Beep…. Beep…. Beep….

Pik.

"Moshi-moshi," ucap Sai begitu mengangkat panggilan dari ponselnya.

"Sai-sama. Apa anda baik? Kalau acaranya sudah selesai, langsung pulang saja. Ini perintah dari Danzou-sama. Kami sudah menunggu anda di depan gerbang sekolah," ucap salah satu body guard keluarga Shimura dengan suara panik.

Sai memutar kedua bola matanya dengan kesal. "Ya," jawabnya singkat lalu langsung mematikan ponselnya. Ia berdiri dari duduknya yang bersila itu. ia menatap beberapa body guardnya yang memang benar sudah menunggunya di depan gerbang.

Kini, ia sedang berdiri di atas gedung sekolahnya. Sai menutup matanya sebentar. Menghirup udara sejuk untuk merilekskan dirinya. Setelah beberapa menit, ia kembali membuka matanya.

"Aku gagal melakukan itu lagi," ucapnya pelan. Sai pun membalikkan badannya dan mulai berjalan menuju tangga.

"Bersabarlah, nii-san. Aku akan segera menyusulmu."


.

.

.

.

Disclaimer:

Naruto by Masashi Kishimoto

After School by Hwang Energy

The Cover by Hwang Energy

.

.

.

.

Chapther 2 : Baka! We are In The Same Class!

.

.

.

.


"Hufftt, capeknya!" Sakura merebahkan dirinya di sofa begitu ia sampai di club room-nya.

"Sakura!" panggil Tenten dengan sok imut –bagi Sakura. Ia mendekati Sakura dan langsung memijit kakinya. "Kau pasti sangat lelah, kan? Biar aku urut kakimu. Kalau kau haus, aku akan mengambilkan air untukmu," lanjutnya sambil tersenyum manis.

"Tetap saja," ucap Sakura judes. "Walaupun kau melakukan itu semua, aku tidak akan memaafkanmu atas kejadian tadi!" Sakura pun membuang muka dengan angkuh.

Tenten langsung memasang wajah melasnya. "Ayolah Sakuraaaa," ucapnya gemas. "Baiklah. Aku memang salah. Aku terlambat karena aku mampir ke stand takoyaki untuk sarapan. Aku sangat lapar. Bagaimana bisa seorang drummer memukul drumnya dengan lemas, eh?" Tenten pun menarik wajah Sakura agar menatapnya. Sakura hanya melotot.

"Maafkan aku ya, Sakura-chan? Ya? Ya? Ya?" permintaan maaf Tenten terlihat seperti pemaksaan.

Sakura tersenyum pahit. "Tidak mau ya, Tenten-chan? Ya? Ya? Ya?!" ia pun langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruang klub. Tenten pun mendesah putus asa.

Ino, Hinata, dan Shion yang melihat tingkah mereka hanya sweatdrop. Sakura dan Tenten memang sering sekali bertengkar. Tapi, nanti juga baikkan lagi. Tapi mereka berdua tidak pernah peka. Maksudnya, toh untuk apa sampai memohon meminta maaf kalau nanti akan berteman lagi?

"Hey, aku pulang duluan, ya!" ucap Ino sambil membawa gitarnya. "Tou-san menjaga toko sendiri. Aku harus membantunya. Jaa nee!" lanjutnya sambil melambaikan tangannya pada mereka.

"Jaa!" ucap mereka semua membalasa lambaian tangan Ino.

"Hati-hati, Ino! Salam untuk Tou-san-mu!" kata Tenten.

"Oke!" balas Ino sambil mengedipkan sebelah matanya. Lalu ia berjalan keluar ruangan mereka.

Lalu, Tenten membaringkan dirinya di sofa. "Uah! Rasanya hari ini sangat melelahkan!" ucapnya sambil mencari posisi yang enak.

"Melelahkan?" tanya Shion yang bingung atas pernyataan Tenten. Dia bilang lelah? Padahal yang membawa drum miliknya ke aula bukanlah dirinya.

