.
.
.
Hana Yori Dango 3
THE NEXT GENERATION
.
.
.
Disclaimer
Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,
sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto.
Written by ButaTokki and CamsaHead
Translated by Ravensky Y-chan
.
.
.
Chapter 20
Naruto tiba-tiba terhenyak. Tubuhnya menyentak sedikit saat sesuatu yang menyakitkan dan asing menembus tubuhnya. Dia merasa tubuhnya langsung membeku. Melihat dari atas bahunya, dia menemukan anak panah.
"Racun," Mei berkata sambil tersenyum, "adalah senjata yang sangat cepat."
Karin menyaksikan Naruto pingsan tepat di mana dia berdiri. Untungnya Sai menangkapnya sebelum dia membentur tanah. Karin menjatuhkan pistol, jantungnya berhenti sepenuhnya.
"Mon Amour1." Dia berbisik menatap Naruto. "Non, mon amour s'il vous plait2." Karin berteriak, bahasa Jepang benar-benar terlupakan saat dia berlari menuju Naruto, praktis meluncur ke tanah. Air mata mengalir di matanya. Kondisi Naruto berubah dari buruk menjadi lebih buruk lagi dalam hitungan detik.
"Vous etes un idiot, qui vous a dit de rester là?! Vous n'avez pas le droit de mourir3!" kata Karin, berbicara Perancis karena pikirannya terlalu kosong untuk memikirkan bahasa Jepang. "Vous jerk, vous avez promis de m'épouser! Vous ne pouvez pas mourir... vous devez tenir votre promesse4!" Dia menangis sambil memegang wajah Naruto, membuatnya menatap ke arahnya.
"Ha," kata Naruto, benar-benar kesulitan bernapas. "Kapan aku bilang akan menikah denganmu?" tanyanya, kepalanya berputar-putar.
Mei berpaling ke arah Sasuke. "Well, aku mencoba untuk menjaga kesepakatanku," katanya saat Sasuke memelototinya.
Tidak mungkin. Sasuke tidak akan membiarkan ini terjadi. Dengan marah dia berdiri, tidak peduli meskipun rasa sakit membuatnya pusing, tidak peduli tentang apa pun di dunia ini. Sahabatnya, saudaranya... sekarat karena wanita ini.
"Aku akan membunuhmu." Dia berkata dengan suara rendah yang membunuh.
"Tidak jika aku membunuhmu lebih dulu." Mei berkata, mengambil pistol sebelum Sasuke meluncur ke arahnya dengan kekuatan penuh.
Kepala Sasuke menghantam perutnya. Mereka berguling-guling di tanah. Sasuke berjuang untuk melawan Mei dengan kakinya karena tangannya diikat. Namun setelah beberapa detik Mei duduk di atasnya dan mulai menghantamkan ujung pistol ke wajahnya. Sekali... Dua kali... Tiga kali... dan BANG.
Mei menjerit kesakitan saat dia jatuh di atas Sasuke yang tidak bergerak. Darah mengalir di sekitar tubuh Sasuke. Sakura merasa jantungnya berhenti berdetak.
"Sial." Suara Fugaku terdengar saat dia memasuki ruangan, pistol yang baru saja digunakan untuk menembak Mei berada di tangannya.
"SASUKE!" Sakura berteriak, jantungnya kembali berhenti. Dia berlari ke arahnya dan meraihnya dalam pelukan. Akhirnya sekali lagi, dia berada dalam jangkauannya. "Sasuke, bangun!" isaknya, tidak peduli jika genangan darah di sekelilingnya membasahi celana jinsnya.
"Dia baik-baik saja, Sayang," kata Mikoto di sampingnya. "Kau harus melihat Naruto."
Sakura menatap Mikoto yang tersenyum dengan nyaman. Sakura mengangguk dan menyerahkan Sasuke kepadanya saat dia berjalan menuju Naruto.
"Naruto, Naruto!" Sakura mendengar Karin menangis.
"Kau akhirnya berbahasa Jepang?" Naruto bertanya.
Karin tertawa kemudian meringis mengingat rasa sakit yang dialami Naruto. "Kau sudah berjanji! Ketika kita masih anak-anak, kau berjanji akan menikah denganku!" Karin menangis, air mata meluncur di pipinya tak terkendali.
Naruto menutup matanya lalu membukanya setelah beberapa detik. "Ah, sekarang aku ingat. Bagaimana aku bisa lupa?" katanya, tersenyum minta maaf.
"Idiot," kata Karin dengan cemberut.
"Maafkan aku," kata Naruto.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit!" Sakura berkata kepada mereka dan Minato mengangguk, menatap cemas pada anaknya. Akasuna berdiri di sisinya.
"Aku sudah menelepon ambulans," kata Sai.
"Dasar bodoh, jangan tinggalkan aku!" Karin berteriak saat Naruto mulai menutup matanya. "Tetaplah bersamaku!"
"Karin, kau harus melepaskannya. Kita harus membawanya keluar ke ambulans," ujar Minato lembut, mengambil Naruto dari lengan Karin yang melepasnya ragu-ragu. Teman-temannya berdiri di sisinya.
