Akhirnya setelah bertapa(baca: tiduran) di gua(baca:di kamar) selama 40 hari 40 malam(baca: 20 menit), saya dapet ide untuk melanjutkan fic ini.
Chapter ini chapter terakhir, jadi bagi para reviewer harap menggunakan account agar saya bisa membalasnya.
Selamat membaca!
"SERANG!"
Seruan itu menggema di sebuah tempat penampungan sampah, menandakan bahwa mereka siap menghadapi serangan apapun yang diluncurkan 5 kapal angkasa di atas mereka.
"TUNGGU!"
Yaya berteriak, membuat teman-temannya berhenti mendadak.
"Kenapa Yaya?" Gopal bertanya keheranan.
"Kita jangan langsung menyerang, kita coba negosiasi dulu dengan mereka." Kata Yaya
"Hayo Yaya ni, apa kau lupa amukan Jenderal waktu itu?"protes Gopal
"Yalo, aku tak yakin Jenderal setuju bernegosiasi dengan kita.." Ying ikut menimpali.
"Apa salahnya dicoba dulu kan? Mungkin saja Jenderal sedang ramah." Yaya masih bersikeras.
"Um.. Yaya, aku pikir mereka tak setuju bernegosiasi.." Boboiboy Gempa menimpali seraya menunjuk ke depan.
Semuannya pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Boboiboy Gempa, yaitu ke arah kapal angkasa yang tertutup asap putih di depan mereka. Mula-mula tidak terlihat apa-apa, namun samar-samar terlihat siluet beberapa orang yang menuju ke arah mereka. Dan ketika asap mulai menipis, siluet itu terlihat jelas.
5 robot tempur berjalan ke arah mereka.
OOooOO
Boboiboy dkk menahan napas, melihat tamu yang tidak diundang itu semakin dekat ke arah mereka. Sementara itu, Jenderal dari kabin kapal angkasanya berseru.
"BOLA KUASA! BERANINYA KAU KABUR KE BUMI HAH!"
Serentak Boboiboy dan teman-teman membentangkan tangan mereka, mencoba melindungi Ochobot. Sedangkan Ochobot menjawab pertanyaan Jenderal dengan terbata-bata.
"A-aku lebih suka di sini. Bersama teman-temanku." Jawab Ochobot dengan suara yang ia buat tegas.
"Puih, kau ini robot. Kau tak bisa punya teman. Bahkan harusnya kau tak punya perasaan. Kau hanya robot, yang seharusnya menuruti apa kata tuanmu apapun yang terjadi." Ujar Jenderal sambil meludah, tidak tahu bahwa Adu Du sengaja membiarkan Ochobot kembali ke Bumi.
"Aku terlanjur punya teman di sini. Salahkan tuanku yang ceroboh, membuat aku yakin bahwa manusia bumi ini tuanku." Ochobot masih berusaha tampak gagah, padahal hatinya takut luar biasa.
"Terserah, mau bagaimanapun kau akan kembali ke Planet Ata Ta Tiga. Dan sebelum aku bertarung dengan bocah-bocah ingusan ini, maukah kau setidaknya memberitahu bagaimana kau bisa sampai ke Bumi?" Ejo Jo, yang berada satu kapal dengan Jenderal, tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang membuat Ochobot terkesiap.'
Melihat reaksi Ochobot, Ejo Jo tersenyum licik seraya melanjutkan,"Kau tidak mungkin terbang dari Planet Ata Ta Tiga kan? Planet Ata Ta Tiga jaraknya jutaan kilometer dari Bumi. Nah, sebaiknya kau beritahu, siapakah orang yang membantumu melarikan diri?"
Ochobot bimbang, ia tak ingin mengungkap bahwa Adu Du membantunya melarikan diri ke Bumi dan membuat Adu Du dihukum oleh penghuni Planet Ata Ta Tiga. Namun ia tak punya penjelasan masuk akal yang bisa memuaskan Ejo Jo. Ochobot memaksakan dirinya berpikir keras. CLING! Dan sebuah alasan hebat muncul di benaknya.
