Modern Ninja

Naruto © Masashi Kishimoto

NaruHinaKarin Forever

Rated M

Pair: Naruto U x Hinata H x Karin(masih lama) x Slight Harem

Adventure, Frienship, Humor, Ecchi, Harem (Slight Pair), Lime/Lemon

.

.

.

Sumary Chap3

Hinata memundurkan tubuhnya ke belakang menghindari lumatan ganas yang sedang Naruto lakukan dan Brukk... Hinata jatuh dengan posisi Naruto yang berada di atasnya, "Emmm Hmmm." Hinata membuang ramen dan sumpit yang tadi sempat ada di genggamannya. Mencoba menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri dan mendorong Naruto sekuat tenaga.

.

WARNING: Disini Naruto hanya akan mendapatkan pair utama(Naruto x Hinata x Karin) yang akan mendampinginya hingga ke pelaminan dan harem di sinii hanyalah kumpulan cerita singkat antara Naruto dengan beberapa chara wanita selain pair utama tadi.

Happy Reading

Dua bualan sudah berlalu, tapi Naruto masih belum bisa mennguasai Rasengan dengan baik. Bahkan dia harus mengulang pelajaran Chakra Control lagi agar bisa mengendalikan chakra dengan lebih baik. Lain lagi dengan Hinata yang dengan mudahnya menyerap setiap pelajaran yang diberikan Tsunade. Bahkan Hinata hanya membutuhkan waktu selama 4 minggu untuk menguasai byakugan. Byakugan adalah salah satu mata terkutuk dari klan Hyuga. Tak seperti Sharingan yang dapat menghipnotis seseorang hanya dengan menatap matanya, tetapi Byakugan memiliki fungsi untuk melihat chakra, menembus benda, bahkan Byakugan juga dapat melihat sesuatu yang sangat jauh. Dan kekuatan menembus benda padat dan melihat benda yang jauh itu adalah solusi yang tepat bagi para pria hidung belang untuk melancarkan aksinya dalam mengintip gadis-gadis yang sedang mandi di onsen tampa harus takut ketahuan oleh orang lain. Dan Inilah yang membuat klan Hyuga diburu sehingga Tsunade memberikan marga Uzumaki kepada Hinata untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Hinata hanya membutuhkan waktu 1 minggu untuk menghapalkan anatomi tubuh manusia dengan bantuan byakugannya. Dan saat ini Hinata tengah mempelajari jutsu medic dengan bimbingan dari Tsunade.

Naruto yang melihat kobaran semangat membara dalam diri gadis indigo itu menjadi tergugah untuk mempelajari lagi apa yang sempat ia tinggalkan, Kontrol Chakra. Berlatih menggontrol chakra bukanlah perkara yang mudah bagi seorang Naruto Uzumaki. Dua bulan ia terus berlatih, tetapi dia masih belum mendapatkan apa yang ia inginkan. Tsunade pernah berkata bahwa kontrol chakra sangat berpengaruh untuk setiap jutsu yang digunakan, jika seseorang tidak mempunyai kontrol chakra yang baik maka jutsu yang akan digunakan hanya akan menjadi sia-sia.

Setelah sekian lama berlatih chakra control akhirnya Naruto dapat menguasainya dengan baik, walaupun masih tertinggal jauh dengan kontrol yang dimiliki Tsunade dan Hinata, tapi Naruto merasa bersyukur atas kerja kerasnya selama ini. Naruto melanjutkan latihannya untuk menyempurnakan rasengannya yang masih belum sempurna itu.

Naruto menjulurkan sebelah tangannya kedepan, tak beberapa lama sebuah pusaran angin muncul secara perlahan dari ketiadaan di telapak tangannya. Pusaran itu terus berputar dan mulai memadat menjadi bola kecil berwarna biru yang hanya berukuran sebesar genggaman tangan orang dewasa. Suara bising mulai terdengar menusuk gendang telinganya. Rasengan tak sempurna sedah siap digunakan. Naruto menyiapkan ancang- ancangnya dan Brakk

Sebuah lubang berdiameter sekitar 50 cm membekas akibat benrutan tadi. Naruto menghela nafas lelah melihat hasil kerjanya yang masih kurang maksimal. Andai saja si Ero Senin masih ada di sini dan mengajarinya lagi seperti dulu. Tapi itu hanyalah angan belaka yang tak mungkin ia rasakan kembali, sekarang gurunya itu telah meninggalkannya untuk selamanya. Kematiannya sungguh misterius, bahkan mayatnya sampai sekarang masih belum di temukan. Tetapi, menurut yang di katakan sang nenek, dengan kekuatan gurunya yang saat ini, sang guru pasti mati akibat di bunuh oleh seorang ninja yang sangat hebat.

