Nit... Not... Nit... Not...
Terdengar suara sirine ambulan di tengah malam. Semua mobil yang di tengah pun memberi jalan pada ambulan. Di dalam ambulan itu, terdapat sebuah keluarga kecil yang anaknya dipenuhi oleh peralatan medis.
"Ino!" Seorang pria tua berambut panjang berwarna kuning yang di kuncir kuda menatap panik pada putrinya, seorang gadis berambut senada dengannya. Gadis itu adalah Ino.
"Ino, bertahanlah!" Disebelah kanannya, seorang wanita tua menggenggam tangan Ino dengan erat. Air mata perlahan keluar dari matanya.
Dengan mata sayunya, Ino menatap kedua orang tuanya itu. Melihat ibunya menangis, Ino pun tak kuasa menahan air mata yang keluar dari matanya.
"Tou-san, Kaa-san," ucap Ino pelan, seperti berbisik. Kedua orang itu pun menatap Ino dengan pilu.
Ino pun tersenyum tulus. "Arigatou," dan beberapa detik kemudian, Ino menutup matanya.
"INO! INO!"
"TIDAAAAAAAAK!" Tiba-tiba Ino terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka lebar-lebar. Ia berkeringat dan ngosh-ngosh-an. Ino mencubit pipinya dan, "Aw!" Ia merasakan sakit.
"Mimpi. Untung hanya mimpi," Ino pun jadi tenang. Ia melirik jam dinding yang ada dikamarnya. Jam menunjukkan pukul empat pagi. Ino pun melanjutkan tidurnya.
'Aku pasti sembuh!'
.
.
.
.
Disclaimer:
Naruto by Masashi Kishimoto
After School by Hwang Energy
The Cover by Hwang Energy
The Song by The Creator
.
.
.
.
Chapter 3: The Drawing Book and The Disease
.
.
.
.
"Aku masih mau tidur," ucap seorang gadis berambut kuning yang di kuncir kuda, Yamanaka Ino, dengan memelas. Ia sedang dalam perjalanan menuju sekolahnya. Ino berjalan kaki karena jarak sekolah dengan rumahnya lumayan dekat.
Ino masih mengantuk karena tidurnya terganggu oleh mimpi buruk itu. Saat ingin melanjutkan tidurnya, ia tidak bisa tidur karena mimpi buruk itu selalu terngiang di pikirannya. Alhasil, Ino pun jadi tidak tidur dan memilih untuk menonton acara televisi.
'Kenapa mimpi itu bisa muncul lagi?' batin Ino panik. Mimpi yang sudah lama menghantuinya kini kembali lagi. Membuat dirinya menjadi takut.
"Hm?" Ino mempertajam penglihatannya. Sebentar lagi ia akan sampai di sekolahnya, tapi ia melihat seseorang yang menjadi teman sekelasnya mulai kemarin, Shimura Sai.
Sai keluar dari mobil sedan hitamnya. Ino melihat seorang body guard dengan badan kekar yang sedang berbicara pada Sai dengan raut wajah khawatir. Tapi, Sai hanya menanggapi dengan anggukan yang disertai senyumannya.
'Senyum palsu,' batin Ino dengan serius sambil memperhatikan Sai.
Ketika body guard itu masuk kedalam mobil, Sai langsung berjalan masuk ke gerbang sekolah. Ino yang melihat mobil sedan itu berjalan dan Sai yang sudah masuk gerbang pun sedikit berlari mengejar Sai.
"Sai-kun!" panggil Ino cukup keras. Sai pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Ohayou, Ino-san," sapa Sai diikuti dengan senyumannya.
Ino membalas senyum Sai. "Ohayou. Bagaimana kalau kita pergi kekelas bersama?" tawar Ino dengan semangat. Sai pun mengangguk. Dan mereka pun berjalan bersama menuju kelas mereka yang ada di lantai dua.
Diperjalanan, mereka membicarakan banyak hal. Ino bukan tipikal orang yang suka diam. Ia sangat suka berbicara, bukan berarti bawel. Ia menanyakan apapun tentang Sai. Mulai dari keluarga Shimura, body guard Sai yang keren, dan sekolah Sai sebelum digabung dengan sekolahnya.
