.

.

.

Hana Yori Dango 3

THE NEXT GENERATION

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 16

"Buon pomeriggio1, Sasuke." Aksen Italia itu membuat Sasuke membeku. "Sudah ... como si dice2... berapa lama ya?" Sasuke berbalik, mata hitam pekatnya bertatapan dengan mata hijau tua milik wanita jangkung di depannya. Dia cantik, dengan rambut coklat kemerahan panjang dan mata sehijau hutan. Tubuhnya ramping dan tampak sempurna untuk seseorang yang berusia 49 tahun. Matanya bersinar. "Ho aspettato questo momento3."

Pada awalnya Sasuke benar-benar merasa tertangkap basah dan sedikit bingung, tapi dengan cepat berubah tenang kembali.

"Ti dispiacerebbe parlare in giapponese per me4?" tanyanya sambil menyeringai, berusaha tampak percaya diri dan tidak takut. Dia tidak akan membiarkan wanita itu melihat celah kelemahannya.

"Jika kau berkata begitu," jawab wanita itu, ikut menyeringai.

"Sampai kapan kau akan memburuku?" tanya Sasuke, menuju meja di dekatnya dan duduk di atasnya, kemudian mendesah.

Dia harus tetap tenang. Dan yang paling penting, dia harus memikirkan cara agar Sakura tidak datang mencarinya dan wanita itu tidak melihat Sakura. Dia mungkin sudah tahu tentang Sakura, tapi Sasuke tidak perlu mengkonfirmasi itu, yang hanya akan memberikan keuntungan pada wanita di depannya. Sasuke tahu dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya dan jika dia melihat reaksi Sakura terhadap kejadian ini, dia akan menempatkan Sakura dalam risiko yang besar.

"Perburuan selesai, kau sudah tertangkap," kata wanita itu, mengacungkan pistol ke arah Sasuke.

"Kau tidak akan pernah bisa menangkapku," kata Sasuke, menatapnya tajam.

"Oh ya?" Dia melanjutkan, mendekat ke arah Sasuke dan menempatkan mulut pistol di bawah rahangnya. "Menurutku kau sudah tertangkap."

Sasuke tertawa kecil. "Atau mungkin itu masalah perspektif," balasnya. Dia harus terus mengulur waktu, mencari celah dari situasi ini.

"Kesenangan berakhir," kata wanita itu sambil mengokang pistol.

Sasuke merasa jantungnya berhenti. Apa lagi sekarang? Wanita itu sudah mengambil keuntungan besar atas dirinya. Setiap gerakan tiba-tiba yang dia lakukan akan membuat jari-jari kecil itu dengan senang hati menarik pelatuk dan... selamat tinggal dunia.

Ada banyak hal yang masih harus Sasuke lakukan. Dia masih harus menikah dengan Sakura. Dia masih harus memiliki bayi dengannya dan membuat keluarga. Itulah yang dia inginkan. Bahkan di usia tujuh belas tahun dia tahu... dia ingin menghabiskan sisa hidupnya di samping Sakura. Dia tidak bisa membiarkan semuanya berakhir di sini... tidak di sini.

"Terumi Mei," kata Sasuke. Meskipun di dalam dia merasa takut, namun suaranya terdengar tenang. "Mendekatiku di sini bukanlah hal yang bijaksana." Dia berkata sambil menatap mata hijau itu.

"Kau benar, bambino5," kata Terumi sambil tersenyum. "Tidak ada kepuasan dalam hal ini. Ayahmu harus menderita terlebih dahulu." Senyumnya berubah gelap. "Bangunlah," perintahnya.

Terumi Mei mendorong Sasuke keluar dari kamar hotel dan hati Sasuke membeku saat melihat Sakura ditahan, mulutnya ditutup. Matanya menatap Sasuke dengan rasa takut dan khawatir.

"Sial," rutuknya. Sai dan Ino di posisi yang sama, saling memunggungi, mereka melihatnya, pria besar berpakaian hitam memegang senjata siap menembak mereka. "Lepaskan mereka, Mei."

Terumi tertawa kecil di sampingnya, menurunkan pistolnya.

"Kurasa tidak. Aku tidak pernah berpikir akan menemukan sesuatu yang menakjubkan di sini, di Jepang," katanya sambil berjalan ke arah Sakura. "Di Paris, aku tidak bisa menemukan cara untuk menyerangmu, untuk membuat kau datang dengan sukarela... tapi kau menginjakkan kaki di tanah Jepang dan kau tidak bisa berbuat apa-apa selain berlari ke rumahnya." Terumi berbisik saat dia membelai wajah Sakura. "Manis. Apakah ini kebiasaan keluarga? Jatuh cinta dengan orang biasa?" dia bertanya, berjalan kembali menuju Sasuke.

Mata Sasuke tertuju pada Sakura. Sakura takut... karena dia... Sakura takut.

"Lepaskan mereka, Mei," geram Sasuke, benar-benar marah pada dirinya sendiri. Dia seharusnya lebih berhati-hati, lebih waspada.

Mata Terumi mengeras. "Ikutlah denganku, dan aku akan membiarkan mereka pergi," katanya, menodongkan pistol ke arah Sakura.

"Tidak," kata Sasuke.

Suara resonansi peluru membuat jantung Sakura berhenti. Peluru meluncur bebas dari laras dengan cepat, berputar cepat sebelum melakukan kontak dengan kulit bahu Sasuke. Dagingnya terbakar sampai hancur dan terbuka, yang memungkinkan peluru masuk, menembus semua penghalang dan bersarang pada ototnya. Sasuke membeku saat dia jatuh ke tanah.

