.

.

.

Hana Yori Dango 3

THE NEXT GENERATION

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 17

Mereka naik taksi ke rumah Sasuke dan Sakura tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia mati rasa akan semua realita, diam-diam menyalahkan dirinya sendiri karena dia tidak mampu menghentikan Terumi Mei. Dia menyandarkan kepalanya pada jendela taksi. Semakin dekat dengan rumah Sasuke dia merasa semakin takut. Dia tidak ingin kembali ke rumah di mana terdapat banyak kenangan berharga dari kebersamaan mereka. Seolah-olah rumah itu hanya akan berteriak kepadanya bahwa Sasuke sudah pergi dan dia tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya.

Sakura menutup matanya seolah-olah sakit secara fisik. Dia tidak boleh egois, dia harus pergi ke rumah itu. Itu semua untuk Sasuke, terserah apapun perasaan yang akan ditimbulkan rumah itu kepadanya. Ketika dia merasa taksi berhenti, seolah-olah dia langsung hidup kembali. Dia membuka pintu taksi dan berlari ke dalam rumah, tidak repot-repot untuk mengetuk.

"Uchiha-san!" teriaknya panik.

Karin muncul saat itu. Sepotong wortel tergantung di bibirnya saat dia menatap Sakura. Ketika Sakura melihatnya, dia langsung berlari ke arah Karin dan memegang lengannya.

"Di mana Uchiha-sama?" tanyanya mendesak, membuat Karin bingung dan terkejut.

"Eh... di dalam ruang kerja." Ketika Sakura melepaskannya, dorongannya yang kuat hampir menjatuhkan Karin. Sakura berlari menuju ruang kerja. Sai dan Ino berjalan masuk pada saat itu. "Apa yang terjadi pada Sakura-chan."

"Seorang wanita bernama Terumi Mei menculik Sasuke."

Saat mendengar nama Terumi Mei Karin mulai tersedak wortelnya. Matanya terbuka lebar akibat syok.

"Oh my god," katanya, berlari ke ruang kerja tepat waktu untuk melihat pamannya jatuh dari kursinya, benar-benar pucat. "Oji-san." Karin berbisik, tapi Fugaku tidak melihatnya.

"Hubungi ibumu, Sai. Aku akan menelepon ayahmu, dan kalian, hubungi Sasori dan Naruto. Karin, bawa Mikoto juga."

Sakura, Sai dan Ino membeku saat mendengar nama Mikoto. Apa sih artinya itu?!

"Apa?" Sakura bertanya dan melihat Karin berlari keluar ruangan. "Uchiha-san, apa yang Anda bicarakan Uchiha Mikoto?" tanya Sakura sambil membantunya duduk kembali di kursi.

"Ya," jawabnya, alis matanya berkerut saat dia berpikir keras.

"Tapi... dia sudah meninggal," sembur Ino, kemudian menggigit bibirnya, takut menyinggung perasaannya.

"Tidak, dan sudah waktunya aku menjawab pertanyaanmu," jawab Fugaku.

"Sakura-chan!"

Mereka semua mendengarnya dan berbalik ke arah pintu.

"Mikoto-san!" kata Sai, benar-benar terkejut oleh pemandangan itu.

Wanita itu benar-benar bangun! Lebih dari sekedar bangun, dia berdiri dan bergerak... menuju Sakura.

"Apa yang terjadi dengan Sasuke?! Apakah dia baik-baik saja?" tanya Mikoto kepada Sakura, memegang lengannya dan Sakura merasakan air mata menyengat matanya lagi.

"Maafkan saya, semua ini salah saya," katanya.

Sakura merasa hatinya hancur berkeping-keping dan lebih dari itu, pikirannya hancur oleh semua emosi yang dirasakannya. Rasanya seperti dia tidak bisa menerima fakta bahwa Sasuke sudah pergi dan sedang dalam bahaya. Dia juga tidak bisa mengerti mengapa Mikoto masih hidup. Yang lebih mengguncang adalah fakta bahwa Mikoto memperlakukannya seolah-olah dia telah mengenalnya, seolah-olah mereka telah bertemu sebelum kecelakaan itu. Padahal Sakura tidak pernah sekalipun berbicara dengannya sampai saat ini.

"Bagaimana... mengapa... Anda mengenal saya?" Sakura bertanya setelah beberapa detik. Dia melihat ketakutan di mata Mikoto memudar sejenak dan digantikan dengan kelembutan.

"Karena anakku... tidak bisa berhenti membicarakanmu di Paris," katanya lembut, menempatkan tangan di wajah Sakura, mengamati air mata jatuh dari mata Sakura. "Aku tidak sabar untuk bertemu... gadis yang membuat anakku putus asa karena cinta seperti ayahnya dan putus asa karena patah hati seperti aku dulu."

"Bagaimana kau bisa hidup?" Sai bertanya setelah beberapa saat hening.

"Dia bangun enam bulan yang lalu." Fugaku menjawab. "Karena Mei, aku harus menyembunyikan istriku di Paris."

Mata Sai terbuka lebar karena syok. "Tidak heran..."

Sakura berpaling padanya. "Apa?"

"Ingat, ketika kita tiba di sini enam bulan yang lalu, Uchiha-sama dan Sasuke bertingkah aneh."

Sakura terdiam dan berpikir sejenak..

- Flash back –

"Kau akan pergi?" Sasori bertanya heran.