Kini rasengan kembali tercipta di tangan Naruto dan siap untuk digunakan lagi. "Naru~ Tunggu!" sebuah suara mengalunan merdu di telinganya, mengganggu niatnya untuk mengeksekusi batu yang ada di depannya. Hinata, sang pengganggu datang menghampirinya dengan tergesa-gesa.

"Ada apa? Kau tidak melihat aku sedang latihan ya. Huh menggaanggu saja." Ujar Naruto yang tidak senang dengan kedatangan gadis di depannya itu.

"Jangan begitu jika berbicara dengan perempuan, Naruto." Tsunade yang baru datang menasehati cucunya yang tidak mempunyai sopan santun itu.

Hinata mendekati Naruto dan merapal tangannya "Byakugan." Urat-urat mulai bermunculan di sisi kedua matanya. Hinata mengamati setiap bangian tubuh Naruto mulai dari bawah hingga atas secara berulang-ulang, wajahnya memerah menahan malu yang saat ini ia rasakan.

Naruto yang merasa diperhatikan juga ikut-ikutan memerahkan wajahnya. "A-Apa yang sedang kau lakukan? Dasar gadis mesum." Naruto mengumpat dengan suara pelan. Naruto membuang muka ke arah lain dan mengbaikan rasengannya yang mulai lenyap. Tsunade tak bisa menahan senyuman dan kikikannya saat melihat kedua remaja di depannya itu, apa lagi melihat cucunya yang sedang salah tingkah dengan rona merah di wajahnya.

"Obaachan. Aku sudah tau caranya." Cicit Hinata kepada Tsunade yang masih tertawa geli.

"Sekarang cobalah." Hinata mengangguk mengerti dan melakukan apa yang diperintahkan Tsunade kepadanya.

"Byakugan." Hinata kembali mengaktifkan jutsu matanya, menengadahkan tangannya dan memfokuskan chakranyaa ke tangan. Pusaran kecil mulai terlihat dan membentuk sebuah bola kecil seperti rasengan tapi ukurannya lebih kecil dari milik Naruto. Tsunade tersenyum bangga ke arah gadis lavender itu. Dia sudah mengira sejak pertama kali bertemu dengan Hinata, Tsunade tahu kalu gadis itu mempunyai bakat terpendam yang sangat sayang untuk disia-siakan.

Naruto yang melihat Hinata bisa membuat rasengan membelalakan matanya tak percaya. Jutsu yang diciptakan oleh ayahnya itu adalah jutsu yang sangat susah untuk dipelajari, tapi apa yang dilihatnya saat ini adalah hal yang konkret. Sungguh tak adil, Naruto yang selama ini berlatih dengan sangat giat bahkan tak bisa menguasai rasengan sengan sempurna, tapi Hinata yang hanya dengan melihat lanngsung bisa mebuat rasengan walaupun dengan ukuran kecil. Bisa Naruto lihat Hinata sekarang sedang tersenyum dan tertawa bahagia bersama dengan Neneknya. Bagi Naruto, senyum dan tawa itu adalaah sebuah penghinaan bagi dirinya yang bodoh ini. Hinata juga telah merebut perhatian Neneknya dari dirinya.

"Hei! Ayo kita adu rasengan milik mu dengan Rasengan milik ku." Naruto membentuk rasengan yang baru untuk di uji coba dengan rasengan milik Hinata.

Hinata yang ditantang langsung membelalakan matanya kaget. "T-Tapi—" Ucapan Hinata terputus ketika Tsunade mendahuluinya.

"Apa maksudmu, Bodoh? Jangan main-main dengan jutsu itu. Lagi pula, Rasengan milik Hinata lebih keci dari mu. Bagaimana jika Hinata terluka?" Sembur Tsunade kepada cucunya.

"Kan cuma nyoba. Apa salahnya sih? Hinata itu Ninja, sudah sewajarnya 'kan kalau dia terluka." Naruto menjawab pertanyaan Tsunade dengan gampangnya.

Tsunade sangat geram dengan tingkah kekanakan cucunya itu, Tsunade menghela nafas sejenak "Baiklah. Hinata, apa kau mau sparing dengan bocah tengik itu?" Tanya Tsunade kepada Hinata.

