.

.

.

Hana Yori Dango 3

THE NEXT GENERATION

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 15

Sasuke menatap Sakura yang sedang tertidur. Tak lama lagi mereka harus meninggalkan hotel dan mencoba untuk menemui ayahnya, tetapi dia ingin tetap di tempat. Dia bersandar pada sikunya, diam-diam menonton Sakura tidur. Setelah beberapa menit menatap dengan bahagia, dia membungkuk ke arah Sakura dan meniup di telinganya. Senyum samar muncul di bibir Sakura dan Sasuke menyapukan bibirnya di telinganya, membuat Sakura tertawa dan membuka matanya.

"Hentikan, kau menggelitikku!" Sakura komplain sambil tertawa.

"Kau mendengkur." Sasuke bercanda.

"Tidak, tidak mungkin!" kata Sakura, dengan main-main memukul lengannya.

"Aku bercanda!" kata Sasuke, memegang kedua tangan Sakura ketika dia mulai mencoba untuk memukulnya lebih keras.

"Jahat," kata Sakura sambil menjulurkan lidahnya saat dia mulai memberontak dalam genggaman Sasuke.

"Berhenti," kata Sasuke sambil tertawa. "Aku punya sesuatu untukmu!"

"Mmmm," jawab Sakura simpel, perlahan menenangkan diri sambil cemberut.

Sasuke melepaskannya dan merogoh sakunya. Ketika dia mengeluarkan tangannya, dia menggenggam kalung. Sebuah liontin bundar. Lingkaran perak yang menahan sebuah benda berbahan kaca dengan citra langit. Sakura menatapnya, benar-benar terpesona. Ini indah. Ini benar-benar tampak seperti potongan langit. Sakura ragu-ragu mengulurkan tangan dan mengambilnya, menempatkannya dengan lembut di antara jari-jarinya agar bisa melihatnya dengan lebih baik. Sedikit sinar matahari sore yang tersaring masuk membuatnya bersinar cemerlang.

"Wow," katanya pelan, merasa seolah-olah dia sedang memegang langit di tangannya.

"Aku membuatnya untukmu di Paris." Sasuke menjelaskan, mengawasinya. "Hanya kau yang bisa kupikirkan selama di Paris." Dia mengakui, mendesah mengingat betapa menderitanya dia ketika meninggalkan Sakura. "Dengan pikiran semacam 'Aku akan memenangkan hatinya' saat di Paris, aku membuat ini... tapi kemudian aku ingat aku telah mengatakan pada kalian semua bahwa aku menyerah terhadapmu, jadi aku pikir ini sia-sia. Aku hanya membawanya ke mana-mana... untuk berjaga-jaga."

"Aku menyukainya," bisik Sakura.

Benda ini begitu indah dan Sakura merasa begitu terpesona. Dia merasa ada yang menymbat tenggorokannya dan air mata menusuk matanya. Dia merasa sangat senang karena Sasuke memikirkan dirinya justru ketika dia berpikir bahwa Sasuke benar-benar melupakan keberadaannya.

"Aku hanya ingat kau begitu suka melihat langit dan aku sendiri juga menyukai langit. Ini menunjukkan padamu kemungkinan yang tak terbatas." Sasuke melanjutkan. Dia mengambil kalung itu dari tangan Sakura. Sakura memutar punggungya hingga menghadap Sasuke dan mengangkat rambut dari tengkuknya agar Sasuke bisa memasang kalung itu untuknya. Ketika Sasuke selesai, dia mencium bagian belakang leher Sakura. "Aku sangat merindukanmu," gumamnya di kulit Sakura.

"Sasuke," kata Sakura, berbalik menghadapnya lagi. "Arigatou."

"Mengapa kau menangis?" Sasuke bertanya dan mulai tertawa.

"Aku hanya...," kata Sakura, tersedak dengan kata-katanya, membuat Sasuke tertawa lebih keras.

"Baka~!" Dia menggoda Sakura dan mencium keningnya.

Sakura memeluk Sasuke, melingkarkan lengannya dengan erat dan menangis. Dia hanya menangis, tidak menyadari sampai saat ini betapa Sasuke benar-benar mencintainya, betapa luar biasa dan indahnya cinta ini. Selama ini, setelah semua yang terjadi, Sasuke hanya memikirkan dirinya. Meskipun dia mengatakan dia membencinya, meskipun dia bersama Naruto, setelah semuanya... Sasuke hanya mencintainya.

"Aku mencintaimu." Sakura berkata, tiba-tiba menarik diri dan mencium Sasuke, mengejutkannya. "Aku mencintaimu," katanya lagi, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Sasuke menatapnya, benar-benar terkejut. Well, dia tahu Sakura memiliki perasaan padanya. Dia pikir itu sebabnya Sakura begitu cemburu pada Karin. Dia berpikir Sakura menyukainya, tapi bukan mencintainya. Sasuke meletakkan tangannya di pipi Sakura untuk menenangkannya. Dia hanya menatapnya.

"Sasuke... aku mencintaimu," katanya, memegang wajah Sasuke juga. Sasuke tersenyum, hatinya membuncah. "Kau dengar aku?" tanyanya.

"Kau ingin aku melakukan hal-hal aneh padamu ya?" kata Sasuke.

Sakura tertawa. "Kenapa?"

