.

.

.

Hana Yori Dango 3

THE NEXT GENERATION

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 19

"HA?!" terdengar keras di seluruh ruangan. Karin memijat pangkal hidungnya.

"Yeah... Maksudku karena aku begitu mudah tersesat, aku meletakkan alat pelacak pada dirinya, pada manset kemejanya agar aku bisa menemukannya ketika aku tersesat. Aku tidak tahu arah," jelasnya.

Sakura menatap diam-diam pada Karin saat Tayuya meninggalkan ruangan untuk mengambil perangkat itu. Dia tidak tahu apakah dia harus benar-benar berterima kasih padanya atau benar-benar panik oleh kenyataan bahwa Karin menempatkan alat pelacak pada Sasuke. Akan sangat merepotkan jika Karin secara acak muncul ketika keduanya sedang sendirian. Sakura menggeleng untuk membersihkan pikiran itu. Mereka memiliki sesuatu yang bisa membawa mereka pada Sasuke! Dia harus puas dengan hal itu dan mungkin mengkhawatirkan hal lain di kemudian hari.

"Kau benar-benar aneh," kata Naruto pada Karin tapi tersenyum padanya. Dia tampaknya memiliki ketertarikan tertentu kepada Karin. Dia sendiri tidak mengerti.

"Setidaknya aku salah satu yang baik hati," jawab Karin.

"Ini dia," kata Tayuya sambil memasuki ruangan. Mengulurkan sebuah benda yang tipis. Sebuah layar besar dengan beberapa tombol di sampingnya.

"Ya ampun, orang-orang kaya yang menakutkan," gumam Lee.

"Ini adalah bagian dari pesona kami," kata Shion sambil mengedipkan mata saat dia mendengar komentar Lee. Lee merona. Apakah hanya perasaannya saja atau gadis ini memang terus-menerus memperhatikannya? Jujur saja dia tidak terbiasa dengan perhatian. "Oke, ini dia." Shion mengumumkan setelah sibuk dengan pad selama beberapa detik. Dia menyerahkan pad itu kepada Karin yang memiringkan kepalanya ke samping.

"Dimana sih ini?" tanyanya.

Naruto menyambarnya dari tangan Karin. "Aku tahu tempat ini!" katanya sambil membaca arah.

"Kita tahu tempat ini?" Sasori bertanya sambil mendekati Naruto, melihat perangkat. "Ah, kita tahu tempat ini!" katanya sambil menatap petunjuk arah.

"Kenapa di sana?" Sai bertanya, sedikit kesal saat dia menatap layar.

"Ohoho... itu aneh," kata Shimura sambil mengintip melalui para remaja itu dan menatap ke bawah. "Ini tempat kita hang out. Klub itu, ingat?" kata Shimura.

Fugaku, Mikoto, Minato dan Akasuna menatapnya bingung.

"Bagaimana Mei tahu tentang itu?" Fugaku bertanya kesal.

"Mungkin itu kebetulan," kata Shimura.

"Tempat itu ditutup tahun lalu!" Fugaku menggerutu. Hebat, anaknya terjebak dalam sebuah klub yang kebetulan menjadi tempat berkumpul geng lamanya.

"Oke mari kita pergi!" kata Mikoto sambil berdiri.

"Whoah, whoah, whoah, kau tidak akan kemana-mana," kata Fugaku, memegang tangannya untuk menghentikannya.

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Mikoto.

"Kau dan para gadis tetap di sini," perintahnya.

Sakura hendak protes ketika Naruto meremas tangannya. Dia tidak ingin Sakura pergi lagi seperti halnya Fugaku ingin istrinya begitu... dan untuk beberapa alasan aneh dia juga khawatir tentang Karin.

"Tidak, kami ikut!" kata Ayame.

"Tentu saja," tambah Shion.

"Sanggupkah kau benar-benar mengatakan tidak padanya?" tanya Mikoto pada Fugaku, menggedikkan kepala ke arah Sakura.

"Tolong ijinkan kami ikut dengan Anda." Sakura memohon. Dia ingin, lebih dari apa pun, melihat Sasuke bernapas, setidaknya begitu.

Fugaku mendesah. "Baiklah." Dia mengizinkan.

Sasuke mungkin akan memarahinya karena membiarkan Sakura ikut tapi sulit untuk mengatakan tidak ketika dia melihat apa yang sedang dialami Sakura.

.

.

#The Next Generation#

.

.

Kepalanya sakit. Goresan di seluruh tubuhnya terasa sakit. Belum lagi dia merasa seperti terbakar. Pikirannya terus keluar-masuk dalam kegelapan dan dia kehilangan jejak waktu. Menjilati bibirnya yang kering, Sasuke akhirnya berhasil membuka matanya. Lukanya berdenyut-denyut menyakitkan tapi sudah berhenti berdarah di beberapa tempat. Sekarang yang tersisa adalah perasaan lengket dan sengatan luka yang mengguncang tubuhnya begitu sering.

"Di mana kita?" Sasuke bertanya, mendengar suara-suara pelan di sekitarnya.