"Baiklah, kalau itu yang obaachan inginkan, lagi pula aku juga ingin mencoba jutsu yang obaachan ajarkan." Hinata mengambil ancang-ancang dan mengaktifkan Byakugannya kembali. "Mau sampai kapan kau berdiam diri disitu, Duren Baka!" Ejek Hinata yang merasa kesal dengan pemuda di depannya itu.

Naruto yang merasa diremehkan langsung membuat bunshin dan menyerang Hinata dengan membabi buta. Dia menyerang dari segala arah dan tidak memberikan ruang gerak untuk Hinata sedikitpun.

Hinata menanggapi bunshin-bunshin itu dengan mudahnya, gerakan menghindar dan memukulnya terlihat seperti sedang menari. Deru nafasnya terdengar tak beraturan, walau bagaimanapun ini adalah sparing pertama bagi gadis lavender itu. Asap tebal mengepul dan menghalangi pandangannya, tapi Hinata masih harus waspada dengan serangan yang mungkin datang secara tiba-tiba.

Poof Suara ledakan terdengar dari arah belakangnya. "A- APA?" Hinata tergagap saat melihat Naruto yang sudah berada di belakangnya dan siap dengan jutsunya. Wajah Hinata memucat ketika melihat melihat Naruto yang tengah tersenyum iblis di belakangnya.

"Sennen Goroshi: Sakit 1000 tahun" Naruto menyebut nama jutsunya dengan lantang dan melancarkan serangannya dengan sekuat tenaga ke target yang telah ia tuju. Hinata yang menjadi target semakin waswas, semua begitu cepat baginya, bahkan sekarang kakinya sedang bergetar hebat dan tidak bisa bergerak sama sekali.

BRAKKKKKKK BRAKK Brakkk

Naruto terpelanting jauh menabrak tembok dan 2 pohon hingga tembok dan pohon itu hancur. Hinata langsung menghambur memeluk Tsunade yang sudah menyelamatkannya dari maut. Pandangannya beralih ke tempat Naruto dengan tatapan nanar. 'Semoga kau masih bisa melihat hari esok, Naruto kun' Hinata berucap dalam hati. Bagaimanapun Naruto adalah orang yang selama ini ada di hatinya, hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengungkapkannya. 'Perempuan itu harus jaga image' Itulah ideologi yang sangat dijunjung tinggi oleh Hinata selama ini.

Tsunade merasa dirinya terlalu berlebihan kepada cucu durennya itu. Tapi itu setimpal dengan apa yang cucunya perbuat, telat sedikit saja sudah dipastikan keperawanan Hinata bisa terenggut oleh jutsu itu. "Hinata—" Tsunade mengalihkan pandangannya ke gadis yang berada di pelukannya itu, "—Sekarang bawa Naruto ke dalam dan obati dia dengan Ninjutsu Medic yang telah aku ajarkan kepada mu. Aku ingin pergi ke luar kota dan kau yang harus menjaga Naruto saat aku pergi. Aku titip Naruto ya? Kau pasti akan menjadi Istri yang baik untuk Naruto nanti." Ujar Tsunade yang membuat Hinata malu setengah mati.

Hinata mengeratkan pelukannya dan menyusupkan wajahnya di belahan dada Tsunade demi menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah sangat semerah. "Apa tidak apa-apa kalau aku menikah dengan Naruto-kun?" Tanya Hinata dengan malu-malu.

Tsunade melepaskan pelukannya, "Tentu saja tidak apa-apa, Bodoh. Apa kau tidak ingin menjadi cucuku? Kalau kau menikah dengan Naruto, otomatis kau juga akan menjadi cucuku juga. Aku tau kalau kau itu mencintai Naruto, kan?" Hinata yang mendengar pertanyaan kramat dari Tsunade langsung gelagapan dan akhirnya mengangguk kikuk. 'Kesempatan tidak datang dua kali, tapi datang beberapa kali' Peribahasa itu langsung menyeruak masuk kedalam otak Hinata yang masih error.

"Sebaiknya kita harus membawa Naruto ke dalam secepatnya, ayo!" Tsunade dan Hinata membawa Naruto ke dalam rumah untuk di obati Hinata dan Tsunade bergegas pergi ke luar kota untuk menyelesaikan tugasnya.