Hingga sebuah buku gambar yang di pegang Sai pun menjadi topik pembicaraannya.
"Sai-kun, itu buku gambar?" tanya Ino sambil memperhatikan buku yang Sai pegang.
Sai mengangguk singkat. Ino tersenyum kagum. "Hee~ keren! Bolehkah aku melihat-lihat gambarnya?" tanya Ino menatap Sai dengan kitty-eyes.
Sai melirik Ino sebentar. Matanya beralih menuju depan lagi. "Tidak boleh," tolak Sai yang membuat Ino agak kecewa.
"Eh? Kenapa?" tanya Ino penasaran. Biasanya, jika seseorang ingin melihat bakat yang kita punya, kita akan menunjukkannya. Tapi berbeda dengan Sai.
"Ini masih belum selesai," ucap Sai sambil mengangkat buku gambarnya. "Selain itu, aku tidak meminjamkannya pada orang lain," lanjutnya kembali menurunkan buku gambarnya.
Ino menatap Sai dengan bingung. Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya. Sai yang merasa di tatap pun menatap Ino balik. Ia pun tersenyum lagi.
"Soalnya, ini punya nii-san."
\= After School =/
Ino memperhatikan pelajaran dengan tidak fokus. Pelajaran matematika pertama di tahun ketiga ini membuatnya pusing. Dari dulu, ia memang tidak suka mata pelajaran itu.
Dari pada memperhatikan pelajaran, Ino pun memilih untuk memikirkan lagu apa yang akan band mereka tampilkan. Diam-diam, Ino mengeluarkan ponsel touch screen-nya. Menekan icon lagu dan melihat song list-nya.
"Tidak ada yang cocok," Ino berkata lirih. Ia bingung mau memilih lagu apa. Sebenarnya ada lagu yang cocok dengannya, tapi tidak cocok dengan pukulan drum Tenten atau permainan keyboard Hinata.
"Huft," Ino mendesah pelan. Pandangannya kini beralih pada pohon yang ada di sebelah jendelanya. Yang menarik perhatian Ino adalah burung kecil berwarna biru tua yang sedang bertengger di tangkai pohon tersebut.
"Kawaii," ucap Ino lembut. Ia terus memperhatikan burung kecil itu. Hingga akhirnya burung kecil itu terbang kelangit biru. Terbang dengan bebasnya.
"Aoi, aoi, ano sora," tanpa sadar Ino bernyanyi lirih. Kemudian, Ino membelalakkan matanya. Ia tersenyum lebar. Ia baru saja mendapatkan sebuah lagu dari si burung kecil itu.
"Blue Bird!" seru Ino pelan namun bersemangat. Ia pun sangat senang. Akhirnya ia menemukan lagu yang cocok. Rasanya Ino ingin berterima kasih pada burung kecil itu. Ia akan menyampaikan lagu Blue Bird dari Ikimono Gakari pada teman-temannya.
Tiba-tiba, Ino teringat akan mimpi buruknya. Ino pun menjadi takut. Ia takut kalau mimpi buruknya menjadi kenyataan. Ino menggigit bibir bagian bawahnya. Matanya berkaca-kaca. Sekuat mungkin ia menahan agar tidak keluar.
Ia ingin seperti burung kecil itu, terbang bebas.
Nyatanya, itu tidak mungkin.
'Aku pasti sembuh. Pasti!' batin Ino optimis sambil memejamkan matanya. Menenangkan perasaan takutnya. Beberapa lama kemudian, ia membuka matanya kembali. Menatap kearah jendela.
"Eh?" dari kaca jendela, Ino dapat melihat pantulan bayangan seseorang yang sepertinya sedang memperhatikannya. Ia pun jadi malu. Ino takut di bilang konyol karena dari tadi ia tidak memperhatikan pelajaran dan memandang keluar jendela.