"Iya. Hari ini sangat melelahkaaaaan," ucap Tenten yang akhirnya menemukan posisi yang enak. "Kau tau, Shion? Aku berlari secepat mungkin agar sampai ke sekolah dengan tepat waktu!" lanjutnya.

"Iya, sih. Tapi kau bukannya langsung ke ruangan malah beli makanan dulu," ucap Shion dengan nada khas juteknya.

"Aku kan lapar dan butuh tenaga!" ucap Tenten mencoba membela dirinya.

"Memangnya disini tidak ada makanan?" balas Shion sambil menunjuk lemari mereka yang berisi banyak cemilan. Oh, Ouh, kau kalah Tenten.

"Tapi aku kan laparnya saat itu juga. Bagaimana kalau aku pingsan saat di tengah perjalanan ke ruang klub?" ucap Tenten dengan otak seribu alasannya.

"Berlebihan." Shion pun mengambil tas dan bassnya. Lalu, ia beranjak dari tempatnya menuju pintu ruang klub.

"Kau mau pulang? Aish, cepat-cepat sekali, sih!" ucap Tenten bangun dari tidurnya.

"Hari ini aku ada upacara minum teh. Kalau terlambat, aku bisa dimarahi Tou-san. Jaa." Ucap Shion berlalu begitu saja.

"Kalian sama sekali tidak seru!" ucap Tenten cemberut. "Sakura pergi entah kemana. Ino dan Shion pulang. Lalu Hinata... eh?" Tenten seperti baru menyadari sesuatu. Ia pun mencari sosok gadis berambut indigo itu.

"Hina–" ucapan Tenten terpotong begitu ia menemukan sosok Hinata yang sedang memandang keyboardnya dengan tatapan kekhawatiran.

"Hinata!" seru Tenten yang membuat Hinata tersadar dari lamunannya.

"A-Ada apa, Tenten-chan?" tanya Hinata sambil tersenyum. Menyembunyikan wajah kekhawatirannya.

Tenten merasa ada yang Hinata sembunyikan. Tapi, dia tidak begitu penasaran. "Hinata, bagaimana kalau kita ke Ichiraku Ramen?" ajak Tenten bersemangat. "Soalnya, aku malas langsung pulang ke rumah. Aku ingin main dulu, hehehe!" lanjutnya sambil cengengesan.

Hinata mengangguk pelan. "A-Aku mau saja. Tapi, Tenten-chan mentraktirku ya," ucapnya lalu tertawa kecil.

"Huh! Kau ini iseng juga ya, Hinata!"

= After School! =

"Ittadakimasu!" Tenten dan Hinata pun segera melahap ramen mereka.

"Huaaaa, aku lapar sekali!" ucap Tenten di tengah makannya.

"Tenten-chan jangan bicara kalau masih ada makanan di mulutmu!" omel Hinata yang sudah seperti ibu Tenten.

Tenten pun segera menelan makanannya. "Hehe, maaf Hinata!" ucapnya malu sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Hei bocah durian!" Tenten dan Hinata kaget begitu mendengar suara Paman Teuchi yang memanggil seseorang.

"Hai, Paman Teuchi!" sapa seseorang dengan nada ceria. Seperti pernah mendengar suara ini, Tenten dan Hinata pun refleks menoleh kebelakang mereka.

"Kau?!" Mata Tenten terbelalak begitu melihat Naruto dan Kiba.

Naruto dan Kiba tampak kaget juga begitu melihat ada Hinata dan Tenten.

"KENAPA KAU ADA DISINI?!" tanya Naruto dengan sebal.

"KENAPA? MEMANGNYA TEMPAT INI HANYA PUNYAMU!" balas Tenten tak kalah sebal.

"KAU ADA DISINI ADALAH SALAH. AKU INGIN MENIKMATI RAMEN JADI TIDAK NIKMAT KARENA ADA KAU!" ucap Naruto sambil menunjuk Tenten.

