Line of Love

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : OOC, OC, AU, Typo, etc.

.

.

.

Mulai malam ini Hinata akan menjadi salah satu penghuni di keluarga Uchiha. Kedatangan Hinata disambut baik oleh Fugaku dan Mikoto, kecuali Sasuke. Semua yang dikiranya menjadi kebutuhan Hinata telah disiapkan jauh-jauh hari oleh Mikoto.

Hinata sedikit meneliti keadaan di kediaman Uchiha yang tidak berbeda jauh dengan kediaman Hyuuga baik itu dari segi besar dan luasnya, hanya terkesan lebih modern saja. Begitu pula dengan kamarnya, malah lebih besar dari kamar yang kemarin.

"Jadi kamu sungguh-sungguh mau menerima perjodohan ini?" Tanya Sasuke yang sudah berdiri di depan pintu kamar Hinata dengan tangan menyilang didepan dada.

"Kamu cukup sopan untuk tidak mengetuk pintu terlebih dahulu." Jawab Hinata sarkastik, mengabaikan pertanyaan Sasuke.

Sasuke hanya mengangkat bahu singkat.

"Oh, salahkan pintumu yang terbuka Nona." Balas Sasuke tidak mau kalah.

Hinata menghela nafas lelah menghadapi pria dihadapannya kini, yang konon katanya akan menjadi suaminya kelak. Benar-benar bisa mati muda dia.

"Sudah kubilang, aku menghormati segala permintaan Ayahku. Jika memang ingin kamu batalkan, silahkan bicara kepada kedua orang tua mu dan Ayahku. Lagipula.."

Hinata berjalan pelan menghampiri Sasuke dengan senyum masih terukir di wajahnya.

Sasuke hanya diam memperhatikan gerak gerik Hinata.

Tepat dihadapan Sasuke, tangan Hinata membelai bagian bahu hingga dada Sasuke dan kembali menatap tajam ke arah Sasuke.

"Aku tidak tertarik dengan pria nyentrik sepertimu." Bisik Hinata tepat ditelinga Sasuke.

Sasuke segera menggenggam tangan Hinata yang masih berada di dadanya. Seulas senyum Sasuke tampilkan.

"Kamu ingin bermain rupanya, hnn.., Gadis nakal." Kali ini Sasuke yang berbisik tepat ditelinga Hinata dengan nada penuh penekanan di akhir kalimat.

Jujur Hinata merasakan sensasi geli saat itu tetapi kembali dia dapat mengontrol diri.

"Aku tidak takut pada permainanmu, sebaiknya sekarang kamu keluar atau ku hancurkan sesuatu yang menjadi 'masa depanmu'." Ujar Hinata serius sambil tersenyum.

'Ini gila, gadis ini sungguh gila.' Rutuk Sasuke.

"Tch." Sasuke mengalah pada Hinata kali ini. Dia melepaskan genggamannya dan kembali ke kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar Hinata.

Hinata hanya dapat tertawa kecil melihat ekspresi kaget Sasuke saat dia berkata 'akan menghancurkan sesuatu yang menjadi 'masa depannya''.

.

.

.

"Sialan gadis itu.. Dia berani mempermainkanku." Rutuk Sasuke kesal setengah mati.

Ini pertama kali dalam hidupnya seorang gadis menantangnya. Sungguh dia harus memberikan Hinata pelajaran tetapi dia mengakui sentuhan Hinata begituuu..

'Arghh.. Pikir apa aku ini.' Sasuke mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal karena cukup tergoda akan setuhan singkat itu.

Hei, Sasuke itu pria normal jadi sepantasnya dia sedikit tergoda.

Sasuke segera menaiki kasur dan menyelimuti tubuhnya, dia ingin segera tidur dan melupakan segala sesuatunya tentang sentuhan nikmat itu.

.

.

.

Pagi menyambut dengan cepat. Alarm Hinata sudah berbunyi saat waktu masih menunjukkan pukul 05.00, masih banyak cukup waktu untuk bersiap-siap mengingat jam masuk sekolah pukul 08.00.