"Selamat datang kembali." Suara Mei membuatnya kesal. "Aku harap kau tidak keberatan karena aku tidak bisa membunuh seorang pria saat dia setengah tertidur," katanya. Bibirnya melengkung menyeringai. Dia membuat Sasuke kesal. "Ketika aku sudah selesai denganmu, aku akan mengirimkan tubuhmu dalam potongan-potongan kepada keluargamu." Dia berkata pelan, tampak senang dengan gagasan itu dan membuat tulang belakang Sasuke menggigil. Wanita ini gila dan Sasuke tiba-tiba menyadari... dia diikat.

"Sekarang bagaimana aku harus membunuhmu?" Mei bernyanyi main-main saat Sasuke mencoba melonggarkan ikatannya, mengabaikan rasa sakit akibat gesekan itu terhadapnya. "Itu tidak berguna," kata Mei padanya. "Aku tidak akan melepaskanmu sekarang saat kau sudah tertangkap." Dia melanjutkan, berputar-putar di sekelilingnya.

"Mengapa kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa ayahku tidak akan pernah bersamamu!" Sasuke berteriak padanya dengan marah yang membuat Mei melotot padanya.

Terumi Mei menghadap Sasuke dan mendekatkan wajahnya, memutar kepala Sasuke dengan pistol di tangannya untuk membuatnya menatapnya.

"Oh, aku sudah menerima kenyataan itu sejak lama. Aku hanya membalaskan dendamku padamu dan ibumu. Jika kau tidak dilahirkan dan jika dia tidak pernah ada, Fugaku pasti jadi milikku," kata Mei padanya dalam suara rendah. "Ini. Semua. Salahmu." Dia mengacungkan pistol dan Sasuke merasa napasnya berhenti di tenggorokannya.

"STOP!"

Mereka mendengar seseorang berteriak dan Mei berdiri tegak untuk melihat siapa yang berbicara.

"Sakura! Sakura, apa yang kau lakukan di sini?" tuntut Sasuke. Dia merasa setiap potongan kewarasannya menghilang saat melihat Sakura. Dia tidak boleh berada di sini, tidak sekarang. Dan di atas segalanya, dia SENDIRIAN. "Pergi!" kata Sasuke.

Sakura merasa jantungnya berhenti berdetak. Dia masih hidup. Terima kasih Tuhan, dia masih hidup.

"Tidak apa-apa," kata Sakura, melangkah maju. Pistol Mei tiba-tiba menunjuk ke arahnya.

"SAKURA!" Sasuke berteriak.

"NARUTO!"

Jantung Sasuke berhenti. Mengapa dia memanggil Naruto?

"SASORI!"

Sasuke terkejut menemukan Naruto berdiri beberapa meter jauhnya. Seorang pria setengah sadar tergeletak di kakinya.

"Tangkap dia! SAI!" kata Sasori, muncul entah dari mana.

Sai berdiri. Semakin banyak laki-laki yang tak sadarkan diri.

"Ino?!" Sai berteriak.

Kepala Sasuke menoleh tepat waktu untuk melihat Ino melempar sesuatu ke udara.

"Tangkap, Tayuya!"

Mata Sasuke mendarat pada Tayuya. Objek yang Ino lemparkan tampak seperti panah dan Tayuya berdiri sempurna, siap dengan busur di tangannya.

"Aku datang," katanya sebelum melepaskan panah. "Karin!"

"Aku siap!" Panah meluncur tepat sasaran, melepaskan jari-jari Mei dari pistol. Semacam bobot di ujung panah melekat pada pistol dan melemparnya keluar dari tangan Mei ke tangan Karin. "Shion!"

"Lampu... Kamera... Ini seperti panggung!" kata Shion sambil menyalakan lampu di klub. "Shikamaru!"

Shikamaru muncul dengan kamera rekaman.

"LEE!" Lee berteriak.

Semua orang berhenti. Ino berpaling padanya.

"Mengapa kau menyebut namamu sendiri?" Ino bertanya kesal.

Lee berdiri di sampingnya dengan canggung. "Well, tidak ada yang memberiku sesuatu yang harus dilakukan dan semua orang tampaknya melakukan sesuatu yang keren, jadi aku juga ingin menjadi bagian dari itu!" jawabnya, mengangkat tangannya tak berdaya ke udara.

"Yah kami takut kau akan menyakiti diri sendiri, bukannya membantu," kata Shion padanya.

"Anak-anak bodoh," rutuk Mei.

"Sudah berakhir, Mei!" kata Karin, mengarahkan pistol ke arahnya.

"Kembalikan Sasuke," tambah Sakura, berjalan ke arah mereka. Dia mengerahkan segala kekuatannya agar tidak berlari menuju Sasuke dan memeluknya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia masih hidup.

"Aku sudah datang sejauh ini. Apakah kau pikir aku akan menyerahkannya begitu mudah?" Mei bertanya dan tertawa mengejek mereka, bergerak menuju sisi Sasuke. "Aku tidak begitu percaya ini sudah berakhir. Non sottovalutate me1," katanya sambil menyeringai, mengangkat tangannya dan menjentikkan jari-jarinya.

.

.

.

TBC

.

.

.

1 Jangan meremehkan aku

Author's bacot area

Ok, ini aneh, walaupun cukup menghibur kan? Wkwkwk.

Btw ada yang sadar gak kalau ayah Sasori sama Sai selalu author tulis pake marganya doang? Abisnya author gak tau nama mereka. Hehe. Ada yg bisa kasih tau? Mei juga ganti panggilan dari marga jadi nama kecil.

Yosh, tinggal sedikit lagi. Review please?