"ENAK SAJA! JUSTRU AKU YANG JADI TIDAK BISA MENIKMATI MAKANANKU KARENA KAU DATANG!" ucap Tenten balas menunjuk Naruto.

Hinata dan Kiba hanya diam melihat pembicaraan yang tidak jelas antara kedua makhluk itu. Kiba mengambil tempat duduknya dan memesan ramen. Hinata pun melanjutkan makannya.

"Hei, Naruto. Daripada kau bertengkar, lebih baik kau bayar hutang-hutangmu yang menumpuk itu!" celetuk Paman Teuchi yang sukses membuat keadaan menjadi sunyi mendadak.

Apa katanya? Hutang?

"HAHAHAHA! TAK KUSANGKA KAU PUNYA HUTANG!" Tenten pun langsung tertawa penuh kemenangan.

"BERISIK!" seru Naruto malu. "Paman kenapa bicaranya keras-keras?" Naruto pun mulai menyalahkan Paman Teuchi.

"Habisnya kalian berisik sekali. Cepat bayar!" jawab Paman Teuchi.

"Iya, iya!" Naruto pun dengan pasrah mengeluarkan uang dari isi dompetnya dam membayar semua hutang-hutangnnya.

"Sok-sok-an mau makan, padahal tidak punya uang," sindir Tenten lalu memakan makanannya.

"Hahahaha, kau kalah darinya, Naruto!" Kiba malah menertawakannya temannya itu.

"Oh, jadi kau berpihak padanya, begitu?" tanya Naruto sambil melirik Kiba dengan sebal.

"Hihihi," Naruto pun menoleh ke sumber suara itu. Ternyata, Hinata sedang tertawa kecil melihat mereka.

Dan Naruto pun merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya begitu melihat Hinata.

'Manisnya,' batin Naruto. Ia menatap lama pada Hinata. Tanpa sadar, ramennya sudah ada di depan matanya.

"Hei, kenapa kau menatap temanku?" ucap Tenten menyadarkan Naruto. Hinata yang merasa diperhatikan pun menatap balik Naruto.

"Hahaha, kau kenapa? Wajahmu merah begitu!" Kiba pun ikut menggoda Naruto.

"A-aku tidak apa-apa. Ah, Ittadakimasu!" Naruto pun mengalihkan pandangannya dari Hinata. Tetapi wajahnya masih merah.

"Awas ya kalau kau naksir temanku!" ucap Tenten.

"Siapa yang naksir?" Naruto pun dengan cuek melanjutkan makannya.

Hinata hanya tertawa kecil. Sekarang, ia yang balas memperhatikan Naruto. Pipi Hinata pun ikut merona saat melihat Naruto. Ia pun tersenyum.

'Sepertinya, dia orang yang baik,' batin Hinata sambil tersenyum kecil. Dan ia pun melanjutkan makan ramennya.

\= After School =/

"Menyebalkan!"

Seorang gadis bersurai merah muda bergumam kesal. Dia adalah Sakura, berjalan diantara toko-toko yang lumayan ramai sambil memegang kedua tali tas gitar punggungnya dengan erat. Ia sedang dalam perjalanan pulang.

"Mereka pulang duluan dan meninggalkanku sendiri? Benar-benar menyebalkan! Akan kumarahi mereka!" Sakura benar-benar kesal. Tadi, ia hanya sebentar keluar dari ruang klub karena menghindari rengekan Tenten dan kebetulan ingin ke toilet. Saat kembali, sudah tidak ada orang. Yang ia lihat adalah tas sekolah dan tas gitarnya.

Itu artinya, Sakura ditinggal pulang.

"Huh, setidaknya tunggu sampai aku kembali!" ucap Sakura emosi. Ia sudah cukup sabar untuk cobaan hari ini.