Dengan cepat, Ino pun menoleh kearah yang ia rasa disitulah orang yang memperhatikannya. Setelah menoleh, Ino pun kaget. Ia pun tertawa malu-malu pada orang yang tertangkap basah sedang memperhatikannya.
Orang yang memperhatikan Ino adalah Sai.
Sai yang tertangkap basah itu tak kalah malu. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada Ino dan sok-sok-an memperhatikan pelajaran. Muncul rona merah tipis di pipinya yang pucat itu.
Ino pun tersenyum lembut melihat Sai. Terlihat sangat manis saat merona, bagi Ino. Detik berikutnya, ia pun memutuskan untuk memperhatikan pelajaran matematikanya.
Tanpa Ino sadari, Sai kembali memperhatikannya. Sai menyingkirkan buku catatan yang menutupi buku gambarnya. Ia pun melanjutkan aktivitasnya yang hampir ketahuan itu.
Bisa kita lihat dibuku gambar Sai, kini ia sedang menggambar Ino.
Sambil tersenyum tulus.
\= After School =/
"Habataitara modoranai to itte. Mezashita no wa aoi aoi ano sora," –Sakura.
Lagu yang diawali dengan suara gitar itu pun disusul dengar instrument musik lainnya. Pukulan drum Tenten dan permainan gitar Sakura terdengar bagus.
"Kanashimi wa mada oboerarezu, setsunasa wa ima tsukami hajimeta. Anata e to idaku kono kanjou mo. Ima kotoba ni kawatteku," –Ino.
"Michinaru sekai no yume kara mezamete. Kono hane wo hiroge tobidatsu," –Sakura.
"Habataitara modorenai to itte. Mezashita no wa shiroi shiroi ano kumo," –Sakura & Ino.
"Tsuki nuketara mitsukaru to shitte. Furikiru hodo aoi aoi ano sora," –Sakura & Ino.
"Aoi, aoi, ano sora," –Sakura & Ino.
Dan lagu itu diakhiri dengan suara gitar Sakura dan Ino, juga dengan drum Tenten yang bersemangat. Suara bass Shion menjadi fondasi dari lagu tersebut. Suara keyboard Hinata mempercantik lagu itu.
"Huaah, aku haus!" Sakura langsung menghampiri lemari persediaan makanan dan minuman klub. Ia membuka lemari itu dan mengambil sebotol air minum dan langsung meminumnya.
"Lelahnya," Tenten yang tadinya duduk di kursi drumnya pun langsung tepar di lantai. Tangan dan kakinya terasa pegal sekali.
Hinata tetap duduk di bangku keyboardnya. Ia membaringkan kepalanya diatas keyboardnya. Shion sendiri pun meletakkan bassnya dengan hati-hati, lalu ia duduk di sofa. Sedangkan Ino, ia masih tetap berdiri memandangi teman-temannya yang kelelahan itu. Meskipun ia sendiri juga lelah.
"Kaliah payah," ucap Ino mengejek.
"Payah? Ini sangat melelahkan, Ino!" seru Tenten yang terbangun karena perkataan Ino.
"Kita sudah mengulang lagu ini lima kali. Aku sangat lelah," ucap Sakura setelah menghabiskan air minumnya.
"Apa kau sama sekali tidak lelah?" Pandangan Ino pun beralih pada Shion yang kini menatap Ino dengan aneh.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Ino sambil mendekati Shion. Lalu, Ino duduk disebelahnya dan berkata, "Aku juga lelah, tapi kalian berlebihan."
Shion hanya mendengus jutek setelah mendengar jawaban Ino. Tenten yang duduk di lantai pun berdiri dan memasukkan drum stick kedalam tasnya. Shion yang melihat hal itu pun langsung mengambil bassnya dan memasukannya kedalam tas. Disusul dengan Sakura yang juga memasukkan gitarnya kedalam tas.
"Kalian sudah mau pulang?" tanya Ino menatap teman-temannya dengan bingung.
"Aku–sudah tidak kuat lagi," Sakura pun mengambil kedua tasnya dan bergegas pergi meninggalkan ruang klub. Disusul dengan Tenten dan Shion. Oh, jangan lupakan Hinata. Ternyata ia juga sudah merapikan barang-barangnya.