Hinata memang sengaja bangun lebih pagi mengingat dia sudah tidak berada dalam keluarga Hyuuga. Pagi ini adalah hari pertama dirinya di keluarga Uchiha.

Setelah merenggangkan badan, dirinya bergegas mandi dan bersiap-siap.

Udara dalam rumah terasa dingin. Dengan cahaya minim Hinata berjalan menuju arah dapur. Telinganya menangkap suara pisau yang sedang memotong sesuatu, bunyi didihan air dan bunyi minyak panas yang dicelupkan sesuatu. Aromanya hmm.. begitu terasa di hidung Hinata.

"Selamat pagi." Sapa Hinata kepada para pelayan yang sedang memasak.

"Selamat pagi Nona." Balas para pelayan ramah.

"Apa ada yang bisa ku bantu?" Tidak enak jika Hinata tidak ikut menawarkan diri membantu. Begini-begini Hinata juga bisa memasak.

"Tidak perlu, sebaiknya Nona menunggu di ruang tamu." Para pelayan itu tentu senang Hinata menawarkan diri untuk membantu tetapi itu sudah menjadi tugas mereka. Yang ditakutkan Mikoto akan marah jika mengetahui Hinata mengerjakan pekerjaan yang bukan seharusnya.

Hinata hanya mengangguk patuh dan memilih untuk kembali ke kamarnya.

.

.

.

Pukul 06.30, sarapan sudah siap dan tertata rapi di atas meja makan. Para anggota keluarga termasuk Hinata kini tengah makan dengan hikmat. Diam tak bersuara saat makan menjadi ciri khas keluarga Uchiha dan Hyuuga jadi Hinata tidak merasa canggung dengan keadaan seperti ini.

"Mulai hari ini kamu-Sasuke akan mengantar jemput Hinata kemanapun dia mau." Ucap Fugaku membuka suara terlebih dahulu setelah dia selesai mengelap mulutnya.

"Apa?!" Sasuke tersentak kaget.

Dia itu bukan supir Hinata.

Satu tatapan tajam nan menusuk Fugaku layangkan kepada Sasuke.

Hinata hanya dapat tertawa dalam hati melihatnya.

Sasuke menghela nafas lelah "Baiklah" ujar Sasuke malas.

"Sebaiknya kalian segera bersiap-siap." Sela Mikoto melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.15.

Hanya ada anggukan dan sebuah senyuman memandakan 'iya' dari Hinata dan Sasuke hanya memilih diam lalu mengambil tas sekolahnya.

Mikoto mengantar Hinata hingga pintu depan dan memastikan dia telah menaikki mobil Sasuke. Setelah mobil Sasuke meninggalkan halaman rumah, Mikoto pun memilih masuk kembali ke dalam rumah.

.

.

.

Diam.

Itulah yang menggambarkan keadaan di dalam mobil Sasuke kini. Tidak ada percakapan, tidak ada musik. Sungguh membosankan.

"Aku turun di depan saja." Hinata membuka suara terlebih dahulu.

"Hm?" Sasuke hanya menautkan alisnya.

"Hah.." Hinata berusaha bersabar, hari masih terlalu pagi untuk sekedar berdebat.

"Itu akan mempermudahmu untuk memutar balik mobil lagipula, aku tidak suka jika ada salah satu temanku bertanya." Ujar Hinata terlihat malas.

"Apa mereka tidak memberitahumu tentang mulai hari ini aku juga akan satu sekolah denganmu?"

Kalimat tersebut sukses membuat Hinata kaget dan menatap Sasuke. Dia baru tersadar akan motif seragam Sasuke yang sama dengan seragamnya.

'Shit.' Rutuk Hinata.

Sasuke hanya tersenyum penuh kemenangan, kesempatan untuk mengerjai calon istrinya lebih besar daripada di rumah.

Sasuke segera memarkirkan mobilnya begitu sampai di sekolah. Banyak mata dari para siswa dan siswi yang berbisik melihat mobil mewah memasuki gerbang sekolah dan kini telah terparkir rapi di halaman.