"Eh?" Tiba-tiba langkah Sakura terhenti begitu melihat seseorang di sebrang jalan yang sepertinya ia kenal. Ragu-ragu, Sakura pun mempertajam penglihatannya.

"Eh? Dia kan yang tadi?" ucap Sakura pelan, sedikit menunjuk orang yang ia lihat.

Orang yang Sakura maksud adalah Uchiha Sasuke. Lelaki berwajah dingin itu baru saja keluar dari dari mini market. Ia membawa sebuah susu kotak di tangan kanannya.

"Meaw!" pandangan Sasuke pun terlarih kearah kucing kecil berwarna hitam yang ada di bawahnya. Entah kenapa, Sakura malah memperhatikan Sasuke dan kucing itu.

Sasuke tersenyum tipis pada kucing kecil itu. Lalu, ia berjongkok dan membuka susu kotak yang ia beli. Sasuke membuat lubang cukup besar pada bagian atas susu kotak. Ia menyodorkan susu kotak itu pada kucing kecil yang ada di depannya.

"Maaf membuatku menunggu lama," ucap Sasuke dengan lembut. Kucing kecil itu meminum susu yang diberikan Sasuke. Dengan lembut, Sasuke mengelus kucing kecil itu.

Disis lain, gadis bersurai merah muda itu terpana melihat sang pemuda berambut raven. Sakura kagum dengan perilaku Sasuke terhadap kucing yang imut baginya. Well, hanya informasi kalau Sakura sangat menyukai kucing.

'Dibalik wajahnya yang dingin itu, sebenarnya ia orang yang hangat,' batin Sakura tersenyum kagum melihat Sasuke.

"Eh?!" Sadar dengan apa yang ia pikirkan, Sakura merubah senyum kagumnya itu menjadi wajah sok cueknya.

'Dia kan musuhku. Kenapa aku jadi kagum padanya?!' batin Sakura tsundere. Sifat gengsinya muncul deh.

Ehem. Segengsi-gengsinya Sakura, ia tetap penasaran. Sakura pun lanjut memperhatikan Sasuke.

Kembali pada Sasuke. Ketika ia sedang asik dengan kucing kecil itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Wajah lembutnya kembali menjadi wajah dinginnya. Dengan malas ia merogoh ponsel yang ada di kantung celananya.

"Hn?" ucap Sasuke dingin. Sakura yang melihat perubahan sikap Sasuke pun sweatdrop. Tadi dia lembut sekali pada kucing, sekarang ia dingin sekali pada manusia. Ya, manusia. Siapa lagi yang menelponnya kalau bukan manusia?

"Itachi-nii?!" seru Sasuke dengan khawatir. Sakura membelalakkan matanya begitu melihat Sasuke. Baru pertama kali ia melihat wajah Sasuke yang khawatir begitu.

Sasuke langsung memutuskan panggilannya. Ia langsung berlari dengan cepat, meninggalkan kucing kecil itu. Sakura hanya terbengong melihat perginya Sasuke hingga ia hilang.

'Kenapa ia begitu khawatir?' Itulah yang Sakura pikirkan. Ia jadi penasaran dengan tingkah musuhnya itu.

Tanpa Sakura sadari, sebuah mobil sedan berwarna hitam pun menghampirinya. Kaca mobil itu terbuka dan menampakkan dua orang gadis.

"Sakuraaa!" Yang merasa dipanggil pun dengan kaget menoleh ke sumber suara. Ia melihat Tenten dan Hinata yang ada di dalam mobil sedan itu.

"Ka-kalian?" ucap Sakura terbata.

"Sakura-chan mau bareng?" tawar Hinata sambil tersenyum manis.

"Ayo bareng saja Sakura! Sudah lama kita tidak naik mobil Hinata!" seru Tenten dengan noraknya.

Entah kenapa, Sakura menurut saja. Biasanya ia menolak karena tidak mau merepotkan temannya itu. Ohya, bukankah seharusnya dia marah pada mereka? Tapi, Sakura malah masuk kedalam mobil.