"Aku melarikan diri dengan usahaku sendiri. Aku melihat di kapal angkasa ibu tuanku, tidak, kapal angkasa ibu Adu Du mempunyai alat teleportasi. Dan aku melihat alat tersebut bersambung dengan kapal angkasa Adu Du yang sedang kau lihat ini. Agaknya dahulu ibu Adu Du menggunakan sinyal dari kapa angkasa ini untuk mengetahui di mana tempat Adu Du tinggal. Ketika Adu Du lengah, aku langsung menuju ke alat teleportasi tersebut, mengirimkan diriku ke kapal angkasa ini. Dan sampailah aku di Bumi." Ochobot menerangkan dengan panjang lebar. Sebenarnya Ochobot tidak sepenuhnya berbohong, memang begitulah cara ia kembali ke Bumi, namun bedanya dengan sepengetahuan dan bantuan dari Adu Du.
Jenderal menyudahi interogasi Ejo Jo, dan menatap tajam ke arah Boboiboy dkk, yang masih membentangkan tangan mereka di depan Ochobot.
"Pergi dari hadapanku." Ujar Jenderal dingin dan ketus.
"TAK AKAN!" Boboiboy Taufan menjawab dengan muka galak, sesuatu yang sangat jarang terjadi.
"Hmfh, kalian para bocah ingusan. Aku akan memberi kalian kesempatan sekali. Pergi dari hadapanku atau kalian akan dipermainkan oleh 5 robot tempurku ini. Oya, sebagai informasi, robot tempur ini 5 kali lebih kuat daripada robot PETAI yang pernah kalian hadapi. Jadi sebelum aku hilang kesabaran, kalian sebaiknya menuruti perkataanku dan membiarkan Bola Kuasa kubawa pulang." Kata Jenderal mengancam.
"Heh, kami tak takut! Kami pasti akan bisa mengalahkan boneka-bonekamu sekuat apapun mereka. Dan Ochobot tak akan kau bawa pulang, karena ia sebenarnya sudah pulang. Di sini rumahnya, bersama kita." Yaya menanggapi perkataan Jenderal dengan tajam, agaknya ia telah lupa akan usul negosiasinya.
"Terserah saja. Robot Tempur, mulai penyerangan!"Jenderal berseru, dan Robot Tempur mulai bergerak.
Segera saja Boboiboy Gempa membagi tugas. Boboiboy Halilintar, Taufan, Yaya, dan Ying akan menghadapi Robot Tempur itu, seorang satu. Sedangkan Gopal bertugas menjaga Ochobot. Gopal sama sekali tidak protes, karena ia tahu, diantara teman-temannya, ialah yang paling tidak punya kekuatan bertempur. Malah justru ia sedikit merasa lega karena tidak harus menghadapi robot-robot besar itu, meskipun ia sadar bahwa kini Ochobot berada dalam pertanggung jawabannya dan ia harus melindunginya, apapun yang terjadi.
Segera 5 anak itu maju menghadapi lawan-lawan mereka, dengan tatapan tajam dan tanpa ada rasa takut yang terpancar dari mereka. Dan beruntunglah robot-robot itu menyerang secara terpisah, sehingga memudahkan mereka untuk bertarung satu-satu.
#Boboiboy Taufan POV#
Heh? Kenapa aku ini? Tak biasanya aku serius seperti ini. Mungkin sekarang tampangku seperti Halilintar atau Gempa, walau memang tampang kami bertiga sama. Tapi memang, aku tak bisa bercanda di depan robot tempur besar ini, yang lima kali lebih kuat daripada si PETAI yang bahkan tak bisa kami bertiga kalahkan dengan kuasa kombo terkuat kami. Dan sekarang aku harus menghadapinya sendiri? Aku harap ini hanya sebuah mimpi.
Jujur saja, aku sedikit takut, namun aku tak mau memperlihatkannya, apalagi kepada Gempa dan Halilintar. Bisa-bisa setelah ini mereka menganggap bahwa sifat penakut Boboiboy tersimpan dalam diriku. Mau ditaruh kemana mukaku? Dan nanti pasti aku tidak bisa menghadapi muka mereka. Itu pun kalau kami bisa melalui ini hidup-hidup.
Apa yang aku katakan! Aku harus yakin bahwa kita pasti menang. Lagipula kan kita masih punya satu senjata rahasia, walau aku tak yakin itu cukup untuk memusnahkan robot-robot jelek ini. Sudahlah, sebaiknya aku fokus kepada robot di hadapanku ini. Aku segera melayangkan gerugi taufanku, mencoba menembus dadanya. Terdengar suara gerugiku bergesekan dengan sesuatu. Ah, sebuah aura perisai. Harusnya aku tahu.