"Ino-chan, aku pulang dulu ya!" ucap Hinata sebelum ia meninggalkan ruang klub. Ino hanya mengangguk pelan.
Dan kini, Ino benar-benar sendiri.
"Payah," kata Ino dengan lirih. Lalu, pandangannya beralih pada foto yang ada di atas meja kecil di sebelah sofa. Foto saat pertama kali G-SSHIT tampil. Ino tersenyum pahit.
"Padahal aku yang penyakitan. Tapi kalian yang terlihat lebih lelah dariku," ucap Ino yang matanya sudah berkaca-kaca. Agar tidak tumpah, Ia pun mengambil air mineral yang ada di lemari dan meminumnya. Menenangkan dirinya.
Setelah menghabiskannya, Ino merapihkan barang-barangnya. Ia pun meninggalkan ruang klub setelah menguncinya. Kebetulan hari ini adalah gilirannya memegang kunci klub.
Sekolah sepi karena hari sudah sore. Yang ada hanya murid-murid yang ikut klub mereka masing-masing. Ino hanya diam di perjalanannya keluar sekolah. Ia banyak melamun. Tanpa sadar, ia sudah berada di luar sekolah. Berdiri di tengah jalan. Ino membalikkan badannya untuk melihat bangunan sekolahnya yang besar itu. Ia tersenyum tipis.
"Aku... sangat menyukai sekolahku," ucapnya lirih. Matanya mulai berkaca-kaca. Lalu, ia melihat bayangan teman-temannya yang sedang tertawa senang padanya.
"Aku sangat menyayangi kalian," ucapnya lagi, agak terisak. Kini, air matanya mulai turun perlahan.
"Kami-sama, aku mohon. Biarkan aku tetap hidup meskipun hanya sampai aku lulus," Ino pun tak kuasa menahan tangisnya. Tiba-tiba ia teringat dengan penyakit yang ia derita. Lututnya terasa lemas. Ia terjatuh. Tidak mempedulikan tasnya yang jatuh dan tas gitar yang menimpanya.
Pluk.
Seketika, Ino langsung mengangkat kepalanya. Mengedarkan pandangannya keseluruh bagian sekolah setelah mendengar suara. Seperti suara benda yang terjatuh. Dan Ino pun menemukan sesuatu.
Sesuatu yang pernah ia lihat. Ralat. Tadi pagi ia lihat.
Refleks ia melihat keatas gedung sekolah. Matanya sukses terbuka lebar. Bukan hanya matanya, mulutnya juga terbuka lebar. Ia melihat seseorang yang ia kenal sedang berdiri diatas gedung. Seperti mencoba untuk melompat.
Dan orang itu adalah...
... Shimura Sai.
"Sai-kun!" Ino pun bergegas mengambil sesuatu yang terjatuh itu. Sepertinya, Sai yang menjatuhkannya.
Menjatuhkan buku gambar yang baru tadi pagi Ino lihat.
Setelah mengambil buku gambar itu, Ino berlari kedalam gedung sekolah secepat mungkin yang ia bisa. Menaiki anak tangga dengan cepat namun hati-hati. Ia ingin menghentikan Sai yang sepertinya ingin melompat dari atas sana.
'Sai-kun, kenapa?' batin Ino. Ia bertanya-tanya dalam hati. Ia bingung.
Sai yang terlihat sehat, kenapa ingin mengakhiri hidupnya?
"SHIMURA SAI!"
Laki-laki berambut hitam itu menghentikan gerakannya. Dengan perlahan, ia membalikkan badannya. Matanya agak terbelalak melihat Ino yang berdiri cukup jauh darinya sambil membawa buku gambar yang tak lama ia buang itu.
"Ino-san," ucapnya dengan ekspresi kaget. Lalu, Sai sedikit berlari mendekati Ino.
"BAKA!"
Gerakan Sai pun terhenti. Air mata Ino sukses mengalir. Ino menatap Sai dengan tatapan kesal. Ino mengigit bibir bawahnya.