Sepertinya, Sakura melupakan hal-hal menyebalkannya itu. Pikirannya dipenuhi oleh rasa penasarannya pada Sasuke.

Kalian selamat, girls!

\= After School =/

Keesokan harinya di Papan Pengumuman Pembagian Kelas.

"AAARRGH! KITA PISAH KELAS?!"

Perhatian semua murid yang ada disana pun tertuju pada dua gadis dengan warna rambut berbeda. Satu berwarna cokelat di cepol dua dan yang satu lagi berwarna merah muda yang dihiasi bando pita berwarna merah. Yap, Tenten dan Sakura.

"BAGAIMANA BISA?!"

"TIDAK MUNGKIIIIN!"

"MUSTAHIL!"

"TIDAAAAAAAAAK–aw!" Tenten dan Sakura langsung memegang kepala mereka begitu Ino menjitak mereka.

"DIAMLAH! KALIAN BERISIK! SEMUA PERHATIAN JADI TERTUJU PADA KITA! MEMALUKAN!" ucap Ino yang kesal dengan tingkah kedua temannya itu. Tidak sadar dengan dirinya yang juga menjadi pusat perhatian sekarang.

"Maaf," Hinata dan Shion pun meminta maaf pada murid-murid yang terganggu akan teriakan ketiga teman mereka. Murid-murid itu pun kembali memperhatikan papan pengumuman pembagian kelas.

"Tidak seru! Kenapa kita harus pisah kelas?" seru Tenten dengan kesal.

"Padahal kita sudah dua tahun selalu sekelas. Dan sekarang kita semua dipisah?!" seru Sakura tak kalah kesal.

"Kalau pisah kelas, repot juga jadwal latihannya. Tiap kelas pasti tugasnya berbeda. Kita akan sibuk dengan tugas masing-masing," keluh Ino yang sudah tidak bersemangat lagi.

"Kalian berlebihan," ucap Shion datar.

"Ano, sepertinya kita tidak terpisah," ucap Hinata yang kini membuat keempat temannya bingung.

"Maksudku, kita memang terpisah, tapi tidak semua," Hinata menunjuk namanya di papan pengumuman. "Aku satu kelas dan Tenten-chan," lanjutnya sambil tersenyum senang.

"Benarkah?" Tenten pun senang dan memeluk Hinata. "Untung ada Hinata! Kami-sama memang baik. Arigatou gozaimasu, Kami-sama!" Tenten pun sujud syukur. Sedangkan Sakura, Ino, dan Shion iri melihat mereka.

"Ya sudahlah. Lagipula kelas kita bersebalahan. Kita masih bisa bertemu. Jangan berlebihan!" ucap Shion dengan nada khas juteknya.

Sakura dan Ino pun pasrah. Yang dikatakan Shion memang benar. Mereka masih bisa bermain atau makan bekal bersama saat istirahat. Tapi, tetap saja kalau tidak sekelas itu bukan hal yang menyenangkan. Apalagi ini adalah tahun terakhir mereka bersekolah.

"Yosh! Ayo kita kekelas masing-masing!" ucap Tenten dengan bersemangat sambil menggenggam tangan Hinata.

Sakura dan Ino yang melihat tingkah sombong Tenten –mentang-mentang sekelas dengan Hinata– pun kompak menjitakki Tenten dengan kesal. Hinata berusaha melerai dan Shion hanya memutar kedua bola matanya.

Disis lain, tampak lima orang pemuda yang sedang memperhatikan papan pengumuman.

"Kita pisah kelas ya?"

\= After School =/

Kelas 12-A

"Selamat pagi. Namaku Sarutobi Asuma. Aku adalah wali kelas kalian. Mohon kerjasamanya," ucap seorang guru laki-laki berambut hitam dengan rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar rahangnya.