Robot itu menanggapi seranganku dengan menembakkan laser ke arahku, yang berusaha secepat mungkin menghindar dengan skateboardku. Setelah meyakinkan diriku bahwa aku masih hidup, segera aku lemparkan bola-bola taufan ke arahnya. Sial, bahkan perisai itu tidak tergores sedikit pun. Sekali lagi robot itu membalas dengan melancarkan rudal. Dengan pamik aku menggunakan tornado sebagai perisaiku. Aku memang selamat, namun aku jadi tidak bisa melihat sekelilingku. Apa diantara teman-temanku ada yang sudah bisa mengalahkan musuh mereka? Kalaupun ada, harap tolong aku.
#Boboiboy Halilintar POV#
Pasir-pasir tampak bergerak di sekelilingku. Sudah kuduga, Taufan sedang melindungi dirinya dengan angin tornado. Jauh, di lubuk hatiku, aku sangat ingin mempunyai kuasa untuk bertahan seperti Taufan atau Gempa. Oke, memang diantara kami bertiga, akulah yang paling bagus dalam offensif, terbukti aku beberapa kali sukses membuat goresan kecil di perisai robot yang aku hadapi. Hanya goresan kecil, dan lenganku sukses berdarah karena tembakan laser robot kurang ajar itu, meskipun mungkin lukaku tidak kelihatan tertutup oleh bajuku yang berwarna merah dan hitam. Dan perisai robot itu belum rusak, kecuali tampak goresan-goresan kecil di beberapa tempat. Sekali lagi, hanya goresan kecil.
Biarlah, sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit. Meskipun masih dalam bentuk goresan kecil, setidaknya seranganku mempan. Toh, lama-kelamaan perisai itu akan jebol juga. ZAP! Perisai robot tersebut yang dipenuhi goresan mendadak pulih. Tak ada bekas goresan apapun, seakan aku tak pernah menyentuh apalagi menyerang robot tersebut. ARGGHH! Kenapa aku bisa lupa! Dulu robot PETAI kan bisa memulihkan kembali perisainya! Bukan hal yang mustahil bahwa robot ini juga bisa memulihkan perisainya! DASAR BODOH! Oke, bukan waktunya membodohi diri sendiri, Halilintar. Robot tersebut mulai melancarkan pelurunya, beruntung dengan gerakan kilat aku bisa menghindarinya. Oh sial, pipiku berdarah karena sempat terserempet salah satu peluru.
Dengan perasaan panik, aku melemparkan pedang halilintarku ke udara. Aku berteriak memperingatkan kawan-kawanku.
"Semuanya! Berlindung!"
Oke Halilintar, sebelum kau menyuruh kawan-kawanmu berlindung, seharusnya kau juga harus memikirkan bagaimana dirimu berlindung dari hujan halilintarmu sendiri. Ah, betapa ingin aku mempunyai kuasa bertahan.
Sebuah kubah dari tanah menutupi diriku. Aku mencintaimu, Gempa! Kau yang terbaik!
#Boboiboy Gempa POV#
Halilintar bodoh! Seenaknya sendiri! Kepala kerbau!
Baiklah, mungkin suatu hal yang jarang terjadi melihatku mengeluarkan sumpah serapah. Namun aku geram sekali kepada salah satu bagian diriku yang mungkin otaknya sedikit terpengaruh oleh Taufan. Maksudku, Halilintar yang biasanya tidak akan seceroboh ini meskipun bukan berarti ia penuh perhitungan. Namun dengan seenaknya ia mengeluarkan hujan halilintar sekarang. Apa dia lupa bahwa kita masih berada di area musuh dan berpotensi besar terkena hujan halilintarnya? Oke, mungkin ia tidak lupa, terbukti ia menyuruh kita semua berlindung. Tapi, APAKAH DIA LUPA BAHWA TIDAK ADA ORANG SELAIN AKU YANG PUNYA KUASA PELINDUNG? DASAR HALILINTAR OTAK UDANG!