OoO

10.00 pm

Sekarang Hinata tengah sibuk mengobati Naruto dengan jutsu medic yang ia punya. Kini wajahnya telah ternoda dengan semburat merah yang masih menempel di pipinya yang gembir itu ketika amethisnya menatap dada bidang Naruto yang sixpack. Kulit Naruto yang berwarna coklat menambah kesan Sexy dan Maco di mata gadis yang tengah merasakan apa yang namanya jatuh cinta. Gadis itu masih terus mengalirkan chakranya ke luka yang ada pada dada bidang Naruto melalui tangannya sampai luka lebam itu hilang. Hinata merasa sedih dengan apa yang telah menimpa pemuda di depannya, beberapa tulang rusuknya ada yang patah sehingga membuat pengobatan ini semakin lama, ditambah lagi dengan jutsu yang Hinata gunakan masih jauh dari kata sempurna.

Sudah satu jam lebih Hinata mengalirkan chakranya ke luka tersebut dan akhirnya luka lebam itu telah hilang tak berbekas. Hinata tahu kalau ia hanya bisa mengobati luka lebam yang ada pada Naruto, tapi ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati Naruto. Hinata kembali memeriksa keadaan fisik Naruto dengan Byakugannya. Senyuman lebar terkembang di bibirnya ketika melihat hasil kerjanya yang tidak mengecewakan. Hinata yang merasakan lelah yang amat sangat pada tubuhnya akhirnya tertidur dengan kedua tangan yang memeluk erat tubuh Naruto dari samping dan menyandarkan kepalanya di bahu pria yang sangat ia cintai itu.

OoO

Naruto harus menahan nafasnya berkali-kali ketika deru nafas Hinata menerpa leher jenjangnya dan ditambah lagi dengan gerakan dada Hinata yang menempel ketat di lengan kanannya. Itu membuat dirinya nyaris gila dengan apa yang terjadi pagi ini. Dia tak menyangka kalau gadis itu akan tidur di kamarnya dengan posisi tidur yang sangat intim dengan dirinya.

"Emm~ Manis Nyam.. Nyam.. Nyam" Naruto bisa merasakan sebuah benda lunak berlendir merayap di kupingnya. Bulu kusuk Naruto langsung berdiri ketika merasakannya. Oh shit, sekarang juniornya sudah mulai bereaksi.

Naruto sudah hilang kesabaran menghadapi tingkah gadis mesum di sampingnya. Andai saja tubuhnya masih bisa digerakan, sudah dipastikan kalau gadis di sampingnya itu akan berakhir dengan desahan dan jeritan-jeritan pilu.

"Emm~" Naruto bisa merasakan Hinata yang menggeliat tak nyaman, "Naru tampan~ Nyam.. Nyam.." Sebuah perkataan lolos dari bibir mungil itu yang membuat dada Naruto terasa menghangat untuk beberapa saat, tetapi Naruto lebih memilih mengabaikannya. "Aishiteru, Naru. Muahh!" Naruto yang merasakan basah pada pipi kanannya mulai menengokan kepalanya.

Naruto membelalakan matanya ketika melihat Hinata yang sedang menatapnya dengan wajah yang sangat merah. 'Apa tadi Hinata tidak mengigau? Apa Hinata benar-benar mencintainya?' Naruto menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak mungkin bisa terjadi.

Hinata bangun dan membereskan penampilannya yang sedikit berantakan, "Aku ingin memasak sarapan. Emm... Kau mau sarapan apa, Naru?" Tanya Hinata masih dengan semburat merah.

Naruto memejamkan matanya mencoba memikirkan makanan yang ia inginkan, "Ramen. Aku ingin ramen." Ujar Naruto yang telah menemukan makanan yang diinginkannya.

"Tidak." Sahut Hinata dengan tegas, "Ramen sangat tidak baik untuk kesehatanmu. Bagaimana kalau aku buatkan bubur untukmu?" Usulan Hinata langsung membuat Naruto langsung down di tempat.

"Aku tidak mau makanan yang lain kecuali ramen. Hanya ramen, titik." Naruto tetap kukuh dengan pendiriannya kepada ramen. Bagi Naruto, ramen adalah makanan nomor wahid yang pernah ia rasakan selama hidupnya.

"Tapikan it—"

"R-A-M-E-N." Hinata menyerah dan akhirnya pergi ke dapur untuk memasak ramen untuk mereka berdua.

