.

.

.

Hana Yori Dango 3

THE NEXT GENERATION

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 18

"Awalnya Mei benar-benar ramah. Kami mulai berbicara untuk waktu yang lama tapi aku masih begitu mencintai Mikoto hingga tidak menyangka dia akan tertarik. Selain itu, aku memakai cincin kawin, jadi aku yakin dia mengerti. Kemudian setelah beberapa saat, aku memutuskan untuk menelepon Mikoto, berpikir bahwa kami berdua sudah tenang dan bisa berbaikan. Ketika aku hendak meninggalkan hotel, Mei menahanku. Dia memintaku untuk tinggal bersamanya, melarikan diri bersama-sama, dan tentu saja aku bilang tidak bisa. Aku terlalu mencintai Mikoto dan kami akan segera punya anak. Saat itulah dia menjadi sedikit kuat dan gila," kata Fugaku sambil mendesah. Hanya dengan mengingat bagaimana semuanya dimulai membuatnya lelah. "Ketika aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak akan pergi dengannya... dia bersumpah untuk menghancurkan keluargaku. Aku tidak pernah berpikir dia memiliki perasaan itu hanya dalam waktu yang singkat!"

"Inilah sebabnya mengapa kau tidak boleh berbicara dengan orang asing!" kata Mikoto, menampar lengannya pelan.

Sakura tidak bisa menahan senyum karena meskipun Mikoto terlihat kesal dan Fugaku tampak menyesal... cinta di antara mereka terlihat jelas.

"Intinya, dia mulai menguntit kami ke mana pun kami pergi. Suatu hari aku menegaskan bahwa tidak ada yang bisa membuatku menyerah akan keluargaku, kecuali mereka pergi. Aku tidak akan pernah bersamanya... dan bahkan setelah itu pun aku tidak bisa bersamanya," kata Fugaku.

"Oh, tentu itu memberinya ide kenapa kau tidak bisa bersamanya." Mikoto merosot di kursinya, lengannya disilangkan dengan cemberut, anehnya tampak mirip anaknya.

"Tak lama setelah itu Mikoto mengalami kecelakaan. Awalnya istriku dirawat di rumah sakit tapi setelah beberapa upaya dari pihak Mei untuk membunuhnya di rumah sakit, aku membawanya ke sini... hingga dia bangun." Fugaku mendesah, mengusap wajahnya. "Aku panik."

"Jadi dia 'membunuhku' dan mengirimku ke Paris, satu-satunya tempat yang bisa terpikir oleh otaknya." Mikoto menambahkan sambil menghempaskan tangannya ke udara, jengkel.

"Nah, nah," kata Akasuna, tertawa padanya sebelum percekcokan kecil meletus. Mereka semua terlihat sama seperti biasa.

"Yah aku benar-benar tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan!" kata Fugaku membela diri. "Aku membawa Mikoto ke sini agar lebih mudah melindungi dirinya, tapi ketika dia bangun aku hanya tahu aku tidak bisa menjaganya di rumah selamanya," lanjut Fugaku.

"Kenapa tidak memberitahu polisi untuk memburu Terumi Mei?" tanya Sasori.

"Kami melakukannya tapi kami merahasiakannya. Kami tidak ingin meresahkan publik dan Mei terlalu pintar untuk ditangkap oleh mereka," jawab Fugaku. "Ketika kami pikir sudah aman untuk kembali, maka kami kembali, tapi tetap menutupi keberadaan Mikoto."

"Tapi sekarang anak kami berada dalam bahaya," kata Mikoto.

"Apa lagi yang harus kulakukan?" Fugaku menyentuhnya.

Sakura merasakan sentakan di hatinya. Dia menyukai bagaimana Mikoto dan Fugaku bertindak terhadap satu sama lain. Mereka masih mampu mengekspresikan pikiran mereka secara bebas dan mungkin memiliki perbedaan pendapat tetapi masih memiliki rasa cinta yang kuat. Dia ingin hubungannya dengan Sasuke sama seperti itu, tapi masalahnya... Sasuke tidak ada di sini. Dan dia tahu ada kemungkinan Sasuke tidak akan berada di sini lagi. Bagaimana jika Terumi telah membunuhnya? Sakura membenamkan kepalanya di tangannya dan mulai menangis. Naruto menempatkan tangan di bahunya. Tidak benar-benar yakin apa lagi yang harus dilakukan pada saat itu.

Saat akhirnya semuanya mulai berada pada tempatnya, tiba-tiba semuanya berantakan. Sakura tidak percaya baru beberapa jam yang lalu dia berguling-guling tempat tidur, dengan Sasuke yang berbisik di telinganya bahwa dia mencintainya. Sai mendekatinya, juga menempatkan tangan di bahunya.

"Di saat-saat seperti ini, kau pasti berharap kau sudah melakukan hal-hal aneh dengan Sasuke," kata Sai, mencoba meringankan suasana dan berhasil.

Sakura tertawa. "Apa seperti hal-hal aneh yang kau lakukan dengan Ino?"

"KAU MELAKUKAN HAL ANEH DENGAN SHIMURA-SAN!" Lee berseru kaget, benar-benar syok sebelum dia mulai terkekeh.

"Apa mereka berisik?" Shikamaru bertanya, benar-benar menggoda Ino yang semerah tomat.

"Sasuke menggambarkan mereka seperti irama musik."

Lee dan Shikamaru tertawa terbahak-bahak, hampir jatuh di lantai. Ino menutupi wajahnya, menyadari bahwa F4 yang asli ada di ruangan itu!

"GUYS!" tegur Sai saat ayahnya dan teman-temannya menatapnya penuh arti.

"Selamat datang di dunia laki-laki!" kata Shimura kepada anaknya, menepuk punggungnya.

"Ayah~!" rengek Sai, rona merah mewarnai pipinya dan Minato terbatuk, mencoba menyembunyikan tawanya.

"Jadi Sasuke tidak melakukan hal-hal aneh. Kau pasti kecewa ne~" kata Mikoto, menusuk pipi Fugaku. "Dia lebih mirip denganku. Genku lebih dominan."

"Diam," jawab Fugaku, mencoba menyelamatkan harga dirinya dan dari gestur Fugaku, Sakura melihat Sasuke, bagaimana dia berdiri menantang demi harga dirinya.

"Apa yang akan kita lakukan untuk Sasuke?" Sakura bertanya. Kebahagiaan yang singkat berhenti karena pertanyaannya.

"Aku punya ide," kata Shion, membuat kehadirannya disadari untuk pertama kalinya pada malam itu.

Karin menengok dari belakang Naruto dan menatap temannya. "Nani... AH!"

"Ya."

"Menurutmu?"

Shion mengangguk.

"Oh... ya..." kata Ayame, membuat Shikamaru melompat. Dia tidak menyadari bahwa Ayame berdiri di sampingnya.

"Shion cerdas," kata Tayuya.

H4 tiba-tiba tahu sesuatu yang orang lain tidak ketahui.

"Itu karena aku brilian," kata Shion dengan seringai yang anehnya menyerupai Sai.

"Hm... bawa 'itu'." Karin berkata sambil tersenyum.

"Apa yang terjadi?" tanya Mikoto.

"Sasuke memiliki alat pelacak pada dirinya." Karin mengumumkan.

.

.

.

TBC

Review please?