Yah, mungkin bukan aku satu-satunya. Aku melihat Taufan berusaha menyingkirkan semua pedang halilintar yang menuju ke arahnya dengan anginnya. Namun, bukan berarti Yaya, Ying, Gopal, atau bahkan Halilintar sendiri juga dapat bertahan. Untunglah aku dengan cepat membuat kubah pelindung untuk semuanya. Di dalam kubah pelindungku aku dapat mendengar desingan pedang-pedang halilintar yang menuju tanah dan suara berderak tanda bergeseknya pedang-pedang itu dengan perisai para robot tempur. Aku menunggu beberapa saat. Oh, sepertinya hujannya sudah berhenti. Aku menyingkirkan kubah-kubah pelindung yang aku buat, dan langsung disuguhi sambutan yang meriah.
Robot tempur yang aku lawan menembakkan laser ke arahku, dengan perisai yang masih utuh.
Sepertinya aku tidak berlebihan memanggil Halilintar bodoh. Buktinya ia lupa bahwa perisai para robot tempur bisa beregenerasi.
#Yaya POV#
Huf, aku berutang terima kasih kepada Gempa yang telah melindungiku di kubah pelindungnya. Andai aku boleh memilih, aku ingin tetap berada di kubah pelindung ini dan bukan menantang maut dengan bertarung melawan robot super kuat. Namun, begitu pelindung tanah ini lenyap, aku sadar bahwa harapan memang harapan. Kenyataanya robot yang aku lawan masih sehat wal afiat, tiada kurang suatu apapun. Rupanya Halilintar lupa bahwa robot-robot itu bisa meperbaiki sendiri perisai mereka. Dan aku punya firasat bahwa Gempa dan Taufan nanti akan menghajarnya tanpa ampun atas kecerobohannya tersebut. Secara, jarang-jarang sosok Halilintar yang pemarah bisa dihajar oleh 2 bagian dirinya yang bisa dibilang lebih lembut. Pasti Taufan akan sangat senang dan menggunakan kesempatan tersebut sebagai ajang balas dendam.
Hei, aku tersenyum sekarang? Yah, memang, menyaksikan 3 orang yang mempunyai sifat bertolak belakang namun sebenarnya berasal dari satu orang memang menggelikan. Namun tampaknya bukan saat yang tepat untuk tertawa. Seperti bukan saat yang tepat bagiku untuk menjawab pertanyaan Jenderal 1 minggu yang lalu tentang pembuat biskut. Sudahlah, hal itu sudah terjadi. Sekarang aku harus fokus menghindari serangan laser dari robot di depanku. Segera aku terbang menggunakan kelajuan supersonik. Bersyukur aku karena robot tersebut tidak bisa terbang ataupun bergerak karena sudah kukunci gravitasinya.
Segera setelah aku terbebas dari tembakan laser, aku terbang dengan cepat menuju ke arah robot tersebut dengan tangan terkepal. Sepertinya gravitasi di kepalan tanganku sudah memadat dengan maksimal, dan siap kupukulkan ke arah robot brengsek itu. Segera kepalan tanganku dan aura perisai beradu dan menimbulkan suara berderak. Tanganku sakit akibat berbenturan dengan perisai yang sangat keras. Timbullah retakan cukup besar di perisai robot tersebut. Aku sudah akan bergembira sampai retakan tersebut menghilang. Sial, kenapa perisai itu beregenerasi cepat sekali! Gawat, robot itu akan mengeluarkan rudal dari tangan kanannya, dan aku sudah kehabisan tenaga untuk menghindar.
Tiba-tiba tangan kanan robot musuhku tertembak dan terlepas. Lho, ada apa ini? Kenapa robot yang seharusnya dilawan Ying malah menembaki temannya sendiri?
#Ying POV#
Hi hi hi, senangnya melihat wajah Yaya yang keheranan. Pasti dia bingung kenapa robot lawanku menembak tangan robot lawan Yaya. Itu semua berkat ide brilianku. Mungkin setelah ini Yaya harus mengakui bahwa aku lebih pintar darinya. Oke, pola pikirku tadi seperti Fang yang sangat ingin Boboiboy mengakui bahwa Fang lebih populer dari rivalnya itu. Sekarang aku mengerti kenapa Fang waktu itu masih bisa bilang 'aku lebih hebat dari Boboiboy' padahal ia dalam keadaan lemah karena sehabis mengeluarkan Naga Bayang*. Memang perasaan lebih unggul dari rival kita sangat menyenangkan.