"Kenapa?" tanya Ino dengan lirih. Mendengar itu, Sai hanya menunduk.
Ino pun berlari mendekati Sai. Merasa Ino akan jatuh, Sai pun dengan sigap menangkap Ino. Buku gambar Sai terlepas dari tangan Ino.
Mata aquamarine yang berkaca-kaca itu bertemu dengan mata onyx yang teduh.
"Kenapa?" tanya Ino sekali lagi. Air matanya pun turun lagi.
Sai menyeka air mata Ino. Mendudukan Ino dengan perlahan. Sai pun duduk disamping Ino. Melihat buku gambarnya yang tergeletak, ia pun mengambil bukunya.
"Kenapa kau menyianyiakan hidupmu?" tanya Ino agak kesal, tanpa memandang Sai sedikit pun.
"Apa kau tidak tau bagaimana perasaan orang-orang yang menyayangimu jika mereka tau kalau kau begini?" tanya Ino lagi, membuat Sai menunduk.
"Kau sehat dan tidak berpenyakit. Diluar sana banyak orang yang punya penyakit. Mereka berjuang agar tidak mati tapi kenapa kau menyianyiakan hidupmu?" tanya Ino lagi. Kali ini sedikit menyinggung dirinya.
Sai diam. Tidak berkata apa-apa.
"Aku adalah salah satu dari orang berpenyakit itu," Ino mulai membuka rahasianya. Rahasia tentang penyakitnya yang tidak diketahui siapa pun kecuali keluarganya. Sakura pun tidak tau.
"Waktu kecil, jantungku bocor. Kalau bukan berkat kuasa Kami-sama, aku mungkin sudah mati. Dokter bilang kalau jantungku lemah. Jadi, aku tidak boleh kelelahan," lanjut Ino membuat Sai membelalakkan matanya. Menatap Ino dengan tatapan tidak percaya.
"Tapi, sulit bagi anak kecil untuk tidak lelah. Kau tau? Anak kecil suka sekali bermain. Dan aku dilarang untuk bermain," Ino menunduk mengingat kejadian dimana ia tidak bisa bermain.
Flashback.
"Aku mau main!" seru Ino kecil kepada Kaa-sannya. Ia menggembungkan pipinya dan berkacak pinggang. Menatap kaa-sannya dengan kesal.
"Tidak bisa, Ino. Kan dokter bilang kalau kau harus beristirahat dan tidak boleh lelah," ucap ibu Ino dengan lembut.
"Tapi aku bosan," ucap Ino pelan namun terdengar oleh Ibunya. Ino terlihat sedih. Sebenarnya, Ibunya tidak ingin melarang anaknya. Tapi mau bagaimana lagi?
Kring... Kring...
Ponsel ibunya berbunyi, menandakan adanya panggilan masuk. Ibu Ino pun mengangkat panggilan masuk itu, yang ternyata dari bossnya. Lalu ia duduk di kursi makan dan berbicara dengan bossnya.
Diam-diam, Ino pergi keluar. Ibunya tidak menyadari karena sibuk berbicara dengan bossnya. Ino pun terbebas dari rumahnya dan ia bermain di taman bersama teman-temannya. Ino terlihat sangat senang.
Sampai akhirnya, kesenangannya itu berakhir.
Ino tiba-tiba terjatuh, padahal ia tidak tersandung. Ino memegang dadanya yang terasa sakit. Teman-teman Ino yang melihatnya pun menghampiri Ino. Karena panik, mereka malah menangis.
Beberapa detik kemudian, ibu Ino datang, berlari dengan panik. Ia menggendong Ino dan segera membawa Ino kerumah sakit. Ia sangat khawatir pada putri semata wayangnya itu.
"Harus ada yang menjaga Ino," kata dokter dengan tegas. Ibu dan ayah Ino sedang berkonsultasi pada dokter. Tanpa mereka sadari, Ino sedang mendengar pembicaraan mereka.
"Kalau begitu aku akan menjaga Ino," ucap ayah Ino tiba-tiba.
"Bagaimana kau bisa menjaganya? Kau kan bekerja!" ucap ibu Ino yang bingung pada suaminya itu.
