal ini!" Sasuke protes.
"Kau sudah terlalu jauh terlibat dengannya hingga dia menjadi bagian dari ini," jawab ayahnya. "Aku harus pergi sekarang, aku akan mencoba untuk menghubungimu sesegera mungkin."
Mereka hanya diam setelah Fugaku menutup telepon.
"Sialan!" Sasuke mengutuk, membanting tinjunya di atas meja.
"Sasuke, tidak apa-apa," kata Sakura, mencoba menenangkannya saat dia berdiri dan mencoba untuk menahannya.
"Maafkan aku Sakura. Aku tidak ingin kau terlibat dalam semua ini." Sasuke meminta maaf dan melingkarkan lengannya di sekeliling Sakura.
Wanita itu merusak segalanya baginya. Untuk sesaat Sasuke tidak peduli jika dia menemukannya. Jika dia menemukannya, Sasuke akan menghajarnya.
"Kita harus pergi mencari Akasuna-san," kata Sai, mengacu pada ayah Sasori. "Dia memiliki banyak pengalaman dalam hal semacam ini. Dia bisa membantu kita." Sai melanjutkan.
"Tidak," kata Sasuke. Suaranya gelap. "Tidak. Ini melampaui kemampuan Akasuna-san." Dia mengusap rambutnya dan mendesah, benar-benar marah. Ayahnya benar, jika wanita itu menangkap salah satu dari mereka... tidak ada yang bisa mengatakan apa yang akan dia lakukan, jadi sekarang yang paling aman untuk dilakukan adalah... lari. "Kita harus bergerak," katanya, meraih tangan Sakura.
Sai mengangguk, meraih tangan Ino dan menyeretnya. "Kita bisa mendapatkan barang-barang di sepanjang jalan." Dia menjelaskan saat Ino tampak hendak protes. Mereka bergegas keluar dari rumah Ino, tidak yakin ke mana harus pergi. "Kita perlu membuang ponsel, Sasuke." Sai menyarankan ketika mereka berada pada jarak yang cukup jauh dari rumah Ino. "Mereka dapat dengan mudah melacak kita melalui ini." Dia menjelaskan.
Sasuke mengangguk, mengambil ponsel dari Sakura, Ino dan Sai dan membuangnya, dia meninggalkan ponselnya di rumah. Dia kemudian membayar orang asing untuk pergi ke toko terdekat dan membeli telepon prabayar. Sasuke menghubungi ayahnya melalui telepon itu dan memberitahukan apa yang telah mereka lakukan. Setelah itu mereka mulai berlari lagi. Dua jam kemudian, matahari sudah naik dan mereka berada di Shibuya.
"Kita perlu istirahat," kata Sakura, benar-benar kelelahan, hampir tidak tidur. Sasuke tampak pucat, Ino dan Sai tampak akan pingsan.
"Berapa banyak uang yang kau punya?" Sai bertanya pada Sasuke.
"Aku tak tahu... sekitar beberapa ribu Yen." katanya terengah-engah.
"Aku juga. Ayo kita cari hotel," saran Sai.
Ino menatap Sai. "Aku berharap aku punya beberapa ribu yen juga."
"Kami akan mengurus hal itu. Kau perlu istirahat," kata Sai dan mencium keningnya.
"Ayo kita pergi ke sana," kata Sasuke dan mereka menuju ke hotel yang dia lihat hanya beberapa meter jauhnya. Tidak terlalu mewah dan tidak terlalu berantakan, hanya cukup. Mereka mengambil satu kamar besar yang dibagi menjadi dua oleh kamar mandi. Dengan begini, mereka bisa memiliki privasi masing-masing dan masih dapat menjangkau satu sama lain dengan mudah. "Gadis-gadis dapat menempati ruangan ini. Kita akan menempati ruangan yang lain," kata Sasuke begitu mereka memasuki salah satu kamar, mencoba untuk memberi ruang bagi Sakura tapi Sakura memegang lengannya.
"Sasuke, berhenti bersikap sok gentle. Aku pikir kita semua tahu apa yang kau inginkan dan kami menginginkan hal yang sama," kata Sai dan tertawa kecil saat dia menuntun Ino ke sisi lain.
"Mou~ BakaSasu," Sakura bercanda dan tersenyum padanya, mencoba untuk meringankan suasana hatinya. Mereka semua membutuhkan istirahat dari kekacauan ini.
"Jangan melakukan sesuatu yang aneh," Sasuke memperingatkan Ino dan Sai saat Sai menutup pintu.
"Aku berniat melakukan banyak hal-hal aneh," kata Sai sambil tersuenyum.
"APA?"