Hinata turun dengan perasaan campur aduk seperti, kesal dan malas. Cukup sudah mereka merusak masa mudanya yang indah dengan sebuah perjodohan konyol, belum lagi calon suaminya adalah orang yang sangat-sangat-sangat menyebalkan dan sekarang dia harus satu sekolah dengan calon suaminya.

"Hinataaaaa.!" Pekik Sakura menghampiri begitu sadar yang turun dari dalam mobil mewah itu adalah sahabatnya, Hinata.

"Pagi Sakura-chan.." Bahkan dia sudah tidak bersemangat lagi untuk menyapa sahabatnya.

"Sejak kapan kamu naik mobil mewah ke sekolah?" Tanya Sakura tidak percaya. Dia sangat ingat bahwa Hinata lebih memilih berjalan kaki atau berlari ketimbang naik mobil, ya kecuali ada urusan mendadak.

Sasuke pun keluar dari dalam mobil dan membuat Sakura terpaku. Hinata menjadi semakin malas begitu para gadis di sekolahnya memekik kegirangan dan berseru 'tampannya'.

Satu lagi bencana untuk Hinata, nampaknya dia akan sering bertamu ke dokter THT untuk sekedar memeriksa telinganya.

"Siapa dia Hinata?" Bisik Sakura terlihat senang.

Satu jari jempol Hinata menunjuk Sasuke dengan malas dan mendengus singkat.

"Dia calon suamiku."

"Apahhhhhhhh?!" Teriak Sakura begitu keras.

Lihat saja belum apa-apa telinganya sudah tersakiti oleh sahabatnya sendiri.

"Sudah dulu ya Sakura-chan, aku harus mengantar 'dia'" Hinata kembali menunjuk Sasuke "keruang guru dulu." Lanjutnya sambil berjalan meninggalkan Sakura yang masih mematung karena terkejut.

Sasuke dan Hinata berjalan berdampingan menuju ruang guru, tidak terlihat romantis untuk kategori calon suami istri. Yang ada hanyalah aura mencekam yang dipancarkan oleh pasangan itu.

"Sudah lihat betapa terkenalnya diriku?" Sasuke mulai membanggakan dirinya dihadapan Hinata. Dia ingin Hinata sadar dimana setiap gadis menggilai Sasuke hingga overdosis.

"Ya ya, Tuan pemikat." Hinata memutar bola matanya bosan.

Setidaknya ada yang bisa Sasuke banggakan di depan Hinata bahwa dia itu TERKENAL.

"Ruang guru ada di depan, sebelah kiri. Aku kembali ke kelas dulu." Hinata memutar tubuhnya menuju arah berlawanan. Dia bisa dehidrasi jika lama-lama di dekat Sasuke.

Sasuke hanya tersenyum tipis melihat kelakuan calon istrinya yang amat sangat aneh dan menyebalkan itu.

.

.

.

"Yoo, Hinata.." Sapa Kiba bersemangat.

"Hm.." Hinata sudah kehilangan moodnya pada pagi ini berkat Sasuke.

"Heii,, ada apa kawan? Kenapa wajahmu seperti baju kusut? Sungguh tidak menarik." Kiba merangkul leher Hinata dan sedikit menggodanya.

Hinata menatap Kiba malas dan memaksakan tersenyum hingga gigi putihnya terlihat.

"Hahaha.. Begitu lebih baik.."

"Pulang sekolah nanti kamu bisa berkumpul di atap sekolah untuk bermain kartu?" Ajak Kiba bersemangat.

"Maaf Kiba-kun, sepertinya tidak akan bisa untuk sementara ini." Hinata berujar sedih. Semua kebebasannya di sekolah yang tidak dia dapatkan di rumah akan segera sirna menjadi debu.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata kelam kini menatap tajam penuh selidik ke arah Kiba dan Hinata yang terlihat begitu intim.

Kelas seketika diam saat Iruka Sensei masuk dengan seseorang yang amat sangat Hinata kenal.

'Oh, terima kasih Tuhan atas cobaanmu.'

Kali ini Hinata benar-benar skak mat. Rupanya dia juga satu kelas dengan Sasuke.