"Untuk berapa lama?" tanya Sai.

"Kami tidak tahu," kata Fugaku, meskipun anehnya dia terlihat ceria dan Sasuke tidak tampak begitu tertekan, tapi dia terus memandangi ayahnya seolah-olah memiliki beberapa masalah serius... dengan cara yang penuh kasih.

"Apa maksudmu kau tidak tahu?"

"Itu semua tergantung pada banyak hal," kata Fugaku ringan.

- End Flash Back –

"Eh~" kata Sakura, tidak mampu menemukan kata-kata lain. Dia sangat terkejut dengan apa yang mereka bicarakan dan tidak sepenuhnya memahami itu.

"Tunggu, Sakura-chan, apa Sasuke baik-baik saja? Apa dia terluka?" Mikoto bertanya kepada Sakura lembut, mencoba untuk tetap tenang.

"Dia..." Sakura terdiam, tidak mampu untuk melanjutkan.

"Ditembak," lanjut Ino.

Isakan lolos dari bibir Mikoto dan Fugaku memeluknya.

"Kita akan merebutnya kembali. Aku janji," kata Fugaku, mencium puncak kepalanya.

"SAKURA!"

Seseorang berteriak dan Naruto, Sasori dan H4 lainnya memasuki ruangan dengan terburu-buru. Naruto berlari menuju Sakura dan memeluknya.

"Apa yang terjadi?" tanya Sasori.

"Apa yang terjadi pada Sasuke?!" Shion menambahkan, tampak siap untuk memukul siapa pun yang menyebabkan semua ini.

"Tenanglah, aku akan menjawab pertanyaanmu," jawab Fugaku, membiarkan Mikoto duduk di kursi.

"Mi-Mikoto-chan." Naruto terdiam saat dia melihat ibu Sasuke.

Tangan Sakura turun ke bawah dan meraih tangan Naruto, tindakan untuk menenangkan seorang teman. Jantung Naruto berhenti saat dia mendengar langkah kaki di belakangnya. F4 yang asli berjalan masuk. Dia berbalik perlahan dan melihat ayahnya, yang sepertinya tidak terpengaruh oleh keberadaan Mikoto.

"Apa yang terjadi?" Sasori bertanya sekali lagi. Dia juga menyadari ibu Sasuke masih hidup dan dia terkena serangan panik kecil.

"Kami akan menjelaskan semuanya, tapi semua orang harus tenang," kata Akasuna sambil mendekati anaknya. Minato mendekati Naruto, begitu juga dengan Shimura.

"Bagaimana dengan Lee dan Shikamaru? Bukankah mereka dalam bahaya juga?" Ino bertanya, sedikit khawatir.

"Aku benar-benar benci drama," kata Lee, berjalan masuk dengan lengan disilangkan. Shikamaru mengikuti di belakangnya.

"Aku menjadi orang yang luar biasa pintar. Aku tahu kau akan menanyakan hal itu, jadi aku juga menghubungi mereka," kata Sai, sedikit menyombongkan diri, yang dalam beberapa hal membuat kesal Ino, meskipun dia tersenyum. Ino menyukai perasaan bencinya terhadap Sai dan membenci perasaan sukanya pada lelaki itu.

"Sekarang kita semua di sini, semua akhirnya akan menjadi jelas," kata Fugaku.

"Tunggu, TIDAK! Kita harus pergi menyelamatkan Sasuke! Kita tidak punya waktu!" Sakura protes dan mulai memberontak saat Naruto memeluknya lebih dekat.

Sakura tidak peduli meskipun dia tidak mengerti. Yang dia inginkan adalah agar Sasuke aman kembali.

"Sakura, kita semua harus tahu apa yang terjadi untuk membuat rencana, deshou?" Minato berkata kepadanya dengan ramah dan lembut.

"Mm," jawab Sakura, mencoba untuk menenangkan diri.

"Dia akan berada di dekatmu segera," bisik Naruto di telinganya, meyakinkannya.

"Ini semua terjadi beberapa tahun lalu." Fugaku memulai. "Kami semua sedang berlibur di Italia ketika aku bertemu dengannya. Mikoto sedang hamil delapan bulan." Fugaku mengingat-ingat.

"Naruto, kau berumur sekitar dua bulan," kata Minato, melihat anaknya.

"Yang berarti aku berumur satu bulan," kata Sai

"Dan Sasori berusia sekitar lima bulan," Mikoto berkata lembut. "Kami bertengkar. Fugaku dan aku. Aku begitu marah hingga menendangnya keluar dari rumah di Italia."

"Kami tidak bisa berbuat banyak untuk Fugaku. Mikoto seperti seekor singa betina dan dia sedang hamil sehingga dia jadi kejam," kata Akasuna dan mendapat pelototan dari Mikoto. Tayuya tertawa ringan.

"Aku terpaksa pergi ke hotel... dan di sanalah aku pertama kali melihat Mei."

"TUNGGU! Kau berselingkuh dari Mikoto-chan!" Sasori bertanya, benar-benar ngeri.

"TIDAK!" teriak Fugaku membela diri.

.

.

.

TBC

.

.

.

Author's bacot area

Again, I know it's too short. Tapi seperti yg author bilang sebelumnya, sebagai gantinya updatenya diusahakan cepat. Review sudah dibales satu per satu ya. Cek inbox.

Selamat membaca :)