"Sasuke!" teriak Sakura.

Sasuke memegang bahunya, benar-benar terluka. Terumi menatapnya. Darah mulai menggenang.

"Jika aku membunuhmu di sini... aku akan membunuh mereka juga. Ikutlah denganku. Aku akan membiarkan mereka pergi dan aku bisa membunuhmu semauku di tempat lain." Dia berbalik, pistolnya mengarah ke Sakura sekali lagi. "Pilih."

"Apa kau gila?! Dia berdarah. Dia membutuhkan bantuan!" Sakura berteriak dan berjuang untuk menjangkau Sasuke yang mencoba melawan rasa sakit.

"Aku tidak punya banyak waktu," kata Terumi, menekan pistol lebih tegas di sisi kepala Sakura.

"Aku akan ikut denganmu," kata Sasuke dengan gigi terkatup. "Tapi jangan sakiti mereka." Terumi menyeringai penuh kemenangan dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk meninggalkan sandera mereka dan mereka mendekati Sasuke, mengangkatnya dari lantai dan memaksanya berdiri. "Kau berjanji tidak akan menyakiti mereka," kata Sasuke.

"Selama kau berada dalam kendaliku, aku tidak akan menyentuh mereka seujung jaripun." Dia berjanji dan melepaskan Sakura.

Begitu Sakura bebas dia berlari menuju Sasuke.

"Sasuke, jangan, kumohon," pintanya.

Sakura tidak ingin Sasuke direnggut darinya lagi. Dan dengan memikirkan bahwa Sasuke terluka dan hidupnya dalam bahaya membuat Sakura semakin tak tahan. Sasuke menatapnya, mengernyit sedikit ketika orang-orang yang menahannya memegangnya erat-erat hingga lukanya berdenyut. Sakura terlihat panik, melihat sekeliling dengan ketakutan, dari Terumi Mei lalu ke arah orang-orang yang menahannya. Dari matanya, Sasuke bisa melihat sebuah rencana, tetapi dia tahu rencana itu tidak akan berhasil.

"Sakura, lihat aku," katanya, meminta perhatiannya. "Lihatlah ke arahku." Air mata mulai membakar mata Sakura saat dia mencoba untuk menahannya. "Ini hanya sementara." Air mata Sasuke sendiri terancam jatuh. "Hanya untuk sementara waktu." Keringat mulai menutupi wajahnya dan Sakura melihatnya menahan sakit. Darah membentuk noda besar di kemeja putihnya.

"Tidak," bisiknya.

Sasuke berusaha menarik diri dari pria-pria yang menahannya, memberi Terumi tatapan yang dia mengerti. Pria-pria itu melepaskannya dan dia berjalan ke depan, menekan dahinya dengan dahi Sakura. Dia terasa hangat. Akibat rasa sakit itu dia menjadi demam. Dia mengatupkan rahangnya untuk menahan tangis.

"Kau... pergilah ke ayahku." Dia berhenti bernapas, rasa sakit itu tak tertahankan. "Kau harus menemui ayahku, Sakura. Dia akan datang mencariku." Dia menatap Sakura, dan kemudian melihat ke belakangnya, ke arah Ino dan Sai. "Dia akan datang untukku." Dia mengulangi, melihat Sakura kembali.

"Saatnya pergi," kata Terumi.

"TIDAK!" Sakura menangis, dan yang mengejutkan Sai menyambarnya dari belakang, memegang tangannya. "Tidak!" Dia memberontak.

"Aku akan kembali," kata Sasuke, menjangkau wajahnya dengan lembut dan mencium bibirnya.

"SASUKE, TIDAK! LEPASKAN AKU!" Dia memberontak dalam pelukan Sai.

Dua pria memegang Sasuke dan Sakura melihat Sasuke meringis kesakitan dan mengerang pelan, berusaha mati-matian untuk menahan semuanya. Mereka menariknya, membuatnya menjauh. Melihat punggung Sasuke membuat Sakura tercekik, dia tidak bisa bernapas. Ini tidak boleh terjadi.

"TIDAK! JANGAN PERGI!" Dia menangis.

Beberapa menit berlalu sebelum Sai akhirnya melepas Sakura, tapi pada saat Sakura berlari keluar hotel menuju jalanan, mereka tidak ditemukan. Dia jatuh ke tanah, memegang dadanya dan menangis. Sekali lagi dia tidak bisa mencegah Sasuke untuk tidak pergi dari hidupnya. Sai berlutut di samping Sakura, tangannya membelai punggung Sakura. Ino di sisi yang lain.

"Kita harus bergerak cepat dan sampai ke tempat Uchiha," katanya, membantu Sakura berdiri. Waktunya untuk bergerak.

.

.

.

TBC

1 Selamat siang

2 Bisa dikatakan

3 Aku sudah menunggu saat ini

4 Bisakah kau bicara denganku dalam bahasa Jepang?

5 Nak

.

.

Author's bacot area

Nah kaaaannn, akhirnya ketauan juga siapa si perempuan misterius :D

Maaf karna ficnya tetap pendek, soalnya beginilah bentuk aslinya, dan saya pribadi gak punya hak untuk mengubah cerita.

Makasih banyak u/ yg ngereview. Biarpun sedikit, tapi author bangga dg reader semua yg sejauh ini tetap ngasih semangat n respon yg positif. Author gak akan berenti posting cuma karna yg review sedikit, karena niat awal posting cerita ini adalah u/ berbagi cerita indah k reader semua.

Last words, sampe ketemu di chap depan.