"Hai!" Semua murid termasuk Ino pun menyahuti guru baru mereka.

Ino mengambil tempat duduk dekat jendela. Ia memilih untuk duduk di baris ketiga. Ino menopang kepalanya dengan tangan kanannya. Terlihat dari wajahnya kalau ia tidak suka pisah kelas.

Bukan berarti Ino tidak punya teman selain mereka berempat. Ino adalah gadis yang supel. Ia bisa berteman dengan siapa saja. Tapi tanpa mereka berempat, Ino merasa kesepian.

'Coba kulihat. Apa ada yang menarik di kelas ini?' Ino pun mengedarkan pandangannya keseluruh kelas. Mencari orang yang menarik baginya.

'Sai?' Pandangan Ino pun tertuju pada pemuda berambut eboni yang ia baru kenal kemarin, Shimura Sai. Ia duduk di sebrang Ino tetapi pada baris ke-empat. Sai tersenyum ramah pada Ino.

Ino membalas senyum Sai dengan senang. Yah, setidaknya ada orang baik dikelasnya.

Kelas 12-B

"Namaku Hatake Kakashi, wali kelas kalian. Mohon kerjasamanya untuk dua semester ini," ucap seorang guru laki-laki bermasker dengan warna rambut perak dan warna bola mata yang berbeda.

"Hai, Kakashi-sensei!" sahut murid-muridnya dengan semangat.

"Huft," Sakura menghela duduk di barisan pertama di depan papan. Ia merasa bosan. Biasanya ada Tenten yang suka menjahilinya.

"Karena kita belum saling mengenal, silahkan perkenalkan diri dan hobi kalian secara bergiliran mulai dari ujung," ucap Kakashi sambil menunjuk perempuan yang duduk di depan paling ujung, sebelah Sakura.

Perempuan itu pun berdiri. "Perkenalkan, Namaku Uzumaki Karin. Panggil saja Karin. Hobiku membaca majalah fashion. Terimakasih!" ucap perempuan berambut merah itu dengan percaya diri.

Setelah Karin duduk, Sakura pun berdiri karena ini adalah gilirannya. "Na-Namaku Haruno Sakura. Kalian bisa memanggilku Sakura. Ho-Hobiku bernyanyi dan bermain gitar. Mohon kerjasamanya!" ucap Sakura agak gugup. Ia membungkukkan badannya lalu kembali duduk.

'Memalukan!' Sakura menggerutui dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia gugup. Ia benar-benar malu sampai-sampai tidak mempedulikan orang di sebelahnya yang sedang memperkenalkan diri.

"Selanjutnya," ucap Kakashi memandang seorang laki-laki berwajah dingin yang duduk di barisan pertama dekat pintu. Ia pun berdiri dengan malas. Perhatian semua siswi pun tertuju padanya. Sakura tidak mempedulikannya karena masih menyesali perkenalannya yang memalukan baginya itu.

"Uchiha Sasuke. Bermain bass."

'Aku seperti mengenal suara ini,' batin Sakura, melupakan hal memalukannya itu. Sakura pun langsung menoleh ke sumber suara. Dan benar saja, Sakura memang kenal dengannya. Sasuke melirik Sakura dengan tajam. Sakura balas menatap Sasuke dengan tajam.

'Jadi musuhku ini bernama Uchiha Sasuke, eh?'

Kelas 12-C

"Karena sensei hanya mengenal sedikit dari kalian, kita adakan perkenalan diri!" ucap seorang guru perempuan berambut hitam panjang dan ikal. Namanya adalah Yuuhi Kurenai.

"Hai, sensei!" ucap seluruh murid dengan semangat. Tapi tidak dengan Shion.

Shion duduk di ujung depan dekat jendela. Ia memandangi teman sekelasnya dengan tatapan datarnya.

'Untung saja muridnya dominan perempuan dan wali kelasku perempuan,' batin Shion. Ia tidak terbisa dengan laki-laki karena dari kecil Shion selalu bersekolah di sekolah khusus perempuan.