Hanya itu yang mampu Sasuke dan Sakura dengar saat pintu tertutup. Keheningan memenuhi ruangan, sebelum Sasuke menghela napas dan berjalan ke tempat tidur, duduk, benar-benar lelah dan khawatir. Sakura berjalan ke arahnya, memegang wajahnya dan membuatnya melihat ke arahnya.
"Sasuke." Sakura memulai. "Daijoubu?" tanyanya lembut.
Sasuke memegang tangannya, tersenyum letih. "Iie," desahnya. "Tapi selama kau berada di sini denganku, aku merasa sedikit lebih baik." Sasuke menatapnya sejenak, sebelum dia mengulurkan tangan, meraih tangan Sakura dan menariknya ke bawah sehingga Sakura terpaksa duduk di pangkuannya. "Aku merindukanmu." Dia akhirnya berkata, menatapnya. "Sangat."
Sakura tidak bisa menahan diri. Dia membawa bibirnya ke bibir Sasuke, mengingatkan dirinya bahwa dia adalah miliknya dan ini semua benar-benar terjadi. Beberapa bagian dari dirinya masih merasa takut akan kemungkinan bahwa Sasuke mungkin menghilang lagi.
"Aku merindukanmu juga... sangat," katanya.
Sasuke menutup matanya. "Mou!" katanya frustrasi, bersandar ke bawah ke tempat tidur.
"Apa?" Sakura bertanya sambil menggeser posisinya sehingga dia berada di atasnya sekarang.
"Bersamamu sulit untuk menjaga kontrol diri," katanya bercanda dan tertawa, membuka matanya, tapi setiap kata-katanya adalah benar. Dia menyeringai pada Sakura dan membalikkan tubuhnya sehingga dia yang berada di atas sekarang.
"Bahkan sekarang?" Sakura bertanya.
"Apalagi sekarang!" Dia menjawab dan tertawa.
"Jadi sekarang apa?" tanya Sakura, menatapnya, untuk sesaat dia benar-benar lupa segalanya.
Sasuke menyeringai saat dia membenamkan wajahnya di leher Sakura, membungkus lengannya di sekelilingnya. Dia mulai menggeliat. Sakura terkikik saat Sasuke menggelitiknya dan mulai mendorong mereka ke atas menuju tempat tidur, tetapi sepanjang waktu Sakura tidak bisa menahan tawa saat Sasuke bertindak seperti anak kecil yang menggerutu pelan tentang bagaimana dia ingin tidur. Ketika mereka akhirnya mencapai bantal Sasuke jatuh di sampingnya. Matanya setengah terbuka.
"Tidur..." katanya, sedikit mirip zombie.
Sakura tertawa lagi. Dia menatapnya sejenak, sebelum mengangkat tangannya dan membiarkannya beristirahat di pipi Sasuke.
"Dia sepupumu," katanya lembut.
Sasuke tersenyum. "Ya, Karin adalah orang yang paling sensitif yang pernah kau temui. Dia sudah seperti itu sejak kami masih kecil... itu kesalahan bibiku." Sasuke menyimpulkan, menggoyangkan hidungnya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya?" tanyanya lembut.
"Kau tak pernah memberiku kesempatan."
Sakura tersenyum, membungkuk sedikit di atasnya. Dia membiarkan bibirnya dengan lembut menekan bibir Sasuke yang membalasnya lembut. Sebuah bunyi tiba-tiba menarik mereka terpisah dan mereka duduk diam sejenak sebelum bunyi itu datang lagi. Sasuke menyeringai.
"Aku bilang pada mereka untuk tidak melakukan hal-hal aneh."
Sakura merona. Ino... dan Sai... mereka...
"Ya Tuhan," bisik Sakura, benar-benar malu.
Sasuke tiba-tiba menariknya kembali, membalikkan tubunya sehingga punggung Sakura menghadapnya, kemudian dia melingkarkan lengannya di tubuhnya.
"Aku tidak akan melakukan hal-hal aneh padamu." Dia berbisik dan Sakura merasa jantungnya berhenti berdetak. "Belum," katanya ringan, mencium lehernya sebelum dia menutup matanya, benar-benar merasa nyaman di tempat di mana dia berada.
.
.
.
TBC
.
.
.
Author's bacot area
Hani_bani_suitiiii, I'm so, so, sorry... Ternyata si perempuan misterius belum ketauan di chap ini. Kemaren author salah info. Maaf ya. Tapi tenang, karna updatenya cepet, misterinya juga cepet ketauan kok. Wkwk.
Soal kenapa akhir2 ini chap nya pendek, di awal dijelasin author asli cerita ini ada 2 orang, yaitu ButaTokki and CamsaHead, jadi gaya ceritanya juga beda. Ada yg bisa cerita panjang lebar, ada juga yang singkat padat. Tapi dua2nya tetap menarik kan? :)
Makasih banyak buat yang review. Stay tuned ya..