Mikoto melihat dari samping, menatap anaknya. Dia tidak ingin Sakura khawatir tapi kondisi Sasuke buruk. Ketika dia memeluk Sasuke, sejenak dia pikir Sasuke tidak bernapas. Pukulan di kepalanya membuatnya tak sadarkan diri dan membuka luka di pelipisnya, tersembunyi oleh rambutnya. Dia tidak boleh menangis, tidak di sini, tidak di depan semua orang, tapi dia memegang anaknya erat. Fugaku telah menyeret tubuh cedera Mei ke pinggir, mengikatnya agar siap dibawa oleh polisi saat mereka tiba.
"Mikoto."
Fugaku berbisik sambil mendekati istri dan anaknya. Mikoto menatapnya, diam-diam merasa hatinya hancur saat dia menatapnya. Fugaku berlutut, menatap anaknya. Ini anak yang dia tunggu dengan begitu cemas, anak yang dia takut untuk membentuk hubungan dengannya selama sepuluh tahun, anak yang membuatnya bangga menjadi seorang ayah dalam enam bulan terakhir. Dia membawa anaknya ke dalam pelukannya dan mengangkatnya, tubuh Sasuke lemas dalam pelukan Fugaku.
Minato melakukan hal yang sama dengan anaknya, meskipun Naruto harus berjuang untuk tetap terjaga. Minato dan Fugaku berjalan mendekati satu sama lain dan ketika Naruto melihat Sasuke, dia mengulurkan tangannya. Dia tidak bergerak dan Naruto menyadari itu.
"Sasuke...?" Suaranya berbisik tapi nada ketakutan dan khawatir bisa terdengar jelas.
"Dia baik-baik saja." Mikoto berbohong dan Naruto melihat kebohongan itu.
Setelah itu semuanya terjadi dengan cepat. Paramedis datang dan membawa Naruto dan Sasuke. Naruto segera diberi penangkal racun dan racun itu mulai tersedot keluar dari tubuhnya, dalam beberapa waktu dia mulai merasa lebih baik, tapi Sasuke... dia tidak bergerak. Jika bukan karena EKG yang mereka kaitkan padanya dan berbunyi monoton, Naruto berani bersumpah bahwa dia sudah mati.
Hanya ada dia dan Sasuke di dalam ambulans, dengan cepat menuju rumah sakit dan Naruto menyaksikan saat petugas medis bekerja dengan panik terhadap temannya. Air mata lolos dari matanya saat dia melihat itu. Mengapa nasib melakukan ini pada Sasuke?! Apakah dia diberi semacam hukuman? Tapi apa hukuman ini pantas untuk Sasuke? Tidakkah dia sudah cukup memikulnya? Untuk sesaat Naruto mendengar suara datar jantung Sasuke dan yang bisa dia pikirkan dalam beberapa detik itu hanyalah Sakura. Jika mereka meninggalkan ambulans ini dan Sasuke mati... Sakura akan mati bersamanya.
"SASUKE!" Naruto berteriak. Seorang paramedis menahannya agar tetap berbaring saat dia mencoba untuk duduk. "Sialan, Sasuke, Sakura sedang menunggumu!" Dia berteriak dan seolah-olah Sasuke mendengarnya, detak jantungnya mulai naik lagi.
Sasuke telah pergi selama 45 detik... yang entah bagaimana melegakan Naruto. Dia mendengar bahwa jika oksigen tidak mencapai otak selama lebih dari 60 detik, ada kemungkinan terjadi kerusakan otak. Pada saat itu, Naruto hanya bisa menatap tak berdaya.
1 Cintaku.
2 Tidak, cintaku, kumohon padamu.
3 Kau idiot, siapa yang menyuruhmu untuk berdiri di sana? Kau tidak memiliki hak untuk mati!
4 Kau brengsek, kau berjanji untuk menikah denganku! Kau tidak boleh mati... kau harus menepati janji!
.
.
.
OWARI….?
.
.
.
Author's bacot area
Akhirnya selesai sudah season 1 fic ini. Tolong jangan bakar author karena tuduhan PHP ya. Wkwkwk. Sengaja dikebut soalnya besok2 bakal sibuk (dan kayaknya bakal hiatus). Ada season 2 nya nih, tapi tunggulah beberapa saat lagi #alaoperator.
Special thanks to:
caesarpuspita, Miya Kanesaka, dark blue and pink cherry, suket alang alang, naynayAB, imahkakoeni, Shizuka Namikaze19, yumekouchiha, yuanthecutegirl, .1, dsakura2, Eysha CherryBlossom, arannis, shindymajid, , JungYH, azizaanr, LoveSasuSaku, desypramitha26, Fivani-chan, Cherryma, SHL7810, axwdgs, Persephone-Athena, naintin, GaemSJ, Guests, the favoriters, the followers, and the silent readers.
.
.
.
Selanjutnya dalam Hana Yori Dango 3 "The Next Generation" Season II...
"Sasuke... Tolong... jangan tinggalkan aku."
"Apa aku kenal dia?"
"Ka-kau tidak ingat?"
"Suatu hari kau akan bangun dan menyadari hal yang paling penting dalam hidupmu sudah hilang."
"Aku memutuskan untuk berhenti menunggunya."
"Bisakah kita berteman? Hanya teman. Buang jauh masa lalu kita."
Sasuke bangun dari komanya dan melupakan Sakura. Oh, tidak. Ini bencana. Lalu bagaimana jika pihak ketiga datang dan mulai menggeser posisi Sasuke di hati Sakura? Nantikan kisah selanjutnya dalam Hana Yori Dango 3 "The Next Generation" Season II. Sampai jumpa.