"Nee, perempuan cantik berambut kuning pucat. Kamu yang pertama memperkenalkan diri. Silahkan berdiri di depan kelas," ucap Kurenai yang mengagetkan Shion.

Mau tidak mau, Shion pun bangun dari duduknya dan berdiri di depan kelas. Dengan cuek, ia memperkenalkan diri. "Namaku Shion. Salam kenal," ucapnya dengan datar tanpa ekspresi. Membuat semua murid termasuk Kurenai sweatdrop.

"Ya, Shion. Silahkan kembali ketempatmu," ucap Kurenai.

Brak.

Shion baru saja mengambil satu langkah untuk kembali ketempatnya tapi langkahnya terhenti. Tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan kasarnya dan mengagetkan semua. Dan muncullah sosok laki-laki berambut cokelat dengan tattoo taring merah di pipinya yang berseragam yang cukup berantakan.

"Ohayou minna-san... hosh... maaf terlambat... hosh... sensei... hosh," ucap laki-laki itu.

'Hosh?' pikir Shion, menatap laki-laki itu dengan tatapan aneh.

"Tidak apa-apa. Perkenalkan namamu!" ucap Kurenai bersemangat.

"Yosh! Namaku Inuzuka Kiba. Yang paling kusayang adalah Akamau, anjingku. Yahoo!" ucap laki-laki itu yang ternyata adalah Kiba.

'Yahoo?' pikir Shion lagi. Ia merasa Kiba itu aneh.

'Tapi, dia yang tampil kemarin, ya?'

Kelas 12-D

"Apa-apaan ini?!" seru Tenten dengan kesal.

"Seharusnya perkenalan itu dikelas, kenapa kita di lapangan?" seru Tenten lagi. Ia tidak terima harus panas-panasan di lapangan.

Wali kelas Tenten dan Hinata adalah Maito Guy, seorang guru laki-laki berambut bob hitam dan beralis tebal. Sangat heboh dan bersemangat muda. Dilihat dari pakaiannya, ia adalah guru olahraga. Mungkin, itu sebabnya ia memilih untuk perkenalan di lapangan daripada di kelas. Dan dengan semangat mudanya, Guy mengabsen muridnya itu.

"Sa-sabar, Tenten-chan," Hinata yang duduk disamping Tenten pun menenangkan temannya itu.

"Bagaimana bisa sabar? Walaupun kita diizinkan duduk, tetap saja panas!" ucap Tenten kesal, tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikannya.

"Hyuuga Hinata," absen Guy.

"Hai!" Hinata pun berdiri, tapi ia menunduk karena malu. Lalu Hinata kembali duduk.

"Hyuuga-san, jangan malu-malu. Semangat!" ucap Guy memberikan cengiran silaunya pada Hinata.

Tenten pun makin illfeel dengan gurunya itu. Sedangkan Hinata hanya menunduk malu.

"Ehem," Guy sedikit berdeham. "Yosh, selanjutnya... Wah, Hyuuga juga!" ucap Guy yang membuat Hinata dan Tenten saling bertatapan.

"Hyuuga Neji,"

Yang merasa dipanggil pun berdiri. Laki-laki dengan wajah datar, mata lavender, dan berambut cokelat panjang, ialah Hyuuga Neji. Terdengar banyak suara histeris dari para siswi disana.

Tenten membelalakkan matanya. "Jadi, orang itu bermarga Hyuuga? Dan aku sekelas dengannya?" ucap Tenten tidak percaya dengan apa yang terjadi.

"Wah, lucu juga ada yang bersaudara dalam satu kelas. Mata kalian juga sama. Hyuuga Hinata dan Hyuuga Neji, ya? Menarik," ucap Guy kepada kedua orang yang namanya disebut itu.

Hinata menatap Neji dengan takut, sedangkan Neji menatap Hinata dengan tajam. Tenten yang melihat mereka berdua pun seperti merasa ada sesuatu yang buruk.