Naruto menatap kepergian Hinata dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Seandainya Tsunade tidak memukulnya, Naruto pastikan akan menjadi pemenang saat sparing kemarin. Tapi yang membuat pikirannya kacau bukan hanya itu. Apakah pernyataan cinta Hinata yang tadi itu adalah nyata atau mungkin hanya khayalan belaka, bisa juga kalau itu hanya mimpi. Tapi itu terasa sangat nyata baginya dan sangat-sangat mengganggu pikirannya. Naruto memejamkan matanya sejenak, mencoba merilekskan pikirannya yang sedang kacau. Mencoba menghirup aroma wangi lavender yang masih tertinggal di kasurnya. Wangi bunga lavender sepertinya sangat ampuh untuk membuat pikiran menjadi rileks.

"RAMEN TELAH SIAP!" Teriakan membahana Hinata membuat lamunan Naruto langsung buyar. Naruto dapat melihat gadis itu datang dengan membawa semangkuk ramen di atas penampan kayu.

"Cuma satu? Kau ini niat masak ngak sih?" Naruto bertanya dengan wajah polosnya.

"Ma-maaf. Tapi persediaan ramen sudah habis," Hinata menunduk kecewa mendengar pertanyaan yang dilontarkan Naruto kepadanya. "Hanya ini saja yang tersisa di dalam kulkas."

Naruto menghela nafas sejenak, "Mau bagaimana lagi. Nasi sudah menjadi Ramen dan aku tak akan mungkin membiarkanmu kelaparan. Jadi—" Naruto menghentikan ucapannya, "—kita makan bersama-sama saja."

Dada Hinata seakan disentak dengan alat kejut jantung. Jantungnya berdetak tak menentu dan tidak seperti biasanya. Ucapan Naruto bagaikan angin sepoi-sepoi yang menyejukan hatinya dalam sekejap.

Hinata menaruh nampan kayu itu dengan perlahan di meja sebelah kirinya. Hinata kembali menaiki keranjang dan duduk di sebelah kanan Naruto. Hinata mengarahkan sumpitnya kemulut Naruto, menyuapi Naruto dengan perlahan.

"Makanlah! Aku tau kau juga lapar."

"Ta-Tapi—" Hinata terlihat gelisah. 'Ciuman tak langsung.' Itulah yang saat ini ia pikirkan.

"Kau ingin aku yang menyapimu?" Mendengar ucapan Naruto. Hinata bergegas memasukan ramen ke dalam mulutnya. Sehelai ramen menjulur panjang dari sudut bibir Hinata dan itu adalah santapan maut untuk Naruto. Dengan secepat kilat Naruto langsung menyambar sehelai ramen itu hingga bibir mereka menyatu. Rasa ramen, itulah yang Naruto rasakan ketika dirinya melumat habis bibir gadis indigo itu.

Hinata memundurkan tubuhnya ke belakang menghindari lumatan ganas yang sedang Naruto lakukan dan Brukk... Hinata jatuh dengan posisi Naruto yang berada di atasnya, "Emmm Hmmm." Hinata membuang ramen dan sumpit yang tadi sempat ada di genggamannya. Mencoba menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri dan mendorong Naruto sekuat tenaga.

TBC

Maaf kalau nanggung #Hehehe #plakk

Huh... Lelahnya mengelilingi BATAGOR (BAndung, jakarTA, boGOR) #curhat. Tugas observasi di sekolah sangat menguras otak dan stamina saya. Tapi tenang, saya akan tetap profesional dalam membuat fict kok. Dan saya ucapkan terima kasih kepada para reader yang relah mem fav, foll & review fict gaje ini. Maaf kalau terlalu banyak Romance dari pada Adventure. Adventure akan ada ketika 1 s/d 3 chaper lagi, tapi saya tidak janji ya #plakk

Maaf kalau aku membuat Hinata jadi OOC, itu semua saya buat karena saya greget dengan sifat Hinata yang terlalu pasrah dan lemah lembut ketika canon. Maafkan saya kalau ada yang merasa tersinggung :3

Disini Naruto hanya akan mendapatkan pair utama(Naruto x Hinata x Karin) yang akan mendampinginya hingga ke pelaminan dan harem di sinii hanyalah kumpulan cerita singkat antara Naruto dengan beberapa chara wanita selain pair utama tadi.

Saya mau vote Slight Pair yang akan saya buat di chapter Adventure:

-Naruto x Ameyuri

-Naruto x Fuu

-Naruto x Guren

-Naruto x Haku

Terima kasih telah sudi membaca fict ini.

*salam kecup basah* Muahhhh

Jangan lupa review :D