"Kamu berhutang cerita padaku Hinata." Bisik Sakura saat Sasuke sedang memperkenalkan dirinya di depan kelas.

Hinata hanya dapat menelan ludah guna membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

.

.

.

Hari begitu terasa panjang untuk dilalui oleh Hinata. Sepanjang jam pelajaran, dirinya sadar mendapat tatapan tajam dari arah kursi di belakangnya. Ya, pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Uchiha Sasuke.

Dia cukup puas mengintimidasi Hinata dengan cara ini. Semua itu terbaca dari gerak gerik Hinata yang terlihat resah.

Begitu lonceng berbunyi tanda pelajaran hari ini sudah selesai, maka selesai jugalah penderitaan Hinata.

Anak-anak tidak langsung keluar kelas begitu lonceng telah berbunyi. Hal ini dikarenakan Kakashi Sensei akan menyampaikan sesuatu yang cukup penting.

"Jadi, minggu depan sekolah akan mengadakan acara refreshing untuk seluruh anak kelas 2 di Danau Konoha. Acara itu akan diadakan dua malam, persiapkan pakaian bersih secukupnya, obat-obatan bukan Narkoba, makanan ringan jika perlu. Sekiranya itu saja, untuk lebih jelas bisa kalian baca di mading. Bye." Kakashi pun berlalu diikuti sorakan anak-anak. Mereka cukup bersemangat jika menyangkut liburan.

"Ayo pulang." Ucap Sasuke datar kepada Hinata kemudian berlalu duluan.

Hinata memasukkan barang-barangnya dengan kesal ke dalam tas. Betapa angkuhnya Sasuke itu.

"Apa hubunganmu dengan anak baru itu?" Tanya Kiba penasaran, secara dia juga sepanjang hari merasakan aura mencekam dari Sasuke yang ditujukan kepada Hinata.

"Jika waktunya sudah tepat, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu, sekarang aku duluan ya Kiba-kun, teman-teman." Pamit Hinata dan bergegas menyusul Sasuke yang mungkin sudah menunggunya di dalam mobil.

Hinata berlari tergesa-gesa dan dia nampak kelelahan begitu sampai di dalam mobil Sasuke.

Sasuke hanya mengernyitkan dahinya melihat Hinata yang masih terengah-engah dan kemudian menjalankan mobilnya pulang. Sasuke cukup puas bahwa gadis di sebelahnya cukup mengerti bahwa dia tidak suka menunggu lama.

'Gadis pintar.'

.

.

.

Seusai makan malam, Sasuke memutuskan untuk keluar. Langkahnya terhenti di ruang tamu saat Fugaku memanggil namanya.

"Sasuke mau kemana?"

"Mencari angin." Sasuke hendak berjalan kembali sebelum Mikoto kembali menghentikan langkahnya.

"Ide bagus.. Sasuke-kun ajak sekalian Hinata-chan untuk berjalan-jalan. Bagaimana Hinata-chan?" Tanya Mikoto berseri.

Hinata hanya bisa tersenyum palsu, dia tau kini Sasuke tengah menatap dirinya penuh penekanan.

'Tolak atau mati?'

Fugaku berdehem sekali.

Sasuke menyerah.

"Baiklah, Sasuke-kun tunggu disini sebentar ya." Selanjutnya Mikoto menarik tangan Hinata menuju kamarnya.

"Tu-Tunggu Bibi." Hinata mulai pasrah mengikuti kemauan Mikoto.

Tidak perlu lama bagi Mikoto untuk mendandani Hinata dengan dress one piece berlengan 3/4 warna putih, riasan wajah tipis dan rambut tergerai. Semua itu sudah cukup membuat Hinata terlihat cantik, ahh.. Jangan lupakan rona merah tipis alami di kedua pipi Hinata.

Jujur Sasuke terpana saat melihat Hinata, gerak-geriknya yang malu-malu dengan rona merah di pipinya.

'Bisa juga dia bersikap seperti itu dan lagi ternyata dia cantik juga.'

Mikoto segera mengajak Hinata untuk menghampiri Sasuke.