Ayah Ino tersenyum. "Aku akan berhenti bekerja. Gajimu lebih besar daripada gajiku. Sambil menjaga Ino, aku akan membuka usaha di rumah," ucap ayah Ino lalu tertawa.
Ino menundukan kepalanya setelah mendengar perkataan ayahnya. Matanya berkaca-kaca. Sekuat mungkin ia menjaga agar air matanya tidak menetes. Karena dia, ayahnya harus kehilangan pekerjaannya.
Dan semenjak itu, Ino tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Ayah Ino membuka Toko Bunga sebagai usahanya. Ino dengan senang hati membantu ayahnya menjaga atau pun merapihkan toko. Ino benar-benar menyayangi ayahnya.
The End of Flashback.
"Ayahku berhenti bekerja untuk menjagaku. Dia membuka Toko Bunga yang sukses sampai sekarang," ucap Ino lalu tersenyum kecil.
"Tapi kau selalu terlihat ceria. Kau tidak mudah lelah. Selalu bersemangat. Seperti tidak punya penyakit," Sai pun mengeluarkan suaranya.
"Aku begitu, karena aku ingin tetap hidup," ucap Ino membuat Sai membelalakan matanya.
"Dokter bilang, aku tidak boleh melewati batas lelah karena jantungku lemah. Maka, aku memutuskan untuk melatih jantungku untuk memperpanjang batas lelahku. Perlahan tapi pasti. Dan hasilnya, aku tidak mudah lelah!" kata Ino bersemangat sambil menoleh pada Sai yang memandangannya dengan pilu.
"Kaa-san dan Tou-san sangat menyayangiku. Aku pun sangat menyayangi mereka. Aku tidak ingin membuat mereka sedih. Maka dari itu, aku ingin tetap hidup untuk membuat mereka senang," ucap Ino lagi sambil memandang Sai dengan serius.
"Kita masih muda. Kau sehat dan aku berpenyakit. Aku sangat iri denganmu. Tapi kau menyianyiakan hidupmu," Ino berkata lirih. Matanya pun berkaca-kaca lagi.
"Apa kau tidak peduli dengan perasaan mereka? Orang-orang yang menyayangimu? Orang-orang berpenyakit yang ingin tetap hidup?" tanya Ino kepada Sai yang menundukan kepalanya. Memejamkan matanya sebentar.
Beberapa detik kemudian, Sai menjawab, "Aku peduli,". Sai mengangkat kepalanya dan menoleh kepada Ino. "Tapi, tidak ada yang menyayangiku!" Ino terguncang begitu mata onyx Sai menatapnya dengan tajam.
"Bagaimana dengan pemilik buku gambar itu?" tanya Ino, memberikan tatapan tajam juga pada Sai.
"Nii-san?" ucapnya lagi. Ia heran, bisa-bisanya Sai mengatakan kalau tidak ada yang menyayanginya. Padahal, tadi pagi ia bilang kalau buku gambar yang ia pegang adalah milik kakaknya. Itu berarti ada yang menyayanginya, bukan?
Hei, sekesal-kesalnya seorang kakak, ia tetap menyayangi adiknya, bukan?
Sai mendengus pelan. Kedua mata onyxnya mulai berkaca-kaca. Ino pun bingung melihat Sai yang seperti ingin menangis.
"Dia sudah tidak ada," Dan air mata Sai pun menetes. Ino membelalakan matanya.
"Maaf," kata Ino lirih. Ia benar-benar tidak tau kalau Sai sudah kehilangan kakaknya. Dan ia tidak menyangka akan melihat Sai menangis.
Kesunyian pun menyelimuti mereka. Angin sore yang dingin menerpa mereka dengan lembut. Langit biru pun mulai berubah warna menjadi oranye. Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing.
"Semenjak nii-san pergi, aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi," kata Sai lirih, memecahkan keheningan mereka. Ino memandang Sai dengan pilu.
"Aku bukan berdarah asli Shimura,"
Flashback.
"Mulai sekarang, kau masuk kedalam keluarga Shimura," ucap seorang pria tua kepada Sai kecil.