Beberapa detik kemudian, Neji pun kembali duduk. Guy juga kembali mengabsen. Tenten pun berhenti mengeluh. Pikirannya kini tertuju pada Hinata dan Neji. Hinata yang ketakutan dan Neji yang menatap Hinata dengan tajam.

'Seperti punya dendam!' batin Tenten, menatap Hinata dan Neji bergantian.

"Tenten Liu,"

"Hai!" ucap Tenten dengan semangat. "Mohon bantuan kalian, ya!" ucap Tenten sambil membungkuk hormat. Sebelum ia duduk, Tenten sempat menatap tajam pada Neji. Membalas tatapan tajam Neji pada Hinata.

Neji yang ditatap tajam Tenten pun hanya tertawa singkat. Baginya, tatapan tajam Tenten bukan apa- apa.

"Uzumaki Naruto,"

"Yosh!" Tiba-tiba, muncullah seorang laki-laki berambut kuning jabrik dengan hebohnya.

"Maaf sensei, aku terlambat!" ucap Naruto disertai tawa tanpa salahnya.

"Tidak apa-apa, lain kali jangan terlambat lagi. Aku suka semangat mudamu!" ucap Guy memberikan cengiran silau dan ibu jarinya pada Naruto.

Naruto pun membalas apa yang Guy lakukan padanya. Lalu ia mencari tempat untuk duduk dan dilihatnya Neji. Ia pun menghampiri Neji.

"Maaf membuatmu jadi sendirian, Neji!" ucap Naruto setelah duduk di samping Neji.

"Hn. Kau kemana saja dengan Kiba?" tanya Neji datar.

"Keliling gedung. Ini kan gedung sekolah perempuan. Toilet laki-lakinya berbeda sekali dengan kita!" ucap Naruto heboh.

Tenten dan Hinata memperhatikan kedua orang itu dari jauh. "Kita sekelas dengan mereka, Hinata," ucap Tenten lemas. Ia tidak suka dengan si rambut pirang, apalagi si mata lavender. Mereka kan saingan dalam band.

Hinata mengangguk lemas. "Iya, Tenten-chan," ucapnya juga lemas.

Merasa diperhatikan, Naruto pun menatap Tenten dan Hinata. "Neji, kita sekelas dengan mereka berdua?" tanya Naruto sambil menunjuk Tenten dan Hinata.

"Hn," ucap Neji dingin. Menatap Tenten dan Hinata dengan tajam.

"Hinata, kita ditatap balik sama mereka!" ucap Tenten heboh. Hinata hanya diam sambil menatap takut pada Neji.

Naruto pun tertawa mengejek pada Tenten dan Hinata. Ia menunjuk mereka berdua, lalu mengacungkan ibu jari dengan arah kebawah.

Merasa kesal, Tenten mengepalkan tangannya. Ia menujukkan tangannya yang dikepal itu kepada Naruto. Mengisyaratkan 'ku-hajar-kau' pada Naruto dan Neji.

'Baka! Kita sekelas!'


.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.


Author's note:

ALOHA! MINNA-SAAAAAN! *tebar bunga*

Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa lanjutin fanfiksi ini juga. Terima kasih, Kami-sama. Terima kasih semua!

Bagaimana dengan chapter ini? Anehkah? Boseninkah? Atau penasarankah?

Kenapa Neji memberikan tatapan tajam pada Hinata? Kenapa Hinata takut sama Neji? Kenapa Sasuke begitu khawatri dengan Itachi? Apa yang ingin Sai lakukan?

Tunggu jawabannya di chapter selanjutnya!

Yosh, terima kasih sudah mau membaca fanfiksi After School ini. Kalau tidak ada halangan, aku mau mempublish chapter selanjutnya setiap minggu. Mudah-mudahan bisa ya, minna-san!

Thanks For Read and Let's Review!