Sasuke pun bangun dan menggenggam tangan Hinata. Mereka terlihat sangat serasi. Sasuke jalan beriringan dengan Hinata menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah depan.

Mikoto hanya melambaikan tangannya dan tersenyum puas melihat kepergian mobil Sasuke.

.

.

.

"Ki-kita akan kemana?" Tanya Hinata ragu. Dia hanya belum terbiasa pergi keluar malam-malam dengan seorang pria.

Sasuke merasa tergelitik karena ucapan Hinata yang tergagap itu. Sebuah ide jahil muncul di otak Sasuke.

"Tentu saja kita akan bersenang-senang sayang." Tanpa ragu Sasuke menancap gas mobilnya menuju suatu tempat hiburan.

Hinata merasakan firasat buruk.

Tidak sampai setengah jam, mereka telah tiba di sebuah tempat yang Sasuke maksud.

"XXX Club." Ya, Hinata tidak salah atau bahkan belum rabun untuk membaca papan nama itu.

Salah satu club terkenal di Konoha dan hanya orang kaya saja yang memiliki akses untuk masuk ke dalamnya.

Hinata memilih diam begitu Sasuke memaksanya untuk ikut masuk. Senyuman tidak lepas dari wajah Sasuke. Dia berhasil mengerjai Hinata, dengan begini Hinata sendirilah yang akan memohon untuk memutuskan perjodohan ini.

Musik berdentum keras dengan DJ yang turut membantu mengatur musik-musik itu agar semakin enak didengar. Puncak acara belum dimulai. Sasuke memesan sebuah meja yang cukup besar hanya untuk dirinya dan Hinata.

Seorang pelayan membawakan minuman beralkohol dan diletakkan di atas meja. Tidak lama, puncak acara dimulai, DJ mengganti lagunya dengan beat musik yang cukup memusingkan kepala. Para gadis-gadis terpilih keluar dari balik kain. Mereka menari dengan eksotis. Para pengunjung malam itu mulai bersiul.

Sasuke cukup menikmati musiknya dan ini pertama kalinya dia mengunjungi tempat seperti ini. Matanya melirik ke arah Hinata yang masih memilih diam dan menunduk, tidak menunjukkan tanda apapun. Sasuke tersenyum puas dan kembali melihat para gadis-gadis yang kini sudah menanggalkan pakaian mereka menyisakan pakaian dalam yang sangat menggoda iman para lelaki. Siulan semakin keras saat gadis-gadis itu berjalan menghampiri para pengunjung. Nampaknya satu meja mendapat jatah dua gadis.

Katakan Sasuke beruntung karena dia satu-satunya pria di mejanya sendiri, meskipun dia tidak begitu tertarik dengan para gadis yang sudah hampir telanjang dan menari-nari dihadapannya. Dia hanya ingin melihat reaksi Hinata yang ternyata sesuai dengan perkiraannya. Tanpa Sasuke mengetahui, Hinata kini mengepalkan kedua tangannya.

'Dasar pria mesum.' Sasuke berhasil menguji kesabaran Hinata.

Hinata mengangkat kepalanya dan menggebrak meja kuat. Seketika musik berhenti, begitu juga dengan para gadis yang sedang menari. Para pengunjung mulai berbisik. Soal Sasuke? Jangan tanyakan, kini dia kaget setengah mati.

"APA DI SINI HANYA ADA PENARI WANITA SAJA? MANA PENARI PRIA YANG AKAN MELAYANIKU?" Teriak Hinata entah kepada siapa.

Mati kau Uchiha Sasuke.

Sasuke segera bangkit dari duduknya, mengambil sejumlah uang dari dompetnya dan menyeret Hinata keluar.

Benar-benar gila.

Dapat terdengar bisik-bisik para pengunjung yang mengatakan 'gadis itu nampaknya mabuk sangat berat'. Beruntunglah keadaan sekitar gelap sehingga tidak akan ada yang mengenali wajah Sasuke dan Hinata.

Musik kembali terdengar saat Sasuke dan Hinata telah berada di luar club.

Hinata membanting kasar tangan Sasuke yang masih menggenggamnya.