Sai pun mengangguk senang. Ia memperhatikan rumah barunya itu. Rumah yang sangat luas. Rasanya seperti istana. Berbeda dengan rumah lamanya yang sempit karena penuh dengan anak-anak. Sebuah panti asuhan di Otogakure.
Yap. Sai adalah salah satu dari anak-anak malang di panti asuhannya yang beruntung.
Mereka baru saja sampai dari Oto. Sai diambil oleh seorang pria tua yang bernama Shimura Danzou. Saat itu, ia sedang menggambar di taman bermain. Danzou tertarik padanya, dan membawa Sai ke Konoha. Itu membuat Sai sangat senang.
"Ano," Sai yang sedang asik memperhatikan rumah barunya pun terkejut begitu melihat seorang anak laki-laki yang lebih tua darinya. Rambutnya sebahu dan berwarna putih. Laki-laki itu menghampiri Sai.
"Namaku Shimura Shin. Mulai sekarang kita adalah saudara," ucap laki-laki bernama Shin itu sambil tersenyum pada Sai.
Sai terpaku melihat Shin. Ia tidak menyangka kalau dia akan punya saudara. Mata Sai pun berkaca-kaca. Sambil tersenyum Sai berkata pada Shin, "Namaku Shimura Sai."
Kedua orang itu pun tertawa bersama. Itulah pertemuan pertama mereka. Semenjak mereka menjadi saudara, hari-hari mereka dipenuhi dengan sukacita.
The End of Flashback.
"Nii-san adalah orang paling baik yang pernah aku temui. Ia sangat menyayangiku. Aku pun juga sangat menyayanginya. Kami selalu bermain bersama," kata Sai, tersenyum lembut saat mengingat kenangan dengan kakaknya.
"Ia memberiku buku gambar ini," Sai memberikan buku gambarnya pada Ino. Yang diberi pun mengambil buku gambar Sai.
"Jadi, sebenarnya ini milikku. Tapi, isi dari buku gambar ini kugambar untuk ditunjukkan pada nii-san," Sai berhenti tersenyum
"Sayang, ia meninggal sebelum melihat isi buku gambar ini," ucap Sai dengan serius. Ino meneteskan air matanya hingga terjatuh pada buku gambar Sai.
"Nii-san meninggal karena penyakit yang sudah lama ia deritai, jantung lemah. Sama denganmu," lanjut Sai, memandangan langit oranye.
Ino membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka kalau kakak Sai menderita penyakit yang sama dengannya. Bahkan kakaknya sudah tiada. Ino sangat bersyukur karena ia masih bisa menghirup udara bumi sampai saat ini.
"Karena punya penyakit, nii-san tidak bisa menjadi penerus marga Shimura. Itu sebabnya Danzou-sama mengambilku," ucap Sai lagi, memejamkan matanya.
"Semenjak nii-san pergi, aku kesepian. Aku tidak merasakan kebahagiaan lagi. Ia meninggalkanku. Membiarkanku sendiri. Memikul kewajiban sebagai penerus Shimura," ucap Sai sedikit tertekan.
"Lalu, aku bertemu dengan Naruto," Sai menoleh pada Ino yang sedang menatapnya dengan tatapan sedih.
"Ia sangat mirip dengan nii-san. Ceroboh dan berisik. Tapi nii-san lebih baik. Ia mengajakku untuk bergabung dalam bandnya. Disitu aku bertemu dengan si berisik Kiba, si cuek tapi perhatian Sasuke, dan si baik hati Neji. Aku mulai merasa baik. Aku tidak kesepian lagi," ucap Sai sambil tersenyum pada Ino.
Sai mengalihkan pandangannya kedepan. Ia menarik napas dan menghembuskannya. Ia berkata, "Mulai saat itu, aku memutuskan untuk menyusul kakak,".