O ya, kenapa robot lawanku menembaki temannya, sebenarnya begini. Saat aku bertarung melawan robot lawanku, aku sempat bingung oleh satu hal. Kenapa tembakan peluru robot tersebut bisa keluar tanpa merusak perisainya sendiri? Sebuah pemikiran muncul di benakku, namun aku tidak yakin, oleh karena itu aku perlu pembuktian. Dan terima kasih kepada robot lain tak jauh dari tempatku yang sedang mengacungkan tangan mencoba menembak Yaya. Wokeh, ini benar-benar seperti sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Aku bisa membuktikan hipotesaku sambil menolong Yaya yang nyawanya berada di ujung tanduk. Aku segera berlari ke arah tangan robot yang teracung tersebut, berharap robot lawanku akan menembakku. Dan simsalabim! Dengan cepat aku menghindar sehingga peluru dari robot lawanku bergerak menembus perisai robot lawan Yaya dan mematahkan lengan yang teracung tersebut. Yiha! Analisisku berhasil! Dan lihat wajah Yaya tadi! Ini sangat menyenangkan!
Namun sayangnya kegembiraanku berlangsung singkat. Robot lawanku segera mengejarku begitu aku berhasil menipunya. Aku memperlambat waktu di sekelilingku, namun serangan robot tersebut sudah terlanjur dekat. Sukseslah aku terlempar ke tanah. Aduh.. kakiku sakit, semoga bukan patah tulang. Dan tak jauh dari tempatku kulihat Yaya terkapar di tanah akibat tembakan dari robot lawannya.
Atau lebih tepatnya dari LENGAN KANAN robot yang seharusnya rusak. Oh sial, bahkan dia bisa memulihkan tubuhnya!
#Gopal POV#
Aku segera menyesal karena sudah berlega hati. Meskipun aku tidak harus melawan robot-robot tempur, namun aku malah harus menghadapi serangan dari armada Jenderal. Yah, sejauh ini tampaknya aku lebih unggul. Aku berhasil membuat salah satu kapal angkasa menjadi tumpukan makanan. Dan aku sukses membuat peluru-peluru yang menuju ke arahku menjadi batu-batu. Mungkin ini cuma perasaanku, namun tampaknya kuasaku menguat dibandingkan 1 minggu yang lalu. Ochobot bersembunyi di belakang tubuhku, tampak ketakutan.
DUAR! Aku terperangah melihat satu-persatu teman-temanku terkapar di tanah. Dan sialnya robot-robot yang tadi menembaki teman-temanku mulai bergerak ke arahku. Aku bisa merasakan cengkeraman tangan Ochobot pada bajuku. Tak dapat dipungkiri, aku sangat ketakutan. Aku mencoba mengubah robot-robot itu menjadi makanan, namun perisai mereka terlalu kuat. Dan salah satu dari mereka menembakan rudal, membuatku terlempar ke tanah.
Hah, aku memang tidak berguna.
#Author POV#
Ochobot terpaku di tempat, mendapati semua temannya telah terbaring di tanah. Tubuhnya gemetar. Sedangkan armada Jenderal beserta robot tempurnya bergerak menju tempatnya.
"Nah, semua teman-temanmu sudah kalah. Sebaiknya kau menurut dan pulang ke Planet Ata Ta Tiga." Jenderal berkata dengan sinis.
"Hm, mungkin tidak semua." Ujar Ochobot berusaha menyembunyikan suara gemetarnya. Mendengar perkataan Ochobot, Ejo Jo teringat sesuatu.
"Eh, dimana si pengendali bayang?"
Seakan menjewab pertanyaan Ejo Jo, langit tiba-tiba menggelap dan petir mulai menyambar. Sebuah seruan terdengar dari atas menara.
"HMPH! NAGA BAYANG!"
TBC
Aduh, chapter terakhir terpaksa kubagi dua, habis sudah kebanyakan.
Maaf bila ada typo, habis aku sedikit terburu-buru membuatnya.
Dan ini pertama kalinya aku buat versi POV, jadi mohon kritik sarannya.
Alias, REVIEW PLEASEE!