"Kamu sudah gila." Desis Sasuke kesal. Dia menyesal telah memuji Hinata saat di rumah.

Hinata mengusap tangannya yang sedikit terasa sakit akibat genggaman Sasuke. Dia berjalan pelan menghampiri Sasuke dan tersenyum puas.

"Ini salahmu mengajakku kemari.. Bukankah katamu kita akan bersenang-senang? Lalu kenapa hanya kamu saja yang kelihatan bersenang-senang? Itu tidak adil untukku sayang." Ucap Hinata dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.

"Kamu benar-benar perempuan gila."

"Terima kasih.. Aku anggap itu sebuah pujian." Hinata pun berlalu dan menunggu Sasuke di samping pintu mobil.

"Tch." Mau tidak mau Sasuke kembali ke dalam mobil.

Perasaannya benar-benar kacau saat ini. Jika langsung pulang, Sasuke takut Hinata akan mengadu macam-macam, padahal memang begitulah kenyataannya. Sasuke mengajak Hinata untuk menonton striptis.

"Sebaiknya kali ini kamu membawa ke tempat yang benar atau aku akan membeberkan semuanya ke Paman dan Bibi mengenai 'tempatmu mencari angin'." Hinata mengancam.

"Hm." Mau tidak mau Sasuke memacu mobilnya ke sebuah tempat yang benar.

.

.

.

Mereka turun bersamaan saat mobil Sasuke sudah terparkir. Sebuah tangga kecil menanti mereka. Hinata menautkan alis dan Sasuke berjalan mendahului tanpa bicara apa pun.

Sesampainya di atas, Hinata terkagum-kagum. Sebuah pondok kecil, pemandangan Konoha pada malam hari, sebuah kursi dibawah pohon dan bintang-bintang yang terlihat sangat dekat. Dia takjub.

Sasuke memilih untuk berjalan menuju pondok kecil itu, mengistirahatkan otak dan jiwa raganya dari masalah-masalah yang menghantuinya sejak beberapa hari yang lalu.

"Jangan ganggu aku, nikmati saja waktumu sendiri." Seperti sebuah perintah.

Hinata hanya mengerucutkan bibirnya dan tidak mau ambil pusing terlalu lama. Dia cukup senang menikmati semua pemandangan malam ini. Wajar dia terpesona, baik bagaimanapun dia adalah seorang perempuan yang akan takjub dengan hal-hal indah dimatanya.

Hinata memekik riang dan bebas. Bebannya seolah menguap entah kemana.

Sasuke yang berada dalam pondok dapat mendengar suara Hinata yang terdengar sangat menikmati. Dia mencuri pandang melalui jendela kecil dari pondok itu. Hinata tengah duduk di kursi bawah pohon, dengan posisi membelakanginya. Tangannya mengulur ke atas seolah ingin menggapai langit. Terdengar dirinya sedang berdialog sendiri, meskipun kecil tetapi Sasuke masih dapat mendengarnya.

"Wahai bintang di langit, mungkinkah Ibu ada diantara kalian?" Sasuke tersentak. Dia ingat Ibu Hinata sudah meninggal lama.

Suatu perasaan aneh berdesir di hati Sasuke.

Sasuke melangkah keluar dari pondok dan duduk di samping Hinata. Dia menyandarkan punggungnya pada punggung Hinata, membuat sang-empunya sedikit terkejut.

"Sa-Sasuke." Ini pertama kalinya Hinata memanggil nama Sasuke.

"Biarkan begini sebentar saja." Ucap Sasuke.

Ada perasaan senang saat Hinata memanggil namanya. Dia pun mulai semakin merasa aneh pada dirinya sendiri.

Tuhan sungguh merencanakan sesuatu yang luar biasa aneh untuk hidupnya.

.

.

.

-Tbc-

Aku senang banget respondnya bagus padahal uda lama banget gak buat fict.

Buat Eternal Senpai makasih masukkannya :*

Fict ini dibuat hanya sebagai wujud betapa aku menyukai pairing SasuHina.

Akhir kata 'I Love You, Readers"