"Eh?!" Ino terkejut setelah mendengar pernyataan Sai yang anti-klimaks itu. Ia menatap Sai dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Aku menggambar banyak hal setelah nii-san pergi. Semua yang ingin aku tunjukan padanya, kugambar. Dan hari ini adalah terakhir kalinya aku menggambar. Sudah cukup banyak yang aku gambar. Makanya, aku ingin menyusulnya untuk menunjukan semua ini," ucap Sai dengan serius.
Sai melirik Ino. "Aku merubah pikiranku. Kau boleh melihatnya," ucap Sai dengan lembut.
Ino pun menelan ludahnya. Dengan rasa penasaran, ia membuka buku gambar Sai. Ia membuka tiap lembar buku gambar itu. Ada banyak sekali gambar: Nii-san Sai dengan berbagai macam ekspresi, Naruto, Neji, Sasuke, Kiba, gitar Sai, gedung sekolah, pohon sakura yang indah, dan masih banyak lagi. Ino senyum-senyum sendiri melihat gambar Sai. Bagus sekali dan yang ia gambar unik-unik.
Dan sampai pada lembaran terakhir, Ino terpana melihatnya. "I-Ini," ucap Ino terbata sambil menatap Sai yang sedang menatapnya.
"Hm. Gambarmu," jawab Sai sambil tersenyum lembut pada Ino.
"Iya, tapi–kenapa?" tanya Ino bingung. Ia tidak mengerti kenapa Sai ingin menunjukkan gambar dirinya pada kakak Sai.
"Soalnya kau adalah perempuan tercantik yang pernah aku temui," ucap Sai sambil mengelus pipi Ino yang kini merona.
"Aku ingin nii-san melihatmu. Dia pasti sependapat denganku," ucap Sai lagi disertai dengan tawanya.
Ino semakin merona. Ia tersenyum malu. "Kau bisa saja!" seru Ino dengan pelan mencubit pipi Sai.
"Tanpa ikut kealam baka, kau tetap bisa menunjukan gambarmu padanya, kok!" Ino menatap Sai sambil tersenyum lembut.
"Tanpa kau menunjukannya pun, nii-san sudah melihatnya terlebih dahulu," ucapan Ino membuat Sai bingung.
"Karena dia tidak akan jauh darimu," kata Ino lalu menunjuk dada Sai dengan telunjuknya. "Ia selalu ada disitu," lanjutnya sambil tertawa kecil.
Entah kenapa, perasaan Sai berdesir begitu melihat Ino. Sangat cantik, baginya. Sai pun menyodorkan jari kelingkingnya pada Ino.
Ino terlihat bingung. "Apa maksudnya?" tanya Ino memperhatikan kelingking pucat Sai dengan serius.
Sai tertawa melihat Ino memperhatikan kelingkingnya. "Maksudnya, aku mengajakmu untuk berjanji," jawab Sai membuat Ino tambah bingung.
"Janji apa?" Ino menatap Sai dengan penuh kecurigaan.
"Janji untuk tetap hidup dan aku akan menjagamu," jelas Sai yang membuat Ino tertegun.
Beberapa detik kemudian, Ino pun melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelinging Sai. Mereka berdua tersenyum dengan tulus.
"Janji!"
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
Author's Note:
Alohaaa! Minna-san! *menari hawaii*
Sesuai janjiku, update seminggu kemudian. Dan ternyata terjadi! Yey! Aku tidak menyangka! Terharu! #plak #lebay
Bagaimana dengan chapter ini? Untuk chapter ini, aku buat scene untuk SaiIno. Engga dapet feel sedihnya ya? Huweee aku berusaha untuk membuat ff sedih. Setelah kubaca ulang, kok biasa aja? Memang tidak berbakat. *pundung di pojokan*
Ohya, aku juga bingung gimana menuliskan bunyi ambulan. Maaf kalau absurd gitu ya, hehehe.
Lagu yang kupakai di chapter ini adalah Blue Bird dari Ikimono Gakari.
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mereview dichapter sebelumnya. Aku sayang kalain! *kiss-hug* #digampar
Ayo beri komentar atau pendapat atau masukan untuk cerita ini. Silahkan klik tombol review di bawah. *maunya*
Terima kasih sudah membaca!
Thanks For Read and Let's Review!