"Kau bilang mencintaiku di tempat tidur... hanya akan mengakibatkan hal-hal aneh terjadi." Sasuke berkata sambil menyeringai, sebelum menarik Sakura mendekat dan berguling-guling di tempat tidur dengannya, memegangnya erat-erat.

Sakura tertawa saat mereka berguling-guling. Sasuke bergumam lembut di telinganya bahwa dia mencintainya.

"Apa? Jadi kau akan melakukan hal-hal aneh sekarang?" Sakura bertanya, menyeringai begitu lebar, mengembalikan kata-kata yang diucapkan Sasuke kepadanya. Dia merasa seolah-olah tidak ada yang bisa menghancurkan kebahagiaannya.

"Mungkin," kata Sasuke, kemudian menyeringai dan mulai menggelitiknya.

Sakura tertawa dan mencoba untuk menyingkirkan tangan Sasuke darinya untuk membuatnya berhenti, tapi Sasuke melanjutkannya. Keduanya terjebak dalam dunia bahagia milik mereka sendiri, lupa akan hal lain. Sasuke senang melihat Sakura tersenyum, itu adalah pemandangan terbaik di dunia. Seolah-olah tidak akan pernah cukup baginya.

"Dan kau mengatakan kepadaku untuk tidak melakukan sesuatu yang aneh," kata Sai tiba-tiba dari pintu kamar mandi.

"Kalian begitu berisik," kata Ino.

Sakura dan Sasuke duduk tapi Sasuke terus memeluknya.

"Kami berisik?! Kalian yang berisik!" Sasuke membalas dan tersenyum nakal pada mereka saat wajah Ino memerah.

"Aku tidak tahu apa yang kau maksud." Sai membalas dengan senyum, tapi wajah merah Ino membuatnya gagal.

"Yang aku lakukan hanyalah menggelitiknya, tapi kalian berdua seperti dentuman musik!" kata Sasuke. Sakura menaruh tangannya di atas mulut untuk menahan tawanya. "Bunyinya seperti dum... dum... dum." Sasuke berkata sambil bertepuk tangan mengikuti irama. "Dan kemudian semakin cepat, dum, dum!" Tangannya bertepuk lebih cepat.

Sakura tertawa saat Ino terduduk di lantai menutupi wajahnya. Sai merona sedikit dan tertawa.

"Yah, kau memang hewan." Sakura berkata sebelum dia jatuh ke depan di tempat tidur dan tertawa lebih keras. Oh, ada kemenangan tertentu untuk semua ini.

"Kita bertemu di luar," kata Sai, mengambil tangan Ino dan meninggalkan ruangan.

"Benar-benar membosankan. Mereka menyerah," kata Sasuke.

"Yah, apa boleh buat, kita di atas angin," kata Sakura.

"Yeah, tapi aku ingin melakukan hal-hal aneh denganmu," rengek Sasuke dan mentackle Sakura, melingkarkan tangannya di pinggang Sakura dan membawanya ke tempat tidur. Kembali Sakura menghadapi Sasuke yang mulai menguburkan wajah di lehernya. Sakura mulai tertawa lagi dan mereka mendengar seseorang menggedor pintu mereka. "Ya, ya!" Sasuke berteriak. "Sialan Sai." Dia mengutuk.

"Itu pembalasan dendamnya," kata Sakura.

Saat itu telepon yang kemarin mereka beli berdering dan Sasuke melepaskan Sakura untuk menjawabnya. Sakura mengerutkan kening. Saat-saat bahagia sudah berakhir.

"Halo?" kata Sasuke, merapikan kemejanya.

"Sasuke, di mana kau? Kau aman? Siapa saja yang bersamamu?" Dia mendengar ayahnya bertanya.

"Kami berada di sebuah hotel, dan aku aman. Aku bersama Sakura, Sai dan Ino yang berada luar menunggu kami," jawab Sasuke. Dia sedikit kesal dengan situasi ini, sungguh. Dia tidak bisa pulang ke rumah, dia harus lari dan itu semua bisa berpotensi membahayakan orang-orang di sekitarnya. Sakura memberi Sasuke ciuman sebelum dia bangun, berjalan ke cermin untuk merapikan rambutnya saat Sasuke berbicara. "Jadi, sekarang apa, Yah?" tanyanya sambil berdiri dari tempat tidur, merenggangkan tubuh. Waktu yang menyenangkan sudah berakhir.

"Kau harus pergi ke rumah itu, yang kita beli dari istri pamanmu."

"Oke," kata Sasuke, berpaling dari Sakura dan berjalan menuju jendela. Saat ini sepertinya pukul tiga sore.

"Aku akan datang menemuimu ketika ada kesempatan. Rumah itu sudah penuh dengan makanan dan kebutuhan lainnya sehingga kau tidak perlu khawatir." Sasuke mengangguk.

"Sasuke, aku akan menemuimu di luar." Sakura berbisik dan Sasuke sekali lagi mengangguk.

"Nak, berhati-hatilah." Fugaku terdengar begitu serius, sangat putus asa. "Aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi padamu."

"Aku tahu, Yah." Sasuke menghela napas. "Aku akan menemuimu segera. Oke... Bye."

Sasuke menutup telepon dan menghela napas. Jantungnya berhenti saat dia merasakan tekstur pistol yang dingin di belakang kepalanya.

.

.

.

TBC

Review please?